Rumah Luna tidak benar-benar sunyi malam itu.
Ada bunyi kipas. Ada detak jam dinding. Ada napas yang tidak lagi ingin lari.
Ada suara Bima yang sedang menonton sesuatu di ruang tamu dengan volume rendah, sengaja rendah, karena ia tahu Luna sedang butuh ruang tapi tidak ingin benar-benar sendirian.
Luna duduk di lantai kamar. Laptop di pangkuan. Lampu kecil menyala di sudut. Lampu kecil itu tidak cukup terang untuk mengusir semua yang datang di kepala, tapi cukup untuk membuatnya tidak merasa sendirian sepenuhnya.
Di depannya. Keranjang Keti kosong. Terlipat rapi. Masih ada beberapa helai bulu halus di bantal kecil di dalamnya. Seperti sesuatu yang pernah sangat penting lalu berubah menjadi kenangan yang tidak bisa lagi disentuh setiap hari. Tapi tidak dibuang. Hanya diletakkan di tempat yang bisa dilihat tanpa harus terus digenggam.
Luna menepuk-nepuknya pelan. Seperti kebiasaan yang tidak mau hilang sepenuhnya. Ia membuka dokumen baru. Kursor berkedip. Tidak terburu-buru.
Tangannya berhenti sesaat di atas keyboard.
Pak Wanca. Kak Jasmin. Raven. Bima.
Tidak ada yang kembali dalam bentuk yang sama. Tidak ada yang tinggal dalam versi yang pernah ia bayangkan. Tapi semua nama itu pernah ada, sungguh ada, dan itu tidak bisa diambil kembali oleh waktu atau jarak atau apapun yang datang sesudahnya.
Luna mulai menulis. Bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk dimengerti. Hanya untuk menaruh sesuatu di tempatnya. Ia tidak lagi menulis untuk menyelamatkan orang.
Ibuku bilang tidak semua harus diceritakan.
Bu Riaga juga berkata hal yang sama, dengan luka yang berbeda.
Pak Wanca mengajarkan hal yang sama. Tapi dengan cara yang akhirnya mengajarkanku bahwa ketika diam terasa seperti penjara, cerita juga bisa menjadi algojo yang siap untuk menghukum.
Kak Jasmin bilang cerita bukan senjata. Bukan kewajiban. Tapi, sebuah kepercayaan yang mahal sekali harganya.
Raven tidak pernah bilang apa-apa. Tapi ia mengajarkanku bahwa ada orang yang membutuhkan waktu lebih lama untuk percaya. Dan itu bukan kegagalanku, tapi juga bukan alasan untukku berhenti menjadi diri sendiri.
Bima bilang ia lelah. Dan itu adalah hadiah terbesar yang pernah ia berikan padaku. Karena ia akhirnya memperlakukanku seperti seseorang yang cukup kuat untuk mendengar kebenaran.
Dan, ada yang tidak pernah mengajarkan apa-apa tentang cerita. Yang hanya mengajarkan aku cara diam sebelum aku punya pilihan untuk tidak diam.
Tapi dari sanalah aku tahu bedanya.
Ia berhenti lagi. Di luar kamar, suara televisi Bima mengecil. Seperti ia tahu Luna sedang di momen yang tidak boleh diganggu. Luna tersenyum kecil.
Orang ini.
Orang yang hafal ritme hidupku bahkan sebelum aku sendiri menyadarinya.
Ia melanjutkan menulis. Lebih pelan sekarang. Seperti seseorang yang tidak ingin terburu-buru sampai di kalimat terakhir.