Raven menatapnya lama, lalu berkata, pelan, seperti sedang menimbang tiap kata sebelum melepasnya, "Gak semua hal harus kamu tahu, Luna."
Luna berhenti bernapas sepersekian detik.
Kalimat itu—bukan kata-katanya persis, tapi nada datarnya, ia kenal. Ia sudah mendengarnya bertahun-tahun lalu, dari mulut yang berbeda, di teras yang dipenuhi bau cat minyak dan kucing-kucing yang tidur di bawah bangku.
Gak semua harus diceritakan.
Ia dulu percaya kalimat itu. Ia dulu memakainya untuk bertahan. Dan sekarang, di depan mesin kopi kantor, ia menyadari satu hal yang tidak pernah ia sadari waktu kecil: kalimat itu bukan perlindungan. Kalimat itu adalah cara seseorang menyuruhnya diam.
"Raven." Suara Luna lebih tenang dari yang ia duga. "Aku pernah percaya kalimat itu. Dan itu yang bikin aku diam terlalu lama soal hal yang seharusnya aku ceritain dari dulu."
Raven mengerutkan kening, tidak paham arah pembicaraan. Tapi Luna sudah tidak lagi berbicara padanya saja. Sebagian dari dirinya sedang bicara pada seorang gadis kecil yang menulis GAK SEMUA HARUS DICERITAKAN sebesar-besarnya di buku gambar, lalu percaya bahwa menuliskannya berarti menyelesaikannya.
Luna meletakkan cangkirnya. "Kali ini beda. Aku gak akan diam."
Tapi, tentu saja, Luna hanya menatap dirinya di cermin. Cangkir yang ia letakkan hanyalah gelas untuk kumur-kumur. Dia sudah sekian lama melatih dirinya untuk tidak menyemburkan semua yang ia tahan. Dan ia sudah muak.
“Luna.” Bima memanggilnya lalu masuk ke kamar mandi. Dilihatnya istrinya belum beres menggosok gigi. “Kamu ngomong sendirian lagi?”
*
Cangkir kedua tanpa sadar sudah Luna keluarkan dari rak. Baru setelah air mendidih ia sadar, Raven tidak ada di kantor hari ini.
Luna menatap cangkir itu beberapa detik.
Lalu memasukkannya lagi.
Kenapa sih aku begini?
*
Setelah beberapa hari tak ada kabar, Raven berdiri di depan mesin kopi dengan ponsel di antara bahu dan telinga. Tangan kanannya menekan tombol. Tangan kirinya mencari gelas. Rambutnya rapi. Bajunya bersih. Wajahnya cerah. Bukan cerah yang dipaksakan, tapi cerah yang datang dari seseorang yang benar-benar baru saja beristirahat.
Luna menatapnya dari ambang pintu pantri. Seseorang perlu memberitahu wajahnya supaya tidak keliatan seperti orang yang baru ketabrak motor.
Raven menyelesaikan teleponnya, menaruh ponsel di saku, dan baru kemudian menyadari Luna berdiri di sana.
"Oh." Tidak tampak terkejut. Lebih seperti seseorang yang menemukan benda yang sudah lama tidak dilihat. "Kamu di sini juga."
"Udah lama di sini," kata Luna.
Raven mengambil kopinya, menyesapnya sebentar, memeriksa suhunya. "Kamu mau kopi?"
Luna menatapnya. Kamu mau kopi. Seperti seminggu yang menghilang itu tidak pernah terjadi. "Kamu ke mana?"
"Liburan." Raven menyiapkan cangkir kedua tanpa diminta. "Keluarga. Di luar kota. Sinyalnya payah."
Kalimat itu keluar terlalu lancar.
Luna menerima cangkir yang disodorkan. "Liburan keluarga," ulangnya. "Dengan Kak Rachel juga?"
Sesuatu bergeser di wajah Raven. Sangat kecil, seperti bayangan yang lewat di balik kaca. "Iya."
Satu detik lebih lambat dari sebelumnya.