Luna membuka laptopnya pukul sebelas malam dengan niat yang tidak sepenuhnya bisa dia pertanggungjawabkan.
Bima sudah tidur. Keti meringkuk di kakinya. Di luar, hujan rintik yang tidak cukup deras untuk dijadikan alasan tidak tidur, tapi Luna tetap tidak tidur. Ada yang lebih mendesak, rupanya. Yaitu mencari tahu lebih banyak tentang rekan kerja yang bahkan tidak mengizinkannya tahu nama kucing peliharaannya.
Di kolom pencarian, dia mengetik: Ravensa Helga.
Hasilnya tidak banyak. Akun LinkedIn yang terakhir diperbarui dua tahun lalu, profil singkat tanpa foto. Satu akun Instagram yang sudah diprivat. Tidak ada Facebook. Tidak ada Twitter.
Luna menggulir lebih jauh.
Di halaman ketiga, ada tautan blog. Namanya kombinasi huruf acak yang tidak membentuk kata apa pun. Tapi di bagian about: raven. writing to survive.
Luna mengkliknya dengan perasaan seseorang yang baru menemukan pintu rahasia di balik rak buku.
Ada suara kecil di kepalanya sebelum jarinya sempat bergerak. Bukan suara ibunya kali ini. Suaranya sendiri, dari hari pertama Raven masuk kantor: Ah, kepo banget, sih. Waktu itu dia mengucapkannya sambil tertawa, seperti mengaku dosa kecil yang lucu.
Sekarang kata itu tidak terasa lucu sama sekali.
Tapi jarinya sudah bergerak duluan. Ini beda, kok. Aku cuma pengen ngerti dia lebih dalam biar bisa bantu.
Luna mengkliknya dengan perasaan seseorang yang baru menemukan pintu rahasia di balik rak buku.
Postingan terakhir bertanggal empat tahun lalu. Panjang, tanpa gambar, tanpa nama asli. Tapi gayanya Luna kenali dari cara Raven mengobrol di chat. Kalimat pendek yang memotong di tengah, lalu dilanjutkan dari sudut yang berbeda.
Di tengah berjalannya sebuah hubungan, apa pun itu, aku selalu bisa menghitung di mana pintu darurat paling dekat. Bukan karena aku berencana untuk lari. Tapi karena aku butuh tahu bahwa lari itu mungkin. Aku ingin pastikan bahwa hidupku tidak sedang digenggam siapa pun.
Luna membacanya dua kali. Lalu tiga kali.
Aku tidak mengerti mengapa orang lain bisa dengan mudahnya menyatakan bahwa mereka takut kehilanganku.
Dan di bawahnya, sebuah surat tanpa nama penerima.
Sejak kamu meninggalkan, aku belajar satu hal bahwa hidupku akan diisi oleh orang-orang yang datang dan pergi. Cinta selalu didasarkan pada pemberian. Bukan pada ekspektasi. Tidak ada alasan untuk melupakanmu. Saat sebuah hubungan berakhir, yang tersisa adalah cerita. Dan itu tetap berharga.
Di bawah itu, satu paragraf lebih pendek, seperti ditulis di waktu yang berbeda. Fontnya mencolok.
Aku tidak tahu apa yang membuat kamu berpikir untuk menjauhiku. Kursi yang kamu beli di rumah kita masih kosong. Pintu itu juga masih ada. Cat kuningnya sudah luntur. Aku tidak tahu apakah kamu masih ingat janji itu.
Luna meletakkan dagunya di lutut.
Dari galeri foto, Luna melihat sebuah rumah kecil berpintu kuning. Setelah foto-foto benda, ada foto-foto keramaian yang jauh lebih banyak. Seingat Luna, Raven juga pernah bercerita bahwa dia sempat membangun komunitas fotografi di Yogyakarta. Potret orang tua, pedagang, petugas kereta. Luna memeriksa satu per satu sampai menemukan sebuah komentar lama.
"Kenapa yang dipotret orang-orang asing mulu?"
Persis seperti yang ingin Luna tanyakan.
Raven membalas: "Orang-orang yang kita temukan hanya sesaat di bawah lampu jalan jauh lebih baik daripada orang-orang yang bertahan bersama kita dalam waktu yang lama. Mereka tidak pernah berharap atas kebaikanmu atau menuntut balas atas kebaikan mereka."
Luna menutup laptopnya saat Bima memanggilnya dari dapur. Dia muncul di pintu kamar dengan dua gelas, warnanya dari kejauhan seperti lumpur sawah setelah hujan.
"Ini apa?" tanya Luna.
"Herbal baru. Bagus buat yang susah tidur."
Luna meminumnya sambil kepalanya masih mencoba merangkai semua yang baru saja dibacanya. Rasanya persis penampilannya.
"Enak?" tanya Bima penuh harap.
"No."
Luna mengernyit. Kecut.
Bima mengangguk dengan ekspresi seseorang yang sudah menduga tapi tetap mencoba. "Besok aku kurangi jahenya."
*
Paginya, Pak Hendra memanggilnya ke ruangan.