Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #27

Permohonan

Setelah kedatangan Luna yang tiba-tiba ke rumah, Raven terlihat semakin gusar setiap kali melihat Luna di kantor. Tidak ada tegur sapa. Tidak ada kontak mata. Kalau Luna batuk pun Raven kayaknya sudah siap pindah meja.

Pagi itu, Raven yang justru berjalan ke mejanya.

"Aku perlu ngomong."

Luna menutup laptopnya. "Oke."

Mereka pergi ke studio lantai empat. Tempat lama mereka.

"Jangan datang ke rumah aku lagi dengan cara kayak gitu," kata Raven begitu pintu tertutup. "Situasi di rumah lagi gak baik. Banyak hal yang gak perlu kamu tahu. Tolong. Ini permohonan aku."

Luna menatapnya. "Kenapa aku gak diusir dan kamu malah bukapin pintu buat aku?"

Raven duduk, menggosok wajahnya. "Aku panik. Bukan cuma soal blog itu. Tapi soal kamu yang tahu. Tentang anxiety-ku, tentang semuanya."

"Kamu marah karena aku tahu, atau karena cara aku tahu?"

"Dua-duanya." Raven menatap lantai.

Luna duduk di kursi seberangnya. "Aku juga mau ngomong sesuatu."

Raven tidak menjawab, yang Luna anggap sebagai izin.

"Soal posisi kamu di kantor ini."

Raven mengangkat kepala cepat. "Apa?"

"Kamu bisa absen kapan aja tanpa konsekuensi. Bilang 'jangan peduli sama aku' dan semua orang nurut. Kamu bisa milih siapa yang boleh deket sama kamu dan siapa yang gak." Luna menatapnya lurus. "Tapi kalau aku yang coba jaga jarak kayak gitu, aku bakal dianggap aneh atau bermasalah."

"Itu gak ada hubungannya dengan—"

"Ada. Karena kamu pakai itu buat bikin aturan yang cuma berlaku satu arah. Kamu boleh gak cerita apa-apa. Tapi aku harus siap dengerin kamu kapan pun kamu butuh. Kamu boleh ngilang berhari-hari. Tapi aku harus tetap ada, gak protes, gak nanya."

Raven diam lama.

"Aku nerima kamu." Suara Luna melembut. "Semua sisi kamu yang dingin, yang nolak. Aku tetap di sini. Karena gak ada yang lebih aku benci selain diriku sendiri. Jadi marah kamu, dingin kamu, itu masih jauh lebih ringan dibanding apa yang aku omongin ke diri sendiri tiap malam."

Raven menatapnya berbeda. Bukan lagi defensif.

"Kamu indah waktu kamu terbuka," kata Luna lagi. "Walau cuma sedikit. Walau cuma soal Kak Rachel."

Raven tidak langsung menjawab.

Dia duduk. Tangannya hanya bergerak membuka lembar demi lembar sebuah buku. Buku itu bersampul kusam. Sudah ada di tangan Raven sejak tadi tanpa Luna sadari. Jarinya mengusap sudut sampulnya sebentar, seperti memastikan benda itu masih benar-benar ada.

Luna mengenali gerakan itu.

Orang-orang tidak menyentuh benda seperti itu kalau isinya tidak pernah menyelamatkan mereka.

Dan entah kenapa, melihat sampul yang mulai menguning itu membuat Luna teringat pada buku tua lain.

*

Raven diam sebentar sebelum akhirnya menjadikan kalimat Luna sebagai bumerang. "Dan kamu indah waktu kamu gak nuntut."

"Tapi kamu gak pernah kasih aku jarak yang sama." Luna memandangi tangannya sendiri. "Kamu cerita ke Nataya. Dan setiap kali aku tahu itu, aku ngerasa gak penting."

"Nataya gak nyari-nyari aku."

"Jadi aku dihukum karena peduli?"

Tidak ada yang menjawab. Ruangan itu terasa seperti dua orang yang kehabisan amunisi di tempat yang sama.

"Aku gak tahu cara benerin ini," kata Raven akhirnya. "Tiap kita kayak gini, aku ngerasa lega. Bukan karena menang. Tapi karena sekarang kamu tahu aku emang gak bisa dijadiin sandaran. Ekspektasi kamu udah mati."

"Itu bukan kelegaan," kata Luna pelan. "Itu kamu nyerah duluan sebelum dikecewain."

Lihat selengkapnya