Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #44

Yang Tak Bisa Dikirim Balik

Raven sedang duduk di meja, laptop terbuka tapi layarnya sudah gelap karena terlalu lama tidak disentuh. Notifikasi email masuk. Nama pengirim: luna.mikaila@gmail.com.

Dia membiarkannya.

Bukan karena tidak ingin tahu. Tapi karena tahu bahwa begitu dibuka, ada sesuatu yang harus dia putuskan. Dan dia belum siap membuat keputusan itu.

Di meja itu ada beberapa benda: foto-foto dari kamera kesayangannya dan puzzle seribu keping yang tidak pernah dia susun. Masih terbungkus plastik.

*

Tengah malam, Raven tidak tidur. Ponselnya menyala. Bukan notifikasi dari Luna, tapi foto lama di galeri yang tidak sengaja terbuka. Rachel dan Sandra, di dapur rumah ini, beberapa bulan sebelum keberangkatan.

Bukan Rachel yang "pergi tanpa penjelasan" di tulisan blognya. Yang dimaksud adalah Sandra, seseorang yang Rachel pilih untuk disembunyikan bahkan dari keluarganya sendiri, kecuali malam itu. Rachel akhirnya mau pergi ke Belanda, menyusul Sandra yang sudah lebih dulu kuliah di sana dan sesekali berkunjung ke Indonesia. Pertemuan di ulang tahun Mama menjadi pertemuan yang kikuk setelah sekian lama.

Raven dan Sandra dulunya adalah sahabat. Cukup dekat untuk berswafoto di depan pintu kost berwarna kuning.

Raven menyaksikan semua itu dari dekat, menyimpan semuanya, karena Rachel memintanya diam.

Raven tidak pernah cerita ke siapa pun. Bahkan kepada Luna yang sudah baca blognya, yang sudah menyentuh pagar rumahnya, tidak tahu bahwa bulan-bulan terakhir Raven juga sedang menjaga orang lain sembunyi-sembunyi.

Lihat selengkapnya