Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #16

Memeriksa Pintu

Jam setengah dua belas malam, dan lorong apartmen sudah gelap kecuali satu lampu di lantai sembilan.

Ada kebiasaan yang dia lakukan setiap malam sebelum tidur, tidak pernah dia ceritakan ke siapa pun karena tidak ada yang perlu tahu: memeriksa pintu. Bukan sekali. Tiga kali. Kunci utama, deadbolt, rantai pengaman. Lalu pintu geser ke balkon. Lalu jendela dapur kecil yang menghadap koridor. Bukan karena takut ada yang masuk.

Karena dia perlu tahu, sebelum tidur, ke mana dia akan lari kalau harus lari.

Tidak ada yang mengawasi ritual itu. Tidak ada mata yang mengikuti dari sudut ruangan, tidak ada suara kecil yang menyambut ketika dia selesai memeriksa jendela terakhir. Hanya unit sempit ini, dan dia sendiri di dalamnya, dan bunyi AC yang mendengung pelan dari dinding sebagai satu-satunya suara yang konsisten. Malam demi malam, suara mesin pendingin itu lebih bisa diandalkan daripada kebanyakan orang yang pernah dia kenal.

"Aman," kata Raven pada kucing itu. Bukan pertanyaan. Konfirmasi.

Tidak ada yang menjawab. Dia sudah lama berhenti berharap ada yang menjawab.

Tidak ada yang tahu dia berjalan ke gedung kantornya hanya beberapa ratus langkah setiap pagi. Dia selalu menjadi yang paling pagi datang dan paling malam pulang dari kantor super sibuk itu. Dari sudut ini, dia masih bisa menyaksikan kantor tetap sibuk meski dirinya memilih absen karena urusan pribadi. Terlalu pribadi.

Lihat selengkapnya