Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #23

Sebelum Ada yang Sempat Pergi

Studio itu gelap kecuali satu lampu di tengah plafon. Nataya datang membawa dua kotak makanan yang tidak diminta siapa pun, meletakkannya di meja tanpa berkata apa-apa dulu. Seperti sudah hafal bahwa basa-basi hanya akan membuat Raven memasang tembok lebih cepat.

Raven duduk di lantai. Punggungnya bersandar ke dinding. Laptop masih menyala di pangkuannya meski dia sudah berhenti mengetik sejak setengah jam lalu.

"Kamu belum makan dari pagi," terang Nataya.

"Aku lagi kerja."

"Kamu lagi ngumpet." Nataya duduk di sampingnya. "Jelas banget bedanya."

Raven tidak membantah. Dia menutup laptopnya, pelan, seperti menutup pintu yang tidak ingin dibanting.

"Tadi di ballroom," kata Nataya lagi, lebih hati-hati sekarang, "kamu lari ke toilet. Aku susul, kamu udah gak ada."

"Aku pulang lewat belakang."

"Iya. Kan, aku yang nyuruh sopir jemput kamu duluan." Nataya membuka salah satu kotak makan, mendorongnya ke arah Raven meski tahu kemungkinan besar tidak akan disentuh. "Aku cuma pengen kamu bilang kamu baik-baik aja. Walaupun aku tahu itu bohong."

"Kenapa kamu selalu tahu?"

"Karena aku udah lama latihan," kata Nataya. Suaranya turun satu oktaf, ke tempat yang jarang dia kunjungi di depan orang lain. "Kamu inget malam itu? Di lorong belakang kampus?"

Raven diam. Tapi bahunya sedikit menegang, tanda bahwa ingatan itu belum pernah benar-benar pergi.

"Aku lagi ke luar dari ruang latihan tari, jam sebelas malam, dan aku nemuin kamu duduk di lantai, napasmu kayak orang abis lari maraton padahal kamu cuma duduk diam." Nataya menatap lurus ke depan, bukan ke Raven, memberi ruang supaya kalimatnya tidak terasa seperti introgasi. "Aku gak kenal kamu sama sekali waktu itu. Kamu bahkan gak mau kasih tahu nama."

Lihat selengkapnya