Ceritakan Semuanya pada Kucing

Kartini F. Astuti
Chapter #26

Sangkar yang Menatap Balik

Raven berdiri di jendela kamarnya di lantai dua, menonton Luna berjalan menjauh sampai bayangannya hilang di tikungan, melewati pohon yang sama, lampu jalan yang sama, seolah jalan itu tidak berubah sedikit pun meski baru saja ada sesuatu yang bergeser di dalam rumah ini.

Dia tidak sadar sudah berdiri di sana cukup lama sampai Rachel muncul di pintu, bersandar ke kusen dengan gelas berisi air putih yang tidak pernah benar-benar diminumnya. Hanya dipegang seperti alasan untuk berada di suatu tempat.

"Udah pergi?" tanya Rachel, meski jelas sudah tahu jawabannya.

"Udah."

"Kamu masih di sini merhatiin jalan kosong."

Raven tidak menjawab itu. Dia menutup gorden setengah, cukup untuk membuat alasan bahwa dia melakukannya karena cahaya sore, bukan karena apa pun yang lain.

Rachel masuk, duduk di ujung ranjang dengan satu kaki naik, posisi yang sama sejak mereka kecil, posisi yang selalu dia ambil kalau sedang bersiap menanyakan sesuatu yang tidak akan dijawab dengan mudah.

"Dia nekat, ya," kata Rachel. "Naik angkot, jalan kaki, berdiri di depan pagar orang kayak lagi nunggu ditangkep satpam."

"Dia emang selalu kayak gitu."

"Kamu ngomong itu kayak udah hafal banget. Emang ada yang berani sedeket itu sama manusia galak macem kamu?"

Raven duduk di kursi meja belajarnya, memutar kursinya sedikit, tidak sepenuhnya menghadap Rachel. "Dia keras kepala. Bukan berarti aku hafal."

"Terserah kamu mau nyebut itu apa." Rachel menyesap air putihnya, akhirnya. "Tapi aku belum pernah liat kamu diem selama itu di depan orang, terus masih nyediain jahe anget tanpa disuruh."

"Ya karena dia kedinginan. Kasian aja."

"Kamu juga gak pernah nawarin jahe ke tamu-tamu Mama yang dateng ke sini."

Raven tidak punya jawaban untuk itu. Jadi dia memilih diam, yang menurut Rachel selalu jadi jawaban paling jujur yang bisa didapat dari adiknya.

"Kamu takut, ya," kata Rachel, bukan pertanyaan lagi.

"Takut apa."

Lihat selengkapnya