*BAB 2: KAKAK IPAR*
Zea menyesal seumur hidupnya pernah menerima jaket itu.
Jam 6:30 pagi, dia berdiri di depan cermin. Jaket kulit hitam dengan bordir GARUDA RIDERS MC - JAKARTA EST. 2019 itu tergantung di kursinya. Ukurannya dua kali lipat tubuhnya. Baunya masih ada. Bau hujan, kopi, dan parfum Arkana yang mahal.
Dia ingin mengembalikannya diam-diam, taruh di meja kelas 12 IPS 3 lalu kabur. Itu rencananya.
Tapi rencana tidak pernah berjalan mulus kalau melibatkan Arkana.
Gerbang SMA Garuda jam 7 pagi sudah seperti panggung.
Zea baru saja masuk gerbang, masih memakai jaket itu karena dia malu menentengnya, langsung disambut hening.
Semua mata menatapnya.
Bukan karena Zea cantik. Tapi karena jaket yang dia pakai.
"Itu... jaket Ketua Garuda Riders bukan?" bisik seorang cewek kelas 10.
"Yang dipake Arkana kemarin balap? Gila, itu jaket kebesarannya! Gak pernah dipinjemin ke siapa pun!" bisik yang lain.
Zea mempercepat langkahnya. Wajah dinginnya dia pasang maksimal. Mode anti-sosial ON.
Tapi dari parkiran belakang, suara motor sudah meraung. Lima motor hitam masuk bersamaan. Parkir persis di tempat yang tidak boleh diparkiri siapa pun.
Arkana turun. Hari ini dia tidak pakai jaket kulitnya. Hanya kaos hitam ketat dan celana cargo. Lengannya yang bertato terlihat jelas.
Dia melihat Zea dari jauh. Dan tersenyum.
Zea langsung panik dan setengah lari ke arah kelasnya.
"ZEA! JAKET GUE!"
Satu sekolah menoleh.
Arkana berteriak itu kencang. Bukan teriakan marah, tapi teriakan milik seseorang yang bangga.
Zea berhenti. Ingin menghilang saja ditelan bumi.
Arkana berjalan santai ke arahnya. Anak-anak geng di belakangnya, Bara, Jody, Reza, mengikuti seperti pasukan.
Sampai di depan Zea, Arkana berhenti. Jaraknya dekat. Terlalu dekat.
"Kenapa dipake? Katanya gak mau?" bisik Arkana pelan, hanya cukup didengar Zea.
"Gue mau balikin! Gak mau pegang lama-lama!" jawab Zea ketus, berusaha melepas jaket itu.
Arkana menahan tangannya. "Jangan di sini. Panas."