CEWEK DINGIN KESAYANGAN KETUA GENG MOTOR TERKENAL

Shinta Dwi F
Chapter #3

CEWEK DINGIN KESAYANGAN KETUA GENG MOTOR TERKENAL

*BAB 3: TERJEBAK DI GARASI GARUDA RIDERS*


Tiga hari Zea berhasil menghindar dari Arkana.


Caranya? Datang jam 6 pagi, pulang lewat gerbang belakang, makan di kelas, dan mengabaikan semua teriakan "KAKAK IPAR!" dari anak Garuda Riders. Susu coklat dan roti di lacinya selalu dia buang ke tempat sampah depan kelas. Walau Sinta sering memungutnya dan berkata, "Sayang banget Ze, roti mahal!"


Sore itu, strategi Zea hancur karena satu hal: Hujan lagi.


Dan lebih sial lagi, motor bebek tua milik Ayahnya yang dia pakai hari itu mogok tepat di depan sebuah ruko kosong yang catnya hitam, dengan tulisan besar: GARUDA RIDERS MC - SECRET BASE - JAKARTA.


Markas.


Zea ingin mendorong motornya menjauh, tapi hujan sudah turun deras. Sangat deras. Dia berteduh di bawah rolling door ruko itu, basah kuyup.


Dari dalam ruko, suara musik rock dan tawa terdengar. Pintu rolling door terbuka setengah.


Bara keluar sambil membawa obeng. "Woi, motor siapa yang berisik—"


Bara berhenti. Matanya melotot.


"KAKAK IPAR?!"


Dalam 0,5 detik, seluruh isi garasi keluar.


Jody, Reza, dan dua anak lain. Dan di tengah mereka, Arkana.


Arkana tidak pakai jaket kulit. Dia hanya memakai kaos hitam yang sudah kotor oli, lengan digulung, dan celana jeans robek. Tangannya hitam karena oli motor. Dia sedang membongkar mesin Yamaha R1-nya.


Dia melihat Zea. Basah. Motor mogok. Di depan markasnya.


Senyumnya muncul lagi. Senyum yang bikin anak buahnya tahu: Ketua sedang dalam mode bucin.


"Akhirnya mampir juga," kata Arkana pelan.


"Gue gak mampir! Motor gue mogok! Gue cuma neduh!" Zea ketus, tapi suaranya bergetar karena kedinginan.


Arkana tidak menjawab. Dia berjalan mendekati motor bebek Zea, jongkok, dan memeriksa.


"Busi mati. Karbu banjir. Motor ini harus diservis total, Ze. Gak bisa jalan malam ini."


Zea panik. "Terus gue gimana pulangnya?"


"Di dalam aja dulu. Hujan gak bakal berhenti satu jam ke depan," kata Arkana. Dia membuka rolling door lebih tinggi. "Masuk. Gue gak bakal ngapa-ngapain."


Zea ragu. Masuk ke markas geng motor yang ditakuti satu Jakarta? Tapi di luar hujan badai dan petir.


Dengan terpaksa, dia masuk.


Garasi itu ternyata tidak seseram yang dia bayangkan. Memang berantakan, penuh motor, ban, perkakas, dan poster-poster balap. Tapi bersih. Di sudut ada kulkas kecil, dispenser, dan bahkan ada rak buku.


"Bara, ambilin handuk bersih di kamar gue," perintah Arkana.


Bara langsung lari.


Zea berdiri kaku di tengah garasi, bingung. Semua anak geng menatapnya dengan senyum aneh.


"Kakak Ipar duduk aja," kata Jody sambil menyodorkan kursi.

Lihat selengkapnya