BAB 9 - JANGAN SENTUH ZEA
Bengkel tua di ujung Jalan Anggrek itu tidak pernah benar-benar sepi, bahkan jam 1 malam. Lampu neonnya berkedip, suara gerinda beradu dengan tawa kasar, dan di tengah semua kebisingan itu, ada Arkana.
Ketua Black Viper. Jaket kulit hitam dengan bordir ular di punggungnya tergantung di kursi, kaos dalamnya basah keringat, tangannya penuh oli. Semua anak motor di kota ini tahu, kalau Arkana lagi diam, jangan ada yang berani berisik.
Dan malam ini, Arkana diam terlalu lama. Matanya menatap kosong ke arah ponsel di atas meja. Layarnya menyala.
Foto Zea.
Gadis itu masih dengan seragam putih abu-abunya siang tadi, berdiri di depan gerbang sekolah, wajah dingin tanpa ekspresi, menatap lurus ke depan seolah dunia tidak ada. Tapi Arkana tahu, di balik tatapan dingin itu, Zea cuma gadis yang takut kalau terlalu ramah, semua orang akan memanfaatkannya.
"Ketua, anak-anak Northside nantangin balapan lagi di jembatan layang," kata Jeri, wakilnya.
Arkana tidak menjawab.
"Ketua?"
"Suruh mereka tunggu," jawab Arkana pelan. "Gue lagi gak mood balapan."
Jeri mengernyit. Ini tidak biasa. Arkana adalah orang pertama yang akan datang kalau ada tantangan.
"Gara-gara Zea lagi?" Jeri akhirnya berani bertanya.
Arkana melirik tajam. Tapi bukan marah. Lebih ke peringatan.
"Zea kenapa?" tanya Arkana.
"Gak kenapa. Cuma... tadi siang gue liat dia di kantin. Ada cowok kelas 12 yang ngedeketin dia. Ngasih minum. Zea diem aja, terus ditinggal."
Rahang Arkana mengeras. Tangannya mengepal.
Zea memang dingin. Terlalu dingin untuk ukuran cewek SMA. Tidak pernah senyum, tidak pernah ikut gosip, jawaban selalu pendek. Karena itulah semua orang mengira dia sombong. Padahal Arkana tahu alasan sebenarnya. Zea pernah bilang suatu malam di atas rooftop sekolah, saat mereka tidak sengaja bertemu.
_"Kalau gue ramah, mereka akan datang dan pergi seenaknya. Kalau gue dingin, cuma orang yang beneran niat yang akan tetap tinggal."_
Dan Arkana tinggal. Terus tinggal.
Jam 06.30 pagi.
Zea berjalan seperti biasa. Rambutnya diikat kuda, tas digendong satu bahu, earphone terpasang tapi tidak ada musik. Itu caranya agar tidak ada yang mengajak ngobrol.
Di parkiran sekolah, sudah ramai. Tapi hari ini ramai yang berbeda.
Sepuluh motor besar berjejer rapi. Black Viper. Semua memakai helm, tapi jaketnya tidak bisa bohong. Dan di tengahnya, ada motor custom hitam matte yang sangat dikenal - motor Arkana.
Satu sekolah langsung heboh.