*BAB 10: KENCAN PERTAMA*
Jadian resmi di depan kelas itu ternyata membawa masalah baru.
Zea yang selama ini tidak pernah pacaran, tidak tahu cara pacaran.
Arkana yang sudah mantan 5 kali pacaran, juga tidak tahu cara pacaran yang benar, karena semua mantannya diajak nongkrong di garasi dan balapan.
Jadi hari Minggu ini, kencan pertama mereka, adalah bencana yang lucu.
Arkana mengajak Zea ke Dufan. Alasannya: "Semua cewek suka Dufan."
Zea setuju karena dia belum pernah ke Dufan. Sejak Mamanya meninggal, tidak ada yang mengajaknya jalan-jalan.
Jam 9 pagi, Arkana menjemput Zea di rumahnya dengan mobil, bukan motor. Pinjaman dari Bara. Mobilnya Avanza tua tapi bersih.
Ayah Zea yang melihat Arkana pakai kemeja putih rapi, bukan jaket kulit, dan rambut disisir, sampai melongo.
"Om, saya izin bawa Zea jalan ya," kata Arkana sopan.
Ayahnya mengangguk kaku. "Jangan pulang malam-malam."
"Siap Om."
Di mobil, Zea memakai dress putih sederhana yang dibelikan Sinta, dan kerudung? Enggak, Zea tidak pakai kerudung di cerita ini, rambutnya dikuncir. Cantik.
Arkana tidak bisa berhenti menatapnya.
"Lo cantik banget hari ini, Ze," kata Arkana jujur.
Zea langsung buang muka, wajahnya merah. "Berisik. Liat jalan aja."
Tapi dalam hati dia senang.
Sampai di Dufan jam 10, masalah pertama muncul.
Arkana takut ketinggian.
Dia tidak pernah cerita ke siapa pun. Ketua geng motor yang berani balapan 150 km/jam, ternyata takut naik bianglala.
Zea yang melihat bianglala langsung tertarik.
"Ka, naik itu yuk!"
Arkana pucat. "Itu... itu tinggi banget, Ze."
"Ya makanya seru! Ayo!"
Zea menarik tangan Arkana. Arkana tidak bisa menolak.
Di dalam gondola bianglala yang naik pelan-pelan, Arkana memejamkan mata, tangannya menggenggam erat besi.
Zea yang melihat itu, awalnya tertawa.
"Ketua Garuda Riders takut ketinggian? Malu-maluin!"
"Jangan berisik, Ze... Gondolanya goyang..." kata Arkana dengan mata tertutup.
Zea yang melihat Arkana benar-benar takut, jadi kasihan. Dia duduk di sebelah Arkana dan menggenggam tangan Arkana yang berkeringat.