*BAB 11: LAMARAN KECIL*
Sudah 2 bulan sejak jadian resmi di depan kelas.
Banyak yang berubah.
Arkana tidak lagi balapan liar. Garuda Riders sekarang jadi klub motor resmi yang ikut kejuaraan road race legal, bukan balap liar. Semua karena Zea yang bilang: "Kalau mau sama gue lama, jangan bikin gue khawatir terus."
Zea juga berubah. Dia tidak lagi sedingin dulu. Nilainya tetap bagus, tapi sekarang dia lebih sering tersenyum. Kalau dulu dia makan sendirian, sekarang dia makan di kantin bersama Arkana dan gengnya. Dan semua anak geng sekarang benar-benar menganggapnya Ratu.
Hari ini adalah hari wisuda angkatan Arkana. Arkana kelas 12.
Zea kelas 11, jadi dia hanya penonton.
Acara wisuda di aula sekolah besar. Semua orang tua datang. Ayah Zea juga datang karena diundang Arkana.
Arkana memakai jas wisuda hitam. Tidak ada jaket kulit. Rambutnya rapi. Tidak ada tato yang terlihat. Dia terlihat seperti cowok biasa yang sangat tampan, bukan ketua geng motor.
Saat namanya dipanggil untuk maju ke panggung dan menerima ijazah, semua Garuda Riders berteriak paling keras:
"HIDUP KETUA! HIDUP KETUA!"
Guru-guru hanya menggeleng sambil tertawa.
Setelah semua menerima ijazah, ada sesi pidato ketua angkatan. Arkana maju sebagai perwakilan.
Semua orang mengira dia akan pidato biasa tentang masa depan.
Tapi Arkana membawa sesuatu di sakunya.
Dia naik ke panggung, mengambil mikrofon, dan menatap ke arah Zea yang duduk di barisan kelas 11.
"Selamat siang semuanya," kata Arkana. Suaranya sedikit gemetar, pertama kalinya dia grogi. "Gue Arkana. 3 tahun di SMA Garuda, gue dikenal sebagai ketua geng motor, tukang tawuran, tukang balapan. Gue bangga? Enggak. Gue cuma gak tau mau jadi apa."
Aula hening.
"2 tahun gue ngejalanin hidup tanpa tujuan. Sampai 3 bulan lalu, di warung kopi 24 jam, gue ketemu cewek yang kehujanan. Cewek paling dingin, paling judes, paling susah dideketin. Tapi cewek itu ngajarin gue, kalau hidup itu bukan cuma soal gas motor dan menang tawuran. Hidup itu soal punya seseorang yang bikin lo pengen pulang."