BAB 14 - BENGKEL RESMI UNTUK RESTU MAMA
Setelah penolakan beasiswa itu, masalah Zea belum selesai. Justru masalah baru dimulai di rumah.
Mama Zea diam. Diam yang lebih menakutkan daripada marah.
Tiga hari Mama tidak mengajak Zea bicara. Di meja makan hanya ada suara sendok beradu piring.
"Piringnya sudah bersih, Ma," kata Zea malam itu, mencoba mencairkan suasana.
Mama meletakkan gelas dengan agak keras. "Mama kecewa, Zea. Bukan karena kamu menolak beasiswa. Mama kecewa karena kamu menolak masa depan demi laki-laki yang hidupnya di jalanan."
Zea menunduk. Kalung ular di lehernya terasa panas.
"Dia tidak di jalanan terus, Ma. Dia punya bengkel."
"Bengkel liar? Yang isinya anak motor mabuk-mabukan?"
Zea tidak bisa menjawab. Karena sebagian benar.
Di tempat lain, di bengkel Black Viper, Arkana sedang melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan ketua geng motor mana pun di kota ini.
Dia membersihkan bengkel.
Bukan disuruh, bukan karena ada razia. Dia menyapu oli yang sudah mengering 2 tahun, mencabut poster-poster cewek seksi di dinding, dan membuang botol-botol minuman kosong ke tong sampah.
Jeri dan 8 anak buahnya menatap dengan mulut menganga.
"Ketua... kesambet?" bisik Jeri.
Arkana menoleh, tangannya masih memegang sapu. "Mulai hari ini, bengkel ini tutup untuk balapan liar. Kita benerin jadi bengkel resmi."
Satu bengkel langsung ribut.
"Gila! Terus geng kita gimana, Ketua?"
"Geng tetap geng. Tapi kita cari uang halal. Gue capek, Jer. Gue 18 tahun. Masa depan gue mau jadi apa kalau cuma balapan terus?"
Jeri terdiam. Dia tahu alasan sebenarnya. Bukan karena capek. Karena Zea.
"Zea nolak beasiswa gara-gara gue," kata Arkana pelan, hanya Jeri yang dengar. "Masa gue masih jadi berandalan? Gue harus buktiin ke Mamanya Zea, gue bisa jaga anaknya."
Keesokan harinya, perubahan besar terjadi.
Papan nama bengkel yang dulu tulisannya "BLACK VIPER GARAGE - NO RULES" dicat ulang oleh Arkana sendiri menjadi "ARKANA MOTOR - SERVICE & SPAREPART RESMI".