Chapter 1 - Episode 2
Suasana Pagi di Asterveil terasa lebih terang dari biasanya setelah hari Minggu itu berakhir.
Selvara berdiri di depan gerbang sekolah, tangannya menggenggam tali tas dengan ringan. Seragamnya rapi, tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelum ia mengambil izin.
Halaman sekolah sudah ramai.
Suara siswa bercampur menjadi satu. Langkah kaki bergerak cepat, beberapa orang tertawa tanpa alasan jelas, sebagian lain berdiri berkelompok sambil berbicara pelan. Semua berjalan seperti biasanya.
Selvara tidak langsung masuk.
Ia berdiri beberapa detik lebih lama, menatap ke dalam tanpa benar-benar fokus pada siapa pun.
Seolah memastikan sesuatu sudah kembali ke tempatnya.
Lalu ia berjalan.
Langkahnya pelan, menyatu dengan arus siswa lain. Ia melewati lorong tanpa banyak melihat sekitar, hanya sesekali menghindari orang yang berpapasan.
Namun beberapa pandangan sempat berhenti padanya.
Tidak lama.
Cukup untuk terasa.
"Eh… itu Selvara, kan?"
Suara itu terdengar pelan dari belakang, hampir tertutup oleh langkah kaki lain.
"Iya, yang ikut transfer kemarin."
"Katanya dia dipindahin sementara, ya?"
"Bukan dipindahin… lebih ke..apa ya… ditarik?"
"Serius?"
Selvara tetap berjalan.
Ia tidak menoleh.
Suara-suara itu terdengar, tapi tidak cukup kuat untuk membuatnya berhenti.
Ia sudah terbiasa dengan itu.
Di ujung lorong, beberapa siswa lain terlihat berdiri dekat jendela. Saat Selvara melewati mereka, percakapan mereka berhenti sesaat, lalu berlanjut kembali dengan nada lebih pelan.
"Dia balik lagi."
"Iya… kirain bakal lama."
"Katanya dia deket sama OSIS, ya?"
"Atau… ada masalah?"
Langkah Selvara tidak berubah.
Ia tetap berjalan sampai akhirnya sampai di depan kelasnya.
Pintu sudah terbuka.
Beberapa siswa sudah di dalam. Sebagian duduk, sebagian berdiri sambil berbicara. Suasana masih longgar sebelum pelajaran dimulai.
Selvara masuk tanpa suara.
Beberapa kepala menoleh.
Tidak semuanya.
Cukup beberapa.
Tatapan itu tidak lama. Hanya sekilas, lalu kembali ke aktivitas masing-masing.
Namun satu dua suara tetap terdengar.
"Itu dia."
"Selvara, kan?"
"Iya."
Tidak ada yang langsung menyapanya.
Selvara berjalan menuju bangkunya.
Kursinya masih di tempat yang sama, dekat jendela. Tidak ada yang berubah. Ia duduk, meletakkan tas di samping, lalu menarik napas pelan tanpa sadar.
Meja itu terasa dingin saat tangannya menyentuh permukaannya.
Semuanya kembali seperti biasa.
"Selva."
Suara itu datang dari samping.
Ia menoleh.
Vio berdiri di dekat mejanya, satu tangan bertumpu di sandaran kursi. Rambutnya sedikit berantakan, tapi ekspresinya tetap tenang seperti biasanya.
"Kamu balik juga," ucap Vio.
Selvara mengangguk kecil. "Iya."
Vio tidak langsung duduk. Ia masih berdiri sebentar, memperhatikan wajah Selvara dengan lebih lama dari biasanya.
"Seminggu kemarin gimana?" tanyanya.
Selvara berpikir sebentar.
"Biasa saja."
Jawaban itu keluar pelan, tanpa tambahan.
Vio mengangguk.
"Iya… kelihatannya begitu."
Ia akhirnya duduk di kursinya, tidak jauh dari Selva.
Beberapa siswa mulai kembali ke tempat duduk masing-masing. Suara percakapan perlahan mereda.
Namun sebelum benar-benar tenang, satu suara terdengar dari barisan belakang.
"Eh, Selva."
Selvara menoleh sedikit.
Seorang siswa laki-laki berdiri setengah dari kursinya, menatap ke arahnya dengan ekspresi penasaran yang tidak disembunyikan.
"Yang kemarin itu… beneran kamu doang yang dipilih?"
Beberapa kepala langsung ikut menoleh.
Suasana kelas berubah sedikit.
Selvara menatapnya sebentar.
"Iya," jawabnya singkat.
Siswa itu mengangkat alis. "Kenapa?"
Selvara tidak langsung menjawab.
Beberapa detik terasa lebih lama dari seharusnya.
"Programnya memang begitu," katanya akhirnya.
Tidak menjelaskan.
Tidak menambah apa pun.
Siswa itu terlihat ingin bertanya lagi, tapi salah satu temannya menepuk bahunya pelan.
"Udah, nanti aja," bisiknya.
Suasana kembali mereda.
Selvara mengalihkan pandangan ke depan kelas.
Tangannya kembali menyentuh meja.
Dingin.
Ia menekan ujung jarinya sedikit lebih lama.
Untuk sesaat, ia merasa permukaan meja itu tidak sepenuhnya terasa sama.
Tipis.
Seperti ada jarak kecil antara sentuhan dan rasa yang seharusnya muncul.
Selvara menarik tangannya pelan.
Ia menatap meja itu beberapa detik.
Lalu mengalihkan pandangan.
Vio yang duduk di sampingnya sempat melirik.
"Kamu kenapa?" tanyanya pelan.
Selvara menggeleng kecil. "Nggak apa-apa."
Vio tidak langsung percaya, tapi juga tidak memaksa.
Ia hanya mengangguk, lalu membuka tasnya.
Beberapa menit kemudian, guru masuk.
Kelas mulai berjalan seperti biasa.
Suara kapur di papan tulis, buku yang dibuka, dan pena yang mulai bergerak di atas kertas. Semua kembali ke ritme yang dikenal.
Selvara memperhatikan.
Namun tidak sepenuhnya.
Ada jarak kecil yang belum hilang sejak ia masuk ke ruangan itu.
Seperti ia berada sedikit di luar dari apa yang terjadi.
Di tengah pelajaran, ia sempat menoleh ke jendela.
Cahaya pagi masih sama.
Langit cerah.
Tidak ada hujan.
Namun untuk sesaat…
Ia merasa seperti masih bisa mendengar suara air jatuh pelan.
Selvara mengerutkan alis.
Ia berkedip sekali, lalu menatap lebih fokus.
Suara itu hilang.
Semuanya kembali normal.
Ia tidak mencoba memahami.
Pelajaran berlanjut.
Dan hari pertama itu… tetap berjalan seperti hari biasa.
Namun beberapa orang masih memperhatikannya.
Bukan karena apa yang ia lakukan.
Tapi karena apa yang mereka dengar.
Tentang satu minggu yang tidak sepenuhnya jelas.
Tentang alasan yang tidak pernah dijelaskan.
Dan tentang sesuatu yang… terasa tidak lengkap.
Sementara itu, Selvara hanya duduk di tempatnya.
Tanpa menyadari bahwa bukan hanya orang-orang yang mulai memperhatikannya.
Tapi juga… sesuatu yang lain.
Beberapa saat setelah bel istirahat berbunyi.
Suasana kelas yang sempat rapi kembali pecah menjadi percakapan kecil. Kursi bergeser, beberapa siswa langsung berdiri, yang lain masih duduk sambil merapikan buku tanpa terburu-buru.
Selvara tidak langsung bergerak.
Tangannya masih berada di atas meja, ujung jarinya menyentuh permukaan kayu yang dingin. Ia memperhatikan sejenak, lalu menarik tangannya pelan.
Rasa itu masih sama.
Tipis.
Tidak cukup jelas untuk dipahami.
"Ngga keluar?"
Suara Vio terdengar dari samping.
Selvara menoleh.
Vio sudah berdiri di dekat mejanya, tasnya tergantung di satu bahu. Tatapannya tenang, tapi sedikit lebih lama dari biasanya.
"Sebentar lagi," jawab Selva.
Vio mengangguk. "Aku ke kantin dulu."
"Iya."
Vio langsung berbalik dan keluar kelas bersama arus siswa lain.
Selvara tetap duduk beberapa detik.
Suara di kelas perlahan berkurang. Hanya tersisa beberapa siswa yang masih berbicara pelan. Dari jendela, cahaya siang masuk lembut, membentuk bayangan panjang di lantai.
Selvara akhirnya berdiri.
Tasnya ia ambil, lalu ia melangkah keluar tanpa terburu-buru.
Lorong sekolah terasa lebih longgar dibanding sebelumnya.
Langkah kaki masih terdengar, tapi tidak sepadat tadi. Selvara berjalan di antara siswa lain tanpa benar-benar melihat wajah mereka.
Namun beberapa suara masih sempat tertangkap.
"Itu Selvara, kan?"
"Iya."
"Dia balik lagi."
"Katanya seminggu itu bukan izin biasa."
Selvara tidak menoleh.
Ia tetap berjalan.
Saat melewati deretan jendela, pandangannya sempat tertarik ke luar. Halaman sekolah terlihat sama. Beberapa siswa berkumpul di bawah pohon, sebagian berdiri di dekat lapangan.
Semua terlihat normal.
Selvara melanjutkan langkah.
Kantin cukup ramai.
Antrian di beberapa stand sudah terbentuk. Suara piring dan gelas bercampur dengan percakapan siswa yang tidak berhenti.
Selvara berhenti sejenak di pintu.
Matanya mencari tanpa ia sadari.
"Selva."
Ia menoleh.
Vio duduk di sudut kantin, satu tangan mengangkat gelas sedikit sebagai tanda. Di depannya sudah ada dua minuman.
Selvara berjalan mendekat.
"Kamu lama," ucap Vio.
Selvara duduk. "Tadi di kelas."
Vio mendorong satu gelas ke arahnya. "Ini."
Selvara mengambilnya. "Makasih."
Mereka tidak langsung berbicara.
Selvara meneguk sedikit, lalu meletakkan gelas kembali. Pandangannya sempat mengarah ke sekitar, mengikuti gerakan orang-orang yang lalu lalang.
Vio memperhatikannya.
"Kamu kelihatan beda," katanya pelan.
Selvara tidak langsung menjawab.
"Dari mana?" tanyanya.
Vio mengangkat bahu. "Ngga tahu. Cuma… beda."
Selvara mengangguk kecil. "Mungkin capek."
Vio tidak menanggapi langsung. Ia hanya menatap Selvara beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.
Mereka kembali diam.
Beberapa saat kemudian, Selvara tanpa sengaja melihat ke arah kaca di sisi kantin.
Pantulan ruangan terlihat jelas.
Orang-orang bergerak, duduk, berdiri.
Namun untuk sesaat…
Gerakan itu terasa sedikit terlambat.
Selvara berhenti.
Tangannya tidak bergerak.
Ia menatap lebih lama.
Pantulan itu kembali normal.
Semua kembali sinkron.
Selvara mengalihkan pandangan.
Vio yang memperhatikan perubahan kecil itu mengernyit. "Kenapa?"
Selvara menggeleng. "Ngga apa-apa."
Vio tidak bertanya lagi.
Setelah beberapa saat, Selvara berdiri lebih dulu.
"Aku duluan."
Vio mengangguk. "Aku nyusul."
Selvara mengambil tasnya dan berjalan keluar kantin.
Lorong terasa lebih sepi sekarang.
Langkahnya terdengar lebih jelas. Setiap pijakan sepatu memantul ringan di lantai.
Selvara berjalan tanpa terburu-buru.
Saat melewati jendela, bayangannya ikut bergerak di sampingnya.
Ia tidak memperhatikan.
Sampai satu langkah terasa tidak pas.
Selvara berhenti.
Ia menoleh ke jendela.
Bayangannya berhenti.
Terlambat sepersekian detik.
Selvara menatapnya lebih lama.
Bayangan itu kembali sinkron.
Ia berkedip sekali.
Lalu mengalihkan pandangan.
Tangannya sedikit menegang sebelum akhirnya rileks kembali.
Selvara melanjutkan langkah.
Saat ia kembali ke kelas, suasana masih belum penuh.
Beberapa siswa sudah duduk, sebagian masih berbicara pelan.
Selvara duduk di tempatnya.
Tangannya kembali menyentuh meja.
Dingin.
Ia menekan ujung jarinya sedikit lebih lama.
Rasa itu tetap ada.
Tipis.
Sulit dijelaskan.
Selvara menarik tangannya.
Ia menatap ke depan kelas.
Beberapa menit kemudian, Vio masuk dan duduk di kursinya.
Sebelum membuka tas, ia sempat melirik Selva.
Tatapannya lebih lama dari biasanya.
"Selva," panggilnya pelan.
Selvara menoleh.
"Kamu ngerasa… aneh ngga sih?"
Selvara diam sebentar.
Pertanyaan itu terasa lebih tepat dari yang ia harapkan.
Namun ia tetap menggeleng kecil.
"Ngga."
Vio tidak langsung percaya.
Tapi ia tidak memaksa.
Ia hanya mengangguk pelan dan membuka tasnya.
Bel masuk berbunyi.
Guru masuk, kelas kembali berjalan.
Penjelasan dimulai.
Selvara menatap ke depan.
Ia mendengarkan.
Namun tidak sepenuhnya.
Ada jarak kecil yang tidak hilang.
Seperti ia berada sedikit di luar dari apa yang terjadi.
Di tengah pelajaran, ia menoleh ke jendela.
Langit masih cerah.
Namun untuk sesaat…
Ia merasa suara hujan masih ada.
Pelan.
Hampir tidak terdengar.
Selvara mengerutkan alis.
Ia berkedip.
Suara itu hilang.
Semuanya kembali normal.
Hari itu berjalan sampai selesai.
Tidak ada kejadian besar.
Tidak ada yang benar-benar berubah.
Namun sesuatu sudah mulai terasa jelas.
Bukan di luar.
Tapi di dalam cara ia melihat.
Dan kali ini…
Vio mulai menyadarinya juga.
Beberapa saat setelah pelajaran terakhir selesai.
Suara kursi digeser terdengar lebih berat dari tadi siang. Beberapa siswa langsung berdiri, sebagian masih duduk sambil merapikan buku dengan santai. Hari pertama setelah libur singkat selalu terasa agak panjang.
Selvara masih duduk.
Bukunya sudah tertutup, tapi tangannya belum bergerak dari atas meja. Ujung jarinya menyentuh permukaan kayu, dingin, datar, biasa… tapi entah kenapa terasa sedikit jauh.
Bel pulang sudah berbunyi.
Namun ia tidak langsung berdiri.
"Ngga pulang?"
Suara Vio datang dari samping, pelan, tapi jelas.
Selvara menoleh sedikit. "Iya… bentar."
Vio sudah berdiri, tasnya tergantung di bahu. Ia tidak langsung pergi. Tatapannya berhenti di Selva, lebih lama dari biasanya.
"Kamu beneran nggak apa-apa?" tanyanya.
Selvara mengangguk kecil. "Iya."
Vio terlihat ragu, tapi akhirnya menghela napas pelan. "Aku tunggu di depan."
Selvara hanya mengangguk.
Vio pergi.
Suasana kelas perlahan kosong. Suara percakapan menjauh, tinggal sisa langkah kaki yang semakin jarang.
Selvara akhirnya berdiri.
Tasnya ia ambil, lalu berjalan keluar kelas.
Lorong sekolah sore itu lebih sepi.
Cahaya matahari masuk dari jendela dengan sudut miring, membuat bayangan di lantai terlihat panjang. Selvara berjalan tanpa buru-buru.
Langkahnya terdengar jelas.
Satu.
Dua.
Tiga.
Ia berhenti.
Bukan karena ada yang menghalangi.
Hanya… langkahnya terasa tidak pas.
Selvara menoleh ke jendela di sampingnya.
Bayangannya ada di sana.
Diam.
Ia ikut diam.
Lalu, bayangan itu bergerak.
Sedikit terlambat.
Selvara mengerutkan alis.
Ia mengangkat tangannya pelan.
Bayangannya mengikuti.
Tepat.
Tidak ada yang aneh.
Selvara menurunkan tangannya.
Beberapa detik ia masih menatap.
Lalu mengalihkan pandangan.
"Oke…" gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri.
Ia melanjutkan langkah.
Di depan gerbang, Vio sudah menunggu.
Ia berdiri di bawah pohon, satu tangan di saku, ponsel di tangan satunya. Saat melihat Selva, ia langsung mengangkat kepala.
"Lama," katanya.
Selvara berhenti di sampingnya. "Tadi beresin buku."
Vio mengangguk.
Mereka mulai jalan bareng.
Tidak ada arah khusus, hanya mengikuti jalan yang biasa mereka lewati.
Suasana sore terasa santai.
Beberapa siswa masih terlihat di sekitar, sebagian sudah pulang. Kendaraan lewat dengan ritme biasa, suara kota pelan, tidak terlalu ramai.
Selvara dan Vio jalan berdampingan.
Langkah mereka santai.
Tidak buru-buru.
"Selva."
"Iya."
Vio diam sebentar sebelum lanjut.
"Tadi di kelas… kamu ngerasa aneh nggak?"
Selvara tidak langsung jawab.
Langkahnya tetap jalan.
"Aneh gimana?" tanyanya.
Vio menghela napas kecil. "Aku juga nggak yakin. Cuma… kayak ada yang nggak sinkron."
Selvara melirik sedikit.
Vio lanjut, "Suara sama gerakan. Kayak telat dikit."
Selvara berhenti.
Vio ikut berhenti.
Beberapa detik mereka saling lihat.
Selvara mengalihkan pandangan duluan.
"Aku juga ngerasa," katanya pelan.
Vio tidak kaget.
"Iya, kan."
Mereka lanjut jalan lagi.
"Kamu ngerasanya dari kapan?" tanya Vio.
"Beberapa hari terakhir."
Vio mengangguk.
"Pas hujan?" tanyanya lagi.
Selvara menoleh sedikit.
"Iya… mungkin."
Mereka melewati sebuah toko elektronik kecil.
Di dalam, beberapa televisi menyala menampilkan siaran berita yang sama.
Suara penyiar terdengar samar sampai ke luar.
“…laporan yang beredar di media sosial terkait gangguan visual di beberapa titik kota dinyatakan tidak benar…”
Selvara melirik ke dalam sekilas.
Di layar, terlihat rekaman jalan kota saat hujan. Lampu memantul di aspal, orang-orang berjalan biasa.
Normal.
Terlalu normal.
“…pihak kota menegaskan tidak ada anomali atau kejadian di luar kendali…”
Vio ikut melirik.
"Kamu lihat?" katanya pelan.
Selvara mengangguk kecil.
Mereka tidak berhenti.
Beberapa langkah kemudian, dua siswa di depan mereka berbicara pelan.
"Gue liat sendiri kemarin, sumpah. Pantulan di kaca beda."
"Halusinasi kali."
"Serius. Kayak… nggak ngikutin gerakan."
"Ah, lebay."
Selvara tidak menoleh.
Vio juga tidak.
Tapi langkah mereka sedikit melambat.
Langit mulai tertutup awan.
Angin bergerak pelan, membawa udara lembap yang terasa familiar.
Selvara menatap ke atas.
"Kayaknya mau hujan lagi," katanya.
Vio ikut melihat. "Iya."
Beberapa detik kemudian, tetesan pertama jatuh.
Pelan.
Selvara berhenti.
Vio ikut berhenti.
Mereka tidak langsung berteduh.
Hanya berdiri.
Mendengarkan.
Suara hujan itu…
terasa terlalu dekat.
Bukan hanya di sekitar.
Seolah ada di dalam cara mereka mendengar.
Selvara mengerutkan alis.
Ia menoleh ke sekitar.
Orang-orang mulai buka payung.
Tidak ada yang aneh.
Namun suara itu tetap terasa… tidak di tempatnya.
Selvara menutup mata sebentar.
Saat ia membukanya, semuanya kembali normal.
Hujan hanya hujan.
Vio menatapnya.
"Kamu juga ngerasain?" tanyanya.
Selvara mengangguk pelan. "Iya."
Mereka lanjut jalan.
Hujan mulai sedikit lebih deras.
Beberapa orang lari kecil, sebagian tetap santai.
Selvara dan Vio tetap jalan.
Langkah mereka sekarang terasa lebih berat.
Bukan karena hujan.
Tapi karena mereka mulai sadar.
Ini bukan kebetulan.
Dan bukan cuma satu orang.
Saat sampai di persimpangan, Vio berhenti.
"Aku lewat sini," katanya.
Selvara mengangguk.
Mereka diam sebentar.
Hujan terus turun.
"Besok kita lihat lagi," kata Vio.
Selvara mengangguk. "Iya."
Vio pergi.
Selvara tetap berdiri beberapa detik.
Di kejauhan, layar besar di gedung menampilkan berita yang sama.
“…informasi yang beredar dianggap sebagai kesalahan persepsi publik…”
Kata-kata itu terasa terlalu rapi.
Selvara menatap sebentar.
Lalu mengalihkan pandangan.
Ia mulai jalan pulang.
Malam datang lebih cepat dari biasanya.
Dan tanpa ia sadari…
sesuatu mulai ikut berjalan bersamanya.
Bukan di belakang.
Bukan di depan.
Tapi… di dalam cara dunia terlihat.
Lebih pelan dan lebih halus.
Dan perlahan… tidak lagi bisa disangkal.
Setelah berpisah di persimpangan, Selvara melanjutkan langkahnya sendiri.
Hujan masih turun, tidak deras, tapi cukup untuk membuat jalan terlihat lebih gelap. Lampu kendaraan memantul di aspal yang basah, membentuk garis cahaya yang bergerak pelan setiap kali mobil lewat.
Selvara tetap jalan santai, tidak buru-buru.
Bajunya mulai terasa lembap di bagian lengan, tapi ia tidak terlalu peduli. Tangannya masih memegang tali tas, sementara pikirannya pelan-pelan kembali ke percakapan tadi.
Bukan hanya karena yang ia rasakan.
Tapi karena Vio juga merasakannya.
Hal itu membuat semuanya terasa lebih sulit untuk dianggap kebetulan.
Selvara mengangkat pandangannya sedikit.
Di ujung jalan, layar besar di gedung masih menyala, menampilkan siaran berita. Cahaya dari sana terlihat lebih terang dibanding sekelilingnya yang mulai redup.
Langkah Selvara sedikit melambat.
Suara penyiar terdengar samar, terbawa oleh udara lembap setelah hujan.
“…kami kembali menegaskan bahwa informasi yang beredar mengenai fenomena visual di beberapa titik kota tidak memiliki dasar yang jelas…”
Selvara berhenti.
Ia menatap layar itu lebih lama.
Di sana ditampilkan rekaman jalanan kota saat hujan. Orang-orang berjalan seperti biasa, kendaraan melintas tanpa gangguan, semuanya terlihat normal.
Terlalu rapi.
“…pihak berwenang juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi…”
Gambar di layar berubah.
Beberapa orang terlihat diwawancarai. Salah satu dari mereka sempat membuka mulut, seperti ingin menjelaskan sesuatu, tapi sebelum kalimatnya selesai, tayangan itu langsung berpindah.
Diganti dengan cuplikan lain, dengan suasana yang lebih menenangkan dan juga lebih aman.
Selvara sedikit mengernyit.
Ia tidak tahu apa yang terasa janggal, tapi ada bagian yang seperti… dipotong terlalu cepat.
Seolah ada sesuatu yang tidak ingin ditampilkan sepenuhnya.
Ia mengalihkan pandangan.
Lalu kembali berjalan.
Jalan menuju rumahnya tidak terlalu ramai.
Beberapa toko sudah setengah tutup, sebagian masih menyala dengan lampu hangat di dalamnya. Suara hujan bercampur dengan suara pintu yang sesekali dibuka, langkah orang yang sedikit dipercepat, dan kendaraan yang lewat tanpa banyak suara.
Selvara melewati sebuah toko kecil dengan kaca besar di depannya.
Sekilas, ia melihat pantulannya.
Ia tidak langsung berhenti.
Namun matanya sempat menangkap sesuatu.
Pantulan itu terasa sedikit tidak pas.
Selvara memperlambat langkah.
Bayangannya masih berjalan.
Terlihat normal.
Ia berkedip sekali.
Saat ia melihat lagi, semuanya sudah kembali seperti biasa.
Selvara tidak menahan langkahnya.
Ia tetap berjalan, meski tanpa sadar genggamannya pada tali tas sedikit mengerat.
Saat sampai di depan rumah, hujan mulai mereda.
Selvara membuka pintu dan masuk, menutupnya pelan di belakangnya. Suasana di dalam rumah terasa hangat dan tenang, berbeda dari udara luar yang dingin.
"Udah pulang?"
Suara itu terdengar santai dari dalam.
"Iya," jawab Selvara singkat.
Tidak ada percakapan panjang setelah itu.
Ia langsung masuk ke kamarnya.
Kamar Selvara tidak banyak berubah.
Meja belajar di sudut, buku tersusun rapi, dan jendela yang menghadap ke jalan kecil di depan rumah. Ia meletakkan tasnya, lalu duduk di kursi tanpa langsung menyalakan lampu.
Cahaya dari luar cukup masuk untuk membuat ruangan tetap terlihat.
Selvara menatap ke arah jendela.
Hujan masih turun, lebih pelan sekarang.
Tetesannya terlihat jelas di kaca, bergerak turun perlahan sebelum menghilang.
Ia memperhatikan cukup lama.
Napasnya ikut melambat tanpa ia sadari.
Suara hujan itu terasa berbeda.
Bukan karena lebih keras, tapi karena terasa lebih dekat dari seharusnya.
Seolah bukan hanya terdengar dari luar.
Selvara mengerutkan alis sedikit.
Ia berdiri, lalu berjalan mendekat ke jendela.
Tangannya menyentuh kaca.
Dingin.
Ia menahan tangannya beberapa detik, lalu perlahan menariknya kembali.
Pantulannya terlihat di sana.
Ia menatap dirinya sendiri.
Untuk sesaat, rasanya seperti ada lapisan tipis yang ikut bergerak, bukan hanya bayangan biasa.
Namun sebelum ia sempat memastikan, semuanya kembali normal.
Selvara menghela napas pelan.
Ia tidak mencoba memikirkan lebih jauh.
Ia berbalik, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur tanpa mengganti baju lebih dulu.
Matanya menatap langit-langit.
Pikirannya tidak penuh.
Tapi juga tidak benar-benar kosong.
Ada sesuatu yang tertinggal, seperti potongan kecil yang belum tersusun.
Di luar, suara hujan perlahan berhenti.
Namun di dalam kepalanya, gema suara itu masih terasa.
Lebih pelan, lebih halus… tapi tidak sepenuhnya hilang.
Selvara memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya sejak kembali, ia mulai merasa bahwa minggu kemarin belum benar-benar selesai.
Di tempat lain, layar berita masih menyala.
“…kami memastikan situasi tetap terkendali dan tidak ada perubahan signifikan pada kondisi kota…”
Kata-kata itu terus diulang dengan nada yang sama, disusun dengan rapi, seolah tidak ada celah untuk diragukan.
Seolah semua yang terasa ganjil… hanyalah kesalahan cara melihat.
Padahal perlahan, cara melihat itulah yang sedang berubah.
Keesokan paginya, langit terlihat lebih cerah.
Seolah hujan semalam tidak meninggalkan apa-apa.
Selvara berjalan menuju sekolah seperti biasa. Jalanan sudah kembali kering di beberapa bagian, meski genangan kecil masih tertinggal di sisi trotoar. Orang-orang beraktivitas seperti biasa, tidak ada yang terlihat berbeda.
Langkah Selvara stabil.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya tenang.
Suara hujan semalam masih terasa tertinggal, samar, seperti sesuatu yang belum selesai.
Saat melewati sebuah halte kecil, langkahnya sedikit melambat.
Biasanya ada beberapa siswa yang menunggu di sana setiap pagi.
Hari ini, hanya satu orang.
Selvara sempat menatap ke arah bangku halte yang setengah kosong, lalu mengalihkan pandangan.
Ia tidak langsung memikirkan apa-apa.
Mungkin hanya telat.
Atau memilih jalan lain.
Selvara kembali berjalan.
Di gerbang sekolah, suasana tetap ramai.
Namun ada sesuatu yang terasa sedikit berbeda.
Bukan sesuatu yang terlihat jelas.
Lebih ke arah cara orang-orang berbicara.
Beberapa kelompok siswa terlihat berdiskusi dengan suara lebih pelan dari biasanya, seperti ada hal yang tidak ingin terlalu terdengar.
Selvara masuk tanpa berhenti.
Saat melewati dua siswi di dekat gerbang, percakapan mereka sempat terdengar.
"Kamu denger belum?"
"Iya… tapi itu beneran?"
"Katanya anak kelas sebelah nggak masuk dari kemarin."
"Alasannya sakit, kan?"
"Katanya sih gitu… tapi.."
Percakapan itu terhenti saat Selvara lewat.
Ia tidak menoleh.
Langkahnya tetap sama.
Di dalam kelas, suasana tidak terlalu berubah.
Beberapa siswa sudah duduk, sebagian masih berdiri sambil berbicara ringan.
Namun satu kursi di barisan tengah terlihat kosong.
Selvara melirik sekilas.
Tidak ada tas.
Tidak ada buku.
Kursi itu tampak terlalu rapi.
Seolah memang tidak digunakan sejak awal.
Vio masuk beberapa detik setelahnya.
Ia langsung duduk di kursinya, lalu menoleh ke arah Selvara.
"Selvara," panggil Vio pelan.
Selvara menoleh.
Vio mengangguk ke arah kursi kosong itu. "Kamu sadar nggak?"
Selvara mengangguk kecil. "Iya."
"Harusnya ada orang di situ."
Selvara diam sebentar. "Sakit?"
Vio menggeleng pelan. "Katanya sih gitu… tapi rasanya aneh."
Nada suaranya tidak terdengar yakin.
Selvara tidak melanjutkan pertanyaan.
Pelajaran dimulai seperti biasa.
Guru masuk, membuka buku, lalu mulai menjelaskan tanpa banyak perubahan. Suara kapur di papan tulis terdengar stabil, mengikuti ritme yang sudah familiar.
Selvara mencoba fokus.
Namun beberapa kali pandangannya kembali ke kursi kosong itu.
Ia mencoba mengingat.
Wajah.
Nama.
Apa pun.
Namun tidak ada yang benar-benar muncul.
Hanya perasaan bahwa seharusnya ada seseorang di sana.
Selvara mengalihkan pandangan.
Di tengah pelajaran, suara dari luar kelas terdengar samar.
Seperti langkah seseorang yang berjalan di lorong, lalu berhenti.
Selvara sempat menoleh ke arah pintu.
Tidak ada siapa pun.
Ia kembali ke depan.
Namun di ujung penglihatannya, ia merasa seperti melihat sesuatu bergerak.
Tipis.
Seperti bayangan yang belum sepenuhnya terbentuk.
Saat ia mencoba fokus, tidak ada apa-apa.
Selvara menarik napas pelan.
Ia tidak mengatakan apa pun.
Saat jam istirahat, suasana kembali ramai.
Namun percakapan terasa berbeda.
Lebih banyak bisikan.
Lebih banyak jeda.
Selvara berjalan bersama Vio ke arah kantin.
Di tengah jalan, mereka melewati papan pengumuman.
Selvara hampir melewatinya begitu saja, tapi Vio berhenti.
"Selvara."
Selvara ikut berhenti.
Vio menunjuk ke salah satu lembar yang ditempel.
Daftar absensi.
Beberapa nama diberi tanda.
Selvara membaca sekilas.
Satu nama hari ini.
Dua nama lain di hari sebelumnya.
"Ini… banyak," kata Vio pelan.
Selvara mengangguk kecil.
"Biasanya nggak sebanyak ini."
Vio masih menatap kertas itu.
"Lihat tanggalnya."
Selvara memperhatikan lebih jelas.
Tiga hari terakhir.
Selalu ada.
Selalu satu… atau dua.
Selvara tidak langsung bicara.
Mereka kembali berjalan.
Langkah mereka sedikit melambat.
Di kantin, suasana tetap ramai.
Namun percakapan yang terdengar mulai terasa sama.
"Temen aku juga nggak masuk."
"Katanya pindah sekolah mendadak."
"Pindah secepat itu?"
"Nggak tahu… aneh aja."
Selvara duduk.
Ia tidak langsung menyentuh minumannya.
Pikirannya mencoba menyusun sesuatu.
Namun belum cukup jelas.
Saat ia mengangkat pandangan, matanya tertuju ke kaca kantin.
Pantulan ruangan terlihat seperti biasa.
Orang-orang bergerak.
Duduk.
Berjalan.
Namun di antara semua itu…
ada bagian yang terasa kosong.
Seperti ada ruang yang seharusnya terisi.
Selvara berkedip.
Pantulan itu kembali normal.
Ia menunduk.
Tangannya sedikit menegang di atas meja.
Vio memperhatikannya.
"Kamu juga ngerasa, kan?" tanya Vio pelan.
Selvara diam sebentar.
Lalu mengangguk kecil.
"Iya."
Di luar, angin mulai bergerak lagi.
Langit perlahan berubah.
Awan tipis mulai berkumpul.
Hujan mungkin akan turun lagi.
Dan tanpa disadari oleh banyak orang,
sesuatu yang muncul setelah hujan…
tidak hanya mengubah cara dunia terlihat,
tapi juga perlahan menghapus apa yang ada di dalamnya.
Beberapa orang mulai hilang.
Namun itu belum terlihat sebagai masalah.
Karena yang lebih berbahaya…
bukan saat seseorang menghilang.
Melainkan saat tidak ada yang benar-benar ingat bahwa mereka pernah ada.
Beberapa saat setelah istirahat berakhir.
Kelas kembali terisi, tapi suasananya tidak sepenuhnya sama seperti pagi tadi. Percakapan memang masih ada, tapi lebih pelan, seolah semua orang sedang menahan sesuatu yang tidak ingin dibahas terlalu terang-terangan.
Selvara duduk di tempatnya, buku sudah terbuka di depan, meski matanya belum benar-benar fokus ke tulisan.
Vio di sampingnya terlihat lebih diam dari biasanya.
"Selvara," panggilnya pelan.
Selvara menoleh sedikit.
"Kamu inget siapa yang duduk di situ?" Vio mengangguk ke arah kursi kosong di tengah.
Selvara menatap ke arah itu.
Beberapa detik.
Lalu menggeleng pelan.
"Harusnya inget," gumam Vio, lebih ke dirinya sendiri.
Selvara tidak menjawab.
Guru masuk tidak lama setelah itu.
Seorang guru perempuan dengan pembawaan tenang, membawa beberapa berkas di tangannya. Ia meletakkannya di meja, lalu melihat ke arah kelas satu per satu sebelum mulai bicara.
"Hari ini kita lanjut seperti biasa," ucapnya.
Suaranya stabil.
Tidak ada yang aneh.
Namun saat absensi dimulai, ada jeda kecil.
Satu nama dipanggil.
Tidak ada jawaban.
Guru itu berhenti sebentar, lalu menandai sesuatu di kertasnya.
"Masih izin," katanya singkat, seolah menjelaskan tanpa benar-benar ditanya.
Kelas kembali tenang.
Namun Selvara sempat melihat Vio melirik ke arahnya.
Jeda itu terasa.
Pelajaran berjalan.
Penjelasan, catatan, dan sesekali pertanyaan dari guru. Semuanya tetap mengikuti pola yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
Namun beberapa kali, Selvara merasa ada bagian yang terlewat.
Bukan pada materi.
Tapi pada suasana.
Seperti ada celah kecil di antara hal-hal yang seharusnya tersambung.
Menjelang akhir jam, pintu kelas diketuk pelan.
Seorang siswa berdiri di sana.
Seragamnya rapi, sikapnya tegap, dan wajahnya terlihat cukup dikenal oleh beberapa orang di kelas.
"Permisi, Bu," ucapnya.
Guru mengangguk. "Iya?"
"Saya dari OSIS. Mau menyampaikan pengumuman sebentar."
Guru memberi izin.
Siswa itu masuk, berdiri di depan kelas tanpa terlihat canggung.
"Untuk yang kemarin ikut kegiatan transfer, nanti setelah pulang diminta ke ruang OSIS," katanya.
Beberapa siswa langsung melirik ke arah Selvara.
Tidak banyak.
Tapi cukup.
"Termasuk kamu," lanjutnya, menatap langsung ke Selvara.
Selvara mengangguk kecil. "Iya."
Siswa itu sempat menahan pandangannya sebentar lebih lama dari yang diperlukan.
Bukan tajam.
Tapi seperti sedang menilai.
Lalu ia mengalihkan pandangan dan keluar kelas.
Begitu pintu tertutup, suasana kembali berubah sedikit.
"OSIS lagi…"
"Serius dia langsung dipanggil?"
"Emang dia sepenting itu?"
Bisikan-bisikan itu muncul, pelan, tapi tidak sepenuhnya tersembunyi.
Selvara tidak menanggapi.
Namun ia bisa merasakan arah pandangan yang kembali tertuju padanya.