Pagi berikutnya datang lebih sunyi dari biasanya.
Bukan karena tidak ada suara, tapi karena Selvara lebih sadar terhadapnya. Langkah orang di lorong, suara kursi digeser, bahkan percakapan kecil di dalam kelas semuanya terasa lebih jelas, seolah ada bagian dari dirinya yang mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya lewat begitu saja.
Ia masuk ke kelas tanpa banyak bicara, lalu langsung duduk di tempatnya.
Tangannya sempat berhenti di atas meja.
Bukan karena kebiasaan.
Lebih karena ia mengingat.
Apa yang terjadi kemarin.
Ia menarik tangannya pelan.
Lalu menatap ke depan.
Kursi di tengah kelas masih kosong.
Dan sekarang, bukan hanya terasa aneh.
Tapi terasa… salah.
Vio datang tidak lama setelah itu.
Ia duduk, lalu langsung menoleh ke Selvara.
"Kamu kepikiran?" tanyanya pelan.
Selvara tidak langsung menjawab.
Beberapa detik ia diam, lalu mengangguk kecil.
"Iya."
Vio menghela napas.
"Aku juga."
Keduanya tidak melanjutkan.
Namun diam itu sudah cukup menjelaskan.
Pelajaran dimulai.
Guru masuk, membuka buku, lalu mulai menjelaskan seperti biasa.
Namun tidak lama setelah itu..
"Bu…"
Salah satu siswa mengangkat tangan.
Guru berhenti. "Iya?"
Siswa itu terlihat ragu.
"Kursi itu… emang kosong dari awal ya?"
Ruangan langsung diam.
Beberapa siswa menoleh ke arah yang sama.
Kursi di tengah.
Guru melihat ke sana sebentar.
Lalu kembali ke siswa tadi.
"Iya," jawabnya singkat.
Tidak ada penjelasan tambahan.
Namun jawaban itu tidak terasa meyakinkan.
Siswa itu tidak melanjutkan.
Ia hanya mengangguk, lalu menunduk kembali.
Selvara melihat ke arah kursi itu.
Perasaan itu kembali muncul.
Seperti ada sesuatu yang tidak seharusnya hilang.
Namun tidak ada yang bisa menjelaskannya.
Vio sedikit mendekat.
"Kamu ngerasa juga, kan?" bisiknya.
Selvara mengangguk.
"Iya."
Vio menatap ke depan.
"Tapi nggak ada yang sadar."
Selvara tidak menjawab.
Karena mungkin—
memang tidak ada yang bisa sadar.
Pelajaran dilanjutkan.
Namun fokus di dalam kelas tidak benar-benar utuh.
Beberapa siswa terlihat sering menoleh ke arah jendela.
Beberapa yang lain tampak mencoba mengingat sesuatu, tapi berhenti di tengah jalan.
Dan Selvara, ia mulai menyadari satu hal.
Bukan hanya orang yang menghilang.
Tapi juga ingatan tentang mereka.
Perlahan ikut hilang.
Tanpa disadari.
Belum sampai hilang sepenuhnya.
Tapi cukup untuk membuat semuanya terasa tidak lengkap.
Saat bel istirahat berbunyi, suasana kembali bergerak.
Namun kali ini, Selvara tidak langsung berdiri.
Ia menatap kursi itu sekali lagi.
Dan untuk sesaat, ia merasa seperti ada bayangan seseorang duduk di sana.
Sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
Selvara berkedip.
Kosong lagi.
Ia berdiri.
"Selvara?" panggil Vio.
Selvara mengangguk kecil.
"Kita keluar."
Mereka berjalan ke lorong.
Suasana di luar tidak jauh berbeda.
Masih ramai.
Masih seperti biasa.
Namun sekarang
Selvara tahu.
Ada sesuatu yang tidak terlihat.
Dan itu tidak akan berhenti di satu tempat saja.
Ia melangkah sedikit lebih cepat.
Bukan karena takut.
Tapi karena ia tidak ingin tertinggal.
Karena tanpa ia sadari, perubahan itu tidak menunggu siapa pun.
Lorong terasa lebih panjang dari biasanya.
Bukan karena jaraknya berubah, tapi karena langkah Selvara tidak lagi secepat kemarin. Ia berjalan bersama Vio, melewati beberapa kelompok siswa yang berbicara pelan, namun kali ini ia lebih sering menangkap potongan kata yang sama.
“…kursi itu tadi—”
“…kayak pernah ada…”
“…lupa lagi…”
Vio melirik ke arah mereka, lalu mendekat sedikit ke Selvara.
"Mereka mulai ngerasa juga," bisiknya.
Selvara mengangguk kecil.
"Iya."
Namun berbeda dari kemarin, suasana kali ini tidak terasa panik.
Lebih seperti… bingung yang ditahan.
Mereka berhenti di dekat jendela yang menghadap ke halaman belakang.
Beberapa siswa berdiri di sana, tapi tidak banyak yang benar-benar melihat keluar.
Selvara ikut menoleh.
Lapangan terlihat seperti biasa.
Namun untuk sesaat, ia merasa ada bagian yang kosong.
Bukan karena tidak ada orang.
Lebih seperti… ada yang seharusnya ada, tapi tidak lagi.
Selvara mengalihkan pandangan.
"Aku nggak suka ini," kata Vio pelan.
Selvara menatap ke depan.
"Iya."
Vio menghela napas kecil.
"Kemarin kita lihat sesuatu… sekarang ini."
Selvara tidak langsung menjawab.
Namun di dalam pikirannya, keduanya terasa terhubung.
Sesuatu muncul.
Dan sesuatu hilang.
Dan mungkin, itu bukan kebetulan.
Tiba-tiba, suara langkah cepat terdengar dari ujung lorong.
Seseorang mendekat.
Theo.
Ia berhenti di depan mereka, napasnya masih stabil, tapi ekspresinya lebih serius dari biasanya.
"Kalian lihat papan absensi hari ini?" tanyanya langsung.
Selvara mengangguk.
"Iya."
Theo menghela napas pelan.
"Data kemarin berubah."
Vio mengernyit. "Berubah gimana?"
Theo menatap mereka sebentar.
"Beberapa nama… hilang."
Vio terdiam.
"Apa?"
"Bukan cuma nggak masuk," lanjut Theo. "Namanya nggak ada lagi."
Suasana di sekitar mereka terasa langsung turun.
Selvara menatap Theo.
"Dan orang-orang…?"
Theo menggeleng.
"Nggak ada yang sadar."
Vio menatap ke bawah.
"Jadi… kalau itu terus terjadi…"
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Selvara mengerti.
Jika seseorang hilang, dan tidak ada yang ingat
maka seolah orang itu… tidak pernah ada.
"Ini bukan cuma soal yang kemarin," kata Theo pelan.
Selvara mengangguk., "Iya."
Beberapa detik mereka diam.
Lalu Selvara bertanya,
"Itu yang kemarin di lorong… kamu tahu apa itu?"
Theo tidak langsung menjawab.
Ia menatap ke arah jendela, lalu kembali ke Selvara.
"Belum," katanya.
Jawaban itu jujur.
"Yang jelas," lanjutnya, "itu bukan sesuatu yang bisa kita anggap biasa."
Vio menggenggam tangannya sendiri.
"Kita juga nggak bisa nyentuh," katanya pelan.
Selvara menatap tangannya sebentar.
Ia masih bisa mengingat sensasinya.
Muncul.
Tanpa ia tahu bagaimana.
Dan hilang tanpa hasil.
Theo melihat ke arah Selvara.
"Itu yang kamu lakukan kemarin…"
Selvara menatapnya.
Theo melanjutkan,
"Itu bukan hal yang semua orang bisa."
Selvara tidak menjawab.
Karena ia sendiri tidak tahu harus menanggapinya bagaimana.
"Tapi itu juga belum cukup," tambah Theo.
Kalimat itu tidak terdengar merendahkan.
Lebih seperti fakta.
Selvara mengangguk kecil.
"Iya."
Ia tidak menyangkal.
Karena ia juga merasakannya.
Tidak cukup.
Suara bel terdengar dari kejauhan.
Istirahat hampir selesai.
Theo melangkah mundur.
"Nanti kita kumpul lagi," katanya.
Selvara mengangguk.
Vio juga.
Theo pergi.
Selvara dan Vio kembali ke kelas.
Namun langkah mereka tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Sekarang, mereka tidak hanya melihat sesuatu yang aneh.
Mereka mulai memahami arah perubahannya.
Dan itu membuat semuanya terasa lebih nyata.
Saat masuk ke kelas, Selvara melirik kursi itu sekali lagi.
Masih kosong.
Namun kali ini, ia tidak hanya melihatnya sebagai kursi.
Ia melihatnya sebagai sesuatu yang perlahan hilang.
Dan mungkin, akan terus bertambah.
Selvara kemudian duduk.
Tangannya berada di atas meja.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak menariknya kembali.
Karena sekarang, ia tahu.
Apa yang terjadi kemarin, bukan yang terakhir.
Pelajaran tetap berjalan, tapi rasanya tidak pernah benar-benar masuk.
Selvara masih duduk di tempatnya, buku terbuka, pena di tangan, namun tulisannya berhenti di tengah kalimat tanpa ia sadari. Ia memang melihat ke depan, mengikuti gerakan guru yang menjelaskan, tapi pikirannya terus tertarik kembali ke satu hal yang sama.
Kursi di tengah itu.
Kosong, tapi tidak terasa seperti kosong biasa.
Lebih seperti ada sesuatu yang hilang, tapi tidak bisa diingat apa.
Di sampingnya, Vio terlihat sama gelisahnya. Ia mencoba mencatat, lalu berhenti, lalu mencatat lagi, seolah berusaha memaksa pikirannya tetap di pelajaran. Namun akhirnya ia menyerah juga. Ia sedikit mendekat, menurunkan suaranya.
“Selvara… kalau nama orang bisa hilang, berarti semua tentang dia ikut hilang juga, kan?”
Selvara tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan beberapa detik, mencoba menyusun kata yang tepat, tapi tidak menemukannya dengan mudah.
“Harusnya… iya,” ucapnya pelan. “Kalau namanya aja nggak ada, berarti catatan lain juga bakal ikut berubah. Kayak… semuanya menyesuaikan.”
Vio menunduk, jemarinya mengerat di atas buku. “Terus kalau kita lupa… berarti nggak ada yang bisa buktiin kalau dia pernah ada.”
Selvara menghela napas pelan. Ia tidak suka jawaban itu, tapi tidak bisa menyangkalnya. “Iya… dan itu yang bikin aneh,” katanya, kali ini sedikit lebih jelas. “Karena rasanya tetap ada yang salah, walaupun kita nggak bisa jelasin.”
Vio terdiam.
Bukan karena tidak mengerti.
Justru karena terlalu mengerti.
Suara dari luar kelas kembali terdengar.
Langkah berhenti, Lalu menghilang.
Beberapa siswa langsung menoleh, termasuk Selvara. Bahkan guru sempat berhenti menulis sebentar sebelum akhirnya melanjutkan lagi tanpa komentar.
Seolah semua orang sepakat untuk tidak membahasnya.
Atau mungkin… tidak ingin membahasnya.
Selvara sempat melirik ke arah jendela. Cahaya di luar terlihat sama seperti biasa, tapi ada sesuatu yang terasa berbeda. Bukan gelap, bukan juga terang, tapi seperti ada lapisan tipis yang membuat semuanya sedikit tertahan.
Ia mengalihkan pandangan sebelum mencoba terlalu jauh.
Menjelang akhir pelajaran, suara dari belakang kelas terdengar lagi.
“Eh… kalian ngerasa nggak sih, kelas kita kayak lebih sepi?”
Beberapa siswa langsung menoleh.
“Dari tadi juga emang sepi,” jawab temannya cepat.
Siswa itu menggeleng pelan. “Bukan itu maksud gue… kayak… kurang orang.”
Kali ini tidak ada yang langsung menjawab.
Beberapa siswa hanya saling melihat, lalu diam.
Salah satu akhirnya berkata pelan, “Perasaan lo aja kali.”
Tapi nadanya tidak yakin.
Selvara menunduk sedikit.
Ia tahu itu bukan sekadar perasaan.
Ia juga merasakannya.
Hanya saja… tidak bisa dijelaskan tanpa terdengar aneh.
Bel berbunyi, memotong suasana yang menggantung.
Kursi mulai digeser, buku ditutup, dan suara percakapan kembali muncul, meski tidak sehidup biasanya.
Vio langsung menoleh.
“Kita keluar bentar?” tanyanya.
Selvara mengangguk, lalu berdiri sambil mengambil tasnya.
“Iya… aku juga butuh udara,” jawabnya, kali ini dengan nada yang sedikit lebih ringan, meski pikirannya masih berat.
Mereka berjalan keluar bersama, melewati lorong yang terasa lebih panjang dari biasanya. Bukan karena jaraknya berubah, tapi karena setiap langkah terasa lebih disadari.
Beberapa siswa berdiri berkelompok, berbicara pelan. Ada yang mencoba tertawa, tapi cepat hilang. Ada juga yang hanya diam, seolah menunggu sesuatu yang tidak datang.
Selvara dan Vio tidak berhenti.
Mereka langsung menuju jendela yang menghadap ke halaman belakang.
Selvara berhenti di sana.
Namun kali ini, ia tidak langsung melihat keluar.
Ia diam beberapa detik, lalu berkata pelan,
“Vio… kamu masih inget siapa yang duduk di kursi itu?”
Vio langsung terdiam.
Ia mencoba mengingat, terlihat dari cara matanya sedikit bergerak dan alisnya mengernyit, tapi semakin lama justru semakin kosong.
“…nggak,” jawabnya akhirnya, suaranya turun. “Padahal… harusnya inget.”
Selvara tersenyum tipis, tapi bukan karena itu lucu.
“Justru itu yang bikin nggak enak,” katanya pelan. “Kalau kita lupa karena lama, itu biasa. Tapi ini… rasanya kayak dihapus.”
Vio menatapnya.
“…Selvara,” ucapnya pelan, “kalau nanti kita mulai lupa juga… kamu bakal sadar nggak?”
Pertanyaan itu membuat Selvara diam cukup lama.
Ia akhirnya menoleh ke luar jendela.
Halaman terlihat normal.
Tapi ada bagian yang terasa kosong.
“Jujur… aku nggak yakin,” jawabnya akhirnya. “Kalau kita ikut lupa, mungkin kita juga bakal ngerasa itu normal.”
Vio menggigit bibirnya pelan. “Berarti… kita bisa hilang tanpa tahu kalau kita hilang?”
Selvara menghela napas pelan.
“Iya… dan itu yang paling bahaya,” katanya, kali ini lebih tegas. “Karena nggak ada yang bakal nyari.”
Vio tertawa kecil, tapi tidak terdengar ringan.
“Jawaban kamu nggak pernah bikin tenang ya.”
Selvara ikut tersenyum tipis.
“Karena ini emang nggak bisa dibikin tenang.”
Angin di luar bergerak pelan, membuat daun-daun bergesek.
Untuk sesaat, Selvara merasa seperti melihat sesuatu bergerak di antara bayangan. Sangat tipis, hampir tidak bisa dipastikan.
Ia tidak mencoba fokus.
Hanya melihat sekilas, lalu mengalihkan pandangan.
Vio masih di sampingnya.
“Selvara… kita harus ngapain sekarang?” tanyanya.
Selvara diam sebentar, lalu menatap lurus ke depan.
“Aku juga belum tahu harus mulai dari mana,” katanya jujur. “Tapi kalau kita pura-pura nggak lihat… itu nggak bakal berhenti.”
Vio mengangguk pelan.
“Iya… rasanya juga nggak bisa balik normal.”
Selvara mengangguk.
“Jadi ya… pelan-pelan aja dulu. Kita lihat, kita catat, kita ngerti dulu. Jangan langsung nekat.”
Vio menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan.
“Kayak kemarin ya…”
Selvara sedikit mengangkat bahu.
“Kurang lebih.”
Mereka kembali diam.
Namun kali ini, diamnya tidak terasa kosong.
Lebih seperti… mulai menerima.
Di kejauhan, suara langkah kembali terdengar.
Lalu menghilang.
Dan di antara semua hal yang masih terlihat normal, perubahan itu tetap ada.
Secara perlahan, Namun itu pasti.
Setelah kembali ke kelas, suasana tidak benar-benar berubah, tapi Selvara bisa merasakan ada sesuatu yang tertinggal dari sebelumnya. Bukan pada tempatnya, tapi pada orang-orangnya. Cara mereka duduk, cara mereka melihat ke depan, bahkan cara mereka diam terasa sedikit berbeda, seolah masing-masing menyimpan hal yang sama tapi tidak ada yang benar-benar ingin memulai membicarakannya.
Selvara duduk seperti biasa, membuka bukunya, lalu menatap halaman yang sama beberapa detik tanpa benar-benar membaca. Ia menggeser penanya sedikit, mencoba kembali ke pelajaran, tapi pikirannya tetap berputar di tempat lain.
Di sampingnya, Vio juga tidak langsung berbicara. Ia menatap ke depan cukup lama sebelum akhirnya berbisik pelan, “Selvara… kamu masih kepikiran yang tadi?”
Selvara menghela napas pendek, lalu menjawab tanpa menoleh, “Nggak cuma kepikiran… rasanya masih ada.”
Vio sedikit mengernyit. “Masih ada?”
Selvara akhirnya menoleh, lalu berkata pelan, “Kayak… walaupun udah hilang, tapi bukan berarti benar-benar nggak ada. Lebih ke… kita yang nggak bisa lihat lagi.”
Vio terdiam beberapa detik, mencoba mencerna.
“Itu malah lebih serem,” gumamnya pelan.
Selvara tidak membantah.
Karena ia juga merasakan hal yang sama.
Pelajaran kembali berjalan, dan kali ini tidak ada gangguan yang jelas. Guru menjelaskan dengan lebih stabil dibanding sebelumnya, dan sebagian siswa mulai terlihat kembali fokus, atau setidaknya berpura-pura fokus.
Namun di tengah penjelasan, Selvara mulai menyadari sesuatu yang lain.
Bukan dari luar.
Dari dalam.
Tangannya terasa sedikit berbeda.
Bukan sakit.
Lebih seperti… ada sesuatu yang belum sepenuhnya hilang.
Ia menatap tangannya beberapa detik, lalu perlahan mengepalkan jari-jarinya.
Tidak ada apa-apa.
Namun sensasinya tetap ada.
“Selvara?”
Suara Vio menariknya kembali.
“Iya?”
“Kamu dari tadi lihat tangan kamu terus,” kata Vio pelan.
Selvara sedikit tersenyum tipis, tapi tidak sepenuhnya santai. “Iya… masih kebayang aja.”
Vio menatapnya beberapa detik. “Yang kemarin itu?”
Selvara mengangguk. “Iya… aku bahkan nggak ngerti itu apa, tapi rasanya jelas banget.”
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Dan yang bikin aneh… aku nggak ngerasa itu sesuatu yang baru.”
Vio langsung menoleh lebih serius. “Maksudnya?”
Selvara berpikir sejenak, mencoba mencari kata yang tepat. “Kayak… itu bukan muncul dari luar. Tapi dari dalam. Cuma… aku baru sadar sekarang.”
Vio terdiam.
“Berarti… itu bakal muncul lagi?” tanyanya pelan.
Selvara tidak langsung menjawab.
Ia menatap ke depan beberapa detik, lalu berkata, “Aku nggak tahu. Tapi kalau situasinya sama…”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih rendah, “mungkin iya.”
Vio menarik napas pelan.
Ia tidak terlihat siap mendengar jawaban itu, tapi juga tidak menyangkalnya.
Beberapa menit berlalu tanpa percakapan lagi.
Namun kali ini, diam di antara mereka terasa lebih padat.
Bukan karena tidak ada yang bisa dibahas.
Tapi karena mereka mulai memahami bahwa yang mereka hadapi tidak sesederhana yang terlihat.
Tiba-tiba, suara dari luar kembali terdengar.
Bukan langkah.
Bukan gesekan.
Lebih seperti sesuatu yang… tertahan.
Selvara langsung mengangkat pandangan.
Refleks.
Beberapa siswa lain juga melakukan hal yang sama.
Guru sempat berhenti bicara.
Namun tidak ada yang muncul.
Beberapa detik berlalu.
Lalu suara itu hilang begitu saja.
Guru kembali melanjutkan.