Chapter 1 Episode 04
Langkah Selvara tidak berubah setelah meninggalkan jalan itu, tapi pikirannya tidak benar-benar ikut berjalan dengan ritme yang sama. Ia tetap pulang seperti biasa, melewati deretan rumah, suara kendaraan yang mulai berkurang, dan langit yang perlahan kehilangan sisa cahaya sore. Semua terlihat normal, cukup untuk membuat siapa pun merasa hari ini berakhir seperti hari-hari lainnya, namun ada bagian kecil di dalam dirinya yang tidak bisa ikut menganggapnya demikian. Perasaan itu tidak lagi datang tiba-tiba seperti sebelumnya, melainkan bertahan lebih lama, tipis tapi konsisten, seperti sisa sesuatu yang belum sepenuhnya hilang. Ia tidak mencoba mencarinya, juga tidak berusaha menghindarinya, hanya membiarkannya ada sambil tetap melangkah pulang tanpa mengubah arah.
Saat sampai di rumah, suasana langsung terasa berbeda, bukan karena ada yang berubah, tapi karena tempat itu tidak membawa sisa perasaan dari luar. Ruangannya tenang, suara di dalam rumah lebih jelas, dan untuk beberapa saat Selvara bisa menarik napas lebih ringan tanpa harus memikirkan apa pun. Ia meletakkan tasnya, duduk, lalu menatap tangannya sebentar, bukan dengan rasa panik, melainkan dengan rasa penasaran yang masih tertahan. Sensasi itu sudah tidak sekuat tadi, tapi belum benar-benar hilang, seperti sesuatu yang menunggu untuk dipahami, bukan untuk muncul kembali secara tiba-tiba. Ia akhirnya berdiri lagi, berjalan ke arah jendela, dan melihat ke luar tanpa benar-benar mencari apa pun, hanya memastikan bahwa apa yang ia lihat sekarang masih sama seperti yang seharusnya.
Malam datang tanpa terasa, dan Selvara mencoba mengisi waktunya dengan hal-hal biasa, membuka buku, membaca beberapa halaman, lalu berhenti tanpa sadar karena pikirannya kembali ke hal yang sama. Bukan pada bayangan itu, bukan pada suara tadi, tapi pada perasaan bahwa semuanya tidak terjadi secara acak. Ia tidak punya bukti, tidak juga punya penjelasan, tapi semakin ia mengingat apa yang terjadi sejak pagi, semakin terasa bahwa semua itu terhubung dalam cara yang belum bisa ia lihat sepenuhnya. Ia tidak memaksakan diri untuk mencari jawaban, karena ia tahu semakin dipaksa, semakin sulit untuk dipahami, dan untuk sekarang, ia memilih untuk membiarkan semuanya tetap seperti itu.
Keesokan paginya datang dengan suasana yang lebih ringan, seolah hari sebelumnya hanya bagian kecil yang tidak perlu dibawa terlalu jauh. Selvara bersiap seperti biasa, berjalan ke sekolah dengan langkah yang tidak terburu-buru, dan saat memasuki gerbang, ia sempat berhenti sebentar, bukan karena melihat sesuatu, tapi karena kebiasaan baru yang mulai terbentuk. Ia memperhatikan sekeliling lebih dulu, memastikan tidak ada hal yang terasa janggal, lalu melanjutkan langkahnya tanpa menunjukkan reaksi apa pun. Suasana sekolah kembali seperti yang seharusnya, siswa berjalan, bercanda, dan berbicara tentang hal-hal biasa, seolah tidak ada yang berubah, dan untuk sesaat, Selvara membiarkan dirinya ikut masuk ke dalam ritme itu tanpa mencoba memisahkan diri.
Saat masuk ke kelas, pandangannya sempat tertuju ke kursi di tengah, namun kali ini ia tidak berhenti terlalu lama. Kursi itu tetap kosong, sama seperti kemarin, tapi tidak lagi terasa seberat sebelumnya, mungkin karena ia sudah tahu apa yang mungkin terjadi di sana, atau mungkin karena ia mulai terbiasa dengan perasaan itu. Vio datang tidak lama setelahnya, langsung duduk di sampingnya tanpa banyak bicara, lalu menoleh dengan ekspresi yang lebih tenang dibanding kemarin. “Sel, tadi malam kamu kepikiran lagi?” tanyanya pelan, tapi tidak seberat sebelumnya. Selvara mengangguk sedikit, lalu menjawab, “Iya, tapi nggak terlalu. Kayak… udah nggak kaget lagi.” Vio tersenyum kecil, lalu bersandar ke kursinya. “Aku juga. Masih aneh sih, tapi nggak sepanik kemarin.” Selvara mengangguk, lalu menatap ke depan, membiarkan percakapan itu berhenti di sana tanpa perlu ditambah.
Pelajaran dimulai seperti biasa, guru menjelaskan, siswa mencatat, dan tidak ada gangguan yang benar-benar terlihat. Namun di tengah suasana yang kembali stabil itu, Selvara mulai menyadari sesuatu yang berbeda, bukan dari luar, tapi dari dirinya sendiri. Cara ia melihat ruangan, cara ia memperhatikan gerakan kecil, dan cara ia merasakan perubahan di sekitarnya tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ia tidak bisa mengatakan itu sebagai kemampuan, juga tidak sepenuhnya sebagai perasaan, tapi sesuatu di antaranya mulai terbentuk, perlahan, tanpa perlu dipaksa. Ia tidak mencoba menggunakannya, juga tidak berusaha menolaknya, hanya membiarkannya ada, sambil tetap menjalani hari seperti biasa.
Di luar kelas, percakapan kecil mulai muncul lagi, beberapa siswa membahas berita yang sempat beredar kemarin, namun kali ini dengan nada yang lebih ringan, seperti sesuatu yang sudah dianggap berlebihan. Ada yang mengatakan itu hanya kesalahan data, ada yang menyebutnya sebagai isu yang dibesar-besarkan, dan sebagian lain memilih untuk tidak peduli sama sekali. Selvara mendengar sekilas saat berjalan melewati mereka, lalu melanjutkan langkahnya tanpa berhenti, karena ia tahu jawaban dari mereka tidak akan sama dengan apa yang ia lihat sendiri.
Hari itu berjalan lebih tenang, namun bukan berarti kosong. Di balik rutinitas yang kembali normal, Selvara tetap menyimpan satu hal yang tidak ia ucapkan, bahwa apa pun yang terjadi kemarin tidak benar-benar berakhir, dan meskipun tidak muncul lagi dengan jelas, ia masih ada, tersembunyi di antara hal-hal yang terlihat biasa, menunggu untuk muncul di waktu yang tidak bisa diprediksi. Ia tidak terburu-buru untuk mencarinya, tapi juga tidak lagi mengabaikannya, karena sekarang ia tahu bahwa apa yang ia lihat bukan sekadar kebetulan, dan cepat atau lambat, ia akan kembali berhadapan dengan sesuatu yang sama, dalam bentuk yang mungkin berbeda.
Hari itu berlanjut tanpa kejadian mencolok, namun Selvara tetap merasa ada perbedaan halus yang tidak bisa diabaikan, bukan pada apa yang terjadi, melainkan pada cara ia menyadarinya. Ia mengikuti pelajaran, mencatat saat perlu, dan menjawab ketika ditanya, namun di sela-sela itu perhatiannya sesekali berpindah ke hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan, seperti bayangan meja yang sedikit bergeser saat cahaya berubah, atau suara langkah di lorong yang terasa terlalu jauh untuk jarak yang seharusnya. Semua itu tidak cukup aneh untuk dianggap masalah, tapi cukup berbeda untuk membuatnya sadar bahwa sesuatu di sekitarnya tidak lagi sepenuhnya bisa dipercaya begitu saja.
Vio beberapa kali mengajaknya bicara ringan, membahas tugas, jadwal, dan hal-hal yang sengaja dipilih agar tidak kembali ke topik kemarin, dan Selvara mengikutinya tanpa menolak, karena ia tahu mereka berdua butuh jeda dari semua itu. “Sel, nanti habis sekolah kamu langsung pulang lagi?” tanya Vio sambil menutup bukunya pelan. Selvara mengangguk kecil, lalu berpikir sejenak sebelum menjawab, “Iya… tapi mungkin aku muter dikit dulu.” Vio menoleh, sedikit penasaran. “Muter ke mana?” Selvara mengangkat bahu ringan. “Nggak tahu… cuma pengen jalan aja.” Vio tidak langsung membalas, lalu tersenyum kecil. “Hati-hati aja, ya.” Selvara mengangguk, kali ini dengan ekspresi yang sedikit lebih tenang. “Iya, santai.”
Saat istirahat, mereka kembali ke kantin, namun kali ini Selvara tidak terlalu lama duduk diam seperti kemarin. Ia tetap berbicara, tetap mendengarkan, dan sesekali ikut tertawa kecil saat Vio menceritakan hal-hal ringan, namun di balik itu pikirannya masih bergerak pelan, mencoba menghubungkan apa yang ia rasakan sejak pagi. Ia tidak menemukan jawaban, tapi mulai melihat pola yang sama, bahwa semua yang terasa “tidak pas” selalu muncul tanpa suara, tanpa tanda jelas, dan hilang sebelum bisa dipastikan. Pola itu tidak terasa acak, namun juga belum cukup jelas untuk dipahami.
Di salah satu sudut kantin, layar televisi kecil yang biasanya menampilkan berita lokal mulai menarik perhatian beberapa siswa. Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup terdengar di antara keramaian. “Beberapa hari terakhir, beredar informasi mengenai hilangnya sejumlah individu di beberapa wilayah kota, namun pihak berwenang menyatakan bahwa informasi tersebut belum dapat diverifikasi dan kemungkinan besar merupakan penyebaran hoaks,” ujar pembawa berita dengan nada yang tenang. Selvara tidak langsung menoleh, tapi ia tetap mendengarkan. Vio ikut memperhatikan, lalu berbisik pelan, “Itu yang kemarin, ya?” Selvara mengangguk sedikit tanpa melihat ke arah layar. “Iya… tapi mereka bilang hoaks.” Vio menghela napas kecil. “Semua juga bakal bilang gitu.”
Berita itu berlanjut, menampilkan cuplikan singkat dari beberapa area kota yang terlihat normal, lalu beralih ke pernyataan resmi yang menenangkan, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun di bagian akhir, ada satu kalimat yang membuat Selvara sedikit berhenti mengunyah, meski ekspresinya tidak berubah. “Masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya, terutama yang berkaitan dengan fenomena visual yang tidak dapat dijelaskan,” lanjut pembawa berita itu. Vio menatap Selvara. “Fenomena visual?” Selvara mengangguk pelan. “Mereka tahu… tapi nggak mau bilang langsung.” Vio terdiam sejenak, lalu menunduk sedikit. “Atau mereka juga belum ngerti.”
Setelah dari kantin, mereka kembali ke kelas, dan sisa pelajaran berjalan tanpa gangguan. Namun menjelang sore, saat suasana mulai lebih tenang dan sebagian siswa sudah tidak terlalu fokus, Selvara kembali merasakan hal yang sama seperti sebelumnya, bukan sesuatu yang terlihat, melainkan sesuatu yang terasa. Ia tidak langsung bereaksi, hanya membiarkan dirinya diam beberapa detik lebih lama, mencoba memastikan apakah itu benar atau hanya perasaan yang tertinggal. Sensasi itu tidak kuat, tapi cukup jelas untuk dikenali, seperti getaran tipis yang muncul di satu titik lalu menghilang sebelum sempat dipahami.
“Sel… kamu ngerasain lagi?” bisik Vio pelan tanpa menoleh, seolah ia juga mulai mengenali perubahan kecil itu. Selvara mengangguk sedikit. “Iya… tapi jauh lebih lemah.” Vio tidak bertanya lebih jauh, hanya mengangguk kecil dan kembali ke bukunya, namun kali ini ia tidak benar-benar membaca. Keduanya memilih untuk tidak mengejar hal itu, setidaknya untuk sekarang, karena mereka tahu belum saatnya untuk mencoba memahami sesuatu yang bahkan belum bisa mereka lihat dengan jelas.
Saat bel pulang berbunyi, suasana kembali hidup, dan siswa mulai bergerak keluar kelas. Selvara merapikan barangnya dengan tenang, lalu berdiri bersama Vio. “Sel, kamu jadi muter dulu?” tanya Vio sambil memasukkan bukunya ke dalam tas. Selvara mengangguk. “Iya… nggak lama.” Vio tersenyum kecil. “Jangan jauh-jauh.” Selvara membalas dengan anggukan ringan. “Tenang.”
Mereka berpisah di gerbang seperti biasa, dan Selvara melanjutkan langkahnya sendiri, memilih jalan yang sedikit lebih sepi dari biasanya. Bukan karena ia mencari sesuatu, tapi karena ia ingin melihat apakah perasaan itu akan muncul lagi tanpa dipengaruhi keramaian. Langkahnya santai, tidak terburu-buru, dan ia membiarkan dirinya berjalan tanpa tujuan jelas, hanya mengikuti arah yang terasa nyaman.
Beberapa menit berjalan, ia melewati deretan toko kecil yang mulai sepi, lampu-lampu mulai menyala satu per satu, dan suara kendaraan terdengar lebih jarang. Semuanya terlihat normal, cukup untuk membuat siapa pun merasa hari ini benar-benar biasa. Namun tepat saat ia melewati satu gang kecil yang jarang ia perhatikan sebelumnya, langkahnya melambat tanpa sadar. Bukan karena ia melihat sesuatu, tapi karena perasaan itu kembali muncul, sedikit lebih jelas dari tadi siang.
Ia tidak berhenti, hanya mengalihkan pandangan ke arah gang itu sekilas, dan untuk sesaat, ia merasa seperti melihat kedalaman yang tidak seharusnya ada di ruang sesempit itu. Bukan gelap, bukan juga terang, tapi seperti ada sesuatu yang membuat jarak di dalamnya terasa berbeda. Selvara tidak memaksakan diri untuk melihat lebih lama, ia hanya menarik napas pelan lalu melanjutkan langkahnya, seolah tidak terjadi apa-apa, meski di dalam dirinya ia tahu bahwa hal itu bukan sekadar kebetulan.
Perasaan itu tidak bertahan lama, tapi cukup untuk meninggalkan kesan yang tidak bisa diabaikan, dan saat ia akhirnya kembali ke jalan utama, Selvara menyadari bahwa hari ini mungkin memang lebih tenang dari kemarin, tapi bukan berarti semuanya sudah berhenti. Ia tidak tahu apa yang akan muncul berikutnya, atau kapan itu akan terjadi lagi, tapi satu hal mulai terasa jelas, bahwa apa pun yang sedang berlangsung ini tidak bergerak secara acak, dan setiap hari, perlahan, ia semakin dekat dengan sesuatu yang belum sepenuhnya bisa ia lihat.
Selvara tidak langsung mempercepat langkahnya setelah melewati gang itu, ia tetap berjalan seperti biasa, namun perhatiannya tidak sepenuhnya kembali seperti sebelumnya. Perasaan yang tadi sempat muncul tidak benar-benar hilang, hanya mereda, seperti sisa getaran yang perlahan turun tapi belum sepenuhnya lenyap. Ia tidak mencoba menoleh kembali, juga tidak berhenti untuk memastikan, karena ia mulai memahami bahwa semakin dipaksa, semakin sulit untuk melihatnya dengan jelas.
Langkahnya membawanya ke jalan yang lebih ramai, di mana suara kendaraan dan percakapan kembali mendominasi. Lampu-lampu toko mulai menyala, beberapa orang berjalan pulang, dan suasana perlahan berubah menjadi rutinitas sore yang biasa. Namun di tengah itu semua, Selvara tetap menyimpan satu kesadaran baru, bahwa apa yang ia rasakan tidak lagi terbatas pada tempat tertentu, melainkan bisa muncul di mana saja, tanpa pola yang mudah ditebak.
Ia akhirnya berhenti di depan sebuah toko kecil yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya. Tidak ada alasan khusus, hanya langkahnya yang melambat lalu berhenti begitu saja. Toko itu terlihat sederhana, dengan etalase yang tidak terlalu mencolok dan lampu hangat yang menyala lembut dari dalam. Dari luar, tempat itu terasa lebih tenang dibandingkan sekitarnya, bukan karena sepi, tapi karena suasananya yang tidak terburu-buru.
Selvara berdiri beberapa detik sebelum akhirnya mendorong pintu dan masuk.
Suara lonceng kecil terdengar pelan saat pintu terbuka, lalu langsung diikuti oleh suasana yang berbeda. Udara di dalam terasa lebih hangat, lebih stabil, dan untuk pertama kalinya sejak tadi, Selvara tidak merasakan sisa getaran yang sebelumnya masih ada. Ia tidak langsung menyadari hal itu, namun tubuhnya merespon lebih dulu, bahunya sedikit lebih rileks dan napasnya terasa lebih ringan.
“Selamat datang,” suara perempuan terdengar dari balik meja, tenang dan tidak terburu-buru.
Selvara menoleh, lalu mengangguk kecil. “Iya… terima kasih.”
Ia tidak langsung berjalan mendekat, hanya melihat sekeliling sebentar. Rak-rak roti tersusun rapi, aroma hangat memenuhi ruangan, dan tidak ada hal aneh yang terasa. Semuanya sederhana, tapi justru itu yang membuatnya berbeda.
Perempuan itu tidak banyak bicara, hanya memperhatikan sekilas sebelum kembali pada kegiatannya. Tidak ada pertanyaan, tidak ada tatapan yang terlalu dalam, hanya kehadiran yang terasa… cukup.
Selvara akhirnya melangkah mendekat ke salah satu rak, melihat-lihat tanpa benar-benar fokus pada apa yang ia pilih. Pikirannya masih memproses apa yang ia rasakan sejak tadi, tapi kali ini tidak terasa mendesak. Lebih seperti ruang yang memberi waktu.
Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya berbicara, suaranya pelan dan tidak sepenuhnya yakin.
“…di luar… rasanya beda,” ucapnya tanpa melihat langsung ke arah perempuan itu.
Perempuan itu tidak langsung menjawab, namun tidak terlihat terkejut. Ia hanya berhenti sebentar, lalu berkata dengan nada yang sama tenangnya, “Di sini biasanya lebih mudah terasa jelas.”
Selvara sedikit mengernyit. “Maksudnya?”
Perempuan itu menoleh, lalu menatapnya sekilas. “Kalau sesuatu terlalu ramai, susah dibedain mana yang benar-benar ada.”
Selvara tidak langsung menjawab.
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa tepat.
Ia mengangguk kecil, lebih ke arah dirinya sendiri daripada orang lain.
“Jadi… bukan cuma aku,” ucapnya pelan.
Perempuan itu tidak langsung menjawab, hanya tersenyum tipis, lalu kembali pada pekerjaannya tanpa menambahkan apa pun.
Selvara tidak melanjutkan pertanyaannya.
Untuk saat ini, ia tidak merasa perlu.
Ia hanya berdiri di sana beberapa detik lebih lama, membiarkan suasana itu menetap tanpa mencoba memahaminya terlalu jauh. Tidak ada bayangan aneh, tidak ada suara yang tertahan, dan tidak ada perasaan yang mengganggu. Hanya ruang yang terasa… utuh.
Akhirnya, Selvara mengambil satu roti secara acak, berjalan ke meja kasir, lalu meletakkannya pelan.
“Yang ini,” katanya singkat.
Perempuan itu mengangguk, lalu membungkusnya tanpa banyak bicara.
Selvara menerima bungkusan itu, lalu sempat berhenti sebelum berbalik.
“…terima kasih,” ucapnya, kali ini sedikit lebih jelas.
Perempuan itu hanya mengangguk kecil.
Selvara akhirnya keluar dari toko itu, dan saat pintu tertutup di belakangnya, suara kota kembali terasa. Namun kali ini, ia menyadari sesuatu yang berbeda, bukan pada lingkungan, tapi pada dirinya sendiri.
Perasaan itu masih ada.
Namun tidak lagi menguasai.
Lebih seperti sesuatu yang mulai bisa ia pahami sedikit demi sedikit.
Ia melanjutkan langkahnya pulang.
Tidak terburu-buru.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak merasa perlu mencari apa pun.
Karena mungkin, tanpa ia sadari, ia sudah menemukan sesuatu.
Selvara tidak langsung mempercepat langkahnya setelah keluar dari toko itu, ia tetap berjalan seperti biasa sambil memegang bungkusan roti di tangannya, namun ada sesuatu yang berubah dalam cara ia merasakan sekeliling. Suara kendaraan masih terdengar, lampu jalan mulai menyala satu per satu, dan orang-orang berjalan pulang tanpa memperhatikan apa pun di luar rutinitas mereka, namun bagi Selvara, semuanya terasa sedikit lebih jelas, bukan karena berubah, tapi karena ia tidak lagi mencoba memaksakan dirinya untuk memahami setiap hal yang terasa aneh. Ia hanya berjalan, membiarkan pikirannya tetap tenang, sambil sesekali memperhatikan bayangan di sampingnya tanpa benar-benar mencurigainya.
Saat ia sampai di rumah, suasana kembali menyambutnya dengan keheningan yang sama seperti kemarin, namun kali ini ia tidak langsung berhenti untuk memeriksa tangannya atau melihat ke luar jendela. Ia meletakkan tasnya, membuka bungkusan roti itu, lalu duduk tanpa terburu-buru, membiarkan dirinya kembali ke ritme yang lebih sederhana. Rasa hangat dari roti itu terasa cukup untuk membuatnya tetap berada di momen sekarang, tanpa harus kembali ke apa yang terjadi sebelumnya. Namun di balik itu, pikirannya tetap bergerak pelan, mengingat percakapan singkat di dalam toko tadi, terutama kalimat yang terasa sederhana tapi sulit diabaikan, bahwa sesuatu yang terlalu ramai memang membuat semuanya sulit dibedakan.
Malam berjalan tanpa gangguan, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Selvara tidak benar-benar mencari tanda-tanda lain sebelum tidur. Ia hanya mematikan lampu, berbaring, dan membiarkan hari itu berakhir tanpa mencoba menyimpulkan apa pun. Tidurnya tidak terlalu cepat, tapi juga tidak gelisah, lebih seperti jeda yang ia butuhkan untuk tidak terus memikirkan hal yang belum bisa ia pahami.
Keesokan paginya datang dengan suasana yang sedikit berbeda, bukan karena ada sesuatu yang terjadi, tapi karena Selvara sudah membawa pemahaman kecil dari hari sebelumnya. Ia bersiap seperti biasa, berjalan ke sekolah dengan langkah yang lebih ringan, dan saat melewati jalan yang sama seperti kemarin, ia tidak lagi melambat di gang itu. Ia tetap berjalan, hanya melirik sekilas tanpa berhenti, dan untuk sesaat, ia merasa seperti jarak di dalam gang itu tidak lagi terasa sedalam sebelumnya, seolah apa yang ia lihat kemarin tidak sepenuhnya hilang, tapi juga tidak lagi mencoba muncul dengan cara yang sama.
Saat memasuki gerbang sekolah, suasana kembali terasa ramai dan hidup, dan kali ini Selvara tidak langsung memeriksa sekeliling seperti sebelumnya. Ia membiarkan dirinya masuk ke dalam alur yang sama seperti siswa lain, berjalan menuju kelas tanpa terburu-buru, dan saat sampai di depan pintu, ia sempat berhenti sejenak sebelum masuk, bukan karena melihat sesuatu, tapi karena kebiasaan baru yang mulai terbentuk secara alami.
Vio sudah duduk di tempatnya saat Selvara masuk, dan langsung menoleh begitu melihatnya. “Sel, kamu jadi muter kemarin?” tanyanya dengan nada yang lebih santai dibanding hari sebelumnya. Selvara mengangguk kecil sambil duduk. “Iya… nggak jauh juga.” Vio tersenyum, lalu sedikit mendekat. “Aneh nggak?” Selvara berpikir sebentar sebelum menjawab, “Masih… tapi nggak seberat kemarin.” Vio mengangguk, terlihat sedikit lega. “Aku juga ngerasa gitu. Kayak… masih ada, tapi nggak langsung bikin panik.”
Percakapan itu berhenti dengan sendirinya saat guru masuk, dan pelajaran kembali dimulai seperti biasa. Namun di tengah suasana yang lebih stabil itu, Selvara mulai menyadari sesuatu yang lain, bukan dari luar, tapi dari dalam dirinya sendiri, bahwa cara ia merespon hal-hal kecil di sekitarnya mulai berubah. Ia tidak lagi langsung bereaksi saat merasakan sesuatu yang aneh, tapi juga tidak mengabaikannya sepenuhnya. Ia mulai memberi ruang, membiarkan perasaan itu ada tanpa harus langsung ditanggapi.
Di luar kelas, percakapan siswa tentang berita kemarin masih terdengar, tapi kali ini dengan nada yang lebih ringan, seperti sesuatu yang sudah dianggap berlebihan. Ada yang menyebutnya hanya rumor, ada yang mengatakan itu hanya kesalahan informasi, dan sebagian lain memilih untuk tidak membahasnya sama sekali. Namun di antara semua itu, ada satu hal yang tidak berubah, bahwa tidak ada yang benar-benar bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Hari itu berjalan lebih tenang, namun bukan berarti kosong. Selvara tetap menyadari perubahan kecil yang muncul di sela-sela rutinitas, tapi ia tidak lagi mencoba menangkap semuanya. Ia hanya memperhatikan secukupnya, cukup untuk memastikan bahwa ia tidak melewatkan sesuatu yang penting, namun juga tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam hal yang belum bisa ia pahami.
Dan tanpa ia sadari, cara itu membuat semuanya terasa sedikit lebih jelas, bukan karena jawabannya sudah ada, tapi karena ia tidak lagi memaksakan diri untuk menemukannya terlalu cepat.
Menjelang siang hari, suasana kelas mulai kembali ramai seperti biasa. Beberapa siswa sudah kehilangan fokus pada pelajaran terakhir sebelum istirahat, sebagian berbicara pelan dengan teman sebangku, dan sisanya hanya menunggu bel berbunyi. Selvara sendiri terlihat lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya. Ia masih memperhatikan hal-hal kecil di sekitarnya, tapi tidak lagi bereaksi berlebihan setiap kali merasakan sesuatu yang sedikit berbeda. Perasaan itu masih muncul sesekali, namun sekarang lebih seperti gangguan tipis di pinggir kesadaran daripada sesuatu yang langsung menarik seluruh perhatiannya.
Vio yang duduk di sampingnya beberapa kali melirik sebelum akhirnya bersandar sedikit ke kursinya. “Sel… aku baru sadar,” katanya pelan sambil memutar bolpennya pelan di atas meja, “kita dari kemarin ngomongin hal aneh terus.” Selvara menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis. “Iya juga.”
“Padahal minggu lalu kita masih ribut soal tugas matematika,” lanjut Vio sambil tertawa kecil.
Selvara ikut tersenyum. “Dan sekarang malah ngomongin bayangan nggak jelas.”
Vio langsung menunjuknya pelan. “Nah itu. Dengerinnya aja aneh.”
Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, percakapan itu terasa ringan tanpa harus dipaksa. Selvara tidak menyangkal kalau semuanya masih terasa mengganjal, tapi setidaknya sekarang ia dan Vio bisa membicarakannya tanpa langsung merasa tegang.
Bel istirahat akhirnya berbunyi, dan hampir seluruh kelas langsung bergerak lebih hidup. Kursi digeser, suara langkah mulai memenuhi ruangan, dan beberapa siswa sudah keluar lebih dulu bahkan sebelum guru selesai membereskan buku.
“Ke kantin lagi?” tanya Vio sambil berdiri.
Selvara mengangguk kecil. “Iya… sekalian lihat suasana luar.”
Vio mengangkat alis. “Kedengerannya kayak kita lagi investigasi.”
Selvara menghela napas kecil sambil berdiri. “Aku juga nggak sengaja ngomong kayak gitu.”
Vio tertawa pelan sebelum akhirnya berjalan keluar bersama Selvara.
Lorong sekolah hari itu terasa jauh lebih normal dibanding sebelumnya. Suara siswa terdengar lebih jelas, beberapa klub mulai berkumpul di sudut gedung, dan tidak ada perasaan aneh yang langsung terasa begitu mereka keluar kelas. Selvara memperhatikan semuanya sekilas sambil berjalan, lalu tanpa sadar menyadari sesuatu yang cukup sederhana.
Ia mulai bisa membedakan mana rasa takut… dan mana rasa waspada.
Kemarin semua terasa sama.
Sekarang tidak lagi.
Saat mereka menuruni tangga menuju kantin, suara percakapan dari beberapa siswa di depan terdengar cukup jelas.
“Eh, lo lihat berita tadi pagi?”
“Yang soal distrik barat lagi?”
“Iya. Katanya sekarang malah ada video aneh beredar.”
“Video apaan?”
“Katanya ada bayangan muncul di kaca gedung gitu… tapi pas direkam ulang nggak ada.”
“Ah, editan kali.”
“Katanya sih iya.”
Percakapan itu berlalu begitu saja saat mereka berjalan melewati kelompok siswa tadi. Tidak ada yang terdengar terlalu serius, lebih seperti rumor internet yang mulai menyebar ke mana-mana.
Namun Vio tetap melirik ke arah Selvara.
“Kedengerannya makin aneh,” gumamnya.
Selvara mengangguk kecil. “Iya… tapi sekarang semua orang mulai punya versinya sendiri.”
“Dan semuanya beda-beda.”
“Karena nggak ada yang ngerti aslinya kayak apa.”
Vio menghela napas kecil. “Aku harap kita juga nggak mulai halu.”
Selvara tertawa kecil kali ini. “Kalau kita halu berdua terus lihat hal yang sama, itu gimana?”
Vio langsung diam beberapa detik sebelum akhirnya ikut tertawa. “Oke, itu malah bikin nggak tenang.”
Mereka akhirnya sampai di kantin dan mengambil tempat yang sama seperti kemarin. Suasananya masih ramai, namun kali ini Selvara tidak lagi merasa perlu terus memperhatikan setiap sudut ruangan. Ia membiarkan dirinya duduk lebih santai sambil mendengarkan Vio bercerita tentang hal-hal kecil yang bahkan tidak terlalu penting.
Tentang guru yang salah masuk kelas.
Tentang teman klub musik yang lupa membawa alat latihan.
Tentang rumor murid pindahan baru yang katanya akan masuk minggu depan.
“Katanya cewek,” ucap Vio sambil membuka minumannya. “Dan katanya cantik.”
Selvara mengangkat alis tipis. “Katanya?”
“Ya aku belum lihat,” jawab Vio santai. “Tapi dari tadi orang-orang ngomongin itu.”
Selvara hanya mengangguk kecil sambil membuka bungkus makanannya.
Namun sebelum percakapan mereka berlanjut, layar televisi kecil di sudut kantin kembali menampilkan berita siang.
Tidak terlalu banyak yang memperhatikan.
Namun suara pembawa beritanya cukup terdengar.
“…pihak kota kembali mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi tidak terverifikasi terkait fenomena visual maupun laporan hilangnya individu…”
Beberapa siswa langsung berkomentar kecil.
“Tuh kan, lagi-lagi.”
“Fix hoax.”
“Kalau bener udah rame dari dulu.”
Namun di layar itu, sempat muncul potongan rekaman singkat dari jalan kota di malam hari. Hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat Selvara sedikit berhenti melihat.
Di salah satu sisi video, ada bayangan samar yang terlihat berdiri terlalu diam di tengah keramaian.
Sangat singkat.
Hampir tidak terlihat.
Dan langsung hilang saat kamera bergerak.
“Sel?” panggil Vio pelan.
Selvara berkedip kecil, lalu kembali normal. “Hm?”
“Kamu lihat sesuatu lagi?”
Selvara diam sebentar sebelum akhirnya menggeleng kecil. “Nggak jelas… mungkin cuma perasaanku aja.”
Namun meski berkata begitu, matanya sempat kembali melihat ke layar televisi itu beberapa detik lebih lama.
Karena untuk sesaat tadi, rasanya seperti bayangan itu sedang melihat balik ke arah kamera.
Dan entah kenapa, perasaan itu tidak terasa seperti kebetulan.
Selvara akhirnya mengalihkan pandangannya dari layar televisi itu, lalu kembali duduk seperti biasa seolah tidak ada apa pun yang terjadi. Berita di kantin terus berjalan, namun perhatian siswa lain sudah mulai terpecah ke percakapan mereka masing-masing. Tidak banyak yang benar-benar peduli pada potongan video tadi, dan beberapa bahkan langsung menganggapnya hanya editan atau efek kamera biasa. Namun bagi Selvara, ada sesuatu dari bayangan itu yang terasa berbeda, bukan karena bentuknya, melainkan karena perasaan yang muncul sesaat saat ia melihatnya.
Bukan takut.
Lebih seperti… sadar.
“Sel,” panggil Vio pelan sambil memperhatikan ekspresinya, “kalau kamu lihat sesuatu, bilang aja. Jangan dipendem sendiri.”
Selvara tersenyum kecil mendengar nada serius di balik kalimat santai itu. “Aku tahu.”
Vio menghela napas pendek. “Soalnya dari kemarin kamu selalu kelihatan mikir sendiri dulu.”
“Aku emang lagi nyusun semuanya di kepala,” jawab Selvara sambil menatap gelas minumnya beberapa detik. “Kalau langsung ngomong juga… aku belum tentu ngerti apa yang mau dijelasin.”
Vio mengangguk pelan. “Iya sih.”
Percakapan mereka kembali ringan setelah itu. Mereka menghabiskan sisa istirahat dengan hal-hal biasa, membahas tugas yang mulai menumpuk, guru yang terlalu sering memberi catatan tambahan, dan rumor murid pindahan yang semakin ramai dibicarakan di kelas lain. Vio bahkan mulai menebak-nebak seperti apa orangnya nanti, sampai Selvara akhirnya tertawa kecil karena sebagian besar tebakan itu terlalu berlebihan.
Namun di balik suasana yang mulai normal itu, ada satu hal yang tidak benar-benar hilang dari pikiran Selvara.
Bayangan di video tadi.
Dan cara ia terasa terlalu… sadar untuk disebut kebetulan.
Setelah jam istirahat selesai, mereka kembali ke kelas bersama siswa lain. Lorong sekolah kembali dipenuhi langkah kaki dan suara percakapan yang bercampur satu sama lain. Namun saat mereka berjalan melewati area dekat ruang guru, langkah Vio tiba-tiba melambat sedikit.
“Sel…” bisiknya pelan.
Selvara menoleh. “Kenapa?”
Vio tidak langsung menjawab, ia hanya melirik ke arah dua guru yang sedang berbicara tidak jauh dari mereka.
“…beberapa siswa mulai takut pulang sore.”
“Karena berita itu?” tanya Selvara.
Vio mengangguk kecil. “Kayaknya. Dari tadi aku denger beberapa orang ngomongin itu.”
Selvara ikut melihat sekilas ke arah sana. Salah satu guru terdengar berkata pelan, “…pokoknya jangan bikin siswa panik dulu sebelum ada penjelasan resmi.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Namun justru karena itu, Selvara merasa mereka tahu lebih banyak daripada yang ditunjukkan.
Ia tidak mengatakan apa pun pada Vio, hanya kembali berjalan seperti biasa sambil menyimpan kalimat tadi di kepalanya.
Pelajaran sore berjalan lebih lambat dari biasanya. Beberapa siswa mulai kelelahan, suasana kelas lebih tenang, dan cahaya matahari yang masuk dari jendela perlahan berubah lebih redup. Selvara duduk sambil sesekali melihat ke luar jendela, bukan karena mencari sesuatu, tapi karena pikirannya belum benar-benar lepas dari apa yang terjadi beberapa hari terakhir.
Dan justru di tengah suasana yang tenang itu, ia mulai menyadari sesuatu lagi.
Tidak kuat.
Tidak jelas.
Namun ada.
Perasaan seperti ruang di sekitar jendela sedikit… bergeser.
Selvara tidak langsung bereaksi. Ia hanya diam beberapa detik lebih lama sambil tetap menatap ke luar.
Pohon masih bergerak pelan tertiup angin.
Lapangan terlihat biasa.
Tidak ada bayangan aneh.
Tidak ada distorsi yang jelas.
Namun rasa itu tetap ada.
Tipis.
Seperti sesuatu yang berdiri sangat jauh.
“Sel?” suara Vio terdengar pelan di sampingnya.
Selvara menoleh sedikit. “Hm?”
“Kamu bengong lagi.”
Selvara tersenyum tipis. “Iya… maaf.”
Vio memperhatikan wajahnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata lebih pelan, “Masih kerasa?”
Selvara diam sebentar, lalu mengangguk kecil.
“…tapi kali ini beda.”
“Beda gimana?”
Selvara kembali melihat ke arah jendela. “Nggak dekat. Rasanya malah jauh banget.”
Vio ikut melihat keluar, tapi tidak menemukan apa pun selain langit sore yang mulai berubah warna.