CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #5

People choose to ignore

Chapter 1 Episode 5 

Pagi datang lebih awal dari yang Selvara rasakan. Ia juga tidak mengalami mimpi buruk, namun pikirannya terus bergerak sampai larut malam, membuat tubuhnya terasa sedikit lebih berat saat membuka mata. Cahaya matahari sudah masuk lewat celah tirai kamarnya, dan suara kendaraan dari luar terdengar lebih ramai dibanding biasanya. Semuanya kembali terlihat normal, sama seperti hari-hari sebelumnya, tapi kali ini Selvara sadar bahwa “normal” mulai terasa seperti sesuatu yang dipilih orang untuk percaya, bukan sesuatu yang benar-benar pasti ada. 

Ia duduk di tepi tempat tidur beberapa detik sambil menatap kosong ke lantai, mengingat kembali sosok pria semalam. Tidak ada wajah yang benar-benar bisa ia ingat. Hanya posturnya, caranya berdiri terlalu diam, dan perasaan aneh yang muncul saat sosok itu melihat ke arahnya.

Bukan rasa takut sepenuhnya.

Lebih seperti perasaan bahwa keberadaannya… sudah disadari.

Selvara menghela napas pelan lalu berdiri. Ia memilih untuk tidak memikirkan semuanya terlalu jauh pagi ini, karena semakin dipikirkan, semakin sulit membedakan mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya tersisa di kepalanya sendiri.

Rutinitas pagi berjalan seperti biasa setelah itu. Ia bersiap, sarapan seadanya, lalu berangkat ke sekolah sambil membawa earphone yang bahkan tidak benar-benar ia nyalakan. Jalanan pagi masih ramai oleh siswa dan pekerja kantoran, suara kendaraan bercampur dengan percakapan orang-orang yang berjalan terburu-buru, dan kota kembali bergerak dengan ritme yang sama seperti kemarin.

Namun di tengah semua itu, Selvara mulai menyadari sesuatu yang pelan-pelan berubah.

Ia lebih sering memperhatikan orang sekarang.

Bukan karena mulai curiga.

Melainkan karena tanpa sadar, ia mulai sedang mencoba memastikan siapa yang benar-benar “ada”.

Langkahnya sedikit melambat saat sampai di lampu penyeberangan dekat halte tempat ia melihat pria itu kemarin.

Tempat itu terlihat biasa saja pagi ini.

Ada beberapa siswa berdiri sambil bermain ponsel, seorang ibu membawa belanjaan, dan dua pekerja kantor yang terlihat sibuk membahas sesuatu.

Tidak ada sosok diam yang terasa aneh.

Tidak ada perasaan berat.

Namun meski begitu, Selvara tetap berdiri beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya melanjutkan langkah.

Saat sampai di sekolah, suasana gerbang sudah ramai seperti biasa. Beberapa siswa bercanda keras, ada yang buru-buru masuk karena hampir terlambat, dan suara peluit guru piket terdengar dari dekat lapangan.

“Sel!”

Suara Vio langsung terdengar bahkan sebelum Selvara sempat masuk lebih jauh ke dalam area sekolah.

Vio berjalan cepat menghampirinya sambil membawa dua minuman kaleng dingin di tangannya. “Aku kira kamu bakal telat hari ini.”

Selvara menerima salah satu minuman itu sambil tersenyum tipis. “Aku juga sempat mikir gitu.”

Vio memperhatikan wajahnya beberapa detik. “Kamu tidur nggak semalam?”

“Tidur.”

“Bohong.”

Selvara tertawa kecil pelan. “Dikit.”

Vio langsung menghela napas panjang seperti sudah menduga jawabannya. “Sel… jangan dipikirin terus.”

“Aku nggak nyoba mikirin.”

“Terus?”

Selvara membuka minuman itu pelan sebelum menjawab, “Kadang malah kepikiran sendiri.”

Vio terdiam beberapa detik lalu mengangguk kecil. “Iya sih… aku juga mulai kayak gitu.”

Mereka berjalan masuk bersama melewati lorong sekolah yang mulai ramai. Percakapan siswa terdengar dari mana-mana, namun ada satu topik yang kembali muncul lebih sering dibanding sebelumnya.

Video.

Orang hilang.

Rumor distrik barat.

Dan sesuatu tentang akun-akun yang tiba-tiba hilang setelah mengunggah rekaman aneh.

“Eh, katanya ada video baru lagi semalam.”

“Yang mana?”

“Yang di jembatan itu.”

“Oh, yang ada orang berdiri di tengah jalan?”

“Iya, tapi ilang pas mobilnya lewat.”

“Fix edit.”

“Katanya uploader-nya juga ilang.”

“Ah lebay.”

Percakapan itu terus terdengar sambil mereka berjalan.

Dan anehnya, sebagian besar orang terdengar seperti tidak benar-benar takut.

Lebih seperti… menikmati misterinya.

“Orang-orang malah makin penasaran ya,” gumam Vio pelan.

Selvara mengangguk kecil. “Karena buat mereka ini masih cuma cerita.”

Vio meliriknya sekilas. “Kalau buat kita?”

Selvara diam beberapa detik sebelum menjawab pelan,

“…aku rasa udah lewat dari sekadar cerita.”

Langkah mereka melambat saat sampai di depan kelas.

Namun sebelum masuk, perhatian beberapa siswa tiba-tiba tertarik ke arah koridor ujung.

Seseorang sedang berjalan bersama wali kelas.

Dan hanya dalam beberapa detik, suasana lorong langsung berubah lebih ramai.

“Eh, itu dia?”

“Murid pindahan?”

“Serius cantik banget…”

Vio langsung menoleh cepat ke arah sumber keramaian, lalu spontan mendekat sedikit ke Selvara sambil berbisik, “Kayaknya itu yang kemarin aku bilang.”

Selvara ikut melihat ke arah ujung lorong.

Seorang gadis berjalan pelan mengikuti guru di sampingnya. Rambutnya sedikit bergelombang dengan warna cokelat lembut yang cukup mencolok di bawah cahaya pagi, dan ekspresinya terlihat tenang meski hampir semua orang memperhatikannya.

Namun bukan itu yang membuat Selvara berhenti melihat.

Melainkan karena, untuk sepersekian detik saat gadis itu melewati lorong.

Tiba-tiba perasaan tipis itu muncul lagi.

Sangat lemah.. Namun juga sedikit lebih jelas.

Dan tepat di saat yang sama, gadis itu menoleh.

Pandangan mereka bertemu sebentar yang mana membuat Selvara sadar satu hal.

Gadis itu juga merasakannya. Pandangan itu hanya berlangsung sesaat sebelum gadis tadi kembali berjalan mengikuti wali kelasnya, namun perasaan yang tertinggal di kepala Selvara tidak langsung hilang begitu saja. Bukan karena tatapannya terasa tajam atau mencurigakan, melainkan karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasa ada orang lain yang menyadari hal yang sama tanpa perlu dijelaskan.

Vio yang berdiri di sampingnya langsung memperhatikan perubahan kecil di wajah Selvara. “Sel… kamu ngerasa juga?”

Selvara tidak langsung menjawab. Ia masih melihat ke arah ujung lorong tempat gadis itu menghilang beberapa detik lalu, sebelum akhirnya mengangguk kecil.

“Iya.”

Vio mengernyit tipis. “Kayak yang biasanya?”

Selvara menarik napas pelan. “Mirip… tapi beda.”

“Bedanya?”

Selvara berpikir sebentar mencari kata yang tepat. “Biasanya rasanya kayak ada sesuatu yang muncul. Tapi yang tadi…” Ia berhenti mencoba berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “…lebih kayak seseorang yang sadar.”

Vio langsung diam.

Kalimat itu terdengar aneh.

Namun setelah beberapa hari terakhir, keduanya mulai terbiasa dengan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara normal.

Mereka akhirnya masuk ke kelas bersama siswa lain. Suasana di dalam jauh lebih ramai dari biasanya karena hampir semua orang masih membahas murid pindahan tadi. Bahkan beberapa siswa yang biasanya tidak terlalu peduli pun ikut penasaran.

“Katanya dia pindahan luar kota.”

“Nggak, katanya luar negeri.”

“Serius?”

“Entahlah, info kalian beda-beda semua.”

Vio langsung duduk sambil menahan tawa kecil. “Cepet banget rumor nyebarnya.”

Selvara ikut duduk di tempatnya lalu menghela napas kecil. “Sekolah emang gitu.”

Namun meski terlihat kembali normal, pikirannya masih tertinggal pada perasaan tadi.

Sangat tipis.

Namun jelas.

Dan yang paling mengganggu bukan rasa aneh itu sendiri.

Melainkan fakta bahwa gadis tadi langsung menoleh tepat di saat yang sama.

Pelajaran dimulai beberapa menit kemudian, dan seperti biasa suasana kelas perlahan kembali stabil. Guru mulai menjelaskan materi, suara halaman buku terdengar di beberapa sudut ruangan, dan sebagian besar siswa akhirnya berhenti membahas murid pindahan tadi.

Namun tidak lama setelah itu, pintu kelas kembali terbuka.

Semua langsung menoleh.

Wali kelas masuk bersama gadis yang tadi mereka lihat di lorong.

“Maaf mengganggu sebentar,” ucap wali kelas sambil melihat ke seluruh ruangan. “Mulai hari ini akan ada murid pindahan baru yang sementara mengikuti kelas kita untuk beberapa mata pelajaran.”

Suasana kelas langsung sedikit lebih hidup.

Beberapa siswa mulai berbisik pelan.

Dan di tengah semua itu, Selvara memperhatikan satu hal kecil.

Gadis itu terlihat tenang.

Terlalu tenang untuk seseorang yang baru masuk ke lingkungan baru dengan hampir satu kelas memperhatikannya.

“Silakan perkenalkan diri,” lanjut wali kelas.

Gadis itu mengangguk kecil sebelum akhirnya berbicara dengan suara yang lembut namun jelas.

“Lyara Veyne.”

Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk langsung membuat ruangan jadi lebih tenang.

“Aku baru pindah beberapa hari lalu… jadi mohon bantuannya.”

Singkat.

Sederhana.

Namun entah kenapa, suasana kelas terasa sedikit berubah setelah ia bicara.

Bukan drastis.

Hanya… lebih sunyi beberapa detik.

Vio langsung mendekat sedikit ke arah Selvara sambil berbisik, “Oke… aku ngerti sekarang kenapa semua orang rame.”

Selvara hampir tersenyum kecil mendengar itu, namun perhatiannya tetap tertahan pada Lyara.

Karena perasaan itu masih ada.

Tipis.

Sangat samar.

Namun tidak hilang.

Wali kelas mulai melihat ke arah kursi kosong di beberapa sisi ruangan sebelum akhirnya menunjuk satu tempat di dekat jendela belakang.

“Kamu bisa duduk di sana dulu.”

Lyara mengangguk kecil lalu berjalan melewati deretan meja dengan langkah tenang. Beberapa siswa langsung memperhatikannya saat lewat, namun Lyara terlihat seperti sudah terbiasa dengan perhatian semacam itu.

Namun tepat saat ia melewati meja Selvara—

langkahnya sedikit melambat.

Hampir tidak terlihat.

Namun cukup untuk disadari.

Dan tanpa benar-benar menoleh penuh, Lyara berkata pelan,

“…kamu juga ngerasa ya?”

Suaranya sangat kecil.

Hanya cukup terdengar oleh Selvara.

Lihat selengkapnya