Chapter 1 - Episode 6
Tidak ada satu pun dari mereka yang langsung bicara setelah suara itu muncul dari dalam gang. Jalan di sekitar masih terlihat normal, lampu toko tetap menyala, dan kendaraan sesekali masih lewat di ujung jalan utama, namun suasana di dekat mereka terasa berbeda sekarang. Lebih sunyi. Bukan sunyi karena tidak ada suara, melainkan seperti semua suara lain tertahan terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.
Vio jadi orang pertama yang bergerak lagi. Ia menarik napas pelan lalu mendekat sedikit ke Selvara tanpa sadar. “Tolong bilang itu cuma orang lewat,” gumamnya pelan.
Lyara masih melihat ke arah gang itu beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dengan suara rendah, “Kalau cuma orang lewat… biasanya suasananya nggak berubah kayak gini.”
Vio langsung diam.
Sementara Selvara tetap memperhatikan lorong sempit itu tanpa benar-benar bergerak mendekat. Gelapnya terlihat biasa saja, tapi ada sesuatu yang terasa salah pada kedalamannya. Sama seperti gang yang pernah ia lewati beberapa hari lalu.
Seolah jaraknya lebih jauh dari yang seharusnya.
Tok.
Suara langkah itu terdengar lagi.
Pelan.
Jauh di dalam.
Namun cukup jelas untuk membuat ketiganya kembali diam.
Vio langsung menoleh cepat ke arah Lyara. “Kamu… sering ngalamin beginian?”
Lyara menghela napas kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari gang. “Belakangan ini lebih sering.”
“Dan kamu santai aja?”
“Aku nggak santai,” jawab Lyara pelan. “Aku cuma udah berhenti panik.”
Kalimat itu membuat Selvara sedikit menoleh ke arahnya.
Cara Lyara bicara terdengar terlalu terbiasa.
Bukan seperti seseorang yang baru pertama kali mengalami semua ini.
“Lyara,” panggil Selvara pelan.
Lyara akhirnya menoleh.
“Kamu sebenarnya tahu apa?”
Beberapa detik hening.
Angin malam bergerak pelan melewati jalan sempit itu sebelum Lyara akhirnya menjawab,
“…aku juga belum ngerti semuanya.”
Vio langsung mengernyit. “Tapi kamu jelas tahu lebih banyak dari kita.”
Lyara tersenyum kecil, namun kali ini terlihat sedikit lelah. “Mungkin cuma lebih dulu sadar aja.”
Suara langkah itu tidak terdengar lagi setelahnya.
Namun perasaan aneh di sekitar mereka belum benar-benar hilang.
Selvara perlahan mengalihkan pandangannya dari gang lalu melihat ke jalan depan.
Masih ada orang lewat.
Masih ada kendaraan.
Tapi rasanya seperti ada jarak tipis yang memisahkan tempat mereka berdiri dari dunia di sekitarnya.
“Jangan berdiri di sini terlalu lama,” ucap Lyara akhirnya sambil kembali berjalan pelan. “Kalau suasananya mulai terlalu sepi, biasanya itu bukan tanda bagus.”
Vio langsung mengikuti lebih dulu. “Oke, aku pilih percaya aja sekarang.”
Selvara ikut berjalan di samping mereka, meski pikirannya masih tertinggal pada suara langkah tadi. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam gang itu, dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak ingin tahu.
Karena ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa—
jika mereka masuk lebih jauh tadi, mungkin sesuatu benar-benar akan muncul.
Mereka bertiga berjalan lebih cepat setelah itu. Percakapan yang tadi sempat santai perlahan menghilang, digantikan suasana diam yang tidak terlalu nyaman. Namun anehnya, berjalan bersama membuat perasaan itu sedikit lebih ringan dibanding saat Selvara sendirian.
Vio akhirnya jadi orang pertama yang memecah suasana lagi.
“Jujur ya…” gumamnya sambil menatap depan, “aku mulai nyesel penasaran sama semua ini.”
Lyara tertawa kecil pelan. “Masih bisa pura-pura nggak tahu.”
“Sayangnya sekarang udah nggak bisa.”
Selvara mengangguk kecil tanpa sadar.
Karena ia juga merasakan hal yang sama.
Sekali mulai menyadari sesuatu…
rasanya sulit kembali seperti sebelumnya.
Mereka akhirnya sampai di jalan yang lebih ramai, dan perlahan suasana aneh tadi mulai menghilang sendiri. Suara kendaraan kembali jelas, orang-orang terlihat berjalan normal, dan udara dingin yang tadi terasa menekan perlahan berubah biasa lagi.
Vio langsung menghembuskan napas panjang berlebihan. “Nah, gini kek kota normal.”
Lyara tersenyum kecil melihat reaksinya.
Sementara Selvara diam beberapa detik sambil memperhatikan sekeliling.
Perubahan itu benar-benar terasa.
Seolah mereka baru saja keluar dari ruang yang berbeda.
“Sel…” panggil Lyara pelan.
Selvara menoleh.
“Kalau nanti mulai lihat sesuatu lagi…” ucap Lyara sambil menatapnya beberapa detik, “jangan langsung ngelihat terlalu lama.”
Vio langsung mengangkat alis. “Karena?”
Lyara terdiam sebentar sebelum menjawab lebih pelan,
“…kadang mereka mulai sadar kalau kita bisa lihat.”
Kalimat itu langsung membuat suasana kembali sedikit dingin.
Vio spontan tertawa kecil gugup. “Oke, aku resmi nggak suka kalimat itu.”
Namun Selvara tidak ikut tertawa.
Karena jauh di dalam pikirannya, ia teringat pria di halte.
Dan cara sosok itu melihat balik ke arahnya malam kemarin.
Mereka akhirnya berhenti di persimpangan jalan tempat arah rumah mereka mulai berbeda. Vio terlihat masih ingin bertanya banyak hal, sementara Lyara justru terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu sendiri.
“Besok masuk lagi kan?” tanya Vio akhirnya.
Lyara mengangguk kecil. “Harusnya.”
“Jawaban kamu serem kalau dipikir-pikir.”
Lyara tertawa kecil pelan. “Maaf.”
Selvara memperhatikan mereka beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,
“…hati-hati di jalan.”
Lyara sedikit terlihat terdiam mendengar itu, lalu tersenyum kecil.
“Iya. Kalian juga.”
Mereka akhirnya berpisah setelah itu.
Namun bahkan saat langkah mereka mulai menjauh ke arah berbeda, Selvara masih bisa merasakan satu hal kecil yang belum benar-benar hilang dari malam ini.
Suara langkah itu.
Dan perasaan bahwa sesuatu di dalam gang tadi
masih berdiri diam sambil memperhatikan mereka pergi.
Malam itu berakhir tanpa kejadian lain setelah mereka berpisah di persimpangan jalan, namun perasaan yang tertinggal tidak benar-benar ikut menghilang bersama langkah mereka. Selvara sampai di rumah lebih cepat dari biasanya, tapi pikirannya masih tertahan pada suara langkah dari dalam gang tadi dan cara suasana di sekitar mereka berubah begitu saja tanpa alasan yang jelas. Rasanya seperti dunia di sekeliling mereka sempat bergeser beberapa langkah dari tempat seharusnya, lalu kembali normal sebelum orang lain menyadarinya.
Ia meletakkan tasnya pelan lalu berjalan ke jendela kamar tanpa sadar. Kota malam masih terlihat sama dari luar, lampu gedung menyala, kendaraan bergerak di jalan besar, dan tidak ada sesuatu yang terlihat aneh dari kejauhan. Namun sekarang ia mulai memahami bahwa apa yang salah dari semua ini bukan sesuatu yang selalu bisa dilihat langsung.
Kadang hanya terasa.
Dan justru itu yang paling sulit dijelaskan.
Ponselnya bergetar pelan di atas meja.
Pesan dari Vio.
“Sel, aku fix nggak bisa tidur tenang habis hari ini.”
Selvara tersenyum kecil tanpa sadar sebelum membalas singkat.
“Padahal tadi paling banyak ngomong.”
Balasan Vio langsung muncul.
“Itu coping mechanism.”
Selvara tertawa kecil pelan. Bahkan setelah semua yang terjadi beberapa hari terakhir, Vio masih bisa membuat suasana terasa sedikit lebih ringan.
Namun tepat sebelum ia sempat membalas lagi, pesan baru muncul.
Kali ini dari nomor yang belum tersimpan.
“Jangan terlalu sering memperhatikan pantulan kaca malam hari.”
Selvara langsung diam.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat membaca kalimat itu.
Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mengetik balasan pendek.
“Siapa ini?”
Beberapa detik berlalu.
Lalu balasan masuk.
“Lyara.”