Chapter 1 - Episode 7
Lampu kembali menyala tepat setelah itu.
Koridor langsung kembali terang seperti biasa, membuat beberapa siswa mengeluh karena matanya belum sempat menyesuaikan cahaya. Suara percakapan kembali memenuhi ruangan, beberapa tertawa karena kaget saat listrik mati tadi, sementara yang lain sibuk memeriksa ponsel mereka untuk memastikan tidak ada apa-apa.
Namun Selvara tidak bergerak tiba-tiba.
Matanya masih melihat tajam ke arah ujung koridor.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa di sana selain beberapa siswa yang berjalan biasa sambil mengobrol.
Sosok tadi hilang.
“Sel…” suara Vio terdengar kecil di sampingnya.
Selvara perlahan berkedip lalu menoleh.
Wajah Vio terlihat pucat sekarang.
“…kamu lihat juga?”
Vio langsung mengangguk cepat.
“Iya.”
Lyara masih berdiri diam beberapa langkah di belakang mereka. Tangannya sedikit menggenggam tali tasnya sekarang, dan untuk pertama kalinya sejak mereka mengenalnya, ekspresinya terlihat benar-benar tegang.
“Dia tadi jalan…” gumam Vio pelan.
Selvara mengangguk kecil tanpa sadar.
Karena ia juga melihatnya.
Jelas.
Bukan bayangan samar.
Bukan pantulan.
Sesuatu tadi benar-benar bergerak.
Beberapa siswa mulai keluar kelas satu per satu setelah listrik kembali normal, membuat koridor kembali ramai. Namun anehnya, tidak ada satu pun yang terlihat sadar ada sesuatu berdiri di ujung lorong beberapa detik sebelumnya.
Seolah hanya mereka bertiga yang melihatnya.
“Atau…” Vio menelan pelan sebelum melanjutkan, “…kita bertiga mulai gila bareng.”
Lyara menghela napas kecil.
“Kalau cuma satu orang mungkin halusinasi,” katanya pelan. “Kalau tiga orang lihat hal yang sama…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Namun mereka semua tahu maksudnya.
Hujan di luar semakin deras sekarang. Air mulai memantul lebih keras di halaman sekolah dan langit sore berubah jauh lebih gelap sampai suasana sekolah terasa seperti menjelang malam.
Selvara mencoba mengatur pikirannya pelan-pelan.
Ia ingin mencari penjelasan normal.
Masuk akal.
Apa pun.
Namun semakin lama, semuanya justru terasa semakin sulit dijelaskan.
“Jangan pulang sendiri hari ini,” ucap Lyara tiba-tiba.
Vio langsung menjawab cepat, “Aku juga nggak niat.”
Selvara sedikit menoleh. “Kamu serius?”
Lyara mengangguk kecil. “Kalau mereka mulai muncul sejelas tadi… biasanya hujan kayak gini bikin suasana makin tipis.”
Vio langsung mengernyit. “Tipis lagi.”
Lyara terdiam sebentar sebelum akhirnya berkata pelan,
“…kayak batas antara sini dan tempat mereka.”
Kalimat itu langsung membuat udara di sekitar terasa lebih dingin.
Vio spontan melihat sekeliling koridor seolah takut ada sesuatu yang berdiri di dekat mereka sekarang juga.
Namun suasana tetap normal.
Terlalu normal.
Dan justru itu yang mulai terasa menakutkan.
Mereka akhirnya memutuskan menunggu hujan sedikit reda sebelum pulang. Sebagian besar siswa juga melakukan hal yang sama, membuat kantin dan lorong sekolah kembali ramai oleh suara obrolan kecil. Namun meski berada di tengah banyak orang, Selvara tetap tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada sesuatu yang terus memperhatikan dari jauh.
Ia baru menyadari bahunya tegang sejak tadi saat Vio tiba-tiba menyodorkan minuman kaleng dingin ke arahnya.
“Nih.”
Selvara menerimanya pelan. “Makasih.”
“Kalau kita mati nanti, setidaknya jangan haus.”
Selvara spontan tertawa kecil.
Bahkan Lyara ikut menahan senyum tipis mendengar itu.
Dan anehnya, candaan kecil itu cukup membantu membuat suasana sedikit lebih ringan.
Mereka duduk dekat jendela kantin sambil memperhatikan hujan yang belum juga berhenti. Beberapa siswa terlihat mulai pulang berkelompok, sementara sebagian lain sibuk merekam petir yang sesekali muncul di langit kota.