Chapter 1 - Episode 8
Tidak ada satu pun dari mereka yang langsung bergerak setelah sosok itu muncul di ujung jalan.
Hujan masih turun tipis di sekitar gerbang sekolah, membasahi aspal dan memantulkan cahaya lampu jalan yang berkedip samar di tengah sore yang terasa terlalu gelap. Suara kendaraan dari jalan utama masih terdengar jauh, namun suasana di dekat mereka mendadak berubah lebih sunyi dibanding sebelumnya.
Dan di tengah jalan basah itu, sosok tinggi tadi tetap berdiri diam.
Tidak berjalan mendekat dan Tidak bergerak.
Namun keberadaannya terasa terlalu jelas untuk diabaikan.
Vio jadi orang pertama yang bicara, meski suaranya jauh lebih kecil dari biasanya.
“…oke.” Ia menelan pelan sebelum melanjutkan,
“Sekarang aku yakin kita nggak halusinasi.”
Tidak ada yang membantah.
Karena kali ini mereka semua melihat hal yang sama.
Jelas.
Tanpa pantulan kaca serta Tanpa bayangan yng samar.
Theo perlahan mengernyit sambil tetap menatap lurus ke depan. “Dia dari tadi ada di situ?”
“Baru muncul,” jawab Lyara pelan.
Selvara masih diam sejak tadi.
Tatapannya tertahan pada sosok itu, sementara perasaan dingin di tengkuknya semakin jelas dibanding sebelumnya.
Karena sekarang jaraknya terasa jauh lebih dekat.
Lampu jalan berkedip lagi.
Dan tepat saat cahaya redup sepersekian detik, sosok itu terlihat sedikit berubah posisi.
Menjadi lebih dekat.
Vio langsung refleks mundur setengah langkah. “Kalian lihat itu?”
Theo mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangannya.
Sementara Lyara perlahan berkata lebih pelan,
“Jangan lihat terus.”
Namun sekarang semuanya terlambat.
Karena mereka semua sudah sadar keberadaan sosok itu.
Hujan kembali terdengar lebih jelas.
Angin sore bergerak dingin melewati gerbang sekolah.
Dan perlahan, suara kota mulai terasa menjauh lagi.
Selvara langsung menyadari perubahan itu lebih dulu.
“Suasananya berubah…”
Theo langsung menoleh sedikit ke sekitar.
Lorong sekolah di belakang mereka masih ada.
Lampu gedung masih menyala.
Namun suara siswa yang tadi masih terdengar perlahan menghilang satu per satu.
Seolah dunia di sekitar mereka sedang tertutup sesuatu yang tidak terlihat.
“Jangan diam di sini,” ucap Theo cepat kali ini. Nada suaranya jauh lebih serius dibanding sebelumnya.
Vio langsung mengangguk tanpa protes.
Mereka mulai berjalan mundur perlahan kembali ke arah area sekolah, namun tepat saat itu
Tok..
Suara langkah terdengar dari depan.
Sosok itu mulai berjalan.
Pelan.
Tidak terburu-buru.
Namun setiap langkahnya terdengar terlalu jelas di tengah hujan.
Tok..Tok..Tok..
Dan figur itu semakin mendekat kemudian kabut tipis mulai muncul di sekitar jalan.
Pandangan mulai samar. Hampir menyatu dengan hujan.
Namun cukup jelas untuk terlihat berbeda dari udara biasa.
“Lyara…” panggil Selvara pelan tanpa mengalihkan pandangannya.
Lyara terlihat menahan napas kecil beberapa detik sebelum akhirnya menjawab,
“…jangan tunggu sampai dia terlalu dekat.”
Vio langsung menoleh cepat. “Terus kita harus ngapain?!”
Tidak ada jawaban.
Karena bahkan Lyara sendiri terlihat tidak tahu.
Theo langsung bergerak lebih dulu. “Masuk lagi ke dalam sekolah.”
Mereka akhirnya berjalan lebih cepat sekarang. Bukan berlari, namun cukup cepat untuk membuat langkah mereka terdengar kacau di lantai basah koridor depan sekolah.
Namun suara langkah dari jalan itu masih terdengar mengikuti.
Tok..Tok..Tok.
Selvara refleks menoleh sekali.
Dan tubuhnya langsung terasa dingin.
Sosok itu sekarang berdiri jauh lebih dekat dari sebelumnya.
Padahal jaraknya seharusnya tidak mungkin secepat itu.
“Jangan lihat!” suara Lyara langsung terdengar lebih keras dari biasanya.
Selvara langsung mengalihkan pandangannya lagi.
Nafasnya sedikit tidak stabil sekarang.
Mereka akhirnya masuk kembali ke area gedung sekolah yang mulai sepi. Sebagian besar siswa ternyata sudah pulang tanpa mereka sadari, menyisakan lorong panjang yang hanya diterangi lampu putih redup dan suara hujan dari luar jendela.
Namun bahkan setelah masuk, perasaan dingin itu tidak hilang.
Theo langsung berhenti dekat persimpangan koridor sambil melihat ke arah luar melalui kaca samping.
Dan beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah.
“…dia masih ada.”
Vio langsung menegang. “Jangan bilang dia ngikut.”
Theo tidak menjawab.
Karena jawabannya sudah jelas.
Kabut tipis mulai terlihat di luar jendela sekarang.
Perlahan bergerak melewati halaman sekolah.
Dan di antara kabut itu—
bayangan sosok tadi masih terlihat berdiri diam sambil menghadap gedung sekolah.
Selvara merasakan jantungnya berdetak lebih keras sekarang.
Bukan hanya karena takut.
Melainkan karena ada sesuatu yang terasa salah sejak tadi.
Sosok itu…tidak terlihat seperti sedang mencari mereka.
Lebih seperti, memastikan mereka bisa melihatnya.Koridor sekolah terasa jauh lebih panjang dibanding biasanya.Lampu putih di langit-langit masih menyala normal, namun suasana di sekitar mereka berubah terlalu sunyi untuk jam sepulang sekolah. Hanya ada suara hujan dari luar jendela dan napas kecil yang sesekali terdengar di antara mereka berempat.
Theo masih berdiri dekat kaca koridor sambil memperhatikan halaman sekolah dengan ekspresi serius. Sementara itu, Vio terlihat beberapa kali menoleh ke belakang seolah takut sosok tadi tiba-tiba muncul dari ujung lorong.
Dan jujur saja, Selvara juga mulai memikirkan kemungkinan yang sama.
“Dia nggak masuk ke dalam?” tanya Vio pelan.
Theo menggeleng kecil. “Masih di luar.”
Lyara perlahan berjalan mendekat ke arah jendela, namun ia tidak langsung melihat keluar. Tatapannya justru tertahan beberapa detik pada pantulan kaca sebelum akhirnya mengangkat pandangan pelan.
Kabut tipis mulai bergerak melewati halaman sekolah sekarang.
Lebih jelas dibanding sebelumnya.
“…ini pertama kalinya aku lihat sebanyak ini,” gumam Lyara hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
Selvara langsung menoleh.
“Kabutnya?”
Lyara mengangguk kecil.
“Hujan biasanya bikin mereka lebih gampang muncul… tapi harusnya belum separah ini.”
Vio langsung mengusap wajah pelan. “Aku mulai nyesel hidup normal ternyata underrated.”
Theo tertawa kecil pendek mendengar itu, meski ekspresinya masih tegang. “Sayangnya sekarang udah telat buat pura-pura nggak tahu.”
“Kenapa semua orang ngomong kalimat serem dengan nada santai sih?”
Untuk sesaat suasana jadi sedikit lebih ringan karena protes Vio, namun rasa tidak nyaman di sekitar mereka tetap belum hilang.
Selvara akhirnya berjalan mendekat ke jendela perlahan.
Kali ini ia mencoba melihat langsung ke halaman sekolah tanpa terlalu fokus pada sosok itu.
Dan di situlah ia mulai sadar sesuatu.
Kabutnya bergerak aneh.
Tidak seperti kabut biasa yang menyebar mengikuti angin.
Yang ini bergerak pelan mengarah ke gedung sekolah.
Seolah sedang mencari jalan masuk.
Selvara langsung merasakan tengkuknya kembali dingin.
“Lyara…”
Lyara langsung menoleh.
“Kabutnya…”
Lyara mengikuti arah pandangnya beberapa detik.
Lalu ekspresinya berubah pelan.
“…mundur dari jendela,” ucapnya cepat.
Nada suaranya kali ini cukup serius sampai Theo langsung menarik Vio menjauh tanpa banyak tanya.
Selvara ikut mundur beberapa langkah.
Dan tepat beberapa detik setelah itu duk.
Suara benturan kecil terdengar dari kaca jendela.
Semua langsung membeku. Bukan keras.