Chapter 1 - Episode 9
Tidak ada satu pun dari mereka yang langsung melangkah lebih jauh ke dalam lorong itu. Kabut tebal bergerak perlahan memenuhi ruang sempit di depan mereka dan membuat batas antara sekolah dengan tempat asing ini terasa semakin kabur. Dinding koridor yang tadi masih terlihat normal perlahan berubah kusam dengan noda hitam samar di beberapa sisi, sementara lantainya tampak retak seperti bangunan tua yang sudah lama ditinggalkan tanpa pernah disentuh siapa pun.
Dan yang paling aneh, suara hujan menghilang lagi.
Bukan mengecil atau menjauh, melainkan benar-benar lenyap begitu saja sampai suasana di sekitar mereka terasa terlalu sunyi. Selvara bahkan bisa mendengar nafas kecil Vio di sampingnya dan suara gesekan jari Theo saat menggenggam ponselnya lebih erat untuk menjaga cahaya senter tetap menyala.
Vio memeluk lengannya sendiri pelan sambil melihat ke depan dengan wajah pucat. “Aku nggak suka tempat ini…”
Suaranya terdengar kecil dan langsung tenggelam di tengah lorong yang terlalu hening. Theo masih mencoba melihat lebih jauh ke depan, namun cahaya senter itu hanya mampu menembus beberapa meter sebelum semuanya kembali tertelan kabut putih samar yang bergerak perlahan seperti hidup.
Sementara itu, Lyara berdiri diam sambil memperhatikan sekitar dengan nafas yang sedikit lebih berat dibanding sebelumnya. Selvara bisa melihat sendiri bagaimana tatapannya terus bergerak dari satu sisi lorong ke sisi lain, seolah sedang memastikan sesuatu tidak mendekat terlalu cepat.
“Ini pertama kalinya?” tanya Selvara pelan.
Lyara tidak langsung menjawab. Ia menelan ludah sedikit karena gugup sebelum akhirnya setuju dan mengangguk. “…iya.”
Vio langsung menoleh cepat ke arahnya. “Jadi kamu juga belum pernah masuk tempat beginian?”
“Aku cuma pernah lihat dari jauh.”
“Dan sekarang kita malah ada di dalamnya…”
Kalimat Vio menggantung begitu saja di udara. Tidak ada yang membalas, karena mereka semua sadar akan satu hal yang sama. Mereka tidak sengaja masuk ke tempat ini, namun sekarang mereka juga tidak tahu bagaimana cara keluar.
Suara bisikan samar mulai terdengar lagi dari belakang. Tidak jelas dan terlalu pelan untuk dipahami, tapi cukup untuk membuat tengkuk Selvara kembali terasa dingin. Theo langsung menoleh cepat ke arah koridor sekolah yang tadi mereka lewati.
Kabut mulai bergerak masuk perlahan dari sana.
Dan di balik kabut itu, bayangan-bayangan hitam tadi masih terlihat samar berdiri diam sambil menghadap ke arah mereka.
“Mereka masih ngikut…” gumam Vio pelan.
Theo menggenggam ponselnya lebih erat. “Kita nggak bisa balik.”
Selvara ikut melihat ke depan lagi. Lorong asing itu memanjang jauh tanpa ujung yang terlihat jelas, namun dibanding bayangan di belakang mereka, tempat di depan justru terasa sedikit lebih kosong.
Dan entah kenapa, instingnya mengatakan satu hal.
Mereka harus terus bergerak.
“Kita maju,” ucap Selvara akhirnya.
Theo langsung menoleh ke arahnya beberapa detik sebelum mengangguk kecil. Vio terlihat seperti ingin protes, namun saat matanya kembali melihat kabut di belakang mereka yang semakin mendekat, ia langsung mengurungkan niatnya sendiri.
Lyara jadi orang pertama yang mulai berjalan. “…jangan pisah,” katanya pelan.
Mereka akhirnya bergerak perlahan memasuki lorong itu. Langkah kaki mereka menggema aneh di lantai retak sementara udara dingin di sekitar terasa semakin berat setiap meter mereka berjalan maju. Semakin dalam mereka masuk, semakin sulit mengingat bahwa tempat ini dulunya bagian dari sekolah yang sama.
Dinding di sisi lorong mulai dipenuhi noda hitam samar seperti bekas air yang merembes terlalu lama. Beberapa pintu kelas berdiri terbuka sedikit, namun bagian dalamnya hanya terlihat gelap tanpa isi.
Theo sempat mengarahkan cahaya senter ke salah satu ruangan di samping mereka.
Kosong.
Namun meja dan kursi di dalam terlihat berantakan seperti seseorang pernah mencoba melarikan diri dari sana dengan tergesa-gesa.
“Jangan lihat terlalu lama ke dalam ruangan,” ucap Lyara pelan tanpa menghentikan langkahnya.
Theo langsung mengalihkan cahaya senternya lagi. “Kamu ngomong kayak udah tahu aturan tempat ini.”
Lyara terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan, “…aku cuma ngerasa tempat beginian nggak suka diperhatiin terlalu lama.”
Vio langsung menghela nafas lemas. “Semakin lama aku makin nggak ngerti hidup.”
Untuk sesaat Selvara hampir tertawa kecil mendengar itu, namun perasaan ringan itu langsung menghilang saat mereka melewati kaca jendela retak di sisi lorong.
Karena di pantulan kaca itu, mereka tidak berjalan berempat.
Ada sosok lain mengikuti beberapa langkah di belakang mereka.
Selvara langsung berhenti mendadak.
Theo hampir menabraknya. “Sel?”
Vio ikut berhenti cepat. “Kenapa?”
Namun Selvara tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertahan pada kaca retak di samping lorong itu. Dan perlahan, sosok di pantulan tersebut juga berhenti bergerak.
Tubuhnya tinggi.
Diam.
Dan berdiri terlalu dekat di belakang mereka.
Selvara langsung menoleh cepat ke belakang.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa selain lorong panjang yang dipenuhi kabut tipis.
“Sel…” suara Lyara terdengar lebih pelan sekarang.
Selvara kembali melihat ke arah kaca.
Pantulannya normal lagi.
Hanya mereka berempat.
Namun rasa dingin di dadanya belum hilang.
Karena ia yakin tadi melihat sesuatu dengan jelas.
Theo langsung menyadari perubahan ekspresinya. “Kamu lihat apa?”
Selvara terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan,
“…kayaknya kita nggak sendirian di sini.”
Dan tepat setelah kalimat itu keluar, suara pintu dari salah satu ruangan di depan perlahan terbuka sendiri.
Suara engsel tuanya bergema panjang memenuhi lorong yang sunyi.
Lalu dari dalam ruangan gelap itu terdengar suara seseorang berbisik pelan. “…tolong…”
Suara itu terdengar pelan.
Sangat pelan sampai hampir tenggelam di tengah lorong yang dipenuhi kabut tipis dan udara dingin, namun justru karena itulah suara tersebut terasa semakin jelas di telinga mereka.
“…tolong…”
Vio langsung menegang di tempat. Tangannya refleks mencengkeram lengan Selvara lebih erat sementara Theo perlahan mengangkat cahaya senter ke arah pintu ruangan yang terbuka sedikit di depan mereka.
Ruangan itu gelap dan terasa terlalu dalam untuk ukuran kelas biasa. Bahkan cahaya senter tidak mampu masuk terlalu jauh ke dalamnya, seolah kegelapan di sana menelan cahaya sedikit demi sedikit.
Namun suara tadi benar-benar berasal dari sana.
“Jangan bilang ada orang…” gumam Vio pelan.
Theo mengernyit kecil. “Kalau emang ada orang, kita nggak bisa ninggalin.”
“Kalau itu bukan orang gimana?”
Kalimat Vio langsung membuat suasana kembali diam beberapa detik, karena tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar bisa memastikan apa yang sedang mereka hadapi sekarang.
Lyara terlihat paling tegang di antara mereka. Tatapannya terus tertahan ke arah ruangan gelap itu tanpa berkedip sedikit pun.
“…aku nggak suka,” bisiknya pelan.
Selvara langsung menoleh. “Karena?”
Lyara menelan kecil sebelum akhirnya menjawab lebih pelan,
“Tempat ini dari tadi kayak… nyoba bikin kita masuk lebih jauh.”
Kalimat itu membuat Selvara langsung sadar sesuatu.
Sejak mereka memasuki lorong ini, semuanya terasa seperti diarahkan perlahan. Bayangan-bayangan tadi tidak langsung menyerang, distorsi di sekitar mereka juga terus memaksa mereka bergerak semakin dalam, dan sekarang ada suara seseorang meminta tolong dari dalam ruangan gelap di depan mereka.
Seolah tempat ini memang ingin mereka terus masuk lebih jauh.
Theo terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya berjalan perlahan mendekati pintu kelas itu. Cahaya senter di tangannya bergerak pelan menyapu lantai dan dinding ruangan yang mulai terlihat lebih jelas sedikit demi sedikit.
Debu, kursi terbalik, papan tulis yang retak dan noda hitam samar di beberapa sudut dinding membuat ruangan itu terlihat seperti kelas tua yang sudah lama ditinggalkan.
Namun suasananya terasa terlalu berat untuk disebut normal.
“…tolong…”
Suara itu terdengar lagi, kali ini sedikit lebih jelas seperti suara perempuan yang berbicara sambil menahan nafas.
Vio langsung merinding sendiri. “Oke… itu jelas banget…”
Theo berhenti tepat di depan pintu. “Ada orang di dalam?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara statis samar yang tiba-tiba muncul dari ujung ruangan.
Kressshh…
Cahaya senter Theo bergerak perlahan ke arah sumber suara.
Dan di sanalah mereka melihatnya.
Sebuah televisi tua kecil berdiri di atas meja guru dengan layar yang menyala samar dipenuhi gangguan hitam putih.
Padahal listrik di tempat ini seharusnya sudah mati sejak tadi.