Chapter 1 - Episode 10
Kabut hitam perlahan mulai merembes keluar dari jendela yang pecah itu seperti cairan dingin yang hidup. Bergerak pelan melewati retakan lantai koridor dan menyebar sedikit demi sedikit ke arah mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang langsung bergerak setelah melihatnya, bukan karena tidak ingin, melainkan karena pemandangan di balik jendela itu terasa terlalu salah untuk dipahami secepat itu.
Lorong di sisi sana terlihat mirip dengan tempat mereka berdiri sekarang, namun dalam kondisi yang jauh lebih buruk. Dindingnya lebih gelap, lampunya mati total, dan kabut hitam pekat memenuhi hampir seluruh ruang sampai ujung lorong tidak lagi terlihat jelas.
Dan di dalam tempat itu, puluhan sosok berdiri diam tanpa suara.
Sebagian hanya terlihat seperti bayangan manusia, sementara beberapa lainnya tampak terlalu rusak untuk disebut manusia normal. Namun semuanya menghadap ke arah yang sama, Ke arah mereka.
Vio langsung mundur perlahan sambil menggenggam lengan Selvara erat sampai kukunya sedikit menusuk kulit. “Itu… tempat apa…” Suaranya hampir tidak terdengar sekarang.
Theo juga terlihat membeku beberapa detik sambil tetap mengarahkan cahaya senter ke arah jendela pecah tersebut. Cahaya putih dari ponselnya hanya mampu masuk beberapa meter sebelum semuanya kembali tertelan gelap di sisi seberang.
Namun sosok yang tadi berjalan mendekat masih terlihat jelas.
Langkahnya lambat dan terdengar berat di tengah lorong yang sunyi.
Tok..Tok…Tok..
Lyara perlahan mundur satu langkah kecil. “Jangan terlalu dekat sama kacanya.”
Theo akhirnya menarik nafas kecil sebelum bertanya pelan, “Itu… masih distorsi?”
Lyara tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertahan ke lorong hitam di balik jendela sebelum akhirnya berkata lebih rendah,.
“…aku rasa itu bagian yang lebih dalam.”, Kalimat itu langsung membuat udara di sekitar terasa semakin dingin.
Selvara kembali melihat ke arah lorong tersebut. Semakin lama diperhatikan, tempat itu tidak lagi terasa seperti sekadar ruang asing. Rasanya seperti melihat dunia mereka sendiri yang sudah rusak terlalu jauh.
Kabut hitam terus bergerak keluar perlahan dari sisi seberang dan bersamaan dengan itu, suara bisikan mulai terdengar lagi.
dengan pelan dan samar, Namun kali ini jauh lebih jelas dibanding sebelumnya.
“…lihat…”, “…dekat…”, “…masuk…”
Bisikan-bisikan itu saling bertumpuk dari dalam lorong hitam dan membuat kepala Selvara kembali terasa berat. Vio langsung menutup telinganya pelan sambil menggeleng cepat.
“Aku nggak suka suara itu…”
Theo mengernyit keras. “Jangan didengerin.”
Namun tepat saat itu, sosok yang berjalan tadi akhirnya berhenti tepat di depan jendela yang pecah. Diam dan tidak bergerak. untuk pertama kalinya, mereka bisa melihat bentuk mereka semakin lebih jelas. Tubuhnya tinggi dan terlalu kurus, sementara wajahnya tertutup bayangan hitam yang terus bergerak seperti asap hidup. Lengannya tampak lebih panjang dari manusia normal dan setiap gerakannya terasa sedikit patah seperti tubuhnya tidak terbiasa bergerak dengan benar. Namun yang paling membuat nafas Selvara terasa berat, dan sosok itu mengenakan seragam sekolah mereka.
Vio langsung menatap tidak percaya ke arah depan. “Kenapa semuanya pake seragam sekolah…”
Theo tidak menjawab.
Karena ia sendiri mulai menyadari hal yang sama. Semua sosok yang muncul sejak tadi selalu terlihat seperti bagian dari sekolah ini, seolah distorsi tersebut mengambil bentuk dari sesuatu yang dekat dengan mereka.
Sosok tinggi itu tetap berdiri diam di depan jendela.
Lalu perlahan, kepalanya miring sedikit ke samping. Kriet…
Suara dari lehernya terdengar jelas di lorong yang sunyi dan tepat setelah itu, senyum tipis mulai muncul perlahan di wajah gelapnya. Vio langsung mundur lagi. “Jangan senyum begitulah, serem…”
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Theo terlihat benar-benar kehilangan jawaban. Tangannya yang memegang ponsel mulai gemetar lebih jelas sekarang meski ia tetap berusaha berdiri paling depan.
Sementara itu, Lyara terlihat memperhatikan sesuatu lain.
Bukan sosok di depan jendela. Melainkan kabut hitam di lantai.
“Sel…” panggilnya pelan.
Selvara langsung menoleh.
Lyara menunjuk ke bawah.
Kabut hitam yang tadi hanya bergerak di sekitar pecahan jendela sekarang mulai memanjang ke arah mereka perlahan seperti akar tipis yang merayap di lantai koridor. Dan setiap kali kabut itu bergerak sedikit lebih jauh, lampu koridor ikut berkedip pelan di atas kepala mereka.
“…dia nyoba masuk,” bisik Lyara.
Kalimat itu langsung membuat Theo tersadar.
“Kita harus pergi sekarang.”
Tidak ada yang membantah kali ini. Mereka langsung mulai bergerak mundur perlahan menjauh dari jendela pecah tersebut. Namun tepat saat langkah pertama mereka bergerak, sosok tinggi di sisi seberang tiba-tiba menghantam bingkai jendela dengan keras. BRAK!
Seluruh lorong langsung bergetar kecil.
Vio spontan berteriak kaget sementara Theo refleks mengarahkan cahaya senter kembali ke depan.
Dan di tengah cahaya putih itu, mereka melihat sesuatu yang membuat tubuh Selvara langsung dingin. Tangan sosok itu perlahan mulai keluar melewati jendela. Tidak ada satu pun dari mereka yang langsung bergerak setelah melihat tangan itu mulai keluar melewati jendela.
Gerakannya lambat, namun justru itu yang membuat suasana terasa semakin mengerikan. Kabut hitam terus bergerak mengikuti lengan panjang tersebut, merayap pelan melewati bingkai kaca seperti sesuatu dari sisi lain perlahan memaksa dirinya masuk ke tempat mereka berdiri sekarang.
Dan semakin jauh tangan itu keluar lampu koridor mulai berkedip semakin cepat dan tidak berurutan. Vio langsung mundur sambil menarik ujung lengan seragam Selvara erat. “Sel… bilang itu nggak nyata.”
Namun Selvara sendiri tidak bisa langsung menjawab. Dadanya masih terasa berat saat melihat jari-jari panjang itu bergerak perlahan di lantai seperti makhluk hidup yang baru belajar menggunakan tubuhnya sendiri.
Theo menarik nafas pendek sebelum akhirnya berkata cepat, “Oke. Kita lari.”
Vio langsung menoleh tidak percaya. “Kak Theo, itu keputusan paling pintar yang keluar dari mulutmu sejak tadi.”
“Aku anggap itu pujian.”
“Memang pujian.”
Meskipun situasi di sekitar mereka sedang kacau, jawaban datar Theo tetap berhasil membuat ketegangan pecah sedikit. Bahkan Selvara sempat menahan senyum kecil refleks sebelum suara retakan dari arah jendela kembali terdengar.
Krek…
Krek…
Retakan hitam mulai menyebar di sekitar bingkai kaca seperti sesuatu sedang memaksa jalan masuk lebih besar dari sisi seberang. Kabut hitam bergerak semakin cepat sekarang dan perlahan mulai memenuhi lantai lorong sampai mata kaki mereka.
Lyara langsung melihat ke belakang mereka cepat. “Jangan tunggu sampai dia keluar penuh.”
Kali ini tidak ada yang membantah.
Mereka langsung bergerak lebih cepat menyusuri koridor sementara suara benturan dari belakang terus terdengar samar mengikuti langkah mereka.
Brak!
Selvara tidak berani menoleh lagi. Namun dari suara retakan yang semakin keras, ia tahu sesuatu itu masih mencoba keluar dari lorong di balik jendela tadi.
Langkah kaki mereka menggema panjang di koridor yang terasa semakin asing. Lampu di langit-langit sesekali berkedip, membuat bayangan mereka bergerak tidak stabil di lantai retak yang dipenuhi kabut dan semakin lama mereka berjalan, lorong ini terasa semakin berubah.
Dindingnya mulai dipenuhi noda hitam lebih tebal dibanding sebelumnya. Beberapa pintu kelas tampak setengah terbuka dengan bagian dalam yang gelap total, sementara suara bisikan samar sesekali terdengar dari balik ruangan kosong yang mereka lewati.
Vio langsung mendekat lebih dekat ke Selvara. “Aku nggak suka kenapa tempat ini makin mirip lokasi film horor murahan.”
Theo yang masih berjalan paling depan menjawab tanpa menoleh, “Kalau ini film horor, kemungkinan kita cuma karakter sampingan.”
Vio langsung terlihat tidak terima. “Aku menolak jadi karakter yang mati duluan.”
“Aku juga,” sahut Theo cepat. “Aku masih ada tugas OSIS minggu depan.”
Untuk pertama kalinya sejak masuk ke tempat ini, Lyara benar-benar terlihat menahan tawa kecil meski hanya sebentar. Suara tawanya pelan dan cepat menghilang, namun cukup membuat suasana yang sejak tadi terlalu tegang terasa sedikit lebih ringan.
Selvara baru sadar kalau mereka memang membutuhkannya.
Karena kalau tidak, rasa takut di tempat ini perlahan bisa membuat kepala mereka sendiri hancur lebih dulu. Namun suasana ringan itu tidak bertahan lama.
Karena tepat saat mereka melewati persimpangan lorong berikutnya, langkah Theo mendadak berhenti.
Selvara hampir menabraknya. “Kenapa?”
Theo tidak langsung menjawab.
Cahaya senter di tangannya perlahan bergerak ke depan.
Dan di sanalah mereka melihatnya.
Koridor sekolah di depan…
berakhir begitu saja.
Tidak ada dinding.
Tidak ada tangga.
Tidak ada jalan lanjutan.
Hanya ruang hitam besar seperti jurang kosong yang memotong seluruh lorong sekolah di depan mereka.
Kabut putih bergerak perlahan di bawahnya, namun bagian dasarnya sama sekali tidak terlihat.
Seolah lantai sekolah berakhir dan setelah itu tidak ada apa-apa lagi.
Vio langsung menegang total. “Tidak. Aku benar-benar tidak suka itu.”
Theo mengarahkan cahaya senter ke bawah jurang tersebut, namun cahayanya menghilang begitu saja sebelum mencapai dasar.
“…aku bahkan nggak bisa lihat bawahnya,” gumamnya pelan.
Selvara perlahan mendekat beberapa langkah sambil menahan nafas kecil. Perasaan dingin di sekitar tempat itu berbeda dibanding sebelumnya. Bukan seperti sedang diawasi.
Melainkan seperti sesuatu di bawah sana sedang menunggu.
Lyara tiba-tiba menarik lengan Selvara pelan sebelum ia terlalu dekat ke tepi jurang.
“Jangan berdiri dekat situ.”
Nada suaranya langsung membuat Selvara berhenti.
“Kenapa?”
Lyara terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata lebih pelan,
“…aku ngerasa ada sesuatu di bawah.”
Kalimat itu langsung membuat suasana kembali sunyi.
Dan tepat setelahnya, suara retakan dari belakang terdengar lagi.
Lebih dekat dari sebelumnya.Brak!
Mereka semua langsung menoleh bersamaan.
Kabut hitam mulai bergerak memenuhi lorong belakang.
Dan di antara kabut itu, sesuatu perlahan berjalan mendekat sambil menyeret lengannya di lantai sekolah. Tangan panjang itu terus bergerak perlahan keluar melewati jendela seperti sesuatu yang dipaksa menembus batas sempit antara dua ruang berbeda. Jari-jarinya yang hitam dan terlalu tipis meraba lantai koridor pelan, meninggalkan jejak kabut gelap yang langsung menyebar ke sekitar retakan ubin sekolah.
Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menunggu lebih lama.
Theo langsung bergerak lebih dulu. “Jalan!”
Mereka kembali berlari menyusuri lorong sementara suara retakan dari belakang terdengar semakin keras. Kabut di lantai ikut bergerak lebih cepat sekarang, seperti mencoba mengejar langkah mereka sedikit demi sedikit.
Selvara terus berlari sambil menahan nafas yang mulai tidak stabil. Dadanya terasa sesak bukan hanya karena takut, tetapi karena suasana di tempat ini perlahan mulai terasa terlalu berat untuk dipahami kepala manusia normal.
Lorong sekolah terus berubah.
Kadang terasa menyempit kemudian memanjang bahkan lebih jauh dari sebelumnya.
Dan sesekali lampu di atas kepala mereka mati sepersekian detik sebelum menyala lagi dalam posisi yang terasa berbeda.
“Aku mulai curiga sekolah kita sebenarnya dikutuk dari awal,” gumam Vio sambil tetap berlari di samping Selvara.
Theo yang masih di depan langsung menjawab pendek, “Kalau besok selamat, aku resign dari OSIS.”
Vio spontan menoleh tidak percaya. “Kak Theo, situasi sekarang bahkan masih sempat mikirin OSIS?”
“Aku butuh alasan hidup.”
Kalimat datar itu keluar terlalu cepat sampai Selvara refleks tertawa kecil meski nafasnya masih berantakan. Bahkan Lyara sempat menunduk menahan senyum tipis beberapa detik sebelum kembali melihat ke belakang dengan wajah tegang.
Dan anehnya, percakapan kecil itu cukup membuat mereka tetap sadar. Karena kalau terus tenggelam dalam rasa takut, tempat ini perlahan seperti mulai mempengaruhi pikiran mereka sedikit demi sedikit. Namun suasana itu kembali berubah saat suara langkah berat terdengar dari belakang. Bukan satu. Melainkan banyak.
Tok..Tok..Tok..Tok..
Suara langkah itu menggema tidak beraturan di lorong dan terdengar semakin dekat setiap detiknya.
Selvara refleks menoleh cepat.
Kabut hitam mulai memenuhi lorong belakang mereka dan di dalam kabut itu, siluet-siluet samar mulai terlihat bergerak lebih cepat dibanding sebelumnya.
Mereka tidak lagi diam.
“Mereka ngejar!” seru Vio panik.
Theo langsung mempercepat langkah. “Nggak usah diumumin juga!”
Mereka berbelok cepat di persimpangan koridor berikutnya, namun tepat saat melewati tikungan, langkah Theo mendadak berhenti lagi.
Selvara hampir menabraknya untuk kedua kalinya malam itu.
“Kenapa lagi?!”
Theo tidak langsung menjawab.
Cahaya senter di tangannya bergerak perlahan ke depan.
Dan seluruh tubuh Selvara langsung terasa dingin saat melihat apa yang ada di sana.
Koridor di depan mereka…kembali ke tempat awal.
Jendela pecah itu ada lagi di ujung lorong. Kabut hitam masih merembes keluar dari sana.
Dan sosok tinggi tadi, masih berdiri tepat di depan pecahan kaca sambil menatap ke arah mereka.
Tidak bergerak.
Seolah memang sudah menunggu mereka kembali.
Vio langsung memegang kepalanya sendiri frustrasi. “Tidak lucu. Ini benar-benar tidak lucu.”
Theo mengumpat pelan sambil menyorot sekitar dengan senter. “Kita muter…”
“Padahal tadi belok kanan…”
“Kita nggak mungkin balik secepat ini.”
Namun kenyataannya lorong di depan mereka memang sama persis.
Bahkan retakan di lantai dan posisi bangku rusak di dekat dinding terlihat identik.
Selvara perlahan mulai sadar sesuatu.
Tempat ini bukan sekadar berubah.
Lorong ini seperti sedang bermain dengan arah.
Lyara langsung melihat ke sekitar dengan nafas yang mulai tidak stabil. “Distorsinya makin dalam…”
Kabut di sekitar kaki mereka mulai bergerak lebih tebal sekarang. Dan semakin lama mereka berdiri diam, suara bisikan samar kembali terdengar dari berbagai arah.
“…tinggal…”, “…lihat…”, “…masuk…”
Vio langsung memegang telinganya lagi. “Kenapa mereka obsesif banget nyuruh masuk…”
Namun tepat saat itu, cahaya senter Theo tiba-tiba berkedip.
Sekali.. Dua kali.. Lalu mati total. Gelap langsung memenuhi lorong.
Vio spontan memegang bahu Selvara erat. “Theo?!”
“Aku di sini.”
Suara Theo terdengar tidak jauh, namun suasana gelap di sekitar mereka terasa berbeda dibanding sebelumnya. Lebih dingin. Dan terlalu sunyi.
Selvara mencoba mengatur nafasnya pelan sambil memaksa matanya menyesuaikan diri. Kabut samar masih terlihat bergerak di lantai, namun sekarang lorong di sekitar mereka hampir sepenuhnya tertutup gelap.
Lalu perlahan, sesuatu mulai menyala di ujung koridor. Bukan lampu. Melainkan mata. Puluhan mata samar mulai terbuka satu per satu di dalam kabut hitam sambil menatap lurus ke arah mereka.
Puluhan mata itu perlahan terbuka satu per satu di dalam kabut hitam.
Awalnya hanya beberapa titik cahaya redup yang nyaris tidak terlihat, namun semakin lama jumlahnya bertambah sampai memenuhi ujung lorong seperti sesuatu sedang menatap mereka dari balik gelap.
Tidak bergerak, Tidak berkedip melainkan hanya melihat.
Vio langsung membeku sambil memegang lengan Selvara semakin erat. Selvara bahkan bisa merasakan jemarinya sedikit gemetar sekarang.
“…aku nggak mau lihat ke sana lagi,” bisiknya pelan.
Namun sulit memalingkan pandangan.
Karena mata-mata itu terasa terlalu jelas di tengah gelap lorong yang sunyinya mulai menekan kepala mereka sedikit demi sedikit.
Theo beberapa kali mencoba menyalakan kembali senter ponselnya, namun layar ponsel itu hanya berkedip samar sebelum mati lagi.
“Serius sekarang habis baterai?” gumamnya frustrasi.
“Aku rasa masalah kita sekarang bukan baterai,” balas Vio cepat.
“Biar aku tetap marah sebentar.”
Entah kenapa jawaban Theo tetap berhasil membuat suasana pecah sedikit meski hanya beberapa detik. Selvara sampai menahan nafas kecil yang nyaris berubah jadi tawa gugup sebelum kembali fokus ke lorong depan.
Karena mata-mata itu…
mulai bergerak.
Satu demi satu cahaya samar tersebut perlahan naik lebih tinggi dari kabut.
Dan akhirnya mereka sadar.
Itu bukan hanya mata.
Melainkan sosok-sosok yang berdiri di dalam gelap.
Tubuh mereka masih samar dan tertutup kabut hitam, namun sekarang bentuknya mulai terlihat lebih jelas. Sebagian berdiri terlalu miring, sebagian lain tampak seperti tubuh manusia yang dipelintir paksa sampai proporsinya rusak.
Namun semuanya perlahan mulai berjalan mendekat.
Tok..Tok..Sret…Tok.. Suara langkah mereka menggema tidak beraturan memenuhi lorong.
Dan semakin dekat mereka bergerak, bisikan-bisikan di sekitar juga mulai terdengar semakin jelas. “…lihat kami…”
“…dekat…”
“…sendiri…”
Selvara langsung merasakan kepalanya kembali berat. Suara-suara itu tidak terdengar seperti berasal dari luar, melainkan seperti muncul langsung di dalam pikirannya sendiri.
Lyara tiba-tiba menggenggam sisi kepala pelan sambil memejamkan mata beberapa detik.
Theo langsung menyadarinya. “Ly?”
“Aku nggak apa-apa…”
Namun nafas Lyara terdengar jauh lebih tidak stabil sekarang.
Kabut di sekitar kaki mereka mulai bergerak lebih cepat seperti arus air yang pelan namun terus menarik ke arah depan. Selvara langsung sadar kalau tempat ini perlahan mencoba menahan mereka tetap diam.
Dan semakin lama mereka berhenti, semakin dekat sosok-sosok itu datang.
“Kita harus gerak,” ucap Selvara cepat.
Theo langsung mengangguk kecil. “Masalahnya ke mana?”
Lorong di depan dipenuhi sosok hitam.
Belakang mereka adalah jendela pecah dan makhluk yang mencoba keluar dari sisi lain.
Sementara seluruh tempat ini terasa terus berubah tanpa arah jelas.
Vio melihat sekitar dengan wajah yang mulai putus asa. “Aku nggak suka pilihan kita semuanya buruk.”
“Pilih yang belum tentu bikin mati dulu,” jawab Theo cepat.
“Aku benci kenapa kamu bisa ngomong santai di kondisi begini.”
“Aku panik. Ini versi panikku.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke distorsi ini, Vio benar-benar tertawa kecil pendek meski wajahnya masih pucat total. Dan anehnya, suara kecil itu membuat Selvara sedikit lebih tenang. Karena selama mereka masih bisa bicara seperti biasa, berarti mereka belum sepenuhnya tenggelam ke tempat ini.
Namun suasana itu kembali pecah saat salah satu sosok di depan tiba-tiba bergerak jauh lebih cepat dari yang lain.
Kabut hitam langsung terbelah. Dan dalam sepersekian detik, siluet tinggi itu sudah muncul jauh lebih dekat. Vio spontan menjerit kecil. Theo langsung menarik mereka mundur refleks.
Namun tepat saat sosok itu hampir mencapai mereka, sesuatu tiba-tiba muncul di kepala Selvara.
Bukan suara.
Bukan bisikan.
Melainkan perasaan aneh yang muncul sangat jelas di dalam pikirannya sendiri.
Berhenti.
Tubuh Selvara refleks bergerak sebelum sempat berpikir.
Ia langsung menarik Theo dan Vio ke samping bersamaan.
Dan sepersekian detik setelah itu, sosok hitam tadi melesat lurus melewati tempat mereka berdiri sebelumnya dengan gerakan patah yang terlalu cepat untuk diikuti mata.
Brak!
Tubuhnya menghantam dinding koridor keras sampai retakan hitam langsung menyebar di permukaan tembok.
Semua langsung membeku.
Bahkan sosok-sosok lain di lorong sempat berhenti bergerak beberapa detik.
Theo langsung menoleh cepat ke Selvara. “Sel, tadi kamu...”
“Aku nggak tahu…”, Nafas Selvara sendiri terdengar tidak stabil sekarang.
Karena ia juga tidak mengerti kenapa tubuhnya bisa bergerak tepat sebelum makhluk itu menyerang. Namun satu hal terasa sangat jelas. Untuk sepersekian detik tadi, ia seperti bisa merasakan gerakan mereka sebelum terjadi.
Retakan hitam menyebar perlahan di dinding tempat sosok itu menghantam beberapa detik lalu. Suara gesekan kasar masih terdengar samar saat tubuh makhluk tersebut bergerak pelan di permukaan tembok seperti bayangan cair yang belum sepenuhnya punya bentuk tetap.
Namun perhatian Theo sekarang bukan lagi ke sana.
Melainkan ke Selvara.
“Tadi kamu tahu dia bakal nyerang?” tanyanya cepat.
Selvara langsung menggeleng kecil. nafasnya sendiri masih belum stabil sejak refleks aneh itu terjadi beberapa detik lalu.
“Aku nggak tahu…” jawabnya pelan. “Kayak… tubuhku gerak sendiri.”
Vio langsung menatapnya tidak percaya. “Kalau begitu, boleh nggak tubuhmu terus gerak sendiri demi keselamatan kita?”
Meski wajahnya masih pucat, nada panik Vio tetap terdengar cukup tulus sampai Theo refleks menahan tawa pendek kecil.
“Bagus. Kita sekarang bergantung sama insting Sel.”
“Aku lebih suka bergantung sama pintu keluar.”
Namun suasana itu langsung kembali menegang saat sosok yang menghantam dinding tadi perlahan berdiri lagi.
Gerakannya patah tidak alami.
Dan kali ini, kepalanya perlahan berputar ke arah mereka dengan bunyi retakan kecil yang membuat tengkuk Selvara kembali dingin.
Di belakangnya, sosok-sosok lain mulai bergerak lagi dari dalam kabut.
Lebih cepat dibanding sebelumnya.
“Kita nggak bisa diam di sini!” seru Theo cepat.
Ia kembali mencoba menyalakan ponselnya dan kali ini layar senter berhasil menyala redup meski berkedip tidak stabil.
Cahaya putih itu langsung menyapu lorong depan dan memperlihatkan sesuatu yang sebelumnya tidak mereka sadari.
Di sisi kiri koridor, ada tangga darurat kecil yang sebagian tertutup kabut hitam.
“Itu tadi ada?” gumam Vio bingung.
“Pokoknya sekarang ada,” jawab Theo cepat. “Jalan!”
Mereka langsung bergerak menuju tangga tersebut sementara suara langkah dari belakang mulai terdengar semakin kacau. Sosok-sosok hitam itu tidak lagi berjalan lambat sekarang.
Mereka mulai bergerak patah-patah dengan kecepatan aneh yang sulit ditebak.
Kadang lambat.
Kadang tiba-tiba sudah jauh lebih dekat.