CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #11

The Sound Beyond Cracked Rain

Chapter 1 - Episode 11

Setelah ini terdengar suara pecahan kaca langsung memenuhi seluruh ruangan.

Brakkk!.. Retakan cahaya di jendela akhirnya pecah sepenuhnya dan serpihan-serpihan kaca beterbangan ke segala arah bersama hembusan angin dingin yang jauh lebih kuat dibanding sebelumnya.

Selvara refleks menutup wajahnya dengan lengan sementara Theo langsung menarik Vio mundur menjauh dari jendela. Lyara sendiri membeku beberapa detik saat cahaya putih terang dari sisi seberang memenuhi seluruh kelas. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka masuk ke distorsi, mereka kembali mendengar suara hujan. Rintik air yang menghantam jendela sekolah.

Suara angin sore. Dan gema samar-samar aktivitas dari kejauhan.

Semua suara normal itu terasa hampir asing sekarang.

Kabut hitam di dalam kelas mulai bergerak kacau seperti asap yang tertiup angin besar. Dinding ruangan perlahan retak semakin parah sementara meja dan kursi mulai bergetar kecil di tempatnya. Makhluk siswi tadi menjerit lebih keras.

Tubuhnya yang mulai hancur menjadi serpihan hitam terlihat semakin tidak stabil sekarang. “…jangan…”

Suaranya terdengar patah dan mulai tenggelam di tengah suara retakan ruangan.

Namun tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak mendekat.

Karena suasana di sekitar kelas terasa seperti akan runtuh kapan saja.

“Sel!” Theo langsung menoleh cepat ke arah jendela yang pecah. “Itu jalan keluar kan?!”. Selvara melihat ke arah retakan besar yang sekarang terbuka penuh di sisi jendela. Dan di balik sana, lorong sekolah mereka benar-benar terlihat normal.

Lampu menyala. Dinding bersih. Tidak ada kabut hitam.

Jantungnya langsung berdetak lebih keras. Mereka benar-benar bisa keluar.

Namun tepat saat ia hendak bergerak, tatapannya kembali tertahan pada sosok perempuan di sisi seberang. Masih berdiri di sana, Samar-samar namun jauh lebih jelas dibanding sebelumnya.

Rambut panjang hitamnya bergerak pelan tertiup angin sementara matanya terus tertuju ke arah Selvara tanpa berpindah sedikit pun.

Dan anehnya, Selvara tidak merasa takut melihatnya. Justru sebaliknya. Ada perasaan aneh seperti… mengenal.

“Sel!” suara Vio langsung membuyarkan pikirannya. “Kalau mau bengong nanti aja!”

Theo spontan menambahkan cepat, “Iya, jangan pilih momen sekarang!”

Untuk sepersekian detik Selvara hampir tertawa refleks sebelum akhirnya kembali sadar dengan situasi di sekitar mereka.

Karena kelas itu benar-benar mulai runtuh sekarang.

Retakan hitam menyebar di seluruh dinding dan langit-langit sementara suara gemuruh samar mulai terdengar dari berbagai sisi ruangan.

Makhluk siswi tadi tiba-tiba bergerak lagi. 

Tubuhnya yang hampir hancur langsung melesat ke arah Selvara dengan gerakan patah yang jauh lebih kacau dibanding sebelumnya.

Vio langsung menjerit kecil. Theo refleks bergerak maju.

Namun sebelum siapa pun sempat bereaksi, perasaan dingin itu kembali muncul di kepala Selvara.

Ke depan. Sekarang. Tubuhnya langsung bergerak mengikuti dorongan tersebut.

Selvara refleks melangkah maju satu langkah tepat saat makhluk itu melintas cepat di samping tubuhnya sebelum menghantam dinding belakang keras.

Brak!

Seluruh sisi kelas langsung runtuh sebagian. Kabut hitam meledak keluar dari retakan tembok seperti asap yang kehilangan bentuk. Dan bersamaan dengan itu, suara perempuan di kepala Selvara terdengar sekali lagi.

Lompat. Tanpa sadar Selvara langsung menoleh ke arah jendela pecah.

Dan untuk pertama kalinya, perempuan di sisi seberang itu mengangguk kecil ke arahnya.

“Sel?!” Theo langsung sadar dengan ekspresinya. “Kamu lihat apa?”

Namun Selvara bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang sedang ia rasakan sekarang.

Karena semakin lama, suara itu terasa semakin nyata. Bukan seperti halusinasi. atau seperti bisikan distorsi.

Melainkan seseorang dan entah kenapa, ia merasa perempuan itu sedang mencoba menolong mereka keluar dari tempat ini. Ruangan kelas itu terus bergetar semakin kuat sementara retakan hitam menyebar di seluruh dinding seperti sesuatu dari dalam sedang merobek paksa bentuk distorsi yang sejak tadi menahan mereka di tempat ini. Kabut gelap bergerak liar memenuhi langit-langit kelas, bercampur dengan serpihan hitam yang terus terlepas dari tubuh makhluk siswi tadi.

Namun di tengah semua kekacauan itu, perhatian Selvara tetap tertahan pada perempuan di sisi seberang jendela.Samar dan Jauh.

Namun terasa terlalu nyata untuk disebut ilusi.

Rambut panjang hitamnya bergerak pelan tertiup angin hujan, sementara matanya terus tertuju lurus ke arah Selvara tanpa berpindah sedikit pun. Dan anehnya, setiap kali Selvara melihat sosok itu, rasa takut yang sejak tadi menekan dadanya perlahan mulai mereda sedikit demi sedikit.

Seolah keberadaan perempuan itu sendiri membuat tempat ini tidak terasa sepenuhnya gelap.

“Sel!” Theo kembali memanggil lebih keras sambil mencoba menahan tubuhnya tetap seimbang di tengah lantai kelas yang mulai retak. “Fokus dulu!”

Selvara akhirnya tersadar kembali saat suara runtuhan terdengar dari sisi belakang ruangan. Salah satu bagian langit-langit mulai hancur dan jatuh menghantam deretan meja dengan suara keras sampai debu langsung memenuhi udara.

Vio langsung menutup kepala refleks. “Aku benar-benar nggak mau mati ketimpa kelas sendiri…”

“Kalau selamat, aku traktir makan,” balas Theo cepat sambil menarik Vio menjauh dari reruntuhan.

“Janji?”

“Iya.”

“Catat ya Sel.”

Meski situasi di sekitar mereka semakin kacau, percakapan kecil itu tetap berhasil membuat Selvara menahan senyum tipis refleks. Bahkan Lyara sempat menghembuskan nafas kecil seperti menahan tawa sebelum kembali melihat ke arah makhluk siswi yang tubuhnya mulai semakin tidak stabil.

Dan justru di saat seperti itulah Selvara sadar sesuatu.

Mereka semua takut.

Sangat takut.

Namun tidak ada satu pun yang meninggalkan yang lain.

Makhluk siswi itu kembali bergerak pelan di tengah kabut hitam. Tubuhnya terlihat semakin rusak sekarang, seperti bayangan yang perlahan kehilangan bentuk setiap kali retakan cahaya di jendela membesar.

Mata hitam kosongnya masih terus tertuju pada Selvara.

Namun kali ini tidak hanya terasa menyeramkan.

Ada sesuatu lain di sana.

Seperti rasa marah.

Atau mungkin putus asa.

“…jangan pergi…”

Suaranya terdengar jauh lebih pelan dibanding sebelumnya.

Dan untuk pertama kalinya, suaranya terdengar hampir seperti seseorang yang benar-benar ketakutan.

Vio langsung menegang. “Kenapa sekarang aku malah kasihan…”

“Karena dia ngomong kayak manusia,” jawab Theo pelan.

“Tapi dia juga nyoba bunuh kita.”

“Iya, itu bagian yang bikin susah simpati.”

Jawaban Theo langsung membuat Vio mengangguk cepat setuju.

Namun Selvara sendiri tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya dari makhluk itu.

Karena semakin lama tubuhnya hancur, semakin terlihat kalau sosok tersebut dulunya benar-benar manusia biasa.

Atau setidaknya pernah menjadi manusia.

Lalu tiba-tiba suara perempuan di kepala Selvara terdengar lagi.

Cepat.

Dan pada saat yang sama, retakan besar muncul di lantai tepat di bawah mereka.

Krakkk!

Theo langsung menarik Vio mundur sementara Lyara refleks memegang tangan Selvara sebelum lantai tempat mereka berdiri runtuh sebagian ke bawah.

Kabut hitam langsung keluar dari retakan tersebut seperti asap pekat yang selama ini tertahan di bawah kelas.

Selvara bisa melihat sesuatu bergerak di dalam gelap bawah sana.

Banyak.

Terlalu banyak.

“Kita harus keluar sekarang!” seru Theo lebih keras kali ini.

Tidak ada yang membantah.

Mereka langsung bergerak menuju jendela pecah yang sekarang menjadi satu-satunya jalan keluar. Angin hujan langsung terasa jauh lebih jelas setiap kali mereka mendekat, membawa aroma air dan udara dingin yang terasa sangat normal dibanding seluruh tempat ini.

Dan justru karena itu, rasanya hampir tidak nyata.

Namun tepat sebelum mereka mencapai jendela, makhluk siswi tadi mendadak bergerak lagi.

Tubuhnya melesat cepat di tengah kabut hitam sambil mengulurkan tangan panjangnya ke arah Selvara.

Vio langsung berteriak kecil panik.

Theo refleks berbalik.

Namun sekali lagi, perasaan dingin itu muncul lebih dulu di kepala Selvara.

Kanan.

Tubuhnya langsung bergerak mengikuti insting tersebut tanpa berpikir. Selvara menarik Lyara ke samping tepat saat tangan hitam itu melewati udara di depan wajah mereka sebelum menghantam bingkai jendela keras.

Brak!

Seluruh retakan cahaya langsung membesar.

Dan pada saat yang sama, suara jeritan makhluk itu memenuhi seluruh ruangan.

Tubuhnya mulai pecah semakin cepat sekarang.

Serpihan hitam beterbangan di udara seperti abu yang tertiup angin hujan dari sisi seberang.

Selvara langsung melihat ke arah perempuan di luar sana lagi.

Dan kali ini, untuk sepersekian detik, ia bisa melihat wajahnya jauh lebih jelas.

Wajah muda dengan ekspresi yang terlihat tenang, sementara matanya memantulkan cahaya samar seperti permukaan air hujan di malam hari. Tatapannya tidak terasa dingin ataupun menyeramkan. 

Justru terasa seperti seseorang yang sejak tadi mencoba menenangkan dirinya dari kejauhan.

Lalu perempuan itu perlahan mengangkat tangannya ke arah jendela.

Dan seluruh retakan cahaya akhirnya runtuh sepenuhnya.

Seluruh retakan cahaya di jendela akhirnya runtuh bersamaan.

Suara pecahan kaca kembali memenuhi ruangan sementara cahaya putih terang langsung menelan seluruh sisi kelas tempat mereka berdiri. Selvara refleks memejamkan mata beberapa detik karena silau yang tiba-tiba memenuhi pandangannya.

Lalu suara hujan terdengar jauh lebih jelas.

Bukan gema samar seperti sebelumnya, melainkan hujan sungguhan. Rintik air yang menghantam kaca sekolah, suara angin sore dari luar gedung dan samar aktivitas kota yang akhirnya kembali terdengar dari kejauhan.

Semua suara normal itu terasa hampir membuat dada Selvara sesak.

Karena baru sekarang ia sadar betapa sunyinya distorsi tadi.

“Keluar!” teriak Theo cepat.

Tidak ada yang menunggu lebih lama.

Theo langsung melompat lebih dulu melewati retakan jendela sambil menarik Vio setelahnya. Lyara ikut bergerak cepat, sementara Selvara jadi orang terakhir yang masih berdiri di dalam kelas yang perlahan mulai runtuh.

Kabut hitam terus bergerak liar memenuhi langit-langit dan retakan di lantai semakin membesar setiap detiknya. Makhluk siswi tadi masih berdiri di tengah ruangan dengan tubuh yang hampir sepenuhnya hancur menjadi serpihan hitam.

Namun anehnya, ia tidak lagi bergerak mengejar.

Matanya yang kosong masih tertuju lurus ke arah Selvara dan untuk sepersekian detik, wajahnya terlihat jauh lebih manusia dibanding sebelumnya.

“…tolong…”

Suaranya terdengar kecil dan pelan, kali ini tidak terdengar seperti ancaman.

Tubuh Selvara langsung menegang.

Ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin berhenti dan mendengar lebih jauh.

Namun sebelum sempat berpikir terlalu lama, suara perempuan tadi kembali muncul samar di kepalanya.

Sekarang.

Lantai kelas kembali retak keras.

Krakkk!

Selvara akhirnya langsung bergerak dan melompati jendela pecah itu tepat saat seluruh bagian belakang kelas runtuh ke dalam kabut hitam.

Angin hujan langsung menerpa wajahnya begitu ia jatuh ke sisi seberang.

Dan beberapa detik kemudian, semuanya mendadak sunyi.

Tidak ada kabut hitam, bisikan ataupun tidak ada suara retakan.

Hanya lorong sekolah biasa dengan lampu putih yang menyala normal dan suara hujan sore di luar gedung.

Vio langsung terduduk di lantai sambil memegang dadanya sendiri. “Aku hidup…”

Theo yang berdiri dekat dinding menghembuskan nafas panjang sambil mengusap wajahnya kasar. “Aku juga masih nggak percaya.”

Bahkan Lyara terlihat sedikit limbung sekarang, seolah seluruh tenaganya habis setelah keluar dari distorsi tadi.

Sementara Selvara masih diam.

Tatapannya perlahan kembali melihat ke arah jendela kelas tempat mereka keluar beberapa detik lalu. Namun sekarang jendelanya normal dan juga utuh.

Tidak ada retakan cahaya atau lorong hitam di baliknya.

Dan saat Theo perlahan membuka pintu kelas itu untuk memastikan isi ruangan, yang terlihat hanyalah kelas biasa yang kosong dan bersih tanpa noda hitam maupun reruntuhan sedikit pun.

Vio langsung berdiri cepat. “Tidak. Aku menolak masuk lagi.”

“Aku cuma lihat,” jawab Theo.

“Lihat dari jauh aja.”

Theo akhirnya menutup kembali pintu kelas tersebut pelan sebelum bersandar ke dinding sambil menghembuskan nafas panjang lagi.

“…jadi kita beneran keluar?”

Lyara perlahan mengangguk kecil.

“Iya.”

Jawabannya terdengar pelan, namun untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, suaranya terdengar sedikit lebih lega.

Selvara akhirnya berjalan mendekat ke jendela lorong dan melihat keluar.

Hujan masih turun rintik-rintik di halaman sekolah. Lampu kota terlihat normal dari kejauhan dan suara kendaraan dari jalan utama akhirnya kembali terdengar jelas.

Semuanya terlihat biasa.

Terlalu biasa.

Namun justru itu yang membuat perasaan di dadanya terasa aneh.

Karena setelah semua yang baru saja mereka alami, dunia normal sekarang terasa sedikit berbeda.

“Sel.”

Suara Theo membuatnya menoleh.

Theo terlihat memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan, “Kamu tadi lihat sesuatu ya?”

Pertanyaan itu langsung membuat Lyara ikut menoleh cepat. Vio juga terlihat langsung penasaran sekarang meski wajahnya masih pucat.

Selvara terdiam beberapa saat.

Ia bisa saja bilang tidak dan menganggap semuanya hanya bagian dari distorsi tadi.

Namun bayangan perempuan di balik retakan cahaya itu masih terlalu jelas di kepalanya.

Wajah muda dengan tatapan yang terlihat tenang, sementara matanya memantulkan cahaya samar seperti permukaan air hujan di malam hari. Dan cara perempuan itu melihat dirinya tadi terasa terlalu nyata untuk disebut ilusi biasa.

“…ada seseorang di balik jendela,” jawab Selvara pelan akhirnya.

Suasana langsung kembali sunyi beberapa detik.

Theo mengernyit kecil. “Seseorang?”

Selvara mengangguk.

“Aku nggak tahu siapa.”

“Tapi dia… nolong kita keluar.”

Hujan di luar terus turun pelan sementara lampu lorong memantulkan cahaya samar di lantai sekolah yang basah.

Dan tanpa mereka sadari, di salah satu jendela lantai atas gedung sekolah, sesosok bayangan samar masih berdiri diam memperhatikan mereka dari kejauhan.

Tidak ada satu pun dari mereka yang langsung bergerak setelah percakapan itu selesai. 

Hujan di luar masih turun pelan membasahi halaman sekolah sementara suara kendaraan dari jalan utama terdengar samar dari kejauhan. Semua terasa normal lagi, namun justru itu yang membuat suasana di antara mereka terasa sedikit aneh.

Seolah mereka baru saja kembali dari tempat yang tidak seharusnya ada.

Vio jadi orang pertama yang akhirnya memecah suasana. Ia masih duduk di lantai sambil memegang dadanya sendiri sebelum akhirnya mengangkat kepala pelan ke arah Theo.

“Kak Theo.”

“Hm?”

“Kalau besok aku bilang mau pindah sekolah, tolong dukung aku.”

Theo langsung menghela nafas kecil sambil menyandarkan kepala ke dinding. “Aku sendiri mulai mikir cari sekolah online.”

“Aku serius.”

Lihat selengkapnya