CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #12

The Rain That Stays Long Enough

Chapter 1 - Episode 12 

Hujan malam itu masih turun tanpa tanda akan reda bahkan saat area sekolah mulai jauh lebih sepi dibanding beberapa jam sebelumnya. Lampu ambulans yang tadi memenuhi depan gedung perlahan menjauh satu per satu, meninggalkan pantulan cahaya merah samar di jalan basah dekat gerbang sekolah. Beberapa guru masih terlihat berbicara serius di sekitar gedung timur sementara sebagian siswa lain mulai pulang sambil mengeluh soal hujan, sama sekali tidak sadar kalau sesuatu aneh baru saja terjadi di dalam sekolah mereka sendiri.

Selvara dan yang lain akhirnya berjalan keluar melewati koridor depan dengan langkah yang jauh lebih pelan dari biasanya. Tidak ada yang benar-benar memulai percakapan lebih dulu karena suasana di antara mereka masih terasa berat. Pikiran masing-masing terlalu penuh untuk sekadar bercanda seperti sore tadi.

Vio berjalan paling dekat dengan Theo sambil memeluk tasnya sendiri erat-erat. Rambut pendeknya sedikit berantakan karena lembab udara malam sementara wajahnya terlihat masih tegang sejak keluar dari gedung timur.

“Aku benar-benar nggak bakal bisa tidur malam ini.”

Theo yang berjalan di sampingnya hanya menghembuskan nafas pelan sebelum menjawab, “Kayaknya kita semua sama.”

“Aku serius.”

“Aku juga serius.”

Jawabannya memang terdengar santai, tapi raut wajah Theo jauh lebih lelah dibanding biasanya. Rambut depannya sedikit basah terkena hujan dan sejak tadi ia jadi lebih banyak diam. Tidak ada komentar iseng atau candaan kecil yang biasanya selalu muncul bahkan di situasi paling kacau sekalipun.

Dan anehnya, Selvara langsung sadar ada sesuatu yang berbeda dari Theo sejak mereka keluar dari distorsi tadi.

Seolah ada hal yang belum ia ceritakan.

Beberapa langkah di belakang mereka, Lyara masih sesekali melirik ke arah jendela gedung sekolah. Gerakannya kecil dan terlihat seperti refleks, namun cukup sering sampai akhirnya disadari Selvara.

“Kamu masih takut distorsinya muncul lagi?”

Lyara langsung menoleh pelan sebelum menggeleng kecil.

“…aku takut kalau tadi belum benar-benar selesai.”

Kalimat itu langsung membuat suasana kembali terasa dingin.

Vio spontan mempercepat langkah mendekat ke Selvara. “Tolong jangan ngomong begitu pas hujan masih turun.”

“Aku cuma bilang kemungkinan.”

“Nah itu masalahnya.”

Theo akhirnya tertawa kecil sambil mengusap tengkuknya sendiri. “Vi, kalau panik terus tiap lima menit, energimu nggak habis apa?”

“Karena aku takut dengan konsisten.”

Jawaban itu akhirnya berhasil memancing tawa kecil di antara mereka, meski hanya sebentar. Namun suara kecil seperti itu justru membuat malam terasa sedikit lebih normal setelah semua yang terjadi.

Begitu sampai di depan gerbang sekolah, suasana kota langsung terasa sangat berbeda dibanding beberapa jam lalu. Lampu toko mulai menyala di sepanjang jalan, suara kendaraan terdengar samar dari arah persimpangan dan beberapa orang masih berteduh di halte sambil menunggu hujan reda.

Dunia tetap berjalan seperti biasa.

Dan ironisnya, tidak ada satu pun dari orang-orang itu yang tahu kalau sesuatu aneh baru saja terjadi beberapa meter dari tempat mereka berdiri sekarang.

Selvara berhenti sebentar di dekat lampu jalan depan sekolah. Air hujan menetes pelan dari ujung rambutnya sementara tatapannya turun ke genangan kecil di pinggir trotoar.

Refleks.

Namun kali ini pantulan air hanya memperlihatkan dirinya sendiri.

Tidak ada perempuan misterius.

Tidak ada bayangan lain.

Meski begitu, perasaan aneh di dadanya masih belum hilang sepenuhnya.

“Sel.”

Theo tiba-tiba memanggilnya dari samping.

“Kamu pulang sendiri?”

Selvara mengangguk kecil. “Biasanya.”

Theo sempat diam beberapa detik seperti sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya berkata pelan, “Jangan dulu malam ini.”

Vio langsung mengangguk cepat setuju. “Iya. Tolong jangan bikin kita besok baca berita orang hilang lagi.”

“Aku nggak selemah itu.”

“Masalahnya sekarang bukan soal kuat atau nggak,” jawab Theo sambil menatap ke arah jalan depan sekolah yang mulai sepi karena hujan. “Kita bahkan nggak ngerti apa yang sebenarnya lagi ngincer kita.”

Kalimat itu langsung membuat Selvara diam.

Karena untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, seseorang akhirnya mengatakannya dengan jelas.

Sesuatu memang sedang mencari mereka.

Atau lebih tepatnya…

mencari dirinya.

Hujan turun sedikit lebih deras beberapa saat kemudian sampai suara air mulai memenuhi jalan depan sekolah. Lyara perlahan membuka payung kecilnya sebelum berjalan mendekat ke arah Selvara.

“Kalau mau… kita bisa pulang bareng sampai stasiun.”

Nada suaranya terdengar pelan, namun cukup tulus sampai Selvara sedikit terkejut.

Vio langsung mengangkat tangan cepat. “Aku ikut. Aku nggak mau sendirian.”

Theo ikut membuka payung hitam miliknya sambil menghela nafas kecil. “Yaudah. Sekalian aja.”

Dan tanpa sadar, mereka akhirnya berjalan bersama meninggalkan sekolah di tengah hujan malam yang masih turun perlahan.

Beberapa menit pertama berlalu tanpa banyak percakapan. Hanya suara langkah kaki dan hujan yang menemani mereka di sepanjang trotoar kota malam itu.

Namun tepat saat mereka melewati persimpangan dekat lampu merah, langkah Selvara tiba-tiba terhenti.

Perasaan dingin kecil kembali muncul di tengkuknya.

Samar.

Namun cukup jelas sampai membuat nafasnya sedikit tertahan.

Theo langsung menyadarinya lebih dulu. “Sel?”

Selvara perlahan menoleh ke arah seberang jalan.

Dan di balik halte bus yang hampir kosong itu, sosok perempuan berambut panjang terlihat berdiri diam sambil memandang lurus ke arah mereka dari balik hujan malam.

Setelah mereka melihat pesan kedua muncul dari ponsel Vio, suasana di antara mereka langsung berubah sunyi.

Hujan malam masih turun pelan membasahi trotoar depan stasiun sementara orang-orang di sekitar tetap berlalu-lalang seperti biasa. Beberapa sibuk berteduh di bawah atap toko, sebagian lagi berjalan cepat sambil menundukkan kepala menghindari hujan.

Dunia tetap terlihat normal.

Namun suasana di antara mereka terasa jauh berbeda sekarang.

Theo masih memegang ponsel Vio sambil menatap layar beberapa detik lebih lama. Cahaya putih dari layar ponsel memantul samar di wajahnya yang mulai terlihat serius.

“Aku masih di dalam.”

Kalimat pendek itu terasa jauh lebih mengganggu dibanding pesan pertama.

Karena artinya terlalu jelas.

Kalau pesan itu memang nyata, berarti masih ada seseorang yang belum keluar dari distorsi tadi.

Dan kalau bukan…

berarti sesuatu sedang mencoba membuat mereka percaya begitu.

“Aku nggak suka ini…” gumam Vio pelan sambil merapatkan tasnya ke dada.

Lyara langsung menggeleng kecil. “Jangan dibalas.”

Nada suaranya terdengar cepat kali ini, seperti seseorang yang sudah tahu apa yang bisa terjadi kalau mereka menjawab pesan tersebut.

Theo akhirnya mematikan layar ponsel tanpa mengetik apa pun. “Kita jalan dulu.”

Tidak ada yang membantah.

Mereka langsung kembali berjalan meninggalkan area depan stasiun dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya.

Lyara berjalan paling dekat dengan Selvara sekarang. Jemarinya masih menggenggam gagang payung cukup erat sementara tatapannya beberapa kali bergerak gelisah ke arah sekitar jalan.

“Kamu pernah lihat kasus kayak gini sebelumnya?” tanya Selvara pelan.

Lyara sempat diam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk kecil.

“…kadang distorsi ninggalin sesuatu.”

“Sesuatu?”

“Pesan. Suara. Pantulan.”

Tatapannya turun ke jalan basah di bawah mereka.

“Kayak berusaha bikin orang balik lagi.”

Kalimat itu langsung membuat Theo menghembuskan nafas panjang kecil dari depan.

“Bagus. Sekarang distorsi bisa chat juga.”

“Jangan bercanda dulu…” gumam Vio lemah.

“Aku bercanda supaya nggak ikut panik.”

“Sayangnya itu nggak membantu.”

Meski percakapan kecil itu masih terdengar seperti biasanya, Selvara tahu semuanya mulai benar-benar takut sekarang.

Karena ini pertama kalinya sesuatu dari distorsi mengikuti mereka sampai keluar sekolah.

Mereka akhirnya berhenti di bawah atap minimarket kecil dekat stasiun untuk menghindari hujan yang mulai turun lebih deras. Cahaya putih dari dalam toko membuat suasana terasa sedikit lebih hangat dibanding jalanan luar yang dingin dan basah.

Beberapa pegawai minimarket terlihat sibuk menata rak makanan tanpa memperhatikan mereka sama sekali. Suara mesin kopi otomatis dan lagu pelan dari speaker toko justru membuat semuanya terasa semakin aneh.

Karena dunia normal masih berjalan seperti biasa.

Sementara mereka berdiri di sana sambil memikirkan pesan dari sesuatu yang mungkin bahkan bukan manusia.

Vio langsung duduk di kursi dekat mesin minuman sambil memegang kepalanya sendiri. “Aku capek…”

Theo ikut bersandar di dekat kaca toko sambil melipat tangan. “Hari ini memang terlalu panjang.”

Selvara sendiri masih berdiri dekat pintu masuk sambil memperhatikan hujan di luar. Pantulan lampu kota bergerak samar di genangan jalan sementara suara kendaraan mulai terdengar lebih sedikit dibanding tadi.

Dan di tengah suasana itu, ponsel Theo tiba-tiba bergetar di sakunya.

Ting.

Semua langsung menoleh bersamaan.

Theo perlahan mengeluarkan ponselnya lalu melihat layar beberapa detik.

Ekspresinya langsung berubah datar.

“…serius?”

“Apa lagi?” tanya Vio cepat.

Theo memperlihatkan layar ponselnya ke arah mereka pelan.

Pesan baru.

Dari nomor tidak dikenal.

[Theo.], Hanya satu kata.

Namun cukup membuat suasana di dalam minimarket itu terasa jauh lebih dingin.

Karena sekarang…distorsi itu mulai mengetahui nama mereka.

Suasana di dalam minimarket langsung terasa lebih dingin setelah pesan itu muncul di layar ponsel Theo.

Hujan masih turun di luar kaca toko sementara suara lagu pelan dari speaker minimarket tetap berjalan seperti biasa. Seorang pegawai toko bahkan masih sibuk merapikan rak minuman beberapa meter dari mereka tanpa sadar kalau suasana di dekat pintu masuk mendadak berubah tegang.

Theo masih menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama.

[Theo.]

Hanya satu kata.

Namun justru itu yang membuatnya terasa mengganggu.

Karena pesan itu terlihat terlalu sengaja.

Terlalu sadar.

Vio langsung berdiri dari kursinya sambil mendekat. “Sekarang dia tahu nama kita?”

“Kayaknya iya,” jawab Theo pelan.

“Aku nggak suka cara kamu ngomong kayak itu normal.”

“Aku juga nggak bilang ini normal.”

Lyara terlihat semakin pucat sekarang. Tatapannya beberapa kali bergerak ke arah luar minimarket seperti memastikan tidak ada sesuatu berdiri di tengah hujan.

Selvara sendiri masih diam sambil memperhatikan layar ponsel Theo.

Perasaan dingin kecil kembali muncul di dadanya.

Karena semakin lama, semua ini mulai terasa seperti sesuatu memang sedang memperhatikan mereka sejak awal.

Bukan kebetulan.

Bukan salah tempat.

Namun sengaja mencari mereka satu per satu.

Theo akhirnya mencoba membuka detail nomor pengirim.

Namun hasilnya tetap kosong.

Tidak ada nama.

Tidak ada foto profil.

Bahkan nomor teleponnya terlihat aneh, seperti kumpulan angka yang tidak beraturan.

“Ini nomor apaan…” gumamnya kecil.

Vio langsung mundur setengah langkah. “Tolong jangan bilang nanti HP kita satu-satu mulai kena juga.”

Kalimat itu langsung membuat semua orang refleks melihat ponsel masing-masing.

Dan anehnya, tindakan kecil itu justru membuat suasana terasa semakin tidak nyaman.

Karena sekarang benda biasa seperti ponsel pun mulai terasa mengancam.

“Coba matiin dulu,” ucap Lyara pelan.

Theo menoleh. “HP-nya?”

Lyara mengangguk cepat. “Kalau bisa jangan dibuka dulu.”

Theo akhirnya menahan nafas kecil sebelum mematikan layar ponselnya lalu memasukkannya kembali ke saku jaket.

Beberapa detik setelah itu, suasana perlahan kembali sunyi.

Hanya suara hujan dan mesin pendingin toko yang terdengar samar di sekitar mereka.

Selvara akhirnya berjalan sedikit mendekat ke kaca depan minimarket.

Pantulan lampu jalan terlihat samar di genangan air luar toko sementara beberapa orang masih berlalu-lalang membawa payung.

Normal.

Semuanya terlihat terlalu normal.

Namun justru itu yang membuat pikirannya terasa kacau.

Karena beberapa jam lalu ia masih mengira semua kejadian aneh itu hanya terjadi di dalam distorsi.

Sekarang semuanya mulai ikut keluar bersama mereka.

“Sel.”

Suara Theo membuatnya menoleh lagi.

“Kamu masih lihat perempuan itu?”

Pertanyaan itu langsung membuat Vio ikut diam.

Selvara sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.

“…tadi di halte.”

Lyara langsung mengangkat wajah cepat.

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Dia ngapain?”

Selvara kembali mengingat sosok perempuan di balik hujan tadi malam.

Diam.

Memperhatikan mereka dari seberang jalan.

Dan anehnya, tatapan itu tidak terasa seperti ancaman.

Justru terasa seperti seseorang yang mencoba memastikan sesuatu.

“…dia cuma lihat ke arah kita.”

Theo perlahan mengernyit kecil sambil berpikir.

“Kalau dia emang bagian dari distorsi, kenapa malah bantu kita keluar tadi?”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Karena pertanyaan itu memang terus ada di kepala mereka sejak keluar dari gedung timur.

Vio akhirnya mengusap wajah pelan sambil duduk lagi di kursi dekat mesin minuman.

“Aku capek sama semua misteri ini…”

Theo tertawa kecil samar. “Baru juga mulai.”

“Nah itu yang bikin aku makin capek.”

Untuk sesaat suasana terasa sedikit lebih ringan lagi.

Dan di tengah percakapan kecil itu, Selvara akhirnya sadar satu hal.

Meski semuanya masih takut, tidak ada satu pun dari mereka yang memilih pergi sendirian.

Mereka tetap bertahan di tempat yang sama.

Dan anehnya, perasaan itu sedikit membantu menenangkan kepalanya.

Namun ketenangan kecil tersebut tidak bertahan lama.

Karena lampu minimarket tiba-tiba berkedip sekali.

Ceklek.

Semua refleks langsung diam.

Pegawai toko yang tadi sibuk merapikan barang juga sempat mengangkat kepala bingung sebelum kembali bekerja seperti biasa.

Namun Selvara langsung merasakan sesuatu berubah.

Perasaan dingin di tengkuknya muncul lagi.

Lebih jelas dibanding sebelumnya.

Lampu kembali berkedip..Sekali..Dua kali. 

Dan tepat saat Selvara tanpa sadar melihat ke arah pantulan kaca depan toko nafasnya langsung tertahan. Karena di pantulan tersebut, sosok perempuan berambut panjang sedang berdiri tepat di belakang mereka.

Nafas Selvara langsung tertahan saat melihat pantulan kaca depan minimarket itu.

Perempuan berambut panjang tersebut berdiri tepat di belakang mereka dengan jarak yang dekat, bahkan terasa terlalu dekat sampai membuat tengkuk Selvara langsung dingin seketika. Rambut hitam panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah sementara pakaian pucat yang ia kenakan terlihat basah oleh hujan. Sosoknya tidak bergerak sama sekali dan hanya berdiri diam sambil menatap lurus ke arah Selvara melalui pantulan kaca.

Dan anehnya, tidak ada satu pun orang lain di dalam minimarket yang terlihat menyadarinya.

Lampu toko kembali berkedip pelan.

Ceklek.

Selvara refleks langsung menoleh ke belakang.

Namun yang terlihat hanya rak makanan, mesin kopi dan Vio yang masih duduk sambil memegang minuman dingin di tangannya.

Tidak ada perempuan siapa pun di sana.

“Sel?”

Theo langsung sadar dengan perubahan ekspresinya.

Namun sebelum Selvara sempat menjawab, lampu toko kembali stabil seperti biasa. Suara mesin pendingin terdengar lagi sementara lagu dari speaker minimarket kembali berjalan normal setelah beberapa detik tadi tidak pernah terjadi.

Selvara perlahan menelan nafas kecil sebelum kembali melihat ke arah kaca depan.

Pantulan di sana sekarang hanya memperlihatkan dirinya sendiri, namun detak jantungnya masih terasa jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.

“Kamu lihat dia lagi?” tanya Lyara pelan.

Selvara akhirnya mengangguk kecil.

Vio langsung memejamkan mata sambil bersandar lemas di kursinya. “Aku menyerah. Sekarang dia udah pindah ke minimarket.”

Theo berjalan mendekat ke kaca depan sambil melihat sekitar luar toko beberapa detik. Hujan masih turun stabil di luar dan beberapa kendaraan terus lewat di jalan depan stasiun tanpa ada hal aneh apa pun.

Namun saat Theo kembali menoleh ke Selvara, ekspresinya terlihat sedikit lebih serius.

“Dia ada di mana tadi?”

“Di pantulan kaca.”

“Dekat?”

Selvara diam sebentar sebelum menjawab pelan.

“…tepat di belakang kita.”

Kalimat itu langsung membuat suasana kembali sunyi, bahkan Vio perlahan menjauh sedikit dari kaca minimarket tanpa sadar.

Lyara terlihat menggenggam gagang payungnya semakin erat sekarang. Wajahnya yang sejak tadi pucat terlihat semakin tegang setelah mendengar jawaban Selvara.

“Biasanya mereka nggak keluar sejauh ini…” bisiknya kecil.

Theo langsung menoleh. “Mereka?”

Lyara terlihat terlambat sadar dengan ucapannya sendiri.

Namun kali ini ia tidak langsung menghindar seperti sebelumnya.

“Distorsi biasanya ninggalin jejak.”

Tatapannya perlahan turun ke lantai.

“Tapi kalau sampai mulai muncul di luar pantulan biasa, berarti koneksinya belum putus.”

Suara hujan terdengar semakin jelas di tengah minimarket yang kembali sunyi.

Selvara perlahan mencoba memproses ucapan Lyara di kepalanya.

Koneksi belum putus.

Entah kenapa, kalimat itu terasa jauh lebih mengganggu dibanding semua pesan misterius tadi. Karena kalau memang masih ada hubungan antara mereka dan distorsi itu, berarti semua ini belum benar-benar selesai.

Ting.

Suara notifikasi mendadak kembali terdengar.

Semua refleks langsung menoleh bersamaan.

Namun kali ini bukan dari ponsel Theo.

Melainkan televisi kecil di sudut minimarket yang tiba-tiba menyala sendiri.

Layar berita lokal muncul dengan suara statis samar. Seorang pembawa berita terlihat sedang membacakan laporan malam sambil tersenyum profesional seperti biasa.

Namun gambar di layar tiba-tiba berkedip beberapa kali.

Lalu selama sepersekian detik, wajah pembawa berita berubah menjadi sosok perempuan berambut panjang dengan kulit pucat dan mata yang menatap lurus ke arah layar.

Brak!

Vio refleks berdiri terlalu cepat sampai kursinya bergeser keras.

Pegawai minimarket langsung menoleh bingung ke arah mereka.

Namun anehnya, televisi itu sudah kembali normal. Pembawa berita tadi muncul lagi seperti tidak ada apa-apa.

“...kalian lihat juga kan?” bisik Vio cepat.

Theo masih menatap televisi beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya mengangguk kecil.

“Iya.”

Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Selvara sadar satu hal yang jauh lebih menakutkan dibanding distorsi tadi.

Sekarang bukan hanya dirinya yang bisa melihat perempuan itu.

Dan mungkin, itu berarti perempuan tersebut memang sengaja mulai memperlihatkan dirinya pada mereka semua.

Suasana di dalam minimarket tidak langsung kembali normal setelah itu.

Meski televisi sudah kembali menampilkan berita malam seperti biasa dan pegawai toko mulai kembali sibuk bekerja, rasa dingin yang tadi muncul masih tertinggal jelas di kepala mereka masing-masing.

Vio bahkan masih berdiri dekat kursinya sambil menatap televisi dengan wajah tidak percaya.

“Aku nggak halu kan barusan?” tanya Vio cepat sambil menoleh ke arah yang lain.

Theo mengusap wajah pelan sebelum menjawab, “Kalau kita berempat halu bersamaan, berarti masalahnya udah beda.”

“Aku serius,” balas Vio dengan nada setengah panik.

Theo mengangguk kecil. “Aku juga serius.”

Namun kali ini bahkan Theo sendiri tidak terdengar setenang biasanya. Tatapannya masih beberapa kali bergerak ke arah televisi seolah takut wajah perempuan tadi muncul lagi kapan saja.

Selvara perlahan menjauh dari kaca depan minimarket sambil mencoba menenangkan pikirannya sendiri. Nafasnya masih terasa sedikit berat sejak melihat perempuan itu di pantulan tadi.

Dan semakin lama semuanya terasa semakin aneh.

Awalnya hanya distorsi.

Lalu pantulan.

Pesan misterius.

Sekarang bahkan layar televisi mulai ikut berubah.

Seolah sesuatu perlahan sedang mencoba masuk ke dunia mereka sedikit demi sedikit.

Lyara terlihat menunduk pelan sambil memegang ujung lengan bajunya sendiri.

“Aku nggak pernah lihat separah ini…” bisik Lyara kecil.

Theo langsung menoleh ke arahnya. “Sebelumnya nggak pernah keluar sampai gini?”

Lyara perlahan menggeleng.

“Biasanya distorsi cuma muncul di tempat tertentu,” jawabnya pelan sambil melirik televisi lagi.

“…bukan ikut keluar.”

Kalimat itu kembali membuat suasana terasa berat.

Karena artinya jelas.

Apa yang mereka alami sekarang bukan sesuatu yang normal bahkan bagi distorsi itu sendiri.

Hujan di luar mulai turun lebih deras sampai suara air memenuhi hampir seluruh sisi minimarket. Lampu jalan memantulkan cahaya samar di trotoar basah sementara orang-orang mulai semakin jarang terlihat lewat di depan toko.

Malam perlahan berubah semakin sepi.

Dan anehnya, semakin sepi suasana sekitar, Selvara justru merasa sesuatu semakin dekat.

Ting.

Suara notifikasi mendadak terdengar lagi.

Vio langsung refleks menegang. “Aku benci suara itu sekarang.”

Namun kali ini bukan berasal dari ponsel siapa pun.

Melainkan dari mesin pembayaran otomatis dekat kasir.

Semua langsung menoleh bersamaan.

Layar kecil mesin pembayaran yang tadi normal sekarang berkedip pelan sendiri.

Sekali.

Dua kali.

Lalu muncul tulisan samar di layar birunya.

[LIHAT KE LUAR.]

Nafas Selvara langsung tertahan.

Kasir minimarket yang berdiri tepat di sebelah mesin itu sama sekali tidak bereaksi apa pun. Ia masih sibuk memasukkan stok rokok ke rak tanpa sadar layar mesin di sampingnya baru saja berubah sendiri.

“...kalian lihat itu kan?” bisik Vio cepat sambil menarik pelan ujung lengan Theo.

Theo mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari layar mesin.

Dan entah kenapa, kali ini tidak ada satu pun dari mereka yang langsung bergerak mendekat.

Tulisan di layar mesin perlahan berkedip sekali lagi.

[LIHAT KE LUAR.]

Wajah Lyara langsung berubah pucat.

“Jangan…” ucap Lyara cepat dengan suara kecil.

Namun sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya, Selvara tanpa sadar sudah menoleh ke arah luar minimarket.

Dan tepat di seberang jalan, perempuan berambut panjang itu kembali berdiri di bawah hujan.

Kali ini sosoknya terlihat jauh lebih jelas dibanding sebelumnya.

Tubuhnya tampak pucat di bawah cahaya lampu jalan malam sementara rambut hitam panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah. Ia berdiri diam di tengah trotoar kosong sambil menatap lurus ke arah minimarket. Namun yang membuat dada Selvara langsung terasa dingin, perempuan itu perlahan mengangkat tangannya. Dan menunjuk ke arah belakang Selvara.

Tubuh Selvara langsung menegang saat melihat perempuan itu masih berdiri di bawah hujan sambil menunjuk lurus ke arahnya, atau lebih tepatnya ke sesuatu yang berada di belakang mereka.

Perasaan dingin langsung menjalar pelan di tengkuk Selvara dan kali ini rasa takutnya terasa jauh lebih nyata dibanding saat berada di dalam distorsi tadi. Karena sekarang mereka sedang berdiri di tempat normal, di tengah minimarket kecil dekat stasiun, namun sosok perempuan itu masih bisa muncul dengan jelas seolah batas antara distorsi dan dunia biasa perlahan mulai menghilang.

“Sel…” panggil Theo pelan dari sampingnya.

Nada suaranya terdengar lebih serius sekarang.

Selvara perlahan menoleh sedikit ke arah Theo tanpa melepas pandangan dari luar minimarket. Theo terlihat berdiri lebih dekat sambil menatap ke arah yang sama dan dari ekspresinya saja Selvara langsung tahu satu hal.

Theo juga bisa melihat perempuan itu kali ini.

“…dia masih di sana,” gumam Theo kecil.

Vio yang mendengar ucapan itu langsung refleks mendekat cepat. “Jangan bilang kalian lihat dia lagi.”

Lyara langsung berdiri dari tempat duduknya sambil menggenggam payungnya lebih erat. “Jangan lihat terlalu lama,” ucap Lyara cepat dengan suara tegang.

Namun semuanya sudah terlambat.

Karena tepat saat Selvara kembali melihat ke luar, perempuan itu perlahan menurunkan tangannya lalu menggerakkan kepala sedikit, seolah memberi isyarat kecil agar mereka melihat ke belakang.

Nafas Selvara langsung terasa berat.

Dan sebelum dirinya sempat berpikir lebih jauh, tubuhnya sudah refleks menoleh ke arah belakang. Namun yang terlihat hanya lorong minimarket biasa dengan rak makanan, kulkas minuman, mesin kopi dan kasir yang masih sibuk bekerja seperti tidak ada sesuatu yang aneh.

Vio langsung menghembuskan nafas lega panjang. “Astaga… jangan bikin jantungku berhenti gitu.”

Namun Lyara justru terlihat semakin pucat sekarang.

Tatapannya masih tertahan ke arah belakang mereka dan itu langsung membuat perasaan tidak nyaman Selvara muncul lagi.

“Lyara?”

Lyara tidak langsung menjawab. Matanya perlahan bergerak ke arah lantai minimarket beberapa meter di belakang Theo sebelum akhirnya ia berkata pelan dengan suara hampir seperti bisikan,

“…itu nggak ada tadi.”

Theo langsung menoleh cepat. “Apa?”

Lyara perlahan mengangkat tangannya menunjuk ke arah lantai dekat rak makanan.

Dan saat semuanya mengikuti arah pandangnya, suasana di dalam minimarket langsung terasa membeku. Ada jejak air di lantai. Bukan sekadar tetesan kecil biasa, melainkan jejak langkah basah yang memanjang dari arah pintu masuk minimarket sampai ke belakang mereka.

Dan yang membuat dada Selvara langsung terasa dingin, jejak itu berhenti tepat di tempat mereka berdiri sekarang. Tidak ada jejak keluar atau  jejak tambahan lain. Seolah seseorang baru saja berdiri sangat dekat dengan mereka beberapa detik lalu sebelum menghilang begitu saja.

Vio langsung mundur setengah langkah sambil memegang lengan Theo erat-erat. “Aku nggak suka ini…”. Theo sendiri mulai terlihat tegang sekarang meski masih mencoba tetap tenang. Tatapannya bergerak pelan mengikuti jejak air di lantai.

“Kasirnya nggak lihat?”

Kasir minimarket masih sibuk bekerja seperti biasa tanpa menunjukkan reaksi apa pun. Tidak ada ekspresi bingung atau rasa heran di wajahnya, seolah jejak air itu memang tidak terlihat oleh siapapun selain mereka. Selvara perlahan kembali menoleh ke arah luar minimarket. Dan seperti yang ia takutkan, perempuan berambut panjang itu sudah tidak ada lagi di seberang jalan. Yang tersisa hanya hujan, lampu jalan dan trotoar kosong yang basah oleh air malam. Namun beberapa detik kemudian, televisi kecil di sudut minimarket kembali berkedip pelan.

Ceklek.

Layar berita mendadak berubah menjadi statis hitam putih sementara suara kresek samar memenuhi ruangan. Lalu di tengah layar yang dipenuhi noise tersebut, perlahan muncul tulisan putih kecil.

[JANGAN PULANG SENDIRI.]

Suara statis dari televisi kecil itu masih terdengar samar memenuhi minimarket sementara tulisan putih di tengah layar tetap menyala tanpa berubah sedikit pun.

[JANGAN PULANG SENDIRI.]

Hujan di luar semakin deras dan pantulan cahaya lampu jalan mulai terlihat kabur di kaca depan toko. Suasana malam yang tadi hanya terasa dingin sekarang berubah jauh lebih menyesakkan.

Vio langsung memegang kepala pelan. “Oke… aku resmi nggak mau pulang.”

Theo masih menatap layar televisi beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya menghembuskan nafas berat. “Aku mulai yakin sesuatu memang sengaja ngomong sama kita.”

“Masalahnya sekarang itu sesuatu siapa…” gumam Vio cepat.

Lyara masih terlihat pucat sejak tadi. Tatapannya berpindah pelan antara televisi dan jejak air di lantai minimarket yang perlahan mulai memudar sedikit demi sedikit.

Dan justru itu yang terasa menyeramkan.

Karena jejak tersebut benar-benar ada beberapa detik lalu.

Selvara berdiri diam sambil mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

Namun semakin lama, semuanya terasa semakin sulit dipahami.

Perempuan misterius itu beberapa kali muncul dan anehnya tidak pernah benar-benar menyerang mereka.

Bahkan pesan terakhir di televisi tadi terdengar lebih seperti peringatan dibanding ancaman.

[JANGAN PULANG SENDIRI.]

Kalimat itu terus terulang di kepala Selvara.

“Sel…”

Theo memanggilnya pelan lagi.

“Kita jangan berpencar malam ini.”

Vio langsung mengangguk cepat sebelum Selvara sempat menjawab. “Iya. Serius. Aku nggak peduli besok telat atau apa, pokoknya jangan ada yang pulang sendirian.”

Selvara sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.

“…iya.”

Jawaban singkat itu justru sedikit membuat suasana di antara mereka lebih tenang.

Karena sejak tadi tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tahu harus melakukan apa.

Dan untuk sekarang, tetap bersama terasa seperti satu-satunya pilihan aman.

Televisi di sudut minimarket akhirnya kembali normal beberapa detik kemudian. Tulisan putih tadi menghilang dan berita malam kembali berjalan seperti biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Host berita di layar masih membacakan laporan cuaca sambil tersenyum profesional. Itu normal...terlalu normal.

Theo akhirnya berjalan mendekat ke mesin minuman sambil mengambil empat botol air mineral dingin dari rak bawah. “Ambil dulu. Kepala kita udah terlalu panas buat mikir.”

Vio menerima botol minumannya dengan nafas masih terengah-engah. “Aku lebih takut bukan panas, tapi kena serangan jantung.” 

“Itu bonus.”

“Theo.”, 

“Oke, maaf.”

Meski percakapan kecil itu terdengar ringan, Selvara bisa melihat jelas kalau Theo sebenarnya juga mulai tegang sekarang. Cara matanya beberapa kali bergerak ke arah pintu minimarket dan refleks kecil saat suara notifikasi muncul tadi tidak terlihat seperti dirinya yang biasa.

Dan tanpa sadar, Selvara kembali teringat ucapan perempuan di televisi tadi.

Jangan pulang sendiri.

Lyara tiba-tiba mengangkat wajah pelan.

“…kalau dia benar-benar mau nyakitin kita, tadi dia bisa aja langsung lakukan sesuatu.”

Theo menoleh kecil. “Maksudmu?”

Lyara terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan.

“Aku nggak tahu… tapi rasanya dia bukan cuma ngikutin.”

Tatapannya perlahan bergerak ke arah kaca depan minimarket yang dipenuhi titik air hujan.

“…kayak lagi nyoba ngasih tahu sesuatu.”

Kalimat itu langsung membuat Selvara diam.

Karena jauh di dalam pikirannya, ia juga mulai merasakan hal yang sama.

Perempuan itu selalu muncul sebelum sesuatu terjadi.

Dan sejauh ini, kemunculannya justru terasa seperti peringatan.

Bukan ancaman.

Namun sebelum siapa pun sempat melanjutkan pembicaraan, lampu minimarket mendadak meredup sekali.

Bukan berkedip.

Melainkan seperti listrik di seluruh ruangan tiba-tiba melemah selama beberapa detik.

Suara mesin pendingin ikut melambat.

Lagu dari speaker terdengar rusak.

Dan hawa dingin langsung memenuhi minimarket.

Selvara refleks mengangkat kepala.

Perasaan aneh itu muncul lagi.

Lebih kuat dibanding sebelumnya.

Lalu dari arah luar minimarket, terdengar suara ketukan pelan di kaca depan toko.

Tok.

Semua langsung membeku.

Tok.

Tok.

Perlahan, Theo menoleh ke arah pintu masuk.

Dan tepat di balik kaca minimarket yang dipenuhi hujan malam itu, sesosok laki-laki berdiri diam sambil menundukkan kepala.

Seragam sekolahnya basah kuyup.

Wajahnya pucat.

Dan salah satu lengannya terlihat penuh noda hitam seperti terbakar sesuatu.

Vio langsung menggenggam lengan Theo erat. “...siapa itu?”

Namun sebelum Theo sempat menjawab, laki-laki itu perlahan mengangkat wajahnya.

Dan tepat saat cahaya minimarket mengenai wajahnya dengan jelas, Lyara langsung mundur satu langkah dengan nafas gemetar.

“…nggak mungkin.”

Suasana di dalam minimarket langsung berubah sunyi setelah Lyara mundur dengan nafas gemetar.

“…nggak mungkin.”

Suaranya terdengar pelan, namun cukup jelas untuk membuat Theo dan yang lain langsung menoleh cepat ke arahnya.

Laki-laki di balik kaca minimarket itu masih berdiri diam di tengah hujan. Seragam sekolahnya basah kuyup sementara noda hitam di salah satu lengannya terlihat semakin jelas di bawah cahaya lampu toko.

Dan semakin lama Selvara melihat wajahnya, semakin terasa aneh.

Karena ekspresi laki-laki itu kosong.

Terlalu kosong.

Seperti seseorang yang berdiri di sana tanpa benar-benar sadar dirinya ada di tempat itu.

“Lyara… kamu kenal dia?” tanya Theo pelan.

Lyara tidak langsung menjawab.

Tatapannya masih tertahan ke arah luar minimarket dengan wajah yang perlahan kehilangan warna.

“…dia harusnya udah hilang.”

Kalimat itu langsung membuat hawa dingin di dalam minimarket terasa semakin berat.

Vio refleks menoleh kembali ke arah laki-laki di luar kaca. “Tunggu… maksudmu hilang kayak kasus orang-orang itu?”

Lyara perlahan menggigit bibir bawahnya sendiri sebelum akhirnya mengangguk kecil.

Dan jawaban kecil itu saja sudah cukup membuat suasana berubah semakin tidak nyaman.

Hujan terus turun membasahi jalan malam sementara laki-laki itu masih berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun.

Tok.

Tok.

Ia kembali mengetuk kaca minimarket pelan.

Dan kali ini semua orang bisa melihat sesuatu yang aneh.

Tangan yang digunakan untuk mengetuk kaca terlihat sedikit gelap di ujung jarinya, seperti bayangan hitam yang perlahan merambat di bawah kulit.

Theo langsung berdiri sedikit lebih depan tanpa sadar, refleks kecil seperti sedang melindungi mereka semua.

“…dia manusia kan?” gumam Vio pelan.

Namun tidak ada yang bisa langsung menjawab.

Laki-laki itu perlahan mengangkat kepalanya sedikit lebih tinggi.

Matanya terlihat kosong.

Lelah.

Dan entah kenapa terasa seperti seseorang yang sudah berjalan terlalu lama di tempat gelap tanpa pernah benar-benar bisa keluar.

Lyara perlahan melangkah mendekat ke arah pintu kaca minimarket.

“Kamu…”

Suaranya terdengar jauh lebih pelan sekarang.

Dan untuk pertama kalinya sejak laki-laki itu muncul, ekspresinya berubah sedikit.

Bukan marah.

Bukan menyeramkan.

Namun seperti seseorang yang sedang mencoba memperingatkan sesuatu.

Lalu secara perlahan, laki-laki itu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah dalam minimarket.

Tepat ke arah belakang mereka.

Vio langsung refleks menoleh cepat. “Astaga, kenapa semuanya suka nunjuk ke belakang sih?!”

Namun saat semuanya ikut melihat ke belakang, yang terlihat tetap hanya minimarket biasa.

Rak makanan.

Kulkas minuman.

Kasir.

Dan lorong kecil menuju gudang belakang toko.

Theo perlahan mengernyit kecil.

“…tunggu.”

Tatapannya tertahan ke arah lorong gudang belakang.

Lampu di area itu terlihat berkedip samar sementara pintu gudangnya sedikit terbuka.

Padahal sejak tadi Selvara yakin pintu itu tertutup rapat.

Perasaan dingin langsung muncul lagi di dada Selvara.

Sementara di luar kaca, laki-laki itu perlahan mulai mundur satu langkah.

Hujan membasahi wajah pucatnya sementara noda hitam di lengannya terlihat semakin menyebar.

“Tunggu!” panggil Lyara refleks sambil mendekat ke pintu minimarket.

Namun tepat saat tangannya hampir menyentuh gagang pintu kaca, laki-laki itu langsung menggeleng cepat.

Jangan keluar.

Meski tidak ada suara yang terdengar, pesan itu terasa sangat jelas dari ekspresinya.

Dan tepat beberapa detik setelah itu, seluruh lampu minimarket mendadak mati bersamaan.

Brak.

Gelap langsung memenuhi seluruh minimarket dalam sekejap sampai suara hujan di luar terdengar jauh lebih jelas dibanding sebelumnya.

Vio langsung refleks memegang lengan Theo erat. “Tidak. Tidak. Aku benar-benar nggak suka ini.”

“Tenang,” jawab Theo cepat meski nafasnya sendiri terdengar sedikit tidak stabil sekarang.

Beberapa detik kemudian lampu darurat merah kecil akhirnya menyala samar di langit-langit minimarket. Cahaya redup itu membuat seluruh ruangan berubah gelap kemerahan dengan bayangan panjang di antara rak makanan dan kulkas minuman.

Suasananya langsung terasa jauh lebih menyeramkan dibanding tadi.

Selvara refleks melihat ke arah pintu depan minimarket.

Laki-laki tadi masih berdiri di luar.

Namun sekarang sosoknya terlihat jauh lebih samar di balik hujan deras dan cahaya merah redup dari dalam toko.

Dan yang membuat dada Selvara langsung terasa dingin, laki-laki itu masih terus menunjuk ke arah belakang mereka.

Tepat ke arah lorong gudang minimarket.

Theo langsung menyadarinya juga.

“…dia nyuruh kita lihat ke sana.”

Vio langsung menggeleng cepat sambil mundur sedikit. “Aku nolak secara mental.”

Lyara terlihat menggigit bibir bawahnya pelan sambil terus memperhatikan laki-laki di luar kaca.

“Ada sesuatu di belakang…” bisiknya kecil.

Lampu merah darurat berkedip sekali.

Dan tepat setelah itu, terdengar suara pelan dari arah lorong gudang.

Kreek.

Suara pintu bergerak perlahan.

Semua langsung diam.

Selvara bisa mendengar suara hujan, detak jantungnya sendiri dan nafas kecil Vio yang mulai tidak stabil.

Lalu suara itu muncul lagi.

Kreek.

Kali ini lebih jelas.

Pintu gudang belakang benar-benar bergerak sendiri.

Theo perlahan melangkah maju satu langkah sambil menatap ke arah lorong gudang.

“Jangan,” ucap Lyara cepat.

Namun Theo tetap tidak berhenti.

“Kalau ada orang di belakang sana gimana?”

Lyara langsung menjawab dengan suara lebih pelan namun jauh lebih serius. “Kalau itu bukan orang gimana?”

Kalimat itu langsung membuat suasana kembali membeku.

Selvara perlahan ikut melihat ke arah lorong belakang minimarket.

Lihat selengkapnya