CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #13

The Thread Beneath the Rain

Chapter 1 - Episode 13 

Masih di malam yang sama...

Hujan masih turun pelan saat mereka akhirnya keluar dari minimarket itu.

Pintu otomatis di belakang mereka terbuka lalu menutup sendiri dengan suara kecil yang terasa aneh di tengah suasana malam yang terlalu sunyi. Jalanan Asterveil tampak jauh lebih sepi dibanding biasanya, sementara cahaya lampu jalan memantul samar di trotoar basah yang dipenuhi genangan air tipis.

Theo berjalan paling depan sambil beberapa kali menoleh ke belakang.

“Jadi...” Ia mengusap rambutnya yang sedikit basah sebelum melanjutkan pelan. “Kita semua setuju buat pura-pura nggak ada yang aneh barusan?”

Vio langsung menatapnya tidak percaya. “Theo, ada orang matanya item semua di dalam minimarket.”

“Iya, aku tahu.” Theo menunjuk dirinya sendiri cepat. “Makanya aku lagi nyoba denial.”

Selvara yang berjalan di samping Vio akhirnya menghembuskan nafas kecil. “Jujur aja... aku juga masih bingung harus mikir apa.”

Dan memang benar.

Kepala Selvara masih terasa penuh sejak mereka keluar dari minimarket tadi.

Suara statis dari televisi.

Tulisan aneh di layar.

Sampai sosok laki-laki yang berubah di dalam lorong minimarket itu masih terus teringat jelas di kepalanya.

Apalagi langkah kaki tadi...

Tok.

Tok.

Tok.

Masih terasa terlalu nyata.

Lyara berjalan sedikit di belakang mereka sejak tadi sambil sesekali melihat sekitar jalan dengan ekspresi jauh lebih tenang dibanding yang lain. Namun justru itu yang membuat Selvara beberapa kali diam-diam memperhatikannya.

Karena sejak awal...

Lyara tidak terlihat terlalu terkejut.

Takut, iya.

Tegang juga jelas.

Namun bukan seperti seseorang yang baru pertama kali melihat hal seperti itu.

Dan sebelum Selvara sempat bertanya apa pun, Theo tiba-tiba berhenti berjalan.

“Eh.”

Vio hampir menabrak punggungnya. “Kenapa?”

Theo menunjuk kecil ke depan jalan.

Kabut tipis mulai turun perlahan dari ujung gang sempit di sisi kiri trotoar.

Awalnya terlihat biasa.

Namun beberapa detik kemudian, lampu jalan di dekat gang itu mulai berkedip pelan.

Sekali.

Dua kali.

Lalu redup lebih lama dari seharusnya.

Suasana langsung berubah sunyi.

Suara kendaraan dari jalan utama terasa menjauh, sementara hawa dingin perlahan mulai memenuhi udara di sekitar mereka.

Vio refleks memegang ujung lengan Selvara. “...jangan bilang mulai lagi.”

Theo menelan ludah kecil sambil memaksakan senyum tipis. “Aku rasa kota ini beneran nggak suka kita pulang dengan tenang.”

Selvara ikut melihat ke arah gang tersebut.

Kabut itu terasa berbeda sekarang.

Bukan seperti kabut malam biasa.

Ada sesuatu di dalamnya.

Sesuatu yang membuat tengkuknya terasa dingin tanpa alasan jelas.

Dan anehnya...

semakin lama ia melihat ke arah sana, semakin samar suara di sekitar mereka mulai menghilang.

Lyara langsung menyadarinya lebih dulu.

“Jangan lihat terlalu lama,” ucapnya pelan sambil melangkah sedikit lebih depan.

Theo langsung menoleh cepat. “Kamu ngomong kayak orang yang tahu tutorial game-nya.”

Lyara terlihat diam sepersekian detik sebelum akhirnya menjawab pelan, “Karena distorsi biasanya mulai dari persepsi.”

Kalimat itu langsung membuat Theo berhenti bercanda.

Selvara sedikit mengernyit. “Distorsi?”

Lyara seperti baru sadar telah bicara terlalu jauh.

Namun sebelum ia sempat menjelaskan, suara langkah kembali terdengar dari arah gang.

Tok..Tok..Tok., dengan ritmenya yang sama persis seperti suara di minimarket tadi.

Vio langsung menegang. “Theo...”

“Aku dengar,” jawab Theo cepat sambil berdiri sedikit lebih depan tanpa sadar.

Kabut di ujung gang mulai bergerak perlahan.

Lampu jalan kembali berkedip.

Dan beberapa detik setelah itu...

sesuatu berjalan keluar dari dalam kabut.

Siluet manusia.

Tinggi.

Tubuhnya terlihat terlalu kurus dengan gerakan yang terasa tidak sinkron seperti sendinya bergerak sedikit terlambat dari tubuhnya sendiri.

Selvara langsung merasakan dadanya menegang.

Karena wajah itu...

masih wajah laki-laki minimarket tadi.

Namun sekarang matanya benar-benar gelap sepenuhnya.

Tidak ada ekspresi.

Tidak ada fokus.

Hanya tatapan kosong yang terasa seperti lubang hitam.

Theo reflek mundur setengah langkah sambil mengangkat tangan sedikit. “Oke. Aku resmi nggak suka malam ini.”

Makhluk itu berhenti beberapa meter dari mereka.

Kabut hitam tipis bergerak samar di sekitar tubuhnya, sementara air hujan yang jatuh ke bahunya terlihat seperti menghilang sebelum benar-benar menyentuh pakaian.

Dan saat makhluk itu perlahan mengangkat kepalanya...

lampu jalan di atas mereka langsung padam bersamaan.

Brak.

Suasana mendadak gelap.

Vio langsung menahan nafas kecil.

Sementara di tengah kegelapan itu, Selvara merasakan sesuatu berdenyut pelan dari cincin

Lampu jalan mati total selama beberapa detik.

Hanya suara hujan kecil dan nafas mereka yang terdengar di tengah jalan sempit itu. Kabut perlahan bergerak memenuhi sisi trotoar sementara siluet tinggi tadi masih berdiri diam beberapa meter di depan mereka.

Selvara bisa merasakan denyut kecil dari cincin di jarinya semakin jelas sekarang.

Hangat.

Pelan.

Namun cukup untuk membuat ujung jemarinya sedikit gemetar.

Lalu lampu jalan kembali menyala.

Cahaya kuning pucat langsung menerangi jalan basah di sekitar mereka, dan sosok itu kini terlihat jauh lebih jelas dibanding sebelumnya.

Tubuhnya memang masih menyerupai manusia.

Namun ada sesuatu yang terasa salah.

Gerakannya terlalu patah.

Terlalu lambat.

Dan bagian hitam di bawah kulit pucatnya terus bergerak samar seperti cairan hidup.

Vio refleks mundur setengah langkah sambil memegang lengan Selvara lebih erat. “Aku nggak mau deket-deket itu.”

“Percaya deh, aku juga,” jawab Theo cepat sambil tetap berdiri sedikit di depan mereka.

Meski mulutnya masih sempat bercanda, Selvara bisa melihat jelas kalau Theo sebenarnya tegang. Bahunya terlihat kaku, dan matanya terus memperhatikan tiap gerakan kecil makhluk di depan mereka.

Sementara Lyara...

Lyara justru terlihat fokus ke kabut di sekitar jalan.

Tatapannya beberapa kali bergerak ke arah lampu jalan, genangan air, lalu kembali ke makhluk tersebut seperti sedang memastikan sesuatu.

Selvara akhirnya menoleh kecil ke arahnya. “Lyara.”

Lyara langsung mengangkat wajah sedikit. “Hm?”

“Kamu tahu apa itu?”

Beberapa detik Lyara tidak langsung menjawab.

Angin malam bergerak pelan melewati jalan kosong itu sambil membawa hawa hujan yang semakin dingin.

“…itu belum sepenuhnya manusia lagi,” jawab Lyara pelan akhirnya.

Theo langsung menoleh cepat. “Kalimat itu sama sekali nggak bikin tenang.”

“Karena memang nggak tenang,” gumam Lyara lirih.

Makhluk di depan mereka mendadak bergerak satu langkah maju.

Tok.

Suara sepatunya mengenai aspal basah terdengar terlalu jelas di tengah jalan yang sunyi.

Dan bersamaan dengan itu, udara di sekitar mereka langsung berubah lebih dingin.

Selvara refleks menarik nafas kecil.

Kabut hitam di sekitar tubuh makhluk itu mulai bergerak lebih tebal sekarang, menyebar pelan ke lantai seperti asap yang hidup.

Lalu, telepon umum tua di pinggir jalan mendadak menyala sendiri.

Krrrttt.

Suara statis kecil keluar dari speaker rusak di dalamnya.

Theo langsung menoleh refleks. “Oke, nope. Nggak usah ditambah properti horror lagi.”

Namun statis itu semakin keras.

Lampu di dalam telepon umum berkedip tidak stabil sementara layar kecil di atas mesin mulai dipenuhi gangguan hitam putih.

Dan di tengah semua itu...

suara lain mulai terdengar samar.

Bisikan.

Tumpang tindih.

Tidak jelas.

Namun cukup untuk membuat kepala terasa berat.

Vio langsung menutup salah satu telinganya. “Aku nggak suka suara itu...”

Selvara ikut merasakan hal yang sama.

Kepalanya mulai terasa berdengung pelan, sementara penglihatannya sedikit kabur saat menatap kabut di sekitar jalan.

Dan tanpa sadar...

benang-benang cahaya samar mulai muncul lagi di sudut penglihatannya.

Tipis.

Hampir transparan.

Menyebar di sekitar jalan seperti garis halus yang saling terhubung.

Selvara langsung memejamkan mata sebentar.

Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini benang tersebut tidak menghilang.

Justru semakin jelas.

Mengalir di sekitar lampu jalan.

Di bawah genangan air.

Dan paling banyak...

di sekitar tubuh makhluk itu.

Nafas Selvara sedikit tertahan.

Karena untuk pertama kalinya, ia merasa seperti bisa “melihat” aliran sesuatu di balik dunia normal.

“Sel?”

Suara Vio terdengar samar di dekatnya.

Selvara perlahan membuka mata lagi.

Kabut di depan mereka bergerak lebih tebal sekarang, dan makhluk tadi kembali melangkah mendekat.

Tok.

Tok.

Theo langsung menarik nafas panjang lalu menunjuk kecil ke arah gang lain di sisi jalan. “Aku rasa opsi paling sehat sekarang itu lari.”

“Aku setuju,” jawab Vio cepat tanpa pikir panjang.

Namun tepat saat mereka hendak bergerak, makhluk itu mendadak mengangkat kepalanya.

Dan untuk sepersekian detik...

Selvara melihat wajah manusia laki-laki tadi muncul samar di balik distorsi hitam yang menyelimuti tubuhnya.

Ekspresinya terlihat kacau.

Takut.

Seolah sedang mencoba mengatakan sesuatu.

“…tolong…”

Suaranya sangat pelan.

Hampir tenggelam oleh statis dan suara hujan.

Namun cukup membuat langkah mereka semua langsung terhenti.

Hujan malam terus turun tipis di sepanjang jalan kosong itu.

Suara air yang jatuh ke aspal bercampur dengan statis dari telepon umum di pinggir jalan, menciptakan suasana yang semakin terasa tidak nyata. Lampu jalan beberapa kali berkedip pelan sementara kabut hitam terus bergerak di sekitar tubuh makhluk di depan mereka.

Dan di tengah semua itu...

kata tadi masih tertinggal jelas di kepala Selvara.

“Tolong.”

Theo jadi orang pertama yang bereaksi. Ia langsung mengusap wajah kasar sambil menoleh cepat ke arah Lyara. “Oke. Aku mau memastikan dulu. Barusan itu beneran ngomong, kan?”

Lyara terlihat menegang kecil meski tetap berusaha tenang. “Iya.”

“Bagus.” Theo mengangguk pelan beberapa kali. “Aku cuma pengen tahu level masalah kita sekarang.”

Vio masih memegang lengan Selvara erat sejak tadi. Tatapannya tidak lepas dari sosok tinggi di depan mereka yang kini kembali diam tanpa bergerak.

“Apa dia sadar?” tanyanya lirih.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Karena bahkan Lyara sendiri terlihat ragu.

Makhluk itu perlahan menurunkan kepalanya lagi. Kabut hitam bergerak lebih tebal di sekitar tubuhnya sekarang, seolah sesuatu di dalam dirinya sedang terus berubah setiap detik.

Dan saat lampu jalan kembali berkedip, tubuhnya bergerak patah sedikit.

Krrk.

Gerakan kecil itu langsung membuat Theo refleks mundur setengah langkah. “Nggak. Aku nggak akan pernah terbiasa lihat gerakan beginian.”

Selvara sendiri masih memperhatikan benang-benang cahaya yang mengelilingi tubuh makhluk tersebut.

Semakin lama ia melihat...

semakin jelas pola aliran itu terlihat.

Kabut hitam bergerak kacau.

Namun ada sesuatu di tengahnya yang terasa berbeda.

Samar.

Seperti bagian kecil yang masih “manusia”.

Dan entah kenapa, dada Selvara terasa sesak setiap kali melihatnya.

Lyara akhirnya melangkah sedikit lebih depan sambil tetap menjaga jarak aman. “Kalau dia masih bisa ngomong...” Suaranya pelan namun terdengar hati-hati. “…berarti distorsinya belum sempurna.”

Theo langsung menoleh cepat. “Kamu bisa jelasin pake bahasa yang lebih ramah manusia biasa nggak?”

Lyara menghembuskan nafas kecil sebelum menjawab, “Artinya dia masih sadar sebagian.”

Vio langsung terlihat makin pucat. “Jadi dia ngerasain semua itu...?”

Tidak ada jawaban.

Namun ekspresi Lyara sudah cukup menjelaskan.

Hujan semakin terasa dingin sekarang.

Selvara bisa merasakan udara di sekitar tubuhnya perlahan berubah setiap kali cincin di jarinya berdenyut kecil. Bukan sesuatu yang mencolok, namun cukup membuat genangan air di dekat sepatunya bergetar samar.

Dan tanpa sadar...

benang-benang cahaya di penglihatannya mulai bergerak lebih aktif.

Selvara sedikit mengernyit.

Karena sekarang ia mulai bisa melihat sesuatu yang lain.

Kabut hitam itu bukan sekadar menyelimuti tubuh makhluk tersebut.

Kabut itu seperti “menempel”.

Mengikat.

Menyebar dari bagian dada menuju seluruh tubuh seperti akar gelap yang terus bergerak di bawah kulit.

Lalu tiba-tiba, makhluk itu menoleh langsung ke arah Selvara.

Nafas Selvara langsung tertahan.

Karena untuk sepersekian detik...

mata hitam kosong itu berubah.

Wajah manusia laki-laki tadi kembali muncul samar.

Dan kali ini ekspresinya terlihat jauh lebih jelas.

Panik.

Takut.

Seolah sedang meminta bantuan tanpa bisa mengontrol tubuhnya sendiri.

“…dingin…”

Suara seraknya terdengar pelan di tengah hujan.

Theo refleks mengangkat kedua tangannya sedikit. “Oke. Ini makin nggak nyaman.”

Vio langsung menatap Lyara cepat. “Kita bisa nolong dia nggak?”

Pertanyaan itu membuat Lyara diam cukup lama.

Tatapannya perlahan turun ke kabut hitam di sekitar jalan sebelum akhirnya menggeleng kecil.

“Aku nggak tahu.”

Dan itu jawaban paling jujur yang bisa ia berikan.

Karena bahkan Lyara sendiri belum pernah melihat distorsi seperti ini dari jarak sedekat sekarang.

Biasanya Echo hanya menyerang.

Kosong.

Tidak berbicara.

Tidak menunjukkan kesadaran.

Namun yang berdiri di depan mereka sekarang terasa berbeda.

Seolah ada seseorang yang masih terjebak di dalam tubuh itu.

Telepon umum di pinggir jalan kembali mengeluarkan suara statis keras.

KRRRRTTT.

Layar kecil di atasnya mendadak berubah hitam.

Lalu tulisan putih perlahan muncul satu huruf demi satu huruf.

[JANGAN MENDEKAT.]

Theo langsung menunjuk ke arah layar. “Nah tuh. Untuk pertama kali malam ini aku setuju sama pesan misterius.”

Namun sebelum siapa pun sempat bergerak, makhluk itu mendadak memegang kepalanya sendiri.

Gerakannya kasar dan tidak sinkron.

Kabut hitam di sekitar tubuhnya mulai bergerak liar sementara suara statis keluar langsung dari tenggorokannya.

Krrkkk...

KRRRTTT...

Tubuhnya bergetar.

Dan detik berikutnya, ia berteriak.

Suara itu tidak terdengar seperti manusia, Terlalu pecah.

Terlalu bercampur dengan statis dan gema aneh yang membuat seluruh jalan terasa bergetar kecil.

Vio langsung menutup telinganya refleks.

Theo memaki pelan sambil mundur cepat.

Sementara Selvara...

kepalanya mendadak terasa nyeri.

benang-benang cahaya di penglihatannya langsung bergerak kacau bersamaan dengan cincin di jarinya yang mulai berdenyut jauh lebih kuat.

Udara dingin menyebar cepat di sekitar tubuhnya.

Genangan air di dekat kaki Selvara langsung membeku tipis.

Krrkk.

Lyara yang menyadari itu langsung menoleh cepat. “Selvara!”

Namun Selvara sendiri terlihat membeku.

Karena di tengah rasa sakit yang memenuhi kepalanya sekarang...

ia mulai melihat sesuatu.

Bukan jalan.

Bukan hujan.

Namun lorong gelap yang dipenuhi kabut hitam.

Dan di ujung lorong tersebut...

ada sesuatu yang berdiri diam menatap lurus ke arahnya.

Rasa nyeri itu datang terlalu tiba-tiba.

Selvara langsung memegang kepalanya sendiri saat suara teriakan makhluk tadi bercampur dengan statis yang memenuhi udara di sekitar jalan. Lampu jalan kembali berkedip tidak stabil, sementara benang-benang cahaya di penglihatannya bergerak semakin kacau seperti benang yang ditarik ke segala arah sekaligus.

Dan di tengah semua itu, dunia di sekitarnya perlahan terasa menjauh.

Suara hujan mulai terdengar samar.

Suara Theo dan Vio perlahan menghilang.

Yang tersisa hanya lorong gelap yang muncul di depan matanya.

Lorong panjang yang dipenuhi kabut hitam dengan cahaya redup di ujungnya, sementara lantainya dipenuhi genangan air yang memantulkan bayangan tidak jelas.

Selvara berdiri diam di sana.

Atau setidaknya terasa seperti berdiri.

Karena tubuhnya sendiri terasa ringan dan aneh, seperti kesadarannya ditarik masuk terlalu jauh ke dalam sesuatu yang tidak ia pahami.

Lalu perlahan...

sosok itu muncul.

Tinggi.

Diam.

Berdiri di ujung lorong sambil menatap lurus ke arahnya.

Kabut hitam bergerak tipis di sekitar tubuhnya, namun berbeda dari makhluk tadi, sosok ini tidak terlihat kacau.

Justru terlalu tenang.

Dan semakin Selvara mencoba melihat wajahnya...

semakin penglihatannya terasa kabur.

Hanya mata itu yang terlihat jelas.

Gelap.

Kosong.

Namun terasa sadar sepenuhnya.

Selvara refleks mundur satu langkah.

Genangan air di bawah kakinya langsung bergetar pelan.

Lalu suara mulai terdengar.

Bukan dari sekitar lorong.

Namun langsung di dalam kepalanya.

“...akhirnya bangun juga.”

Nafas Selvara langsung tertahan.

Suaranya tenang.

Pelan.

Namun terasa terlalu dekat.

Dan sebelum Selvara sempat bereaksi.

“SEL!”

Suara Theo mendadak terdengar keras.

Lorong gelap itu langsung retak seperti kaca.

Kabut hitam pecah.

Dan penglihatan Selvara mendadak kembali ke jalan hujan di depan stasiun.

Tubuhnya hampir jatuh kalau Theo tidak cepat memegang bahunya.

“Whoa. Pelan.”

Selvara langsung menarik nafas kasar sambil memegang dadanya sendiri. Kepalanya masih berdengung, sementara hawa dingin di sekitar tubuhnya belum sepenuhnya hilang.

Vio terlihat benar-benar panik sekarang. “Sel, kamu tadi diem terus!”

“Aku...” Selvara berhenti sebentar sambil mencoba menenangkan nafasnya. “Aku lihat sesuatu.”

Lyara yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung menegang kecil. “Apa?”

Selvara perlahan mengangkat wajah.

Jalanan masih sama.

Hujan masih turun tipis.

Makhluk di depan mereka juga masih berdiri dengan tubuh yang terus bergetar tidak stabil.

Namun sekarang dada Selvara terasa jauh lebih berat dibanding sebelumnya.

“…ada seseorang di dalam distorsinya,” jawabnya pelan.

Theo langsung mengernyit bingung. “Maksudnya?”

“Aku nggak tahu.” Selvara memegang pelipisnya pelan. “Tapi dia ngomong sama aku.”

Suasana langsung diam beberapa detik.

Lyara terlihat paling berubah ekspresinya.

Tatapannya langsung bergerak cepat ke arah makhluk di depan mereka sebelum kembali ke Selvara.

“Itu nggak seharusnya bisa terjadi...” gumamnya lirih.

“Kalimat itu udah terlalu sering dipakai malam ini,” balas Theo cepat meski nada suaranya tetap tegang.

Makhluk di depan mereka kembali bergerak kasar.

Tubuhnya membungkuk sedikit sambil memegang kepalanya sendiri, sementara kabut hitam di sekitar jalan mulai menyebar semakin luas hingga menutupi sebagian lampu jalan.

Telepon umum di sisi trotoar kembali mengeluarkan suara statis panjang.

KRRRRTTT.

Tulisan di layarnya berubah.

[LARI.]

Theo langsung menunjuk layar itu cepat. “Nah tuh. Aku suka instruksi yang simpel.”

Namun tepat saat Theo hendak menarik mereka mundur, makhluk itu mendadak mengangkat kepalanya lagi.

Dan kali ini, matanya langsung tertuju ke arah Selvara. Kabut hitam di sekitar tubuhnya bergerak liar. benang-benang cahaya di penglihatan Selvara ikut bergetar bersamaan dengan cincin di jarinya yang mulai terasa semakin panas.

Lalu makhluk itu melangkah maju.

Tok.

Satu langkah.

Namun seluruh udara di sekitar jalan langsung berubah lebih dingin.

Genangan air di dekat trotoar mulai membeku tipis.

Lampu jalan kembali berkedip.

Dan suara statis dari telepon umum semakin keras sampai terdengar seperti jeritan samar yang bercampur dengan hujan malam.

Theo langsung menarik Vio mundur sambil melirik Selvara cepat. “Sel. Bisa jalan?”

Selvara mengangguk kecil meski kepalanya masih terasa berat.

Namun tepat saat mereka hendak bergerak, makhluk itu mendadak muncul jauh lebih dekat.

Brak.. Aspal basah retak kecil di bawah kakinya.

Gerakannya terlalu cepat. Tidak masuk akal.

Vio langsung menahan teriakan kecil sementara Theo refleks berdiri di depan mereka.

Dan untuk pertama kalinya malam itu...

Selvara benar-benar bisa melihat wajah laki-laki tadi dari dekat.

Matanya masih gelap. Kabut hitam terus bergerak di bawah kulit pucatnya.

Namun di balik semua itu, ekspresi manusia yang terjebak di dalamnya terlihat semakin jelas.

Takut.

Panik.

Dan seperti sedang menahan sesuatu agar tidak keluar sepenuhnya.

“…lari...” suara seraknya keluar bercampur statis. “…dia datang...”

“…lari...” suara seraknya keluar bercampur statis. “…dia datang...”

Nafas Selvara langsung tertahan.

Makhluk itu berdiri hanya beberapa meter di depan mereka sekarang. Kabut hitam bergerak liar di sekitar tubuhnya sementara lampu jalan terus berkedip tidak stabil seperti hampir mati total.

Dan semakin dekat jaraknya...

semakin jelas benang-benang cahaya di penglihatan Selvara terlihat saling terikat di sekitar tubuh makhluk tersebut.

Kacau.

Tidak sinkron.

Namun ada satu aliran yang terasa berbeda.

Sesuatu yang terus menarik seluruh distorsi itu dari dalam tubuhnya.

Theo perlahan mundur satu langkah sambil tetap berdiri di depan Vio dan Selvara. “Oke... bagian ‘dia datang’ itu sama sekali nggak bikin suasana lebih baik.”

Vio menelan ludah kecil sambil melihat sekitar jalan yang mulai dipenuhi kabut. “Theo... kita beneran harus pergi sekarang.”

“Aku juga maunya gitu.”

Namun masalahnya...

kabut di sekitar jalan mulai berubah.

Trotoar yang tadi masih terlihat jelas perlahan tampak memanjang tidak normal. Lampu jalan di ujung sana terlihat semakin jauh, sementara suara kendaraan dari jalan utama benar-benar menghilang seperti kota di sekitar mereka ditelan sesuatu.

Distorsi itu mulai meluas.

Lyara langsung menyadarinya lebih dulu.

Wajahnya yang sejak tadi berusaha tenang akhirnya berubah tegang sepenuhnya. “Jangan biarin kabutnya nutup jalan.”

Theo langsung menoleh cepat. “Dan caranya?”

Lyara terlihat menggigit bibir kecil sebelum akhirnya menjawab jujur.

“…aku belum tahu.”

“Bagus. Sangat melegakan.”

Makhluk di depan mereka kembali bergerak.

Namun kali ini bukan menyerang.

Tubuhnya justru terlihat semakin tidak stabil. Kabut hitam terus keluar dari bagian dada dan lengannya seperti asap yang bocor dari dalam tubuh.

Dan di tengah semua itu...

matanya kembali berubah sesaat.

Wajah manusia laki-laki tadi muncul lebih jelas dibanding sebelumnya.

Ia terlihat kesakitan.

“…tolong...” suaranya terdengar lebih lemah sekarang. “Jangan... lihat dia...”

Kalimat itu langsung membuat Selvara membeku.

“Dia?”

Namun sebelum laki-laki itu sempat menjawab, seluruh lampu jalan mendadak mati bersamaan.

Brak.. Jalan langsung tenggelam dalam gelap.

Vio refleks memegang lengan Theo lebih erat sementara suara hujan mendadak terasa jauh lebih keras di telinga mereka.

Dan di tengah kegelapan itu...

suara langkah lain mulai terdengar.

Tok.

Tok.

Tok.

Pelan.

Tenang.

Namun ritmenya berbeda dari makhluk di depan mereka.

Langkah ini terasa jauh lebih stabil.

Lebih sadar.

Bulu kuduk Selvara langsung berdiri.

Karena suara itu datang dari belakang mereka.

Theo perlahan menoleh sedikit sambil menahan nafas. “...aku nggak suka ini.”

Tidak ada yang menjawab.

Kabut di sekitar jalan bergerak semakin tebal sekarang sampai lampu gedung di kejauhan nyaris tidak terlihat lagi.

Lalu perlahan...

sebuah siluet muncul dari dalam kabut belakang mereka.

Tinggi.

Menggunakan mantel gelap panjang yang basah oleh hujan.

Dan meski wajahnya tertutup bayangan, Selvara langsung mengenali sosok itu.

Sosok yang tadi muncul di layar stasiun.

Sosok yang berdiri di lorong gelap dalam penglihatannya.

Veil Handler.

Ia berhenti beberapa meter dari mereka.

Diam.

Tidak bergerak.

Kabut hitam bergerak tipis di sekitar sepatunya sementara hujan yang jatuh di dekat tubuhnya terlihat seperti melambat sebelum menyentuh tanah.

Theo langsung menelan ludah kecil. “Oke... sekarang aku ngerti kenapa tadi dia nyuruh kita lari.”

Lyara tanpa sadar mundur satu langkah.

Untuk pertama kalinya sejak malam ini dimulai, ekspresinya benar-benar terlihat takut.

Dan Veil Handler itu...

perlahan mengangkat wajahnya sedikit.

Meski samar, Selvara bisa melihat matanya.

Gelap.

Namun tidak kosong seperti Echo tadi.

Tatapannya terasa hidup.

Sadar.

Dan sedang memperhatikan langsung ke arahnya.

Cincin di jari Selvara langsung berdenyut keras.

Duum.

Udara dingin menyebar tipis di sekitar tubuhnya sementara benang-benang cahaya di penglihatannya mendadak muncul jauh lebih jelas dibanding sebelumnya.

Semua aliran itu...

terhubung ke Veil Handler tersebut.

Lalu perlahan, sosok itu tersenyum kecil.

Dan untuk pertama kalinya malam itu...

Selvara merasakan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada rasa takut.

Senyuman kecil itu muncul hanya sepersekian detik.

Namun cukup untuk membuat dada Selvara terasa seperti ditekan sesuatu yang dingin dan berat secara bersamaan.

Veil Handler itu tidak bergerak.

Ia hanya berdiri diam di tengah hujan dan kabut yang terus bergerak pelan di sekitar jalan kosong tersebut. Mantel hitam panjangnya terlihat basah oleh air hujan, sementara wajahnya masih tertutup bayangan samar dari lampu jalan yang mati.

Namun matanya...

tatapannya terasa terlalu jelas.

Seolah sejak awal memang hanya memperhatikan Selvara.

Theo refleks berdiri sedikit lebih depan tanpa sadar. “Oke. Aku rasa kita sekarang resmi harus lari.”

“Kita nggak bisa diem di sini,” bisik Vio cepat sambil melihat sekitar jalan yang semakin tertutup kabut.

Dan memang benar.

Distorsi di sekitar mereka semakin dalam sekarang.

Gedung pertokoan mulai terlihat samar seperti tertutup lapisan tipis air. Lampu jalan di ujung trotoar tampak menjauh tidak normal, sementara suara hujan mulai terdengar menggema aneh seperti mereka berdiri di ruang kosong yang terlalu besar.

Lyara masih menatap Veil Handler itu dengan wajah pucat.

“…kenapa dia muncul di sini...” gumamnya lirih seperti bicara ke dirinya sendiri.

Theo langsung menoleh cepat. “Kamu kenal dia?”

Lyara tidak menjawab.

Atau mungkin memang tidak bisa.

Karena tepat di detik berikutnya, makhluk dari minimarket tadi mendadak bergerak.

Brak.. Tubuhnya menghantam aspal basah saat ia jatuh berlutut sambil memegang kepalanya sendiri. Kabut hitam di sekitar tubuhnya langsung bergerak liar seperti bereaksi terhadap kemunculan Veil Handler di belakang mereka.

Dan suara statis itu kembali terdengar.

KRRRTTT, lebih keras dibanding sebelumnya.

Laki-laki itu terlihat kesakitan sekarang.

Tubuhnya terus bergetar tidak stabil sementara bagian hitam di bawah kulitnya mulai menyebar lebih cepat sampai ke leher dan wajahnya.

“…pergi...” suaranya terdengar pecah bercampur statis. “Dia bakal buka..”

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba tubuhnya mendadak membungkuk kasar.

Kabut hitam langsung meledak keluar dari punggungnya seperti asap pekat.

Vio refleks menutup mulut menahan teriakan kecil.

Theo langsung mundur satu langkah sambil menarik Vio ikut menjauh. “Nggak. Nope. Aku udah cukup lihat body horror buat satu malam.”

Namun Veil Handler itu tetap diam.

Tidak bergerak.

Tidak membantu.

Ia hanya memperhatikan semuanya dengan tenang dari balik kabut.

Dan justru itu yang terasa paling mengganggu.

Selvara bisa merasakan cincin di jarinya semakin panas sekarang.

benang-benang cahaya di penglihatannya bergerak semakin jelas, menyebar di seluruh jalan seperti akar tipis yang saling terhubung satu sama lain.

Dan semuanya...

mengarah ke Veil Handler tersebut.

Nafas Selvara mulai terasa tidak stabil.

Semakin lama ia melihat sosok itu, semakin kepalanya terasa berat.

Lalu perlahan...

suara tadi kembali terdengar di dalam pikirannya.

“Jangan lihat terlalu lama.”

Selvara langsung membeku.

Karena suara itu bukan suara Veil Handler.

Suara itu miliknya sendiri.

Atau lebih tepatnya...

suara lain yang terdengar sangat mirip dengannya.

“Sel?”

Theo langsung menoleh cepat saat melihat ekspresi Selvara berubah.

“Kamu kenapa?”

Selvara tidak langsung menjawab.

Pandangannya masih tertuju pada Veil Handler di depan sana.

Dan untuk sepersekian detik, dunia di sekitarnya mendadak berubah lagi.

Hujan menghilang.

Suara statis lenyap.

Jalan kosong itu berubah menjadi lorong hitam panjang yang dipenuhi benang-benang cahaya biru samar.

Sementara Veil Handler tadi...

Lihat selengkapnya