Chapter 1 - Episode 14
Nama itu masih tertinggal di kepala Selvara bahkan setelah sosok Veil Handler itu menghilang dari kamarnya.
Ren.
Pendek dan sederhana, tetapi entah kenapa terasa berat untuk dilupakan.
Kabut tipis yang tadi bergerak di sekitar tubuhnya perlahan menghilang bersama hawa dingin di dalam kamar, sementara lampu yang sempat berkedip kini kembali normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Dan yang paling aneh...suasana rumah juga ikut kembali biasa.
Suara statis dari bawah sudah hilang, televisi kembali memutar acara malam dengan volume kecil, bahkan sesekali terdengar suara ibunya mengganti channel sambil mengeluh pelan karena sinyal sempat bermasalah.
Selvara masih berdiri diam beberapa detik di tengah kamar sambil memandangi jendela yang sedikit terbuka.
Dari lantai dua rumahnya, Asterveil terlihat tenang seperti malam-malam biasa. Lampu apartemen masih menyala, jalanan basah memantulkan cahaya kota, dan gerimis tipis turun perlahan tanpa kabut aneh ataupun sosok gelap berdiri di kejauhan.
Namun setelah malam ini...
Selvara sadar ia tidak akan bisa melihat kota ini dengan cara yang sama lagi.
Tok tok.
Ketukan kecil di pintu membuat Selvara sedikit tersadar dari lamunannya.
“Selvara?” suara ibunya terdengar dari luar kamar. “Belum mandi?”
Selvara langsung menoleh cepat lalu menjawab pelan, “Iya, bentar lagi.”
“Jangan tidur terlalu malam juga,” lanjut ibunya dengan nada santai.
“Iya, Bu.”
Langkah kaki ibunya perlahan menjauh dari lorong lantai dua.
Dan anehnya, mendengar percakapan sederhana seperti itu justru membuat dada Selvara terasa sedikit lebih ringan.
Setidaknya rumah ini masih terasa normal.
Masih terasa nyata.
Selvara akhirnya mengambil pakaian ganti lalu masuk ke kamar mandi.
Air hangat langsung jatuh mengenai rambut dan bahunya beberapa menit kemudian, membuat tubuhnya yang sejak tadi tegang perlahan mulai rileks. Uap tipis memenuhi kamar mandi kecil itu sementara suara hujan masih terdengar samar dari luar rumah.
Namun pikirannya tetap belum benar-benar tenang.
Ren.
Archon.
Mist.
Dan satu kalimat yang terus teringat jelas di kepalanya.
“Mereka akan mulai mencarimu sekarang.”
Selvara memejamkan mata pelan di bawah air hangat.
Ia masih belum benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi.
Tetapi satu hal mulai terasa jelas.
Malam ini bukan akhir dari sesuatu.
Justru awalnya.
Beberapa menit kemudian, Selvara kembali ke kamar dengan hoodie longgar favoritnya dan rambut setengah kering yang masih sedikit lembap di ujungnya. Udara kamar kini terasa normal lagi, bahkan hawa dingin tadi hampir sepenuhnya hilang.
Ia berjalan pelan menuju meja belajar lalu meletakkan ponselnya di sana.
Layar masih gelap tanpa pesan aneh ataupun notifikasi misterius.
Dan jujur saja...
Selvara sedikit lega melihat itu.
Ia akhirnya menjatuhkan tubuh pelan ke atas kasur sambil menatap langit-langit kamar.
Rasa lelah mulai terasa sekarang.
Bukan cuma karena fisik, tetapi juga karena pikirannya seperti dipaksa menerima terlalu banyak hal sekaligus dalam satu malam.
Dan semakin ia mencoba memikirkan semuanya, semakin terasa kalau masih ada terlalu banyak bagian yang belum ia pahami.
Selvara akhirnya memejamkan mata sebentar.
Namun tepat beberapa detik kemudian
buzz.
Ponselnya bergetar kecil di atas meja.
Selvara langsung membuka mata lalu bangkit pelan mengambil ponselnya.
Pesan baru.
Theo.
Tanpa sadar Selvara menghembuskan nafas kecil sebelum membuka chat tersebut.
Theo:
“masih hidup?”
Sudut bibir Selvara langsung terangkat tipis.
Ia mulai mengetik pelan.
Selvara:
“sementara.”
Balasan muncul hampir seketika.
Theo:
“syukurlah. aku tadi lihat pantulan diri sendiri di microwave terus malah kaget sendiri”
Selvara spontan tertawa kecil sambil menggeleng pelan.
Entah kenapa membayangkan Theo panik sendirian di dapur terasa sangat sesuai dengan kepribadiannya.
Theo:
“vio juga belum tidur”
“katanya takut matiin lampu”
Belum sempat Selvara membalas, notifikasi lain langsung muncul.
Vio:
“THEO JANGAN BACA CHAT AKU”
Theo:
“ketahuan”
Selvara menahan senyum kecil sambil menyandarkan tubuh ke kursi.
Percakapan sederhana itu terasa hangat dan ringan, sesuatu yang sangat ia butuhkan setelah semua kejadian malam ini.
Dan untuk pertama kalinya sejak distorsi tadi...
kepalanya terasa sedikit lebih tenang.
Namun tepat saat Selvara hendak mengetik balasan..
krrtt.
Layar laptop di meja belajarnya mendadak menyala sendiri.
Selvara langsung diam.
Monitor yang tadi mati perlahan hidup dengan layar hitam dipenuhi statis tipis.
Dan di pantulan samar layar tersebut...
terlihat seseorang berdiri diam tepat di belakang kursinya.
Selvara langsung membeku di depan meja belajarnya.
Pantulan di layar laptop itu terlihat jelas meski dipenuhi statis tipis. Seseorang berdiri diam tepat di belakang kursinya dengan tubuh tinggi dan mantel gelap yang sudah terlalu familiar malam ini.
Nafas Selvara langsung tertahan.
Namun kali ini...
ia tidak langsung menoleh.
Entah karena takut.
Atau karena bagian kecil dalam dirinya mulai sadar kalau pantulan dan kenyataan tidak selalu menunjukkan hal yang sama lagi.
Suasana kamar mendadak terasa sangat sunyi.
Suara hujan di luar jendela masih terdengar pelan, sementara televisi dari bawah samar-samar masih menyala seperti biasa.
Selvara perlahan menggenggam sisi meja.
Dinginnya mulai terasa lagi di ujung jemari.
Duum.
Cincin di jarinya kembali berdenyut pelan.
Pantulan sosok di layar laptop itu tidak bergerak sedikit pun.
Hanya berdiri diam.
Memperhatikan.
Dan justru karena tidak melakukan apa-apa, keberadaannya terasa jauh lebih mengganggu.
Selvara akhirnya menarik nafas perlahan lalu memberanikan diri menoleh ke belakang.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa di dalam kamarnya selain dirinya sendiri.
Kursi dekat jendela masih kosong, tirai bergerak pelan terkena angin malam, dan lampu kamar tetap menyala normal tanpa gangguan apa pun.
Namun saat Selvara kembali melihat layar laptop
pantulan sosok itu masih ada.
Kali ini sedikit lebih dekat.
Selvara langsung menahan nafas kecil.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat sekarang.
Dan anehnya...
meski rasa takut itu masih ada, pikirannya justru terasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.
Seolah tubuhnya perlahan mulai terbiasa menghadapi semua hal aneh ini.
Hal itu justru membuatnya sedikit tidak nyaman.
Krrtt.
Statis di layar laptop bergerak lebih kasar beberapa detik.
Lalu perlahan...
muncul sebuah tulisan putih di tengah layar hitam.
[JANGAN MENATAP TERLALU LAMA.]
Selvara langsung mengernyit kecil.
Kalimat itu terasa familiar.
Mirip seperti peringatan Lyara sebelumnya.
Dan sebelum ia sempat berpikir lebih jauh
ponselnya kembali bergetar di meja.
Notifikasi dari Theo muncul lagi.
Theo:
“sel?”
Theo:
“kamu masih online kan?”
Selvara baru sadar kalau dirinya diam terlalu lama menatap layar laptop tersebut.
Ia langsung mengetik cepat.
Selvara:
“iya.”
Balasan Theo muncul hampir seketika.
Theo:
“syukurlah”
“aku mulai takut sendiri gara-gara semua pantulan di rumah”
Selvara tanpa sadar tersenyum tipis kecil.
Meski malam ini kacau, mengetahui Theo dan Vio juga belum bisa tidur membuat semuanya terasa sedikit lebih ringan.
Namun tepat saat ia hendak membalas lagi
layar laptop tiba-tiba berubah.
Pantulan sosok itu menghilang.
Digantikan kamera laptop yang menyala sendiri.
Selvara langsung diam.
Karena di layar kamera itu...
terlihat kamarnya secara langsung.
Meja belajar.
Kasur.
Jendela.
Dan dirinya sendiri yang berdiri di depan meja.
Normal.
Sampai beberapa detik kemudian...
sosok lain perlahan muncul di belakang Selvara di layar kamera.
Seseorang berdiri diam tepat di dekat pintu kamar.
Tubuh tinggi.
Mantel gelap.
Dan kali ini wajahnya terlihat sedikit lebih jelas.
Ren.
Selvara langsung membalikkan tubuhnya refleks.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa di dekat pintu.
Namun saat ia kembali melihat layar laptop
Ren masih berdiri di sana.
Dan perlahan...
ia mengangkat satu tangan ke arah layar.
Lalu menunjuk ke belakang Selvara.
Nafas Selvara langsung terasa dingin.
Karena tepat di saat bersamaan
suara langkah kecil terdengar dari lorong luar kamarnya.
Suara langkah itu terdengar pelan dari lorong lantai dua.
Tok.
Tok.
Tok.
Ritmenya lambat dan stabil, namun cukup jelas di tengah suasana rumah yang mendadak terasa terlalu sunyi.
Selvara langsung membeku di depan meja belajarnya.
Layar laptop masih menyala dengan kamera yang aktif sendiri, sementara Ren di dalam layar tetap berdiri diam sambil menunjuk ke arah belakang Selvara.
Dan anehnya...
ekspresinya terlihat jauh lebih serius dibanding sebelumnya.
Selvara perlahan menelan ludah kecil.
Lalu suara langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya.
Tok.
Hening.
Nafas Selvara langsung terasa tertahan.
Pikirannya langsung dipenuhi banyak kemungkinan buruk sekaligus.
Distorsi.
Mist.
Atau sesuatu lain yang ikut masuk ke rumahnya.
Duum.
Cincin di jarinya kembali berdenyut pelan.
Benang-benang cahaya transparan mulai muncul lagi di penglihatannya, bergerak tipis di sekitar dinding kamar dan lantai kayu dekat pintu.
Namun berbeda dari sebelumnya...
benang-benang itu terasa normal.
Tidak ada aliran hitam ataupun distorsi kacau seperti yang muncul di dekat Ren tadi.
Dan sebelum Selvara sempat berpikir lebih jauh—
tok tok.
Ketukan kecil terdengar dari pintu.
“Selvara?”
Suara ibunya langsung membuat tubuh Selvara sedikit lemas karena lega.
“Ibu lupa bilang,” lanjut wanita itu dari luar pintu dengan nada santai, “besok pagi jangan bangun kesiangan. Kamu bilang ada tugas kelompok, kan?”
Selvara langsung menghembuskan nafas pelan tanpa sadar.
“Iya, Bu.”
“Tidur cepat.”
“Iya.”
Langkah kaki ibunya perlahan menjauh lagi dari lorong.
Dan beberapa detik kemudian...
suasana kembali sunyi.
Selvara masih berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya perlahan menoleh kembali ke arah laptop.
Layar kamera masih aktif.
Namun Ren sudah tidak ada di sana.
Yang tersisa hanya pantulan kamarnya sendiri.
Normal.
Selvara langsung mendekat pelan ke arah meja lalu menutup laptopnya cepat.
Klik.
Ruangan langsung terasa lebih tenang tanpa cahaya layar dan statis tipis tadi.
Namun jantungnya masih berdetak cukup cepat.
Selvara akhirnya duduk pelan di kursi sambil mengusap wajahnya sendiri.
Lelah.
Benar-benar lelah.
Dan semakin malam berjalan, semakin terasa kalau batas antara hal normal dan distorsi mulai bercampur perlahan di sekitarnya.
Ponselnya kembali bergetar kecil.
Theo:
“masih hidup?”
Selvara spontan tertawa kecil lelah sambil membaca pesan itu.
Ia mulai mengetik balasan pelan.
Selvara:
“iya.”
Theo:
“bagus”
“aku baru buka kulkas terus refleks takut ada orang di pantulan pintunya”
Selvara akhirnya tersenyum tipis lagi.
Selvara:
“kamu terlalu panik.”
Theo:
“setelah malam ini itu normal”
Belum sempat Selvara membalas lagi, notifikasi baru muncul dari Vio.
Vio:
“aku tadi mandi sambil buka pintu sedikit”
Theo:
“pengecut”
Vio:
“diam”
“kalau kamu sendirian juga pasti takut”
Theo:
“aku laki-laki pemberani”
Vio:
“tadi siapa yang panik lihat microwave”
Selvara menahan tawa kecil sambil membaca percakapan mereka.
Percakapan sederhana itu terasa sangat biasa.
Dan mungkin karena itulah rasanya menenangkan.