Chapter 1 - Episode 15
Pagi di Asterveil terasa jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya.
Hujan yang turun cukup lama semalam sudah berhenti sejak dini hari, menyisakan udara dingin dan langit abu-abu pucat yang masih tertutup awan tipis. Cahaya matahari pagi masuk samar melalui tirai kamar Selvara, membentuk garis lembut di lantai kayu dekat meja belajar dan sisi kasurnya.
Dan untuk beberapa detik setelah bangun...semuanya terasa normal.
Tidak ada sosok berdiri di balik jendela kamarnya.
Hanya suasana pagi biasa dengan suara kendaraan yang mulai terdengar dari jalan depan rumah dan aroma masakan dari dapur bawah yang samar sampai ke lantai dua.
Sampai akhirnya mata Selvara tertuju ke arah jendela.
Bekas samar seperti jejak tangan masih tertinggal di permukaan kaca bagian luar.
Tipis dan nyaris menghilang, tetapi cukup jelas untuk membuat sisa kantuknya hilang sepenuhnya.
Selvara perlahan duduk di atas kasur sambil menatap jendela itu cukup lama.
Malam tadi terasa seperti mimpi buruk yang terlalu panjang.
Ren.
Fractured.
Pantulan.
Dan suara yang meniru ibunya.
Namun jejak di kaca itu membuktikan satu hal.
Semua itu benar-benar terjadi.
Duum.
Cincin di jarinya berdenyut kecil.
Selvara refleks menunduk melihat tangannya sendiri.
Denyut resonance itu jauh lebih ringan dibanding semalam, tetapi sekarang terasa lebih stabil. Tidak lagi muncul seperti ledakan mendadak yang membuat tubuhnya panik sendiri.
Dan justru itu yang membuatnya sedikit tidak nyaman.
Karena artinya...
tubuhnya mulai terbiasa.
Selvara menghembuskan nafas pelan lalu turun dari kasur.
Dan tepat saat telapak kakinya menyentuh lantai kayu, ia langsung menyadari sesuatu lagi.
Benang-benang cahaya transparan masih bisa ia lihat.
Sangat tipis dan samar.
Namun kali ini aliran itu muncul secara alami di sekitar kamarnya tanpa resonance bereaksi kuat seperti sebelumnya.
Benang-benang itu bergerak perlahan di udara seperti serat cahaya halus yang mengalir mengikuti arah angin pagi dari jendela.
Selvara langsung diam beberapa detik.
Pemandangan itu seharusnya terasa aneh.
Namun sekarang justru terlihat terlalu natural di matanya.
Seolah penglihatannya perlahan mulai menerima semua itu sebagai bagian biasa dari dunia.
Tok tok.
Ketukan kecil dari luar pintu membuat Selvara sedikit tersadar dari lamunannya.
“Selvara? Sudah bangun?” suara ibunya terdengar santai dari lorong.
“Iya,” jawab Selvara cepat sambil mengalihkan pandangan dari benang-benang cahaya tadi.
“Jangan lupa sarapan. Ibu berangkat lebih pagi hari ini.”
“Iya, Bu.”
Langkah kaki ibunya perlahan menjauh lagi.
Selvara mengusap wajah pelan lalu berjalan mendekati jendela.
Ia ragu beberapa detik sebelum akhirnya membuka tirai sedikit.
Jalan depan rumah terlihat normal.
Anak sekolah mulai lewat sambil membawa payung lipat atau tas besar, beberapa motor melintas pelan di jalan basah, dan suara pedagang sarapan terdengar samar dari ujung gang.
Tidak ada sosok berdiri di bawah lampu jalan seperti semalam.
Tidak ada payung hitam.
Tidak ada benang gelap yang bergerak menuju rumahnya.
Namun tepat saat Selvara hendak menutup kembali tirainya—
matanya menangkap sesuatu di kaca jendela.
Pantulan dirinya sendiri.
Normal.
Sampai sepersekian detik kemudian...
pantulan itu terlambat bergerak sedikit dibanding tubuh aslinya.
Selvara langsung membeku.
Namun hanya sesaat.
Karena pantulan tersebut langsung kembali sinkron seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Nafas Selvara perlahan keluar pelan.
“…aku mulai capek,” gumamnya lirih sambil memegang pelan pelipisnya sendiri.
Ia tidak tahu mana yang lebih buruk sekarang.
Distorsi besar seperti semalam.
Atau hal-hal kecil seperti ini yang mulai muncul di sela kehidupan normalnya.
Ponselnya yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar.
Notifikasi grup chat baru muncul.
Theo membuat grup baru.
Nama grup:
“korban trauma minimarket”
Selvara langsung memijat pelan pelipisnya sambil menghela nafas kecil.
Dan beberapa detik kemudian, pesan baru mulai masuk bertubi-tubi.
Theo:
“semua masih hidup?”
Vio:
“aku baru bangun dan masih takut ke kamar mandi”
Theo:
“lemah”
Vio:
“diam”
Selvara tanpa sadar tersenyum kecil melihat percakapan mereka.
Suasana grup itu terasa terlalu normal dibanding semua yang terjadi semalam.
Dan mungkin justru karena itulah rasanya menenangkan.
Notifikasi baru kembali muncul.
Lyara:
“pagi.”
Selvara sedikit terdiam melihat nama itu muncul.
Entah kenapa, mengetahui Lyara ikut ada di sana membuat suasana terasa lebih tenang. Gadis itu memang masih misterius, tetapi sejak kejadian semalam keberadaannya terasa seperti seseorang yang benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi.
Theo:
“sel mana”
Theo:
“jangan bilang dia diculik kabut”
Selvara akhirnya mulai mengetik pelan.
Selvara:
“aku masih hidup.”
Balasan Theo langsung muncul sangat cepat.
Theo:
“SYUKUR”
“aku tadi mimpi microwave lagi”
Vio:
“kenapa kamu trauma sama microwave sih”
Theo:
“karena benda itu reflektif”
Selvara spontan tertawa kecil sambil duduk di kursi dekat meja belajarnya.
Tawa itu ringan.
Kecil.
Namun cukup membuat ketegangan di dadanya sedikit mengendur.
Dan untuk pertama kalinya sejak resonance miliknya bangkit...
pagi itu terasa hampir normal.
Hampir.
Karena tepat saat Selvara hendak meletakkan ponselnya—
sesuatu bergerak samar di pantulan layar televisi kecil kamarnya yang masih mati.
Seseorang berdiri diam di belakang kursinya.
Selvara langsung berhenti bergerak.
Pantulan di layar televisi kecil itu terlihat samar karena posisi layar yang masih mati, namun cukup jelas untuk membuat ujung jemarinya langsung terasa dingin lagi.
Seseorang berdiri diam di belakang kursinya.
Tubuh tinggi.
Rambut gelap.
Dan posisi yang terlalu dekat.
Nafas Selvara langsung tertahan.
Namun kali ini ia tidak langsung panik seperti semalam.
Mungkin karena tubuhnya mulai terlalu cepat terbiasa.
Atau mungkin karena pikirannya masih setengah lelah setelah semua yang terjadi tadi malam.
Percakapan Theo dan Vio masih terus berjalan di layar ponselnya seolah dunia tetap normal seperti biasa.
Theo:
“aku serius microwave harusnya tidak dibuat mengkilap”
Vio:
“itu salahmu sendiri kenapa malah dilihatin”
Theo:
“aku refleks”
Selvara menatap pantulan di layar televisi beberapa detik lebih lama.
Sosok itu tidak bergerak.
Hanya berdiri diam di belakang kursinya.
Dan semakin lama diperhatikan...
semakin terasa familiar.
Bukan Fractured semalam.
Bukan juga sosok hitam di bawah lampu jalan.
Posturnya lebih tenang.
Lebih manusia.
Selvara perlahan menghembuskan nafas kecil lalu akhirnya menoleh pelan ke belakang.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa di dalam kamarnya selain dirinya sendiri.
Kursi dekat meja belajar masih sedikit bergeser dari semalam, hoodie miliknya masih terjatuh di lantai, dan cahaya pagi terus masuk samar dari jendela tanpa gangguan apa pun.
Namun saat Selvara kembali melihat pantulan layar televisi—
sosok itu masih ada.
Dan kali ini...
kepalanya sedikit miring ke arah Selvara.
Duum.
Resonance di jari Selvara kembali berdenyut pelan.
Benang-benang cahaya transparan muncul samar di sekitar ruangan, bergerak tipis mengikuti aliran udara pagi.
Selvara langsung memegang pelan sisi meja sambil menatap pantulan tersebut lebih serius.
Karena berbeda dari semalam...
ia mulai sadar sesuatu.
Pantulan itu tidak terasa agresif.
Tidak ada tekanan aneh.
Tidak ada hawa mengerikan seperti Fractured.
Justru terasa seperti...
seseorang yang sedang memperhatikan dari kejauhan.
Ponselnya kembali bergetar.
Lyara:
“Selvara.”
Nama itu muncul tiba-tiba di chat pribadi.
Selvara langsung berkedip kecil.
Lyara hampir tidak pernah chat duluan sejak mereka kenal.
Ia langsung membuka pesannya.
Lyara:
“kamu lihat sesuatu lagi?”
Selvara langsung diam.
Jari-jarinya berhenti di atas layar.
Beberapa detik kemudian ia mengetik pelan.
Selvara:
“kenapa?”
Typing bubble muncul cukup lama sebelum akhirnya balasan Lyara masuk.
Lyara:
“aku tadi pagi lihat resonance bergerak aneh.”
“dan sejak bangun aku merasa tidak nyaman.”
Selvara refleks kembali melihat pantulan di layar televisi.
Sosok itu masih berdiri diam.
Dan sekarang...
ia mulai terlihat sedikit lebih jelas.
Seragam sekolah.
Rambut hitam agak panjang.
Dan wajah pucat dengan mata yang tampak kosong.
Seorang siswa.
Atau setidaknya...
dulu manusia.
Selvara langsung mengetik cepat.
Selvara:
“aku lihat pantulan lagi.”
Balasan Lyara muncul hampir seketika.
Lyara:
“jangan terlalu lama lihatnya.”
Kalimat itu langsung membuat Selvara mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
Duum.
Denyut resonance perlahan kembali tenang.
Dan tepat beberapa detik kemudian—
suara dari bawah rumah terdengar pelan.
“Selvara!”
Ibunya memanggil dari dapur.
“Kamu nanti terlambat!”
Selvara langsung tersadar lalu melihat jam di ponselnya.
Ia refleks membelalakkan mata kecil.
“…serius?”
Waktu terasa berjalan jauh lebih cepat dari yang ia kira.
Theo kembali mengirim pesan.
Theo:
“oh iya hari ini masuk lebih pagi”
“aku lupa kasih tahu”
Vio:
“kamu literally ketua penyebar informasi terlambat”
Theo:
“aku baru bangun juga”
Selvara langsung menghela nafas kecil sambil berdiri cepat dari kursinya.
“Kenapa semuanya baru bilang sekarang...” gumamnya lirih sambil mulai merapikan tas sekolah.
Dan untuk beberapa menit berikutnya...
suasana kamar akhirnya terasa kembali normal.
Tidak ada pantulan bergerak.
Tidak ada resonance yang kacau.
Hanya pagi biasa dengan kepanikan kecil anak sekolah yang hampir terlambat.
Namun tepat saat Selvara hendak keluar kamar, matanya kembali menangkap layar televisi kecil itu secara refleks.
Pantulannya sudah kosong sekarang.
Tetapi di sudut bawah layar...
ada tulisan samar yang baru perlahan menghilang.
[I FOUND YOU.]
Dan sebelum ia sempat memastikan apa pun, tulisan tersebut sudah menghilang sepenuhnya dari layar televisi.
Yang tersisa hanya pantulan kamarnya sendiri.
Normal.
Selvara menghela nafas pelan sambil memejamkan mata beberapa detik.
Ia benar-benar mulai lelah.
Setiap kali berpikir semuanya sudah tenang, selalu ada sesuatu yang muncul lagi.
“Selvara!”
Suara ibunya kembali terdengar dari bawah.
“Nanti telat!”
“Iya!”
Kali ini Selvara langsung menjawab sambil meraih tas sekolahnya.
Apa pun itu, ia tidak punya waktu untuk memikirkannya sekarang.
Setidaknya itulah yang ia coba yakinkan pada dirinya sendiri.
Namun saat keluar kamar dan berjalan menuruni tangga, pikirannya tetap kembali pada satu hal.
I found you.
Kalimat itu berbeda.
Bukan seperti pesan-pesan sebelumnya.
Bukan peringatan.
Bukan ancaman yang jelas.
Justru terdengar seperti seseorang yang sudah lama mencari sesuatu dan akhirnya berhasil menemukannya.
Pikiran itu membuatnya tidak nyaman sepanjang perjalanan menuju dapur.
Ibunya sudah siap berangkat saat Selvara tiba di meja makan. Wanita itu sedang memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas kerja sambil sesekali melihat jam dinding.
“Kamu begadang lagi?” tanyanya sambil melirik wajah Selvara.
Selvara langsung duduk dan mengambil roti panggang yang sudah disiapkan.
“Sedikit.”
Ibunya mengangkat alis.
“Sedikit versi kamu biasanya banyak.”
Selvara hanya tersenyum kecil.
“Aku baik-baik saja.”
“Kalau memang baik-baik saja, nanti jangan sampai tidur di kelas.”
“Tidak akan.”
Ibunya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
Percakapan itu sederhana.
Biasa.
Dan justru karena itulah terasa menenangkan.
Beberapa menit kemudian mereka berangkat hampir bersamaan. Ibunya menuju tempat kerja, sementara Selvara berjalan ke arah halte yang biasa dilewati bus sekolah.
Udara pagi terasa sejuk setelah hujan semalaman.
Pohon-pohon di sepanjang jalan masih menyisakan tetesan air di daun-daunnya, sementara genangan kecil memantulkan cahaya matahari yang mulai menembus awan.
Untuk pertama kalinya sejak bangun tidur, Selvara merasa pikirannya sedikit lebih ringan.
Sampai ia melihat pantulannya di jendela halte.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup jelas.
Pantulannya tidak sendirian.
Ada seseorang berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Selvara langsung menoleh.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Beberapa orang yang sedang menunggu bus terlihat sibuk dengan ponsel mereka sendiri, sementara seorang bapak paruh baya sedang membaca koran di bangku halte.
Tidak ada sosok mencurigakan.
Tidak ada Veil Handler.
Tidak ada Fractured.
Namun saat Selvara kembali melihat kaca halte...
pantulan tambahan itu juga sudah hilang.
Duum.
Resonance di jarinya kembali berdenyut kecil.
Selvara mulai sadar satu hal yang tidak ia sukai.
Semakin sering ia melihat distorsi.
Semakin cepat ia terbiasa terhadapnya.
Dan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada rasa takut itu sendiri.
Ponselnya bergetar.
Theo:
“aku udah berangkat”
Theo:
“dan aku lupa bawa tugas”
Selvara langsung memijat pelipisnya.
Selvara:
“baru pagi.”
Theo:
“iya makanya”
Vio:
“aku bahkan tidak kaget lagi”
Theo:
“aku juga tidak kaget”
“aku cuma sedih”
Selvara akhirnya tertawa kecil.
Percakapan grup itu berhasil mengalihkan pikirannya untuk sementara.
Namun saat bus yang ditunggunya mulai terlihat dari ujung jalan...
sesuatu menarik perhatiannya.
Di sisi seberang jalan.
Tepat di antara kerumunan orang yang berjalan menuju pusat kota.
Ada seseorang yang sedang berdiri diam.
Mengenakan seragam sekolah yang sama dengan dirinya.
Tubuhnya tidak bergerak.
Tatapannya lurus ke arah halte.
Dan meski jaraknya cukup jauh...
Selvara langsung mengenalinya.
Karena wajah itu...adalah wajahnya sendiri.
Selvara langsung membeku.
Bus yang tadi mendekat perlahan mulai memperlambat kecepatan di depan halte, suara rem dan mesin memenuhi jalan pagi yang cukup ramai. Beberapa orang mulai berdiri dan bersiap naik.
Namun perhatian Selvara sama sekali tidak tertuju ke sana.
Karena di seberang jalan...
seseorang masih berdiri diam menatap ke arahnya.
Wajah yang sama.
Rambut yang sama.
Seragam yang sama.
Bahkan postur berdirinya pun nyaris tidak berbeda.
Seolah seseorang mengambil bayangan dirinya sendiri lalu meletakkannya di sisi jalan yang berlawanan.
Nafas Selvara langsung terasa berat.
Duum.
Resonance di jarinya berdenyut pelan.
Benang-benang cahaya transparan kembali muncul di penglihatannya, bergerak samar di antara orang-orang yang berlalu lalang.
Dan di tengah semua aliran itu...
sosok yang menyerupainya sama sekali tidak memiliki benang.
Tidak ada aliran mana.
Tidak ada resonance.
Tidak ada apa pun.
Kosong.
Hal itu justru terasa jauh lebih mengganggu.
“Sel?”
Suara seseorang membuat Selvara sedikit tersentak.
Ia langsung menoleh.
Theo berdiri di dekat pintu bus yang baru berhenti sambil membawa tas yang terlihat setengah terbuka. Rambutnya masih sedikit berantakan seperti orang yang bangun terlambat lalu langsung berangkat.
“Kamu kenapa?” tanya Theo sambil mengernyit. “Busnya sudah datang.”
Selvara refleks kembali melihat ke arah seberang jalan.
Kosong.
Sosok itu sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya orang-orang biasa yang sedang berjalan menuju tempat kerja atau sekolah.
Theo mengikuti arah pandangnya beberapa detik lalu kembali menatap Selvara.
“Ada sesuatu?”
Selvara terdiam sebentar.
Lalu akhirnya menggeleng kecil.
“Tidak.”
Theo mengangkat alis.
Jelas tidak percaya.
Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, pintu bus mulai mengeluarkan bunyi peringatan kecil.
“Kalau kita tidak naik sekarang, aku yang benar-benar jadi korban trauma sekolah,” keluh Theo sambil berjalan masuk lebih dulu.
Selvara akhirnya ikut melangkah naik.
Suasana di dalam bus terasa hangat dibanding udara pagi di luar. Sebagian besar kursi sudah terisi siswa yang masih mengantuk, beberapa memakai earphone, sementara yang lain sibuk melihat ponsel mereka.
Normal.
Sangat normal.
Dan sekali lagi, Selvara mulai merasa seperti hidup di dua dunia berbeda sekaligus.
Theo menjatuhkan tubuhnya ke kursi dekat jendela sambil menghela nafas panjang.
“Aku baru sadar.”
“Apa?”
Theo menoleh ke arah Selvara.
“Aku tidak mau kejadian semalam terulang lagi.”
Nada suaranya terdengar jauh lebih serius dibanding biasanya.
Selvara sedikit terdiam.
Karena untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Theo terlihat benar-benar lelah.
Bukan karena kurang tidur.
Namun karena ketakutan yang belum benar-benar hilang.
“Aku juga,” jawab Selvara jujur sambil duduk di kursi sebelahnya.
Theo mengangguk pelan.
Lalu setelah beberapa detik, ia kembali menjadi dirinya yang biasa.
“Kalau semalam terjadi lagi, aku pindah planet.”
Selvara langsung tertawa kecil.
“Pilihan yang cukup ekstrem.”
“Aku realistis.”
“Bukan itu arti realistis.”
Theo membuka mulut seolah ingin membela diri, namun akhirnya hanya menggeleng pasrah.
Percakapan kecil itu membuat suasana sedikit lebih ringan.
Setidaknya sampai ponsel Selvara bergetar.
Pesan baru dari Lyara.
Lyara:
“sudah berangkat?”
Selvara: “sudah.”
Balasan muncul beberapa detik kemudian.
Lyara:
“kalau kamu lihat seseorang yang terlihat seperti dirimu sendiri, jangan dekati.”
Tubuh Selvara langsung menegang.
Jarinya berhenti di atas layar.
Theo yang duduk di sampingnya langsung memperhatikan perubahan ekspresinya.
“Ada apa?”
Selvara masih terdiam.
Matanya masih tertuju pada pesan tersebut.
Karena ia belum pernah menceritakan apa yang baru saja dilihat di halte.
Dan Lyara seharusnya tidak mungkin tahu.
Duum.
Resonance di jarinya kembali berdenyut.
Sementara di ujung layar ponselnya...
indikator mengetik dari Lyara muncul lagi.
Lalu satu pesan terakhir masuk.
Lyara: “kalau itu muncul, berarti Fractured sudah mulai memilih targetnya.”
Selvara langsung berhenti mengetik.
Bus yang mereka tumpangi terus bergerak melewati jalan utama kota, sementara percakapan di dalam kendaraan berlangsung seperti pagi sekolah biasa. Beberapa siswa di kursi depan sedang membahas tugas yang belum selesai, sementara suara tawa kecil terdengar dari bagian belakang. Namun perhatian Selvara sepenuhnya tertuju pada pesan terakhir yang baru saja muncul.
Target.
Kata itu terdengar jauh lebih tidak nyaman dibanding Fractured itu sendiri.
Karena target berarti pilihan.
Dan pilihan berarti sesuatu di luar sana sudah mulai memperhatikannya secara khusus.
Theo yang duduk di sebelahnya langsung menyadari perubahan ekspresi tersebut.
"Aku mulai tidak suka kalau kamu diam sambil lihat ponsel seperti itu," keluh Theo sambil menyandarkan kepalanya ke jendela. "Biasanya setelah itu ada informasi yang membuat hariku jadi lebih buruk."
Selvara sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menyerahkan ponselnya.
"Lihat saja."
Theo menerima ponsel itu dengan raut penasaran, lalu membaca percakapan dari Lyara satu per satu. Awalnya ekspresinya terlihat biasa saja, namun perlahan alisnya mulai berkerut sebelum akhirnya ia mengembalikan ponsel tersebut dengan wajah yang jauh lebih serius.
"Oke."
"Itu saja?"
"Aku sedang memilih antara panik atau pura-pura tidak tahu."
Selvara menghela napas pelan.
Theo menatap keluar jendela beberapa detik sebelum kembali bicara.
"Yang kamu lihat tadi pagi itu benar-benar mirip kamu?"
Selvara mengangguk.
"Persis."
"Bukan sekadar mirip?"
"Persis."
Theo kembali terdiam.
Kali ini bukan karena bercanda.
Ia benar-benar sedang memikirkan jawabannya.
"Kalau begitu aku tidak suka bagian ini."
"Aku juga."
Theo mengusap belakang lehernya pelan.
"Semalam kita dikejar sesuatu yang tidak jelas, lalu pagi ini kamu melihat dirimu sendiri berdiri di pinggir jalan. Jujur saja, aku mulai merindukan masa ketika masalah terbesar kita cuma tugas sekolah."
Selvara tersenyum tipis.
"Baru beberapa hari yang lalu kamu mengeluh karena ulangan matematika."
"Itu karena waktu itu aku belum tahu ada pilihan yang lebih buruk."
Percakapan itu berhasil membuat suasana sedikit lebih ringan.
Sedikit.
Namun cukup untuk membuat pikiran Selvara tidak sepenuhnya tenggelam dalam pesan Lyara.
Ponselnya kembali bergetar.
Kali ini bukan dari grup.
Lyara mengirim satu pesan lagi.
Lyara:
"jangan dekati kalau muncul lagi."
Selvara langsung membalas.
Selvara:
"kenapa?"
Balasan tidak datang secepat sebelumnya.
Indikator mengetik muncul cukup lama, lalu menghilang, kemudian muncul lagi beberapa detik kemudian.
Akhirnya pesan baru masuk.
Lyara:
"karena sebagian Fractured tidak mencari korban."
Lyara:
"mereka mencari sesuatu yang hilang."
Selvara membaca kalimat itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Semakin dibaca, semakin terasa aneh.
Mencari sesuatu yang hilang.
Bukan menyerang.
Bukan memburu.
Mencari.
Dan entah kenapa, kata itu justru membuatnya lebih tidak nyaman.
Bus perlahan mulai memasuki kawasan Resounion High School.
Gedung sekolah sudah terlihat dari kejauhan di balik deretan pohon yang masih basah oleh sisa hujan malam. Beberapa siswa mulai berdiri untuk bersiap turun, sementara suara percakapan perlahan memenuhi bagian dalam bus.
Saat itulah resonance di jarinya kembali berdenyut.
DUUM.
Kali ini sedikit lebih kuat.
Selvara refleks mengangkat wajah.
Dan dalam sekejap, benang-benang cahaya transparan kembali memenuhi penglihatannya.
Aliran itu membentang di seluruh area sekolah seperti jaringan besar yang saling terhubung. Sebagian bergerak tenang mengikuti arus mana alami, sementara sebagian lain tampak menyebar di antara gedung, taman, dan koridor seperti akar yang tidak terlihat oleh orang biasa.
Namun di antara semua itu, ada satu bagian yang langsung menarik perhatian Selvara.
Gedung lama di sisi timur sekolah.
Benang-benang di sekitar area tersebut terlihat berbeda.
Tidak sepenuhnya gelap.
Tidak juga rusak.
Tetapi bergerak dengan pola yang tidak sinkron dibanding aliran lain di sekitarnya.
Seperti ada sesuatu yang mengganggu keseimbangan di sana.
Selvara terus memperhatikan area itu sampai bus akhirnya berhenti di depan gerbang.
Pintu kendaraan terbuka.
Para siswa mulai turun satu per satu.
Namun sebelum Selvara berdiri dari kursinya, ia sempat melihat sesuatu di salah satu jendela gedung lama itu.
Seseorang.
Berdiri diam.