CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #16

Voices that Follow Shadows

Chapter 1 : Episode 16 

Suara berat itu kembali terdengar dari kedalaman perpustakaan.

Kali ini lebih jelas.

Bukan suara langkah kaki atau suara rak buku yang bergeser.

Melainkan gema rendah yang terasa sampai ke lantai tempat mereka berdiri.

Getarannya begitu halus hingga Theo sempat mengira dirinya hanya berhalusinasi.

Namun ekspresi laki-laki di depan mereka membuktikan hal sebaliknya.

Senyum kecil yang sebelumnya muncul di wajahnya telah menghilang.

Untuk pertama kalinya sejak mereka memasuki ruangan itu, pria tersebut terlihat benar-benar waspada.

Selvara langsung menyadarinya.

Dan kesadaran itu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Karena seseorang yang tampaknya memahami tempat ini jauh lebih baik daripada mereka baru saja kehilangan ketenangannya.

Duum.

Resonance di jarinya kembali berdenyut.

Benang-benang cahaya yang memenuhi perpustakaan bergetar bersamaan.

Seperti riak kecil yang menyebar di atas permukaan air.

Laki-laki itu mengalihkan pandangan ke arah lorong rak buku yang membentang jauh ke dalam kegelapan.

Tatapannya tajam.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

Atau seseorang.

Theo menjadi orang pertama yang memecah keheningan.

"Oke."

Ia menunjuk ke arah lorong gelap tersebut.

"Lalu aku harus berpura-pura tidak mendengar suara itu atau bagaimana?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Bahkan Vio yang biasanya paling cepat menanggapi candaan Theo terlihat terlalu sibuk memperhatikan reaksi pria itu.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian suara berat itu terdengar lagi.

Kali ini lebih dekat.

Lebih jelas.

Dan cukup kuat untuk membuat debu-debu halus di atas rak buku berjatuhan perlahan.

Suara itu kembali terdengar.

Bukan dari dekat.

Bukan pula dari ujung lorong yang masih bisa mereka lihat.

Suara itu datang dari tempat yang jauh lebih dalam.

Dari area perpustakaan yang bahkan tidak tersentuh cahaya lampu gantung tua di atas mereka.

Getarannya merambat melalui lantai kayu sebelum perlahan menghilang.

Beberapa debu tipis berjatuhan dari rak buku terdekat.

Tidak banyak.

Namun cukup untuk membuat semua orang menyadari bahwa suara tadi bukan imajinasi.

Theo yang berdiri paling dekat dengan pintu masuk langsung menoleh ke kiri dan kanan.

"Aku harap ada penjelasan yang masuk akal untuk itu," katanya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Vio mengangkat sebelah alis sambil tetap memperhatikan lorong gelap di depan mereka.

"Kalau ada penjelasan masuk akal, kita tidak akan berada di sini."

"Itu bukan jawaban yang membuatku tenang."

"Itu bukan tujuan jawabanku."

Theo mengembuskan napas panjang.

"Sial. Aku benci ketika kamu benar."

Di samping mereka, Selvara masih menatap ke arah yang sama.

Lorong-lorong rak buku membentang begitu jauh hingga terlihat seperti tidak memiliki akhir.

Semakin lama ia memperhatikan, semakin sulit baginya memahami ukuran tempat ini.

Dari luar, bangunan sekolah mereka tidak mungkin memiliki ruang sebesar ini.

Bahkan jika seluruh lantai digabungkan sekalipun.

Namun kenyataannya, perpustakaan itu tetap ada.

Nyata.

Berdiri di depan mata mereka.

Duum.

Getaran lembut kembali muncul dari cincin di jari Selvara.

Refleks ia menunduk.

Cahaya tipis berwarna kebiruan berdenyut sesaat di permukaan logam sebelum menghilang lagi.

Ketika mengangkat kepala, ia mendapati laki-laki misterius itu sedang memperhatikannya.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada permusuhan di sana.

Namun ada sesuatu yang membuat Selvara sulit merasa nyaman.

Seolah laki-laki itu mengetahui lebih banyak tentang dirinya dibanding yang seharusnya.

"Kamu terus melihat cincin itu."

Suara laki-laki tersebut terdengar tenang.

Selvara sedikit mengernyit.

"Kamu tahu apa ini?"

Laki-laki itu tidak langsung menjawab.

Ia melangkah pelan menuju salah satu rak buku terdekat, lalu menyentuhkan jemarinya pada punggung sebuah buku tua yang sudah mulai pudar warnanya.

"Aku tahu apa yang sedang mencoba dibangunkan oleh cincin itu."

Jawaban tersebut justru membuat dahi Selvara semakin berkerut.

Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, Theo sudah lebih dulu melangkah maju setengah langkah.

"Tunggu dulu."

Theo menunjuk laki-laki itu.

"Kita baru bertemu beberapa menit lalu."

Laki-laki tersebut mengalihkan pandangan.

Theo melanjutkan sambil mengangkat kedua tangannya.

"Kamu bicara tentang resonance, cincin misterius, perpustakaan yang tidak masuk akal, lalu ada suara monster dari dalam sana."

Ia menunjuk lorong gelap di kejauhan.

"Aku merasa kita melewatkan bagian perkenalan."

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sudut bibir laki-laki itu sedikit terangkat.

Senyum tipis.

Hampir tidak terlihat.

"Kalian boleh memanggilku Adrian."

"Adrian?" ulang Vio.

Laki-laki itu mengangguk.

"Itu nama yang paling sering kugunakan."

Theo langsung memijat pelipisnya.

"Aku tidak suka kalimat itu."

Lyara yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

Gadis itu melangkah mendekati Selvara tanpa melepaskan pandangannya dari lorong-lorong rak buku.

"Sel."

Nada suaranya jauh lebih serius dibanding biasanya.

Selvara menoleh.

"Ada apa?"

Lyara terdiam sesaat.

Seolah sedang mendengarkan sesuatu.

Atau seseorang.

"Aku mulai mendengar suara-suara lagi."

Udara di sekitar mereka terasa lebih dingin.

Theo langsung menoleh.

"Suara apa?"

Lyara tidak menjawab pertanyaan itu.

Tatapannya masih tertuju ke dalam kegelapan.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

Dan itu cukup membuat Selvara merasakan sesuatu yang tidak nyaman merayap di dadanya.

Karena selama ini, Lyara selalu terlihat paling tenang di antara mereka.

Namun sekarang, gadis itu tampak benar-benar gelisah.

"Ada seseorang di sana," bisik Lyara pelan.

Adrian langsung mengangkat kepala.

Ekspresinya berubah.

Untuk pertama kalinya, ketenangan yang sejak tadi ia pertahankan tampak retak.

"Seseorang?" tanya Vio.

Lyara menggeleng perlahan.

"Aku tidak yakin."

Kemudian gadis itu menatap lurus ke arah Selvara.

Tatapan yang membuat suasana menjadi semakin berat.

"Atau mungkin sesuatu."

Tepat pada saat yang sama, dari kedalaman perpustakaan yang gelap, terdengar suara lirih yang nyaris tidak bisa dibedakan dari desiran angin.

Namun Selvara mendengarnya.

Dengan sangat jelas.

"Selvara..."

Tubuhnya langsung membeku.

Karena suara itu terdengar begitu dekat.

Begitu akrab.

Seolah berasal dari seseorang yang pernah ia kenal.

Seseorang yang seharusnya tidak mungkin berada di tempat ini.

Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi, sebuah buku tua di rak paling ujung perlahan terjatuh sendiri dari tempatnya.

Bruk.

Suara benda itu bergema pelan di tengah keheningan.

Lalu seluruh perpustakaan kembali diam.

Terlalu diam.

Seolah sedang menunggu mereka mengambil langkah berikutnya.

Tidak ada seorang pun yang bergerak setelah buku itu jatuh.

Keheningan yang menyelimuti perpustakaan terasa semakin berat dibanding sebelumnya.

Selvara masih berdiri di tempatnya.

Jantungnya berdetak lebih cepat daripada yang ingin ia akui.

Bukan karena buku yang terjatuh.

Bukan pula karena lorong gelap di hadapan mereka.

Melainkan karena suara yang baru saja memanggil namanya.

Suara itu terasa terlalu nyata.

Terlalu dekat.

Dan yang paling mengganggu, suara tersebut terdengar familiar.

Seolah berasal dari seseorang yang pernah ia kenal.

Seseorang yang pernah berbicara dengannya berkali-kali.

Namun setiap kali mencoba mengingat siapa pemilik suara itu, pikirannya justru terasa kabur.

Seperti ada lapisan tipis yang sengaja menghalangi ingatannya.

"Sel?"

Suara Vio membuyarkan lamunannya.

Gadis itu melangkah mendekat sambil memperhatikan wajah Selvara yang mendadak pucat.

"Kamu dengar sesuatu?"

Selvara menelan ludah sebelum mengangguk pelan.

"Ada yang memanggil namaku."

Theo yang berdiri di dekat rak buku langsung memalingkan kepala.

"Kamu serius?"

Selvara mengangguk sekali lagi.

Theo tidak langsung menjawab.

Biasanya ia akan mengeluarkan komentar untuk mencairkan suasana.

Namun kali ini ekspresinya berubah lebih serius.

Karena cara Selvara mengatakannya terdengar terlalu meyakinkan untuk dianggap bercanda.

Di sisi lain, Adrian perlahan berjalan menuju rak tempat buku tadi jatuh.

Langkahnya tenang.

Namun dari sorot matanya, Selvara bisa melihat bahwa laki-laki itu sedang memikirkan sesuatu.

Sesuatu yang tidak ia sukai.

Adrian membungkuk lalu mengambil buku tua tersebut dari lantai.

Debu tipis beterbangan ketika jemarinya menyentuh sampul yang mulai kusam dimakan usia.

Ia memeriksa bagian depan buku itu selama beberapa detik.

Lalu ekspresinya mengeras.

Perubahan kecil.

Namun cukup jelas bagi Selvara.

"Ada apa?" tanya Lyara sambil memperhatikan buku itu.

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia menutup buku tersebut perlahan sebelum mengangkat pandangan ke arah lorong yang membentang jauh di belakang mereka.

"Benda itu seharusnya tidak jatuh."

Theo menghela napas panjang.

"Aku merasa semua yang ada di tempat ini tidak seharusnya ada."

"Yang ini berbeda."

Nada suara Adrian terdengar lebih tegas dibanding sebelumnya.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, tidak ada kesan santai dalam ucapannya.

"Itu bukan jatuh karena usia rak."

"Karena apa?" tanya Vio.

Adrian menatap buku di tangannya.

"Karena seseorang mengambilnya."

Kalimat itu langsung membuat suasana membeku.

Theo berkedip beberapa kali.

"Lalu sekarang kenapa bukunya ada di tanganmu?"

"Bukan aku."

"Aku tahu."

Theo menunjuk buku tersebut.

"Itulah yang membuat bagian ini mengkhawatirkan."

Tidak ada yang tertawa.

Bahkan Theo sendiri tidak terlihat berniat melucu.

Karena semua orang memahami maksud Adrian.

Jika buku itu terjatuh karena seseorang mengambilnya...

maka berarti ada sosok lain di perpustakaan ini.

Sosok yang belum mereka lihat.

Sosok yang berada di antara rak-rak buku yang tidak berujung.

Duum.

Resonance di jari Selvara kembali berdenyut.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Ia refleks menggenggam tangannya sendiri.

Sensasi hangat menjalar dari cincin menuju pergelangan tangannya.

Lalu perlahan menyebar ke seluruh tubuh.

Pada saat yang sama, sesuatu berubah.

Awalnya hanya sedikit.

Namun semakin lama semakin jelas.

Benang-benang cahaya yang memenuhi perpustakaan mulai bergerak.

Bukan bergerak mengikuti arus.

Melainkan bergerak menuju satu arah yang sama.

Ke dalam.

Jauh ke kedalaman perpustakaan.

Seolah ada sesuatu yang sedang menarik mereka.

Selvara tanpa sadar melangkah setengah langkah ke depan.

Tatapannya mengikuti aliran cahaya tersebut.

Dan saat itulah ia melihatnya.

Di ujung salah satu lorong.

Sangat jauh.

Hampir tidak terlihat.

Ada sesosok bayangan berdiri diam di antara rak-rak buku.

Terlalu jauh untuk mengenali wajahnya.

Namun siluet itu jelas bukan rak buku.

Bukan meja.

Bukan ilusi cahaya.

Itu seseorang.

Atau setidaknya tampak seperti seseorang.

Napas Selvara tertahan.

"Di sana."

Suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia sadari.

Vio langsung mengikuti arah pandangnya.

Theo juga menoleh.

"Apa?"

Selvara mengangkat tangan perlahan.

"Di ujung lorong itu."

Semua orang memandang ke arah yang sama.

Namun setelah beberapa detik berlalu, Theo mengernyit.

"Aku tidak melihat apa-apa."

"Aku juga," ujar Vio pelan.

Lyara tetap diam.

Gadis itu menyipitkan mata seolah berusaha fokus pada sesuatu yang tidak dapat dijangkau penglihatannya.

Sementara itu, Adrian justru tampak semakin serius.

Ia tidak bertanya apa yang dilihat Selvara.

Tidak pula mencoba menyangkalnya.

Sebaliknya, ia terlihat seperti seseorang yang sudah mengetahui jawabannya.

"Itu tidak mungkin..."

gumam Adrian nyaris tak terdengar.

"Apa yang tidak mungkin?" tanya Theo cepat.

Adrian tidak menjawab.

Tatapannya masih terkunci pada lorong tersebut.

Lalu perlahan, ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang jarang terlihat pada orang yang sejak tadi tampak begitu tenang.

Kekhawatiran.

Murni kekhawatiran.

"Kalau kamu benar-benar bisa melihatnya..." ucap Adrian pelan sambil menatap Selvara.

"...maka kita sudah terlambat."

Belum sempat siapa pun meminta penjelasan, sosok bayangan di ujung lorong itu bergerak.

Satu langkah.

Perlahan.

Lalu menghilang di balik rak buku.

Pada saat yang sama, suara yang tadi memanggil Selvara kembali terdengar.

Lebih jelas.

Lebih dekat.

Seolah kini berada tepat di belakang telinganya.

"Temukan aku."

Tubuh Selvara langsung menegang.

Suara itu menghilang sesaat setelah terdengar.

Namun dampaknya tidak ikut menghilang.

Selvara membeku di tempat.

Napasnya terasa tertahan di dada.

Bukan karena suara tersebut terdengar mengancam.

Justru sebaliknya.

Nada suaranya lembut.

Bahkan terdengar seperti seseorang yang sedang meminta bantuan.

Lihat selengkapnya