Chapter 1 - Episode 17
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Semua perhatian tertuju ke ujung lorong.
Pasangan-pasangan cahaya redup itu tetap berada di sana.
Namun justru itulah yang membuat suasana terasa semakin tidak nyaman.
Selvara memperhatikan titik-titik cahaya tersebut dengan napas yang mulai terasa berat.
Semakin lama ia melihatnya, semakin jelas bahwa itu bukan pantulan.
Cahaya-cahaya itu berada pada ketinggian yang berbeda.
Seolah berasal dari makhluk yang memiliki ukuran berbeda-beda.
Theo berdiri sedikit di depan Vio sambil tetap menatap kegelapan.
"Aku akan mengajukan pertanyaan yang mungkin penting."
Theo menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Apa mereka melihat kita?"
Vio yang masih memeluk lengannya sendiri tidak mengalihkan pandangan dari lorong.
"Kalau mereka punya mata, kemungkinan besar iya."
"Itu bukan jawaban yang menenangkan."
"Aku tidak sedang mencoba menenangkanmu."
Di sisi lain, Adrian tampak jauh lebih fokus dibanding sebelumnya.
Tatapannya berpindah dari satu titik cahaya ke titik lainnya.
Seolah sedang menghitung sesuatu.
Atau memastikan sesuatu.
Ekspresi itu tidak luput dari perhatian Selvara.
"Kamu pernah melihat mereka?"
Selvara bertanya sambil tetap memperhatikan lorong.
Adrian tidak langsung menjawab.
Rahangnya mengeras sesaat sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.
"Pernah."
Theo langsung menoleh.
"Hanya pernah?"
Adrian mengalihkan pandangan ke arah mereka.
"Aku berharap tidak perlu melihat mereka lagi."
Jawaban itu membuat suasana semakin berat.
Karena untuk pertama kalinya, Adrian tidak terdengar seperti seseorang yang mengetahui segalanya.
Ia terdengar seperti seseorang yang pernah selamat dari sesuatu.
Namun cukup untuk membuat seluruh kelompok membeku.
Sebelumnya titik cahaya itu berada jauh di antara rak-rak buku.
Padahal tidak seorang pun melihatnya berjalan.
Tidak ada tanda apa pun, Seolah ia hanya... berpindah.
Lyara langsung menggenggam lengan seragamnya sendiri lebih erat.
"Itu tidak berjalan."
Suara Lyara terdengar lebih pelan dari biasanya.
"Itu muncul di tempat yang berbeda."
Tidak ada yang membantah.
Karena semua orang melihat hal yang sama.
Kemudian satu cahaya lagi berpindah.
Satu per satu.
Mendekat.
Perlahan.
Sementara resonance di jari Selvara mulai berdenyut semakin cepat.
Dan entah kenapa...
di antara semua titik cahaya yang bergerak itu, ada satu yang terasa berbeda.
Satu yang terus menarik perhatiannya.
Satu yang membuat perasaan familiar itu kembali muncul.
Seolah sesuatu di balik kegelapan sedang mencoba mengingatnya.
Atau mungkin...
sedang menunggunya.
Tidak ada seorang pun yang bergerak.
Bukan karena mereka tidak ingin bergerak.
Melainkan karena insting mereka semua sedang berteriak untuk tetap diam.
Titik-titik cahaya itu terus bermunculan di antara lorong rak buku yang tak berujung. Sebagian berada dekat lantai, sebagian lagi jauh lebih tinggi hingga hampir menyentuh bagian atas rak. Sulit memperkirakan ukuran tubuh pemilik cahaya-cahaya tersebut karena sebagian besar wujud mereka masih tersembunyi di balik kegelapan.
Namun satu hal mulai terlihat jelas.
Mereka sedang memperhatikan kelompok Selvara.
Bukan kebetulan.
Bukan sekadar keberadaan yang kebetulan berada di area yang sama.
Mereka sadar.
Mereka melihat.
Dan mereka mengetahui ada orang lain di perpustakaan itu.
Selvara merasakan resonance di jarinya berdenyut semakin cepat. Hangat yang biasanya hanya terasa di sekitar cincin kini mulai menjalar hingga ke pergelangan tangannya. Sensasi itu tidak menyakitkan, tetapi cukup untuk membuatnya sulit mengabaikannya.
Di sampingnya, Lyara masih menatap ke arah lorong dengan ekspresi tegang yang jarang terlihat di wajahnya. Bahkan sejak mereka menghadapi Fractured beberapa waktu lalu, Selvara tidak pernah melihat Lyara setegang ini.
Adrian mengangkat satu tangan perlahan, memberi isyarat agar tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang membantah.
Theo bahkan langsung menghentikan gerakan kecil yang hendak ia lakukan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa panjang.
Kemudian salah satu cahaya di kejauhan bergerak lagi.
Bukan berjalan.
Bukan melangkah.
Posisinya hanya berubah.
Satu saat berada di antara dua rak.
Detik berikutnya sudah muncul beberapa meter lebih dekat.
Seolah ruang di dalam perpustakaan itu tidak berlaku bagi mereka.
Theo mengembuskan napas perlahan sambil tetap menatap ke depan.
"Aku tidak tahu apa itu," ucap Theo dengan suara pelan, "tapi aku mulai merindukan ujian matematika."
Vio yang berdiri di sebelahnya masih memperhatikan lorong.
"Itu pertama kalinya aku mendengar seseorang berkata seperti itu."
"Aku serius."
"Aku justru lebih khawatir karena kamu serius."
Meski percakapan kecil itu muncul, tidak ada seorang pun yang benar-benar santai.
Ketegangan masih memenuhi udara di sekitar mereka.
Selvara sendiri hampir tidak mendengar percakapan tersebut.
Perhatiannya tertarik pada satu titik cahaya yang berbeda dari yang lain.
Letaknya berada paling belakang.
Hanya diam mengawasi dari kejauhan.
Entah kenapa, justru itulah yang membuatnya terasa paling mencolok.
Saat Selvara mencoba memfokuskan pandangannya, titik cahaya itu perlahan berubah bentuk.
Bukan karena bergerak lebih dekat.
Melainkan karena bayangan di sekitarnya mulai memudar.
Sedikit demi sedikit.
Cukup untuk memperlihatkan siluet seseorang.
Seseorang yang berdiri diam di antara rak-rak buku.
Seseorang yang tampak mengenakan pakaian panjang berwarna gelap.
Dan seseorang yang sedang menatap lurus ke arahnya.
Napas Selvara tertahan.
Ia tidak bisa melihat wajah sosok itu dengan jelas.
Namun ada perasaan yang sama seperti sebelumnya.
Perasaan familiar yang tidak bisa dijelaskan.
Seolah sebagian dirinya mengenali sosok tersebut meski pikirannya tidak mampu menemukan alasannya.
Pada saat yang sama, buku hitam yang berada di atas meja mulai bergetar pelan.
Suara gesekan halamannya terdengar sendiri tanpa ada seorang pun yang menyentuhnya.
Adrian langsung menoleh.
Ekspresi laki-laki itu berubah dalam sekejap.
"Jangan lihat ke sana terlalu lama."
Kalimat itu keluar begitu cepat hingga semua orang langsung memperhatikannya.
Selvara mengalihkan pandangan dari sosok di kejauhan.
"Apa maksudmu?"
Adrian berjalan mendekati meja lalu menekan sampul buku dengan telapak tangannya seolah berusaha menghentikan sesuatu.
"Perpustakaan ini menyimpan jejak."
"Jejak apa?" tanya Vio sambil mengernyit.
Adrian terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
"Orang-orang."
Tidak ada yang langsung memahami maksudnya.
Bahkan Theo terlihat semakin bingung.
Melihat ekspresi mereka, Adrian mengembuskan napas panjang.
"Kenangan. Kemungkinan. Pilihan yang tidak pernah terjadi. Hal-hal yang hilang. Semua bisa meninggalkan jejak di tempat ini."
Theo langsung memegang kepalanya.
"Aku baru mengerti setengah kalimat pertama."
"Aku juga," sahut Vio.
"Itu melegakan."
Namun Selvara tidak ikut dalam percakapan mereka.
Karena pada saat yang sama, ia kembali mendengar suara itu.
Bukan dari seluruh perpustakaan.
Bukan dari dalam kepalanya.
Melainkan dari arah sosok yang berdiri jauh di antara rak-rak buku.
Kali ini suaranya lebih jelas.
Lebih tenang.
Dan jauh lebih sedih.
"Akhirnya aku menemukanmu..."
Selvara membeku.
Kalimat itu sama persis dengan yang mereka dengar sebelumnya.
Namun sekarang terdengar berbeda.
Bukan seperti ancaman.
Bukan seperti jebakan.
Melainkan seperti seseorang yang telah mencari terlalu lama.
Seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang hilang.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki perpustakaan itu, Selvara merasakan dorongan yang kuat untuk mendekat.
Bukan karena rasa penasaran atau resonance.
Melainkan karena ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin mengetahui siapa sebenarnya sosok itu.
Sayangnya, sebelum ia sempat mengambil satu langkah pun, seluruh lampu di perpustakaan tiba-tiba padam secara bersamaan.
Kegelapan langsung menelan lorong-lorong di sekitar mereka.
Beberapa detik kemudian, suara sesuatu yang sangat besar bergeser di antara rak-rak buku terdengar jauh lebih dekat daripada sebelumnya, dan kali ini, semua orang tahu bahwa apa pun yang bergerak di sana bukan lagi sekadar bayangan di kejauhan.
lik celah itu.
Dekat.
Sangat dekat.
"Selvara..."
Kelompok itu langsung membeku.
Theo yang tadi masih berbicara langsung menutup mulutnya.
Vio menegang.
Lyara mengangkat kepala dengan cepat.
Bahkan Adrian terlihat kehilangan ketenangannya selama beberapa detik.
Karena untuk pertama kalinya, mereka semua mendengar sumber suara yang sama.
Dan sumbernya berada tepat di balik rak-rak buku tersebut.
Resonance di jari Selvara menyala lebih terang.
Pada saat yang sama, cahaya samar yang tadi hanya terlihat sekilas mulai membesar dari balik celah.
Perlahan.
Tanpa suara.
Seolah sebuah ruangan tersembunyi sedang terbuka di sisi lain.
Dan semakin terang cahaya itu muncul, semakin kuat perasaan Selvara bahwa apa pun yang menunggunya di sana memiliki hubungan langsung dengan dirinya.
Tidak ada seorang pun yang langsung bergerak.
Celah di antara rak-rak buku itu kini memancarkan cahaya yang cukup terang untuk memperlihatkan sebagian ruangan di baliknya. Semakin lama mereka memperhatikan, semakin jelas bahwa ruangan tersebut memang benar-benar ada dan bukan sekadar ilusi cahaya.
Selvara masih menatap ke arah yang sama.
Perasaan aneh yang sejak tadi mengganggunya kini berubah menjadi keyakinan yang sulit dijelaskan. Ruangan itu memanggil rasa penasarannya dengan cara yang sama seperti buku hitam yang menampilkan namanya beberapa waktu lalu.
Di sampingnya, Lyara memperhatikan wajah Selvara sebelum kembali melihat ke arah celah.
"Kamu mau masuk ke sana, ya?" tanya Lyara sambil sedikit memiringkan kepala.
Selvara tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih tertuju pada meja yang berada di dalam ruangan.
Terutama pada bingkai foto yang berdiri sendirian di atasnya.
"Aku harus melihat foto itu," jawab Selvara akhirnya.
Theo yang berdiri beberapa langkah di belakang langsung menghela napas panjang.
"Aku tahu aku tidak akan menyukai jawaban itu."
Vio melirik Theo sekilas sebelum kembali memperhatikan ruangan tersebut.
"Kalau memang ada hubungannya dengan Sel, kita tidak bisa pura-pura tidak melihatnya."
Theo mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku tahu."
Kemudian ia menunjuk ke arah lorong belakang yang masih gelap.
"Aku hanya ingin mengingatkan bahwa sesuatu yang sangat besar sedang berjalan ke arah kita."
Kalimat itu langsung membuat suasana kembali tegang.
Karena tidak seorang pun melupakan suara langkah yang tadi mereka dengar.
Suara berat itu masih terdengar sesekali dari kejauhan.
Lebih pelan dibanding sebelumnya.
Namun justru itu yang membuatnya terasa lebih mengkhawatirkan.
Seolah sesuatu tersebut sedang mencari dengan sabar.
Adrian mengalihkan pandangannya dari lorong belakang menuju celah di antara rak.
Ia tampak sedang mempertimbangkan sesuatu.
Lalu akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Kita masuk."
Theo langsung menoleh.
"Kita masuk?"
Adrian mengangguk pelan.
"Kita tidak punya banyak waktu."
"Bagian itu justru yang membuatku semakin tidak tenang."
Vio menyilangkan kedua tangannya sambil melangkah mendekati celah.
"Kalau kita tetap berdiri di sini, keadaan juga tidak akan berubah."
Theo membuka mulut seolah hendak membantah.
Namun beberapa detik kemudian ia menyerah.
"Baiklah."
Ia mengangkat kedua tangannya.
"Aku ikut keputusan mayoritas."
Adrian menjadi orang pertama yang melangkah melewati celah sempit tersebut.
Selvara mengikuti tepat di belakangnya.
Begitu melewati rak-rak buku, suasana langsung berubah.
Udara di dalam ruangan itu terasa lebih hangat dibanding lorong perpustakaan.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk disadari.
Ruangan tersebut juga jauh lebih kecil daripada yang mereka bayangkan.
Sebuah meja kayu berdiri di tengah ruangan.
Dua kursi berada di sisi berlawanan.
Di dekat jendela terdapat lemari kecil yang dipenuhi buku catatan tua.
Dan di atas meja...
bingkai foto itu masih berada di tempatnya.
Selvara perlahan mendekat.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.