CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #18

Face Behind The Glass

Chapter 1 - Episode 18 

Retakan pertama muncul tepat setelah Selvara selesai membaca dua kata di belakang foto itu. Jangan percaya, Bunyi yang samar-samar itu terdengar dari jendela membuat Selvara mengangkat kepala. Garis putih menjalar dari sudut kaca, bercabang ke tengah, lalu retakan lain muncul hampir bersamaan pada jendela di sisi ruangan. Dalam beberapa detik, pemandangan halaman sekolah di balik hujan terpecah menjadi bidang-bidang kecil yang saling memantulkan cahaya kelabu dari luar.

Vio merapatkan kedua lengannya ke tubuh. “Oke, itu jelas bukan karena angin.”

Theo yang tadi masih berada dekat meja mundur mendekati mereka sambil memperhatikan retakan yang terus bertambah. “Aku juga mau menyalahkan gedung tua, tapi kalau semua jendelanya kompak begini, alasannya mulai susah dicari.”

“Jangan dekat-dekat kacanya dulu.” Lyara bergeser dari sisi jendela dan memilih berdiri di tengah ruangan. Tatapannya berpindah dari satu retakan ke retakan lain. “Kalau pecah sekaligus, kita nggak tahu arahnya bakal ke mana.”

Adrian sudah berada beberapa langkah di depan mereka. Sejak menemukan ruangan itu, sikapnya lebih waspada daripada biasanya, tetapi kali ini ia tidak mencoba mendekati jendela. Ia justru menoleh ke arah pintu yang tadi mereka gunakan untuk masuk.

Selvara mengikuti perhatiannya. “Kamu pikir kita harus keluar?”

“Aku pikir kita jangan menunggu sampai tempat ini memutuskan sesuatu yang lebih buruk.”

Theo segera menuju pintu. “Nah, itu rencana yang bisa aku dukung.”

Ia menurunkan gagangnya, Pintu tidak terbuka.

Theo menariknya sekali lagi, lalu mendorong menggunakan bahu. Daun pintu tetap berada di tempatnya meski gagangnya dapat bergerak normal.

Vio mendekat beberapa langkah. “Terkunci?”

“Kalau terkunci, gagangnya biasanya nggak begini.” Theo mencoba lagi dan kali ini menekan telapak tangan ke permukaan pintu. “Rasanya kayak ada sesuatu yang nahan dari sisi lain.”

Adrian menghampirinya dan mencoba sendiri. Setelah memastikan pintu memang tidak bergeser, ia mundur. “Jangan dipaksa. Kalau mekanismenya rusak, kita malah bisa bikin satu-satunya jalan keluar benar-benar macet.”

Theo melepaskan gagang. “Aku menghargai optimisme bahwa ini masih bisa disebut jalan keluar.”

Sebuah bunyi keras terdengar dari belakang mereka.

TOK.

Percakapan langsung berhenti.

Selvara menoleh ke jendela.

TOK.

Kali ini sumbernya lebih mudah dikenali.

Sesuatu mengetuk kaca dari luar.

Vio menatap jendela paling kanan. “Kita ada di lantai atas, kan?”

Theo meliriknya. “Aku cukup yakin kita belum pindah lantai tanpa sadar.”

“Jadi siapa yang bisa mengetuk dari luar?”

Tidak ada yang menjawab karena ketukan berikutnya datang dari jendela yang berbeda.

TOK.

Selvara menahan foto lama itu di depan dadanya. Pesan di bagian belakang kembali memenuhi pikirannya. Dua kata tersebut terasa terlalu tepat dengan apa yang sedang terjadi, seolah seseorang sengaja memastikan ia membacanya sebelum ruangan mulai berubah.

Masalahnya, pesan itu tidak mengatakan apa yang seharusnya ia ragukan.

Salah satu retakan pada kaca memanjang.

Selvara melihat sesuatu bergerak di baliknya.

“Di sana.”

Theo dan Vio langsung mengikuti arah pandangannya. Sebuah telapak tangan menempel pada kaca. Kulitnya pucat, hampir kehilangan warna di antara air hujan yang mengalir di permukaan jendela. Lima jarinya terbuka lebar dan menekan dari sisi luar, tetapi tidak ada lengan maupun tubuh yang terlihat di baliknya.

Vio spontan mundur sampai bahunya menyentuh Selvara. “Itu tangan orang?”

Theo menatap ruang kosong di luar jendela. “Kalau orangnya bisa berdiri di tembok, aku rasa kita punya masalah yang lebih besar.”

“Jangan mendekat.” Adrian mengangkat satu tangan ketika Theo baru hendak mengubah posisi untuk melihat lebih jelas. “Kita belum tahu benda itu bereaksi terhadap apa.”

Theo berhenti. “Aku cuma mau lihat.”

“Lihat dari sini.” Nada Adrian membuat Theo memilih menurut meski raut wajahnya jelas belum puas. Tangan di balik kaca bergeser.

Kelima jarinya meninggalkan jejak panjang di antara air hujan sebelum telapak itu turun dan menghilang dari pandangan.

Selvara menunggu sesuatu muncul menggantikannya.

Ketukan terdengar lagi.

TOK.

Bukan dari jendela yang sama.

TOK.

Suara berikutnya datang dari sisi kiri.

TOK.

Lalu dari belakang.

Vio berdiri lebih dekat ke Selvara. “Dia muterin kita.”

“Belum tentu satu orang,” ujar Lyara.

Theo menatapnya. “Terima kasih. Sekarang situasinya jauh lebih menenangkan.”

Lyara tidak menanggapi candaan itu. Ia memusatkan perhatian pada jendela di seberang. “Dengarkan jedanya.”

Selvara sudah menangkap hal yang sama.

Ketukan tersebut tidak berpindah sembarangan.

Tiga kali dari kanan.

Dua kali dari kiri.

Satu kali dari belakang.

Lalu berhenti.

Theo menghitungnya dengan suara rendah. “Tiga, dua, satu.”

“Kayak hitung mundur?” Vio bertanya.

“Kalau iya, aku nggak suka bagian setelah satu.”

Selvara memperhatikan jendela di depan mereka. “Atau dia sedang menarik perhatian kita ke satu tempat.”

Adrian menoleh kepadanya. “Jangan coba menjawab ketukannya.”

“Aku nggak mau.”

“Bagus. Kita belum tahu apakah dia menganggap respons sebagai izin.”

Theo memandang Adrian. “Kamu bicara kayak pernah menghadapi sesuatu begini.”

Adrian tidak langsung menjawab. “Aku pernah baca laporan tentang tempat yang membuat orang melihat hal yang berbeda.”

“Laporan dari mana?”

“Nanti.”

Theo menghela napas melalui hidung. “Kamu punya bakat bikin satu jawaban menghasilkan tiga pertanyaan baru.”

“Kita bisa bahas setelah keluar.”

Kali ini Selvara tidak ikut mendesak Adrian. Ada sesuatu di balik hujan yang bergerak mendekati jendela dan seluruh perhatiannya kembali ke sana.

Awalnya hanya berupa bentuk gelap.

Seseorang berdiri di luar.

Vio mencengkeram lengan bajunya. “Sel, kamu lihat juga?”

“Lihat.”

Jawabannya keluar sambil Selvara mencoba memahami bagaimana sosok itu dapat berada di sana. Tidak ada balkon, pipa besar, maupun bagian atap yang cukup dekat untuk dipijak. Di luar jendela hanya terdapat dinding gedung dan hujan yang turun ke halaman beberapa lantai di bawah mereka.

Sosok itu melangkah mendekat.

Air hujan seharusnya membasahi tubuhnya, tetapi sebagian tetesan justru tampak melewati siluetnya. Bentuk bahunya menjadi lebih jelas, disusul rambut panjang yang jatuh di kedua sisi kepala.

Selvara merasakan jemarinya mengencang pada foto.

Ada sesuatu yang familiar.

Adrian bergerak di depannya. “Selvara, mundur dulu.”

“Aku masih bisa lihat dari sini.”

“Itu justru yang aku khawatirkan.”

Selvara mundur satu langkah bersama Vio, tetapi wajah sosok di balik kaca sudah mulai terlihat di antara garis-garis air.

Rambut hitam panjang.

Garis rahang yang dikenalnya.

Bentuk mata yang terlalu dekat dengan miliknya sendiri.

Selvara berhenti bernapas sesaat ketika sosok itu mengangkat wajah penuh ke arah mereka.

Theo kehilangan komentar yang biasanya muncul paling cepat.

Lyara memandang Selvara, lalu kembali ke jendela. “Itu mirip kamu.”

“Bukan cuma mirip,” bisik Vio. “Wajahnya sama.”

Selvara tidak menjawab.

Sosok di luar jendela memiliki wajahnya.

Seragam yang dikenakannya berbeda dari seragam Resounion. Warnanya lebih gelap dan modelnya terasa berasal dari masa yang tidak dikenali Selvara. Rambutnya pun sedikit lebih panjang. Meski begitu, kemiripan pada wajahnya terlalu dekat untuk dianggap sebagai kebetulan.

Sosok itu memiringkan kepala.

Selvara mengenali gerakan kecil tersebut.

Ia sendiri sering melakukannya saat berusaha memahami perkataan seseorang.

Perasaan asing menjalar di tengkuknya. Wajah yang sama masih dapat dijelaskan sebagai ilusi atau bentuk yang sengaja ditiru tempat ini. Kebiasaan kecil jauh lebih mengganggu.

Theo akhirnya bersuara. “Dia bukan cuma pakai wajahmu.”

Selvara tetap menatap kaca. “Aku tahu.”

Adrian bergeser untuk menutup sebagian pandangan di antara mereka. “Jangan terlalu lama menatapnya.”

Selvara memandangnya. “Kenapa?”

“Karena kalau tempat ini memang bekerja lewat persepsi, semakin lama kita memberi perhatian, semakin banyak yang bisa dipakainya.”

Theo mengerutkan kening. “Itu dari laporan yang tadi?”

“Sebagian.”

“Sebagian lagi?”

“Dugaan.”

Theo mengangguk kecil. “Nah, itu jawaban yang lebih berguna. Setidaknya sekarang aku tahu bagian mana yang belum pasti.”

Sosok di luar mengangkat tangannya.

Telunjuknya menyentuh permukaan kaca yang berembun.

Selvara mengalihkan perhatian kembali meski Adrian baru saja memperingatkannya.

Sosok itu mulai menulis.

S.

E.

L.

V.

A.

Vio membaca lebih dulu. “Selva.”

Nama panggilan itu membuat Selvara semakin sulit menerima bahwa mereka hanya sedang melihat bentuk acak yang dipilih Mist.

Theo memperhatikan tulisannya. “Siapa yang biasa manggil kamu begitu?”

“Orang yang kenal dekat.”

“Berarti dia tahu.”

“Belum tentu.” Selvara mengingat tulisan di belakang foto. “Kalau tempat ini bisa mengambil sesuatu dari kita, nama itu mungkin bukan informasi sulit.”

Lyara mengangguk. “Jangan langsung menganggap dia orang yang mengenal Selvara.”

Sosok di balik kaca tersenyum.

Selvara mengenal senyum itu juga.

Bukan senyum lebar atau ekspresi yang mudah ditiru. Hanya sedikit kenaikan pada salah satu sudut bibir, persis seperti ekspresi yang sering muncul ketika Selvara sudah memahami sesuatu tetapi belum mengatakan jawabannya.

Vio mendekat ke telinga Selvara. “Aku nggak suka dia tahu kebiasaanmu sampai sedetail itu.”

“Aku juga.”

Sosok itu menghapus tulisan SELVA menggunakan telapak tangannya, lalu menulis satu kata lain.

BUKA.

Theo membaca sambil tetap menjaga jarak. “Buka apa?”

Jari di balik kaca bergerak turun.

Menunjuk foto di tangan Selvara.

Selvara ikut menunduk.

Foto itu tampak seperti foto lama biasa sejak mereka menemukannya, selain pesan di bagian belakang. Namun sekarang, setelah memperhatikannya lebih dekat, ia baru menyadari satu sudutnya sedikit lebih tebal.

Lyara berdiri di sampingnya. “Coba jangan dibuka dulu.”

Selvara meraba tepinya. “Ada lapisan lain.”

Adrian langsung memperhatikan foto tersebut. “Simpan dulu.”

“Kenapa?”

“Karena sekarang kita tahu benda di luar itu ingin kamu membukanya.”

“Itu nggak otomatis berarti isinya berbahaya.”

“Aku juga nggak bilang begitu.” Adrian menunjuk pesan di belakang foto. “Tapi seseorang meninggalkan tulisan jangan percaya di benda yang sama. Kita punya dua petunjuk yang saling bertentangan dan belum tahu siapa yang membuat salah satunya.”

Jawaban itu membuat Selvara berhenti.

Kali ini Adrian tidak meminta mereka menurut tanpa alasan. Ia memang benar. Sosok di luar mungkin sedang membantu, tetapi tidak ada dasar bagi Selvara untuk menganggapnya demikian hanya karena memakai wajahnya.

Theo memperhatikan foto dari sisi lain. “Kita juga nggak harus memilih antara buka sekarang atau nggak pernah buka.”

Vio menatapnya. “Maksudmu?”

“Kita periksa dulu. Kalau memang cuma foto berlapis, kita bisa tahu tanpa merusaknya.”

Lyara mengambil ponsel dan menyalakan senter. “Taruh di meja.”

Selvara meletakkan foto di permukaan meja yang berdebu. Mereka berkumpul di sekitarnya tanpa melupakan jendela. Cahaya ponsel Lyara memperlihatkan garis tipis di salah satu sisi belakang foto, cukup rapi hingga sebelumnya mudah dianggap sebagai bagian dari kertas.

Vio menunjuk sudut kiri bawah. “Di sini paling tebal.”

Theo mengusap tepi meja dan menemukan penggaris logam tipis yang tertinggal di antara beberapa map kosong. Ia menyerahkannya kepada Selvara. “Kalau mau cek, pakai ini. Jangan kuku. Kertasnya sudah tua.”

Selvara menerima penggaris itu. “Kamu ternyata bisa berguna juga.”

Theo menahan senyum. “Aku akan anggap itu pujian.”

Untuk pertama kalinya sejak kaca mulai retak, Vio tertawa kecil. “Jangan besar kepala dulu.”

Ketegangan di antara mereka turun sedikit, cukup untuk membuat Selvara bisa berpikir lebih jernih.

Ia memasukkan ujung penggaris ke celah foto.

Perekat tua terangkat.

Satu lapisan tipis mulai terbuka.

Adrian tidak menghentikannya lagi, tetapi tetap berdiri dekat sambil mengawasi jendela. “Pelan. Kalau ada sesuatu yang berubah, berhenti.”

“Kalau ada yang aneh, aku berhenti.”

Selvara membuka lapisan itu beberapa sentimeter.

Sebuah benda transparan terlepas dari dalamnya dan jatuh di atas meja.

Theo refleks menahan foto agar tidak ikut jatuh. “Nah. Kita punya sesuatu.”

Selvara mengambil lembar tipis itu. Ukurannya hanya beberapa jari, dengan garis hitam, lingkaran, dan simbol yang sulit dibaca. Tidak ada tulisan Project Dawn, nama penelitian, ataupun istilah lain yang dapat langsung menjelaskan apa yang sedang mereka lihat.

Lyara menyinari lembar tersebut dari belakang. “Ini kayak bagian dari gambar yang lebih besar.”

“Peta?” Vio bertanya.

“Belum tahu.”

Theo mengambil foto lama dan menaruhnya kembali di meja. “Coba ditumpuk.”

Selvara menempatkan lembar transparan di atas foto.

Pada posisi pertama, garis-garisnya tidak menunjukkan sesuatu yang berarti.

Lyara memutar lembar tersebut.

Sekali.

Dua kali.

Pada putaran berikutnya, beberapa garis bertemu dengan bentuk bangunan yang terlihat di belakang orang-orang dalam foto.

Selvara mencondongkan tubuh sedikit.

Ada sebuah jalur.

Jalur itu dimulai dari ruangan tempat mereka berdiri.

Kemudian melewati sesuatu yang seharusnya hanya berupa dinding.

Vio mengikuti garisnya dengan ujung jari tanpa menyentuh permukaan. “Tunggu. Ini berarti ada ruang lain?”

Theo menatap dinding yang dipenuhi lemari arsip. “Kalau gambar ini benar, iya.”

Ketukan keras menghantam kaca.

TOK.

Mereka serentak menoleh.

Sosok dengan wajah Selvara masih berada di luar.

Senyumnya telah hilang.

Kedua telapak tangannya menempel pada kaca, tetapi kali ini ia tidak melihat ke arah Selvara.

Tatapannya tertuju pada sesuatu di belakang mereka.

Selvara mengikuti arah tersebut.

Deretan lemari arsip.

Adrian sudah bergerak lebih dulu. “Jangan anggap dia benar dulu. Kita cocokkan sama gambar.”

Lyara membawa lembar transparan mendekati dinding dan memeriksa orientasinya. “Kalau posisi jendelanya dipakai sebagai patokan, jalurnya memang lewat sisi itu.”

Theo berdiri di sebelah lemari paling besar. “Berarti untuk sekali ini, petunjuk dari orang di luar kaca punya pendukung.”

Vio menatap ukuran lemari tersebut. “Dan tentu saja pendukungnya berada di belakang benda paling berat di ruangan.”

Theo menyentuh sisi lemari. “Aku mulai merasa tempat ini sengaja nggak suka sama kita.”

Selvara menyimpan foto dan lembar transparan dengan hati-hati ke dalam map kosong. “Kita geser sedikit saja. Kalau ternyata cuma dinding, berhenti.”

Adrian mengangguk. “Theo, bantu dari kanan. Yang lain jangan berdiri di belakang lemari.”

Theo mengambil posisi. “Nah, ini jawaban yang aku harapkan dari misteri supernatural. Kerja fisik.”

Vio mundur sambil membawa map Selvara. “Kalau nanti kita selamat, aku beliin kamu minum.”

Theo langsung menoleh. “Serius?”

“Kalau kamu berhenti ngomel dan dorong.”

“Kesepakatan terbaik hari ini.”

Adrian hampir tersenyum sebelum keduanya mulai mendorong.

Kaki logam lemari menggores lantai dengan suara berat. Debu jatuh dari bagian atasnya saat benda itu bergeser beberapa sentimeter. Lyara mengarahkan cahaya ponselnya ke celah yang terbentuk, sedangkan Selvara membantu memindahkan kotak-kotak kecil yang menghalangi bagian bawah.

Dinding kusam muncul di belakangnya.

Awalnya tidak ada sesuatu yang berbeda.

Kemudian Selvara melihat sebuah garis lurus dari atas ke bawah.

“Berhenti dulu.”

Theo dan Adrian menghentikan dorongan.

Selvara mendekat ke celah, lalu menyinari garis tersebut menggunakan ponselnya sendiri.

Itu bukan retakan.

Ada sambungan yang terlalu rapi pada dinding.

Lyara melihatnya dari bahu Selvara. “Panel.”

Theo mengusap debu dari tangannya. “Jadi benar ada sesuatu di belakang sini.”

Vio memandang kembali jendela.

Sosok di luar sudah menghilang.

Air hujan kembali memenuhi permukaan kaca, menghapus sisa tulisan sedikit demi sedikit hingga hanya satu bagian yang masih dapat terbaca.

SELVA.

Selvara menatapnya sebentar, kemudian kembali menghadap panel tersembunyi.

Apa pun yang membawa mereka ke ruangan ini sudah memberi cukup banyak petunjuk untuk membuat mereka terus bergerak.

Itulah yang justru membuat pesan di belakang foto semakin sulit diabaikan.

Jangan percaya.

Selvara memasukkan ponselnya kembali ke saku. “Kita cari cara buka panelnya, tapi nggak ada yang masuk sebelum kita tahu apa yang ada di belakang.”

Theo mengangguk sambil memeriksa tepi dinding. “Nah, itu aku setuju. Hari ini kita sudah terlalu sering menemukan sesuatu setelah menyentuh benda yang salah.”

Vio berdiri di dekat Selvara. “Kalau tempat ini mau menunjukkan sesuatu, biar kita yang tentukan seberapa jauh kita mengikutinya.”

Selvara melirik tulisan yang hampir hilang di kaca. “Kali ini, iya. Kita yang tentukan.”

Panel di belakang lemari itu tidak memiliki gagang. Selvara menyusuri sambungannya dengan cahaya ponsel tanpa menyentuh permukaan, mencari bagian yang mungkin bisa ditekan atau ditarik. Garis persegi panjang tersebut cukup lebar untuk dilewati satu orang, tetapi tertutup rapat hingga menyatu dengan dinding. Cat kusam dan debu menempel merata di seluruh permukaannya. Kalau bukan karena jalur pada lembar transparan yang mereka temukan di dalam foto, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menganggap bagian dinding itu sebagai pintu.

Theo berjongkok di dekat sudut bawah dan mengarahkan senter ponselnya sepanjang sambungan. “Engselnya nggak kelihatan. Kalau ini memang pintu, kemungkinan bukanya bukan ditarik.”

“Bisa digeser?” Vio bertanya dari belakang Selvara.

Theo menggeser cahaya ke sisi lainnya. “Bisa saja, tapi aku nggak mau langsung mendorong semua benda yang kelihatan mencurigakan. Kita sudah cukup sering dapat masalah gara-gara menyentuh sesuatu dulu baru mikir belakangan.”

Selvara menoleh kepadanya dengan senyum tipis. “Bagus. Berarti pengalaman hari ini masih ada gunanya.”

“Lumayan. Walaupun aku lebih suka proses belajarnya nggak melibatkan tangan di luar jendela.”

Vio terkekeh kecil, sementara Lyara yang sejak tadi memeriksa sisi kanan panel tiba-tiba mengangkat tangannya. “Sebentar. Ada sesuatu di sini.”

Mereka mendekat secukupnya. Di bawah lapisan debu terdapat lekukan berbentuk lingkaran, sedikit lebih besar daripada koin. Lyara membersihkan bagian tepinya menggunakan ujung lengan baju, memperlihatkan tiga garis yang bertemu di tengah tetapi berhenti sebelum mencapai lingkaran luar.

Theo ikut melihat dari samping. “Itu kelihatan seperti tombol.”

“Kalau tombol, jangan langsung ditekan,” kata Vio.

“Aku belum menyentuh apa-apa.” Theo menjauhkan telunjuknya yang memang sudah berada cukup dekat. “Lihat? Aku bahkan bisa menahan rasa penasaran.”

“Pertahankan kemampuan barumu itu sampai kita keluar.”

Selvara membiarkan percakapan mereka berjalan sambil memperhatikan simbol tersebut. Tidak ada sesuatu yang terasa familiar. Ia juga tidak mencoba mencari hubungan dengan masa lalu keluarganya hanya karena tempat ini terus menghadirkan benda-benda yang tampak seolah seharusnya ia kenali. Sejak mereka terjebak di sini, terlalu banyak hal yang mencoba mengarahkan perhatian mereka ke kesimpulan tertentu.

Foto lama itu salah satunya.

Sosok di balik kaca bahkan memakai wajahnya.

Selvara membuka map yang tadi dipegang Vio dan mengambil foto tersebut. Ia membaliknya, memastikan dua kata di bagian belakang masih ada.

Jangan percaya.

Tidak ada petunjuk lain yang menjelaskan siapa yang menulisnya atau apa yang dimaksud. Selvara membandingkan bagian belakang foto dengan simbol pada panel, kemudian mengembalikannya ke dalam map. “Nggak ada tanda yang sama di foto.”

Adrian memeriksa simbol itu dari tempatnya berdiri. “Berarti untuk sekarang jangan anggap foto dan pintu ini berasal dari sistem yang sama.”

“Tapi lembar transparannya menunjukkan jalur sampai ke sini,” ujar Vio.

Lyara mengangkat lembar tersebut di depan cahaya ponselnya. “Lebih tepatnya, garis di lembar ini cocok dengan bentuk ruangan dan berakhir di dinding ini. Kita belum tahu siapa yang membuatnya atau kapan dibuat.”

Theo berdiri dan membersihkan debu yang menempel di lutut celananya. “Jadi kita punya petunjuk yang bekerja, cuma belum tahu apakah orang yang memberi petunjuk itu bisa dipercaya.”

Selvara memasukkan foto kembali ke map. “Makanya kita jangan buru-buru menyentuh simbolnya. Periksa ruangan sekali lagi. Mungkin ada mekanisme lain yang tadi kita lewatkan.”

Adrian mengangguk. “Kita tetap dalam jarak yang bisa saling lihat. Kalau menemukan sesuatu, panggil yang lain dulu.”

Mereka membagi bagian ruangan tanpa benar-benar berpencar jauh. Adrian dan Theo memeriksa area di sekitar lemari yang sudah digeser, sementara Vio membantu Selvara membuka beberapa laci meja yang sebelumnya terlewat. Lyara kembali ke rak arsip di dekat dinding dan membaca label-label yang masih mungkin dikenali.

Sebagian besar isi ruangan justru terasa biasa. Ada map kosong dengan tepi menguning, klip kertas berkarat, formulir yang tintanya sudah memudar, stempel tanpa bantalan tinta, serta beberapa kotak kecil berisi alat tulis lama. Selvara tidak menemukan catatan rahasia atau dokumen yang tiba-tiba menjelaskan mengapa tempat ini ada. Tidak ada nama proyek, tidak ada daftar orang yang bisa langsung mereka kenali, dan tidak ada jawaban yang membuat semuanya mendadak masuk akal.

Selvara justru merasa lebih nyaman dengan itu. Tempat ini sudah cukup aneh tanpa harus memberinya jawaban yang terlalu mudah.

“Selvara, coba lihat ini.”

Panggilan Lyara datang dari rak di sisi lain. Selvara menutup laci yang sedang diperiksanya, lalu menghampiri bersama Vio. Lyara telah menarik satu map tua dari antara tumpukan arsip. Bagian depannya rusak karena lembap dan beberapa huruf telah berubah menjadi noda, tetapi potongan tulisan di sudut atas masih dapat dibaca.

...TERVEIL RESEARCH...

Di bawahnya tercetak angka yang jauh lebih jelas.

1995

Vio mendekat untuk melihat. “Bagian depannya hilang. Itu Asterveil?”

“Mungkin,” jawab Lyara. “Tapi aku nggak mau memastikan dari huruf sebanyak ini. Bisa saja nama lain.”

Theo mendengar angka yang mereka sebutkan dan menghampiri dari dekat panel. “Tahun 1995?”

“Iya, itu yang masih terbaca jelas.” Lyara menunjukkan bagian bawah label kepadanya. “Sisanya sudah rusak.”

Theo memeriksa kondisi map sebelum menyentuhnya. “Kalau dokumen ini memang berasal dari tahun itu, berarti bagian gedung ini jauh lebih tua dari yang kelihatan sekarang. Atau arsipnya pernah dipindahkan ke sini.”

Selvara meliriknya. “Kemungkinan kedua jangan dilupakan. Kita belum tahu ruangan ini dipakai untuk apa waktu dokumen itu dibuat.”

Adrian ikut mendekat setelah memastikan area belakang lemari tidak memiliki mekanisme lain. “Ada isinya?”

Lyara membuka map dengan hati-hati.

Tiga lembar kertas tersimpan di dalamnya. Dua sudah rusak berat karena lembap, membuat tinta melebar hingga sebagian besar tulisan tidak dapat dikenali. Lembar terakhir sedikit lebih utuh, meski sisi kanannya telah hilang dan beberapa baris hanya menyisakan potongan kata.

Selvara membaca bagian yang masih jelas bersama mereka.

Facility access...

...authorized personnel...

...lower section...

Di bawahnya terdapat deretan nomor yang belum memiliki arti apa pun.

Vio membaca baris terakhir sekali lagi, lalu memandang lantai. “Lower section? Tolong jangan bilang tempat ini masih punya bagian bawah.”

Theo ikut melihat tulisan itu dan mengusap dagunya. “Aku belum berani bilang begitu, tapi sekarang kamu menyebutnya, kemungkinan itu memang ada. Istilahnya terlalu spesifik kalau cuma menunjuk ruangan sebelah.”

“Nah, kan.” Vio menatapnya dengan wajah yang semakin tidak senang. “Kamu juga langsung mikir ke bawah.”

“Sulit nggak kepikiran kalau petunjuknya ditulis di depan kita,” balas Theo. “Tapi aku juga nggak punya niat mencari tangganya sebelum kita tahu pintu yang ini menuju ke mana.”

“Bagus. Setidaknya rasa penasaranmu masih punya rem.”

Theo tersenyum kecil. “Tipis, tapi ada.”

Percakapan itu berhenti ketika Adrian mengangkat ponselnya dan memotret lembar yang masih terbaca. “Dokumen aslinya tetap di sini. Kalau nanti kita berhasil keluar, kita masih punya fotonya untuk dibandingkan dengan informasi lain.”

Theo langsung melakukan hal yang sama pada bagian depan map. “Aku ambil labelnya juga. Tahun dan sisa namanya mungkin berguna.”

Selvara memperhatikan angka 1995 untuk terakhir kalinya sebelum Lyara mengembalikan dokumen ke dalam map. Tahun itu belum memberikan hubungan apa pun yang dapat ia pahami. Ia tidak memiliki kenangan tentang tempat ini, tidak pernah melihat ruangan tersebut sebelumnya, dan tidak mengenal siapa pun yang mungkin pernah bekerja di fasilitas ini pada masa itu.

Kalau ada sesuatu yang perlu diketahui tentang tahun 1995, jawabannya harus mereka cari dari bukti yang memang ada.

Sebuah desis elektronik tiba-tiba terdengar dari belakang.

Selvara langsung menoleh bersama yang lain.

Monitor tua yang sejak tadi mati di atas meja kini memancarkan cahaya putih kusam. Layarnya berkedip beberapa kali, dipenuhi garis horizontal dan bintik-bintik statis sebelum sebuah gambar hitam putih muncul.

Theo baru bergerak satu langkah ketika Adrian menahannya dengan suara. “Jangan dekat dulu.”

“Aku tahu. Aku cuma mau lihat layarnya dari sudut yang nggak ketutup meja.” Theo menggeser posisi tanpa mendekati monitor. “Tenang, aku belum sebodoh itu.”

Vio meliriknya. “Kata ‘belum’ di akhir kalimatmu kurang meyakinkan.”

Theo hendak membalas, tetapi gambar pada monitor berubah dan membuat perhatiannya kembali ke layar.

Sebuah lorong terlihat dari sudut tinggi seperti rekaman kamera keamanan. Kualitas gambarnya buruk, tetapi bentuk dinding dan deretan lampu di langit-langit masih terlihat. Tidak ada seorang pun di sana. Lampu menyala satu demi satu dari sisi terdekat menuju ujung lorong, kemudian gambar berganti sebelum mereka sempat melihat lebih banyak.

Ruangan besar.

Tangga beton.

Koridor lain.

Kemudian sebuah pintu.

Lyara langsung mengangkat ponselnya. “Simbolnya.”

Simbol pada pintu di layar sama dengan yang terdapat pada panel di belakang lemari.

Theo menunjuk ke arah layar tanpa mendekat. “Yang itu jelas sama. Tiga garis dan lingkarannya juga cocok.”

“Aku sudah foto.” Lyara memeriksa hasil tangkapannya sekilas. “Agak buram, tapi bentuknya kelihatan.”

Suara statis bertambah keras. Dari dalam monitor terdengar potongan suara seseorang, terdistorsi hingga sulit menentukan apakah berasal dari rekaman atau sesuatu yang sedang disiarkan.

“...section three...”

Garis putih melintas di layar.

“...access...”

Gambar bergulung cepat.

“...evac...”

Monitor padam.

Suara elektroniknya ikut lenyap, menyisakan bunyi hujan di luar dan napas mereka sendiri yang terdengar lebih jelas setelah gangguan tadi.

Theo menunggu sebentar sebelum berbicara. “Ada yang dapat videonya?”

Lyara menggeleng sambil menunjukkan layar ponselnya. “Cuma foto pintunya. Kejadiannya terlalu cepat buat mulai merekam.”

Vio menunduk ke bawah meja, lalu wajahnya berubah. “Kalian mungkin mau lihat bagian ini.”

Theo mengikuti arah pandangannya. “Kenapa?”

“Monitor itu nggak punya kabel.”

Theo ikut memeriksa dari jarak aman. Kabel daya memang tidak terlihat, bahkan stopkontak terdekat berada cukup jauh dari meja. Ia kembali berdiri dengan ekspresi yang kehilangan sebagian rasa penasarannya. “Oke. Untuk sekali ini aku sebenarnya lebih senang kalau kamu nggak menemukan apa-apa.”

“Sayangnya aku lihat cukup jelas.”

Selvara kembali memandang panel di belakang lemari. Sekarang mereka memiliki hubungan yang lebih kuat daripada dugaan awal. Simbol yang sama muncul pada panel dan rekaman, sementara suara dari monitor menyebut section three. Namun itu tetap belum membuktikan kapan rekaman dibuat, siapa yang menayangkannya, atau apakah gambar tersebut menunjukkan tempat yang sama.

Tempat ini memberikan informasi sedikit demi sedikit, tetapi selalu menyisakan cukup banyak ruang untuk membuat mereka salah menyimpulkan.

Pesan di belakang foto semakin masuk akal.

Jangan percaya.

Mungkin bukan perintah untuk menolak semua yang mereka lihat. Bisa jadi itu sekadar peringatan agar mereka tidak menerima sesuatu sebagai kebenaran sebelum memiliki alasan.

Selvara mendekati panel lagi. “Sekarang kita setidaknya tahu simbol ini berkaitan dengan akses ke suatu bagian fasilitas. Tapi kita masih belum tahu cara membukanya.”

Theo kembali menyinari lingkaran tersebut dari samping. “Kalau begitu kita cari cara kerjanya dulu. Aku janji nggak menekan apa pun.”

Vio berdiri di belakangnya. “Aku akan mengingat janji itu.”

Cahaya dari ponsel Theo jatuh miring ke permukaan lingkaran dan memperlihatkan celah tipis yang sebelumnya tersembunyi di bawah debu. Ia mengubah sudut senter, kemudian menunjuk tiga tanda kecil di bagian tepi.

“Lihat. Ini bukan tombol biasa. Bagian tengahnya terpisah dari dinding.”

Lyara mendekat dan memeriksanya. “Mungkin bisa diputar.”

“Tiga tanda di pinggirnya juga beda panjang.” Theo menjauhkan tangannya agar semua bisa melihat. “Kalau memang diputar, mungkin ada urutannya.”

Selvara mengeluarkan lembar transparan dari map.

Tiga garis.

Ia baru menyadari bentuk dasarnya sama dengan simbol di panel.

“Tunggu, jangan sentuh dulu.”

Theo langsung menarik tangannya lebih jauh. “Aku bahkan belum mulai.”

Selvara membawa lembar transparan mendekati simbol tanpa menempelkannya. Ketika diputar pada orientasi tertentu, tiga garis pada lembar itu mengarah tepat ke tanda-tanda kecil di sekeliling lingkaran.

Lyara segera memahami hubungan keduanya. “Itu bukan cuma bagian peta. Garis ini juga menunjukkan posisi simbol.”

Adrian mendekat untuk melihat. “Kalau benar, kita punya urutan yang lebih masuk akal daripada mencoba secara acak.”

Theo memandang Selvara. “Kamu bisa baca posisinya dari sana?”

“Bisa. Garis panjang mengarah ke tanda atas lebih dulu.” Selvara memastikan orientasinya sekali lagi. “Setelah itu garis kedua ke kanan.”

Theo menempatkan jemarinya pada sisi lingkaran, menunggu sampai Selvara mengangguk sebelum memutarnya.

Benda itu bergerak.

Sebuah klik terdengar dari dalam dinding.

Theo berhenti dan melepaskan tangan. “Satu.”

“Sekarang ke kanan sampai tanda pendek,” kata Selvara sambil mempertahankan posisi lembar transparan agar tidak berubah.

Theo memutarnya ke arah sebaliknya.

Klik kedua terdengar, disusul bunyi mekanis yang jauh lebih berat dari balik panel.

Kali ini Theo langsung mundur. “Nah, yang itu bukan dari tanganku.”

“Aku dengar.” Adrian memberi isyarat agar semuanya menjauh dari dinding. “Kasih ruang.”

Debu jatuh dari sepanjang sambungan panel. Garis yang sebelumnya nyaris menyatu dengan dinding melebar beberapa milimeter, kemudian panel bergeser ke dalam dengan suara gesekan berat sebelum berhenti.

Udara dingin mengalir dari celah yang terbuka.

Vio menyalakan senter ponselnya dan mengarahkannya ke dalam. “Kita benar-benar menemukan pintu.”

Theo berdiri di sampingnya tanpa melewati batas. “Setidaknya kali ini pintunya terbuka setelah kita melakukan sesuatu yang masuk akal.”

“Jangan senang dulu. Di belakangnya gelap.”

Theo tersenyum kecil. “Kalau tempat rahasia ini punya lampu hangat dan papan selamat datang, aku justru bakal lebih khawatir.”

Vio menahan tawa. “Aku nggak tahu kenapa kamu masih sempat mikirin itu.”

“Supaya aku nggak terlalu mikirin bagian gelapnya.”

Jawaban itu membuat Vio berhenti menggoda. Ia hanya mengangguk kecil sebelum kembali mengarahkan cahaya ke lorong.

Selvara maju bersama Adrian sampai dekat ambang panel. Di baliknya terdapat jalur sempit yang sama sekali berbeda dari ruangan sekolah tempat mereka berdiri. Dinding beton terbuka menggantikan cat lama, pipa-pipa logam membentang di dekat langit-langit, sementara kabel putus menggantung di beberapa bagian. Lantainya menurun sedikit sebelum terus memanjang ke dalam kegelapan.

Adrian mengangkat tangan ketika Theo hendak mendekat. “Kita lihat dari sini dulu. Belum ada yang masuk.”

Theo berhenti di belakang Selvara. “Aku cuma mau memastikan jalannya nggak langsung putus.”

Lyara mengarahkan senter melewati bahu mereka. “Ada tulisan di sebelah kiri.”

Selvara mengikuti cahaya tersebut.

Simbol yang sama tercetak pada beton. Catnya sudah memudar, tetapi tulisan di bawahnya masih dapat dibaca.

SECTION 3

Theo menatapnya, lalu menunjuk monitor mati di belakang mereka. “Itu yang disebut suara tadi. Berarti setidaknya bagian rekamannya cocok dengan tempat ini.”

“Cocok dengan nama dan simbolnya,” Adrian mengingatkan. “Kita belum tahu sisanya.”

Theo mengangguk. “Iya, aku paham. Aku nggak akan menganggap rekamannya asli cuma karena dua hal cocok.”

Lyara berjalan kembali ke pintu ruangan yang tadi mereka gunakan untuk masuk dan mencoba gagangnya sekali lagi. Pintu tetap tidak bergerak. Setelah memastikan tidak ada perubahan, ia kembali kepada mereka. “Jalan sebelumnya masih tertahan. Kalau kita mau keluar dari ruangan ini, untuk sekarang lorong itu satu-satunya pilihan yang kita punya.”

Vio melirik jendela yang retak. Sosok berwajah Selvara sudah tidak terlihat di sana. “Aku lebih pilih jalan yang bisa kita periksa daripada menunggu sesuatu muncul lagi di luar kaca.”

Selvara hendak menyetujui ketika sesuatu terasa mengganggu pikirannya.

Foto.

Ia membuka map.

Foto lama dan lembar transparan masih berada di dalam. Tidak ada yang berpindah, tetapi ketika Selvara membalik foto, ia langsung menyadari perubahan pada bagian belakang.

Tulisan pertama masih ada.

Jangan percaya.

Namun tepat di bawahnya kini muncul baris kedua.

KALIAN SUDAH PERNAH MASUK.

Selvara membaca kalimat itu sekali lagi untuk memastikan matanya tidak salah menangkap bentuk huruf.

Theo mendekat dari samping. “Tulisan itu tadi nggak ada.”

“Nggak ada,” jawab Selvara. “Aku lihat bagian belakangnya sebelum kita periksa ruangan.”

Vio membaca dari balik bahunya, lalu menggeleng. “Kalau maksudnya kita berlima, aku bahkan baru tahu tempat ini ada hari ini.”

“Aku juga nggak pernah ke sini.” Lyara tidak mencoba mengambil foto dari tangan Selvara. Ia hanya memperhatikan tulisan tersebut. “Dan kita sudah punya peringatan supaya jangan langsung percaya apa yang diberikan tempat ini.”

Adrian melihat lorong di balik panel, kemudian kembali pada foto. “Anggap saja itu klaim sampai kita menemukan sesuatu yang mendukungnya. Jangan mencoba memaksa ingatan hanya karena kalimat itu bilang kita pernah datang.”

Selvara mengangguk. Saran itu sesuai dengan apa yang sudah ia pikirkan. Ia tidak mengenali lorong tersebut. Tidak ada kenangan yang muncul ketika melihat simbol, arsip 1995, maupun panel tersembunyi. Tempat ini boleh menulis apa pun di belakang foto, tetapi tulisan tersebut tidak berhak mengisi bagian hidupnya yang memang tidak pernah ia alami.

Theo menatap baris baru itu lebih lama. “Kalau sesuatu di sini bisa mengubah tulisan saat kita nggak memperhatikan, berarti foto ini sendiri belum tentu sumber yang netral.”

“Makanya kita simpan,” kata Selvara sambil memasukkannya kembali ke map. “Kalau tulisannya berubah lagi, kita bandingkan dengan foto yang sudah kita ambil.”

Lyara segera mengangkat ponselnya. “Aku foto yang sekarang juga. Jadi kalau nanti berubah, kita punya versi sebelumnya.”

Setelah Lyara selesai, Selvara menutup map dan menyelipkannya di bawah lengan. “Kita masuk ke Section 3, tapi nggak mengikuti apa pun sendirian. Kalau ada yang dengar suara, lihat seseorang, atau menemukan sesuatu yang terasa familiar, bilang ke yang lain dulu.”

Vio mengangguk sambil merapatkan pegangan pada ponselnya. “Aku setuju. Setelah yang di jendela tadi, aku nggak mau ada yang mengejar sesuatu cuma karena kelihatannya kenal.”

Theo memeriksa daya ponselnya. “Kalau lorongnya bercabang, kita juga jangan langsung pilih jalan. Tandai jalur yang kita lewati supaya nggak muter.”

“Dan kalau panel menutup setelah kita masuk, jangan panik atau lari,” tambah Adrian. “Kita cari mekanismenya dari sisi dalam bersama-sama.”

Selvara melihat keempatnya sebelum kembali menghadap lorong. Tidak ada seorang pun yang tampak nyaman dengan keputusan itu, tetapi bertahan di ruangan juga tidak memberi mereka jalan keluar. Setidaknya Section 3 adalah sesuatu yang bisa mereka periksa dengan cara mereka sendiri.

“Ayo. Tetap dekat.”

Adrian masuk lebih dahulu untuk memeriksa beberapa meter pertama. Setelah memastikan lantainya aman, Selvara menyusul, kemudian Vio dan Lyara. Theo menjadi orang terakhir yang melewati panel sambil beberapa kali memeriksa bagian belakang mereka.

Lorong segera menelan suara hujan dari ruangan sebelumnya. Udara di dalam terasa dingin dan lembap, membawa bau beton lama serta logam berkarat. Cahaya dari lima ponsel bergerak di sepanjang dinding dan lantai, cukup untuk memperlihatkan jalur di depan tanpa menerangi seluruh lorong sekaligus.

Theo melirik panel yang masih terbuka di belakang mereka. “Masih terbuka. Untuk sekarang kita punya jalan balik.”

“Jangan terlalu sering lihat belakang sampai kamu nabrak aku,” kata Lyara yang berjalan tepat di depannya.

Theo langsung mengembalikan perhatian ke depan. “Nah, itu bahaya yang jauh lebih realistis.”

Vio tertawa pendek. “Akhirnya ada sesuatu di tempat ini yang bisa kita pahami.”

Selvara mendengar percakapan mereka sambil terus berjalan di belakang Adrian. Ketegangan masih ada, tetapi suara teman-temannya membuat lorong itu terasa sedikit lebih nyata. Selama mereka masih bisa saling menanggapi, bercanda, dan memperingatkan satu sama lain, tempat ini belum sepenuhnya menentukan cara mereka berpikir.

Beberapa meter kemudian, Adrian memperlambat langkah.

“Ada sesuatu di dinding.”

Mereka berhenti di belakangnya.

Lima goresan sejajar terlihat pada permukaan beton, setinggi bahu Selvara. Di sebelahnya terdapat bekas tinta yang sudah hampir menyatu dengan warna dinding. Lyara mengarahkan senter lebih dekat dan mencoba membaca sisa hurufnya.

“Bagian awalnya hilang,” katanya. “Tapi yang terakhir masih kelihatan.”

Theo membaca dari samping.

...TURN BACK...

Vio memandang lorong yang terus berlanjut. “Kalau itu benar-benar tulisan turn back, aku mulai merasa orang-orang yang pernah ada di sini punya kebiasaan meninggalkan peringatan tanpa penjelasan.”

“Setidaknya yang ini cukup jelas maksud dasarnya,” jawab Theo. “Masalahnya kita nggak tahu kapan ditulis dan ditujukan ke siapa.”

Selvara tidak menjawab. Ia sedang memperhatikan sesuatu yang lebih jauh.

Lorong berakhir pada tikungan sekitar belasan meter di depan mereka.

Dari balik tikungan terdengar suara.

Langkah kaki.

Adrian segera mengangkat tangan dan semua percakapan berhenti. Mereka merapat tanpa saling mendorong, sementara Theo mengarahkan cahaya ponselnya ke lantai agar tidak langsung menyorot siapa pun yang mungkin muncul.

Langkah itu terdengar lagi.

Seseorang berjalan dari balik tikungan menuju mereka.

Vio mendekat ke sisi Selvara. “Kamu dengar juga, kan?”

Selvara mengangguk sambil tetap menatap ujung lorong. “Iya. Ada orang di depan.”

“Kalau memang orang,” Theo berbisik dari belakang mereka. “Tunggu sampai kelihatan dulu. Jangan ada yang langsung nyamperin.”

Adrian menyetujui tanpa mengalihkan perhatian. “Kita tetap di sini.”

Langkah tersebut semakin dekat.

Lalu berhenti.

Selvara menunggu sosok muncul dari tikungan, tetapi lorong tetap kosong.

Sebagai gantinya, suara perempuan terdengar dari sana.

“Selva?”

Tubuh Selvara menegang.

Vio langsung memandangnya. “Kamu kenal suaranya?”

Selvara tidak menjawab seketika. Ia mengenal suara itu dengan baik, jauh lebih baik daripada wajah yang muncul di balik kaca sebelumnya. Justru karena itulah ia mengingat peringatan yang mereka sepakati beberapa menit lalu.

Kalau ada sesuatu yang terasa familiar, beri tahu yang lain sebelum mengikutinya.

Selvara menahan diri untuk tidak maju.

“Itu suara ibuku.”

Theo tidak lagi melihat ke arah tikungan. Ia memandang Selvara, memastikan temannya tetap berada bersama mereka. “Oke. Berarti kita anggap itu belum tentu benar-benar beliau sampai kita punya alasan buat percaya.”

Selvara menarik napas, kemudian mengangguk. “Iya. Apa pun yang ada di depan, aku nggak akan mendekat sendirian.”

Dari balik tikungan, suara itu memanggil lagi.

Kali ini lebih dekat.

“Selvara?”

Selvara menggenggam map di bawah lengannya dan tetap berdiri bersama yang lain.

Suara itu tidak memanggil lagi.

Selvara tetap berdiri di antara Adrian dan Vio, menunggu sampai gema panggilan terakhir benar-benar hilang dari lorong. Tidak ada langkah lanjutan, tidak ada sosok yang muncul dari balik tikungan. Hanya suara tipis dari pipa di atas kepala mereka, sesekali bergetar karena sesuatu yang mengalir atau bergerak jauh di dalam fasilitas.

Vio memperhatikan wajah Selvara. “Kamu yakin itu suara ibumu?”

“Yakin.” Selvara menjawab setelah memastikan dirinya sendiri tidak sekadar bereaksi karena nama yang dipanggil. “Cara beliau menyebut namaku juga sama.”

Theo mengarahkan cahaya ponselnya ke lantai beberapa meter di depan, bukan langsung ke tikungan. “Kalau tempat ini tadi bisa meniru wajahmu sampai kebiasaan kecilnya, suara orang yang kamu kenal mungkin juga bisa ditiru.”

“Aku tahu. Makanya aku nggak akan menganggap itu benar-benar Ibu.”

Lyara berdiri di sisi lain Selvara sambil memperhatikan lorong. “Ada satu hal lagi. Dari kita berlima, cuma kamu yang mengenali suaranya. Kita bahkan nggak bisa memastikan suara yang kita dengar sama.”

Theo menoleh kepadanya. “Maksudmu bisa saja aku dengar suara perempuan biasa, sementara Selvara mendengar suara ibunya?”

“Mungkin. Kita belum tahu.”

Adrian mengangkat ponselnya sedikit. “Kita bisa mengujinya kalau suara itu muncul lagi. Jangan langsung sebut siapa yang kalian dengar. Masing-masing ingat dulu, baru kita bandingkan.”

Theo mengangguk. “Itu lebih aman daripada saling memengaruhi jawaban.”

Vio memandang tikungan di depan mereka. “Kalau ternyata kita semua dengar orang yang berbeda, aku resmi nggak mau percaya suara apa pun di tempat ini.”

“Kita juga jangan langsung percaya kalau hasilnya sama,” kata Selvara. “Tempat ini bisa saja memang memutar suara yang sama untuk semuanya.”

Vio menoleh kepadanya dan mengembuskan napas pendek. “Benar juga. Makin lama di sini, rasanya setiap jawaban cuma membuka kemungkinan baru.”

Theo tersenyum kecil. “Selamat datang di investigasi paling menyebalkan yang pernah kita lakukan.”

“Kapan kita pernah melakukan investigasi sebelumnya?”

Theo terdiam sebentar. “Oke, berarti yang pertama langsung dapat tingkat kesulitan maksimal.”

Percakapan kecil itu tidak menghilangkan rasa waspada, tetapi cukup membuat Selvara kembali mengatur pikirannya. Ia masih mengenali suara tadi sebagai suara ibunya. Itu fakta tentang apa yang ia dengar. Segala hal setelahnya, termasuk siapa yang sebenarnya berbicara, masih belum diketahui.

Adrian mulai berjalan lagi. “Kita sampai tikungan bersama. Jangan mendahului.”

Mereka maju perlahan dengan jarak rapat. Selvara memperhatikan lantai dan dinding sambil berjalan, mencari perubahan yang mungkin memberi tahu mereka apa yang ada di depan. Semakin dekat ke tikungan, semakin banyak bekas kerusakan terlihat pada fasilitas. Beberapa bagian pipa penyok, cat penanda di lantai terkelupas, dan sebuah lampu darurat tua menggantung miring dari dinding.

Tidak ada sesuatu yang terasa seperti sekolah lagi.

Di dekat tikungan, Adrian berhenti dan mengintip sisi berikutnya terlebih dahulu. Setelah beberapa detik, ia menggeser tubuh agar yang lain bisa melihat.

Lorong baru membentang lebih lebar daripada jalur sebelumnya. Tiga pintu logam berada di sisi kiri, sedangkan sisi kanan dipenuhi jendela observasi yang sebagian besar pecah atau tertutup kotoran. Tidak ada seorang pun.

Selvara mencari sumber suara tadi.

Kosong.

Vio ikut memeriksa. “Kalau ada orang yang manggil dari sini, dia pergi cepat banget.”

“Atau suaranya bukan berasal dari seseorang yang berdiri di sini,” kata Lyara.

Theo berjalan ke depan setelah Adrian memberi isyarat aman. “Ada kemungkinan speaker?”

Mereka mulai memeriksa bagian atas dinding. Tidak jauh dari pintu pertama, Selvara menemukan kotak persegi dengan kisi-kisi kecil di bagian depannya.

“Itu?”

Theo menyinari benda tersebut. “Kelihatannya seperti speaker lama.”

Vio menatap Selvara. “Berarti suara ibumu bisa saja keluar dari situ.”

“Bisa.” Selvara tidak merasa lebih lega dengan kemungkinan tersebut. “Tapi itu masih belum menjelaskan bagaimana tempat ini tahu suaranya.”

Tidak ada yang punya jawaban.

Mereka melanjutkan sampai ke pintu pertama. Tulisan pada pelat logamnya sudah tergores, hanya menyisakan angka 3-01. Adrian mencoba gagangnya setelah memeriksa bagian sekitar. Terkunci.

Pintu kedua bertuliskan 3-02 dan tidak bergerak ketika Theo mencobanya.

Pintu ketiga terbuka sedikit.

Theo berhenti sebelum menyentuhnya. “Yang ini sudah terbuka.”

Vio mendekat ke sisi Selvara. “Entah kenapa aku lebih nggak suka pintu yang sudah terbuka.”

“Aku mulai mengerti pola seleramu,” kata Theo. “Pintu terkunci bikin kesal, pintu terbuka bikin curiga.”

“Di tempat normal aku suka pintu terbuka. Ini bukan tempat normal.”

Adrian menyinari celahnya. “Kita lihat dulu.”

Ruangan di balik pintu cukup kecil. Ada meja panjang, dua kursi logam yang sudah terbalik, rak penyimpanan, dan beberapa perangkat elektronik lama yang bentuknya tidak dikenali Selvara. Tidak ada orang.

Mereka masuk setelah Adrian memastikan bagian lantai di dekat pintu aman.

Selvara langsung melihat sesuatu yang berbeda dari ruangan sebelumnya.

Dinding belakang dipenuhi foto.

Bukan foto keluarga atau potret pribadi. Puluhan foto fasilitas ditempel berurutan, sebagian menunjukkan lorong, pintu, ruang kerja, tangga, dan area luar sebuah bangunan besar. Banyak yang sudah rusak, tetapi beberapa masih cukup jelas untuk dikenali.

Theo mendekati salah satunya. “Ini lorong yang kita lewati.”

Lyara berdiri di sampingnya. “Kayaknya begitu. Lihat pipa di atasnya.”

Foto itu memperlihatkan lorong Section 3 dalam kondisi yang jauh lebih baik. Lampu menyala, dinding bersih, kabel masih tertata. Di bagian bawah terdapat tanggal yang nyaris pudar.

03/1995

Vio membaca angka tersebut dari belakang mereka. “1995 lagi.”

Selvara memeriksa foto lain.

Tanggal yang sama muncul beberapa kali.

Februari.

Maret.

Beberapa bagian sudah hilang.

Tidak ada foto yang menunjukkan orang dengan jelas. Jika seseorang kebetulan tertangkap kamera, wajahnya terlalu kecil atau rusak untuk dikenali.

Theo menemukan foto tangga. “Kalau urutannya mengikuti posisi di fasilitas, mungkin ini bisa jadi semacam peta.”

“Jangan dipindah dulu,” ujar Lyara. “Foto susunannya. Posisi masing-masing mungkin penting.”

Theo mengangkat ponselnya. “Sudah.”

Vio mulai membaca tulisan tangan kecil yang terdapat di bawah beberapa foto. “Sebagian pakai nomor ruangan. Tiga nol satu, tiga nol dua... ini memang bagian yang sama.”

Selvara berjalan mengikuti susunan foto sampai menemukan satu ruang kosong di tengah dinding.

Sebuah foto telah dilepas.

Bekas perekat masih terlihat di keempat sudutnya.

Ukuran ruang kosong itu sama dengan foto yang mereka temukan sebelumnya.

Selvara membuka map.

“Jangan bilang...” Theo langsung memahami apa yang sedang ia lakukan.

Selvara mengeluarkan foto lama dan mendekatkannya ke dinding tanpa menempelkan. Ukurannya cocok.

Vio memperhatikan bekas sobekan pada salah satu sudut. “Bahkan bagian kertas yang tertinggal di dinding bentuknya sama.”

Lyara mengambil foto detail menggunakan ponselnya. “Berarti kemungkinan besar foto itu memang berasal dari ruangan ini.”

Theo memandang lorong di dalam foto yang dipegang Selvara. “Dan seseorang sengaja menyembunyikan lembar transparan di dalamnya.”

“Belum tentu orang yang sama dengan yang melepasnya dari dinding,” Adrian mengingatkan.

Selvara membalik foto itu sekali lagi.

Tulisan kedua masih ada.

KALIAN SUDAH PERNAH MASUK.

Ia membandingkannya dengan ruang kosong pada dinding.

Untuk pertama kalinya, tempat ini memberikan bukti yang mendukung sesuatu tentang foto tersebut. Bukan bukti bahwa mereka pernah berada di sini, melainkan bahwa foto itu kemungkinan memang berasal dari fasilitas yang sedang mereka jelajahi.

Selvara memasukkannya kembali ke map. “Kita sudah bisa percaya satu bagian. Fotonya kemungkinan berasal dari sini. Sisanya masih belum terbukti.”

Theo mengangguk. “Setidaknya sekarang kita mulai bisa memisahkan mana yang punya bukti dan mana yang cuma ingin kita percaya.”

Suara statis tiba-tiba terdengar dari atas mereka.

Semua kepala terangkat.

Speaker tua di sudut ruangan hidup.

“Selvara?”

Suara perempuan yang sama memenuhi ruangan.

Selvara tidak mengatakan apa-apa.

Ia langsung mengingat kesepakatan mereka.

Adrian memandang yang lain. “Jangan sebut siapa dulu. Kalian dengar suara seperti apa?”

Theo menjawab lebih dulu setelah berpikir. “Perempuan. Dewasa. Suaranya halus dan tenang.”

Lyara mengangguk. “Aku juga dengar perempuan dewasa.”

“Perempuan,” kata Vio, lalu menoleh kepada Selvara. “Dan dia jelas memanggil nama Selvara.”

Adrian memberikan jawabannya terakhir sebelum melihat Selvara. “Sama. Perempuan dewasa, memanggil Selvara.”

Selvara menarik napas. “Buatku suaranya sama seperti suara ibuku.”

Kali ini tidak ada perbedaan persepsi di antara mereka. Mereka semua mendengar suara yang sama, hanya Selvara yang memiliki konteks untuk mengenalinya.

Speaker kembali berdesis.

“Selvara, kamu dengar Ibu?”

Vio spontan menatap Selvara, tetapi tidak berkata apa-apa.

Selvara merasakan dorongan untuk menjawab. Kalimatnya sederhana, intonasinya familiar, bahkan cara suara itu berhenti sedikit sebelum kata terakhir terasa tepat.

Justru itu yang membuatnya semakin curiga.

Ibunya seharusnya tidak berada di sini.

Dan kalau benar berada di fasilitas ini, ada terlalu banyak hal yang harus terjadi sebelum Selvara bisa menerimanya begitu saja.

Ia tetap diam.

Suara dari speaker menunggu.

Kemudian terdengar lagi.

“Kamu selalu begini kalau takut.”

Selvara mengernyit.

Ada sesuatu yang salah.

Vio menangkap perubahan ekspresinya. “Kenapa?”

Selvara tidak menjawab speaker. Ia menjawab Vio. “Ibu nggak akan ngomong begitu.”

Theo memandang kotak speaker di sudut. “Bukan cara bicara beliau?”

“Bukan cuma itu.” Selvara menatap kisi-kisi hitam tersebut. “Beliau nggak pernah memakai kalimat seperti itu ke aku.”

Speaker berdesis.

“Kamu cuma perlu datang ke Ibu.”

Selvara semakin yakin.

Suara itu akurat.

Pilihan katanya tidak.

Tempat ini bisa meniru suara, tetapi tidak sepenuhnya memahami orang yang sedang ditirunya.

Lyara tampaknya sampai pada kesimpulan serupa. “Dia punya sampel suara, tapi mungkin nggak punya konteks hubungan kalian.”

“Kalau begitu jangan beri konteks tambahan,” Adrian segera berkata. “Jangan koreksi apa yang salah. Semakin banyak Selvara menjelaskan tentang ibunya, semakin banyak informasi yang bisa dipakai kalau memang tempat ini sedang belajar dari respons kita.”

Selvara langsung memahami maksudnya.

Ia berhenti membicarakan ibunya.

Theo menatap speaker dengan ekspresi yang berubah dari penasaran menjadi tidak nyaman. “Berarti percakapan bisa menjadi cara dia mengumpulkan data.”

Vio menurunkan suaranya. “Jadi dari awal dia mungkin bukan cuma mencoba menakuti kita.”

“Belum tentu,” kata Lyara. “Tapi mulai sekarang jangan jawab pertanyaan dari suara yang nggak bisa kita verifikasi.”

Speaker mengeluarkan bunyi statis panjang.

Kemudian suara itu berubah.

Bukan menjadi suara orang lain.

Rekamannya rusak.

Satu suku kata berulang berkali-kali, semakin cepat hingga suara ibu Selvara kehilangan bentuk dan berubah menjadi deretan potongan audio yang saling bertumpuk.

“Sel... Sel... Sel... Sel... Sel...”

Vio merapat ke Selvara. “Oke. Sekarang aku benar-benar benci speaker itu.”

Theo mengangkat ponselnya dan mulai merekam. “Kali ini kita punya rekamannya.”

Suara berhenti.

Beberapa detik kemudian, lampu kecil berwarna merah di bawah speaker menyala.

Lalu speaker mengeluarkan suara lain.

Suara Theo.

“Aku bahkan belum menyentuh.”

Theo menatap kotak itu.

Rekaman berlanjut menggunakan kalimat yang ia ucapkan beberapa menit sebelumnya.

“Lihat? Aku bahkan bisa menahan rasa penasaran.”

Vio perlahan memandang Theo. “Itu tadi kamu bilang di ruangan sebelumnya.”

“Aku tahu.”

Speaker berganti ke suara Vio.

“Pertahankan kemampuan barumu itu sampai kita keluar.”

Lalu suara Lyara.

“Lebih tepatnya, garis di lembar ini cocok dengan bentuk ruangan...”

Rekaman berhenti di tengah kalimat.

Selvara merasakan hawa dingin di ruangan itu menjadi jauh lebih sulit diabaikan.

Tempat ini bukan hanya memiliki suara ibunya.

Tempat ini merekam mereka.

Adrian segera melihat ke setiap sudut ruangan. “Cari perangkat. Kamera, mikrofon, apa pun. Jangan rusak dan jangan cabut dulu.”

Mereka mulai memeriksa dinding dan langit-langit dengan senter. Kali ini tidak ada percakapan santai. Semua memahami bahwa informasi baru tersebut mengubah cara mereka harus bertindak.

Theo menemukan benda pertama di atas pintu.

Sebuah titik hitam kecil tertanam di sudut kusen.

“Di sini.”

Lyara mendekat untuk mengambil foto. “Bisa mikrofon.”

“Bisa juga kamera,” kata Theo. “Ukurannya kecil.”

Vio memeriksa sisi lainnya dan menemukan benda serupa. “Ada satu lagi.”

Adrian menelusuri kabel yang masuk ke dinding. “Berarti ruangan ini memang masih punya sistem yang bekerja. Kita cuma belum tahu sumber dayanya dari mana.”

Selvara melihat speaker lagi.

Lampu merahnya sudah mati.

Jika tempat ini dapat merekam suara mereka sejak masuk, banyak hal yang sebelumnya terasa supernatural mungkin memiliki penjelasan teknis. Suara mereka dapat diputar kembali. Kamera bisa memantau posisi. Monitor dapat menampilkan rekaman yang sudah disiapkan.

Namun wajahnya di balik jendela masih belum terjawab.

Tangan yang mengetuk kaca beberapa lantai di atas tanah juga belum terjawab.

Dan suara ibunya menjadi masalah yang berbeda. Mereka baru berada di tempat ini dalam waktu singkat. Tidak ada seorang pun yang menyebut atau memutar suara ibunya sebelumnya.

Dari mana sistem itu mendapatkannya?

Selvara menyimpan pertanyaan tersebut. Belum ada informasi yang cukup untuk menjawab.

“Kalau mereka merekam kita,” ujar Theo setelah selesai memotret perangkat di atas pintu, “kita harus menganggap apa pun yang kita ucapkan di sini bisa dipakai lagi nanti.”

Vio menyilangkan lengannya. “Berarti bercanda pun bisa balik menghantui kita. Bagus.”

Theo menoleh kepadanya. “Kalau nanti ada suara aku ngajak masuk ke lubang gelap, jangan dipercaya.”

“Aku juga nggak akan percaya kalau kamu yang asli ngajak masuk ke lubang gelap.”

“Itu menyakitkan, tapi keputusan yang masuk akal.”

Selvara hampir tertawa. Bahkan Adrian terlihat menahan reaksi sebelum kembali memeriksa dinding belakang.

Lyara menemukan sesuatu di bawah meja.

“Sebentar. Ada kabel yang masih utuh.”

Mereka mendekat.

Sebuah bundel kabel keluar dari perangkat logam di bawah meja dan masuk ke dinding. Salah satunya memiliki label kecil yang masih bisa dibaca.

OBSERVATION NETWORK

Theo membaca tulisan itu. “Jadi memang sistem pengawasan.”

“Setidaknya bagian ini,” kata Lyara. “Jangan langsung anggap semua kejadian tadi berasal dari jaringan yang sama.”

Selvara berjongkok di sebelahnya dan melihat beberapa label lain. Sebagian sudah hilang. Salah satu kabel mengarah ke kotak yang memiliki indikator kecil, tetapi tidak ada lampu yang menyala.

Adrian memeriksa meja. “Jangan hidupkan apa pun.”

“Aku nggak berniat.”

Selvara hendak berdiri ketika cahaya ponselnya mengenai sesuatu di bagian bawah perangkat.

Ada stiker inventaris.

Tulisan pada permukaannya hampir terhapus.

Ia mendekatkan cahaya.

ASTER...

Bagian berikutnya rusak.

Kemudian:

OBSERVATION FACILITY

Dan di baris bawah:

1995

Theo ikut membaca dari belakang bahunya. “Aster... berarti label map tadi mungkin memang Asterveil.”

“Mungkin,” kata Selvara. “Sekarang kita punya dua benda berbeda dengan potongan nama yang sama. Masih belum lengkap, tapi kemungkinannya lebih kuat.”

Lyara mengambil foto label tersebut. “Kita simpan semuanya. Nanti setelah keluar baru dibandingkan.”

Vio menatap dinding penuh foto. “Kalau kita keluar.”

Theo langsung menoleh. “Hei. Jangan mulai.”

“Aku cuma bilang apa yang semua orang pikirkan.”

“Justru karena semua orang sudah kepikiran, nggak perlu diumumkan.”

Vio memandangnya beberapa detik, lalu sudut bibirnya naik sedikit. “Kamu ternyata bisa ngomong sesuatu yang berguna juga.”

Theo menekan dada seolah tersinggung. “Hari ini penuh penghinaan.”

Selvara membiarkan mereka saling membalas sambil berdiri kembali. Rasa takut masih ada, tetapi percakapan yang terdengar seperti mereka sendiri terasa penting setelah mendengar suara mereka diputar oleh mesin.

Ia berjalan menuju pintu.

Lorong di luar tetap kosong.

“Lanjut?”

Adrian berdiri di sampingnya dan melihat ke arah ujung koridor. “Kita sudah dapat cukup informasi dari ruangan ini. Jangan terlalu lama berada di satu tempat kalau sistemnya memang sedang memantau.”

Theo menyimpan ponselnya setelah memastikan rekaman suara tadi tersimpan. “Aku setuju. Dan kalau kita menemukan speaker lain, jangan jawab.”

Vio menunjuknya. “Termasuk kalau suaranya pakai suara kita sendiri.”

“Terutama kalau pakai suara kita sendiri.”

Mereka keluar dari ruangan 3-03 dan kembali ke lorong.

Beberapa meter di depan, koridor bercabang.

Jalur kiri menurun melalui tangga beton.

Jalur kanan berakhir pada sebuah pintu ganda.

Tulisan besar yang dulunya tercetak di atas pintu kanan hampir seluruhnya mengelupas, menyisakan beberapa huruf.

OBSERV...

Lyara melihat tangga kiri, lalu pintu kanan. “Kita berhenti di sini dulu seperti yang disepakati.”

Theo mengeluarkan ponselnya untuk memotret kedua jalur. “Tangga mungkin menuju lower section. Pintu kanan kemungkinan ruang observasi.”

Vio menatap pintu ganda. “Kalau jaringan tadi namanya Observation Network, aku lebih penasaran sama pintu itu daripada tangga.”

“Kali ini aku juga.” Theo memperbesar foto tulisan di atas pintu. “Setidaknya ada hubungan yang bisa kita ikuti.”

Selvara hendak mengatakan sesuatu ketika lampu di lorong berkedip.

Satu lampu menyala di atas mereka.

Kemudian lampu berikutnya.

Lalu berikutnya lagi.

Cahaya bergerak sepanjang koridor menuju pintu bertuliskan OBSERV..., persis seperti rekaman yang mereka lihat pada monitor sebelumnya.

Tidak seorang pun bergerak.

Theo memandang rangkaian lampu tersebut sampai yang terakhir menyala di atas pintu ganda. “Oke. Itu terlalu persis dengan videonya.”

“Berarti rekamannya mungkin menunjukkan urutan yang sedang terjadi sekarang,” kata Lyara.

“Atau sistem sengaja mengulang urutan dari rekaman setelah kita sampai di sini,” Adrian menambahkan.

Selvara memandang pintu ganda.

Lampu indikator di sampingnya berubah dari merah menjadi hijau.

Klik.

Kuncinya terbuka sendiri.

Vio mengembuskan napas pelan. “Tempat ini benar-benar ingin kita masuk ke sana.”

“Dan itu alasan yang cukup bagus untuk nggak langsung masuk,” jawab Theo.

Selvara setuju. Mereka sudah belajar satu hal yang jauh lebih penting daripada semua tulisan dan rekaman yang ditemukan sejauh ini.

Tempat ini tidak sekadar menunggu mereka menjelajah.

Ia bereaksi terhadap mereka.

Selvara mendekati pintu secukupnya untuk membaca tulisan kecil pada panel akses. Tidak ada nama orang, tidak ada instruksi panjang. Hanya nomor ruangan dan satu baris yang masih utuh.

OBSERVATION ROOM 03

Ia belum sempat mundur ketika sesuatu terdengar dari balik pintu.

Bukan suara ibunya.

Bukan suara mereka.

Lihat selengkapnya