CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #19

The Version Everyone Saw

Chapter 1 - Episode 19

Pagi hari ini cuaca yang jauh lebih cerah dibanding kejadian kemarin, 

Hujan yang semalam yang menghujani jalanan Asterveil sudah berhenti sebelum matahari terbit, meninggalkan genangan di tepi trotoar dan udara dingin yang masih menempel pada kaca jendela. Dari luar kamar Selvara, suara kendaraan mulai memenuhi jalan seperti hari sekolah lainnya, sementara dari lantai bawah terdengar suara ibunya menyiapkan sarapan. Kota sudah kembali menjalankan rutinitasnya ketika Selvara membuka mata, meski kepalanya masih dipenuhi ruangan sempit, jendela yang retak, puluhan mata di balik kaca, serta foto lama yang berhasil ia bawa pulang. 

Foto itu tergeletak di atas meja belajar.

Selvara sudah melihatnya beberapa kali sejak bangun. Ia bahkan sempat membaliknya lagi sebelum mandi, memastikan dua kata di bagian belakang masih berada di sana.

'Jangan percaya', Tulisannya tetap sama.

Selvara duduk di depan meja sambil mengeringkan ujung rambutnya dengan handuk. Cahaya pagi membuat foto itu terlihat lebih biasa daripada semalam. Warna yang memudar, permukaan yang sedikit tergores, beberapa orang berdiri di depan bangunan tua, lalu satu wajah yang membuat pandangannya selalu berhenti lebih lama. Perempuan itu memiliki kemiripan dengannya, tetapi Selvara belum berhasil menentukan bagian mana yang membuat kesamaan tersebut terasa begitu mengganggu. Bentuk wajah mereka memang hampir serupa, namun ekspresi perempuan itu memberikan kesan yang berbeda, seperti seseorang yang mengetahui bahwa kamera sedang merekam sesuatu yang seharusnya tidak ikut masuk ke dalam gambar.

Ponsel Selvara bergetar di samping foto.

Pesan dari Vio masuk ke grup kecil yang semalam dibuat Theo.

Vio: Kalian udah bangun?

Beberapa detik kemudian balasan Theo muncul.

Theo: Secara fisik iya.

Theo: Secara mental aku masih di ruangan sialan itu.

Selvara tersenyum tipis ketika membaca balasan Lyara.

Lyara: Berarti normal.

Theo: Kenapa kalian makin nyaman ngebully aku?

Vio mengirim satu pesan pendek yang segera mengubah arah percakapan.

Vio: Nyalain TV.

Selvara meletakkan handuknya, lalu membawa ponsel saat keluar kamar. Ibunya sedang berada di dapur ketika ia turun. Televisi di ruang tengah memang sudah menyala, menampilkan acara berita pagi yang biasanya hanya menjadi suara latar selama orang-orang bersiap memulai hari.

Selvara baru berjalan beberapa langkah ketika gambar di layar membuatnya berhenti.

Gedung timur sekolah.

Rekaman diambil dari luar pagar sehingga bagian yang terlihat hanya sisi bangunan, halaman, dan beberapa kendaraan petugas yang terparkir di dekat gerbang. Selvara mengenali posisi kamera itu. Dari sudut tersebut, gedung lama tempat mereka berada semalam hampir sepenuhnya tertutup bangunan utama.

Tulisan di bagian bawah layar menyebut insiden kerusakan instalasi listrik di salah satu fasilitas lama sekolah.

Selvara mendekat.

Penyiar membacakan laporan dengan nada tenang. Gangguan listrik disebut sebagai penyebab beberapa lampu mati, sistem keamanan sempat terganggu, dan sebagian area sekolah ditutup sementara untuk pemeriksaan. Beberapa siswa yang masih berada di lingkungan sekolah pada waktu kejadian sudah dievakuasi sebagai langkah pencegahan.

Selvara menurunkan ponselnya.

Ia menunggu bagian berikutnya.

Tidak ada pembahasan mengenai ruangan yang berubah. Tidak ada jendela yang retak bersamaan, sosok di balik kaca, ataupun orang-orang yang mereka temukan dalam keadaan kehilangan kesadaran.

Laporan kemudian beralih pada rekaman seorang petugas sekolah yang berdiri di depan gerbang. Pria itu menjelaskan bahwa kerusakan bangunan relatif kecil dan aktivitas sekolah akan berjalan normal setelah pemeriksaan selesai.

Ibunya keluar dari dapur sambil membawa dua piring. “Sekolahmu, ya?”

Selvara menoleh. “Iya.”

“Semalam ada masalah listrik?”

Selvara kembali melihat televisi. “Kayaknya begitu.”

Ibunya meletakkan piring di meja makan. “Untung kamu sudah pulang sebelum tambah parah.”

Selvara menahan jawabannya selama sesaat sebelum berjalan menuju meja. “Iya, untungnya nggak sampai apa-apa.”

Selvara: Aku lihat.

Balasan Vio muncul hampir seketika.

Vio: Mereka bilang listrik.

Theo kemudian mengirim foto layar televisinya. Saluran berbeda menampilkan berita yang sama dengan judul yang hampir identik.

Theo: Aku cukup yakin masalah listrik biasanya nggak bikin satu ruangan penuh mata nempel di jendela.

Lyara: Jangan bahas lewat chat terlalu detail.

Percakapan berhenti beberapa detik.

Theo akhirnya membalas.

Theo: Oke. Itu jauh lebih bikin aku tenang.

Selvara mengunci layar ponselnya dan mulai sarapan. Ia masih bisa mendengar laporan dari televisi di belakangnya, tetapi berita mengenai sekolah sudah selesai. Penyiar beralih membicarakan cuaca, kemacetan pagi, lalu agenda kota untuk akhir pekan. Dalam waktu kurang dari lima menit, kejadian yang membuat mereka hampir tidak bisa keluar dari gedung semalam sudah berubah menjadi berita singkat mengenai kerusakan fasilitas sekolah.

Anehnya, penjelasan itu terdengar masuk akal selama Selvara tidak memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.

Beberapa petugas berdiri di dekat sisi timur kompleks, dan garis pembatas dipasang menuju jalan yang mengarah ke gedung lama. Siswa tetap datang seperti biasa. Sebagian sempat memperhatikan area tersebut sebelum meneruskan perjalanan, sementara beberapa kelompok membicarakan berita pagi dengan rasa penasaran yang cepat berubah menjadi percakapan lain.

Vio sudah menunggu dekat gerbang.

Begitu Selvara mendekat, Vio langsung berjalan di sampingnya. “Kamu dengar penjelasan lengkapnya?”

“Gangguan listrik, sistem keamanan error, beberapa siswa dievakuasi.”

“Versi yang aku lihat bilang ada korsleting di ruang penyimpanan.”

Selvara menoleh kepadanya. “Ruang penyimpanan?”

Vio mengangguk sambil mengeluarkan ponselnya. Ia membuka artikel berita yang terbit kurang dari satu jam lalu, kemudian menyerahkannya kepada Selvara.

Judulnya memang berbeda.

Gangguan Kelistrikan Picu Evakuasi Siswa di Asterveil.

Selvara membaca beberapa paragraf pertama sambil terus berjalan. Artikel tersebut menyebut sumber gangguan berasal dari ruang penyimpanan lama yang sudah jarang digunakan. Tidak ada korban serius. Beberapa siswa mengalami pusing akibat kepanikan dan sudah mendapatkan pemeriksaan medis.

Selvara mengembalikan ponsel itu. “Yang di TV nggak bilang ruang penyimpanan.”

Mereka memasuki gedung utama. Aktivitas pagi tetap berjalan di sekitar mereka, membuat pembicaraan mengenai kejadian semalam terasa semakin terpisah dari kehidupan sekolah. Seorang siswa berlari mengejar temannya di ujung lorong, dua siswi berdebat mengenai tugas yang belum selesai, dan guru piket mengingatkan beberapa orang agar segera masuk kelas.

Vio menurunkan suaranya. “Menurutmu mereka nutupin?”

Selvara memikirkan pertanyaan itu sebelum menjawab. “Belum tentu.”

Vio memandangnya dengan alis terangkat.

“Mungkin petugas yang datang memang cuma lihat kerusakan setelah semuanya selesai,” lanjut Selvara. “Kalau mereka nggak lihat apa yang kita lihat, laporan mereka pasti beda.”

“Itu masih masuk akal, Untuk sekarang.”

Selvara hampir menjawab ketika seseorang memanggil mereka dari belakang.

Theo datang dengan tas menggantung di satu bahu dan wajah yang terlihat kurang tidur. Ia mempercepat beberapa langkah hingga sejajar dengan mereka, kemudian langsung menyodorkan ponselnya.

“Aku punya versi ketiga.”

Vio menerima ponsel itu. “Apaan lagi?”

“Berita lokal yang naik jam enam.”

Selvara ikut melihat layar.

Artikel tersebut menyebut penyebab insiden sebagai kebocoran pipa yang merusak jaringan listrik bangunan lama.

Vio membaca kalimat itu dua kali sebelum mengangkat wajah. “Pipa?”

Theo mengangguk. “Aku juga baru tahu kita punya pipa yang bisa bikin jendela retak.”

Vio mengembalikan ponselnya. “Bisa serius sebentar?”

“Aku serius. Itu justru masalahnya.”

Selvara meminta ponsel Theo dan menggulir artikel tersebut lebih jauh. Sebagian besar isinya serupa dengan laporan lain, tetapi terdapat satu foto gedung yang diambil setelah hujan berhenti. Beberapa petugas berdiri di depan pintu samping. Selvara memperbesar gambar dan memeriksa jendela yang terlihat dari luar.

Semua kaca masih utuh.

Jemarinya berhenti di layar.

“Theo.”

Nada suaranya membuat Theo segera melihat.

Selvara menunjukkan foto itu. “Jendelanya.”

Theo mendekat, lalu ekspresinya berubah ketika memahami maksud Selvara. Vio ikut melihat dari samping.

Semalam, mereka mendengar seluruh kaca di ruangan itu retak.

Beberapa bahkan pecah ketika sosok-sosok di luar mulai mendekat.

Dalam foto berita, jendela gedung terlihat kusam dan kotor, tetapi tidak satu pun menunjukkan kerusakan.

“Fotonya kapan?” tanya Vio.

Theo mengambil kembali ponselnya dan memeriksa keterangan di bawah gambar. “Katanya semalam setelah petugas datang.”

Vio menatap Selvara. “Kita lihat kacanya pecah.”

“Aku tahu.”

Theo menggulir layar sekali lagi. “Mungkin foto lama.”

Kemungkinan itu terdengar cukup sederhana sehingga mereka bertiga terdiam sejenak.

Selvara akhirnya berkata, “Cari sumber fotonya nanti.”

Theo memasukkan ponsel ke saku. “Setelah kelas?”

Selvara mengangguk.

Vio menatap mereka bergantian sebelum mengusap keningnya. “Baru jam tujuh lewat dan kita udah investigasi berita.”

Theo mulai berjalan lagi. “Aku juga punya rencana hidup yang lebih normal pagi ini.”

“Kamu memang punya?”

Theo menoleh kepada Vio dengan ekspresi tersinggung yang dibuat-buat. “Aku punya banyak.”

“Contohnya?”

Theo membuka mulut, tetapi tidak segera menemukan jawaban.

Selvara meneruskan langkah sambil menyembunyikan senyum kecilnya.

Percakapan mereka terputus ketika Lyara muncul dari lorong samping. Ia membawa beberapa lembar kertas bersama map klub musik, dan ekspresinya terlihat jauh lebih segar dibanding Theo.

“Kalian sudah lihat berita?” tanyanya setelah bergabung.

Theo menunjuk dirinya sendiri. “Kami bahkan sudah punya tiga penyebab berbeda.”

Lyara berhenti sebentar. “Tiga?”

“Listrik, ruang penyimpanan, sama pipa.”

Lyara memandang Theo beberapa detik sebelum beralih kepada Selvara. “Kalian ingat ruangan semalam ada pipa?”

Selvara mencoba mengingat interior ruangan tersebut. Dinding tua, meja, foto, jendela, lemari, serta pintu yang membawa mereka masuk. “Aku nggak ingat melihatnya.”

“Aku juga,” jawab Lyara sambil merapatkan map ke dadanya. “Tapi mungkin memang ada bagian yang nggak kita perhatikan.”

Theo mengangguk kecil. “Nah. Itu alasan paling masuk akal yang kita punya. Aku vote itu dulu sebelum hidup kita makin aneh.”

Mereka meneruskan perjalanan menuju kelas masing-masing. Pembicaraan berhenti ketika arus siswa semakin padat, dan beberapa menit kemudian Selvara sudah duduk di tempatnya bersama Vio. Guru masuk tepat setelah bel pertama berbunyi.

Pagi kemudian berjalan dengan ritme yang hampir membosankan.

Pelajaran, catatan, tugas, suara halaman buku, serta sesekali teguran guru kepada siswa yang masih berbicara. Selvara mengikuti semuanya dan berhasil mengalihkan pikirannya cukup lama sampai jam istirahat.

Barulah saat televisi di kantin kembali menampilkan berita sekolah, perhatiannya terangkat.

Beberapa siswa ikut melihat karena mengenali gedung mereka sendiri. Suasana tetap santai. Seseorang bahkan bercanda mengenai alasan sekolah seharusnya diliburkan sampai pemeriksaan selesai.

Selvara yang baru duduk bersama Vio memperhatikan layar dari kejauhan.

Rekaman yang digunakan kali ini berbeda.

Kamera menampilkan halaman timur pada malam sebelumnya. Hujan masih turun ketika beberapa petugas berjalan menuju gedung. Waktu pada sudut layar menunjukkan pukul 20.47.

Selvara meletakkan minumannya.

Ia ingat jam itu.

Mereka masih berada di dalam gedung.

Dalam rekaman tersebut, pintu depan gedung timur tertutup.

Kemudian kamera bergeser ke arah petugas yang sedang berbicara, dan penyiar menjelaskan bahwa bangunan sudah kosong ketika tim pemeriksa tiba.

Vio yang duduk di depannya berhenti mengunyah.

Mereka saling memandang.

“Kita belum keluar jam segitu,” ujar Vio lirih sambil memastikan suaranya tertutup keramaian kantin.

Selvara mengingat kembali malam sebelumnya. Ia yakin mereka baru berhasil keluar setelah kejadian di ruangan kaca selesai, lalu membutuhkan waktu untuk mencapai halaman sekolah.

Theo datang membawa nampan dan duduk di sisi meja. Ia baru hendak mengatakan sesuatu ketika menyadari keduanya sedang melihat televisi.

“Apa?”

Vio menunjuk layar dengan dagunya. “Jamnya.”

Theo melihat rekaman beberapa detik.

Wajahnya kehilangan sisa ekspresi santai yang tadi masih ada.

Lyara tiba tidak lama kemudian dan langsung memahami ada sesuatu yang terjadi ketika melihat mereka bertiga diam menghadap layar. Ia meletakkan minumannya di meja, lalu mengikuti arah pandangan mereka.

Berita mengulang pernyataan petugas.

Bangunan ditemukan dalam keadaan kosong.

Lyara menarik kursi dan duduk. “Jam berapa kita keluar?”

“Lewat sembilan,” jawab Theo.

Vio mengangguk. “Aku sempat lihat jam waktu ambulans datang.”

Selvara masih memperhatikan televisi.

Rekaman berakhir dan layar kembali menampilkan studio. Penyiar meneruskan berita dengan penjelasan bahwa beberapa siswa yang sebelumnya dilaporkan berada di area tersebut ternyata sudah meninggalkan sekolah melalui jalur lain sebelum petugas tiba.

Theo menyandarkan punggungnya pada kursi. “Nah, sekarang kita punya versi keempat.”

Vio menatap layar dengan dahi berkerut. “Mereka bilang kita sudah keluar.”

“Kita belum.”

Lyara mengusap sisi gelasnya dengan ibu jari sambil memikirkan sesuatu. “Atau rekamannya bukan dari waktu yang tertulis.”

Selvara menoleh kepadanya.

Lyara melanjutkan dengan suara lebih rendah, “Timestamp kamera bisa salah. Berita juga bisa pakai rekaman dari waktu lain.”

Theo mengangguk. “Itu masuk akal.”

Vio menatapnya. “Kamu cepat banget setuju.”

“Aku sedang mempertahankan kesehatan mental.”

Kali ini Vio tidak mengoreksinya.

Selvara kembali melihat televisi tepat ketika tayangan berpindah pada foto gedung yang sama dengan artikel Theo pagi tadi. Jendela-jendelanya masih utuh.

Ia mencoba menerima penjelasan sederhana yang sudah mereka susun. Foto lama bisa dipakai ulang. Timestamp dapat salah. Wartawan dari media berbeda bisa menerima informasi yang tidak sama. Petugas mungkin hanya melaporkan apa yang mereka temukan setelah distorsi berakhir.

Semua kemungkinan itu masuk akal.

Masalahnya terletak pada jumlahnya.

Satu perbedaan mudah diterima. Dua masih bisa dianggap kesalahan komunikasi. Namun semakin banyak versi yang mereka lihat, semakin sulit Selvara menentukan mana yang paling dekat dengan kejadian semalam.

Lyara tiba-tiba mengangkat wajah.

“Sel.”

Selvara menoleh.

Lyara menunjuk layar.

Berita sedang memutar ulang rekaman halaman timur untuk terakhir kalinya.

Selvara memusatkan perhatian.

Petugas bergerak melewati halaman. Hujan turun. Gedung berdiri gelap di belakang mereka.

Kemudian selama kurang dari satu detik, salah satu jendela di lantai dua memantulkan cahaya putih.

Selvara mengenali jendela itu.

Ruangan tempat mereka menemukan foto.

Ia bangkit sedikit dari kursinya sebelum tayangan berpindah.

Theo langsung mengambil ponselnya. “Aku cari videonya.”

Vio ikut mendekat. “Tadi ada orang?”

“Aku nggak tahu,” jawab Selvara.

Lyara tetap memandang layar yang sekarang sudah menampilkan berita lain. “Ada sesuatu di jendelanya.”

Theo menemukan unggahan resmi stasiun televisi dan memutar kembali video tersebut. Mereka merapat mengelilingi layar kecil ponselnya, membiarkan suara kantin menutupi percakapan.

Theo menggeser video sampai mendekati bagian yang mereka lihat.

Rekaman halaman muncul.

Petugas berjalan.

Hujan turun.

Gedung berada di belakang.

Jendela lantai dua terlihat jelas.

Tidak ada cahaya putih.

Theo mengulangnya.

Hasilnya sama.

Vio mengambil ponsel dari tangannya dan memutar beberapa detik sebelumnya dengan lebih lambat. “Tadi ada.”

“Aku juga lihat,” kata Lyara.

Selvara tidak segera menjawab. Ia memperhatikan video sekali lagi sampai bagian tersebut berlalu.

Jendelanya tetap gelap.

Theo mengambil kembali ponselnya, lalu memeriksa waktu unggahan. “Mungkin siaran langsung sama upload beda edit.”

Vio mengangkat wajah. “Dalam waktu lima menit?”

Theo terdiam.

Selvara bersandar kembali ke kursinya. Perasaan yang sejak pagi berusaha ia tempatkan sebagai kesalahan laporan kini mulai berubah bentuk. Ia belum ingin menyebutnya sebagai sesuatu yang disengaja karena mereka masih memiliki terlalu sedikit informasi, tetapi satu hal mulai sulit diabaikan.

Mereka berempat menyaksikan kejadian yang sama semalam.

Hari ini, dunia memberikan beberapa versi berbeda mengenai apa yang terjadi.

Dan setiap kali mereka mencoba memeriksa salah satunya, detailnya bergeser lagi.

Bel tanda istirahat hampir selesai berbunyi dari speaker. Siswa-siswa mulai meninggalkan kantin, membuat meja di sekitar mereka perlahan kosong.

Theo memasukkan ponselnya ke saku. “Setelah sekolah, kita cari sumber asli foto sama videonya.”

Vio berdiri sambil meraih tas. “Dan kalau semuanya ternyata cuma salah timestamp sama editor berita?”

Theo ikut berdiri. “Aku akan sangat bahagia.”

Lyara merapikan map di tangannya. “Kalau bukan?”

Theo tidak menjawab.

Selvara bangkit paling akhir.

Sebelum meninggalkan kantin, ia melihat televisi sekali lagi. Berita mengenai sekolah sudah lama selesai, digantikan iklan minuman yang cerah dan musik ringan. Siswa lain berjalan melewatinya tanpa memberi perhatian pada layar.

Kehidupan sekolah kembali bergerak seperti biasa.

Selvara mengikuti teman-temannya menuju lorong, tetapi pertanyaan yang muncul sejak pagi ikut terbawa bersamanya.

Semalam seseorang meninggalkan pesan agar ia tidak percaya.

Saat itu Selvara mengira pesan tersebut menunjuk pada seseorang.

Sekarang, untuk pertama kalinya, ia mulai mempertimbangkan kemungkinan lain.

Mungkin yang dimaksud bukan siapa yang harus ia percayai.

Melainkan versi mana dari sesuatu yang sudah mereka lihat sendiri.

Bel pelajaran berikutnya berbunyi ketika Selvara dan Vio baru sampai di depan kelas. Percakapan dari kantin masih tertinggal di kepala mereka, terutama rekaman yang berubah hanya beberapa menit setelah mereka melihatnya di televisi. Vio sempat berhenti di ambang pintu dan memandang Selvara seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi guru sudah terlihat berjalan dari ujung lorong. Mereka akhirnya masuk dan kembali ke tempat duduk masing-masing. Selvara membuka buku di atas meja, mengambil pena, lalu mencoba mengikuti pelajaran seperti siswa lain. Selama beberapa menit pertama, usahanya cukup berhasil. Penjelasan guru memenuhi ruangan, beberapa siswa mencatat, sementara suara kipas di langit-langit bercampur dengan gesekan pena dan halaman buku. Kehidupan di dalam kelas berjalan begitu wajar hingga kejadian semalam terasa seperti sesuatu yang hanya dimiliki oleh mereka berempat.

Selvara menulis beberapa baris sebelum pandangannya berpindah ke jendela.

Langit cerah. Cahaya siang jatuh ke sisi meja dan lantai, membentuk pantulan samar pada kaca. Tidak ada hujan yang biasanya membuat anomali lebih mudah terasa, tetapi pengalaman beberapa hari terakhir sudah mengajarinya bahwa cuaca bukan satu-satunya pemicu.

Pantulan kelas mengikuti keadaan di belakangnya.

Guru berdiri di depan.

Para siswa duduk di tempat masing-masing.

Vio berada di sampingnya.

Selvara menurunkan pandangan dan kembali menulis.

Beberapa menit kemudian, guru meminta seorang siswa di barisan belakang membaca bagian berikutnya dari buku. Suara kursi bergeser ketika siswa itu berdiri. Ia mulai membaca dengan sedikit gugup, membuat beberapa temannya tersenyum karena salah mengucapkan satu istilah. Guru membetulkannya dan kelas kembali tenang.

Selvara tanpa sengaja melihat jendela lagi.

Kali ini ia berhenti menulis.

Dalam pantulan kaca, kursi siswa yang sedang berdiri itu masih terisi.

Ada seseorang yang duduk di sana.

Selvara mengangkat wajah perlahan.

Ia melihat langsung ke belakang.

Kursinya kosong karena pemiliknya sedang berdiri sambil membaca.

Selvara kembali melihat kaca.

Pantulannya sudah normal.

Ujung penanya tetap menempel pada kertas tanpa bergerak.

Vio yang sejak tadi mencatat akhirnya menyadari perubahan itu. Ia tidak langsung bertanya. Tangannya tetap menulis sampai guru kembali menghadap papan, kemudian ia sedikit mendekat dan berbisik, “Kamu lihat sesuatu?”

Selvara menunggu beberapa detik sebelum menjawab dengan suara rendah. “Pantulan.”

Ekspresi Vio langsung berubah.

“Apa?”

“Kayak ada orang di kursi belakang.”

Vio menoleh sekilas ke arah yang dimaksud. Siswa tadi sudah duduk kembali dan sedang merapikan bukunya.

“Orang lain?”

Selvara menggeleng. “Aku nggak sempat lihat wajahnya.”

Vio tidak bertanya lagi. Ia kembali menghadap ke depan, tetapi penanya berhenti bergerak lebih lama daripada sebelumnya.

Pelajaran berlanjut.

Selvara mencoba mempertahankan perhatian pada buku sampai akhirnya guru selesai menjelaskan dan memberikan tugas untuk dikerjakan sendiri. Suasana kelas berubah menjadi lebih santai. Beberapa siswa mulai berdiskusi, sebagian menggeser kursi agar lebih dekat dengan teman mereka, sementara yang lain memanfaatkan kesempatan untuk berbicara mengenai hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan tugas.

Selvara baru mengerjakan dua soal ketika suara dari belakang membuatnya berhenti.

“Eh, ngomong-ngomong, semalam sekolah kita masuk berita, ya?”

Beberapa siswa langsung menanggapi.

“Iya. Gedung lama korslet katanya.”

“Bukannya pipa bocor?”

“Gue baca gara-gara hujan.”

“Yang bener yang mana?”

Seorang siswa lain tertawa kecil. “Ya sama aja. Gedung tua emang udah waktunya direnovasi.”

Pembicaraan berkembang sebentar sebelum seseorang menyebut bahwa beberapa murid sempat berada di sana ketika kejadian berlangsung.

Selvara dan Vio tidak ikut bicara.

“Siapa aja yang di sana?”

“Nggak tahu.”

“Katanya anak OSIS.”

“Bukannya gedungnya kosong?”

Kalimat terakhir membuat Selvara mengangkat pandangan.

Seorang siswa laki-laki di barisan depan menoleh ke temannya. “Beritanya bilang kosong waktu petugas datang.”

“Berarti nggak ada siapa-siapa, dong.”

“Makanya.”

Siswa lain menyela, “Tapi kakakku bilang ada ambulans.”

“Petugas doang kali.”

Percakapan mereka terus bergerak, saling mengoreksi dengan informasi yang berbeda. Tidak ada yang tampak menganggap ketidaksesuaian tersebut penting. Mereka hanya memilih versi yang terdengar paling mudah diterima, lalu beberapa menit kemudian topiknya sudah berganti pada rencana pertandingan sekolah minggu depan.

Selvara memperhatikan mereka sampai Vio menyentuh ujung bukunya dengan pena.

“Mereka nggak merasa aneh,” bisik Vio.

Selvara menurunkan pandangan. “Karena mereka nggak ada di sana.”

“Maksudku bukan itu.” Vio menggeser kursinya sedikit lebih dekat. “Mereka dengar tiga versi berbeda dan langsung nerima salah satunya.”

Selvara memahami maksudnya.

Ia kembali melihat siswa-siswa yang sekarang sedang tertawa mengenai hal lain.

“Mungkin memang begitu,” katanya. “Kalau kita nggak tahu apa yang terjadi, kita bakal pilih penjelasan yang paling masuk akal.”

Vio menatapnya. “Kalau kita nggak ada di sana semalam, kamu bakal percaya berita?”

Selvara terdiam cukup lama. “Mungkin.”

Jawaban itu membuat keduanya kembali diam.

Justru kemungkinan itulah yang terasa paling mengganggu.

Setelah pelajaran terakhir selesai, Selvara dan Vio tidak langsung menuju ruang OSIS. Mereka terlebih dahulu bertemu Theo di perpustakaan karena akses internet sekolah di sana lebih stabil dan beberapa komputer dapat digunakan tanpa harus meminjam perangkat organisasi. Lyara datang beberapa menit kemudian setelah menyelesaikan urusan klub musik, lalu duduk di kursi kosong di antara Theo dan Vio.

Theo sudah membuka beberapa tab ketika Selvara tiba.

“Foto gedung yang tadi pagi,” katanya sambil memutar monitor sedikit. “Aku nemu sumber paling awal yang masih bisa diakses.”

Selvara berdiri di sampingnya.

Halaman yang terbuka berasal dari akun berita lokal. Foto yang sama terlihat di sana, lengkap dengan jendela gedung yang masih utuh.

“Jam upload?” tanya Lyara.

“Dua puluh tiga lewat sebelas.”

“Berarti setelah kita keluar.”

Theo mengangguk. “Tapi ada masalah.”

Ia membuka tab lain.

Halaman itu hanya menampilkan pesan bahwa konten sudah tidak tersedia.

“Apa itu?” tanya Vio.

“Postingan yang ngutip sumber fotonya.”

Theo kembali ke mesin pencarian dan menunjukkan hasil yang masih menyimpan potongan teks dari halaman yang sudah dihapus.

Selvara membacanya.

Foto tersebut disebut berasal dari seorang warga yang kebetulan melewati sekolah sekitar pukul tujuh malam.

Selvara langsung memahami masalahnya.

“Jam tujuh belum ada kejadian.”

“Betul,” jawab Theo. “Kalau fotonya memang diambil jam tujuh, kaca masih utuh.”

Vio sedikit mengendurkan bahunya. “Berarti selesai, kan?”

Theo belum menjawab.

Ia memperbesar bagian kanan foto.

Di balik salah satu jendela lantai dua terdapat sesuatu yang hampir tidak terlihat karena kualitas gambar. Bentuknya kecil, hanya bagian gelap di antara pantulan cahaya.

“Lihat ini.” Lyara mendekat.

Selvara menatap bagian tersebut cukup lama sebelum mengenali bentuknya sebagai siluet seseorang.

Vio mengernyit. “Itu orang?”

“Mungkin,” kata Theo. “Masalahnya, menurut data sekolah, gedung timur ditutup dari sore.”

Selvara memandangnya. “Bisa aja itu petugas.”

“Aku juga mikirnya begitu.”

Theo membuka tab berikutnya.

Foto lain muncul dari sudut yang hampir sama, tetapi diambil beberapa menit kemudian berdasarkan metadata yang tercantum pada unggahan. Sosok di jendela masih berada di tempat yang sama.

Posisinya tidak berubah sedikit pun.

Lyara menyandarkan kedua tangannya pada meja. “Manekin?”

“Di lantai dua gedung lama?”

“Daripada langsung menyimpulkan itu manusia.”

Vio memperbesar gambar menggunakan touchpad. “Tunggu.”

Selvara melihat arah jarinya.

Sosok tersebut berada di balik kaca, tetapi ada sesuatu yang terasa janggal pada orientasi tubuhnya. Cahaya dari luar membuat detail wajah mustahil dikenali, namun kepalanya tampak menghadap langsung ke kamera.

“Foto pertama sama kedua jaraknya berapa lama?” tanya Selvara.

Theo memeriksa data yang sudah ia catat. “Dua puluh enam menit.”

Selama dua puluh enam menit, sosok itu tetap berada di posisi yang sama.

Lyara menarik kursi dan duduk. “Ada foto setelahnya?”

“Harusnya ada.”

Theo kembali mencari.

Beberapa hasil muncul, sebagian berasal dari unggahan ulang, forum lokal, dan akun siswa yang sempat mengambil gambar dari luar sekolah. Namun foto dengan sudut yang sama sulit ditemukan.

Kemudian Selvara melihat sebuah thumbnail kecil di antara hasil pencarian.

“Itu.” Theo mengkliknya.

Halaman terbuka, Foto tersebut diambil ketika hujan sudah turun.

Jendela lantai dua masih terlihat.

Sosoknya sudah hilang.

Theo menggulir ke bagian keterangan.

Pukul 20.12.

Selvara merasakan sesuatu mengencang di dadanya.

Pada waktu itu, mereka sudah berada di gedung.

“Ada foto sekitar jam delapan tiga puluh?” tanyanya.

Theo mulai mencari lagi.

Vio dan Lyara ikut menggunakan ponsel mereka agar pencarian lebih cepat. Selama beberapa menit, meja mereka dipenuhi suara ketukan keyboard dan layar yang terus berganti. Hasilnya tidak banyak. Sebagian unggahan hanya membahas kabar mengenai gedung sekolah, sedangkan beberapa video sudah dihapus atau akunnya dibuat privat.

Lyara akhirnya menemukan sesuatu.

“Aku dapat video.”

Ia meletakkan ponselnya di tengah meja.

Video vertikal berdurasi sebelas detik direkam dari trotoar di seberang sekolah. 

Hujannya itu lumayan deras sehingga membuat gambar sedikit buram. Gedung timur terlihat di belakang pagar.

Waktu unggahan menunjukkan pukul 20.38.

“Play Videonya,” kata Selvara.

Lyara menjalankan videonya.

Kamera bergerak dari jalan menuju sekolah. Orang yang merekam terdengar berbicara kepada temannya mengenai lampu yang terus mati dan menyala di gedung lama. Kamera kemudian memperbesar lantai dua.

Satu jendela menyala.

Video berakhir.

Theo langsung berkata, “Sekali lagi.”

Lyara memutarnya kembali.

Kali ini mereka semua memperhatikan jendela.

Cahaya menyala. Lalu padam kemudian menyala lagi.

Selvara merasa ada sesuatu yang familiar pada ritmenya. “Pause.”

Lyara menghentikan video, kemudian Selvara mengambil ponselnya dan menggeser beberapa frame mundur. Seperti ada cahaya putih yang memenuhi jendela.

Di belakangnya, beberapa bentuk gelap berdiri berjajar.

Vio mendekat sampai bahunya hampir menyentuh Selvara. “Itu…”

“Mata,” kata Theo lirih.

Tidak ada yang menanggapi.

Kualitas video terlalu buruk untuk membuktikan apa pun, tetapi mereka berempat sudah melihat pemandangan itu dari sisi lain kaca semalam.

Selvara menjalankan video frame demi frame.

Bentuk-bentuk gelap tetap berada di sana.

Kemudian cahaya padam.

Ketika menyala kembali, semuanya hilang.

Lyara mengambil napas panjang. “Simpan videonya.”

Theo langsung mengeluarkan ponsel. “Aku download.”

Sebelum ia selesai, layar Lyara berubah.

Video berhenti.

Halaman memuat ulang dengan sendirinya.

Beberapa detik kemudian muncul tulisan bahwa konten tidak ditemukan.

Theo menatap layar. “Jangan bercanda.”

“Aku nggak ngapa-ngapain.”

Lyara kembali ke halaman sebelumnya dan mencoba membuka unggahan yang sama.

Tetap tidak tersedia.

Vio segera membuka riwayat browser di ponsel Lyara. Tautannya masih ada, tetapi ketika disentuh hanya membawa mereka pada halaman kosong.

Theo memeriksa ponselnya.

“Aku belum selesai download.”

Selvara melihat ke layar Theo. Proses unduhan berhenti pada delapan puluh tujuh persen.

Ia menekan file tersebut.

Theo mencoba sekali lagi sebelum meletakkan ponselnya di meja. Kali ini ia tidak membuat komentar apa pun.

Vio duduk kembali sambil menatap layar kosong di depan mereka. “Berapa kemungkinan postingan itu dihapus tepat waktu kita buka?”

Theo menjawab setelah beberapa saat. “Cukup besar kalau pemiliknya memang lagi bersihin akun.”

“Dan pas kamu download?”

Theo mengusap wajahnya. “Aku tahu.”

Lyara masih memegang ponselnya. “Kalian ingat detail videonya?”

Selvara menatapnya.

“Jendelanya menyala dua kali,” lanjut Lyara. “Waktu nyala pertama, ada beberapa bentuk di belakang kaca. Waktu padam lalu nyala lagi, bentuknya hilang.”

Theo mengangguk. “Aku ingat.”

Vio juga mengiyakan.

Lyara membuka aplikasi catatan. “Tulis sekarang.”

Mereka mulai mencatat secara terpisah.

Selvara menulis apa yang baru saja dilihatnya tanpa berdiskusi dengan yang lain. Durasi video, sudut kamera, hujan, posisi gedung, cahaya di lantai dua, bentuk di balik jendela, lalu perubahan setelah lampu padam.

Setelah selesai, Lyara meminta mereka meletakkan ponsel di meja.

“Bandingkan.”

Catatan mereka hampir sama.

Ada perbedaan kecil mengenai jumlah sosok. Theo menulis tujuh atau delapan. Vio menulis sekitar enam. Lyara tidak mencantumkan jumlah, sedangkan Selvara hanya menulis beberapa.

Namun inti kejadian tetap identik.

Theo membaca semuanya sebelum mengangguk. “Oke. Setidaknya ingatan kita masih sama.”

Selvara tidak langsung merasa lega.

“Kita cek lagi nanti.”

Theo mengangkat pandangan. “Catatannya?”

Selvara mengangguk. “Kalau yang berubah cuma bukti digital, catatan kita harus tetap sama.”

Vio memahami arah pikirannya. “Dan kalau catatan kita berubah?”

Tidak ada yang segera menjawab.

Lyara akhirnya mengunci ponselnya. “Makanya jangan cuma simpan digital.”

Theo menggeser buku catatan di dekatnya. “Tulis tangan.”

“Empat salinan,” tambah Selvara. “Masing-masing pegang satu.”

Theo menatapnya sesaat, kemudian tersenyum tipis. “Aku nggak tahu kapan hidup sekolah kita berubah jadi operasi intelijen.”

“Kemarin kamu hampir ditarik sesuatu dari balik kaca,” ujar Vio. “Menurutku kita lewat tahap hidup sekolah biasa sejak itu.”

Theo menerima komentar tersebut tanpa membalas.

Selvara mengambil satu lembar kertas kosong dan mulai menulis ulang detail penting. Kali ini ia mencantumkan tanggal, jam ketika mereka menemukan video, alamat halaman dalam bentuk judul akun dan nama unggahan, serta apa yang mereka lihat sebelum konten menghilang. Lyara dan Vio melakukan hal yang sama, sedangkan Theo mencatat informasi teknis yang masih bisa ia ingat dari halaman.

Mereka baru selesai ketika perpustakaan mulai sepi.

Theo menutup laptop. “Kita ke ruang OSIS?”

Selvara mengangguk.

Mereka berdiri dan membereskan meja.

Ketika Selvara hendak memasukkan catatannya ke dalam tas, ia melihat sesuatu pada halaman tersebut.

Tangannya berhenti.

Baris terakhir tulisannya berbunyi:

Bentuk di balik kaca menghilang setelah cahaya kedua.

Selvara yakin itulah yang ia tulis.

Namun tepat di bawahnya terdapat satu kalimat lain.

Tulisan tangan yang sama.

Tinta yang sama.

Mereka tidak menghilang.

Selvara tidak bergerak.

Vio yang berdiri paling dekat segera menyadarinya. “Kenapa?”

Selvara meletakkan kertas kembali di meja.

Theo dan Lyara ikut mendekat.

Ia menunjuk kalimat terakhir.

“Aku nggak nulis ini.”

Theo menatap tulisan tersebut. “Yakin?”

“Yakin.”

Vio langsung membuka catatannya sendiri.

Tidak ada kalimat tambahan.

Lyara memeriksa miliknya.

Sama.

Theo membuka catatannya dan membalik halaman beberapa kali.

Tidak ada perubahan.

Mereka kembali melihat kertas Selvara.

Tulisan tambahan itu memang menyerupai tulisan tangannya. Bentuk huruf, jarak antarkata, bahkan cara ia menulis titik di akhir kalimat hampir sama.

Lyara mengangkat kertas tersebut mendekati cahaya. “Tintanya juga sama.”

Selvara mengambil pena yang tadi digunakan.

Ia membuat satu garis kecil di sudut halaman.

Warnanya identik.

Theo menatap meja, kemudian kursi, seolah berharap menemukan seseorang yang sempat mendekat ketika mereka tidak memperhatikan. “Kertas ini dari tadi di depan kamu.”

Selvara mengangguk.

“Aku lihat kamu nulis,” kata Vio. “Setelah selesai, kamu langsung taruh di meja.”

Selvara kembali membaca kalimat itu.

Mereka tidak menghilang.

Ada sesuatu dalam pilihan katanya yang membuat perasaan tidak nyaman muncul lebih kuat.

Bukannya mereka masih ada atau mereka pindah.

Mereka tidak menghilang.

Seolah orang yang menulisnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ketika cahaya padam.

Selvara membalik kertas.

Bagian belakang kosong.

Lyara kemudian melihat ke arah jendela perpustakaan.

Matahari masih cukup tinggi, tetapi cahaya sore mulai berubah hangat. Pantulan empat orang terlihat samar di permukaan kaca.

Selvara mengikuti pandangannya.

Dirinya berdiri di dekat meja.

Vio di sebelah kiri.

Theo berada sedikit di belakang.

Lyara di sisi kanan.

Empat orang.

Selvara hampir mengalihkan pandangan ketika sesuatu muncul di antara pantulan Theo dan Lyara.

Seseorang berdiri di belakang mereka.

Tubuhnya samar karena bertumpuk dengan rak buku, tetapi wajahnya menghadap lurus ke arah Selvara.

Selvara berbalik cepat.

Lorong di antara rak kosong.

Theo ikut menoleh. “Apa?”

Selvara kembali melihat kaca.

Pantulan itu sudah hilang.

“Sel?” panggil Lyara, kali ini lebih serius.

Selvara menatap tempat sosok tadi berdiri, lalu kertas di tangannya.

“Ada seseorang.”

Vio langsung melihat ke belakang mereka. “Di mana?”

“Pantulan.”

Theo berdiri dari kursinya dan memeriksa lorong rak terdekat. Tidak ada siapa pun. Beberapa siswa masih berada di bagian depan perpustakaan, terlalu jauh untuk menghasilkan pantulan pada posisi tersebut.

Selvara memasukkan kertas ke dalam tas.

“Kita keluar.”

Tidak seorang pun membantah.

Mereka berjalan menuju pintu perpustakaan bersama-sama. Selvara berada di tengah, dengan Vio di sampingnya dan Theo serta Lyara beberapa langkah di belakang. Ketika melewati meja pustakawan, Selvara sempat melihat jam dinding.

16.18.

Ia menyimpan waktu itu dalam ingatan.

Mereka keluar ke lorong.

Udara terasa lebih hangat daripada di perpustakaan.

Theo menutup pintu di belakang mereka. “Ruang OSIS sekarang.”

Mereka baru berjalan beberapa meter ketika Selvara berhenti.

Di ujung lorong terdapat papan informasi digital sekolah. Biasanya layar itu menampilkan jadwal kegiatan, pengumuman klub, atau informasi akademik.

Sekarang layar menampilkan foto gedung timur.

Foto yang sama dengan berita pagi.

Jendela utuh.

Gedung kosong.

Di bawahnya tertulis pengumuman resmi sekolah mengenai gangguan fasilitas semalam.

Vio membaca beberapa baris sebelum wajahnya berubah.

“Selvara.”

Selvara sudah melihatnya.

Pada bagian akhir pengumuman tertulis:

Berdasarkan pemeriksaan dan rekaman keamanan, tidak terdapat siswa di dalam gedung selama gangguan berlangsung.

Theo mendekati layar. “Itu baru.”

Lyara mengambil ponsel dan memotret pengumuman.

Selvara tetap membaca.

Kalimat berikutnya menyebut bahwa informasi mengenai siswa yang terjebak di gedung merupakan kesalahpahaman yang telah diklarifikasi.

Vio menatap Theo. “Kita berempat ada di sana.”

Theo mengangguk. “Dan bukan cuma kita.”

Selvara teringat orang-orang yang mereka temukan.

Mereka tidak sendirian semalam.

Ada siswa lain.

Beberapa petugas.

Orang-orang yang sempat berada di ruangan berbeda.

Kalau pengumuman ini benar, seluruh keberadaan mereka di gedung telah dihapus dari versi resmi kejadian.

Selvara mendekati layar.

Foto gedung memenuhi sisi atas pengumuman.

Ia kembali melihat jendela lantai dua.

Kosong.

Kemudian layar berkedip.

Hanya sekali.

Foto yang sama muncul kembali.

Namun kali ini ada seseorang berdiri di balik jendela.

Selvara langsung mengenalinya.

Dirinya sendiri.

Pantulan Selvara di layar berdiri di ruangan lantai dua dengan seragam yang sama seperti sekarang. Wajahnya menghadap kamera, satu tangan menempel pada kaca.

Vio menarik napas tajam.

Theo dan Lyara membeku di belakang mereka.

Berarti mereka semua melihatnya.

Layar berkedip lagi.

Foto kembali normal.

Selvara tetap berdiri di depan papan informasi ketika suara langkah terdengar dari ujung lorong. Seorang guru berjalan mendekat sambil membawa beberapa berkas. Ia sempat melihat ke arah mereka, kemudian ke layar.

“Kalian belum pulang?”

Theo menjadi orang pertama yang menjawab. “Sebentar lagi, Pak.”

Guru itu mengangguk. “Jangan terlalu sore. Area timur masih ditutup.”

Ia berjalan melewati mereka.

Selvara menunggu sampai langkahnya menjauh sebelum menoleh kepada yang lain.

“Kalian lihat?”

Vio mengangguk, wajahnya sudah kehilangan ekspresi santai yang biasanya muncul bahkan ketika gugup. “Itu kamu.”

Theo menatap layar yang kembali menampilkan foto kosong. “Bukan pantulan biasa. Posisi kamu beda.”

Lyara masih memegang ponselnya.

Ia membuka foto yang baru saja diambil.

Mereka berkumpul melihat layar.

Foto pengumuman tersimpan dengan jelas.

Gedung timur terlihat di bagian atas.

Jendela lantai dua kosong.

Tidak ada Selvara.

Lyara memperbesar gambar.

Tetap kosong.

Theo mengembuskan napas panjang. “Tentu saja.”

Selvara menatap foto beberapa detik sebelum mengalihkan pandangan ke papan digital.

Ada sesuatu yang mulai terasa lebih jelas daripada sebelumnya.

Perubahan ini tidak sekadar menghapus bukti.

Ia bisa menambahkan sesuatu.

Mengganti sesuatu.

Menunjukkan sesuatu yang hanya bertahan selama mereka melihatnya secara langsung.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua anomali itu dimulai, Selvara merasa bahwa perubahan tersebut mungkin tidak berlangsung secara acak.

Karena dari seluruh orang yang berada di lorong itu, layar memilih wajahnya.

Mereka akhirnya sampai di ruang OSIS beberapa menit kemudian.

Theo mengunci pintu setelah semuanya masuk, sementara Lyara menutup tirai jendela. Vio langsung mengambil spidol dan berdiri di depan papan tulis.

“Kita mulai dari awal,” katanya. “Semua yang kita tahu.”

Theo meletakkan tasnya di meja. “Aku setuju.”

Selvara mengeluarkan foto lama dari tas bersama catatan yang baru saja berubah.

Ia meletakkan keduanya berdampingan.

Satu berasal dari masa lalu.

Satu dibuat kurang dari satu jam lalu.

Namun keduanya sekarang membawa pesan yang tidak ia pahami.

Jangan percaya.

Mereka tidak menghilang.

Lyara berdiri di sisi meja dan membaca keduanya cukup lama.

“Kalau kita anggap ini berhubungan,” katanya, “mungkin pesan pertama bukan nyuruh kamu jangan percaya seseorang.”

Selvara mengangkat pandangan.

Lyara menunjuk catatan kedua. “Mungkin dari awal yang diperingatkan memang informasi.”

Theo menarik kursi dan duduk. “Berita berubah, foto nggak cocok, video hilang, pengumuman sekolah bilang kita nggak ada di gedung. Sekarang tulisan kita sendiri bisa berubah.”

Vio menambahkan satu kalimat besar pada papan:

APA YANG MASIH BISA DIPERCAYA?

Mereka semua memandangnya.

Selvara teringat Avenoir.

Tempat itu muncul di pikirannya begitu saja.

Sejak pertama kali masuk, toko tersebut selalu terasa berbeda dari bagian kota lainnya. Suara di sana tidak pernah terlambat. Pantulan tidak bergeser. Benda yang ia sentuh terasa sebagaimana seharusnya. Bahkan ketika anomali semakin kuat di sekolah dan jalanan, Avenoir tetap memiliki ketenangan yang sama.

“Ada satu tempat,” katanya.

Lihat selengkapnya