Chapter 1 - Episode 20
Pagi berikutnya membawa Selvara kembali ke Asterveil dengan satu tujuan yang sudah tersusun sejak malam sebelumnya. Izin menuju ruang arsip bawah memang belum tersedia hari ini, sehingga ia tidak berniat memaksakan pencarian ke sana. Masih ada foto asli festival yang ingin diperiksa Lyara, sesuatu yang ditemukan Theo di yearbook, serta dokumentasi OSIS yang mungkin dapat membantu mereka menentukan apakah sosok di depan gedung timur memang berasal dari rekaman dua tahun lalu atau hanya terlihat demikian karena arsipnya sudah ikut berubah. Selvara memilih memulai dari bagian yang masih dapat mereka verifikasi, sekalipun rasa penasaran mengenai ruang arsip bawah terus muncul setiap kali ia mengingat peringatan perempuan Avenoir agar dokumen yang ditemukan nanti tetap berada di tempat asalnya.
Ketika melewati gerbang, perhatian Selvara sempat tertarik pada gedung timur. Beberapa pekerja sudah berada di sana sejak pagi dan pintu samping yang kemarin terbuka kini ditutup kembali. Garis pembatas masih menyisakan jalur untuk staf, sedangkan papan kecil bertuliskan PEMELIHARAAN FASILITAS berdiri di dekat akses utama. Tidak ada siswa yang terlihat terlalu tertarik. Setelah beberapa hari, keberadaan pekerja di sekitar bangunan tua itu sudah menjadi bagian dari pemandangan sekolah.
Selvara melanjutkan langkah menuju gedung utama.
“Kamu datang juga.”
Suara yang familiar membuatnya menoleh sebelum mencapai tangga.
Adrian berdiri tidak jauh dari pintu masuk sambil membawa beberapa lembar dokumen. Seragamnya sedikit lebih rapi daripada sebagian besar siswa yang baru datang, dan pin kecil OSIS masih terpasang di bagian dada. Sejak mereka berhasil keluar dari gedung lama, Selvara memang beberapa kali melihat Adrian dari kejauhan, tetapi kesibukan sekolah membawa mereka kembali pada urusan masing-masing. Adrian tidak menjadi bagian dari kelompok kecil yang sekarang rutin membandingkan catatan karena keterlibatannya sejak awal memang berbeda. Ia ikut terjebak bersama mereka pada bagian tertentu dari kejadian itu, bukan bagian dari tim yang terbentuk sebelumnya.
Selvara berhenti di dekatnya. “Kamu pikir aku nggak masuk?”
“Bukan begitu. Kemarin aku lihat kamu di ruang OSIS sampai sore, jadi kupikir hari ini kamu mungkin datang lebih siang.”
“Aku masih punya kelas.”
Adrian tersenyum kecil. “Aku tahu. Maksudku kamu kelihatan mulai sering ada di sana lagi.”
Selvara sudah cukup sering mendengar variasi kalimat tersebut selama dua hari terakhir hingga ia hanya mengembuskan napas kecil. “Aku bantu beberapa hal. Belum berarti aku kembali.”
“Aku juga nggak bilang kamu sudah kembali.” Adrian mengangkat dokumen di tangannya. “Tapi orang-orang mulai lebih tenang sejak kamu mau duduk di ruangan itu lagi.”
Selvara memandangnya. “Mereka baik-baik saja sebelum aku datang.”
“Memang. Mereka cuma masih terbiasa cari kamu kalau ada keputusan yang bikin ragu.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti pujian ataupun usaha membujuk. Adrian menyampaikannya sebagaimana ia menjelaskan keadaan organisasi yang memang ia lihat setiap hari.
Selvara melirik dokumen yang dibawanya. “Itu buat kegiatan akhir bulan?”
“Sebagian. Sisanya pengajuan akses arsip.”
Perhatian Selvara langsung kembali kepadanya. “Arsip?”
Adrian mengangkat lembar paling atas. “Pembina minta beberapa dokumen lama dipindahkan sebelum ruang bawah dibereskan. Kenapa?”
Selvara menahan pertanyaan yang hampir keluar terlalu cepat. “Ruang arsip bawah sedang dibereskan karena apa?”
“Katanya ada masalah kelembapan. Beberapa rak dekat dinding belakang harus dikosongkan sebelum diperiksa.”
“Mulai kapan?”
“Kayaknya kemarin.”
Selvara memikirkan informasi itu sambil melihat ke arah koridor administrasi. Kemarin staf mengatakan ruang arsip bawah sedang dibereskan dan mereka mungkin baru bisa masuk lusa. Penjelasan Adrian cocok dengan itu.
Adrian memperhatikan perubahan ekspresinya. “Kamu lagi cari sesuatu di sana?”
“Dokumen fasilitas gedung timur.”
Adrian tidak tampak terkejut. “Masih soal kejadian kemarin?”
“Sebagian.”
Ia tidak meminta Selvara menjelaskan lebih jauh. Setelah apa yang dialaminya sendiri di gedung lama, Adrian sudah mengetahui cukup banyak untuk memahami bahwa sebagian pertanyaan lebih baik dibahas di tempat yang tepat.
“Aku mungkin bisa bantu aksesnya,” katanya. “Bukan hari ini, tapi kalau pembina menyetujui pemindahan arsip, beberapa anggota OSIS bakal diminta turun.”
“Kamu termasuk?”
“Harusnya.”
Selvara mengangguk kecil. “Kalau begitu kabari aku sebelum kalian mulai.”
Adrian tersenyum tipis. “Nah, sekarang kedengarannya seperti perintah ketua.”
“Adrian.”
“Aku bercanda.”
Selvara akhirnya ikut tersenyum sebelum mereka berpisah menuju kelas masing-masing.
Percakapan singkat itu tertinggal di pikirannya selama beberapa menit berikutnya, bukan karena arsip bawah, melainkan karena OSIS. Selvara mulai menyadari bahwa kembali membantu organisasi terasa semakin mudah ketika tidak ada seorang pun yang memintanya mengambil semua tanggung jawab sekaligus. Ia masih belum tahu apakah ingin kembali pada posisi sebelumnya, tetapi kemungkinan itu tidak lagi membuatnya ingin menjauh secepat dulu.
Vio sudah berada di kelas ketika Selvara masuk.
Begitu Selvara duduk, Vio menggeser sebuah kotak susu ke sisi mejanya. “Hari kedua program pencegahan investigasi tanpa nutrisi.”
Selvara menatap kotak itu. “Kamu serius mau terus begini?”
“Sampai aku yakin kamu nggak akan lupa makan gara-gara baca arsip.”
“Aku nggak pernah lupa makan.”
Vio memandangnya beberapa detik.
Selvara mengambil kotak susu tersebut. “Oke, makasih.”
“Lebih gampang begitu.”
Selvara baru memasukkan minuman ke dalam tas ketika Vio menurunkan suara. “Theo bilang dia mau tunjukin sesuatu sebelum kelas.”
“Dia juga bilang begitu semalam.”
“Katanya soal yearbook.”
Selvara melihat pintu.
Theo belum muncul.
Bel pertama tinggal beberapa menit ketika ia akhirnya datang bersama Lyara. Keduanya berhenti di luar kelas karena guru belum masuk, dan Selvara bersama Vio keluar menemui mereka.
Lyara membawa folder dokumentasi klub musik yang kemarin dijanjikannya. Theo membawa yearbook.
“Aku mulai dari yang sederhana,” kata Theo sambil membuka buku pada halaman dokumentasi festival. “Kemarin kita fokus ke orang di depan gedung timur.”
Selvara mengangguk.
Theo menunjuk bagian bawah foto kelompok besar. “Aku cek cetakan tahun sebelumnya dan sesudahnya. Fotografer sekolah selalu menaruh kode file di bawah foto besar.”
Ia menunjukkan tulisan kecil di dekat tepi halaman.
ASF-18-SPR-042.
Vio mendekat. “Terus?”
“ASF itu Asterveil School Festival. SPR kemungkinan spring. Empat puluh dua nomor file.”
Lyara menambahkan, “Masalahnya angka delapan belas.”
Selvara memahami arah mereka. “Festivalnya dua tahun lalu.”
Theo mengangguk. “Tapi kalau sistem penamaan ini konsisten, angka itu harusnya menunjukkan tahun pengambilan.”
Ia membuka yearbook tahun sebelumnya.
Kode foto menggunakan angka yang sesuai dengan tahun.
Begitu pula yearbook sesudahnya.
Selvara kembali melihat foto yang memuat sosok mirip dirinya.
“Berarti fotonya lebih tua dari festival?”
“Setidaknya file aslinya begitu,” jawab Theo. “Bisa saja editor yearbook pakai foto lama karena salah pilih, tapi itu berarti foto ini bukan bukti bahwa sosok itu berdiri di sana dua tahun lalu.”
Selvara merasa sedikit lega karena salah satu kemungkinan normal masih terbuka. “Bagus. Berarti kita cari sumber file ASF-18-SPR-042.”
Theo menutup buku. “Itu bagian berikutnya.”
Lyara membuka folder yang dibawanya. “Aku juga dapat foto asli klub musik.”
Ia mengeluarkan beberapa cetakan foto dari amplop transparan. Foto-foto tersebut tidak berasal dari media sosial, melainkan hasil cetak dokumentasi yang selama ini disimpan di lemari klub. Kualitasnya jauh lebih baik daripada gambar yang mereka lihat kemarin.
Mereka mencari foto sembilan siswa.
Tidak ada.
Foto dengan komposisi hampir sama memang ada, tetapi hanya memperlihatkan delapan orang berdiri di depan aula utama.
Vio mengambil ponsel dan membuka screenshot yang sudah mereka simpan kemarin. “Posenya sama.”
Selvara membandingkan keduanya.
Posisi siswa pertama sampai kedelapan hampir identik. Beberapa ekspresi bahkan sama. Namun latar belakangnya berbeda. Screenshot kemarin menunjukkan dinding kusam dan sebagian kode E-2, sementara foto cetak memperlihatkan dinding aula yang lebih terang.
Theo memandang keduanya. “Ini bukan dua foto yang diambil berurutan.”
Lyara mengangguk. “Kelihatannya satu gambar yang punya dua versi.”
Vio menunjuk siswa kesembilan di screenshot. “Dan versi ini punya tambahan orang.”
Selvara memeriksa cetakan asli lebih dekat. Tidak ada tanda manipulasi yang dapat dilihat dengan mata biasa. Foto itu hanya menunjukkan delapan anggota klub musik yang berpose setelah latihan.
“Jangan sebut yang mana asli dulu,” katanya. “Cetakan ini lebih lama disimpan, tapi bukan berarti otomatis lebih benar.”
Theo mengangguk sambil membuka buku catatan. “Versi cetak: delapan siswa, aula utama. Versi digital kemarin sebelum berubah: sembilan siswa, kemungkinan E-2.”
Lyara menambahkan, “Versi digital setelah berubah: delapan siswa.”
Vio mengusap sisi screenshot dengan ibu jarinya. “Aku mulai ngerti kenapa perempuan Avenoir nyuruh kita simpan banyak bentuk bukti.”
Selvara hendak menjawab ketika bel berbunyi.
Mereka sepakat melanjutkan setelah jam pelajaran pertama dan kembali ke kelas masing-masing.
Pagi itu berjalan cukup tenang. Selvara mengikuti pelajaran sambil sesekali memikirkan kode file yang ditemukan Theo. Kalau foto yearbook memang berasal dari tahun berbeda, kemunculan sosok yang menyerupainya mungkin tidak memiliki hubungan dengan festival dua tahun lalu. Masalahnya, usia foto yang lebih tua justru membuka pertanyaan lain. Semakin jauh tanggal sebenarnya mundur, semakin mustahil Selvara berada di sana.
Ia menahan pikirannya sebelum berkembang menjadi teori.
Mereka belum tahu siapa sosok itu.
Kemiripan wajah bukan identitas.
Setelah pelajaran pertama selesai, Selvara baru hendak berdiri ketika Adrian muncul di depan kelas.
“Kamu ada waktu?”
Vio melihat Selvara, kemudian Adrian.
Selvara keluar menemui Adrian di lorong. “Kenapa?”
Adrian menyerahkan satu lembar formulir kepadanya.
Formulir akses arsip.
Bagian tujuan sudah diisi: pemindahan dokumen fasilitas dan kegiatan siswa.
Nama Adrian tercantum sebagai salah satu anggota yang diberi izin.
Di bawahnya ada empat tempat kosong.
“Kata pembina, aku boleh pilih beberapa anggota untuk bantu. Kalau kamu memang mau cek dokumen gedung timur, sekalian saja.”
Selvara membaca bagian tanggal.
Hari ini.
“Katanya baru besok atau lusa.”
“Jadwal pemeriksa ruangannya maju. Pekerja datang sore ini, jadi rak yang dekat dinding harus dipindah sebelum makan siang.”
Selvara mengangkat wajah. “Sekarang?”
“Sekitar dua puluh menit lagi.”
Vio yang berdiri tidak jauh dari pintu kelas sudah mendengar cukup banyak untuk memahami situasinya. “Itu cepat.”
Adrian melihatnya. “Kalau kalian mau ikut, aku bisa masukin nama kalian. Tapi maksimal lima orang termasuk aku.”
Selvara menghitung tanpa perlu berpikir lama.
Dirinya.
Vio.
Theo.
Lyara.
Adrian.
Lima.
Tim sementara yang masuk ke arsip bawah kali ini akan berjumlah lima orang, dengan Adrian tetap berada pada posisi yang memang sudah terbentuk sejak kejadian sebelumnya: anggota sementara karena keadaan, bukan bagian dari enam anggota inti yang kelak akan lengkap bersama Cael.
Selvara mengambil pena dari sakunya dan menulis namanya.
“Masukkan Vio juga. Aku hubungi Theo sama Lyara.”
Adrian mengangguk. “Kumpul di ruang OSIS setelah kelas berikutnya.”
Selvara mengembalikan formulir.
Saat Adrian hendak pergi, Selvara memanggilnya lagi. “Adrian.”
Ia menoleh.
“Kalau nanti kita menemukan dokumen yang berhubungan dengan gedung timur, jangan bawa keluar dari ruang arsip.”
Adrian memandangnya sejenak. “Ada alasan?”
“Ada kemungkinan informasi di dokumen berubah setelah dipindahkan.”
Adrian masih terdiam sambil mencerna penjelasan itu. Pengalaman di gedung lama tampaknya cukup untuk membuat kalimat tersebut tidak terdengar mustahil baginya.
“Oke,” katanya kemudian. “Kalau ada yang relevan, kita baca dan dokumentasikan di tempat.”
“Dan jangan sendirian.”
Adrian mengangguk lebih serius. “Aku paham. Setelah yang kemarin, aku juga nggak tertarik jalan-jalan sendiri di bagian bawah sekolah.”
Ia pergi menuju ruang OSIS.
Vio segera mendekati Selvara. “Aku baru mau bilang hari ini kelihatannya normal.”
“Masih bisa normal.”
“Kita mau masuk arsip bawah yang mendadak jadwalnya maju.”
“Dengan izin resmi.”
Vio memikirkan itu sejenak. “Aneh ya, sekarang ‘dengan izin resmi’ cukup buat bikin situasi terasa aman.”
Selvara tersenyum tipis. “Nikmati selama masih bisa.”
Dua puluh lima menit kemudian, mereka berlima berdiri di depan pintu menuju ruang arsip bawah.
Aksesnya ternyata jauh lebih biasa daripada bayangan Theo. Tidak ada pintu baja tersembunyi atau lorong yang tidak tercantum di denah. Mereka hanya turun melalui tangga administrasi menuju lantai semi-basement, melewati ruang penyimpanan perlengkapan, lalu berhenti di depan pintu kayu besar dengan label ARSIP B.
Adrian membawa kunci dari staf administrasi.
“Sekadar mengingatkan,” katanya sambil memasukkan kunci, “kita sebenarnya ke sini buat mindahin dokumen dari rak belakang. Jadi kalau ada staf turun, setidaknya tolong kelihatan seperti orang yang bekerja.”
Theo memegang dua kotak kosong. “Aku selalu kelihatan profesional.”
Vio melihat kaus kaki Theo yang berbeda warna karena salah mengambil pagi tadi.
“Aku nggak akan komentar.”
Theo mengikuti pandangannya dan segera menurunkan celana sedikit untuk menutupi bagian kaus kaki. “Itu nggak relevan.”
Lyara tertawa kecil.
Selvara berdiri di belakang Adrian sambil melihat pintu. Ketegangan yang sempat muncul berkurang karena percakapan mereka, tetapi ia tetap mengingat pesan perempuan Avenoir.
Dokumen jangan dibawa keluar.
Adrian memutar kunci.
Pintu terbuka dengan sedikit gesekan pada lantai.
Lampu dinyalakan.
Ruang arsip itu jauh lebih besar daripada yang mereka perkirakan.
Rak logam memenuhi sebagian besar ruangan dan membentuk beberapa lorong sempit. Kotak-kotak arsip diberi label berdasarkan tahun, sedangkan lemari di sisi kiri menyimpan dokumen yang usianya jauh lebih tua. Tidak ada sesuatu yang menyerupai Section 3. Udara memang sedikit lembap dan aroma kertas lama cukup kuat, tetapi semuanya masih terlihat seperti ruang penyimpanan sekolah.
Theo masuk setelah Adrian. “Aku hampir kecewa.”
Vio menyusul. “Tolong jangan bilang begitu di tempat yang belum kita periksa.”
“Aku cuma bilang normal.”
“Kalimat itu biasanya jadi awal masalah.”
Selvara masuk bersama Lyara dan menunggu sampai Adrian menyalakan seluruh lampu.
Mereka mulai dari pekerjaan yang memang menjadi alasan resmi kedatangan. Rak belakang harus dikosongkan karena dinding di belakangnya menunjukkan bercak kelembapan. Kotak dari tiga rak terendah dipindahkan ke sisi tengah ruangan, satu demi satu, dengan label tetap menghadap keluar agar susunannya tidak berantakan.
Selvara membantu Adrian mengangkat kotak bertuliskan FASILITAS 2016–2018.
“Yang ini,” katanya.
Adrian meletakkannya di meja panjang. “Mau cek sekarang?”
“Setelah rak selesai.”
Theo yang membawa kotak lain menatap Selvara. “Kamu sekarang jadi orang paling disiplin di antara kita.”
“Karena aku nggak mau izin kita dicabut lima menit setelah masuk.”
“Masuk akal.”
Mereka menyelesaikan pemindahan sekitar lima belas menit kemudian. Adrian mengambil foto susunan baru sebagai laporan, lalu mengirimkannya kepada staf administrasi. Setelah pekerjaan resmi selesai, mereka kembali ke kotak fasilitas yang tadi ditemukan.
Selvara membukanya di atas meja.
Dokumen di dalamnya disusun berdasarkan tahun.
Mereka mencari 2018.
Beberapa laporan pertama hanya membahas perbaikan ruang kelas, penggantian sistem listrik, serta renovasi kecil di gedung utama. Theo membaca indeks, sedangkan Lyara mencatat nomor dokumen yang berkaitan dengan gedung timur.
Vio menemukan sesuatu lebih dulu.
“E-204.”
Ia menarik satu map tipis.
Selvara berdiri di sampingnya.
Label pada bagian depan berbunyi:
EAST WING ROOM 204 - STATUS REVIEW
Tanggalnya berasal dari awal 2018.
Theo mendekat dari sisi lain. “Buka.”
Vio menyerahkannya kepada Selvara.
Selvara membuka map.
Halaman pertama merupakan laporan pemeriksaan struktur. Beberapa bagian dinding mengalami kerusakan akibat kelembapan dan usia bangunan. Rekomendasi awalnya adalah membatasi penggunaan ruang sampai perbaikan selesai.
Halaman kedua mencatat penutupan sementara.
Halaman ketiga berisi evaluasi lanjutan.
Selvara membaca bagian akhirnya.
RUANG DAPAT DIGUNAKAN KEMBALI DENGAN PEMBATASAN KAPASITAS.
Lyara langsung membuka catatannya. “Tapi arsip atas bilang ditutup permanen empat tahun lalu.”
“Ini bilang dibuka lagi tahun 2018,” jawab Selvara.
Theo menunjuk tanggal. “Berarti latihan klub musik di E-204 mungkin memang pernah terjadi.”
Vio mengangguk. “Jadi arsip atas yang berubah atau nggak lengkap.”
“Belum tahu,” kata Selvara. “Cari dokumen setelah ini.”
Mereka membalik beberapa laporan berikutnya.
E-204 muncul berkali-kali.
Jadwal inspeksi.
Peminjaman ruang.
Permintaan penggantian lampu.
Bahkan ada daftar kegiatan siswa.
Klub musik tercantum di sana.
Lyara membaca nama pembimbingnya sendiri pada formulir lama. “Berarti beliau memang pernah pakai ruang itu.”
Theo melihatnya. “Tapi sekarang beliau yakin nggak pernah.”
Lyara mengangguk perlahan.
Selvara memeriksa daftar peserta.
Nomor satu sampai sembilan.
Kali ini tidak ada bagian kosong.
Nama peserta kedelapan tercetak jelas.
Erian Volst.
Mereka berlima terdiam cukup lama untuk membaca nama tersebut sendiri.
Adrian yang belum mengetahui cerita dari Avenoir melihat mereka bergantian. “Kalian kenal dia?”
Selvara menahan jawabannya sejenak sambil memastikan nama itu sama persis dengan yang mereka lihat sebelumnya. “Kami menemukan nama yang sama di catatan lain. Seseorang yang kemudian hilang dari beberapa arsip.”
“Dan sekarang dia ada di sini?”
Theo mengangguk. “Setidaknya versi dokumen ini bilang begitu.”
Selvara mengambil ponselnya, tetapi teringat peringatan perempuan Avenoir sebelum memotret.
Benda di tempat asal mungkin mempertahankan informasi lebih lama daripada salinannya.
Ia tetap mengambil gambar.
“Jangan cuma foto,” katanya. “Salin nama, nomor dokumen, tanggal, semuanya.”
Mereka mulai mencatat.
Adrian ikut menulis pada lembar kosong yang dibawanya.
Selvara membaca daftar peserta lebih jauh.
Erian tercatat mengikuti tiga sesi latihan.
Sama seperti jadwal klub yang ditemukan Lyara.
Pada pertemuan keempat, namanya hilang.
Bukan dicoret.
Daftarnya berubah dari sembilan peserta menjadi delapan, tetapi kali ini penomorannya ikut diperbaiki. Seolah sejak awal hanya ada delapan orang.
Theo membandingkan kedua halaman. “Ini yang kita cari. Perubahannya ada di dalam arsip yang sama.”
Lyara melihat tanggalnya. “Selisih empat hari.”
Vio menatap nama Erian pada dokumen pertama. “Apa yang terjadi selama empat hari itu?”
Selvara membalik halaman berikutnya.
Sebuah laporan insiden kecil terselip di antara jadwal.
LAPORAN AKSES TIDAK SAH - EAST WING
Tiga siswa ditemukan berada di area yang seharusnya sudah ditutup setelah jam kegiatan.
Tidak ada nama.
Hanya kode siswa.
Theo membaca waktu kejadian. “Jam delapan malam.”
Lyara menunjuk tanggal.
Hari setelah sesi latihan ketiga.
Selvara melanjutkan membaca. Petugas sekolah mendengar suara dari lantai dua dan menemukan pintu E-204 terbuka. Tiga siswa dibawa kembali ke gedung utama. Salah satunya dilaporkan mengalami disorientasi dan kesulitan mengingat alasan mereka berada di sana.
Adrian berdiri lebih dekat. “Ini mulai mirip kejadian kita.”
Selvara mengangguk.
Pada bagian bawah laporan terdapat catatan tambahan.
Satu individu tidak dapat diverifikasi melalui daftar siswa aktif.
Vio menatap Selvara. “Erian.”
“Belum tentu.”
Theo sudah memeriksa kode siswa pada daftar peserta.
Dua cocok dengan anggota klub musik.
Kode ketiga tidak ada.
Tidak ada kode untuk Erian.
Lyara menutup mulut sebentar dengan jemari sambil berpikir. “Kalau dia peserta klub tapi nggak punya kode siswa, bagaimana namanya bisa masuk daftar?”
Tidak seorang pun punya jawaban.
Selvara membalik halaman terakhir.
Sebuah foto kecil dijepit pada laporan.
Tiga siswa berdiri di depan E-204 bersama seorang staf.
Dua wajah dapat dikenali dari yearbook.
Orang ketiga berdiri sedikit di belakang.
Erian.
Kali ini wajahnya terlihat jelas.
Bukan sosok samar.
Bukan hasil screenshot yang pecah.
Seorang siswa laki-laki dengan rambut gelap, ekspresi lelah, dan seragam Asterveil.
Theo mengambil foto dokumen tersebut.
Adrian melihatnya dari samping. “Kalau dia pakai seragam, harusnya pernah terdaftar.”
Selvara memperhatikan Erian lebih lama.
Ada sesuatu di tangan kirinya.
Sebuah benda kecil berbentuk lingkaran.
Cincin.
Selvara refleks melihat tangannya sendiri.
Bentuknya berbeda.
Namun ukiran di permukaan logam memiliki struktur yang terasa familiar, seolah dibuat berdasarkan prinsip simbol yang sama.
Vio menyadarinya. “Sel?”
Selvara menunjuk tangan Erian pada foto. “Lihat.”
Mereka mendekat.
Theo memperbesar hasil foto di ponselnya.
Gambar digital kehilangan sebagian detail, tetapi simbol pada cincin masih terlihat.
Lyara menatap cincin Selvara, kemudian foto.
“Mirip.”
“Bukan sama,” ujar Selvara. “Cuma cara ukirannya.”
Adrian membuka halaman setelah foto.
Kosong.
Ia hendak menutup map ketika Theo melihat sesuatu pada sisi dalam sampul belakang.
“Tunggu.”
Ada kantong tipis yang hampir menyatu dengan map.
Di dalamnya tersimpan selembar kertas kecil.
Adrian mengeluarkannya dengan hati-hati dan meletakkannya di meja.
Bukan laporan resmi.
Tulisan tangan memenuhi hampir seluruh halaman.
Bagian atas hanya memiliki tanggal.
18 April 2018.
Selvara membaca paragraf pertama.
Catatan tersebut dibuat oleh seseorang yang hanya menulis inisial R.A. Ia menyebut seorang siswa yang terus muncul dalam daftar kegiatan meski administrasi tidak menemukan data pendaftarannya. Setiap kali nama siswa itu dihapus, beberapa hari kemudian nama tersebut muncul kembali pada dokumen berbeda.
Erian.
Theo membaca bagian berikutnya lebih cepat.
“Ini bilang beberapa guru ingat dia.”
Lyara melanjutkan dari baris setelahnya. “Tapi jumlahnya berkurang.”
Vio berdiri semakin dekat.
Selvara membaca bagian akhir catatan.
Penulisnya mulai menyimpan dokumentasi secara fisik setelah file digital berubah. Beberapa foto cetak bertahan lebih lama. Dokumen yang tetap disimpan di gedung timur juga mempertahankan informasi lebih konsisten.
Perempuan Avenoir benar.
Selvara melanjutkan ke paragraf terakhir.
Tulisan di sana lebih berantakan daripada bagian sebelumnya.
Jika seseorang menemukan catatan ini, jangan mencoba mengembalikan Erian dengan memaksa orang lain mengingatnya. Kami sudah mencoba. Hasilnya hanya membuat sesuatu yang lain mulai menggunakan ingatan tersebut.
Selvara merasakan tengkuknya menegang.
Theo membaca kalimat itu sekali lagi.
Adrian memandang mereka. “Sesuatu yang lain?”
Vio teringat lebih dahulu pada wajah Selvara di rekaman festival. “Kalau orang-orang mulai lupa Erian, terus mereka dipaksa ingat lagi…”
Lyara menyelesaikan pikirannya dengan lebih hati-hati. “Ingatan yang kembali belum tentu menunjuk orang yang sama.”
Selvara menatap foto Erian.
Lalu foto festival di ponselnya.
Sosok yang memakai wajahnya.
Ia mulai memahami kenapa perempuan Avenoir memperingatkan mereka agar tidak menyebut nama Erian kepada pembimbing klub musik.
Bukan karena mengingat seseorang selalu berbahaya.
Melainkan karena mereka belum tahu apa yang mengisi ruang ketika ingatan seseorang sudah berubah.
Adrian membuka bagian bawah catatan.
“Ada tulisan lagi.”
Satu kalimat kecil berada dekat tepi kertas, hampir tertutup lipatan.
Selvara membacanya.
Jangan biarkan mereka mencapai enam.
Theo melihat Selvara.
Vio berhenti bergerak.
Lyara menatap kalimat tersebut cukup lama.
Adrian belum memahami kenapa tiga orang lainnya bereaksi lebih kuat, tetapi Selvara langsung teringat tulisan pada foto Cael.
...sixth arrives...
Dua sumber berbeda.
Dua waktu berbeda.
Keduanya menyebut enam.
Selvara menahan dorongan untuk menghubungkan semuanya. Mereka belum tahu apa arti angka itu, siapa yang dihitung, atau apakah kedua pesan tersebut bahkan membicarakan hal yang sama.
Ia mengambil buku catatan.
“Catat persis. Jangan interpretasi.”
Theo mengangguk.
Mereka menyalin kalimat tersebut.
Ketika Selvara selesai, suara logam bergeser terdengar dari salah satu lorong rak di belakang mereka.
Kelima orang itu menoleh.
Adrian berdiri paling dekat dengan lorong. “Ada staf lain?”
“Harusnya nggak,” jawab Theo.
Mereka menunggu.
Tidak ada suara berikutnya.
Selvara menutup map E-204 dan meninggalkannya di atas meja. “Kita tetap bareng.”
Adrian mengambil ponselnya dan menyalakan senter meski lampu ruangan masih terang. Mereka berjalan menuju lorong tempat suara tadi berasal tanpa memisahkan diri.
Rak pertama kosong dari aktivitas.
Rak kedua juga.
Ketika mencapai lorong ketiga, Vio menunjuk lantai.
Sebuah kotak arsip tergeletak di sana.
Tutupnya terbuka.
Label pada sisinya menghadap mereka.
DATA SISWA 2018.
Theo melihat rak di atasnya. Ada ruang kosong yang ukurannya sesuai dengan kotak tersebut.
“Mungkin jatuh.”
Adrian melihat posisi kotak. “Kalau jatuh dari atas, harusnya isinya berantakan.”
Semua berkas di dalamnya masih tersusun rapi.
Selvara mendekat tanpa menyentuh.
Satu folder berada paling atas.
Tidak memiliki nama.
Hanya nomor.
06.
Vio memandang Selvara. “Enam lagi.”
Selvara berjongkok di depan kotak.
“Jangan anggap berhubungan dulu.”
Ia membuka folder tanpa mengangkatnya dari tempat.
Halaman pertama kosong.
Halaman kedua juga.
Baru pada halaman ketiga terdapat daftar nama.
Lima nama tercetak.
Selvara mengenali semuanya.
Selvara Anthiersa.
Vio.
Theo.
Lyara.
Adrian.
Tidak ada nama keluarga untuk tiga di antaranya.
Tidak ada nomor siswa.
Tidak ada kelas.
Hanya nama mereka.
Theo berdiri di belakang Selvara dengan wajah yang kehilangan sisa candanya. “Dokumen ini dari 2018?”
Selvara melihat label kotak sekali lagi.
Data siswa 2018.
Saat itu sebagian dari mereka bahkan belum berada di sekolah ini.
Adrian berjongkok di sisi lain. “Kenapa nama kita ada di sini?”
Selvara masih terdiam sambil membaca kelima nama tersebut sekali lagi. Ia memastikan ejaan namanya, urutan, serta ruang kosong yang berada tepat di bawah Adrian.
Ada baris keenam.
Kosong.
Lyara menunjuk bagian paling bawah halaman. “Ada tanggal.”
Selvara melihatnya.
Tulisan tersebut bukan hasil cetakan lama.
Tintanya terlihat jauh lebih baru.
14 Agustus 2030.
Tanggal yang sama dengan tulisan pada foto Cael.
Hari ini.
Vio memeriksa jam di ponselnya. “Ini tanggal sekarang.”
Selvara menatap baris keenam yang kosong.
Sebelum seorang pun sempat mengatakan sesuatu, tinta mulai muncul pada kertas.
Bukan sekaligus. Garis hitam tipis terbentuk perlahan dari kiri ke kanan, menyerupai tulisan yang sedang dibuat oleh pena yang tidak terlihat.
Theo mundur setengah langkah.
Adrian menahan napas.
Lyara tetap memperhatikan halaman sambil menggenggam ponselnya.
Selvara tidak menyentuh kertas itu.
Huruf pertama C.
Disusul huruf berikutnya A.
Kemudian E.
Vio berbisik, kali ini suaranya cukup jelas untuk didengar semuanya. “Cael.”
Nama itu belum selesai ketika lampu ruang arsip berkedip.