Chapter 1 - Episode 21
Keesokan paginya, poster lama di dekat gedung olahraga sudah tidak menarik perhatian siapa pun. Beberapa siswa melewatinya sambil membicarakan tugas, latihan klub, dan persiapan kegiatan akhir bulan, sementara dua anggota OSIS menempelkan pengumuman baru pada papan di sebelahnya. Selvara sempat memperlambat langkah ketika melewati tempat itu bersama Vio. Nama sponsor yang tercetak di bagian bawah sekarang berbunyi Asterveil Community Sports Program. Tidak ada bekas tempelan baru, warna kertasnya sama, dan bagian tepi poster masih memiliki lipatan kecil yang kemarin ia lihat ketika memotretnya. Kalau bukan karena foto di ponselnya masih menunjukkan tulisan ARCHON ATHLETICS FOUNDATION, Selvara mungkin akan menganggap dirinya hanya salah membaca. Vio ikut berhenti dan membandingkan poster dengan layar ponsel Selvara. “Kemarin yang kita lihat memang Archon. Aku masih ingat logonya ada di bagian bawah.”
Selvara memperbesar foto lama. “Di fotoku juga masih ada.”
Vio mengeluarkan ponselnya sendiri. Foto yang ia ambil dari sudut berbeda menunjukkan hasil yang sama. Logo berbentuk lingkaran masih berada di sana bersama nama Archon Athletics Foundation. “Berarti setidaknya salinan kita belum berubah.”
“Untuk sekarang,” jawab Selvara sambil menyimpan ponselnya. Mereka tidak membahasnya lebih jauh di depan papan. Selvara juga tidak mencoba bertanya kepada siswa yang lewat tentang sponsor apa yang mereka lihat. Setelah apa yang terjadi pada foto klub musik, folder 06, dan dokumentasi lama, ia mulai memahami bahwa pertanyaan yang terlalu diarahkan justru bisa merusak nilai sebuah kesaksian. Jika mereka ingin mengetahui apa yang dianggap normal oleh orang lain, lebih baik membiarkan orang tersebut menjelaskan berdasarkan ingatannya sendiri.
Rikuya sudah berada di kelas ketika Selvara dan Vio sampai. Ia sedang menyelesaikan catatan pelajaran sambil mendengarkan percakapan beberapa siswa di belakangnya. Begitu melihat Selvara, ia menutup bukunya dan menggeser ponsel ke tepi meja.
“Aku lewat poster tadi,” ujar Rikuya. “Namanya berubah.”
Vio meletakkan tas di kursinya. “Kamu masih ingat yang kemarin?”
Rikuya mengangguk. “Archon Athletics Foundation. Aku juga masih ingat percakapanku sama Coach. Katanya mereka pernah bantu klub basket dan beberapa kegiatan olahraga.”
Selvara duduk di kursi depan mereka. “Kamu sudah bicara lagi sama Coach pagi ini?”
“Belum. Aku sengaja nggak tanya.”
Selvara mengangguk kecil. “Bagus. Nanti kalau ada kesempatan, tanya soal sponsor kegiatan tiga tahun lalu tanpa menyebut Archon.”
Rikuya memahami maksudnya. “Biar dia yang menyebut nama lebih dulu.”
“Kalau dia masih ingat.”
Percakapan berhenti ketika guru masuk. Selama dua jam berikutnya, poster di gedung olahraga tidak muncul lagi dalam pembicaraan mereka. Selvara mengikuti pelajaran, mengerjakan latihan yang diberikan, lalu membantu teman di sebelahnya memperbaiki bagian presentasi yang belum selesai. Hari sekolah berjalan dengan ritme yang terlalu biasa untuk sesuatu yang semalam membuat mereka membandingkan tiga versi dokumentasi berbeda, Saat istirahat pertama, Theo mengirim pesan singkat meminta mereka datang ke perpustakaan.
Selvara dan Vio menemukan Theo sudah menunggu di meja dekat rak referensi bersama Lyara. Laptop Theo terbuka, tetapi kali ini tidak ada puluhan tab pencarian memenuhi layar. Hanya tiga dokumen yang disusun berdampingan.
Rikuya datang beberapa menit kemudian sambil membawa dua botol minuman dari kantin. Ia menyerahkan salah satunya kepada Theo sebelum duduk. “Kalau ini berubah jadi rapat dua jam, setidaknya aku nggak mau ada yang dehidrasi.”
Theo menerima botol itu. “Aku tersentuh.”
Rikuya sambil menatap Theo “Minum saja.”
Lyara menahan senyum sambil menggeser kursinya agar Rikuya mendapat ruang. Selvara duduk di seberang Theo, sedangkan Vio memilih kursi di sampingnya.
Theo memutar laptop. “Aku berhenti cari Archon.”
Vio melihat tiga dokumen di layar. “Bagus. Terus itu apa?”
“Aku kembali ke hal yang memang kita punya.” Theo menunjuk dokumen pertama. “E-204.”
Selvara langsung memahami arah pencariannya.
Theo membuka salinan digital denah fasilitas sekolah. “Kemarin kita menemukan laporan tahun 2018 yang bilang ruang E-204 sempat ditutup karena kelembapan, kemudian dibuka lagi dengan pembatasan kapasitas. Klub musik juga tercatat pernah menggunakannya.”
Lyara mengambil alih penjelasan sambil membuka foto catatannya. “Tapi dokumen yang selama ini tersedia di bagian atas mengatakan gedung timur sudah tidak digunakan jauh sebelum itu.”
Rikuya membaca kedua tanggal tersebut. “Selisihnya berapa?”
“Hampir dua tahun,” jawab Lyara. “Kalau dokumen atas benar, E-204 seharusnya sudah tidak dipakai ketika jadwal latihan klub musik dibuat.”
Theo menggeser ke dokumen ketiga. “Makanya aku cari laporan fasilitas kota. Bangunan sekolah yang direnovasi besar biasanya punya jejak izin, inspeksi, atau setidaknya laporan keselamatan.”
Selvara membaca hasil yang ditampilkan.
Gedung utama Asterveil tercatat.
Aula tercatat.
Gedung olahraga tercatat.
Renovasi perpustakaan tercatat sampai pada perubahan jalur listrik dan pintu darurat.
Gedung timur hanya memiliki satu entri.
EAST WING STRUCTURAL REVIEW
Tahun yang tercantum adalah 2020.
Vio mengernyit. “Tapi laporan yang kita pegang dari sekolah tahun 2018.”
Theo mengangguk. “Dan menurut arsip kota, pemeriksaan struktur pertama gedung timur baru dilakukan dua tahun setelah itu.”
Rikuya membaca kolom status. “Bisa jadi inspeksi internal sekolah.”
“Itu kemungkinan pertama,” jawab Theo. “Sekolah bisa melakukan pemeriksaan sendiri sebelum memanggil pihak kota.”
Selvara memperhatikan nomor dokumen. “Ada laporan sebelum 2020?”
“Tidak ada yang bisa kutemukan.”
Lyara menyandarkan lengannya di meja. “Mungkin belum didigitalisasi.”
“Bisa juga.” Theo menutup salah satu jendela. “Makanya aku nggak mau berhenti di internet.”
Selvara menatapnya. “Kamu mau cek arsip fisik lagi.”
Theo tersenyum kecil. “Dengan izin.”
Vio memandang Selvara. “Dia belajar.”
“Sedikit,” balas Selvara.
Theo membuka halaman katalog perpustakaan. “Kita nggak perlu turun ke ruang arsip bawah. Perpustakaan punya koleksi laporan tahunan sekolah. Yang kita butuhkan cuma laporan fasilitas sekitar 2017 sampai 2020.”
Lyara sudah berdiri. “Itu ada di rak referensi belakang.”
Mereka berpindah ke bagian perpustakaan yang lebih sepi. Rak laporan tahunan berada dekat koleksi yearbook, tersusun berdasarkan tahun dan kategori. Tidak semuanya memiliki format yang sama. Beberapa tahun menggunakan jilid tebal dengan sampul sekolah, sedangkan tahun yang lebih baru disimpan dalam binder.
Selvara menemukan laporan 2018 lebih dulu.
Ia membawanya ke meja panjang tanpa membuka halaman di antara rak. Theo mengambil laporan 2017, Lyara membawa 2019, sedangkan Rikuya menemukan 2020 di bagian paling bawah. Vio mengambil indeks fasilitas yang disimpan terpisah.
Mereka membagi pencarian tanpa banyak bicara.
Laporan 2017 tidak mencatat renovasi gedung timur.
Laporan 2018 mencatat perbaikan saluran air di sisi timur kampus, tetapi tidak menyebut E-204.
Laporan 2019 menyebut pembatasan akses menuju bangunan lama karena evaluasi keselamatan.
Laporan 2020 akhirnya mencatat pemeriksaan struktur East Wing oleh pihak kota.
Selvara membaca bagian 2018 sekali lagi. “Kalau E-204 diperiksa, ditutup, kemudian dibuka lagi pada tahun ini, kenapa nggak masuk laporan tahunan?”
Theo tetap membaca indeks. “Mungkin terlalu kecil untuk dimasukkan.”
Vio membuka laporan pada bagian pemeliharaan. “Penggantian empat lampu di aula masuk.”
Theo berhenti membalik halaman.
Vio menunjuk entri tersebut. “Empat lampu.”
Rikuya mendekat untuk melihat. “Berarti mereka cukup detail.”
Selvara tidak segera menyimpulkan apa pun. Ia kembali membuka foto laporan EAST WING ROOM 204 - STATUS REVIEW yang mereka dokumentasikan di ruang arsip bawah. Nomor dokumennya masih terlihat jelas.
FAC-E204-18-041.
Selvara menyalinnya ke kertas.
“Theo, cek format nomor dokumen.”
Theo mengambil laporan tahunan 2018 dan mencari beberapa formulir fasilitas yang dicetak sebagai lampiran. Nomor dokumen lain mengikuti pola serupa.
FAC-AUD-18-037.
FAC-LIB-18-038.
FAC-WTR-18-040.
Lalu:
FAC-GYM-18-042.
Tidak ada nomor 041.
Lyara menyadarinya hampir bersamaan. “Nomornya lompat.”
Theo membuka daftar dokumen pada halaman indeks.
37. 38. 39. 40. 41. 42. Nomor 041 tidak tercantum.
Vio menatap foto di ponsel Selvara. “Tapi laporan E-204 pakai 041.”
Rikuya menarik kursi dan duduk lebih dekat. “Berarti dokumennya pernah ada, tapi nggak masuk indeks?”
“Atau nomor itu dipakai dokumen yang kemudian dicabut,” jawab Theo. “Administrasi bisa punya nomor batal.”
Selvara mengangguk. “Kita cari 039 dulu.”
Theo menemukan nomor tersebut beberapa halaman kemudian. Laporan perbaikan sistem ventilasi gedung utama. Semuanya berurutan kecuali satu nomor yang hilang.
Selvara menulisnya dalam catatan.
FAC-E204-18-041 ada secara fisik di arsip bawah. Nomor 041 tidak tercantum dalam indeks laporan tahunan 2018.
Tidak ada kesimpulan lain.
Mereka melanjutkan pencarian.
Lyara menemukan sesuatu sekitar sepuluh menit kemudian. Ia masih membuka lampiran kegiatan siswa ketika jarinya berhenti pada satu halaman.
“Selvara, lihat ini.”
Selvara berpindah ke sisinya.
Halaman itu berisi daftar peminjaman ruang untuk kegiatan ekstrakurikuler sepanjang semester. Klub musik tercantum beberapa kali, tetapi seluruh kegiatannya berlangsung di ruang musik dan aula kecil.
Tidak ada E-204.
Lyara membuka foto jadwal yang ditemukan di ruang arsip bawah. “Tanggal latihan ketiga.”
Selvara membandingkannya.
Keduanya menunjukkan tanggal yang sama.
Pada dokumen dari ruang arsip bawah:
MUSIC CLUB - E-204 - 16:30
Pada laporan tahunan perpustakaan:
MUSIC CLUB - MUSIC ROOM 1 - 16:30
Nama pembimbing sama.
Waktu sama.
Tanggal sama.
Jumlah peserta juga sama.
Sembilan.
Theo berdiri dan mendekat setelah melihat mereka berhenti. “Apa?”
Selvara memutar kedua sumber ke arahnya. “Kegiatan yang sama. Ruang berbeda.”
Theo membaca beberapa kali sebelum menarik kursi. “Ini bisa perubahan lokasi.”
“Kalau dipindah sebelum kegiatan berlangsung, iya,” jawab Lyara. “Satu dokumen bisa mencatat booking awal, satu lagi lokasi final.”
Rikuya mengambil foto kedua halaman. “Ada cara tahu yang mana dibuat lebih dulu?”
Theo memeriksa kolom pengesahan. Dokumen perpustakaan mencantumkan tanggal rekap akhir bulan, sementara formulir dari arsip bawah ditandatangani beberapa hari sebelum kegiatan.
“Kalau tanggalnya benar,” ujar Theo sambil menunjuk masing-masing dokumen, “E-204 adalah rencana awal. Music Room 1 bisa jadi lokasi akhirnya.”
Vio mengangguk. “Masih masuk akal.”
Selvara menyimpan kedua foto. “Kita jangan paksa jadi kontradiksi kalau masih ada penjelasan normal.”
Mereka melanjutkan.
Justru setelah hampir setengah jam mencari, keadaan menjadi semakin biasa. Sebagian besar perbedaan ternyata dapat dijelaskan oleh revisi jadwal, dokumen sementara, atau cara pencatatan yang berbeda. Selvara mulai merasa bahwa keinginan menemukan pola bisa dengan mudah membuat mereka melihat misteri di tempat yang sebenarnya hanya berisi kekacauan administrasi.
Bel masuk berbunyi sebelum mereka selesai.
Theo menutup laporan 2017. “Nanti lanjut?”
Selvara mengembalikan beberapa kertas ke posisi semula. “Setelah kelas. Jangan bawa apa pun.”
Rikuya berdiri sambil mengambil tas. “Aku ada latihan sore.”
“Kamu nggak perlu batal,” ujar Selvara. “Kalau kami menemukan sesuatu, kami kabari.”
Rikuya memasukkan botol minumnya ke sisi tas. “Kabarin sebelum kalian memutuskan masuk basement lagi.”
Vio tersenyum sambil berdiri. “Itu khusus Theo.”
Theo mengambil laptopnya. “Kenapa reputasiku selalu jadi korban?”
Lyara menutup binder 2019. “Karena kamu membangunnya sendiri.”
Mereka meninggalkan perpustakaan sambil membawa catatan masing-masing, sedangkan seluruh laporan fisik tetap berada di meja pengembalian sesuai aturan perpustakaan.
Sisa pagi berjalan dengan pelajaran dan persiapan kegiatan sekolah. Selvara kembali diminta membantu OSIS saat jam makan siang, kali ini karena daftar ruangan untuk acara akhir bulan belum selesai. Adrian berada di ruang organisasi bersama tiga anggota lain ketika Selvara masuk. Ia sedang memeriksa formulir peminjaman aula dan langsung menggeser satu kursi kosong ke sisi meja tanpa perlu memanggilnya.
Selvara meletakkan tas di kursi itu. “Masalahnya di mana?”
Adrian menunjukkan dua lembar jadwal. “Ruang diskusi dua dipakai dua divisi pada jam yang sama. Yang satu bilang sudah booking minggu lalu, yang satu punya tanda tangan koordinator.”
Selvara membaca kedua formulir, kemudian memeriksa tanggal pengajuan. “Yang ini lebih dulu, tapi belum disetujui administrasi. Yang satu lagi masuk belakangan dan sudah disetujui. Jangan putuskan dari tanggal formulir saja. Tanya administrasi apakah pengajuan pertama pernah dikembalikan untuk revisi.”
Anggota OSIS di seberangnya segera membuka catatan digital. “Ada revisi dua hari lalu. Mereka belum kirim ulang.”
“Berarti slotnya belum terkunci.” Selvara mengembalikan formulir. “Kasih mereka pilihan ruangan lain sebelum jadwal diumumkan.”
Adrian mengambil kedua kertas itu. “Selesai.”
“Belum. Orangnya belum setuju.”
Adrian tertawa kecil. “Baik, mantan ketua.”
Selvara menatapnya.
Adrian segera mengangkat formulir sebagai tameng. “Aku tarik kata-kataku.”
Seorang anggota di samping mereka menahan tawa sambil kembali bekerja. Selvara sendiri hanya menggeleng dan membuka dokumen berikutnya. Ia tinggal hampir empat puluh menit di ruang OSIS, membantu beberapa persoalan kecil yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan gedung timur. Ketika akhirnya selesai, Adrian ikut keluar karena harus mengantar formulir ke administrasi.
Mereka berjalan beriringan sampai persimpangan koridor.
“Ruang arsip bawah masih ditutup,” ujar Adrian sambil memeriksa map di tangannya. “Pekerja belum selesai.”
“Bagus. Kami nggak butuh masuk hari ini.”
Adrian melirik Selvara. “Kalian menemukan sesuatu?”
“Dokumen E-204 nggak muncul di indeks laporan tahunan. Nomor dokumennya juga hilang dari urutan.”
Adrian memperlambat langkah. “Hilang bagaimana?”
“040 langsung ke 042.”
Adrian memikirkan penjelasan itu sambil berjalan. “Nomor dokumen batal kadang memang nggak masuk rekap.”
“Theo juga bilang begitu.”
“Kalau mau cek, administrasi punya buku registrasi dokumen lama. Sistemnya dulu masih manual.”
Selvara menoleh. “Tahun 2018?”
“Harusnya masih.”
Mereka sudah hampir mencapai pintu administrasi.
Adrian mengangkat mapnya. “Aku memang mau ke sana. Mau sekalian tanya?”
Selvara mempertimbangkannya sebentar. “Tanya soal nomor 041 saja. Jangan sebut E-204 dulu.”
Adrian mengangguk. “Oke.”
Selvara menunggu di luar sementara Adrian masuk. Dari koridor ia bisa melihat beberapa staf bekerja di meja masing-masing. Tidak ada percakapan tergesa atau suasana mencurigakan. Adrian berbicara dengan salah satu staf, menunjukkan nomor yang Selvara tulis di kertas kecil, lalu staf tersebut berjalan menuju lemari belakang.
Lima menit kemudian Adrian keluar membawa secarik catatan.
“Ada.”
Selvara menerima kertas itu.
FAC-18-041
Tanggal registrasi sesuai dengan laporan E-204.
Namun kolom deskripsi hanya berisi:
INTERNAL FACILITY REVIEW
Tidak ada nama ruangan.
Tidak ada gedung.
Tidak ada keterangan East Wing.
Selvara mengangkat pandangan. “Itu saja?”
Adrian mengangguk. “Stafnya bilang beberapa laporan internal memang cuma dicatat umum. Dokumen detailnya disimpan divisi fasilitas.”
“Berarti masih cocok.”
“Kurang lebih.”
Selvara mengembalikan kertas itu kepada Adrian. “Makasih.”
Adrian memasukkannya ke map. “Aku mulai ngerti kenapa kalian sering kelihatan kecewa waktu sesuatu ternyata normal.”
Selvara tersenyum tipis. “Aku justru lebih suka kalau normal.”
Adrian menatapnya beberapa saat sebelum ikut tersenyum. “Jawaban yang masuk akal.”
Mereka berpisah di depan tangga.
Sore itu Selvara kembali ke perpustakaan bersama Theo, Vio, dan Lyara. Rikuya sudah memberi tahu melalui grup bahwa latihan basketnya berlangsung sampai menjelang petang. Tidak ada alasan untuk menunggunya hanya demi membaca laporan lama, sehingga mereka melanjutkan pencarian dan berjanji mengirim hasilnya nanti.
Theo sudah membuat daftar sederhana berdasarkan apa yang mereka ketahui. Ia sengaja tidak memasukkan teori, hanya nomor dokumen, tanggal, lokasi, dan sumber.
Mereka mulai mencari tahun 2018 sekali lagi.
Kali ini Lyara menemukan lampiran yang tadi terlewat.
Bukan laporan fasilitas.
Sebuah foto kegiatan sekolah.
Beberapa siswa berdiri di halaman sisi timur sambil membawa peralatan musik. Gedung timur terlihat jelas di belakang mereka. Tidak ada Mist, tidak ada gangguan gambar, dan tidak ada sosok asing. Hanya dokumentasi kegiatan sekolah yang sangat biasa.
Tanggal cetaknya berada dua hari setelah latihan ketiga klub musik.
Vio mendekat. “Berarti mereka memang pernah ada di sana.”
Lyara mengangguk sambil memperhatikan foto. “Setidaknya di halaman gedung timur.”
Theo membaca caption di bawahnya.
Persiapan pertunjukan musik musim semi, halaman timur Akademi Asterveil.
Selvara membandingkan foto tersebut dengan laporan peminjaman ruang. Caption tidak mengatakan mereka menggunakan E-204. Mereka bisa saja hanya mengambil foto di luar gedung.
Theo membuka halaman berikutnya.
Foto lain memperlihatkan siswa membawa keyboard melewati pintu.
Kali ini bagian dalam gedung terlihat.
Lyara mengenali dua anggota klub dari foto lama. “Itu mereka.”
Vio menunjuk pintu di belakang salah satu siswa. “Nomor ruangnya kelihatan?”
Theo memperbesar foto menggunakan kamera ponsel tanpa menyentuh halaman.
Sebagian papan nomor tertutup bahu siswa.
Hanya satu angka yang terlihat, Nomor 2.
Selvara menahan diri untuk tidak melengkapinya menjadi 204, Bisa saja Nomor 201, 202, 203 Atau bisa saja ruangan lain.
Ia menulis deskripsi foto sebagaimana adanya.
Lyara membuka halaman berikutnya.
Kosong.
Bukan karena halaman itu memang dirancang kosong. Bekas lem pada empat sudut menunjukkan pernah ada sesuatu yang ditempel di sana. Caption masih tercetak di bagian bawah.
Dokumentasi latihan akhir, 18 April 2018.
Tanggal yang sama dengan catatan R.A. yang mereka temukan tersembunyi di map E-204.
Theo membaca caption dua kali. “Fotonya dilepas.”, Vio memeriksa jilid. “Bisa aja jatuh.”
Lyara menunjuk bekas lem yang masih menahan sedikit serat kertas foto. “Atau dicabut.”
Selvara tidak menyentuh bagian itu. “Kita cek salinan digital yearbook.”
Theo membuka laptop dan mencari edisi digital yang tersedia melalui jaringan perpustakaan.
Halaman yang sama muncul.
Foto ada di sana.
Mereka semua mendekat.
Gambar memperlihatkan sembilan siswa berdiri di dalam sebuah ruangan. Delapan anggota klub musik yang sudah mereka kenali berada di depan. Erian berdiri paling belakang, sedikit terpisah dari kelompok.
Di dinding sebelah kanan terlihat papan ruangan.
E-204.
Tidak ada seorang pun berbicara selama beberapa detik.
Selvara mengambil foto halaman fisik yang kosong, lalu screenshot versi digital.
“Ini baru menarik,” ujar Theo sambil tetap memperhatikan layar. “Versi fisiknya kehilangan foto, versi digital masih punya.”
Lyara memeriksa metadata dokumen digital. “File ini dibuat dari scan yearbook lama. Bisa saja foto fisik pada salinan perpustakaan dicabut setelah proses scan.”
Vio mengangguk. “Masih ada penjelasannya.”
“Benar,” jawab Selvara.
Theo memperbesar bagian Erian. “Tapi setidaknya sekarang kita punya bukti bahwa foto sembilan orang itu pernah masuk publikasi sekolah.”
Selvara melihat wajah Erian.
Berbeda dengan screenshot lama yang sempat berubah, foto ini cukup jelas. Erian mengenakan seragam yang sama dengan siswa lain. Tidak ada sesuatu yang aneh pada ekspresinya. Ia hanya terlihat seperti seseorang yang kebetulan berdiri sedikit jauh dari kelompok.
Lyara memeriksa daftar nama pada halaman berikutnya.
Delapan nama.
Erian tidak tercantum.
Theo menggeser layar kembali ke foto. “Sembilan orang, delapan nama.”
Vio membaca caption. “Mungkin dia bukan anggota klub.”
“Bisa,” jawab Lyara.
Selvara kembali pada halaman kosong di buku fisik. Bekas lem di sana menunjukkan ukuran foto yang sama dengan versi digital. Ia hampir menutup buku ketika melihat sesuatu di dekat lipatan tengah.
Ada tulisan pensil kecil.
Begitu tipis sampai mudah dianggap noda.
See original archive.
Theo membacanya dari samping. “Siapa yang nulis?”
“Entah.”
Selvara mengambil foto tulisan tersebut.
Lyara memeriksa halaman lain untuk mencari catatan serupa. Tidak ada.
Vio menunjuk bagian bawah tulisan. “Ada inisial.”
Selvara mendekat.
Dua huruf.
R.A.
Mereka mengenali inisial itu.
Penulis catatan tersembunyi di map E-204 menggunakan inisial yang sama.
Theo duduk lebih tegak. “Berarti orang yang menulis peringatan soal Erian pernah pegang yearbook ini.”
“Kalau inisialnya memang orang yang sama,” Selvara mengingatkan.
Theo mengangguk dan langsung memperbaiki catatannya. “Kemungkinan orang yang sama.”
Lyara masih memeriksa bekas foto. “Original archive maksudnya ruang arsip bawah?”
“Bisa juga arsip klub, administrasi, atau penyimpanan foto asli,” jawab Selvara. “Jangan tentukan dulu.”
Vio bersandar pada kursinya. “Berarti kita punya jalan berikutnya.”
Selvara menutup yearbook perlahan. “Besok. Kita sudah cukup lama di sini.”
Theo melihat jam dan tampak terkejut ketika menyadari hampir satu jam berlalu. “Oke, itu fair.”
Mereka mengembalikan seluruh buku kepada petugas perpustakaan. Tidak ada halaman yang dibawa, tidak ada catatan yang dipindahkan, dan foto yang hilang tetap dibiarkan sebagaimana mereka menemukannya.
Saat keluar dari perpustakaan, Lyara berjalan di samping Selvara sambil membuka pesan dari grup klub musik. Percakapan mereka sempat bergeser ke jadwal latihan besok dan masalah salah satu anggota yang belum mengirim rekaman vokal.
“Aku mungkin telat kumpul besok,” ujar Lyara sambil mengetik balasan. “Kami ada latihan tambahan.”
Selvara memasukkan ponselnya ke tas. “Selesaikan latihanmu dulu. Kita nggak perlu selalu bareng setiap kali ada dokumen baru.”
Lyara tersenyum kecil. “Aku suka aturan itu.”
Theo yang berjalan di depan mereka menoleh. “Aku juga punya hidup, by the way.”
Vio mempercepat langkah hingga sejajar dengannya. “Kamu kemarin menghabiskan hampir dua jam baca cache website sekolah.”
Theo tertawa dan kembali berjalan.
Mereka berpisah di dekat tangga. Vio menuju kelas untuk mengambil barang yang tertinggal, Theo pergi ke ruang komputer, sedangkan Lyara kembali ke ruang musik. Selvara berniat langsung pulang setelah mengambil tas dari ruang OSIS.
Adrian masih berada di sana.
Ruangan sudah jauh lebih sepi dibanding siang tadi. Dua anggota lain sedang merapikan meja sebelum pulang, sementara Adrian menutup laptop dan memasukkan beberapa formulir ke map.
“Kalian selesai?”
Selvara mengambil tas dari kursi. “Untuk hari ini.”
Adrian berdiri. “Ada hasil?”
“Kami menemukan foto klub musik di E-204. Tahun 2018.”
Adrian berhenti merapikan map. “Jadi ruang itu memang pernah dipakai.”
“Kelihatannya begitu.”
Selvara menjelaskan perbedaan antara yearbook fisik dan digital secara singkat. Adrian mendengarkan tanpa menyela, lalu mengerutkan dahi ketika mendengar inisial R.A.
“Aku pernah lihat itu.”
Selvara menatapnya. “Di mana?”
Adrian masih memikirkan ingatannya sebelum membuka lemari kecil di belakang meja OSIS. Ia mengeluarkan binder lama yang berisi daftar kepengurusan dan membalik beberapa halaman. “Waktu kita cari arsip struktur OSIS beberapa hari lalu. Aku ingat ada orang yang sering pakai inisial karena namanya panjang.”
Ia berhenti pada daftar kepengurusan tahun 2018.
Selvara berdiri di sampingnya.
Adrian menggerakkan jarinya ke bagian DIVISI FASILITAS DAN KEGIATAN.
Satu nama tercetak di sana.
Raviel Ardent.
Di samping nama itu terdapat tanda tangan.
Inisialnya:
R.A.
Selvara membaca posisi yang tercantum di bawah nama.
Koordinator Dokumentasi Fasilitas.
Adrian melihatnya. “Kalau orang ini memang R.A. yang sama, dia punya akses ke laporan ruang, dokumentasi kegiatan, dan arsip OSIS.”
Selvara mengambil foto halaman tersebut. “Dan mungkin itu alasan catatannya tersebar di beberapa tempat.”
Adrian menutup binder. “Mau cari data dia?”
Selvara hampir menjawab iya, tetapi kemudian melihat jam dinding.
Sudah sore.
Ia menutup kamera ponselnya. “Besok.”
Adrian tampak sedikit terkejut sebelum tersenyum. “Kalian benar-benar belajar berhenti.”
Selvara meninggalkan ruang OSIS beberapa menit kemudian. Koridor sudah mulai sepi, cahaya sore masuk melalui jendela panjang dan membuat lantai memantulkan warna keemasan. Dari kejauhan terdengar suara bola basket mengenai lantai gedung olahraga, kemungkinan latihan Rikuya belum selesai. Di sisi lain bangunan, suara instrumen dari ruang musik masih terdengar samar.
Sekolah tetap berjalan.
Justru itu yang membuat semua arsip tadi terasa semakin mengganggu.
Ruang E-204 pernah digunakan.
Sembilan siswa pernah difoto di dalamnya.
Salah satu dari mereka tidak tercantum dalam daftar nama.
Foto fisiknya kemudian hilang.
Dan seseorang yang kemungkinan memiliki akses ke dokumentasi fasilitas meninggalkan petunjuk agar pembaca berikutnya mencari sumber asli.
Selvara keluar melalui gerbang depan tanpa mengambil jalan menuju Avenoir. Ia ingin membawa informasi itu pulang terlebih dahulu, menuliskannya selagi masih jelas, lalu membandingkannya besok bersama yang lain.
Malamnya, setelah tugas sekolah selesai, Selvara membuka foto daftar kepengurusan OSIS tahun 2018.
Nama Raviel Ardent masih ada.
Ia kemudian membuka screenshot yearbook digital.
Erian masih berdiri di belakang delapan anggota klub musik.
Selvara menyimpan keduanya ke folder terpisah dan menulis waktu pengambilan.
Sebelum menutup ponsel, sebuah pesan dari Adrian masuk.
Adrian: Sel, aku baru ingat sesuatu soal Raviel.
Selvara membuka percakapan.
Selvara: Apa?
Balasan Adrian muncul beberapa detik kemudian.
Adrian: Aku pernah lihat namanya sebelum kita cari arsip ini.
Selvara duduk lebih tegak.
Selvara: Di mana?
Adrian mengirim foto.
Itu foto papan penghargaan lama yang tergantung di koridor administrasi. Selvara sudah melewatinya berkali-kali tanpa memperhatikan nama-nama di sana.
Adrian memperbesar salah satu bagian.
RAVIEL ARDENT
Student Civic Documentation Award, 2018
Di bawah nama tersebut tercantum judul proyek yang membuat Selvara berhenti membaca selama beberapa detik.
ASTERVEIL EAST DISTRICT HISTORICAL RECOVERY PROJECT
Selvara memperbesar foto.
Hanya sebuah proyek dokumentasi sejarah distrik timur yang terdengar sepenuhnya wajar untuk seorang siswa yang aktif mengurus arsip dan fasilitas.
Lalu Selvara melihat baris paling bawah.
In cooperation with Asterveil Municipal Archive.
Ia membuka catatannya dan menulis informasi itu tanpa menambahkan kesimpulan.
Besok mereka tidak perlu mencari Raviel melalui rumor atau dokumen tersembunyi.
Mereka memiliki jalur resmi menuju arsip kota.
Dan untuk pertama kalinya, jejak dari E-204 membawa mereka keluar dari lingkungan sekolah.
Setelah pelajaran terakhir selesai, Selvara kembali ke perpustakaan bersama Theo dan Vio. Lyara masih harus mengikuti latihan musik, sementara Rikuya sudah memberi tahu sejak makan siang bahwa klub basket mendapat jadwal tambahan di gedung olahraga. Mereka sepakat tidak mengubah kegiatan masing-masing hanya untuk melanjutkan pencarian dokumen lama. Selvara sendiri mulai merasa bahwa membiarkan kehidupan sekolah berjalan sebagaimana mestinya justru membantu mereka menjaga jarak dari kebiasaan menganggap setiap ketidaksesuaian sebagai sesuatu yang harus segera dikejar.
Theo sudah lebih dahulu mengambil laporan tahunan 2018 yang mereka baca saat istirahat. Ia membuka bagian fasilitas di meja belakang, kemudian meletakkan buku catatannya di samping indeks. “Aku cek lagi nomor dokumen yang hilang. Urutannya memang langsung dari FAC-WTR-18-040 ke FAC-GYM-18-042.”
Vio menarik kursi di sebelahnya dan membandingkan daftar tersebut dengan foto laporan E-204 di ponselnya. “Sementara dokumen dari ruang bawah memakai FAC-E204-18-041. Jadi nomor itu pernah dipakai, hanya nggak masuk daftar ini.”
Selvara duduk di seberang mereka. “Adrian bilang nomor yang dibatalkan juga bisa hilang dari rekap. Kita cek dulu apakah ada registrasi lain sebelum menganggap dokumennya sengaja dihapus.”
Theo mengangguk sambil menutup indeks. “Aku sudah kirim nomornya ke Adrian. Dia bilang mau tanya administrasi setelah rapat OSIS selesai.”
Mereka beralih ke bagian dokumentasi kegiatan siswa. Perbedaan jadwal klub musik yang ditemukan sebelumnya masih bisa dijelaskan sebagai perubahan ruangan sebelum latihan berlangsung. Formulir dari arsip bawah mencatat E-204, sedangkan laporan akhir mencatat Music Room 1 pada tanggal dan waktu yang sama. Selvara menuliskan keduanya berdampingan tanpa memberi tanda khusus. Perubahan lokasi adalah hal biasa, terutama jika ruangan lama mendadak tidak dapat digunakan.
Lyara baru datang hampir dua puluh menit kemudian dengan tas musik masih tersampir di bahunya. Ia menarik kursi kosong di samping Vio dan meletakkan beberapa lembar fotokopi di meja. “Aku tanya pembina klub soal arsip latihan lama. Beliau punya salinan daftar kegiatan semester ini dan beberapa tahun sebelumnya, tapi untuk yang lebih lama disimpan perpustakaan.”
Theo melirik lembar yang dibawanya. “Kamu bilang kita cari apa?”
“Aku cuma tanya apakah klub punya dokumentasi penggunaan ruangan lama.” Lyara membuka salah satu halaman sambil merapikan rambut yang jatuh ke depan wajahnya. “Beliau malah cerita kalau ruang latihan sering berubah karena jadwal aula dan renovasi. Jadi E-204 sempat tercatat lalu pindah ke Music Room 1 masih masuk akal.”
Selvara mengangguk. “Berarti kita simpan sebagai revisi jadwal sampai ada bukti lain.”
Lyara memandang laporan tahunan di tengah meja. “Ada yang baru?”
Vio menggeser foto nomor dokumen ke arahnya. “041 hilang dari indeks, tapi Adrian sedang cek registrasi administrasi.”
Lyara membaca sebentar, lalu mengembalikan ponsel Vio. “Kalau nomor itu memang ada di buku registrasi, setidaknya kita tahu laporan E-204 bukan kertas yang dibuat tanpa jalur administrasi.”
Ponsel Selvara bergetar sebelum percakapan berlanjut. Pesan Adrian masuk bersama foto sebuah buku registrasi lama yang terbuka pada bagian tahun 2018.
FAC-18-039 — Main Building Ventilation Review
FAC-18-040 — East Drainage Maintenance
FAC-18-041 — Internal Facility Review
FAC-18-042 — Gymnasium Equipment Inspection
Di bawah foto, Adrian menambahkan pesan bahwa staf administrasi mengizinkannya memotret halaman tersebut karena tidak memuat data pribadi.
Selvara menunjukkan layar kepada yang lain. “Nomornya ada.”
Theo langsung mencocokkan tanggal registrasi dengan foto laporan E-204. “Tanggalnya sama.”
“Deskripsinya lebih umum,” ujar Lyara sambil membaca baris 041. “Internal Facility Review.”
Vio menyandarkan siku di meja. “Berarti bisa saja itu memang laporan E-204.”
“Bisa,” jawab Selvara. “Tapi dari registrasi ini saja kita belum tahu.”
Theo menambahkan hasilnya ke catatan tanpa memperpanjang teori. Mereka kemudian melanjutkan pencarian pada dokumentasi kegiatan siswa. Beberapa halaman setelah daftar peminjaman ruang, Lyara menemukan bagian foto kegiatan klub. Sebuah gambar memperlihatkan anggota klub musik membawa keyboard dan stand partitur melewati halaman timur sekolah. Gedung lama terlihat di belakang mereka, dengan sebagian pintu samping terbuka.
Lyara mendekatkan buku ke dirinya. “Aku kenal dua orang ini dari foto klub.”
Selvara ikut memperhatikan. “Tanggalnya?”
Lyara membaca caption. “April 2018.”
Theo menggeser kursinya mendekat. “Ada keterangan ruang?”
“Hanya persiapan latihan musik di area timur.”
Foto berikutnya memperlihatkan beberapa siswa masuk melalui pintu gedung sambil membawa peralatan. Sebagian papan nomor ruang terlihat di belakang bahu salah seorang siswa, tetapi angka yang terbaca hanya 2.
Vio memicingkan mata ke arah halaman. “Sayang banget yang kelihatan cuma angka terakhir.”
Theo mengambil ponselnya, lalu berhenti sebelum memotret. “Jangan dilengkapi sendiri jadi 204. Bisa ruang lain.”
Selvara tersenyum kecil melihat Theo lebih dahulu mengingatkan mereka. “Foto saja sesuai yang terlihat.”
Theo mengambil gambar halaman tersebut dan mencatat caption aslinya.
Mereka membalik ke halaman berikutnya.
Bekas lem membentuk persegi panjang di tengah kertas, sementara permukaan halaman sedikit berbeda warna pada bagian yang sebelumnya tertutup foto. Caption masih tercetak di bawahnya.
Dokumentasi latihan akhir, 18 April 2018.
Lyara menyentuh bagian tepi halaman dengan ujung jarinya. “Fotonya lepas.”
Vio memperhatikan sisa serat kertas di salah satu sudut. “Atau pernah dilepas.”
Theo membuka katalog digital perpustakaan. “Kalau laporan ini pernah dipindai, mungkin versi digitalnya masih lengkap.”
Ia mencari edisi 2018 berdasarkan nomor koleksi yang tercetak di punggung buku. Hasil pertama hanya berisi indeks, tetapi file kedua merupakan salinan digital laporan yang sama. Theo membuka bagian dokumentasi kegiatan dan menuju halaman yang mereka cari.
Foto masih ada.
Selvara mendekat ke layar.
Sembilan siswa berdiri di sebuah ruang latihan. Beberapa memegang lembar musik, satu siswa duduk di depan keyboard, sementara yang lain berdiri berdekatan di belakang. Lyara mengenali anggota klub yang sebelumnya mereka lihat dalam dokumentasi lain.
Erian berdiri paling belakang.
Papan nomor ruang terlihat di dinding sebelah kanan.
E-204.
Lyara memegang tali tasnya sambil terus melihat layar. “Jadi mereka memang latihan di sana.”
Theo memperbesar bagian papan nomor. “Setidaknya saat foto ini diambil.”
Vio membandingkan file digital dengan halaman fisik yang kehilangan foto. “Berarti perubahan ke Music Room 1 mungkin terjadi setelah latihan ini, atau mereka menggunakan dua ruangan pada hari yang sama.”
Selvara mengangguk sambil mencatat tanggal dan nomor halaman. “Kita belum punya jam pengambilan foto. Jangan pakai foto ini untuk menentukan urutan.”
Theo mengembalikan tampilan ke ukuran semula. “Ada daftar nama?”
Lyara membuka halaman berikutnya pada buku fisik. Delapan nama tercetak sebagai anggota klub yang mengikuti latihan. Ia membaca sekali lagi untuk memastikan tidak ada nama yang terlewat, kemudian menggeser buku agar Selvara dapat melihat.
Nama Erian tidak tercantum.
Vio memandang kembali foto digital. “Mungkin dia bukan anggota klub.”
Lyara mengangguk pelan. “Bisa teman mereka, panitia, atau siswa yang kebetulan membantu.”
Selvara melihat wajah Erian di layar. Kemunculannya tetap menarik perhatian karena nama yang sama sudah beberapa kali muncul dalam catatan E-204, tetapi foto kelompok tidak cukup untuk menjelaskan siapa dirinya. “Yang penting sekarang kita tahu dia pernah difoto bersama mereka di ruangan itu.”
Theo mencatat kesimpulan tersebut. “Dan foto versi fisiknya sudah nggak ada.”
Lyara menunduk untuk memeriksa halaman kosong sekali lagi. Di dekat lipatan tengah, ada garis pensil yang nyaris menyatu dengan bayangan jilid. Ia menggeser buku sedikit ke arah cahaya.
“Sebentar. Ada tulisan.”
Selvara berdiri dari kursinya dan berpindah ke sisi Lyara.
Tulisan itu hanya satu baris.
See original archive. R.A.
Theo membaca dari belakang mereka. “R.A.”
Vio menatapnya sebentar. “Inisial orang?”
“Mungkin.” Theo mengambil foto tanpa menyentuh halaman. “Atau kode.”
Selvara memeriksa halaman sebelum dan sesudahnya untuk mencari tulisan serupa. Tidak ada. “Catat sebagai tulisan tangan saja. Kita belum tahu siapa yang menulis.”
Lyara menutup buku perlahan setelah mereka selesai mendokumentasikan bagian tersebut. “Original archive bisa berarti arsip foto.”
“Bisa juga arsip administrasi atau koleksi klub,” jawab Selvara sambil memasukkan buku catatannya ke tas. “Kita cari berdasarkan jalur yang memang tersedia.”
Ponselnya kembali bergetar.
Kali ini Adrian menelepon.
Selvara mengangkatnya sambil berjalan sedikit menjauh dari meja baca. “Gimana?”
Suara Adrian terdengar bersama bunyi orang-orang yang masih membereskan ruang OSIS. “Aku masih di sekolah. Tadi waktu cari buku registrasi, aku sekalian lihat daftar kepengurusan lama karena inisial R.A. terasa familiar.”
Selvara berhenti dekat ujung rak. “Kamu menemukan nama?”
“Ada satu yang cocok.” Adrian terdengar membalik halaman di seberang telepon. “Raviel Ardent. Dia ada di struktur OSIS periode 2018 sampai 2019, divisi fasilitas dan dokumentasi.”
Tahun setelah 2018 tidak mengganggu Selvara. Periode kepengurusan itu sudah ditetapkan sejak awal masa jabatan dan memang tercetak pada dokumen yang sedang berlaku.
“Dia masih siswa di sini?” tanya Selvara sambil memberi isyarat kepada Theo dan yang lain agar mendekat.
“Masih,” jawab Adrian. “Kelas tingkat akhir. Tapi aku belum pernah ngobrol langsung sama dia. Jadwalnya juga nggak selalu sama dengan pengurus yang sekarang karena struktur lama sedang masa transisi.”
Theo berdiri cukup dekat untuk mendengar percakapan dari speaker ponsel. Ia menunjuk tulisan R.A. pada foto yang baru mereka ambil.
Selvara mengikuti arah jarinya. “Ada contoh tanda tangannya?”
Adrian terdiam sebentar sebelum menjawab. “Ada di lembar serah terima. Tunggu.”
Suara kertas kembali terdengar. Beberapa detik kemudian Adrian mengirim foto melalui percakapan mereka.
Selvara membuka gambar itu.
Raviel Ardent
Di bawah namanya terdapat tanda tangan kecil dan inisial yang ditulis terpisah:
R.A.
Lyara melihat dari samping Selvara. “Bentuk A-nya mirip.”
Theo langsung menggeleng. “Mirip belum berarti sama. Tulisan di yearbook kecil banget.”
Selvara menyimpan kedua foto berdampingan. “Kita nggak perlu memastikan dari bentuk tulisan. Raviel punya posisi yang membuatnya mungkin mengakses dokumentasi fasilitas. Itu cukup untuk sekarang.”
Adrian terdengar menggeser kursi di seberang telepon. “Ada satu hal lagi. Raviel pernah dapat penghargaan dari sekolah tahun ini.”
“Untuk apa?” Selvara bertanya sambil kembali duduk.
“Proyek dokumentasi sejarah distrik timur. Papan penghargaannya masih ada dekat administrasi.” Adrian berhenti sebentar untuk membaca sesuatu. “Judulnya Asterveil East District Historical Recovery Project.”
Theo langsung membuka buku catatannya.
Selvara memperhatikan reaksinya dan menggeleng kecil agar ia tidak buru-buru menyusun hubungan. “Proyek sekolah?”
“Iya. Kerja sama dengan arsip kota.”
Informasi itu memberi tulisan See original archive konteks yang jauh lebih sederhana. Raviel memang terlibat dalam dokumentasi sejarah dan memiliki akses ke fasilitas sekolah. Jika ia menemukan foto atau catatan yang tidak sesuai dengan salinan publik, meminta pembaca melihat sumber asli adalah kebiasaan yang masuk akal untuk seseorang yang terbiasa memeriksa arsip.
Selvara merapikan halaman laporan di depannya. “Besok kita cari proyeknya dulu. Jangan hubungi Raviel sebelum kita tahu apa yang sebenarnya dia kerjakan.”
Adrian menjawab sambil menutup binder di seberang telepon. “Aku setuju. Kalau ternyata R.A. bukan dia, kita nggak perlu bikin orang bingung karena ditanya soal tulisan di buku lama.”
Setelah panggilan berakhir, Theo menuliskan nama Raviel di bawah foto tulisan tangan, lalu menambahkan tanda tanya alih-alih garis penghubung.
Vio memperhatikan catatannya sambil tersenyum tipis. “Bagus. Kamu mulai suka tanda tanya.”
Theo menutup pena. “Tanda tanya menyelamatkan kita dari malu kalau teorinya salah.”
Lyara berdiri sambil merapikan tas musiknya. “Aku harus balik sebentar ke ruang musik. Ada kabel yang tadi belum dikembalikan.”
Selvara ikut berdiri. “Kita cukup sampai sini.”
Theo melihat jam di layar laptop dan mengangguk. Mereka mengembalikan laporan 2018 kepada petugas perpustakaan, kemudian keluar bersama sebelum berpisah di koridor. Lyara menuju ruang musik, Theo berjalan ke arah laboratorium komputer untuk mengambil flash drive yang tertinggal, sementara Vio menemani Selvara ke ruang OSIS.
Adrian masih berada di sana bersama dua anggota lain yang sedang menyusun dokumen kegiatan. Ia mengangkat binder lama ketika Selvara masuk. “Ini yang tadi.”
Selvara duduk di kursi kosong di sebelahnya dan membaca daftar kepengurusan. Nama Raviel memang tercetak pada bagian fasilitas dan dokumentasi, lengkap dengan masa jabatan yang berlanjut sampai tahun berikutnya. Di halaman selanjutnya terdapat daftar proyek siswa yang mendapat dukungan OSIS.
Asterveil East District Historical Recovery Project tercatat sebagai kegiatan dokumentasi dengan akses terbatas ke arsip fasilitas sekolah dan koleksi sejarah kota.
“Dia mulai proyek ini kapan?” Selvara bertanya sambil mengikuti baris tanggal dengan jarinya.
Adrian memeriksa halaman awal. “Januari. Laporan akhirnya masuk bulan lalu.”
“Berarti sudah selesai.”
“Secara administrasi, iya.”
Vio berdiri di belakang kursi Selvara sambil membaca bagian bawah halaman. “Ada daftar bahan yang dia pinjam.”
Adrian membalik ke lampiran.
Beberapa item tercatat: peta lama distrik timur, foto pembangunan sekolah, laporan perubahan batas lahan, dokumentasi renovasi, dan koleksi foto kegiatan yang berlangsung di gedung lama.
Salah satu entri membuat Selvara berhenti.
East Wing Room Documentation, 2016–2018.
Tanggal pengembalian tercatat lengkap.
Semua item sudah kembali.
Theo belum berada bersama mereka, tetapi Selvara dapat membayangkan berapa banyak pertanyaan yang akan langsung ia tulis jika melihat daftar itu.
Adrian menunjuk kolom berikutnya. “Ada nomor arsip.”
Selvara menyalinnya.
“Bisa kita akses?”
“Kalau koleksi sekolah, seharusnya bisa lewat perpustakaan atau administrasi. Kalau yang berasal dari arsip kota, mungkin perlu izin.”
Selvara menutup binder setelah selesai mencatat. “Besok mulai dari yang ada di sekolah.”
Adrian menerima binder itu kembali. “Aku bisa tanya staf fasilitas lokasi penyimpanannya.”
“Cukup tanya katalog atau nomor raknya.” Selvara memasukkan catatan ke tas. “Nggak perlu minta mereka bongkar apa pun.”
Adrian tersenyum kecil sambil mengembalikan binder ke lemari. “Kamu sekarang terdengar seperti petugas arsip.”
“Setidaknya petugas arsip tahu kapan harus berhenti.”
Vio yang masih berdiri di dekat meja menahan tawa. “Kalimat itu harus kamu bilang ke Theo.”
Selvara baru hendak menjawab ketika pintu ruang OSIS terbuka.
Seorang siswa laki-laki masuk membawa dua map tipis. Seragamnya sama dengan siswa tingkat akhir lain, tetapi pin kecil OSIS pada sakunya menggunakan desain kepengurusan sebelumnya. Rambut hitamnya sedikit berantakan setelah seharian sekolah, dan kacamata tipis yang dikenakannya membuat wajahnya mudah dikenali ketika Selvara membandingkannya dengan foto kecil pada daftar kepengurusan.
Adrian lebih dahulu berdiri. “Raviel?”
Siswa itu menoleh sambil tetap memegang map di dadanya. “Adrian, kan? Maaf, aku baru sempat bawa laporan serah terima. Pak Arven bilang masih ada dua dokumen lama yang belum masuk.”
Adrian menerima map yang disodorkan. “Pas sekali. Kami tadi baru lihat daftar proyekmu.”
Raviel mengangkat alis, lalu pandangannya berpindah kepada Selvara dan Vio. “Proyek distrik timur?”
Selvara berdiri dari kursinya. Pertemuan itu terjadi lebih cepat daripada yang ia rencanakan, tetapi bertanya secara langsung sekarang justru akan terasa lebih wajar daripada menghindarinya lalu mencari orang yang sama besok.
“Aku Selvara,” ujarnya sambil menutup buku catatan. “Kami menemukan salah satu dokumentasi lama di perpustakaan. Ada foto latihan klub musik di E-204.”
Ekspresi Raviel tetap tenang, tetapi perhatiannya langsung tertuju penuh kepada Selvara. “Foto yang mana?”
“18 April.”
Raviel memegang map yang tersisa sedikit lebih erat sebelum meletakkannya di meja. “Versi cetak atau scan?”
Pertanyaan itu membuat Adrian berhenti membuka map.
Vio juga menoleh kepada Raviel.
Selvara menjawab sambil menjaga suaranya tetap biasa. “Keduanya.”
Raviel mengangguk pelan seolah jawaban itu mengonfirmasi sesuatu yang sudah ia duga. Ia menarik kursi kosong, tetapi belum duduk. “Fotonya masih hilang dari versi cetak?”
Selvara memandangnya beberapa saat. “Kamu tahu?”
Raviel akhirnya duduk dan menyandarkan lengannya pada meja. “Aku yang menulis catatan di halaman itu.”
Tidak ada kebutuhan lagi untuk membandingkan bentuk huruf.
Selvara mengambil kursi di seberangnya. “See original archive?”
Raviel mengangguk sambil membuka salah satu map yang tadi dibawanya. “Aku tulis itu sekitar dua bulan lalu. Waktu proyek distrik timur, aku menemukan beberapa salinan dokumentasi yang nggak cocok dengan sumber aslinya. Awalnya kukira karena laporan tahunan sering dirapikan sebelum dicetak.”
Vio menarik kursi di samping Selvara. “Apa yang beda?”
Raviel mencari satu lembar di dalam map sebelum menjawab. “Kebanyakan hal kecil. Caption berubah, nomor ruang hilang, tanggal dibulatkan ke bulan, beberapa foto dipilih ulang. Normal untuk laporan sekolah. Masalahnya, semakin lama aku cari sumber asli, semuanya malah semakin rapi.”
Selvara memperhatikan lembar yang dikeluarkannya.
Sebuah daftar inventaris foto.
Raviel meletakkannya di tengah meja. “Kalau ada foto yang salah caption, biasanya masih ada formulir peminjaman, negatif, catatan fotografer, atau setidaknya nomor urut yang menunjukkan ada revisi. Untuk dokumentasi East Wing, hampir semua jejak yang seharusnya menjelaskan perbedaannya sudah mengarah ke versi yang sama.”
Adrian membaca daftar itu dari samping. “Bukannya itu bagus?”
Raviel tersenyum kecil. “Kalau memang dari awal sama, tentu bagus. Tapi aku sempat melihat versi yang berbeda sebelum katalog diperbarui.”
Selvara menggeser daftar itu sedikit mendekat. “Versi apa?”
Raviel menunjuk satu kode foto.
E204-SPR-18-04.
“Foto latihan klub musik yang kalian lihat tadi punya sembilan orang.” Raviel menelusuri kode tersebut dengan ujung pena. “Salinan pertama yang kutemukan di arsip kegiatan cuma punya delapan.”
Vio mengerutkan dahi. “Mungkin dua foto.”
“Itu juga yang kupikirkan.” Raviel membuka halaman berikutnya. “Makanya aku cari nomor setelahnya.”
Ada enam kode foto berurutan.
Raviel menunjukkan kolom jumlah subjek.
Delapan, Sembilan, Delapan, Sembilan, Delapan, Sembilan.
Selvara membaca urutan tersebut tanpa menyela.
Raviel menutup pena dan menatap mereka. “Fotografer bisa mengambil banyak gambar. Orang juga bisa keluar masuk frame. Itu masih biasa. Aku kemudian mencari negatif aslinya untuk memastikan.”
Adrian mencondongkan tubuh. “Ketemu?”
“Sudah dipindahkan ke arsip kota untuk preservasi.” Raviel mengetuk kode koleksi yang tercetak di bagian bawah. “Aku mengajukan akses lewat proyek sekolah, tapi yang kuterima hanya scan baru.”
Selvara melihat kode tersebut. “Hasilnya?”
Raviel memandang daftar jumlah subjek sekali lagi sebelum menjawab. “Sembilan orang di semua foto.”
Ruangan OSIS tetap dipenuhi suara kertas dari meja lain dan bunyi printer yang bekerja di sudut ruangan. Dua anggota yang masih berada di sana melanjutkan pekerjaan mereka tanpa memperhatikan percakapan kecil di meja belakang.
Selvara kembali melihat enam baris pada daftar lama.
“Daftar ini dibuat kapan?”
Raviel menunjuk tanggal di bagian atas. “Februari tahun ini. Aku salin langsung dari indeks fisik sebelum mengajukan preservasi.”
“Dan scan dari arsip kota kamu terima kapan?” Selvara bertanya sambil mencatat kedua tanggal.
“Awal Maret.”
Vio memperhatikan Raviel. “Kamu masih punya scan-nya?”
Raviel menggeleng pelan. “Aksesnya lewat terminal sekolah. File nggak bisa diunduh. Tapi harusnya masih bisa dibuka selama izin proyekku belum kedaluwarsa.”
Adrian melihat periode akses pada formulir proyek. “Sampai akhir semester.”
Raviel mengangguk. “Kalau kalian memang sedang memeriksa E-204, besok aku bisa buka koleksinya dari terminal perpustakaan.”
Selvara menutup buku catatannya setelah memastikan semua tanggal tercatat. “Besok saja. Kita lihat sumbernya langsung sebelum menyimpulkan apa pun.”
Raviel tersenyum tipis dan memasukkan kembali lembar inventaris ke dalam map. “Itu juga alasan aku meninggalkan tulisan di yearbook. Semakin banyak salinan yang kubaca, semakin sulit tahu mana yang sebenarnya lebih dekat ke sumber.”
Selvara berdiri ketika Raviel mulai membereskan dokumen serah terimanya. Untuk pertama kalinya, ketidaksesuaian E-204 tidak hanya berasal dari benda yang mereka temukan di ruang bawah atau ingatan mereka sendiri. Raviel sudah melihat perbedaan serupa beberapa bulan sebelumnya dan meninggalkan catatan karena ia tidak berhasil menemukan penjelasan yang memuaskan.
Besok mereka akan melihat scan preservasi yang ia maksud.
Selvara belum tahu apakah hasilnya akan menjelaskan foto Erian atau justru membuat enam foto lama itu semakin sulit dipahami, tetapi satu hal kini jelas: arsip sekolah terlihat jauh lebih teratur daripada riwayat perubahan yang pernah dilewatinya.
Dan Raviel sudah menyadarinya lebih dahulu.
Raviel datang ke perpustakaan setelah jam makan siang dengan kartu akses proyek yang masih berlaku sampai akhir semester. Selvara sudah menunggunya bersama Theo dan Vio di salah satu meja dekat terminal koleksi, sementara Lyara baru menyusul beberapa menit kemudian setelah menyerahkan catatan latihan kepada pembina klub musik. Rikuya belum bisa bergabung karena latihan basket dimulai lebih awal, tetapi Selvara sudah mengirim ringkasan percakapan mereka dengan Raviel semalam agar ia tidak kehilangan konteks ketika mereka bertemu lagi.
Raviel menarik kursi di depan terminal dan mengeluarkan selembar formulir dari map. “Aksesku cuma untuk koleksi yang dipakai dalam proyek distrik timur. Kalau negatif E-204 memang sudah masuk preservasi kota dengan kode yang sama, kita bisa lihat scan-nya. Kalau dipindah ke koleksi lain, aku harus minta izin lagi.”
Theo duduk di sebelahnya. “Berarti kita cari berdasarkan nomor roll, bukan E-204.”
“Lebih aman begitu.” Raviel mengetik nomor koleksi yang kemarin ia tunjukkan kepada mereka. “Katalog lama kadang pakai nama yang berbeda setelah dipindahkan.”
Halaman autentikasi muncul lebih dahulu. Raviel memasukkan nomor proyek dan kode akses, lalu terminal membuka daftar koleksi yang pernah digunakan dalam Asterveil East District Historical Recovery Project. Puluhan entri memenuhi layar, mulai dari peta lahan, dokumentasi renovasi, sampai foto kegiatan sekolah yang bersinggungan dengan bangunan lama di sisi timur.
Selvara berdiri di samping meja dan mengikuti pencarian Raviel tanpa ikut mengarahkan. Ia ingin melihat jalur yang memang digunakan Raviel ketika pertama kali menemukan ketidaksesuaian itu.
Beberapa detik kemudian satu hasil muncul.
E204-SPR-18
Photographic Preservation Set
Source: Asterveil Academy Internal Archive
Transfer Date: 18 April 2018
Raviel membuka koleksinya. “Ini.”
Enam thumbnail tersusun berurutan.
Theo langsung mendekatkan kursinya, sedangkan Lyara berdiri di belakang Vio agar layar tetap terlihat oleh semuanya.
Selvara menghitung tanpa bersuara.
Enam foto.
Semuanya menunjukkan sembilan orang.
Erian berada di bagian belakang pada setiap gambar.
Vio membandingkan nomor file pada layar dengan foto inventaris yang kemarin diperlihatkan Raviel. “Nomornya sama?”
Raviel mengeluarkan salinan inventaris dari map dan meletakkannya di meja. “Sama. Empat sampai sembilan.”
Theo menunjuk kolom jumlah subjek pada kertas. “Tapi indeks ini mencatat delapan, sembilan, delapan, sembilan, delapan, sembilan.”
“Makanya aku cari sumber preservasinya waktu itu,” jawab Raviel sambil membuka file pertama.
Foto memenuhi layar. Delapan anggota klub musik berdiri di depan, sementara Erian berada sedikit di belakang sisi kanan. Selvara memperhatikan posisi tubuhnya, cahaya dari jendela, dan bayangan yang jatuh di lantai. Tidak ada bagian yang langsung terlihat seperti tambahan.
Raviel membuka foto kedua.
Posisi anggota klub berubah. Salah satu siswa sudah menurunkan lembar musik, siswa di depan keyboard memalingkan kepala, dan Lyara mengenali perbedaan kecil pada rambut serta posisi tangan beberapa orang.
Erian tetap berdiri dengan pose yang sama.
Theo mendekat ke monitor. “Bisa buka dua file berdampingan?”
Raviel menggunakan fitur perbandingan pada terminal. Dua foto muncul dengan ukuran yang sama.
Vio menunjuk Erian pada layar kiri, lalu layar kanan. “Dia benar-benar nggak berubah.”
Lyara mengamati kedua gambar sebelum menggeleng pelan. “Lihat siswa yang di depannya. Bahunya pindah sedikit dan menutup sebagian seragam Erian di foto kedua. Jadi Erian memang berada di belakang orang itu, setidaknya kalau gambar ini bukan hasil edit keseluruhan.”
Theo memperbesar bagian tersebut. “Benar.”
Selvara melihat Raviel. “Waktu pertama kamu buka koleksi ini, hasilnya sama?”
Raviel mengangguk. “Enam foto, semuanya sembilan orang.”
“Lalu kenapa inventaris fisiknya masih mencatat delapan dan sembilan bergantian?”
“Itu yang kutanyakan ke bagian dokumentasi.” Raviel membuka halaman metadata. “Jawabannya sederhana. Mereka menganggap petugas lama salah menghitung subjek ketika membuat indeks.”
Theo melihatnya. “Masuk akal.”
“Memang.” Raviel menyandarkan punggungnya. “Kalau cuma itu, aku juga nggak akan lanjut.”
Ia membuka kolom Preservation Notes.
Satu baris tercantum di sana.
Digitized directly from original negatives. No compositional restoration performed.
Theo membaca kalimat tersebut sekali, lalu melihat Raviel. “Jadi scan ini katanya langsung dari negatif.”
Raviel mengangguk.
Selvara menatap keenam thumbnail lagi. “Kamu pernah melihat negatif fisiknya?”
“Belum. Proyek siswa cuma dapat akses digital. Negatifnya disimpan di cold storage arsip kota.”
Vio menyilangkan tangan di depan dada. “Berarti kalau mau memastikan foto itu memang berasal dari negatif, kita harus lihat negatifnya.”
“Dan akses cold storage nggak diberikan untuk proyek sekolah biasa,” jawab Raviel. “Aku pernah tanya.”
Theo tidak terlihat kecewa. Ia justru menulis status sumber pada catatannya. “Berarti batas bukti kita sampai sini.”
Selvara mengangguk. Mereka memiliki scan preservasi yang diklaim berasal langsung dari negatif, tetapi klaim tersebut tetap berasal dari sistem katalog. Selama negatif fisiknya belum diperiksa, tidak ada gunanya memperlakukan metadata sebagai jawaban mutlak.
Lyara kemudian menunjuk satu ikon kecil di sisi layar. “Itu apa?”
Raviel melihatnya. “Acquisition record.”
Ia membukanya.
Dokumen pemindahan foto dari sekolah ke arsip kota muncul dalam bentuk scan. Tanggalnya sama dengan yang sudah mereka ketahui, lengkap dengan tanda tangan penerima dari pihak arsip.
Helena Var.
Di sisi pengirim terdapat tanda tangan petugas sekolah.
Di bawahnya, sebuah kolom mencatat jumlah material:
1 photographic roll, 36 exposures.
Theo melihat inventaris Raviel. “Kita cuma punya enam foto E-204.”
“Roll-nya berisi kegiatan lain juga,” jawab Raviel. “Aku pernah cek indeksnya.”
Ia kembali ke daftar koleksi dan membuka seluruh isi roll. Foto pertama memperlihatkan halaman sekolah. Beberapa berikutnya berisi persiapan peralatan musik, siswa berjalan menuju gedung timur, lalu dokumentasi E-204 berada di bagian tengah. Setelah itu ada foto koridor, halaman belakang, dan beberapa gambar persiapan pertunjukan.
Selvara mengikuti urutannya.
Semuanya terlihat biasa sampai Theo meminta Raviel berhenti pada foto sebelum rangkaian E-204.
“Yang ini nomor berapa?”
“Dua belas.”
Foto menunjukkan delapan anggota klub musik berjalan melewati koridor gedung timur. Salah satu dari mereka membawa keyboard kecil bersama siswa lain.
Theo menunjuk bagian belakang kelompok. “Erian belum ada.”
Lyara menghitung orang di layar. “Delapan.”
Raviel membuka exposure berikutnya.
Masih delapan.
Lalu exposure empat belas, foto pertama di dalam E-204.
Sembilan.
Erian sudah berdiri di belakang mereka.
Vio mencondongkan tubuh. “Ada foto dia masuk ruangan?”
Raviel memeriksa exposure di antara keduanya. “Nggak ada. Nomornya langsung berurutan.”
Selvara memperhatikan timestamp yang tercatat dalam metadata scan. Jeda antara dua foto kurang dari satu menit. Itu tetap cukup bagi seseorang untuk datang dari arah lain, masuk lebih dahulu, atau memang sudah berada di ruangan ketika kelompok tiba.
“Dia bisa sudah ada di dalam,” ujar Selvara sambil mencatat nomor exposure. “Foto koridor nggak menunjukkan seluruh orang yang berada di gedung.”
Lyara mengangguk. “Atau dia datang dari pintu lain.”
Theo menuliskan kemungkinan tersebut tanpa menambahkan komentar.
Raviel melanjutkan sampai foto terakhir di dalam E-204. Erian masih terlihat. Pada exposure berikutnya, kamera sudah kembali menghadap koridor.
Delapan anggota klub musik berjalan menjauh.
Erian tidak terlihat.
Vio memandang layar. “Jadi dia cuma muncul selama mereka di dalam ruangan.”
“Dalam roll ini, iya,” jawab Raviel.
Lyara menarik kursi kosong dan duduk. “Ada foto kegiatan lain di E-204?”
Raviel kembali ke katalog. “Ada beberapa, tapi bukan dari tanggal yang sama.”
Selvara menahan pencarian itu sebelum berkembang. “Kita fokus yang ini dulu.”
Raviel mengangguk dan kembali ke acquisition record.
Selvara membaca bagian bawah dokumen. Ada kolom kondisi material ketika diterima. Negatif disebut masih dalam kondisi baik, tanpa kerusakan kimia yang berarti. Tidak ada catatan mengenai manipulasi atau pemulihan gambar.
Di samping kolom tersebut terdapat satu lampiran yang belum mereka buka.
Pre-transfer contact sheet.
Theo langsung melihat Raviel. “Itu dibuat sebelum negatif keluar dari sekolah?”
“Harusnya.”
Raviel membuka lampiran.
Satu lembar berisi tiga puluh enam gambar kecil muncul di layar, seluruh exposure dari roll ditampilkan dalam satu halaman.
Selvara mendekat.
Foto-foto E-204 terlalu kecil untuk melihat wajah dengan jelas, tetapi jumlah tubuh masih bisa dihitung.
Exposure empat belas.
Sembilan, Lima belas, Sembilan, Enam belas, Sembilan, Tujuh belas, Sembilan, Delapan belas, Sembilan, Sembilan belas, Sembilan.
Vio melihat inventaris fisik Raviel yang masih berada di meja. “Contact sheet ini juga semuanya sembilan.”
Raviel mengangguk. “Itulah kenapa bagian dokumentasi menganggap indeks sekolah salah.”
Theo memeriksa tanggal pembuatan lampiran. “Contact sheet dibuat kapan?”
Raviel memperbesar bagian header.
18 April 2018.
Hari yang sama.
Selvara membaca jam yang tercetak kecil di samping tanggal.
17:42.
Ia kemudian melihat acquisition record.
Waktu penerimaan di arsip kota tercatat 19:10.
“Contact sheet dibuat sebelum transfer,” ujar Selvara.