CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #22

Dusty Notes

Chapter 1 - Episode 22

Selvara baru menyadari betapa lama mereka berada di ruangan itu ketika suara kegiatan sore dari luar gedung mulai berkurang. Sesekali terdengar pintu kelas ditutup dan langkah beberapa siswa melewati koridor, tetapi sebagian besar lantai sudah kosong. Di atas meja, dokumen yang mereka kumpulkan sejak siang memenuhi ruang di antara laptop Lyara, beberapa map lama, salinan catatan dari terminal koleksi,

serta kertas kecil tempat Theo menuliskan hal-hal yang masih perlu mereka cocokkan.

Setelah semua yang mereka temukan, nama yang berubah dalam Folder 06 seharusnya menjadi pusat perhatian mereka.

Namun justru kartu akses Raviel yang terus mengganggu pikiran Selvara. Benda itu sendiri terlihat biasa ketika diletakkan di antara tumpukan kertas, tetapi data yang melekat padanya sulit dianggap sebagai kesalahan administratif sederhana.

Theo menarik salah satu kursi mendekat ke meja. "Kalau kita terus mengejar semua yang aneh sekaligus, besok kita bakal lupa mana yang sebenarnya sudah kita pastikan."

"Kamu baru sadar sekarang?" Vio masih membolak-balik beberapa lembar fotokopi. "Sejak tadi kita punya folder yang namanya berubah, arsip yang isinya nggak konsisten, sama kartu Raviel yang punya akses ke tempat yang bahkan belum pernah dia datangi."

Raviel yang duduk di sisi meja langsung mengangkat kepala. "Bagian terakhir itu tolong jangan diucapkan seperti aku diam-diam punya kehidupan kedua."

Theo tertawa kecil. "Kalau ternyata iya, setidaknya kasih tahu sebelum kita semua ikut terseret."

"Aku bahkan kesulitan mengurus satu kehidupan."

Lyara yang sejak tadi membaca data pada laptop akhirnya ikut tersenyum. Ketegangan yang memenuhi ruangan sejak mereka menemukan ketidaksesuaian akses sedikit berkurang, dan Selvara membiarkannya.

Mereka memang membutuhkan beberapa menit untuk kembali berbicara seperti teman biasa, bukan sekelompok orang yang berusaha memaksa jawaban keluar dari arsip sekolah.

Selvara menarik kertas Theo ke arahnya. "Kita pisahkan yang sudah pasti dulu."

Theo menyerahkan pulpen.

Selvara menulis beberapa kata di bagian atas kertas, lalu mulai menyusun hasil mereka berdasarkan apa yang benar-benar memiliki bukti. Folder 06 pernah memiliki data yang berbeda dari yang sekarang terlihat. Perubahan itu bukan sekadar kesalahan penamaan karena salinan lama menunjukkan susunan yang berbeda.

Kartu Raviel masih terbaca normal oleh reader, sedangkan kredensial yang terhubung dengannya memiliki riwayat yang tidak sesuai dengan penggunaan yang Raviel ingat. Sementara itu, beberapa arsip lain menunjukkan ketidaksesuaian kecil yang belum cukup kuat untuk disebut bagian dari masalah yang sama.

"Karena kita memang belum tahu," jawab Selvara. "Kalau kita menganggap semua hal aneh saling berhubungan dari awal, kita cuma akan mencari bukti yang mendukung dugaan sendiri."

Raviel mengangguk sambil menarik kartunya dari meja. "Akhirnya ada kalimat yang membuat benda ini terasa sedikit kurang menyeramkan."

"Sedikit," Lyara menimpali.

Raviel memandangnya. "Terima kasih atas dukungannya."

Lyara kembali ke layar sambil menahan senyum.

Theo kemudian mengambil kertas lain dan menggambar garis di tengahnya. "Kalau begitu, satu sisi untuk yang sudah punya bukti. Satu lagi untuk yang masih asumsi."

Vio mendekat. "Jangan tulis 'asumsi'. Nanti kita sendiri yang tiga hari lagi membacanya seperti fakta."

Theo menatapnya beberapa saat sebelum menulis belum terverifikasi di bagian atas kolom kedua.

Vio menunjuk tulisan itu. "Nah. Kedengarannya jauh lebih pintar."

"Padahal maksudnya sama."

Selvara membiarkan perdebatan kecil itu berjalan sambil memeriksa kembali salinan Folder 06. Ada sesuatu yang sejak tadi mengganggunya, tetapi bukan isi dokumennya. Ia mengambil salinan lama, menaruhnya di samping cetakan yang mereka dapat dari terminal, lalu mencocokkan bagian bawah kedua halaman.

Tanggal pencetakan berbeda. Itu wajar.

Kode dokumennya juga berbeda karena salah satunya merupakan hasil salinan preservasi.

Namun di sudut kanan bawah terdapat satu rangkaian karakter pendek yang sama.

Selvara menggeser kedua kertas itu ke tengah meja. "Kalian lihat ini?"

Percakapan langsung berhenti.

Theo mendekat lebih dahulu. "Nomor halaman?"

"Awalnya aku kira begitu."

Lyara memutar laptop agar lebih mudah dijangkau, kemudian mengetik rangkaian karakter tersebut ke pencarian lokal yang mereka gunakan untuk mengelompokkan file. Tidak ada hasil.

Vio mengambil salah satu halaman. "Kalau bukan nomor halaman, bisa jadi kode batch."

"Salinan ini dibuat pada waktu berbeda," kata Selvara. "Kalau batch pencetakan, harusnya berubah."

Raviel ikut melihat bagian bawah halaman. "Kode arsip?"

"Mungkin."

Selvara tidak ingin memberi arti lebih dari yang mereka miliki. Kesalahan mereka sejak awal adalah terlalu mudah memperlakukan ketidaksesuaian sebagai petunjuk. Kali ini ia memilih menahan kesimpulan dan memeriksa halaman lain dari kelompok dokumen yang sama.

Halaman kedua tidak memilikinya.

Halaman ketiga juga tidak.

Theo membantu mengambil map lain, sementara Vio mulai memeriksa fotokopi yang tadi ia baca. Beberapa menit berikutnya berlangsung jauh lebih tenang. Mereka membagi tumpukan tanpa perlu banyak bicara, hanya sesekali menyebut nomor halaman atau menyerahkan dokumen kepada orang di sebelahnya.

Lyara yang pertama menemukan kecocokan berikutnya.

"Ada satu."

Ia meletakkan sebuah lembar di samping dua halaman Selvara.

Kode yang sama tercetak di sudut kanan bawah.

Dokumen itu berasal dari kelompok arsip berbeda.

Theo membaca bagian atasnya, lalu ekspresinya berubah. "Ini bukan Folder 06."

"Bukan," jawab Lyara. "Ini daftar peminjaman ruang."

Vio mengambil halaman tersebut dan membaca beberapa baris sebelum menunjuk tanggalnya. "Dan ini lebih tua."

Selvara menarik napas perlahan. Mereka belum menemukan jawaban, tetapi ruang lingkup masalah baru saja berubah. Jika kode tersebut hanya muncul dalam Folder 06, mereka masih bisa menganggapnya sebagai bagian dari sistem penyimpanan dokumen tertentu. Kemunculannya pada arsip lain membuat kemungkinan itu jauh lebih lemah.

Raviel memecah keheningan sebelum suasana kembali terlalu berat. "Oke. Aku tahu tadi kita sepakat nggak menghubungkan semua hal aneh, tapi yang ini boleh masuk kolom mana?"

Theo memandang Selvara.

Selvara mengambil pulpen dan menulis kode tersebut di bagian bawah kertas, terpisah dari dua kolom sebelumnya.

"Belum masuk mana-mana."

Vio tertawa pendek. "Kita bikin kategori ketiga?"

"Kita cari dulu apa artinya."

Lyara kembali ke laptop. "Aku bisa cek indeks dokumen lama besok. Kalau kode ini pernah dipakai sebagai penanda internal, harusnya ada referensinya."

"Besok?" Theo melirik jam di ponselnya dan baru menyadari waktu yang sudah lewat. "Ya. Besok kedengarannya sehat."

Mereka mulai merapikan meja. Raviel memasukkan kartu aksesnya kembali ke dompet, Vio mengembalikan fotokopi ke urutan semula, dan Theo memotret catatan mereka agar tidak ada yang hilang. Selvara mengumpulkan tiga halaman yang memiliki kode serupa, lalu berhenti ketika melihat dokumen peminjaman ruang yang ditemukan Lyara.

Ia mengenali beberapa nama pada daftar itu sebagai siswa lama yang sudah lulus.

Salah satunya pernah ia lihat sebelumnya.

Selvara mencoba mengingat dari mana, tetapi Theo sudah menyerahkan map yang perlu dimasukkan kembali dan pikirannya beralih pada pekerjaan di depannya. Ia menaruh lembar tersebut bersama dua lainnya dan menutup map.

Nama itu tetap berada di sana, tercetak di antara belasan nama lain dalam daftar peminjaman ruang yang tampak biasa yaitu Aven.

Nama Aven baru kembali menarik perhatian Selvara ketika ia membuka foto daftar peminjaman ruang malam itu. Selama di sekolah, ia hanya merasa pernah melihat nama tersebut di tempat lain, dan ingatan itu akhirnya menemukan kaitannya setelah ia membandingkan dokumen lama yang tersimpan di ponselnya. Nama keluarga yang sama pernah muncul dalam beberapa berkas milik keluarganya, meski bukan sesuatu yang sering dibicarakan di rumah.

Aven adalah kakeknya, seseorang yang sudah meninggal jauh sebelum Selvara cukup besar untuk mengenalnya. Itu saja yang benar-benar ia ketahui dengan pasti. Ia tidak memiliki kenangan tentang Aven, tidak pernah mendengar cerita langsung darinya, dan selama ini nama tersebut hanya menjadi bagian kecil dari sejarah keluarga yang jarang mendapat perhatian.

Selvara menahan diri untuk tidak menghubungkan daftar peminjaman ruang dengan persoalan Erian hanya karena satu nama terasa personal. Dokumennya lebih tua, konteksnya berbeda, dan kode kecil di sudut halaman bahkan belum mereka pahami. Ia memperbesar foto sekali lagi dan menemukan bahwa baris Aven mencatat peminjaman salah satu ruang penyimpanan lama di sisi timur. Tidak ada keterangan mengenai tujuan selain equipment inspection, sebuah alasan yang terdengar cukup biasa untuk dokumen fasilitas.

Pagi berikutnya, Selvara membawa temuan itu kepada Theo dan Vio sebelum pelajaran dimulai. Ia menjelaskan hubungan nama tersebut dengan keluarganya tanpa menambahkan dugaan lain, lalu menyerahkan ponselnya agar keduanya bisa melihat halaman yang sama.

Theo membaca baris tersebut lebih lama daripada bagian lain. “Kalau ini memang kakekmu, aku justru nggak mau langsung memasukkannya ke masalah Erian. Dokumennya beda periode dan kita bahkan belum tahu kode di sudut halaman itu apa. Yang kita punya sekarang cuma alasan untuk memastikan identitasnya.”

“Bagus,” sahut Vio sambil mengembalikan ponsel kepada Selvara. “Karena aku sudah mulai takut setiap nama yang kita kenal bakal berubah jadi alasan buat membuka lima lemari arsip lagi. Kalau ternyata Aven cuma pernah meminjam ruang buat mengecek kabel, aku rela menerima akhir yang membosankan itu.”

Selvara menyimpan ponselnya. “Aku juga lebih pilih begitu. Aku bisa tanya Ibu soal pekerjaannya dulu. Kalau memang pernah berhubungan dengan fasilitas atau sekolah, setidaknya daftar ini punya konteks.”

Theo mengangguk, tetapi pikirannya sudah bergerak ke persoalan lain. “Sementara itu kita tetap cari arti kodenya. Kalau kode yang sama muncul di dokumen dari periode berbeda, identitas orang di dalam daftar sebenarnya belum penting sampai kita tahu kenapa halaman-halaman itu mendapat penanda yang sama.”

Vio mengambil bukunya ketika siswa lain mulai memenuhi kelas. “Dan kali ini kita kerjakan satu per satu. Aku masih belum pulih dari pengalaman melihat kalian membuka enam cabang investigasi dalam satu sore.”

“Kamu ikut membuka empat,” kata Theo.

“Itu karena dua sisanya kelihatan nggak menarik.”

Selvara tersenyum mendengar keduanya, lalu pembicaraan berhenti bersama datangnya guru. Untuk beberapa jam berikutnya, urusan arsip kembali kalah oleh pelajaran, tugas kelompok, dan persiapan kegiatan sekolah yang semakin dekat. Selvara bahkan sempat mempertimbangkan menunda pencarian kode itu sampai hari berikutnya, tetapi Lyara mengirim pesan menjelang makan siang bahwa ia sudah menemukan sesuatu di indeks lama.

Mereka berkumpul di perpustakaan setelah makan. Rikuya belum bisa bergabung karena latihan basket, sedangkan Adrian datang bersama Raviel setelah menyelesaikan urusan OSIS. Lyara sudah membuka dua katalog berbeda ketika Selvara, Theo, dan Vio tiba.

“Aku tadinya cari kode itu sebagai nomor arsip, tapi hasilnya kosong,” ujar Lyara sambil memberi ruang di depan laptop. “Terus aku coba pecah formatnya. Ternyata bagian depannya bukan kode dokumen.”

Raviel mengambil salah satu fotokopi dan menunjuk dua karakter pertama. “Ini kode migrasi. Sistem lama pakai penanda seperti ini waktu dokumen fisik mulai dimasukkan ke katalog digital.”

Penjelasan itu membuat Vio langsung terlihat lebih lega. “Nah, akhirnya sesuatu yang normal. Jadi tiga halaman kemarin cuma pernah dipindahkan ke sistem yang sama?”

“Belum tentu.” Adrian membalik fotokopi untuk memeriksa tahun dokumen. “Migrasi dilakukan beberapa kali. Kalau penandanya sama persis, mereka kemungkinan diproses dalam kelompok yang sama, bukan sekadar menggunakan sistem yang sama.”

Theo mendekat ke laptop. “Berarti dokumen dari tahun berbeda bisa masuk satu batch karena disimpan di tempat yang sama.”

“Itu dugaan yang paling sederhana,” kata Lyara. Ia membuka hasil pencarian berikutnya dan menunjukkan daftar pemindahan fisik yang sudah ditemukan Raviel. “Dan sejauh ini cocok. Folder 06, daftar peminjaman ruang, sama satu dokumen fasilitas lain pernah berada di ruang penyimpanan yang sama sebelum didigitalisasi.”

Selvara mengikuti nomor lokasi yang tertera pada layar. Ketiga sumber mengarah ke East Archive Storage B, ruang penyimpanan lama yang sudah tidak digunakan sebagai arsip aktif. Hubungan itu jauh lebih masuk akal daripada dugaan apa pun yang sempat muncul malam sebelumnya. Kode tersebut bukan tanda misterius yang sengaja ditempatkan pada dokumen tertentu, melainkan jejak proses migrasi arsip.

Vio menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Aku suka hari ketika jawaban paling membosankan ternyata benar.”

Adrian tertawa kecil. “Jangan terlalu cepat senang. Kita baru menjelaskan kodenya, bukan kenapa Folder 06 berubah.”

“Biarkan aku menikmati kemenangan kecil selama tiga puluh detik.”

Raviel memanfaatkan jeda itu untuk membuka daftar isi East Archive Storage B. “Yang lebih berguna justru ini. Kalau semua dokumen tadi pernah disimpan di ruangan yang sama, kita bisa lihat kelompok arsip lain yang ikut dipindahkan. Mungkin ada salinan lama Folder 06 yang belum diperbarui.”

Theo tidak langsung meminta Raviel membuka semuanya. Ia membaca daftar kategori lebih dahulu, kemudian menunjuk beberapa kelompok yang tanggalnya berdekatan dengan salinan yang sudah mereka miliki. “Mulai dari yang berhubungan langsung. Kalau nggak ada apa-apa, selesai. Kita nggak perlu mengubah seluruh gudang menjadi tersangka.”

“Terima kasih,” kata Vio. “Akhirnya ada yang memikirkan kesehatan mentalku.”

Lyara tersenyum sambil membuka kategori pertama. “Kemarin kamu yang paling lama bertahan waktu kita sudah mau pulang.”

“Itu beda. Aku penasaran.”

“Bukannya itu masalahnya?”

Vio menatap Lyara beberapa saat, lalu memilih mengambil fotokopi di dekatnya daripada membalas. Adrian tertawa pelan, sementara Selvara membiarkan percakapan itu mengalir tanpa mengembalikan mereka terlalu cepat pada pencarian. Suasana seperti ini justru membuat pekerjaan terasa lebih normal. Mereka masih siswa yang duduk di perpustakaan setelah makan siang, bukan orang-orang yang harus menemukan jawaban setiap kali sebuah dokumen tampak janggal.

Pencarian kategori pertama tidak menghasilkan apa pun. Kategori kedua hanya memuat daftar perawatan ruangan dan inventaris furnitur. Pada kelompok ketiga, Raviel menemukan beberapa formulir peminjaman yang berasal dari periode yang sama dengan daftar Aven. Selvara mengenali nama kakeknya sekali lagi, tetapi kali ini ia tidak sendirian. Ada tiga nama lain yang berulang pada beberapa dokumen, semuanya berkaitan dengan pemeriksaan fasilitas di gedung timur.

Adrian membaca kolom kegiatan sambil berdiri di sisi Raviel. “Ini kelihatannya memang pekerjaan rutin. Pemeriksaan listrik, inventaris alat, pengecekan ruang. Kalau Aven ada di sini karena pekerjaan, nama dia seharusnya muncul di daftar staf atau kontraktor juga.”

Selvara merasa penjelasan itu jauh lebih masuk akal daripada menjadikan kemunculan nama kakeknya sebagai pusat misteri baru. “Kita cukup catat dulu. Aku tetap tanya Ibu nanti, tapi nggak perlu mengejar ini sekarang.”

Theo menambahkan satu baris pada catatannya. “Setuju. Fokus kita masih Erian dan perubahan arsip. Aven baru relevan kalau ada sesuatu yang benar-benar menghubungkan dua periode itu.”

Raviel melanjutkan beberapa halaman sebelum berhenti pada indeks pemindahan terakhir. “Kalau begitu ada satu hal yang mungkin tetap berguna buat Folder 06. East Archive Storage B dikosongkan bertahap. Sebagian dokumen masuk katalog, sebagian dikirim ke preservasi kota, dan beberapa kotak dikembalikan ke unit asal karena dianggap masih aktif.”

Lyara memahami implikasinya lebih dahulu. “Kalau Folder 06 punya lebih dari satu salinan, mungkin salah satunya nggak ikut jalur digitalisasi yang sama.”

“Persis.” Raviel menunjuk kolom lokasi tujuan. “Dan ada satu kotak dari kelompok Folder 06 yang dikembalikan ke sekolah.”

Vio yang tadi sudah terlihat lega kembali mendekat ke meja. “Masih ada?”

“Status terakhirnya belum bilang dibuang.” Raviel membaca kode penyimpanan. “Tapi lokasinya bukan ruang arsip sekarang.”

Adrian mengenali kode itu. “Old Records Annex. Dulu bagian belakang gedung administrasi.”

Theo mengingat bangunan kecil yang sekarang lebih sering dipakai untuk menyimpan perlengkapan acara. “Yang dekat tangga servis?”

“Tempatnya sama,” jawab Adrian. “Sebagian ruangan masih dipakai buat dokumen lama yang belum dipindahkan, tapi aksesnya harus lewat staf. Jangan berharap kita bisa datang lalu bongkar kotak sendiri.”

Selvara menutup salinan Folder 06. “Nggak perlu. Kalau kotaknya memang masih terdaftar, kita minta pengecekan resmi. Kita cuma butuh tahu apakah ada versi lain sebelum data itu dibersihkan.”

Kata terakhir itu membuat Lyara memandangnya sejenak, mungkin karena mengingat pembicaraan mereka tentang arsip yang semakin rapi semakin jauh ditelusuri. Selvara sendiri menyadari pilihan katanya, tetapi tidak mengubahnya. Setelah kasus Erian, mereka sudah melihat bagaimana koreksi administratif dapat membuat satu versi dokumen menjadi dominan sementara versi sebelumnya perlahan menghilang dari jalur utama. Tidak selalu ada niat buruk di baliknya. Justru karena proses itu normal, jejak lama bisa lenyap tanpa ada yang merasa sedang menghapus sesuatu.

Mereka mengakhiri pencarian setelah Raviel mencatat nomor kotak dan Adrian memastikan siapa yang dapat dimintai izin. Tidak ada alasan untuk pergi ke annex sore itu. Selvara juga masih harus membantu persiapan kegiatan sekolah, sementara Lyara punya latihan dan Rikuya kemungkinan baru selesai menjelang sore.

Sebelum menutup katalog, Raviel memperbesar daftar isi kotak untuk memastikan nomor Folder 06 memang tercantum. Beberapa judul lama muncul sebagai teks pendek yang sebagian sudah tidak sesuai dengan katalog modern.

Selvara hanya sempat membaca sekilas sebelum layar ditutup.

Di antara daftar inventaris, formulir fasilitas, dan dokumen peminjaman lama, ada satu judul yang tidak ia kenali.

Bukan nama proyek atau istilah yang pernah mereka temukan.

Hanya sebuah formulir pemeriksaan ruangan dari tahun 1995.

Pada kolom petugas tercantum empat nama.

Salah satunya Aven.

Tiga lainnya masih asing bagi Selvara.

Namun di samping nama Aven terdapat tanda kecil yang tidak muncul pada baris lain, seolah seseorang pernah menandainya untuk diperiksa kembali dan kemudian membiarkannya tetap berada di sana.

Mereka belum punya alasan untuk menganggap tanda itu penting.

Karena itu Selvara hanya mencatat nomor kotaknya sebelum pergi.

Old Records Annex ternyata tidak seterlantar yang dibayangkan Vio. Dari luar, bangunan kecil di belakang gedung administrasi memang tampak jarang digunakan, dengan dua jendela tinggi yang sebagian tertutup rak dari sisi dalam dan cat kusen yang mulai kusam. Namun begitu Adrian membuka pintu bersama staf fasilitas pada sore berikutnya, ruangan di baliknya lebih menyerupai gudang kerja yang kehilangan fungsi utama daripada tempat yang benar-benar ditinggalkan. Kotak perlengkapan acara memenuhi sisi depan, beberapa papan pengumuman lama disandarkan pada dinding, sedangkan rak arsip masih bertahan di bagian belakang dengan label yang sudah berubah warna.

“Jadi selama ini kita punya tempat seperti ini di sekolah dan nggak pernah kepikiran masuk?” Vio mengikuti Selvara melewati tumpukan kursi lipat. “Aku mulai merasa separuh sekolah cuma terdiri dari ruangan yang baru muncul setelah Raviel menemukan kode tertentu.”

Raviel yang berjalan di depan bersama Adrian langsung membela diri. “Aku bahkan nggak tahu annex ini masih menyimpan arsip. Kalau semua ruangan aneh otomatis jadi tanggung jawabku, aku minta kenaikan jabatan yang sebenarnya nggak aku punya.”

Theo menahan pintu agar Lyara bisa masuk sambil membawa daftar nomor kotak. “Aku lebih khawatir kalau suatu hari dia benar-benar dapat jabatan khusus cuma karena terlalu sering muncul di depan ruang terkunci.”

“Kalau ada tunjangannya, aku pertimbangkan,” balas Raviel.

Selvara tersenyum kecil sambil mengikuti staf fasilitas menuju rak belakang. Percakapan itu membuat tempat tersebut kehilangan sebagian kesan asingnya. Debu tetap terlihat pada beberapa permukaan yang jarang disentuh, tetapi ruangan ini bukan ruang rahasia. Staf sekolah masih masuk untuk mengambil perlengkapan, dan arsip lama hanya kebetulan bertahan di bagian yang belum dibutuhkan untuk fungsi lain.

Rikuya belum bisa datang karena latihan basket kembali bertepatan dengan waktu akses yang diberikan staf. Selvara sudah mengirim nomor kotak dan alasan pemeriksaannya kepadanya, sehingga ia tidak perlu mengejar penjelasan terpisah nanti. Mereka juga sepakat tidak akan membongkar seluruh isi annex. Tujuannya tetap sempit: menemukan kotak yang pernah dikembalikan dari East Archive Storage B dan memeriksa apakah salinan Folder 06 di dalamnya berbeda dari versi katalog.

Staf fasilitas menemukan nomor yang mereka cari pada rak kedua dari belakang. Kotaknya lebih besar daripada perkiraan Selvara, dengan label lama yang sebagian tertutup stiker inventaris baru. Adrian membantu menurunkannya ke meja kerja, lalu staf membuka segel penyimpanan setelah mencatat waktu dan nama mereka pada formulir pemeriksaan.

Vio melihat isi pertama yang muncul dan segera kehilangan sebagian antusiasmenya. “Aku tahu kita datang buat arsip, tapi entah kenapa aku tetap berharap isinya sedikit lebih menarik daripada formulir.”

Lyara berdiri di sampingnya sambil membaca label map paling atas. “Kalau isinya tiba-tiba tengkorak, kamu juga yang pertama minta kita pulang.”

“Itu justru alasan yang sangat bagus untuk pulang.”

Theo sudah membantu Raviel mencocokkan urutan dokumen dengan daftar isi. “Kalian boleh debat soal standar hiburan setelah kita selesai. Folder 06 harusnya di bagian tengah.”

Mereka bekerja tanpa terburu-buru. Adrian memindahkan map satu per satu sesuai arahan staf, Raviel memeriksa kode, sedangkan Theo mencatat setiap dokumen yang dikeluarkan agar urutannya mudah dikembalikan. Selvara dan Lyara membaca judul serta tanggal, sementara Vio mengambil foto label hanya ketika staf mengizinkan. Cara itu jauh lebih lambat daripada pencarian digital, tetapi justru membuat susunan arsip lama terlihat lebih jelas. Dokumen yang sekarang tersebar ke beberapa kategori pernah disimpan berdampingan hanya karena berasal dari ruangan, kegiatan, atau periode administrasi yang sama.

Folder 06 akhirnya muncul di bawah dua map inventaris fasilitas.

Sampulnya berbeda dari salinan yang selama ini mereka kenal.

Bukan hanya karena usia. Judul pada label masih menggunakan nama lama yang pernah muncul pada salinan preservasi, sebelum katalog modern menggantinya dengan nama yang sekarang. Selvara tidak mengatakan apa pun sampai staf memberi izin untuk membuka map tersebut.

Halaman pertama memuat daftar inventaris biasa. Halaman berikutnya berisi formulir penggunaan ruangan, catatan pemindahan perlengkapan, dan beberapa koreksi tulisan tangan yang kemudian sudah masuk ke versi digital. Tidak ada nama Erian. Tidak ada penjelasan mengenai perubahan judul folder. Selvara terus membaca sampai Theo menemukan satu halaman yang nomor urutnya berbeda dari katalog.

“Versi digital lompat dari dua puluh tujuh ke dua puluh sembilan,” ujar Theo sambil menunjukkan catatannya. “Di sini ada dua puluh delapan.”

Raviel memeriksa indeks pada laptop kecilnya. “Nomornya memang nggak terdaftar.”

Vio mendekat, tetapi kali ini ia tidak langsung memperlakukan perbedaan tersebut sebagai sesuatu yang mencurigakan. “Isinya apa?”

Selvara membaca halaman itu sebelum menjawab. “Catatan pemeriksaan ruang.”

Tanggalnya 1995.

Nama Aven muncul di bagian petugas bersama tiga nama yang mereka lihat kemarin.

Adrian mengambil daftar isi kotak dan membandingkannya. “Ini formulir yang muncul di katalog annex. Berarti halaman fisiknya masih ada, cuma nggak masuk Folder 06 versi digital.”

“Bisa jadi karena dianggap dokumen fasilitas yang salah tempat,” kata Raviel. Ia menunjukkan cap klasifikasi lama di bagian atas. “Lihat ini. Kodenya bukan kategori yang sama dengan halaman lain.”

Theo menerima penjelasan itu sambil tetap mencatat perbedaannya. “Kalau begitu kita perlakukan sebagai dokumen terselip sampai ada alasan untuk menganggap sebaliknya.”

Vio menunjuk Theo dengan ujung pulpen. “Aku ingin kalimat itu dicetak besar dan ditempel di meja kita.”

Lihat selengkapnya