CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #23

Ordinary Days

Chapter 2 - Episode 1

Beberapa hari setelah percakapan terakhir dengan Elise, sekolah kembali menyita perhatian Selvara dengan persoalan yang jauh lebih dekat daripada Erian, E-204, ataupun satu kata yang muncul pada catatan Aven dan kotak dalam foto lama. Persiapan festival mulai memasuki jadwal resmi. Papan pengumuman di depan ruang OSIS dipenuhi pembagian area, perubahan penggunaan kelas, jadwal latihan klub, daftar perlengkapan, serta nama siswa yang bersedia membantu setelah jam pelajaran. Aula mulai dikosongkan sejak pagi, beberapa meja dipindahkan ke gudang sementara, dan koridor gedung utama lebih ramai karena panitia berkali-kali melewati kelas sambil membawa kardus dekorasi. Kehidupan sekolah tetap berjalan meskipun Selvara sekarang mengetahui bahwa sebuah negatif foto dapat menunjukkan seseorang berada di depan kamera ketika seorang saksi mengingat orang yang sama berdiri di belakangnya. Mereka belum menemukan penjelasan untuk kontradiksi tersebut dan Selvara juga tidak ingin menghabiskan setiap hari dengan mengulang dua kemungkinan yang sama.

Elise bisa salah mengingat siapa yang memegang kamera, sementara foto dan negatifnya tetap benar. Kemungkinan lain jauh lebih sulit dijelaskan, sehingga belum ada gunanya membicarakannya sebelum mereka memperoleh sumber tambahan. Theo menyimpan semua catatan wawancara secara terpisah, Lyara masih menunggu kabar dari beberapa alumni, dan kata Dawn tetap berada di daftar mereka tanpa pencarian lanjutan. Kesepakatan itu membuat pagi Selvara dapat dimulai dengan sesuatu yang lebih sederhana: membantu Vio membawa gulungan kertas besar yang hampir mengenai dua siswa ketika mereka masuk kelas.

Vio meletakkan gulungan itu di belakang ruangan dan menatap sketsa dekorasi yang ditempel pada papan. “Awalnya aku cuma diminta pilih bahan. Kemarin namaku sudah ada di bagian dekorasi, pagi ini aku disuruh bawa benda sepanjang ini, dan sampai sekarang aku belum tahu kami sebenarnya mau bikin apa. Kalau besok aku tiba-tiba jadi penanggung jawab, aku nggak akan terkejut lagi.”

Theo baru saja meletakkan tas ketika mendengar keluhannya. “Kamu terlalu sering bilang iya sebelum orang selesai menjelaskan. Lama-lama mereka menganggap itu persetujuan permanen.”

“Aku bilang iya karena waktu itu cuma diminta bantu pilih kertas.” Vio menunjuk gulungan yang baru dibawanya. “Menurutmu benda itu masih terlihat seperti urusan memilih kertas?”

Selvara menahan tawa sambil memeriksa sketsa yang sejak tadi diprotes Vio. “Kalau kamu memang nggak mau mengerjakan bagian itu, bilang ke koordinatornya sebelum pembagian tugas berikutnya. Jangan tunggu sampai dekorasinya setengah jadi baru menghilang.”

Vio memandang Selvara sejenak sebelum menarik satu kursi. “Nah, itu saran yang masuk akal. Theo dari tadi cuma menikmati penderitaanku.”

Percakapan mereka terputus ketika wali kelas masuk membawa beberapa lembar pengumuman festival. Selama dua jam berikutnya, pembagian tugas dan perubahan jadwal menjadi persoalan utama di kelas. Salah satu kelompok membutuhkan tambahan meja, stan makanan harus dipindahkan karena terlalu dekat dengan jalur listrik sementara, dan beberapa siswa mulai berdebat mengenai siapa yang harus menjaga kelas ketika kegiatan utama berlangsung di aula. Selvara beberapa kali ikut memberikan pendapat ketika diminta, tetapi ia tidak mengambil alih. Ada sesuatu yang menyenangkan dari persoalan yang dapat diselesaikan melalui daftar, jadwal, dan pembicaraan dengan orang yang tepat. Tidak ada dua versi kejadian yang saling meniadakan. Jika sebuah ruangan sudah dipakai, mereka cukup mencari ruangan lain.

Saat makan siang, Adrian menemukan Selvara di depan ruang OSIS. Ia membawa dua formulir peminjaman fasilitas bersama satu map yang sudah dipenuhi catatan tambahan, sementara dua anggota pengurus lain masih memindahkan nama kegiatan pada papan jadwal di dalam ruangan.

“Kalau kamu belum buru-buru ke kantin, aku butuh pendapatmu sebentar.” Adrian membuka map sambil berjalan masuk bersamanya. “Klub musik masih latihan sampai pukul lima hari Jumat. Panitia panggung minta masuk setengah jam sebelumnya karena perlengkapannya banyak. Dua pihak sama-sama sudah dapat persetujuan sebelum jadwal digabung.”

Selvara membaca kedua formulir tersebut dan langsung mengenali jenis masalah yang dahulu sering muncul menjelang acara besar. Ia tidak perlu memilih salah satu kegiatan untuk dikorbankan. Denah penggunaan gedung menunjukkan pintu aula di sisi lain dapat digunakan panitia panggung tanpa melewati ruang latihan, sedangkan beberapa perlengkapan klub musik tidak perlu dipindahkan sama sekali jika jalur pengangkutan diubah.

“Panitia panggung bisa mulai dari sisi aula,” ujar Selvara sambil menunjukkan jalurnya pada denah. “Mereka masukkan rangka dan dekorasi besar dulu. Klub musik tetap latihan sampai selesai, baru perlengkapan yang melewati koridor ini dipindahkan setelah pukul lima. Mereka kehilangan setengah jam di satu jalur, tapi pekerjaan lain tetap bisa dimulai.”

Adrian mengikuti jalur yang ditunjukkan Selvara, kemudian memanggil salah satu anggota OSIS agar ikut melihatnya. “Kalau akses samping dibuka, kita juga nggak perlu minta klub musik mengangkat alat dua kali. Aku tadi terlalu fokus cari ruangan pengganti sampai lupa panggung punya jalur masuk sendiri.”

Anggota OSIS di sebelahnya langsung membawa denah tersebut ke papan jadwal untuk memeriksa apakah pintu samping berbenturan dengan kebutuhan kelompok lain. Adrian menutup formulir pertama sambil menatap Selvara dengan senyum kecil. “Kamu masih cepat kalau urusannya begini.”

“Karena dulu kalau jadwal bentrok, semua orang datang ke ruang ini dan menjelaskan masalahnya bersamaan. Lama-lama pilihannya cuma belajar menyelesaikan atau kabur lewat jendela.”

Adrian tertawa. “Aku mulai memahami pilihan kedua.”

Percakapan mereka berkembang ke beberapa kebutuhan festival lain. Selvara membantu memeriksa pembagian ruangan dan menemukan satu kelas yang tercatat untuk dua kegiatan pada Sabtu pagi. Kali ini Adrian sendiri yang menemukan solusinya dengan memindahkan salah satu kelompok ke laboratorium yang tidak digunakan. Mereka bekerja hampir sampai jam makan siang berakhir, dan Selvara menyadari tidak seorang pun di ruangan itu memperlakukannya seperti orang luar. Beberapa siswa masih terbiasa meminta pendapatnya, sedangkan Adrian tidak keberatan memberinya ruang untuk ikut menyelesaikan masalah. Posisi yang pernah ia miliki belum kembali, tetapi hubungannya dengan OSIS perlahan bergerak dari sesuatu yang hanya tersisa dalam ingatan menjadi bagian nyata dari kesehariannya lagi.

Ketika Selvara hendak pergi, Adrian menyerahkan satu salinan jadwal yang baru mereka koreksi. “Simpan ini kalau kamu mau. Besok kami cocokkan lagi dengan jadwal klub. Beberapa orang mengubah waktu lewat pesan tapi lupa memperbarui lembar utama, jadi aku sedang mengejar versi mana yang benar-benar dipakai.”

Selvara menerima kertas tersebut. “Kalau perubahan lewat pesan terus dibiarkan terpisah, minggu depan kalian bakal punya tiga jadwal yang semuanya dianggap terbaru.”

“Itu yang sedang terjadi.”

“Berarti jangan cari aku besok buat membandingkan tiga lembar. Suruh semua koordinator memperbarui satu jadwal yang sama.”

Adrian tersenyum mendengar nada yang sudah terlalu dikenalnya. “Kadang aku lupa kamu sudah nggak memimpin OSIS.”

Selvara memasukkan salinan jadwal ke dalam mapnya. “Aku belum lupa.”

Kalimat itu tidak membuat suasana berubah canggung. Adrian memahami perbedaan antara mengingat posisi lama dan menuntutnya kembali begitu saja. Ia hanya mengangguk kecil sebelum beralih memanggil anggota lain yang masih mengurus papan jadwal, sementara Selvara meninggalkan ruang OSIS dengan pikiran yang sedikit lebih ringan. Upayanya untuk kembali tidak harus dimulai melalui satu keputusan besar. Jika orang-orang kembali melihatnya sebagai seseorang yang dapat dipercaya ketika pekerjaan menjadi rumit, mungkin itu justru dasar yang lebih kuat daripada sekadar meminta jabatan yang pernah dimilikinya.

Selepas pelajaran, kegiatan festival membuat kelompok mereka tersebar ke beberapa bagian sekolah. Rikuya sudah berada di gedung olahraga untuk latihan basket. Theo membantu mengukur area stan kelas, sedangkan Vio akhirnya menemukan bahwa gulungan kertas yang dibawanya sejak pagi akan dijadikan bagian dari dekorasi pintu masuk dan langsung mengeluh karena bentuk akhirnya ternyata membutuhkan lebih banyak pekerjaan daripada perkiraannya. Adrian masih berada di ruang OSIS bersama panitia. Selvara sendiri membawa salinan jadwal baru ke gedung musik karena perubahan akses aula perlu diketahui Lyara sebelum latihan selesai.

Suara keyboard dan gitar sudah terdengar sebelum Selvara masuk. Beberapa anggota klub sedang mencoba lagu yang tampaknya belum mereka kuasai sepenuhnya. Bagian awal berhenti dua kali karena tempo tidak cocok, kemudian Lyara meminta mereka mengulang dari beberapa bar sebelumnya. Selvara menunggu di dekat pintu sampai percobaan ketiga selesai, lalu menyerahkan jadwal kepada Lyara ketika yang lain mulai membicarakan bagian yang perlu diperbaiki.

“Jadi kami tetap dapat ruang sampai pukul lima?” Lyara membaca perubahan akses aula dan segera memahami pembagiannya. “Bagus. Kalau dipindah ke ruang kecil, keyboard sama ampli harus dibawa dua kali. Yang capek bukan cuma orangnya, kabelnya juga bakal mulai punya dendam.”

“Adrian tadinya mau cari ruang pengganti. Jalur aula ternyata bisa dipisah.”

Lyara menaruh jadwal di dekat laptop. “Aku akan kasih tahu pembina. Setidaknya satu hal hari ini selesai sebelum berubah lagi.”

Lagu yang tadi dimainkan kembali terdengar dari speaker laptop ketika salah satu anggota mencari bagian referensi. Selvara mengenali melodinya. Selama beberapa minggu terakhir lagu itu beberapa kali terdengar dari kafe dekat halte, toko yang ia lewati sepulang sekolah, bahkan dari ponsel siswa lain ketika jam istirahat. Ia tidak pernah mencari judulnya karena selama ini lagu tersebut hanya menjadi bagian dari suara kota yang terus berganti.

Lyara menangkap perubahan kecil pada ekspresinya. “Kamu tahu lagunya?”

“Sering dengar, tapi baru sekarang aku tahu bagian awalnya seperti itu. Biasanya pas aku dengar sudah masuk refrein.”

“Wajar. Bagian itu yang sering dipakai di radio sama video pendek.” Lyara membuka catatan aransemen di samping laptop. “Pembina minta kami bawakan satu lagu yang orang langsung kenal. Versi aslinya banyak lapisan vokal, jadi kalau kami salin mentah-mentah hasilnya malah kehilangan bagian yang menarik.”

Nama penyanyi tercantum tepat di bawah judul lagu.

Asyeera.

Selvara membaca nama tersebut sekali lalu kembali memperhatikan catatan Lyara. Tidak ada sesuatu yang membuatnya perlu mengingat nama itu lebih lama daripada penyanyi lain yang lagunya sering diputar. Lyara sendiri lebih tertarik membicarakan aransemennya.

“Bagian tengahnya masih kosong kalau cuma keyboard sama gitar,” lanjut Lyara. “Aku kepikiran masukin perkusi lebih awal, tapi kalau terlalu ramai, refreinnya nanti nggak punya ruang buat naik. Tadi kami coba tiga versi dan semuanya punya masalah sendiri.”

Selvara mendengarkan salah satu rekaman percobaan dari ponsel Lyara. “Versi kedua lebih enak. Bagian awalnya masih mirip yang biasa aku dengar, terus baru berubah setelah masuk bagian tengah.”

“Nah, aku juga lebih suka yang itu.” Lyara langsung memanggil salah satu anggota lain dan menjelaskan perubahan yang baru mereka sepakati, lalu percakapan berkembang menjadi perdebatan kecil mengenai tempo. Selvara tidak ikut campur karena istilah yang mereka gunakan sudah mulai terlalu teknis baginya. Ia hanya duduk sebentar di sisi ruangan sambil mendengarkan mereka mencoba lagi.

Nama Asyeera segera tenggelam di antara hitungan tempo, bunyi kabel yang dipindahkan, dan komentar anggota klub yang merasa bagian tertentu masih terlalu cepat.

Itulah pertama kalinya nama tersebut benar-benar masuk ke keseharian Selvara.

Tidak ada alasan baginya untuk menganggapnya lebih penting daripada lagu festival lainnya.

Ketika latihan berhenti untuk istirahat, Theo muncul di pintu sambil membawa meteran yang tadi dipakainya bersama kelas. Ia menunggu sampai Lyara selesai berbicara dengan anggota lain sebelum menunjukkan ponselnya kepada Selvara.

“Elise kirim satu foto lagi. Kali ini bukan foto kegiatan.”

Selvara membaca pesan yang diteruskan Theo. Elise menemukan agenda lama yang ia gunakan selama kegiatan klub. Tulisan tangannya sendiri mencatat urutan beberapa pekerjaan pada hari dokumentasi E-204. Ada pemindahan keyboard, pemeriksaan kabel, persiapan ruangan, lalu satu catatan pendek setelah sesi dokumentasi.

Erian - return storage key.

Tidak ada waktu yang dicantumkan.

Selvara memperbesar foto agenda secukupnya untuk melihat bahwa baris tersebut memang berada di antara catatan lain pada halaman yang sama. “Ini membantu memastikan Elise memang mengenal Erian waktu itu. Tapi belum menjelaskan soal kamera.”

“Aku juga sampai ke situ.” Theo memasukkan kembali ponselnya. “Kalau ingatannya soal siapa yang mengambil foto ternyata salah, agenda ini tetap membuktikan nama Erian sudah ada di catatannya sejak dulu. Jadi dua hal itu jangan kita jadikan satu bukti.”

Lyara yang sudah selesai dengan latihan ikut membaca foto dari ponsel Theo. “Aku bisa tanya Elise soal kunci penyimpanan nanti, tapi jangan malam ini. Kemarin dia sudah bongkar banyak barang cuma buat cari agenda itu. Kalau kita terus kasih pertanyaan baru setiap kali dia menemukan sesuatu, dia malah ikut menyelidiki untuk kita.”

“Dan jawabannya bisa mulai berubah karena dia tahu apa yang sedang kita cari,” tambah Selvara. “Simpan dulu.”

Theo setuju. Mereka bahkan tidak membuka kembali scan exposure sembilan belas. Kontradiksi yang menutup pencarian mereka sebelumnya masih ada, tetapi hari itu tidak menghasilkan sesuatu yang dapat menyelesaikannya. Agenda Elise menambah kepastian bahwa Erian bukan nama yang baru muncul karena mereka menunjukkan foto, dan untuk sementara itu sudah cukup.

Vio datang beberapa menit kemudian dengan sisa potongan kertas masih menempel pada lengan seragamnya. Ia melihat ketiganya berkumpul di dekat laptop dan langsung menunjuk dirinya sendiri sebelum mereka sempat menjelaskan. “Kalau kalian baru menemukan arsip lain, aku minta waktu lima menit buat duduk dulu. Dekorasi pintu masuk ternyata dirancang oleh orang yang jelas-jelas membenci tangan manusia.”

Theo menunjukkan foto agenda. “Cuma catatan lama Elise.”

Vio membacanya, lalu menarik kursi di samping Selvara. “Jadi dia memang kenal Erian dari dulu. Bagus. Yang soal foto masih belum berubah, kan?”

“Belum,” jawab Selvara. “Dan kita nggak akan memaksanya berubah hari ini.”

“Syukurlah. Aku sudah cukup melihat benda yang harus dipaksakan berubah bentuk sejak siang.”

Lyara tertawa sambil mengambil satu potongan kertas dari lengan Vio. “Kamu bahkan masih bawa sebagian dekorasinya.”

Vio baru menyadari potongan itu menempel di seragamnya. “Aku benci festival.”

“Kemarin kamu bilang penasaran hasil akhirnya.”

“Aku masih penasaran. Itu nggak berarti aku harus menyukai prosesnya.”

Rikuya akhirnya bergabung ketika latihan basket selesai. Ia hanya mendapat ringkasan singkat karena sebagian besar dari mereka sudah bersiap pulang. Ketika membaca foto agenda Elise, reaksinya lebih tertarik pada kunci penyimpanan daripada kontradiksi foto.

“Kalau Erian yang balikin kunci, berarti dia memang punya akses ke tempat penyimpanan alat. Mira bilang dia sering bantu ambil barang, kan? Itu malah cocok.”

Theo mengangguk. “Iya. Untuk bagian itu, semua cerita masih bertemu di tempat yang sama.”

“Bagus. Jangan cari masalah di bagian yang memang cocok.” Rikuya memasukkan ponselnya kembali ke saku. “Aku lebih pengin tahu kenapa orang-orang kenal dia tapi nggak ada yang tahu dia sebenarnya dari kelas mana. Tapi itu juga bisa ditunggu. Besok aku latihan lagi, jadi kalau kalian tiba-tiba menemukan jawaban seluruh hidup Erian, kirim ringkasannya.”

Vio menatap tas olahraga Rikuya. “Kamu selalu bilang begitu seolah kami sengaja memilih waktu latihanmu buat menemukan hal aneh.”

“Sejauh ini buktinya mendukung.”

Percakapan itu mengikuti mereka sampai keluar gedung musik. Di persimpangan koridor, Lyara kembali karena masih harus menyelesaikan latihan, Rikuya menuju ruang ganti, sedangkan Adrian belum selesai dengan urusan festival. Selvara berjalan bersama Theo dan Vio menuju kantin sebelum pulang.

Televisi kecil yang dipasang di sudut ruangan sedang menayangkan berita lokal. Beberapa siswa masih duduk di meja dekat jendela, tetapi sebagian besar kursi sudah kosong. Selvara membeli minuman sementara Vio memperhatikan layar karena nama salah satu jalan yang disebut presenter terdengar familier.

“Sebentar, itu rute busku.”

Laporan tersebut membahas penutupan beberapa ruas jalan pada Sabtu pagi untuk kegiatan kota. Peta pengalihan muncul di layar, menunjukkan kendaraan umum akan diarahkan melalui jalur utara sebelum kembali ke rute utama setelah melewati pusat kegiatan.

Theo ikut membaca teks di bagian bawah layar. “Mulainya jam enam. Kamu tetap kena kalau datang buat festival.”

Vio segera membuka situs transportasi melalui ponselnya. “Kalau bus berhenti di persimpangan utara, aku harus jalan lebih jauh. Nggak parah, cuma berarti aku nggak boleh bangun telat.”

Selvara melihat rute yang ditampilkan di ponsel Vio. Informasinya sama dengan berita televisi. “Turun dua halte sebelum pusat kota. Dari sana lebih dekat kalau lewat jalan samping sekolah.”

“Bisa. Aku simpan dulu pemberitahuannya, daripada Sabtu pagi aku baru sadar busnya belok ke tempat lain.”

Vio mengambil tangkapan layar pengumuman transportasi sebelum memasukkan ponselnya ke tas. Tidak ada seorang pun yang menganggapnya penting setelah itu. Theo mulai membicarakan stan kelas yang ukurannya berubah karena salah satu meja tidak jadi dipakai, sedangkan Selvara mengingatkan Vio agar tidak meninggalkan gulungan dekorasinya di kelas semalaman jika masih dibutuhkan kelompok lain.

Mereka keluar dari kantin beberapa menit kemudian.

Berita di televisi beralih ke laporan hiburan. Wajah Asyeera muncul sebentar dalam segmen mengenai lagu yang sedang naik di beberapa tangga musik lokal. Selvara sudah berada di koridor ketika nama itu disebut, sehingga tidak mendengarnya. Seorang siswa yang masih makan hanya menaikkan volume sedikit ketika cuplikan lagu diputar, lalu kembali melihat ponselnya.

Semuanya berlangsung seperti sore sekolah biasa.

Festival akan datang. Rikuya masih harus membagi waktunya dengan basket. Lyara sedang mengubah aransemen lagu yang kebetulan populer. Adrian sibuk menjaga jadwal OSIS agar tidak saling bertabrakan, sementara Selvara perlahan menemukan tempat untuk ikut bekerja di antara orang-orang yang dahulu pernah dipimpinnya. Erian masih menyisakan pertanyaan, tetapi pertanyaan itu tidak menghentikan hidup mereka.

Di halte, Vio membuka kembali tangkapan layar pemberitahuan transportasi untuk memastikan jam keberangkatan yang harus ia pilih pada Sabtu pagi.

Jalur utara masih terlihat jelas di gambar yang ia simpan.

Namun ketika ia membuka halaman transportasi kota sekali lagi, peta terbaru menunjukkan rute pengalihan yang berbeda. Bus sekarang diarahkan melalui jalan barat, sedangkan pemberitahuan di bawahnya mencantumkan waktu pembaruan hampir satu jam sebelum mereka menonton berita di kantin.

Vio mengerutkan alis. “Lho, tadi bukan lewat sini.”

Theo melihat layar dari samping. “Mungkin situsnya baru memperbarui peta, tapi jam pembaruannya belum ikut berubah.”

“Bisa jadi.” Vio membandingkan tangkapan layarnya dengan halaman yang sedang terbuka. “Untung aku cek lagi. Kalau nggak, Sabtu aku nunggu bus yang nggak datang.”

Selvara ikut melihat kedua peta itu. Perbedaannya jelas, tetapi persoalan seperti ini bukan sesuatu yang layak menghabiskan sore mereka. Jadwal transportasi berubah, situs terlambat memperbarui informasi, dan stasiun televisi bisa saja menerima data yang berbeda. Setelah beberapa hari menghadapi catatan tahun 1995 dan foto yang saling bertentangan, kesalahan pada pengumuman bus justru terasa sangat biasa.

Vio menutup halaman tersebut dan menyimpan rute terbaru.

Mereka melanjutkan perjalanan.

Tangkapan layar lama tetap berada di galeri ponselnya, mencatat jalur utara yang menurut situs resmi seharusnya sudah diganti sebelum berita itu ditayangkan.

Tak seorang pun menghapusnya.

Dan kali ini, tak seorang pun merasa perlu mencari tahu mengapa dua sumber yang mereka percayai kembali memberikan jawaban berbeda. Perubahan rute bus tidak kembali dibicarakan keesokan paginya. Vio sudah berangkat lebih awal sebagai antisipasi untuk akhir pekan, lalu menghabiskan sebagian perjalanan menuju kelas dengan mengeluhkan dekorasi pintu masuk yang kembali direvisi setelah kelompoknya menyadari ukuran rangka tidak sesuai dengan sketsa. Bagi Selvara, persoalan di halte kemarin juga sudah selesai ketika Vio menyimpan jadwal terbaru. Tangkapan layar lama tetap ada di ponselnya, tetapi perbedaan informasi transportasi masih terlalu mudah dijelaskan sebagai pembaruan sistem yang terlambat muncul pada salah satu layanan.

Festival justru semakin sulit diabaikan. Koridor lantai dasar mulai dipenuhi penanda area, aula sudah memiliki garis pembatas untuk posisi panggung, dan beberapa ruang kelas kehilangan sebagian meja karena dipinjam untuk stan. Selvara kembali membantu Adrian pada jam makan siang setelah dua koordinator datang membawa versi jadwal yang berbeda. Kali ini ia tidak perlu memeriksa semuanya dari awal. Adrian sudah meminta seluruh perubahan dikumpulkan ke satu lembar utama seperti saran Selvara kemarin, sehingga mereka hanya perlu mencari dari mana perbedaan itu berasal.

Adrian menaruh dua formulir di samping jadwal utama. “Yang ini diajukan Senin, lalu kelompoknya minta pindah waktu lewat pesan Selasa malam. Masalahnya, orang yang menerima pesan cuma memperbarui daftar panitia panggung. Jadwal ruangan tetap pakai waktu lama.”

Selvara mencocokkan kedua lembar tersebut sebelum memberi tanda pada waktu yang sudah tidak berlaku. “Berarti jangan ubah jadwalnya lagi. Perbaiki sumber yang masih memakai versi lama, lalu minta koordinator memastikan perubahan berikutnya masuk ke lembar utama.”

“Aku sudah mulai curiga setengah pekerjaan OSIS menjelang festival sebenarnya cuma memastikan semua orang membaca dokumen yang sama.” Adrian mengambil formulir lama dan menulis keterangan pembatalan di sudutnya. “Dulu aku pikir masalah paling besar pasti kekurangan ruangan atau anggaran. Ternyata dua orang menyimpan jadwal berbeda saja sudah cukup bikin satu lantai ribut.”

Selvara tersenyum tipis karena pernah menghadapi keadaan serupa berkali-kali. “Makanya jadwal utama harus jelas siapa yang mengubah dan kapan. Kalau cuma mengandalkan pesan, tiga hari lagi orang mulai bilang mereka nggak pernah menerima perubahan.”

Salah satu anggota OSIS yang sejak tadi memperbarui papan jadwal ikut menyahut bahwa ia akan menambahkan kolom waktu revisi pada salinan digital. Percakapan kemudian bergerak ke pembagian tugas lain tanpa Adrian perlu menanyakan setiap keputusan kepada Selvara. Ia beberapa kali mengajukan pendapat sendiri, Selvara menambahkan hal yang terlewat, lalu anggota lain ikut memperbaiki bagian yang berkaitan dengan kelompok mereka. Cara bekerja itu membuat Selvara merasa lebih nyaman dibanding sekadar diminta menyelesaikan masalah satu per satu. Ia tidak sedang mengambil kembali meja lamanya melalui jalan belakang. Ia hanya kembali terlibat dalam pekerjaan yang memang ia pahami.

Ketika sebagian urusan selesai, Adrian menyandarkan map ke sisi meja. “Kalau festival lewat tanpa ada dua kelompok datang ke ruangan yang sama, aku akan menganggap minggu ini berhasil.”

“Standarmu turun cepat.”

“Standarku menyesuaikan kenyataan.”

Selvara hampir membalas ketika seorang anggota OSIS masuk membawa ponsel dan mengatakan jadwal pembukaan festival baru saja berubah. Adrian sempat menatap Selvara dengan ekspresi yang membuat keduanya memahami ironi waktunya, tetapi perubahan itu ternyata hanya pergeseran lima belas menit karena pihak sekolah ingin memberi ruang lebih panjang untuk sambutan. Mereka memperbaruinya, mengirim salinan kepada koordinator, lalu memastikan perubahan tersebut tercatat di tempat yang sama.

Tidak ada yang membingungkan.

Tidak ada versi yang mustahil berdampingan.

Hanya kesalahan koordinasi yang dapat ditelusuri sampai orang yang mengubahnya.

Perbedaan itu baru terasa penting bagi Selvara ketika Theo datang membawa makan siang dan melihat mereka masih berada di ruang OSIS. Ia menunggu sampai Adrian selesai berbicara dengan anggota lain sebelum meletakkan ponselnya di dekat Selvara.

“Elise kirim pesan lagi. Bukan jawaban baru soal foto, jadi aku belum membalas panjang.”

Selvara membaca percakapan tersebut. Elise rupanya menemukan satu nama lain dari kelompok dokumentasi lama, seorang siswa bernama Nessa Arden yang terlihat pada beberapa exposure E-204. Elise masih memiliki kontak lama keluarganya dan bertanya apakah Lyara ingin mencoba menghubunginya. Tidak ada tambahan mengenai siapa yang memegang kamera, dan Elise sendiri tidak mengubah cerita sebelumnya.

Theo mengambil kembali ponselnya. “Menurutku kita boleh coba Nessa, tapi jangan sekarang kalau Lyara masih sibuk festival. Kita juga nggak perlu mengejar semua orang yang pernah masuk foto.”

“Cari satu pembanding lagi,” kata Selvara. “Kalau ceritanya tetap berbeda, kita punya cukup alasan untuk berhenti menganggap ini sekadar satu orang salah ingat.”

Adrian yang mendengar bagian terakhir tidak meminta seluruh konteks diulang karena ia sudah mengikuti temuan mereka sebelumnya. “Dan kalau Nessa ingat versi ketiga?”

Theo mengangkat bahu kecil. “Itu malah berguna. Berarti kita tahu ingatan mereka memang sudah berbeda sebelum kita memberi detail apa pun.”

“Kalau begitu jangan jadikan pertanyaan soal kamera sebagai pembuka,” Adrian menambahkan sambil kembali membereskan formulir. “Kalau aku ditanya siapa yang mengambil foto bertahun-tahun lalu, aku mungkin akan menebak dari siapa yang biasanya pegang kamera. Mulai dari harinya dulu, baru sampai ke sana kalau dia memang masih ingat.”

Selvara setuju. Saran Adrian tidak terdengar seperti metode investigasi yang sengaja dirancang; ia hanya memikirkan bagaimana orang biasa mencoba mengingat sesuatu yang sudah lama berlalu. Justru itu yang mereka perlukan.

Selepas makan siang, pembicaraan mengenai Erian kembali berhenti. Selvara mengikuti pelajaran sampai sore, kemudian membantu kelasnya memindahkan beberapa meja sebelum menuju gedung musik. Lyara masih berlatih untuk festival, dan kali ini aransemen lagu Asyeera sudah terdengar lebih utuh. Keyboard masuk lebih awal seperti yang direncanakan kemarin, sementara gitar mengambil bagian yang pada versi rekaman diisi lapisan vokal tambahan. Selvara hanya berhenti sebentar di pintu karena melodinya sekarang mudah dikenali.

Lyara melihatnya setelah lagu selesai. “Versi kedua menang.”

“Yang kemarin?”

“Iya. Perkusinya kami masukin sedikit belakangan, jadi refreinnya nggak langsung penuh.” Lyara mengambil botol minum dari dekat keyboard. “Aku baru sadar lagu ini lebih susah dimainkan daripada kedengarannya. Versi rekamannya bikin semuanya terasa ringan, padahal perpindahan akornya lumayan merepotkan.”

Salah satu anggota klub di belakang mereka menyela bahwa masalah sebenarnya adalah Lyara terlalu banyak mengubah bagian tengah, dan Lyara langsung membalas bahwa ia terpaksa melakukannya karena mereka tidak memiliki tiga penyanyi latar seperti versi asli. Perdebatan kecil itu berkembang menjadi pembicaraan mengenai penampilan festival, lalu salah seorang siswa menunjukkan cuplikan wawancara Asyeera yang baru beredar karena penyanyi tersebut membahas proses pembuatan lagunya.

Selvara ikut melihat beberapa detik ketika ponsel itu diarahkan kepada Lyara. Asyeera tampak seperti figur publik lain yang sudah terbiasa berbicara di depan kamera, menjelaskan bahwa bagian refrein sengaja dibuat sederhana agar mudah diingat setelah sekali mendengar. Lyara justru tertarik ketika Asyeera menyebut salah satu instrumen yang hampir dihapus dari versi akhir.

“Pantas bagian bawahnya masih kedengaran penuh,” kata Lyara setelah cuplikan selesai. “Aku kira itu synth tambahan.”

Temannya memutar bagian tersebut sekali lagi, dan pembicaraan mereka segera berubah menjadi urusan musik. Selvara tidak menemukan alasan untuk memperhatikan Asyeera lebih jauh. Nama itu sekarang hanya sedikit lebih familiar karena Lyara sedang membawakan lagunya untuk festival.

Beberapa menit kemudian Vio muncul membawa kantong berisi pita perekat dan langsung meminta bantuan karena kelompok dekorasinya kekurangan tangan. Selvara ikut dengannya, sementara Lyara kembali ke latihan. Di koridor mereka bertemu Rikuya yang baru selesai dari gedung olahraga lebih cepat dari biasanya. Ia belum sempat mengganti pakaian latihan dan langsung tertawa ketika melihat Vio membawa perlengkapan tambahan.

“Kemarin kamu bilang tinggal sedikit.”

“Itu berdasarkan informasi yang tersedia saat itu,” jawab Vio sambil menyerahkan satu gulungan pita kepadanya. “Sekarang desainnya berubah lagi dan aku menolak bertanggung jawab atas optimisme versi kemarin.”

Rikuya menerima gulungan tersebut meskipun awalnya tidak berniat ikut. “Aku cuma lewat.”

“Sekarang kamu lewat sambil bawa pita. Sudah ada perkembangan.”

Theo menyusul tidak lama kemudian, dan pekerjaan yang awalnya milik kelompok Vio berubah menjadi kegiatan bersama selama hampir setengah jam. Selvara membantu menahan bagian dekorasi saat dipasang, Rikuya naik ke bangku untuk memastikan sisi atas tidak miring, sedangkan Theo berkali-kali meminta Vio berhenti menambahkan potongan baru sebelum mereka memastikan ukuran yang sudah ada. Ketika akhirnya selesai, Vio mundur beberapa langkah untuk melihat hasilnya dan mengakui bahwa desain tersebut ternyata tidak seburuk keluhannya sejak pagi.

“Aku akan menyangkal pernah bilang itu kalau besok mereka ubah lagi,” tambah Vio.

Rikuya turun dari bangku. “Aku saksi.”

“Kamu datang terlambat. Kesaksianmu lemah.”

Theo mengangkat sisa pita dari lantai. “Aku punya foto.”

Vio menatapnya. “Kenapa kamu punya foto?”

“Karena lima menit lalu kamu bilang hasilnya bagus.”

“Kadang aku merasa berteman sama kalian itu keputusan yang perlu dievaluasi.”

Selvara tertawa bersama mereka sambil membantu mengumpulkan potongan kertas. Untuk beberapa waktu, sore itu hanya berisi festival, latihan, dan rencana akhir pekan. Erian tidak disebut lagi. Dawn juga tidak. Bahkan perbedaan rute bus kemarin sudah tenggelam di antara pekerjaan lain yang lebih dekat.

Baru ketika mereka bersiap pulang, Vio menerima pesan dari ibunya yang menanyakan apakah rute bus hari Sabtu sudah dipastikan. Vio membuka kembali situs transportasi untuk mengirim tangkapan layar terbaru.

Ia berhenti di tengah mengetik.

“Eh, sebentar.”

Theo yang sedang memasukkan barang ke tas mengenali nada suaranya. “Rutenya berubah lagi?”

“Bukan.” Vio membuka galeri lalu membandingkan gambar kemarin dengan halaman yang sedang tampil. “Sekarang lewat utara lagi.”

Rikuya ikut melihat dari sisi lain. “Mungkin mereka memang ganti keputusan.”

“Bisa, tapi lihat waktu pembaruannya.” Vio memperbesar bagian bawah halaman. “Masih sama. Selasa, pukul empat lewat dua belas. Kemarin waktu kita cek, halaman dengan waktu yang sama menunjukkan jalan barat.”

Selvara mengambil ponsel Vio setelah ia menyerahkannya. Tangkapan layar pertama menunjukkan jalur utara. Tangkapan layar kedua, yang dibuat kemarin di halte, menunjukkan jalur barat. Halaman yang terbuka sekarang kembali menunjukkan jalur utara.

Ketiganya mencantumkan waktu pembaruan yang sama.

Theo tidak langsung mengaitkannya dengan E-204. Ia lebih dahulu memeriksa apakah Vio mungkin membuka halaman cache, kemudian meminta Vio menyegarkan situs. Peta tetap menunjukkan jalur utara. Rikuya mencari pemberitahuan transportasi melalui ponselnya sendiri dan mendapatkan hasil serupa.

“Kalau keputusan mereka berubah dua kali, waktu revisinya seharusnya ikut berubah,” ujar Theo. “Tapi situs pemerintah juga bisa salah menampilkan metadata. Kita pernah lihat katalog sekolah melakukan hal yang lebih aneh dari ini.”

Vio menyimpan ketiga gambar dalam satu folder agar tidak tertukar. “Aku nggak mau menyebut ini apa-apa dulu. Cuma kalau Sabtu busku benar-benar datang dari arah barat, aku akan mulai marah bukan karena misterinya, tapi karena aku harus berangkat jam berapa.”

Rikuya tertawa kecil. “Nah, itu baru alasan yang bisa kupahami.”

Selvara mengembalikan ponselnya. “Simpan gambarnya. Kita lihat rute yang benar-benar dipakai Sabtu. Kalau cuma halaman web yang bermasalah, nanti kelihatan.”

Mereka berpisah setelah itu. Rikuya menuju gedung olahraga untuk mengambil barang yang tertinggal, Theo berjalan bersama Vio ke halte, sedangkan Selvara kembali sebentar ke ruang OSIS karena salinan jadwal yang dibawanya masih harus diserahkan kepada Adrian.

Di dalam, televisi kecil yang biasanya digunakan untuk menampilkan informasi kegiatan sekolah sedang menyala tanpa suara. Salah satu anggota OSIS memakainya sebagai latar sambil memperbarui daftar festival. Berita lokal menampilkan persiapan pengalihan lalu lintas akhir pekan, lengkap dengan peta yang kini sudah akrab bagi Selvara.

Jalur utara.

Selvara hampir melewatinya begitu saja sebelum teks di bagian bawah layar berganti.

Pengalihan berlaku Sabtu, mulai pukul 06.00. Informasi diperbarui Selasa, 16.12.

Sama seperti halaman yang baru dilihat Vio.

Adrian keluar dari ruang penyimpanan sambil membawa beberapa map dan mendapati Selvara masih berdiri dekat televisi. “Ada yang berubah lagi?”

“Rute bus Vio.” Selvara menunjuk layar. “Kemarin situsnya menunjukkan jalan barat. Sekarang kembali ke utara, tapi waktu pembaruannya tetap sama.”

Adrian meletakkan map di meja dan ikut melihat berita itu. “Mungkin stasiunnya pakai data lama.”

“Bisa.”

Selvara tidak menambahkan apa pun. Ia menyerahkan jadwal festival, memastikan Adrian menerima perubahan terakhir, lalu pulang sebelum sore semakin larut.

Malamnya, Lyara mengirim pesan ke grup bahwa pembina klub menemukan video pengumuman lalu lintas yang direkam dari siaran lokal untuk kebutuhan festival. Mereka memang perlu memastikan kendaraan pengangkut alat dapat mencapai sekolah pada Sabtu pagi.

Video itu direkam pada Selasa, beberapa menit setelah pukul empat.

Selvara membukanya.

Presenter menjelaskan pengalihan melalui jalan barat.

Pada bagian bawah layar, waktu pembaruan informasi tertulis 16.12.

Selvara kemudian membuka foto yang dikirim Vio sore tadi.

Siaran yang mereka lihat di ruang OSIS, dengan waktu pembaruan yang sama, menunjukkan jalan utara.

Kali ini perbedaannya tidak berasal dari ingatan seseorang tentang kejadian bertahun-tahun lalu. Tidak ada arsip lama yang mungkin salah dipindai, tidak ada halaman yang berpindah kategori, dan tidak ada saksi yang mencoba mengingat siapa yang memegang kamera.

Dua rekaman dari minggu yang sama menyebut sumber dan waktu pembaruan yang sama.

Namun rutenya berbeda.

Selvara menyimpan video Lyara bersama tangkapan layar Vio, lalu mengirim satu pesan kepada Theo agar ia tidak menghapus salinan apa pun.

Ia belum tahu apakah mereka sedang melihat kesalahan penyiaran yang sangat biasa atau sesuatu yang mulai menyerupai masalah lain yang belum selesai mereka pahami.

Untuk sekarang, Selvara hanya memastikan kedua versi tetap tersimpan.

Karena setelah pengalaman mereka dengan Erian, ia tidak lagi ingin menunggu sampai salah satunya menghilang untuk mulai mempertanyakan mengapa keduanya pernah ada.

Theo meminta semua orang menahan diri sampai mereka bisa membandingkan sumbernya secara langsung. Malam itu ia hanya membuat salinan video yang dikirim Lyara, mencatat asal rekamannya, lalu meminta Vio mempertahankan tangkapan layar tanpa memotong bagian waktu maupun alamat halaman. Selvara setuju. Perbedaan jalur utara dan barat memang lebih sulit diabaikan setelah mereka memiliki rekaman siaran, tetapi satu kesalahan distribusi informasi masih jauh lebih masuk akal daripada kesimpulan lain yang belum memiliki dasar.

Keesokan paginya, persoalan itu bahkan kalah cepat dari kesibukan festival. Aula sudah mulai menerima perlengkapan panggung, dua kelompok meminta tambahan kabel listrik, dan ruang OSIS dipenuhi koordinator yang ingin memastikan jadwal mereka belum berubah. Selvara baru sempat bertemu Theo dan Vio saat istirahat pertama. Mereka duduk di salah satu meja dekat jendela kelas, dengan dua ponsel dan laptop Theo menampilkan sumber yang sama-sama mereka simpan.

Theo memutar rekaman Selasa lebih dahulu. Presenter menyebut jalan barat sebagai jalur pengalihan, peta di layar menunjukkan arah yang sama, dan keterangan di bawahnya mencantumkan pembaruan pukul 16.12. Setelah itu ia membuka rekaman yang dibuat salah satu anggota OSIS kemarin dari siaran ulang stasiun yang sama. Segmen, presenter, posisi kamera, bahkan susunan kalimatnya sama sampai beberapa detik terakhir. Ketika peta muncul, jalur pengalihannya melewati utara.

Vio menggeser kursinya mendekat. “Coba balik sedikit. Waktu presenternya mulai jelasin rute.”

Theo memutar kedua video dari bagian yang sama. Pada rekaman pertama, presenter mengatakan kendaraan akan dialihkan melalui jalan barat sebelum kembali ke jalur utama. Rekaman kedua menggunakan kalimat yang hampir sama, tetapi menyebut jalan utara.

“Jadi bukan cuma petanya yang diganti,” ujar Vio. “Suaranya juga beda.”

Selvara memperhatikan gerakan bibir presenter pada kedua rekaman. Sekilas tidak ada sesuatu yang janggal. Jika salah satu video merupakan versi koreksi yang direkam ulang, perbedaan itu dapat dijelaskan dengan mudah. “Kita belum tahu stasiunnya memang cuma menayangkan sekali atau membuat koreksi setelahnya.”

Theo sudah memikirkan kemungkinan tersebut. “Makanya aku cari arsip siarannya pagi tadi. Situs mereka cuma punya satu video untuk segmen ini.”

Ia membuka halaman berita lokal. Thumbnail-nya sama. Judul, tanggal unggah, dan keterangan pembaruan juga tidak berubah. Ketika video diputar, presenter menyebut jalan utara.

Vio menunjuk layar. “Kalau itu koreksi, kenapa nggak ada keterangan revisi?”

“Mungkin memang nggak dicantumkan.”

“Bisa.” Vio bersandar lagi, lalu menatap dua salinan yang masih tersimpan di laptop Theo. “Aku cuma mulai keberatan sama jumlah ‘mungkin’ yang kita pakai buat satu pengumuman bus.”

Selvara memahami maksudnya. Setiap perbedaan masih memiliki penjelasan yang wajar jika berdiri sendiri. Situs dapat terlambat memperbarui metadata. Stasiun televisi dapat mengganti video tanpa mencatat revisi. Informasi awal dapat berubah sebelum keputusan akhir. Namun mereka sekarang memiliki salinan dari dua versi yang masing-masing pernah disajikan sebagai informasi terbaru pada waktu yang sama.

Theo menutup situs berita dan menyimpan alamat halamannya di catatan. “Kita nggak perlu membuktikan apa pun dari ini. Sabtu tinggal lihat rute yang benar-benar dipakai. Setelah itu setidaknya kita tahu versi mana yang menjadi keputusan akhir.”

Vio mengangguk. “Nah, itu lebih berguna. Aku juga punya kepentingan pribadi supaya busnya benar-benar datang.”

Bel masuk sebelum mereka sempat membahas lebih jauh. Theo menutup laptop, Vio kembali ke tempat duduknya, dan perbedaan siaran itu tersimpan bersama banyak hal lain yang belum memiliki jawaban.

Menjelang siang, Selvara kembali ke ruang OSIS karena Adrian meminta bantuan memeriksa daftar akses aula. Persiapan festival sudah mencapai tahap ketika keputusan kecil mulai menghasilkan pekerjaan nyata. Panitia panggung membawa rangka dekorasi melalui pintu samping seperti pembagian yang mereka susun sebelumnya, sementara klub musik tetap menggunakan ruang latihan sampai jadwal mereka selesai. Tidak ada kelompok yang perlu memindahkan perlengkapannya dua kali, dan jalur koridor utama tetap terbuka untuk siswa.

Adrian berdiri di depan papan jadwal sambil mencoret satu pekerjaan yang sudah selesai. “Ternyata idemu kemarin benar-benar jalan. Aku hampir kecewa karena sekarang nggak punya alasan buat menyalahkan denah gedung.”

Selvara mengambil daftar akses yang disodorkannya. “Kamu masih punya dua hari. Jangan cari masalah baru.”

“Aku nggak perlu cari. Biasanya datang sendiri.”

Seorang anggota OSIS memanggil Adrian dari meja belakang karena ada formulir vendor yang belum ditandatangani. Adrian menjawab sambil tetap menyelesaikan catatan di tangannya, kemudian meminta Selvara memeriksa apakah jalur evakuasi di denah stan masih terbuka setelah satu meja tambahan dimasukkan. Selvara menemukan meja itu terlalu dekat dengan pintu samping dan memindahkan posisinya pada sketsa. Ketika Adrian kembali, ia melihat koreksi tersebut dan langsung meneruskannya kepada koordinator tanpa mengulang pemeriksaan dari awal.

Selvara baru menyadari perubahan kecil itu setelah beberapa pekerjaan berikutnya. Adrian tidak lagi memanggilnya hanya ketika ada masalah yang tidak bisa ia selesaikan. Ia mulai memasukkan Selvara ke dalam alur kerja sebagaimana anggota lain yang sudah memahami tanggung jawab masing-masing. Beberapa pengurus juga mengikuti kebiasaan tersebut. Mereka menunjukkan dokumen, meminta pendapat, lalu melanjutkan pekerjaan tanpa memperlakukan setiap keputusan Selvara sebagai sesuatu yang harus dijelaskan karena ia bukan lagi pemimpin mereka.

Saat ruangan mulai lebih lengang, Adrian menyerahkan botol minum yang sejak tadi berada di sisi meja Selvara. “Kalau kamu terus datang setiap istirahat, orang bakal mulai mengira kamu memang kembali kerja di sini.”

Selvara menerima botolnya. “Aku datang karena kamu terus minta bantuan.”

“Benar. Tapi aku nggak melihat kamu keberatan.”

Selvara menatap papan jadwal yang hampir memenuhi dinding. “Aku memang masih suka pekerjaannya.”

Adrian tidak membuat kalimat itu menjadi pembicaraan tentang jabatan lama. Ia hanya mengangguk sambil memasukkan formulir terakhir ke dalam map. “Bagus. Berarti setelah festival selesai, mungkin ada hal lain yang bisa kita bicarakan.”

“Apa?”

“Nanti setelah festival. Aku belum mau menambah satu urusan lagi sebelum Sabtu.”

Selvara hampir mengejarnya dengan pertanyaan lain, tetapi dua siswa masuk membawa daftar kebutuhan stan dan Adrian langsung kembali bekerja. Ia membiarkan pembicaraan itu berhenti di sana. Jika Adrian memang ingin membahas sesuatu mengenai OSIS, beberapa hari tidak akan mengubahnya.

Selepas pelajaran, Lyara sudah menunggu di koridor dengan ponselnya. Kali ini bukan mengenai Asyeera ataupun latihan musik. Nessa membalas pesan pembina klub dan bersedia berbicara singkat sebelum malam. Karena jadwal mereka semua padat, Lyara menyarankan panggilan dilakukan saat itu juga di ruang klub sebelum latihan dimulai.

Theo datang beberapa menit kemudian, sedangkan Vio dan Selvara ikut duduk di dekat meja belakang. Rikuya masih berlatih dan Adrian tetap berada di ruang OSIS. Mereka menggunakan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, dimulai dari kegiatan musik, persiapan pertunjukan, dan orang-orang yang biasa membantu.

Nessa memiliki ingatan yang jauh lebih kabur daripada Mira maupun Elise. Ia masih mengenali beberapa anggota klub, tetapi salah menyebut urutan kegiatan dan mengaku sudah mencampur beberapa latihan dari bulan yang berbeda. Ketika Lyara menanyakan siswa di luar klub yang sering membantu, Nessa menyebut Jonas lebih dahulu, lalu seorang siswa lain yang namanya sudah tidak ia ingat.

“Dia sering bawa kunci gudang,” kata Nessa. “Aku malah dulu sempat kira dia bagian fasilitas. Baru belakangan ada yang bilang dia siswa.”

Lyara tidak menyebut Erian. “Kamu ingat namanya?”

“Evan? Er... bukan.” Nessa tertawa kecil karena usahanya sendiri. “Jangan pakai jawabanku buat catatan sejarah. Aku bahkan lupa nama wali kelasku tahun itu.”

“Justru nggak apa-apa kalau lupa. Kami nggak sedang cari jawaban tertentu.”

Mereka melanjutkan ke ruangan E-204. Nessa ingat pernah menggunakannya untuk persiapan pertunjukan dan mengingat kelompok mereka mengambil beberapa foto, tetapi tidak dapat menjelaskan siapa yang memegang kamera. Ketika Lyara akhirnya mengirim foto kelompok, Nessa mengenali Erian sebagai siswa yang tadi ia maksud.

“Ya, itu orangnya. Namanya Erian, kan?”

Lyara masih tidak mengonfirmasi. “Kamu ingat dari fotonya atau namanya baru muncul sekarang?”

“Begitu lihat wajahnya. Tapi kalau kamu tanya aku lima menit lalu, mungkin tetap nggak keluar.”

Jawaban itu dicatat apa adanya.

Lyara kemudian menunjukkan foto terakhir, exposure sembilan belas, tanpa menyampaikan cerita Elise. Nessa memperbesar gambar cukup lama sebelum mengatakan bahwa ia ingat mereka menggunakan timer kamera pada beberapa foto karena semua orang ingin masuk ke dalam frame.

Theo berhenti menulis.

Selvara juga langsung menangkap perbedaannya.

Lyara tidak mengubah nada suaranya. “Semua foto pakai timer?”

“Nggak tahu. Mungkin yang terakhir?” Nessa terdengar ragu, kemudian tertawa kecil. “Aku benar-benar nggak bisa janji. Yang kuingat ada satu foto kami taruh kameranya di sesuatu, terus semua buru-buru masuk posisi. Bisa jadi hari lain.”

“Kalau begitu cukup sampai yang kamu ingat,” ujar Lyara. “Kami nggak mau bikin kamu menebak.”

Panggilan selesai beberapa menit kemudian setelah pembicaraan kembali ke kegiatan klub yang lebih umum. Nessa bahkan sempat mengingat satu kejadian ketika keyboard hampir jatuh karena dua orang membawa dari sisi yang sama, dan cerita itu membuat Lyara tertawa karena pembina mereka masih menceritakan kejadian serupa kepada anggota baru.

Setelah sambungan berakhir, Theo membaca tiga versi yang sekarang mereka punya. “Elise ingat Erian mengambil foto terakhir. Nessa ingat kemungkinan kamera pakai timer. Jonas merasa Erian sudah pergi sebelum foto. Mira ingat dia tetap berada di kegiatan, tapi nggak pernah bilang siapa yang pegang kamera.”

Vio menyilangkan tangan di atas meja. “Kalau ini cuma soal ingatan, aku malah bisa menerima semua versi itu berbeda. Mereka sudah lama nggak memikirkan hari tersebut.”

Selvara mengangguk. “Dan kita nggak boleh memilih Elise cuma karena versinya menghasilkan kontradiksi paling menarik.”

Theo menandai setiap kesaksian sebagai sumber terpisah. “Foto tetap membuktikan Erian ada di sana. Itu fakta yang kita punya. Siapa yang mengambilnya masih kesaksian.”

Lyara melihat daftar tersebut. “Berarti yang kemarin kita anggap kontradiksi mutlak sebenarnya belum sekuat itu.”

“Belum,” jawab Selvara. “Elise bisa benar soal mengenal Erian dan salah soal kamera. Dua ingatan itu nggak harus punya tingkat kepastian yang sama.”

Vio mengembuskan napas lega sambil menyandarkan punggung. “Bagus. Aku lebih suka kita menemukan kelemahan kesimpulan sendiri daripada mempertahankannya cuma karena terdengar menarik.”

Tidak seorang pun keberatan. Temuan dari akhir Chapter 1 tetap penting karena mereka telah menemukan seseorang yang keberadaannya tersebar di foto, agenda, dan ingatan alumni meskipun identitas administratifnya sulit ditelusuri. Namun sekarang mereka juga tahu bahwa kesaksian manusia tidak dapat diperlakukan seperti metadata. Hal yang terasa pasti ketika hanya berasal dari satu orang dapat berubah setelah sumber lain ikut berbicara.

Theo menutup catatannya. “Untuk Erian, kita berhenti dulu sampai ada sumber yang benar-benar baru.”

Lihat selengkapnya