Chapter 2 - Episode 2
Selvara tidak membuka berita jembatan ketika bangun pagi. Keputusan itu terasa lebih sulit daripada yang ia perkirakan karena ponselnya berada tepat di samping tempat tidur dan jawabannya dapat dicari dalam hitungan detik, tetapi justru itulah yang ingin mereka hindari. Setelah perubahan pada laporan gudang, mereka mulai memahami bahwa memeriksa sumber berkali-kali tidak selalu membuat keadaan lebih jelas. Kadang mereka hanya berakhir dengan versi terbaru yang semakin lengkap, sementara alasan mengapa versi sebelumnya pernah ada justru semakin sulit ditemukan.
Catatan yang dibuat pada malam sebelumnya masih di meja belajarnya.
'Jembatan - laporan pertama yang kuingat: kerusakan dua sisi.'
Selvara membaca satu kali, kemudian memasukkannya ke dalam map bersama salinan kronologi berita gudang. Theo dan Lyara sudah menuliskan ingatan mereka secara terpisah. Ketiganya sama-sama mengingat sisi timur dan barat disebut dalam laporan awal, meskipun detail lainnya berbeda. Itu cukup untuk diperiksa, tetapi belum cukup untuk disebut sebagai fakta.
Pagi di sekolah berjalan jauh lebih biasa dibanding akhir pekan sebelumnya. Bekas festival hampir seluruhnya hilang. Papan penunjuk sudah dilepas, aula kembali digunakan seperti biasa, dan satu-satunya sisa yang masih terlihat adalah beberapa potongan perekat pada lantai dekat tangga. Vio menghabiskan beberapa menit sebelum pelajaran mengeluhkan seseorang yang meninggalkan satu kotak dekorasi di belakang kelas, lalu akhirnya ikut memindahkannya ketika wali kelas meminta dua siswa membantu.
Theo datang setelah kotak itu dibawa keluar dan langsung meletakkan tasnya di kursi.
“Aku belum buka beritanya,” katanya sambil duduk.
Selvara mengeluarkan buku pelajaran dari tas. “Aku juga.”
Vio yang baru kembali dari koridor mendengar percakapan mereka dan menarik kursinya mendekat. “Aku bahkan nggak tahu jembatan mana yang kalian bicarakan sampai tadi malam, jadi kali ini aku berhasil jadi orang paling netral.”
Theo menatapnya sebentar. “Itu bukan prestasi.”
“Setelah seminggu terakhir, aku menerima prestasi sekecil apa pun.”
Selvara tersenyum tipis sebelum membuka bukunya. Mereka sepakat membicarakan laporan itu saat istirahat pertama. Sampai saat itu, tidak ada alasan membiarkan satu berita lokal mengambil alih seluruh pagi mereka.
Pelajaran pertama berjalan lancer, Ketika pergantian jam pembelajaran, pembicaraan kelas justru lebih banyak mengenai hasil festival dan tugas yang tertunda karena persiapan minggu sebelumnya. Beberapa siswa membandingkan foto yang mereka ambil, sementara kelompok lain masih membahas penampilan musik. Nama Asyeera sempat terdengar ketika seseorang memutar beberapa detik lagu yang dibawakan klub Lyara, tetapi percakapan segera berpindah setelah guru berikutnya masuk. Bagi Selvara, nama itu sudah menjadi bagian dari suara sehari-hari di sekolah, tidak berbeda dari penyanyi lain yang lagunya kebetulan sedang populer.
Saat istirahat pertama, Theo membawa laptop ke meja dekat jendela. Lyara datang dari kelasnya dengan catatan yang dibuat malam sebelumnya, sedangkan Rikuya menyusul setelah membeli minuman. Raviel belum bergabung karena masih berada di perpustakaan. Mereka sengaja tidak menghubunginya sejak malam agar ada seseorang yang belum mendengar detail versi yang mereka ingat. Theo meletakkan tiga lembar catatan berdampingan.
Catatan Selvara menyebut kerusakan pada dua sisi dan pemeriksaan lanjutan pada Jumat. Theo menulis sisi timur dan barat, pemeriksaan lanjutan Jumat, serta kemungkinan pembatasan kendaraan berat. Lyara hanya menulis dua sisi dan perkiraan renovasi yang mungkin diperpanjang.
Theo memberi garis kecil di bawah bagian yang sama. “Jadi yang benar-benar cocok cuma dua sisi dan pemeriksaan Jumat. Sisanya jangan kita satukan.”
Lyara membaca catatan Theo lalu mengangguk. “Aku nggak ingat soal kendaraan berat. Kalau sekarang aku mulai merasa pernah dengar, itu sudah nggak berguna karena aku baru baca punyamu.”
“Makanya yang dipakai tetap catatan tadi malam,” jawab Selvara. “Yang muncul setelah kita bandingkan jangan dimasukkan sebagai ingatan awal.”
Rikuya menarik kursi sambil membuka minumannya. “Aku cuma ingat ada berita renovasi. Bagian rusaknya nggak pernah kuperhatikan. Jadi kalau nanti kalian bertiga ternyata salah, jangan menyeret aku.”
Vio duduk di sebelahnya. “Aku bahkan lebih aman. Aku cuma tahu ada jembatan karena busku sempat kena pengalihan.”
Theo menatap keduanya. “Kalian tetap berguna justru karena nggak punya versi awal yang mau dipertahankan.”
“Kalimat yang bagus untuk bilang kami nggak tahu apa-apa,” balas Vio.
Percakapan itu membuat suasana tetap ringan sebelum Theo akhirnya membuka situs berita. Laporan terbaru menyebut kerusakan hanya ditemukan pada sisi timur. Pemeriksaan lanjutan pada Jumat memang tercatat, tetapi fungsinya dijelaskan sebagai verifikasi akhir sebelum sebagian pembatasan dicabut. Artikel yang diterbitkan beberapa hari sebelumnya juga masih tersedia dan menyebut sisi timur sejak paragraf pertama.
Selvara membaca artikelnya sampai selesai tanpa menemukan bagian yang terasa dipaksakan. Jika ia tidak memiliki catatan dari malam sebelumnya, laporan itu akan terdengar sepenuhnya wajar.
Theo membuka arsip video.
Seorang presenter laki-laki berdiri di studio dengan grafik jembatan di belakangnya. Ia menjelaskan pemeriksaan struktur, menunjukkan foto bagian timur, lalu menyebut bahwa kerusakan hanya ditemukan pada sisi tersebut. Sisi lainnya tetap dapat digunakan dengan pembatasan tertentu sampai pemeriksaan selesai.
Lyara memperhatikan video sampai akhir. “Aku ingat presenter ini.”
Theo tidak langsung menanyakan apa yang berbeda. “Catat dulu kalau ada detail baru yang kamu ingat.”
Lyara mengambil pulpennya, tetapi setelah beberapa detik ia justru meletakkannya kembali. “Nggak. Aku ingat wajah dan studionya, tapi kalau aku mulai menulis kalimat yang dia bilang, aku nggak yakin itu ingatan atau karena baru nonton versi ini.”
Theo menuliskan bahwa Lyara mengenali siaran tanpa menambahkan detail lain.
Selvara melakukan hal yang sama. Ia juga merasa pernah melihat grafik tersebut, tetapi perasaan mengenali sesuatu tidak cukup untuk dijadikan bukti mengenai isi laporan.
Vio menyandarkan dagunya pada tangan. “Aneh juga. Waktu video gudang kita punya file lama, jadi gampang bilang dua versi memang ada. Sekarang kalian cuma punya ingatan yang kebetulan sama.”
“Makanya kita belum bilang beritanya berubah,” kata Selvara. “Kita cuma punya alasan untuk memeriksa.”
Rikuya melihat artikel yang masih terbuka. “Kalau memang pernah ada pemeriksaan sisi barat, harusnya bukan berita satu-satunya tempat yang menyebut itu. Ada orang yang kerja di sana.”
Theo mengangguk. “Itu yang mau kucari setelah sekolah. Dokumen proyek, pembatasan jalan, jadwal inspeksi. Sesuatu yang dibuat karena pekerjaan memang harus dilakukan.”
Mereka berhenti ketika bel berbunyi. Tidak ada pencarian besar, tidak ada pembagian tugas baru. Theo menutup laptop dan mereka kembali ke kelas masing-masing.
Selvara baru memikirkan jembatan lagi ketika jam makan siang dan Adrian memanggilnya ke ruang OSIS.
Adrian sedang menyederhanakan prosedur perubahan jadwal yang mereka susun setelah festival. Beberapa bagian dicoret, dua paragraf digabung, dan penjelasan panjang mengenai kesalahan koordinasi diganti dengan satu kalimat yang jauh lebih singkat.
Selvara membaca hasilnya sambil berdiri di sisi meja. “Kamu menghapus hampir semua alasannya.”
“Karena orang yang pinjam aula mau tahu apa yang harus dilakukan, bukan membaca sejarah festival kita.” Adrian menunjuk kalimat yang dipertahankannya. “Perubahan jadwal harus dicatat pada dokumen utama agar seluruh pihak menggunakan informasi yang sama. Menurutku itu sudah cukup.”
Selvara membaca ulang. “Tambahkan siapa yang mengubah dan waktunya.”
“Sudah ada di formulir.”
“Berarti cukup.”
Adrian menatapnya dengan kepuasan yang sengaja dibuat berlebihan. “Aku akan simpan momen ini. Jarang sekali kamu menyetujui hasil edit tanpa menambah satu paragraf baru.”
“Kalau kamu terus bicara, aku bisa berubah pikiran.”
“Baik. Dokumennya sempurna dan kita berhenti di sana.”
Selvara menarik kursi kosong dan membantu memeriksa bagian berikutnya. Percakapan mereka bergerak ke peminjaman ruangan, laporan kerusakan perlengkapan, lalu pembagian tanggung jawab untuk kegiatan sekolah berikutnya. Adrian beberapa kali meminta pendapatnya seperti biasa, sementara dua anggota OSIS lain ikut mengoreksi bagian yang berkaitan dengan tugas mereka. Selvara tidak lagi merasa perlu menjelaskan mengapa ia berada di ruangan itu. Sejak rapat evaluasi, keterlibatannya mulai menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Ketika anggota lain keluar untuk menyerahkan formulir, Adrian melihat map yang dibawa Selvara.
“Kalian masih urus berita gudang?”
“Sudah berhenti di sana. Sekarang ada laporan lain yang mungkin berubah.”
Adrian tidak meminta kesimpulan. “Apa yang berubah?”
“Berita jembatan. Aku, Theo, dan Lyara sama-sama ingat laporan awal menyebut dua sisi rusak. Versi yang ada sekarang cuma menyebut timur.”
Adrian meletakkan pulpennya. “Kalian sudah bandingkan ingatan sebelum buka beritanya?”
“Semalam. Kami tulis sendiri-sendiri.”
“Bagus.” Adrian berpikir sejenak sebelum kembali melihat formulir di depannya. “Kalau memang ada sisi barat yang diperiksa, jangan cari orang yang ingat berita. Cari pekerjaan yang harus dilakukan. Berita bisa salah menyebut lokasi, tapi kalau teknisi dikirim ke sisi barat, pasti ada sesuatu yang membuat mereka ke sana.”
Selvara tersenyum tipis. “Rikuya bilang hampir sama.”
“Berarti hari ini aku punya persaingan baru.”
“Raviel mungkin bilang hal yang sama kalau nanti ditanya.”
Adrian terlihat kecewa secara berlebihan. “Sekarang aku turun ke peringkat tiga.”
Percakapan itu berhenti ketika dua anggota OSIS kembali. Mereka menyelesaikan dokumen sampai akhir jam makan siang, kemudian Selvara membawa satu salinan untuk diperiksa lagi sebelum rapat berikutnya.
Sore hari, Theo sudah menemukan portal proyek renovasi jembatan, tetapi Selvara meminta mereka tidak langsung berkumpul hanya karena satu hasil pencarian. Rikuya masih punya latihan basket, Lyara harus mengembalikan perlengkapan klub, dan Vio sedang membantu kelompok kelas menyelesaikan laporan festival. Mereka baru bertemu hampir satu jam kemudian di perpustakaan setelah urusan masing-masing selesai.
Raviel sudah berada di sana.
Selvara memberi penjelasan sesingkat mungkin tanpa menyebut sisi yang mereka ingat. “Ada perbedaan antara laporan yang kami ingat dan berita yang sekarang tersedia. Kami mau lihat dokumen proyek sebelum kasih tahu versinya.”
Raviel menerima itu tanpa protes. Ia membaca artikel terbaru, menonton bagian pendek siaran, kemudian membuka portal proyek yang ditemukan Theo.
“Kalau dari sumber sekarang, kerusakannya timur,” katanya. “Apa yang kalian ingat?”
Theo menyerahkan tiga catatan yang dibuat malam sebelumnya.
Raviel membacanya satu per satu. “Tiga orang menulis dua sisi secara terpisah?”
Selvara mengangguk. “Itu yang mau kami periksa.”
Raviel tidak mengatakan bahwa ingatan mereka benar ataupun salah. Ia justru melihat daftar dokumen pada portal. “Cari sebelum pemeriksaan selesai. Kalau kalian cuma baca laporan hasil, semuanya pasti mengikuti kesimpulan terbaru.”
Mereka mulai dari jadwal inspeksi. Dokumen pertama mencantumkan pemeriksaan struktur timur pada Rabu, pengujian sambungan pada Kamis, dan verifikasi pada Jumat. Dokumen kedua mengatur pembatasan kendaraan berat tanpa menjelaskan bagian struktur yang diperiksa. Denah penempatan pembatas juga tidak membantu karena kedua jalur memang perlu dikurangi untuk menyediakan ruang kerja.
Setelah hampir dua puluh menit, Vio mulai kehilangan minat.
“Aku mulai curiga misteri terbesar hari ini adalah kenapa formulir pemerintah harus punya enam halaman untuk menjelaskan satu kendaraan boleh parkir di mana.”
Raviel masih menggulir dokumen. “Karena suatu hari ada orang seperti kita yang membaca semuanya.”
“Kalau begitu aku minta maaf kepada penulisnya.”
Rikuya tertawa sambil melihat jam latihan. “Kalian punya sepuluh menit sebelum aku pergi.”
Lyara membuka satu lampiran denah yang belum mereka periksa. Gambar struktur memenuhi layar, lengkap dengan kode pekerjaan kecil yang tersebar di beberapa bagian. Sebagian besar menggunakan awalan E.
Lyara memperbesar daftar di bawah gambar. “Ini kode lokasi?”
Raviel membuka halaman legenda.
E — East Structure.
W — West Structure.
Theo kembali ke daftar.
Sebagian besar kode memang E01, E02, E03, dan seterusnya. Di antara baris tersebut terdapat satu kode yang berbeda.
INSP-W02.
Vio mendekat lagi. “Ada barat.”
Selvara membaca seluruh baris sebelum mengatakan apa pun.
INSP-W02 — Surface Fracture Assessment.
Pemeriksaan retakan permukaan.
Rikuya menatap kode itu, lalu denah yang tidak memberi tanda apa pun pada sisi barat. “Kalau W02 ada, W01 ke mana?”
Tidak ada yang menjawab karena pertanyaan itu memang belum memiliki jawaban.
Theo menggunakan pencarian dokumen. Kode W02 muncul sekali lagi pada daftar peralatan, kali ini bersama perangkat pengukuran retakan. Tidak ada W01 ataupun W03 dalam lampiran yang sama.
Raviel menunjuk kode tersebut dengan ujung pensil. “Satu baris belum cukup. Bisa salah ketik, bisa pekerjaan dibatalkan, bisa kode lama yang lupa dihapus. Jangan jadikan ini bukti berita kalian benar.”
Selvara mengangguk. “Catat sebagai jejak dokumen saja.”
Theo menyimpan salinan lampiran dan mencatat waktu mereka mengaksesnya. Tidak ada seorang pun yang mencoba mencari penjelasan sampai tuntas sore itu. Rikuya sudah harus pergi latihan, Lyara masih memiliki urusan klub, dan Selvara sendiri harus pulang sebelum terlalu sore.
Mereka berpisah di depan perpustakaan dengan satu temuan kecil yang belum menjawab apa pun.
Dalam perjalanan menuju gerbang, Vio berjalan di samping Selvara sambil memasukkan ponselnya ke tas. “Aneh ya. Minggu lalu kalau lihat kode kayak begitu, mungkin kita langsung cari sampai ketemu jawabannya.”
“Sekarang kita tahu satu jawaban bisa bikin lima pertanyaan baru.”
“Bukan itu.” Vio tersenyum tipis. “Aku cuma mulai sadar kita masih punya sekolah besok.”
Selvara tertawa kecil. “Itu juga.”
Mereka berpisah di persimpangan menuju halte. Selvara melanjutkan perjalanan sendiri dan membiarkan persoalan W02 berhenti di perpustakaan.
Malamnya ia mengerjakan tugas, membantu ibunya membereskan beberapa barang di rumah, lalu baru membuka ponsel setelah hampir lupa pada jembatan.
Ada pesan dari Theo.
Ia menemukan kode INSP-W02 pada indeks pengadaan yang berbeda dari lampiran denah. Kali ini kodenya tercatat sebagai pekerjaan terpisah, bukan bagian kecil dari gambar teknis.
INSP-W02 — Surface Fracture Assessment.
Statusnya: Completed.
Selvara membaca tanggal penyelesaiannya. Rabu pagi, beberapa jam sebelum laporan yang ia, Theo, dan Lyara ingat pernah menyebut kedua sisi.
Theo menambahkan bahwa ia belum menemukan laporan hasilnya.
Selvara membalas singkat.
Simpan indeksnya. Besok kita cek. Jangan lanjut malam ini.
Theo menyetujui.
Selvara menaruh ponselnya kembali di meja.
Tidak ada Mist yang muncul malam itu. Tidak ada bayangan di jendela, tidak ada suara asing, dan tidak ada sesuatu yang menunggu di luar rumah. Yang tersisa hanya sebuah kode pekerjaan di antara dokumen renovasi kota dan tiga ingatan yang belum dapat mereka buktikan.
Itu cukup.
Untuk pertama kalinya, Selvara tidak merasa setiap jejak harus segera dikejar sampai memperoleh jawaban. Jika W02 memang memiliki arti, jejak lain akan muncul ketika mereka memeriksanya dengan benar. Dan jika tidak, besok tetap akan datang sebagai hari sekolah biasa.
Keesokan harinya, kode INSP-W02 tetap berada di salinan yang disimpan Theo. Tidak seorang pun membuka portal proyek sebelum mereka berkumpul. Selvara juga tidak merasa perlu memeriksanya diam-diam pada pagi hari. Setelah beberapa minggu mengejar arsip yang berubah, nama yang hilang, dan informasi yang menghasilkan versi berbeda, menunda satu pencarian sampai jam sekolah selesai mulai terasa seperti keputusan yang jauh lebih masuk akal daripada mengubah setiap temuan menjadi keadaan darurat.
Vio justru menjadi orang pertama yang mengingatkan mereka tentang batas itu ketika Theo baru masuk kelas dan hendak mengatakan sesuatu mengenai indeks pengadaan. “Kalau kalimat berikutnya mengandung W02, simpan sampai istirahat. Aku baru selesai memahami tugas matematika dan belum siap menerima masalah dari departemen lain.”
Theo menaruh tas di kursinya. “Aku cuma mau bilang file semalam masih sama.”
“Itu tetap mengandung W02.”
“Baik. Aku menghormati aturan yang baru kamu buat lima detik lalu.”
Selvara yang sedang memeriksa jadwal pelajaran tersenyum kecil mendengar mereka. Pagi kemudian berjalan seperti biasa. Guru pertama mengembalikan hasil tugas, dua siswa di belakang kelas berdebat mengenai pembagian kelompok, dan Vio sempat meminjam penghapus Selvara sebelum menyadari miliknya sendiri terselip di bawah buku. Tidak ada berita jembatan yang dibicarakan sampai istirahat pertama, dan ketika waktunya tiba, mereka juga tidak langsung berkumpul di perpustakaan. Theo hanya menunjukkan kepada Selvara bahwa salinan indeks masih mencatat pekerjaan W02 selesai pada Rabu pagi. Mereka sepakat membawa temuan itu kepada Raviel saat makan siang.
Rikuya datang lebih awal kali ini dan memilih meja dekat jendela perpustakaan karena ia ingin makan sebelum pembicaraan berkembang terlalu jauh. Lyara menyusul bersama Raviel beberapa menit kemudian. Theo membuka indeks pengadaan yang sudah disimpan malam sebelumnya dan memperlihatkan baris pekerjaan sisi barat tanpa memberikan interpretasi tambahan.
Raviel membaca kode, status, serta tanggal penyelesaiannya. “Kalau ini memang indeks pengadaan, status selesai cuma membuktikan pekerjaan administrasinya dianggap selesai. Belum tentu hasil inspeksinya masih ada di dokumen yang sama.”
Theo menggeser catatannya mendekat. “Aku cari nomor temuan yang terkait. Di indeks semalam ada W-17, tapi daftar temuan proyek yang sekarang bisa dibuka cuma punya kode E.”
Selvara langsung menangkap perbedaan dari kelanjutan lama yang hampir mereka lakukan. “Kamu sudah cari W-17 sampai ke dokumen lain?”
“Belum. Setelah pesanmu aku berhenti.”
“Bagus,” ujar Vio sambil membuka minumannya. “Akhirnya ada satu orang yang bisa menerima kata ‘besok’ sebagai konsep waktu.”
Theo menatapnya. “Kamu bicara seolah aku biasanya tidak tidur.”
“Kamu tidur. Masalahnya, sebelum tidur kamu suka menemukan tiga dokumen baru.”
Rikuya menahan tawa sambil melanjutkan makan. Raviel sendiri kembali membaca indeks dan meminta Theo menunjukkan bagian yang memuat Associated Finding: W-17. Baris tersebut masih ada pada salinan lokal. Setelah memastikan mereka sudah memiliki dua salinan terpisah, Raviel menyarankan sesuatu yang lebih sederhana daripada mencari kode tersebut ke seluruh portal. “Kalau proyeknya masih berjalan, orang yang mengurus pembatasan lalu lintas kemungkinan punya daftar inspeksi yang lebih praktis. Dokumen teknis bisa direvisi berkali-kali, sedangkan petugas lapangan perlu tahu area mana yang boleh dimasuki.”
Lyara menyandarkan siku di tepi meja. “Berarti kita kembali ke pekerjaan fisiknya.”
“Kurang lebih. Kalian sudah menemukan bukti bahwa pernah ada pekerjaan berkode barat. Sekarang pertanyaannya bukan kenapa kode lain hilang, tapi apakah ada sesuatu di lapangan yang cocok dengan pekerjaan itu.”
Selvara menyukai arah tersebut karena tidak memerlukan teori baru. Mereka bahkan tidak perlu mendatangi jembatan hari itu. Theo menemukan nomor kantor informasi proyek pada halaman utama, dan setelah berdiskusi singkat mereka memutuskan cukup meminta informasi umum mengenai akses pejalan kaki. Jika sisi barat memang pernah diperiksa, mungkin ada bagian yang masih dibatasi. Mereka tidak perlu berpura-pura menjadi pihak lain atau meminta dokumen yang bukan untuk publik.
Theo menyerahkan ponselnya kepada Selvara. “Kamu lebih bagus kalau harus bicara sama orang resmi.”
Vio langsung mengangguk. “Aku mendukung keputusan itu. Kalau Theo yang menelepon, lima menit kemudian dia bisa terdengar seperti sedang audit proyek.”
“Aku bahkan belum bicara.”
“Justru aku mencegahnya lebih awal.”
Selvara menelepon nomor yang tercantum pada halaman proyek. Seorang petugas menjawab setelah beberapa nada sambung. Selvara memperkenalkan diri sebagai siswa yang ingin mengetahui apakah jalur pejalan kaki di sekitar jembatan sudah dapat digunakan karena beberapa akses masih ditandai terbatas pada pengumuman kota. Petugas tersebut menjelaskan bahwa sisi timur masih memiliki pembatas sementara sampai pemeriksaan Jumat selesai, sedangkan sisi barat dapat digunakan seperti biasa.
Selvara membiarkan petugas menyelesaikan penjelasannya sebelum bertanya, “Sisi barat sempat ditutup juga minggu ini?”
“Sebagian kecil waktu pemeriksaan awal, tapi sudah dibuka lagi.”
Theo berhenti menulis selama sepersekian detik.
Selvara tetap menggunakan nada yang sama. “Pemeriksaannya hari Rabu?”
“Iya, pengecekan permukaan. Nggak lama. Kalau kamu lewat sekarang, sisi barat sudah normal.”
Selvara mengucapkan terima kasih dan mengakhiri panggilan tanpa meminta penjelasan mengenai kerusakan. Begitu ponsel diletakkan, Theo langsung menulis waktu percakapan dan isi jawaban petugas berdasarkan catatannya sendiri.
Vio membaca bagian terakhir. “Jadi memang ada pemeriksaan barat.”
“Menurut petugas tadi, iya,” kata Selvara. “Tapi dia bilang pengecekan permukaan. Belum tentu karena ada kerusakan.”
Rikuya menutup kotak makannya. “Dan itu cocok sama nama W02.”
Lyara masih memikirkan percakapan tadi. “Berarti jejaknya belum hilang semua. Cuma bentuknya lebih kecil dari yang kita ingat.”
Selvara tidak ingin melangkah sejauh itu. “Kita belum tahu laporan awal benar-benar menyebut kerusakan barat karena hasil pemeriksaan, atau kita bertiga mencampur dua informasi. Bisa saja berita menyebut dua sisi diperiksa, lalu kita mengingatnya sebagai dua sisi rusak.”
Theo mengangguk dan menambahkan kemungkinan itu ke catatan. “Itu masuk akal. Aku sendiri nggak yakin kalimat persisnya.”
Vio mengarahkan telunjuk ke mereka bergantian. “Nah, ini jauh lebih masuk akal daripada kita memutuskan kota menghapus setengah jembatan dari sejarah karena tiga orang ingat berita pagi.”
Tidak ada yang membantah. Justru kemungkinan bahwa ingatan mereka sendiri telah menyederhanakan informasi terasa cukup kuat untuk menghentikan pencarian sementara. Mereka sudah menemukan bahwa sisi barat memang diperiksa. Sisanya masih dapat berasal dari cara masing-masing mengingat laporan yang hanya ditonton sekali.
Raviel mengembalikan salinan indeks kepada Theo. “Simpan W02 dan percakapan tadi. Kalau nanti ada dokumen lain yang menjelaskan W-17, baru bandingkan. Jangan cari sampai semua kode di proyek ini kalian hafal.”
“Aku tidak berniat sejauh itu,” jawab Theo.
Vio langsung menyela, “Dia bilang begitu sekarang.”
Theo hendak membalas, tetapi bel peringatan terdengar dari koridor. Rikuya berdiri sambil membawa kotak makan, sedangkan Lyara mengingat masih harus menemui pembina klub sebelum pelajaran berikutnya. Percakapan mengenai jembatan berakhir bersama mereka yang kembali ke kegiatan masing-masing, tanpa satu pun keputusan untuk mendatangi lokasi atau menghubungi petugas lain.
Sore itu Selvara kembali ke ruang OSIS. Adrian sedang bersama dua anggota lain membahas permintaan penggunaan aula untuk kegiatan bulan berikutnya. Kali ini Selvara tidak hanya diminta membaca prosedur. Adrian menyerahkan satu formulir baru kepadanya dan meminta pendapat mengenai sistem pencatatan perubahan yang ingin mereka uji.
“Kalau semua revisi masuk ke satu tabel, nanti formulir utama nggak perlu dicetak ulang setiap ada perubahan kecil,” ujar Adrian sambil menunjukkan kolom tanggal, bagian yang berubah, dan nama pengurus. “Aku masih mau versi final tetap dicetak setelah semuanya selesai, tapi selama persiapan kita pakai riwayat ini.”
Selvara membaca beberapa contoh perubahan yang sudah dibuat Adrian. “Bagus. Tambahkan alasan singkat kalau perubahan memengaruhi kelompok lain. Kalau cuma ganti nama penanggung jawab, nggak perlu.”
Salah satu anggota OSIS di seberang meja ikut membaca. “Berarti kalau jadwal aula maju setengah jam, tulis alasannya. Kalau nomor kontak berubah, cukup revisi.”
“Kurang lebih begitu,” jawab Selvara. “Yang penting orang berikutnya bisa memahami kenapa jadwal berbeda dari versi sebelumnya.”
Adrian menambahkan kolom kecil di sisi kanan. “Aku suka sistem yang membuat orang lain bisa memahami keputusan tanpa harus mencari orang yang membuatnya.”
Selvara memandang tabel itu sedikit lebih lama. Beberapa hari terakhir membuat kalimat tersebut memiliki arti lain baginya, tetapi ia tidak membawa urusan jembatan ke dalam pekerjaan OSIS. Di ruangan itu, versi lama memang boleh diganti selama perubahan dan alasannya tetap tercatat. Tidak ada sesuatu yang aneh dari dokumen yang diperbarui. Masalah baru muncul ketika sejarah perubahannya ikut menghilang.
Mereka menyelesaikan rancangan sebelum sore. Salah satu anggota OSIS kemudian meminta Selvara ikut rapat perencanaan minggu depan karena ia ingin prosedur baru diuji langsung pada kegiatan pertama yang menggunakannya. Adrian tidak perlu menjelaskan status Selvara lagi. Ia hanya mencatat namanya bersama pengurus lain yang akan hadir.
Saat mereka keluar dari ruangan, Adrian menyelipkan tangan ke saku dan berjalan di samping Selvara sampai tangga. “Jadi bagaimana jembatannya?”
“Ada pemeriksaan sisi barat.”
Adrian menoleh sedikit karena jawaban itu berbeda dari dugaan sebelumnya. “Berarti kalian benar?”
“Belum tentu. Bisa saja kami mengingat ‘dua sisi diperiksa’ sebagai ‘dua sisi rusak’. Petugas cuma memastikan sisi barat sempat dicek.”
Adrian menerima kemungkinan itu tanpa memaksakan kesimpulan. “Kalau begitu untuk sekali ini jawabannya mungkin memang biasa.”
Selvara mengangguk. “Dan kalau memang begitu, itu hasil yang bagus.”
“Dulu kamu mungkin kecewa.”
“Dulu aku mungkin lanjut cari sampai ketemu alasan kenapa aku salah.”
Adrian tertawa kecil. “Sekarang?”
“Sekarang aku masih punya tugas yang belum selesai.”
“Perkembangan besar.”
Selvara memukul ringan map yang dibawanya ke lengan Adrian sebelum mereka berpisah di lantai dasar. Adrian menuju ruang guru, sementara Selvara berjalan ke gerbang. Di halaman belakang, Rikuya masih terlihat bersama tim basket, dan suara musik samar keluar dari gedung klub. Kehidupan sekolah kembali mengisi sore dengan hal-hal yang tidak memerlukan jawaban.
Malamnya, Theo mengirim satu pesan ke grup bahwa ia menemukan dokumen lain yang memuat W-17.
Selvara baru membukanya setelah menyelesaikan tugas.
Dokumen tersebut bukan laporan kerusakan, melainkan daftar pemeriksaan sementara yang dibuat Rabu pagi. W-17 tercatat sebagai temuan berupa retakan permukaan pada lapisan luar sisi barat. Di kolom tindakan terdapat instruksi untuk melakukan pengukuran dan menentukan apakah retakan mencapai struktur utama.
Beberapa baris di bawahnya tercantum hasil pemeriksaan lanjutan.
Surface layer only. No structural damage confirmed.
Selvara membaca kedua baris itu bersama-sama.
Theo sudah menambahkan penjelasan singkat dalam pesannya. Jika laporan berita pagi menyebut adanya kerusakan pada kedua sisi sebelum hasil pemeriksaan lanjutan selesai, ingatan mereka bisa saja benar tanpa bertentangan dengan kondisi proyek sekarang. Sisi barat memang memiliki retakan, tetapi kemudian dipastikan hanya berada pada lapisan permukaan dan tidak dihitung sebagai kerusakan struktur.
Lyara membalas lebih dahulu. Berarti kita mungkin cuma nonton laporan yang keluar sebelum pemeriksaannya selesai.
Rikuya menyusul beberapa menit kemudian. Dan berita sekarang pakai hasil akhirnya.
Vio menulis bahwa ia memilih penjelasan tersebut sampai ada alasan nyata untuk meragukannya.
Selvara setuju.
Untuk pertama kalinya sejak kasus gudang, sebuah ketidaksesuaian yang mereka temukan memiliki jalur penjelasan yang dapat ditelusuri dari awal sampai akhir. Informasi berubah karena pemeriksaan menghasilkan kesimpulan baru. Dokumen lama masih meninggalkan jejak. Petugas lapangan masih mengingat pemeriksaan sisi barat. Ingatan mereka tidak harus salah, dan dunia juga tidak harus berubah untuk menjelaskan perbedaannya.
Selvara menambahkan W-17 ke catatan, lalu menulis hasil pemeriksaan di bawahnya.
Retakan permukaan. Tidak mencapai struktur utama.
Ia menutup map setelah itu.
Keesokan harinya, jembatan tidak lagi menjadi pembicaraan utama. Theo tetap menyimpan seluruh dokumen karena mereka sudah terlanjur mengumpulkannya, tetapi Vio meminta folder tersebut tidak dibuka lagi kecuali ada alasan baru. Lyara kembali memikirkan klub musik, Rikuya memiliki latihan tambahan, dan Selvara mendapat salinan jadwal rapat OSIS berikutnya dari Adrian.
Menjelang pulang, Selvara sempat bertemu Theo di depan perpustakaan. Theo baru mengembalikan sebuah buku ketika ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menunjukkan pesan dari Raviel.
“Ada masalah?” tanya Selvara.
Theo menggeleng. “Bukan soal jembatan. Raviel cuma lagi merapikan daftar koleksi yang kemarin kita pakai.”
Selvara hampir melanjutkan langkah sebelum Theo membaca pesan berikutnya. Raviel rupanya menemukan beberapa kartu katalog lama yang belum masuk ke sistem digital dan meminta bantuan Theo memastikan apakah nomor koleksinya berkaitan dengan materi yang pernah mereka periksa.
“Besok saja,” ujar Selvara. “Kalau memang relevan, kartunya nggak akan pergi ke mana-mana.”
Theo memasukkan kembali ponselnya. “Aku mulai suka aturan itu.”
Mereka berjalan bersama menuju tangga. Beberapa siswa masih memenuhi koridor, suara kursi digeser terdengar dari kelas yang sedang dibersihkan, dan dari halaman luar terdengar peluit latihan basket. Tidak ada sesuatu yang menuntut perhatian mereka.
Saat melewati jendela di ujung lorong, Selvara sempat melihat pantulan siswa yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka.
Seragam yang sama., Tas sekolah di bahu.
Kepalanya menunduk seperti sedang membaca sesuatu di tangan.
Selvara tidak mengenalinya dan tidak punya alasan untuk memperhatikan lebih lama. Koridor sore memang masih dipenuhi siswa.
Ia melanjutkan percakapan dengan Theo mengenai tugas yang harus dikumpulkan besok.
Beberapa langkah kemudian Theo membuka pintu tangga lebih dahulu.
Selvara ikut masuk, lalu secara kebetulan melihat kembali kaca pada pintu sebelum menutup.
Koridor di belakang mereka masih ramai.
Namun siswa yang tadi berjalan tepat di belakang mereka sudah tidak terlihat.
Selvara menahan pintu sesaat. Pandangannya mengikuti arus siswa yang bergerak menuju ujung koridor, mencari seragam atau tas yang sama di antara mereka. Ia tidak menemukannya, tetapi tangga di sisi lain kelas dapat digunakan untuk turun dan beberapa pintu masih terbuka. Seseorang menghilang dari pandangan di koridor sekolah bukan kejadian yang perlu dicatat.
“Kamu ketinggalan sesuatu?” Theo berhenti dua anak tangga di bawah.
Selvara melepaskan pintu. “Enggak. Kupikir tadi ada orang di belakang kita.”
Theo menunggu sampai Selvara menyusul sebelum kembali turun. “Mungkin masuk kelas.”
“Mungkin.” Pembicaraan mereka kembali ke tugas sekolah sebelum mencapai lantai dasar.
Selvara bahkan tidak memasukkan kejadian itu ke catatan malamnya.
Namun jauh setelah ia melupakannya, ada satu detail kecil yang tidak pernah sempat ia sadari.
Dalam pantulan jendela tadi, siswa itu tidak sedang memegang ponsel dan juga Tangannya kosong.
Selvara tidak kembali memikirkan siswa di pantulan jendela sampai keesokan paginya. Bahkan ketika melewati koridor yang sama menuju kelas, ia hanya sempat melihat jendela panjang di ujung lorong sebelum Vio memanggilnya dari belakang karena hampir meninggalkan lembar tugas di meja ruang belajar. Kemarin sore sudah memiliki penjelasan yang cukup sederhana. Siswa itu bisa masuk ke salah satu kelas atau menggunakan tangga lain sebelum Selvara melihat kembali ke koridor. Ia juga tidak mengenali wajahnya, sehingga mencari seseorang hanya berdasarkan seragam dan tas sekolah akan menghabiskan waktu tanpa tujuan yang jelas.
Theo juga tidak menanyakannya lagi. Begitu mereka bertemu sebelum pelajaran, pembicaraan justru kembali pada W-17 setelah Raviel mengirim salinan daftar pemeriksaan yang ditemukan semalam. Dokumen tersebut masih sama: retakan permukaan di sisi barat pernah dicatat, diperiksa, kemudian dinyatakan tidak mencapai struktur utama. Penjelasan itu cukup untuk menutup perbedaan laporan jembatan tanpa memaksa mereka memilih antara ingatan dan sumber resmi.
Vio membaca pesan Raviel dari layar ponsel Theo. “Berarti kita benar-benar selesai dengan jembatan?”
Theo memasukkan ponselnya ke saku. “Kalau nggak ada hal baru, iya. Laporan awal mungkin keluar ketika hasil pemeriksaan sisi barat belum selesai.”
“Bagus. Aku mulai takut kita bakal punya hobi baru membaca dokumen konstruksi.”
Selvara mengambil buku dari dalam tas. “Kamu yang paling banyak mengeluh, tapi selalu ikut membaca.”
“Itu karena kalau aku nggak ikut, nanti kalian menjelaskan hasilnya dan aku tetap harus mendengar.”
Theo tersenyum kecil. “Logikanya sulit dibantah.”
Bel masuk membuat mereka kembali ke tempat masing-masing. Jembatan tidak muncul lagi dalam percakapan sampai siang, dan bahkan ketika mereka berkumpul bersama Lyara serta Rikuya, pembicaraan lebih banyak diisi kegiatan sekolah. Rikuya sedang menyiapkan pertandingan latihan akhir pekan, Lyara membawa daftar lagu baru dari klub musik, sedangkan Vio akhirnya mengetahui bahwa kotak dekorasi yang kemarin dipindah ternyata masih harus dibongkar karena sebagian bahan akan digunakan lagi untuk kegiatan kelas berikutnya.
Lyara membuka daftar lagunya di atas meja. “Pembina minta kami pilih tiga lagu buat latihan bulan ini. Yang satu harus lagu yang belum pernah kami bawakan.”
Vio langsung menunjuk kertas itu. “Selama bukan lagu festival lagi, aku mendukung semuanya.”
“Kamu bahkan bukan anggota klub.”
“Aku pendengar terdampak.”
Rikuya yang sedang menghabiskan makan siangnya melihat daftar dari sisi meja. “Kenapa lagu Asyeera masih ada?”
“Buat latihan vokal, bukan penampilan.” Lyara menandai salah satu judul dengan ujung pensil. “Pembina suka susunan harmoninya. Tapi kalau kami pakai lagi, aransemennya bakal beda.”
Vio menatapnya dengan curiga. “Berapa kali aku akan mendengarnya?”
“Kalau kamu berhenti datang ke ruang musik tanpa alasan, mungkin nol.”
“Itu tuduhan yang sangat spesifik.”
“Karena kejadiannya spesifik.”
Selvara tersenyum sambil membuka botol minumnya. Percakapan kemudian bergeser ke pertandingan Rikuya setelah Lyara bertanya apakah tim basket akan menggunakan gedung olahraga sepanjang Sabtu. Rikuya menjelaskan jadwalnya, lalu mengeluhkan pembina yang menambah sesi evaluasi setelah latihan. Theo ikut menanyakan apakah pertandingan itu terbuka untuk siswa lain, dan dalam beberapa menit pembicaraan mereka sudah sepenuhnya meninggalkan festival maupun berita jembatan.
Raviel datang ketika waktu makan siang hampir habis. Ia membawa beberapa kartu katalog yang kemarin disebutkan kepada Theo, tetapi tidak langsung meletakkannya di tengah meja.
“Aku cuma mau kasih tahu kartunya memang dari koleksi yang pernah kita buka,” ujar Raviel. “Tapi bukan E-204. Ada beberapa nomor dari pemindahan arsip gedung timur.”
Theo menatap kartu yang masih berada di tangan Raviel. “Ada yang berhubungan dengan Dawn?”
“Belum tahu. Dan aku nggak akan membuat kalian membaca semuanya sekarang cuma karena satu kata pernah muncul di foto buram.”
Selvara menyukai keputusan itu. “Simpan dulu. Kalau nanti ada nomor yang cocok dengan sesuatu yang sudah kita punya, baru kita buka.”
Raviel memasukkan kartu kembali ke map. “Aku mulai merasa pekerjaanku sekarang justru mencegah kalian masuk arsip.”
Vio langsung menyahut, “Itu perkembangan terbaik dari minggu ini.”
Bel peringatan terdengar beberapa saat kemudian. Mereka berpisah menuju kelas masing-masing, sementara Raviel kembali ke perpustakaan. Selvara berjalan bersama Theo sampai persimpangan koridor lantai dua sebelum Theo harus menuju kelas di sisi lain.
Di ujung lorong, beberapa siswa sedang keluar dari ruang kegiatan. Selvara tidak memperhatikan mereka satu per satu sampai salah seorang berdiri di dekat jendela panjang yang sama seperti kemarin.
Seragam sekolah.
Tas di bahu.
Kepala sedikit menunduk.
Selvara mengenali bentuknya lebih dahulu daripada wajahnya.
Ia memperlambat langkah.
Theo yang sudah berjalan beberapa langkah di depan menyadari Selvara tertinggal. “Kenapa?”
Selvara tidak langsung menjawab. Siswa itu masih berdiri di dekat jendela, tetapi dua orang lain melewatinya dan menutup sebagian pandangan. Ketika lorong kembali terbuka, ia sudah berjalan menuju arah berlawanan.