CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #25

Names Left Behind

Chapter 2 - Episode 3

Foto E-204 masih tersimpan di ponsel Selvara ketika ia tiba di sekolah pada Senin pagi. Ia sudah melihat versi aslinya beberapa kali sejak Lyara mengirimkannya, tetapi hasilnya tetap sama. Sosok di balik kaca pintu memiliki rambut gelap, seragam sekolah, dan tas yang sangat mirip dengan milik Naren, sementara pantulan koridor menutup sebagian wajahnya. Waktu pengambilan foto juga sudah mereka cocokkan dengan kejadian sore itu: beberapa menit sebelumnya, Naren masih terlihat di halaman depan bersama dua teman sekelasnya. Mereka belum memiliki alasan untuk menyebut keduanya sebagai orang yang sama, sehingga foto tersebut tetap disimpan sebagai pembanding, bukan kesimpulan.

Begitu memasuki kelas, urusan pagi mengambil alih perhatian Selvara. Ketua kelas sedang berdiri di depan sambil mengumumkan perubahan jadwal presentasi, beberapa siswa memindahkan kursi yang digunakan untuk kegiatan Jumat, sedangkan Vio sudah duduk dengan satu buku terbuka dan wajah yang menunjukkan bahwa ia tidak menyukai sesuatu di dalamnya. Selvara baru meletakkan tas ketika Vio menggeser buku itu ke arahnya.

“Punyamu nyasar sampai belakang kemarin,” kata Vio. “Aku hampir bawa pulang sebelum lihat nama di sampul.”

Selvara mengenali buku catatan yang semalam ia cari di rumah. “Ternyata kamu yang ambil.”

“Enak saja.” Vio mengambil kembali pulpennya. “Aku sudah baik-baik balikin, malah dituduh.”

“Setelah hampir dibawa pulang.”

Vio mendecakkan lidah kecil. “Nah, kalau bagian itu mau dihapus dari cerita, aku nggak keberatan.”

Selvara memasukkan buku tersebut ke tas sambil tertawa. Theo datang tidak lama kemudian membawa hasil cetak presentasi yang sejak Jumat masih mereka revisi. Ia menjatuhkan lembar itu di antara buku Vio dan kotak pensil Selvara, lalu menunjuk tabel terakhir.

“Sudah kuganti. Cek sekali, habis itu jangan ada yang kirim versi lain lagi.”

Vio membaca angkanya dan langsung menutup lembar tersebut. “Benar. Simpan. Jangan kasih Selvara.”

Selvara menatapnya. “Kenapa jadi aku?”

“Nama file kamu kemarin ada tiga kata final.”

“Itu karena Theo kirim revisi setelah aku selesai.”

Theo yang sedang membuka tas langsung mengangkat kepala. “Lho, sekarang salahku?”

Vio menahan senyum. “Bagus. Baru pagi sudah ketemu pelakunya.”

Theo menarik kembali hasil cetaknya. “Aku bawa saja. Kalian berdua nggak layak dipercaya.”

Percakapan mereka terputus ketika guru pertama masuk dan meminta semua siswa kembali ke tempat masing-masing. Selvara sempat melihat meja dekat jendela yang masih kosong, tetapi beberapa kursi lain juga belum terisi sehingga ia tidak memikirkannya. Pelajaran berjalan seperti biasa sampai menjelang istirahat, lengkap dengan satu kuis singkat yang membuat Vio mengeluh karena guru memberi waktu terlalu sedikit dan Theo dari barisan depan sempat menoleh hanya untuk memperlihatkan ekspresi puas setelah berhasil menyelesaikannya lebih dahulu.

Saat bel akhirnya berbunyi, Vio masih belum menerima kekalahannya.

“Dia pasti lihat soal itu sebelumnya.”

Selvara memasukkan buku ke tas kecilnya. “Theo?”

“Iya.”

“Dari mana?”

Vio berhenti sejenak. “Belum kupikirkan.”

Selvara tertawa. “Tuduhannya matang sekali.”

“Aku sedang mengembangkan teorinya.”

Theo mendatangi meja mereka sambil membawa botol minum. “Kalau yang kalian bahas aku, minimal tunggu aku cukup dekat buat membela diri.”

Vio langsung menunjuknya. “Kamu selesai terlalu cepat.”

“Karena aku belajar.”

“Itu alasan yang menyebalkan.”

Theo tertawa dan mengajak mereka keluar sebelum kantin penuh. Selvara baru berdiri ketika pandangannya kembali melewati meja dekat jendela. Kali ini hampir seluruh kelas sudah kosong karena siswa berhamburan menuju koridor, tetapi sesuatu pada meja tersebut membuatnya berhenti sedikit lebih lama.

Ia ingat pernah melihat botol minum bertutup biru di sana.

Ingatan itu muncul begitu saja, disusul gambaran seseorang yang menggeser kursi ke dalam karena Vio hendak lewat. Selvara dapat mengingat suara kaki kursi bergesekan dengan lantai serta buku yang saat itu bertumpuk di sudut meja, tetapi wajah pemiliknya tidak ikut muncul.

Vio yang sudah sampai di pintu menyadari Selvara belum bergerak. “Ketinggalan apa?”

Selvara menunjuk meja itu. “Kamu ingat siapa yang duduk dekat jendela?”

Vio melihat ke belakang. “Yang mana?”

“Dua meja dari belakang.”

Vio kembali beberapa langkah dan memperhatikan posisi yang dimaksud. “Kayaknya pernah ada orang di situ.” Ia mengerutkan dahi sebentar, lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri. “Atau aku cuma ingat kursinya. Aku pernah hampir kesandung di sana.”

Mirea yang masih membereskan buku di meja sebelah mendengar percakapan mereka. “Bukannya itu memang meja kosong?”

Vio menoleh kepadanya. “Dari awal?”

“Setahuku, iya.” Mirea memasukkan map ke tas. “Kalau pernah ada yang duduk, paling waktu kerja kelompok. Kita kan sering pindah-pindah.”

Selvara mencoba menempatkan ingatannya pada salah satu kegiatan kelompok, tetapi tidak menemukan hari yang tepat. “Mungkin kecampur.”

“Kalau kalian mau berdiri di sini sampai ingat, aku duluan ke kantin,” kata Mirea sambil melewati mereka. “Nanti tinggal makanan yang nggak perlu diingat karena sudah habis.”

Vio langsung mengikuti. “Nah, ini informasi yang lebih penting.”

Selvara ikut keluar bersama mereka. Meja itu tertinggal di belakang dan tidak lagi terasa mendesak setelah mereka bergabung dengan siswa lain di koridor. Satu ingatan yang tidak lengkap belum berarti apa-apa, apalagi setelah beberapa minggu terakhir membuatnya jauh lebih peka terhadap detail yang biasanya tidak akan ia perhatikan.

Di kantin, Rikuya sudah mendapatkan meja bersama Theo, sementara Lyara baru terlihat di antrean makanan. Vio duduk di seberang Rikuya dan belum sempat membuka minuman ketika Rikuya langsung memperingatkannya.

“Kalau kamu mau bahas aku jatuh lagi, pindah meja.”

Vio menatapnya polos. “Aku belum ngomong apa-apa.”

“Wajahmu sudah.”

Theo hampir tersedak minumannya karena tertawa. “Dia benar. Dari tadi kamu lihat kakinya.”

“Aku cuma memastikan atlet kebanggaan kita masih utuh.”

Rikuya membuka kotak makannya. “Tiga hari. Kalian sudah bahas itu tiga hari.”

Selvara duduk di samping Theo. “Yang bikin panjang justru kamu selalu membela diri.”

Rikuya menatap Selvara seolah baru dikhianati. “Kamu juga sekarang?”

“Selvara cuma menyampaikan fakta,” sahut Theo.

“Jangan senang dulu. Kamu yang mulai waktu pulang kemarin.”

Theo langsung diam.

Vio tersenyum puas. “Nah.”

Rikuya menunjuk Selvara dengan sendoknya. “Akhirnya ada yang adil.”

Lyara datang membawa makanannya tepat ketika mereka kembali ribut. Ia menaruh map musik di kursi kosong sebelum duduk di samping Vio. “Aku telat apa?”

“Rikuya masih membahas pertandingan,” jawab Vio.

“Aku yang membahas?” Rikuya menatapnya tidak percaya.

Lyara baru membuka minuman, tetapi ekspresi Rikuya sudah cukup menjelaskan situasinya. “Oke, aku nggak ikut.”

“Terima kasih,” kata Rikuya. “Satu orang normal.”

Vio menggeser tempat minumnya agar Lyara punya ruang. “Tunggu lima menit.”

Makan siang berjalan lebih banyak diisi cerita pertandingan, tugas kelas, dan keluhan Lyara mengenai latihan musik. E-204 baru ikut masuk ketika Lyara membuka map untuk mencari jadwal baru dan satu lembar pemberitahuan terselip di antaranya.

“Oh, iya. Ruangannya memang ditutup gara-gara lembap,” ujar Lyara sambil memperlihatkan surat dari pembina. “Ventilasi sisi timur mau diperiksa juga. Latihan kami pindah sampai mereka selesai.”

Selvara membaca keterangan fasilitas yang hanya terdiri dari beberapa baris. “Berarti alat yang ada di foto memang buat pemeriksaan dinding.”

“Iya. Pembina bilang beberapa barang juga sempat dikeluarin.” Lyara melipat kembali surat itu. “Jadi kalau orang di foto kemarin siswa yang bantu, masuk akal.”

Theo mengambil ponselnya, tetapi belum sempat membukanya ketika Rikuya mengangkat tangan.

“Sebentar. Foto apa?”

Vio tertawa. “Oh iya, kamu kemarin sudah pulang waktu itu.”

Theo akhirnya membuka foto E-204 dan menggeser ponselnya ke tengah meja. “Lyara dapat ini dari anak klub. Lihat bagian pintunya.”

Rikuya memperbesar gambar tersebut. “Yang di kaca?”

Lyara menunjuk sosok samar di balik pantulan. “Mirip Naren. Masalahnya waktu foto ini diambil, Selvara lihat Naren masih di halaman.”

Rikuya memicingkan mata ke layar beberapa detik, lalu mengembalikannya. “Aku bahkan nggak bisa lihat mukanya.”

“Makanya belum kita anggap Naren,” kata Selvara. “Foto ini cuma disimpan.”

“Bagus.” Rikuya kembali membuka kotak makannya. “Soalnya kalau patokannya rambut sama tas, aku bisa jadi tersangka berikutnya.”

Vio melihat tas hitam Rikuya yang diletakkan di bawah meja. “Wah, benar juga.”

Rikuya langsung menarik tasnya lebih dekat dengan kaki. “Jangan macam-macam.”

Theo tertawa. “Terlambat. Barang bukti sudah ditemukan.”

“Barang bukti apaan?”

“Tas hitam.”

Rikuya menatap Theo cukup lama sebelum menggeleng. “Aku harus mulai makan sendirian.”

Pembicaraan mengenai foto berakhir dengan sendirinya. Tidak ada yang merasa perlu kembali ke E-204 atau mencari Naren. Penjelasan bagian fasilitas memberi mereka alasan cukup kuat untuk membiarkan ruangan tersebut tetap menjadi urusan sekolah, sementara identitas sosok dalam foto belum dapat dipastikan.

Lyara kemudian mengeluhkan lagu yang baru dimasukkan pembina ke daftar latihan festival. Vio langsung mengetahui penyebabnya ketika Lyara menyebut Asyeera.

“Kemarin katanya cuma dengar satu lagu.”

“Memang satu,” jawab Lyara. “Sekarang anak-anak minta lagu yang sama dimainkan.”

“Dan kamu ikut?”

“Aku kebagian keyboard, Vio. Masa aku berdiri sambil nonton?”

Theo menahan tawa. “Dua minggu lagi dia hafal semua lagunya.”

Lyara mengambil tisu dari meja dan melemparkannya ke Theo. “Kamu jangan ikut.”

Tisu itu jatuh sebelum mencapai bahunya. Theo tetap mengangkat kedua tangan seolah baru saja diserang, membuat Selvara tertawa bersama Vio. Asyeera kembali menjadi bahan godaan selama beberapa menit, lalu hilang dari percakapan ketika Rikuya mengingatkan mereka bahwa jadwal latihan basket berikutnya bentrok dengan persiapan kelas.

Saat bel peringatan berbunyi, mereka meninggalkan kantin bersama. Rikuya berpisah di tangga menuju gedung olahraga, Lyara menuju ruang musik, sedangkan Selvara, Theo, dan Vio kembali ke kelas. Tidak ada sesuatu yang terasa mendesak sampai Vio berjalan melewati meja dekat jendela dan sebuah benda kecil jatuh dari ruang penyimpanan di bawahnya.

Penghapus putih menggelinding di lantai dan berhenti dekat sepatu Theo.

Theo mengambilnya. “Ini punya siapa?”

“Dari meja yang tadi,” kata Vio.

Selvara menerima penghapus itu ketika Theo menyerahkannya. Ukurannya tinggal separuh, pembungkusnya dipenuhi bekas pensil, dan satu sisi memiliki tulisan spidol yang sudah memudar. Tiga huruf pertama masih dapat dibaca sebagai Nar, sementara bagian setelahnya hanya meninggalkan noda hitam tipis.

Vio ikut membaca dari samping. “Jangan bilang.”

“Aku belum bilang apa-apa.”

“Bagus. Tetap begitu.” Vio mengambil penghapus tersebut dari tangan Selvara dan berjalan ke meja guru. “Nar bisa nama siapa saja. Kalau kita mulai mencurigai semua benda yang punya tiga huruf mirip, besok papan nama kantin juga kita periksa.”

Theo baru memahami setelah melihat tulisan itu. “Kalian mikir Naren?”

Vio meletakkan penghapus bersama beberapa barang kecil lain di meja guru. “Justru aku sedang berusaha nggak mikir Naren.”

Selvara kembali ke tempat duduk. “Meja itu menurut Mirea memang kosong dari awal semester.”

Theo melihat ke arah jendela. “Tapi kalian ingat pernah ada orang?”

“Aku ingat kursinya pernah bikin jalan sempit,” jawab Vio. “Selvara ingat botol minum sama seseorang yang duduk di sana. Jadi sejauh ini bukti terkuat kita adalah ingatan dua orang yang sama-sama nggak yakin.”

Theo menarik kursinya sendiri. “Berarti nanti cek denah kelas. Kalau memang dari awal kosong, selesai.”

“Besok saja,” kata Vio. “Aku baru duduk.”

Theo tertawa. “Aku juga nggak nyuruh sekarang.”

“Wajahmu nyuruh.”

“Itu penyakit baru?”

“Ketularan Rikuya.”

Guru berikutnya masuk sebelum Theo sempat membalas. Meja dekat jendela kemudian digunakan Mirea ketika kelas dibagi menjadi kelompok, dan selama hampir satu jam tidak ada yang terlihat ganjil. Siswa berpindah kursi, buku bertukar tangan, beberapa meja didorong mendekat, dan posisi yang tadi terasa kosong berubah menjadi bagian biasa dari susunan kelas. Selvara bahkan mulai berpikir ingatannya memang berasal dari kegiatan seperti ini. Ia sudah terlalu lama berada di kelas yang sama untuk mengingat setiap posisi orang pada setiap hari dengan tepat.

Sore harinya, Selvara mampir ke ruang OSIS karena Adrian meminta bantuan memeriksa satu revisi jadwal aula. Ia sempat mengeluh begitu melihat formulir sudah menunggu di meja.

“Kamu bilang kemarin selesai.”

Adrian mendorong formulir itu ke arahnya. “Yang kemarin selesai. Ini masalah baru.”

“Kalimat itu nggak membuatku merasa lebih baik.”

“Aku juga nggak merasa lebih baik waktu nerimanya.”

Selvara duduk dan membaca perubahan jadwal. “Kalau aku terus datang ke sini, orang bakal mengira aku sudah balik jadi pengurus.”

Adrian tetap menulis di lembar lain. “Kalau kamu balik, aku bisa kasih semua ini sekalian.”

“Jangan bermimpi.”

“Makanya sekarang aku cicil.”

Selvara menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil. “Kamu ternyata sengaja.”

Adrian tidak membantah. Ia hanya menarik kembali formulir setelah Selvara menandai satu kolom yang belum diisi.

Seorang pengurus masuk tidak lama kemudian membawa kotak barang temuan dari beberapa kelas. Isinya pulpen, penggaris, satu kartu kantin, gantungan kunci, dan penghapus yang Selvara lihat siang tadi. Adrian membantu mencatat sambil sesekali menebak tulisan nama yang sudah pudar.

Ketika penghapus dari kelas Selvara sampai di tangannya, Adrian membaca tiga huruf yang tersisa. “Nar. Ini dari mana?”

“Meja dekat jendela di kelasku,” jawab Selvara. “Besok taruh saja di depan. Mungkin ada yang cari.”

Adrian mencatat lokasi penemuannya. “Kalau sampai Jumat nggak ada yang ambil, baru masuk kotak penyimpanan.”

Selvara mengangguk dan tidak menyebut Naren. Adrian juga tidak menghubungkannya dengan kasus kartu beberapa hari sebelumnya. Penghapus itu masuk ke plastik kecil bersama benda lain, lalu perhatian mereka kembali pada formulir aula.

Selvara meninggalkan ruang OSIS sekitar dua puluh menit kemudian. Di halaman depan, Naren sedang berjalan menuju gerbang bersama dua teman sekelasnya. Tas gelap berada di bahu kanan, dan dari jarak itu Selvara akhirnya dapat melihat wajahnya dengan jelas tanpa harus membandingkannya dengan foto kartu. Naren sedang tertawa karena sesuatu di layar ponsel temannya, kemudian ketiganya berbelok menuju jalur keluar.

Selvara tetap berjalan ke arah lain.

Tiga huruf pada penghapus tidak cukup untuk mengubah apa pun.

Pagi berikutnya, ia datang lebih awal dan menemukan ketua kelas sedang memperbarui jadwal piket. Selvara menunggu sampai spidol diletakkan sebelum menunjuk meja dekat jendela.

“Aku mau cek denah tempat duduk awal semester. Masih ada?”

Ketua kelas menatap meja tersebut, lalu Selvara. “Kenapa?”

“Aku sama Vio merasa pernah ada orang yang duduk di sana. Mirea bilang dari awal kosong.”

“Wah, kalau mengandalkan aku, bisa tambah kacau.” Ketua kelas langsung membuka laptop di meja depan. “Aku bahkan kadang lupa siapa yang tukeran minggu lalu.”

Selvara berdiri di sampingnya ketika folder kelas dibuka. Ketua kelas menemukan file denah awal semester setelah melewati beberapa versi jadwal piket dan pembagian kelompok.

“Nah, ini yang pertama.”

Kotak-kotak nama memenuhi layar sesuai susunan meja. Barisan dekat jendela terisi sampai posisi dua meja dari belakang.

Kotak itu kosong.

Ketua kelas menunjuknya. “Berarti Mirea benar.”

Selvara membaca tanggal pembuatan file yang berasal dari minggu pertama sekolah. “Nggak pernah direvisi?”

“File denah ini? Kayaknya enggak. Waktu pindah tempat duduk aku bikin file baru.” Ketua kelas sempat hendak menutup laptop, lalu tangannya berhenti di touchpad. “Tapi sekarang kamu ngomong begini, aku malah ingat pernah nyuruh seseorang pindah dari meja itu.”

Selvara menoleh kepadanya. “Siapa?”

Ketua kelas tertawa kecil karena pertanyaan itu justru membuatnya semakin bingung. “Nah, itu. Jangan tanya. Aku cuma ingat pernah berdiri di situ sambil bilang dia pindah ke depan karena susunan baru. Bisa saja aku kecampur sama kelas tahun lalu.”

“Kalau nggak yakin, nggak usah dipaksa.”

“Setuju. Nanti malah aku bikin orang baru dari ingatan sendiri.”

Vio masuk saat ketua kelas menutup laptop. Begitu Selvara menceritakan hasilnya, Vio menjatuhkan tas ke kursi dan terlihat cukup puas.

“Bagus. Kosong dari awal. Kita berdua salah ingat, selesai.”

“Ketua kelas juga merasa pernah ada orang.”

Vio belum sempat duduk. “Kenapa kamu harus menambahkan bagian itu?”

“Karena dia bilang begitu.”

“Selvara, sekali-sekali biarkan aku menikmati jawaban gampang lebih dari lima detik.”

Ketua kelas yang masih berada di depan tertawa mendengarnya. “Aku sendiri nggak yakin. Jangan bawa-bawa aku kalau kalian mulai bikin teori.”

Vio menunjuknya. “Nah, dengar. Saksi menarik pernyataan.”

“Bukan begitu cara kerja saksi,” kata Selvara.

“Aku nggak peduli. Pagi ini mejanya kosong dan aku mau sarapan dengan tenang.”

Theo datang beberapa menit kemudian dan hanya mendapat versi singkat dari percakapan tersebut. Ia melihat denah melalui ponsel Selvara, lalu mengembalikannya tanpa mengusulkan pencarian baru.

“Kalau nanti ketemu foto kelas lama, tinggal lihat,” kata Theo sambil mengeluarkan buku. “Nggak perlu sekarang.”

Vio langsung mengangguk. “Akhirnya.”

Theo meliriknya. “Kamu kenapa?”

“Jangan tanya. Nikmati saja kita sepakat.”

Bel pertama segera berbunyi. Guru masuk membawa setumpuk tugas lama yang sudah diperiksa dan meminta ketua kelas membantu membagikannya. Beberapa lembar diletakkan berdasarkan barisan, lalu berpindah dari satu siswa ke siswa berikutnya. Selvara menerima miliknya, mengecek nilai di sudut kanan, dan baru hendak memasukkannya ke map ketika satu lembar lain sampai di mejanya.

“Itu bukan punyaku,” kata Selvara kepada siswa yang menyerahkannya.

Siswa tersebut melihat nama di bagian atas, tetapi tulisan pensilnya sudah pudar karena bekas hapusan. “Aku juga nggak bisa baca. Oper saja ke depan.”

Selvara hendak menyerahkannya kepada Vio ketika bagian nama terlihat lebih jelas dari sudut tertentu. Beberapa huruf masih tersisa, cukup untuk membentuk awal nama Nare, sedangkan bagian akhirnya sudah hilang bersama bekas penghapus.

Vio membacanya dan langsung mengembalikan lembar itu ke tangan Selvara. “Jangan lihat aku. Kasih ketua kelas.”

Selvara berdiri dan membawanya ke depan. “Ini nggak tahu punya siapa. Namanya sudah hampir kehapus.”

Ketua kelas menerima kertas itu, memeriksa nomor tugas di sudut, lalu membuka daftar nilai di laptop. “Bentar, yang ini tugas bulan lalu.”

Ia menggulir beberapa baris sambil mencocokkan nilai. Selvara tidak ikut membaca layar dari dekat. Beberapa detik kemudian ketua kelas berhenti dan mengernyit.

“Lucu juga.”

Selvara menunggu.

Ketua kelas memutar laptop sedikit agar ia bisa melihat. Nilai pada lembar tersebut adalah delapan puluh empat. Daftar digital juga memiliki nilai delapan puluh empat pada urutan yang sama, tetapi kolom nama di sebelahnya kosong.

“Datanya mungkin rusak waktu dipindah,” kata ketua kelas sambil mencoba membuka file cadangan. “Nanti aku kasih guru saja. Beliau pasti punya daftar aslinya.”

Selvara melihat lembar tugas sekali lagi. Tulisan Nare masih berada di bagian atas dan tidak memberi mereka nama lengkap.

Dari belakang, Vio memanggil cukup keras agar terdengar sampai depan. “Kalau sudah ketemu pemiliknya, jangan bilang namanya diawali Nar. Aku lagi berusaha punya hari normal.”

Beberapa siswa di dekatnya tertawa karena tidak memahami konteksnya. Ketua kelas juga ikut tersenyum sambil menutup daftar nilai.

“Tenang. Kalau ternyata namanya Naruto, aku kasih tahu kamu duluan.”

Vio langsung menyandarkan kepala ke meja. “Nah, sekarang malah lebih buruk.”

Selvara tertawa bersama mereka dan kembali ke tempat duduk. Lembar tugas itu tetap berada di meja ketua kelas untuk diserahkan kepada guru, sehingga ia tidak mencatat ataupun memotretnya. Mereka sudah mempunyai cukup banyak benda yang tampak penting hanya karena dilihat dari arah tertentu. Pelajaran dimulai beberapa menit kemudian.

Di tengah penjelasan guru, Selvara sempat melihat meja dekat jendela. Permukaannya kosong seperti pada denah awal semester, dan kali ini ia tidak mencoba mengingat siapa yang pernah berada di sana.

Namun ketika kelas berakhir dan siswa mulai keluar untuk istirahat, seorang anak dari barisan depan melewati meja tersebut sambil membawa dua buku. Ia berhenti sebentar, menggeser kursinya masuk agar lorong lebih lebar, lalu melanjutkan berjalan.

Gerakan kecil itu membuat Selvara teringat sesuatu yang sebelumnya hilang dari ingatannya.

Orang yang pernah duduk di sana bukan seseorang yang ia lihat sesekali saat kerja kelompok. Selvara ingat pernah meminta orang itu menggeser kursinya karena Vio kesulitan lewat, lalu mendengar Vio bercanda bahwa meja dekat jendela selalu membuat lorong terasa sempit.

Ia masih tidak mendapatkan wajah ataupun nama.

Kali ini, ia juga ingat Vio pernah membalas orang tersebut.

Ingatan itu bertahan bahkan setelah Vio keluar lebih dulu bersama beberapa siswa lain. Selvara masih duduk sambil memandangi meja dekat jendela, mencoba mengembalikan percakapan yang baru saja terlintas di kepalanya. Ia ingat pernah meminta seseorang menggeser kursi karena lorong terlalu sempit, lalu Vio yang berada di belakangnya ikut mengeluh. Orang tersebut membalas sesuatu yang membuat Vio tertawa. Potongan kejadiannya terasa lebih utuh daripada pagi tadi, tetapi bagian yang seharusnya paling mudah justru tetap hilang. Selvara tidak dapat mengingat wajah, suara, ataupun nama orang itu.

Vio muncul lagi di ambang pintu. “Kamu jadi ikut atau mau makan meja itu?”

Selvara mengambil tas kecilnya dan berdiri. “Aku ingat kamu pernah ngomong sama orang yang duduk di sana.”

“Ngomong apa?”

“Entah. Aku cuma ingat kamu ketawa.”

Vio berjalan kembali sampai dekat mejanya, lalu melihat kursi kosong tersebut. “Aku ketawa tiap hari. Petunjukmu buruk.”

“Kamu juga pernah bilang lorongnya sempit gara-gara kursinya.”

“Nah, itu aku ingat.” Vio menarik kursi tersebut sedikit keluar, mencoba melihat posisinya seperti dulu. “Kayaknya aku bilang, kalau kursinya maju sedikit lagi aku harus lewat jendela.”

Selvara langsung mengenali kalimat itu. “Iya.”

Vio yang tadi masih bercanda perlahan kehilangan senyumnya. “Tunggu. Aku memang pernah bilang begitu.”

“Kepada siapa?”

Vio menatap kursi di tangannya, lalu mendorongnya kembali ke bawah meja. “Itu masalahnya. Aku ingat ngomongnya, tapi orangnya kosong.”

Selvara tidak menyukai pilihan kata terakhir itu, terutama karena Vio mengucapkannya tanpa sengaja. Ia segera mengambil ponsel, tetapi urung membuka daftar kelas. Menemukan nama yang terasa cocok hanya akan membuat ingatan mereka mengikuti informasi baru.

“Jangan cari nama dulu,” ujar Selvara.

“Aku juga nggak mau.” Vio mengambil tasnya. “Kalau kita baca daftar sekarang, lima menit lagi bisa saja aku yakin pernah ngobrol sama siapa pun yang namanya kelihatan familiar.”

Mereka meninggalkan kelas dan menyusul Theo di tangga. Vio menceritakan ingatan yang baru muncul sambil berjalan, kali ini tanpa menjadikannya sesuatu yang lebih besar daripada yang mereka punya. Theo sempat memperlambat langkah ketika mendengar bahwa keduanya mengingat percakapan yang sama, tetapi ia juga tidak menyarankan pencarian nama.

“Foto,” kata Theo setelah beberapa saat. “Kalau memang ada.”

Vio meliriknya. “Foto kelas?”

“Bukan harus foto resmi. Kegiatan kelas juga bisa. Yang penting dibuat sebelum kita mulai mikirin meja itu.”

Selvara mengangguk. “Kita lihat yang sudah ada. Jangan bikin pertanyaan baru ke orang lain dulu.”

“Setuju.” Vio memasukkan tangan ke saku rok. “Aku belum siap keliling kelas sambil nanya, ‘Hei, kalian ingat manusia yang mungkin pernah ada?’”

Theo tertawa pendek. “Kalau kamu ngomong begitu, mereka justru bakal ingat sesuatu.”

“Makanya aku nggak akan ngomong.”

Mereka sampai di kantin dan pembicaraan berhenti ketika Rikuya melambaikan tangan dari meja yang sama seperti kemarin. Lyara belum datang karena latihan klub mundur beberapa menit, sementara Adrian terlihat di meja lain bersama dua pengurus OSIS. Selvara tidak berniat membahas meja kosong saat makan, tetapi Theo sudah membuka galeri kelas sebelum makanannya tiba.

Vio langsung menurunkan ponsel Theo dengan ujung jarinya. “Kamu sendiri yang bilang foto, bukan berarti harus sekarang.”

“Aku cuma buka galeri.”

“Dan aku cuma menyelamatkan makan siang.”

Rikuya yang belum tahu apa-apa memandang mereka bergantian. “Sekarang masalahnya apa lagi?”

“Meja,” jawab Vio.

Rikuya menunggu beberapa detik. “Aku menyesal nanya.”

Theo tertawa sambil menyimpan ponselnya. “Selvara sama Vio ingat pernah ngobrol dengan orang yang duduk di satu meja. Denah kelas bilang mejanya kosong dari awal.”

Rikuya membuka sedotan minumannya. “Kalau orangnya pernah duduk sebentar?”

“Bisa,” jawab Selvara. “Makanya belum ada yang perlu disimpulkan.”

“Ya sudah.”

Vio menatap Rikuya. “Kadang aku iri sama kemampuanmu selesai dengan masalah dalam dua kata.”

Rikuya mengangkat bahu. “Kalian belum punya orangnya, belum punya nama, bahkan belum yakin dia duduk tetap di sana. Mau diapain?”

Theo tertawa kecil. “Jangan dibiasakan. Nanti dia makin bangga.”

“Aku memang benar.”

“Baru sekali.”

“Dua kali. Kemarin soal foto juga.”

Vio hendak membalas ketika Lyara datang sambil membawa nampan. Ia baru duduk ketika Rikuya langsung menunjuk tiga orang di depannya.

“Jangan tanya mereka lagi bahas apa.”

Lyara meletakkan minumannya. “Sekarang aku malah mau tahu.”

“Meja kosong,” kata Vio.

Lyara menatapnya beberapa saat. “Oke, aku salah. Harusnya tadi dengar Rikuya.”

Percakapan berubah menjadi saling mengejek sampai makanan mereka datang. Selvara membiarkannya. Potongan ingatan di kelas tetap mengganggu, tetapi justru suasana biasa di sekitar meja kantin membuatnya lebih mudah menahan dorongan untuk mencari jawaban secepat mungkin. Mereka pernah melakukan kesalahan dengan memberi terlalu banyak arti pada sesuatu sebelum memiliki pembanding. Kali ini mereka setidaknya tahu apa yang harus dihindari.

Di atas televisi kantin, sebuah program hiburan sedang menampilkan daftar lagu yang paling banyak diputar sepanjang minggu. Suaranya hampir tenggelam oleh percakapan siswa, dan tidak seorang pun di meja mereka memperhatikan sampai nama Asyeera muncul di urutan kedua. Lyara sempat melihat ke layar ketika cuplikan lagunya diputar.

Vio langsung menangkapnya. “Nah.”

Lyara bahkan belum sempat menyentuh makanannya. “Apa?”

“Kamu lihat.”

“Televisinya di depan muka.”

“Alasan.”

Lyara mengambil sendok. “Besok aku duduk membelakangi TV supaya kamu tenang.”

Rikuya ikut melihat layar sebentar. “Lagunya yang dipakai klub?”

“Iya,” jawab Lyara. “Yang bagian keyboard-nya bikin aku mau protes.”

Theo mengangguk seolah memahami, padahal Selvara tahu ia bahkan belum mendengar lagunya sampai selesai. “Berarti masalahnya serius.”

Lyara menatap Theo. “Kamu jangan sok ngerti musik.”

“Aku ngerti kalau kamu sudah mengeluh tiga kali.”

“Itu bukan musik. Itu statistik.”

Vio tertawa, dan percakapan kembali menjauh dari layar. Beberapa detik kemudian program hiburan berganti ke berita singkat tentang kegiatan kota, sementara nama Asyeera hilang dari televisi tanpa meninggalkan perhatian lebih lanjut.

Setelah makan, Theo akhirnya membuka galeri kelas. Mereka tidak mencari berdasarkan wajah atau nama. Ia memilih folder kegiatan semester berjalan dan menggulir foto sesuai tanggal, mulai dari persiapan kelas, presentasi kelompok, sampai dokumentasi yang dikirim guru ketika beberapa siswa mendapat penghargaan.

Foto pertama yang memperlihatkan sisi jendela berasal dari minggu kedua semester.

Meja yang mereka cari tertutup sebagian oleh siswa yang berdiri di depan.

Foto berikutnya diambil dari sudut lain. Kursinya terlihat, tetapi sedang digunakan untuk meletakkan beberapa tas.

Vio menunjuk layar. “Nah, ini yang bikin ingatan bisa kacau. Meja itu memang sering dipakai.”

Theo terus menggulir. “Makanya cari yang susunan kelasnya masih normal.”

Mereka menemukan satu foto sebelum pelajaran dimulai. Sebagian besar siswa masih berada di tempat masing-masing, beberapa berdiri dekat pintu, dan cahaya pagi membuat sisi jendela terlihat cukup jelas. Meja tersebut ada di sana dengan sebuah buku di atasnya.

Kursinya kosong.

“Buku siapa?” tanya Vio.

Theo memperbesar gambar. Sampulnya terlalu jauh untuk dibaca.

Lihat selengkapnya