Chapter 2 - Episode 4
Bel berbunyi sebelum Selvara sempat menyentuh kertas di meja dekat jendela. Suara kursi yang bergeser dan tas yang ditarik dari bawah meja segera memenuhi kelas, sementara ketua kelas melepaskan jadwal lama dari papan dan menumpuknya bersama beberapa lembar yang akan dibuang. Selvara menunggu sampai arus siswa menuju pintu sedikit berkurang, lalu mengambil kertas yang tadi sempat menarik perhatiannya.
Ketua kelas baru menyadari ketika Selvara sudah membalik lembar itu. Ia menghentikan pekerjaannya sambil masih memegang selotip bekas. “Kalau kamu mau nyimpan itu, ambil saja. Besok juga masuk kertas bekas.”
Vio yang sedang memasukkan kotak pensil ke tas berpindah mendekat dan membaca tulisan samar di bagian belakang. “Lima menit lalu kamu bilang mau membiarkan jawabannya nunggu.”
Selvara meratakan lipatan kertas dengan telapak tangan. “Aku masih menunggu. Kertasnya yang kebetulan mau dibuang.”
Vio menahan senyum, lalu menarik kursi terdekat supaya tidak berdiri di tengah lorong. “Oke. Aku terima pembelaan itu karena secara teknis kamu benar.”
Theo sudah sampai di pintu ketika menyadari mereka tidak ikut keluar. Ia kembali sambil memasukkan satu buku ke dalam tas. “Kalian belum pulang karena selembar kertas?”
Vio menunjuk Selvara dengan ujung pulpen. “Jangan lihat aku. Aku tadi sudah hampir berhasil membawanya keluar kelas.”
Selvara memutar lembar itu agar Theo dapat membaca tabel karbon yang tercetak samar. “Aku cuma mau tahu ini daftar apa. Tadi kupikir denah tempat duduk.”
Theo membaca judul yang hampir tertutup bekas lipatan, lalu menarik bagian atasnya sedikit lebih dekat ke cahaya. “Bukan denah. Ini daftar kesiapan kegiatan kelas.”
Selvara mengikuti kolom yang masih terlihat. Nama siswa berada di sisi kiri, sedangkan bagian kanan mencatat kehadiran dan perlengkapan. Baris yang tadi ia lihat memang memiliki tulisan Hadir, tetapi posisinya tidak berhubungan dengan meja dekat jendela. Kertas tersebut hanya kebetulan diletakkan di sana setelah dilepas dari papan.
Vio mengembuskan napas lega sambil bersandar pada kursi. “Bagus. Meja itu gagal punya petunjuk baru bahkan sebelum kita keluar kelas. Aku anggap kemajuan.”
Theo menelusuri urutan baris dengan jarinya. “Masih ada nama kosong, sih.”
Vio langsung memelototinya. “Kamu nggak bisa biarkan aku senang sepuluh detik?”
Theo tertawa dan menyerahkan kertas kembali kepada Selvara. “Aku cuma bilang ada kolom kosong. Bisa karena karbonnya nggak nempel, bisa nama siswa belum ditulis waktu lembar ini disalin.”
Ketua kelas yang masih merapikan papan mendengar bagian terakhir dan ikut mendekat. Setelah melihat formulir itu, ia mengerutkan dahi sebentar sebelum akhirnya mengenali formatnya. “Oh, yang ini waktu persiapan kegiatan Januari. Aku kayaknya cuma bantu ngumpulin.”
Selvara menunjuk baris kosong tersebut. “Kamu ingat siapa yang isi?”
Ketua kelas mengusap bekas perekat dari ujung jarinya sambil berpikir. “Guru pendamping sama beberapa pengurus kelas. Tapi kalau kamu mau tanya siapa nama yang hilang di sini, aku menyerah dari awal. Formulirnya sudah tua, aku bahkan lupa acaranya ngapain.”
Vio tertawa kecil sambil menggantungkan tas ke bahunya. “Jawaban paling sehat yang kita dapat minggu ini.”
Ketua kelas menatap mereka bertiga dengan rasa penasaran yang sudah beberapa hari ia tahan. “Kalian masih soal meja belakang?”
Vio merapatkan resleting tas sambil menggeleng. “Aku sudah berusaha pensiun. Selvara belum mau tanda tangan suratnya.”
Selvara menatap Vio sejenak sebelum menyerahkan formulir itu kembali kepada ketua kelas. “Kalau nanti ketemu versi aslinya, kasih tahu. Tapi jangan dicari khusus.”
Ketua kelas melipat kertas itu bersama lembar lain. “Nah, itu baru terdengar normal. Kemarin aku sampai pulang mikir jangan-jangan aku benar-benar kehilangan satu teman sekelas dari ingatan.”
Theo sudah membuka pintu lagi ketika mendengar itu. “Makanya jangan dipaksa. Kalau memang cuma kesalahan administrasi, biarkan administrasi yang memperbaiki.”
Vio langsung bangkit dari kursinya. “Tolong ulangi bagian itu setiap kali kami mulai berubah jadi detektif sampah sekolah.”
Theo menahan pintu untuk mereka. “Aku akan cetak dan tempel di tasmu.”
Mereka baru mencapai tangga ketika Vio mendadak berhenti dan menarik ponselnya dari saku. Ekspresinya berubah begitu layar terbuka pada grup kelas.
Selvara ikut berhenti satu anak tangga di bawahnya. “Kenapa?”
Vio menunjukkan pesan terbaru dari guru sejarah tanpa menjawab langsung. “Aku baru ingat tugas dikumpul besok.”
Theo yang tadi masih terlihat santai langsung memeriksa ponselnya sendiri. Ia membaca pesan itu dua kali, lalu menyandarkan punggung ke pegangan tangga. “Aku belum bikin kesimpulan.”
Vio menatapnya dengan kepuasan yang tidak ia sembunyikan. “Aku suka bagaimana satu pesan bisa mengembalikan keadilan ke dunia.”
Theo memasukkan ponsel kembali ke saku sambil mengerutkan dahi. “Aku punya sumbernya. Tinggal nulis dua paragraf.”
“Kalimat orang yang nanti jam sebelas malam masih memilih judul file.”
Selvara menahan tawa ketika Theo memandang Vio dengan pasrah. “Dia benar soal bagian judul file.”
Theo mengangkat satu tangan seolah menolak dua serangan sekaligus. “Kalian berdua jahat.”
Vio melanjutkan turun sambil tersenyum. “Kami cuma hadir saat karma bekerja.”
Pembicaraan tentang formulir, meja, dan nama kosong menghilang begitu saja selama perjalanan ke gerbang. Theo mulai membahas tugas sejarahnya, Vio mengingatkan bahwa dirinya sendiri pernah menunda pekerjaan sampai tengah malam minggu lalu, lalu keduanya berdebat mengenai siapa yang memiliki kebiasaan lebih buruk. Selvara ikut beberapa kali hanya untuk memperparah salah satu sisi, dan ketika mereka berpisah di halaman depan, urusan kelas terasa kembali seperti urusan kelas.
Keesokan paginya Theo datang lebih awal dengan hasil tugas yang sudah dicetak. Ia meletakkan kertas di meja dengan hati-hati, lalu duduk tanpa energi untuk menyembunyikan mata yang kurang tidur.
Vio baru masuk ketika melihatnya. Ia berhenti di samping meja Theo sambil masih memegang roti yang belum selesai dimakan. “Berapa jam?”
Theo membuka buku pelajaran dan sengaja tidak menatapnya. “Selamat pagi juga.”
Vio menggigit rotinya sekali lagi sebelum menunjuk wajah Theo. “Aku nggak butuh jawaban. Mukamu sudah menyerahkan datanya.”
Theo mengusap bawah matanya dengan dua jari. “Aku tidur.”
Selvara datang tepat ketika kalimat itu selesai. Ia meletakkan tas dan membaca ekspresi keduanya. “Berapa?”
Theo menutup bukunya sedikit lebih keras daripada perlu. “Kenapa kalian berdua kompak banget kalau soal penderitaanku?”
Vio menarik kursinya sambil tersenyum puas. “Karena kamu kemarin masih sempat ketawa waktu aku panik soal tugas.”
Selvara membuka bukunya sendiri dan membiarkan Theo mengeluh bahwa dua paragraf terakhir membutuhkan waktu lebih lama daripada seluruh halaman sebelumnya. Percakapan itu terputus ketika seseorang berdiri di ambang pintu kelas.
Lissette membawa sebuah tempat pensil hijau pucat dengan kedua tangan. Ia tidak langsung masuk, hanya mencari seseorang di dalam kelas sampai pandangannya bertemu Vio.
Vio baru selesai merapikan meja ketika menyadari kehadirannya. Ia menggeser kursinya sedikit agar dapat melihat ke pintu dengan jelas. “Lissette? Masuk saja. Kamu cari siapa?”
Lissette menunjukkan tempat pensil yang dibawanya. “Mirea. Ini ketinggalan di ruang bahasa kemarin. Aku takut kalau ditaruh di meja guru malah pindah lagi.”
Vio menerima tempat pensil itu dan melihat nama kecil yang ditulis pada bagian bawah. “Aku taruh di mejanya. Dia biasanya datang lima menit sebelum bel kalau lagi nggak piket.”
Lissette mengangguk, tetapi sebelum berbalik, perhatiannya tertahan pada barisan dekat jendela. Meja yang selama beberapa hari membuat Selvara dan Vio sibuk mengingat itu masih kosong seperti biasa.
Ekspresi Lissette berubah pelan, bukan terkejut, lebih seperti seseorang yang baru menyadari sebuah benda berada di tempat berbeda dari ingatannya.
Vio mengikuti arah pandangnya dan tidak langsung menyebut meja tersebut. Ia meletakkan tempat pensil Mirea di tempat yang benar. “Kamu lihat apa?”
Lissette masih berdiri dekat pintu. “Aku nggak tahu. Meja belakang itu... dari dulu kosong?”
Selvara menutup buku yang baru dibukanya. Ia tidak mendekat, memberi Lissette ruang untuk menyusun ingatannya sendiri. “Kalau kamu nggak yakin, jangan paksa.”
Lissette menatap Selvara, lalu kembali ke meja dekat jendela. “Aku pernah datang ke kelas kalian waktu nyari Mirea. Kayaknya aku berdiri di situ sambil nunggu dia.”
Vio menahan diri untuk tidak mengambil ponselnya. Ia hanya menyandarkan satu tangan pada meja Mirea. “Terus?”
Lissette menggeleng pelan sebelum melanjutkan. “Ada orang yang minta aku geser sedikit karena tasnya di bawah meja. Aku ingat aku langsung minta maaf karena berdiri nutup jalan.”
Theo yang sejak tadi mendengarkan dari tempatnya menutup buku pelajaran. “Bagian orangnya masih ada?”
Lissette memejamkan mata sebentar, lalu segera membuka lagi dan menggeleng. “Enggak. Aku dapat kejadian itu, tapi wajahnya kayak nggak ikut.”
Theo tidak mengejar detail berikutnya. Ia mengambil pulpennya kembali dan memutarnya di antara jari. “Kalau begitu cukup sampai situ. Jangan isi bagian yang kosong cuma karena kita pengin tahu.”
Lissette terlihat lebih lega mendengar itu. “Aku juga takut begitu. Kemarin waktu kepikiran gantungan tas, aku mulai nggak yakin itu memang aku ingat atau karena sudah lihat bentuk lingkaran di kertas.”
Vio duduk di tepi meja Mirea sambil memainkan resleting tempat pensil yang baru dititipkan. “Bagus kamu sadar. Aku sendiri dua hari lalu hampir mengubah semua benda bulat jadi petunjuk.”
Selvara tersenyum kecil. “Hampir?”
Vio menoleh kepadanya dengan ekspresi protes yang dibuat-buat. “Jangan rusak reputasiku di depan orang baru.”
Lissette tertawa, dan ketegangan yang sempat muncul ikut berkurang. Ia akhirnya masuk beberapa langkah karena siswa lain mulai melewati pintu di belakangnya.
Theo menggeser kursinya agar lorong tetap terbuka. “Kamu ingat tasnya seperti apa tanpa lihat foto apa pun?”
Lissette menatap lantai sebentar sambil membiarkan ingatan datang sendiri. “Abu-abu. Kayaknya ada gantungan, tapi bentuknya aku nggak mau jawab. Bagian itu sudah terlalu gampang tercampur.”
Selvara mengangguk sambil membuka kembali bukunya. “Itu sudah cukup.”
Lissette baru hendak pamit ketika Mirea muncul di koridor dengan rambut yang masih sedikit berantakan karena terburu-buru. Begitu melihat tempat pensilnya di tangan Vio, langkahnya langsung mempercepat.
Mirea mengambil benda itu dan memeriksa isinya dengan ekspresi lega. “Ya ampun, pantes semalam nggak ketemu. Aku bongkar tas dua kali.”
Lissette tersenyum sambil menunjuk bagian bawah tempat pensil. “Jatuh di ruang bahasa. Aku nemunya waktu meja dipindah.”
Mirea memegang tempat pensil itu seperti benda yang jauh lebih penting daripada tampilannya. “Yang ini sudah dari SMP. Kalau hilang sekarang aku bakal kesel banget.”
Vio memeriksa resleting yang hampir lepas sambil menahan tawa. “Benda ini sudah minta pensiun.”
Mirea langsung menariknya kembali. “Jangan hina senior.”
“Seniornya sudah pincang.”
Mirea memasukkan tempat pensil ke tas dan baru menyadari Lissette belum langsung pergi. “Kamu tadi mau ngomong sesuatu?”
Lissette sempat melihat meja belakang lagi. Kali ini ia tidak berusaha menyembunyikan kebingungannya. “Aku cuma merasa kelas kalian dulu lebih penuh.”
Mirea berhenti merapikan tas. “Lebih penuh gimana?”
Lissette mengangkat bahu kecil sambil mencari kata yang tepat. “Entah. Setiap kali aku datang, kayaknya meja dekat jendela itu selalu ada orangnya. Tapi bisa juga aku datang pas kelas lagi ramai dan sekarang kepalaku nyampur semuanya.”
Mirea melihat meja yang dimaksud, lalu kursi-kursi di sekitarnya. “Aku justru dari kemarin merasa itu memang kosong.”
Vio tidak memotong ataupun memberikan foto sebagai pembanding. Ia hanya berdiri dari tepi meja Mirea dan kembali ke kursinya sendiri.
Mirea mulai memasukkan buku ketika ekspresinya sedikit berubah. “Tapi... tunggu. Aku pernah marah karena ada tas yang bikin lorong sempit.”
Selvara tetap di tempatnya. “Kamu ingat tas siapa?”
Mirea tertawa pendek karena jawabannya sendiri terdengar aneh bahkan baginya. “Nah, itu. Aku ingat kesalnya. Orangnya nggak.”
Lissette memandang Mirea dengan rasa lega yang tipis, seolah kenyataan bahwa orang lain mengalami bagian yang sama membuatnya tidak merasa sedang mengarang.
Mirea menutup tas dan menggeleng pada dirinya sendiri. “Semakin dibahas malah makin berantakan. Aku takut lima menit lagi aku mulai bikin wajah sendiri.”
Vio membuka buku pelajaran sambil menggeser satu lembar tugas ke bawahnya. “Makanya kita berhenti keliling nanya orang. Kalau semua orang mulai saling kasih deskripsi, nanti kita punya satu siswa baru hasil kerja kelompok.”
Mirea tertawa. “Kalau begitu jangan tanya aku lagi sampai aku sendiri yang ingat.”
Selvara mengangguk dan menutup pembicaraan tanpa membuat keputusan baru. “Kalau ada sesuatu yang muncul sendiri, tulis sebelum cerita ke orang lain. Itu saja.”
Bel pertama berbunyi tidak lama kemudian. Lissette bergegas kembali ke kelasnya, sedangkan Mirea duduk dan mulai mencari buku yang hampir terlupakan karena percakapan tadi. Theo kembali ke tempat semula, Vio mengeluarkan correction tape dari kotak pensil tanpa sengaja, lalu berhenti sepersekian detik sebelum menyimpannya lagi di bawah buku.
Selvara melihat gerakan itu, tetapi tidak mengomentarinya.
Guru masuk membawa lembar latihan dan kelas kembali pada rutinitas. Selama satu jam berikutnya, meja dekat jendela digunakan bergantian oleh dua siswa yang berdiskusi, lalu seorang anak dari barisan depan menaruh jaket di kursinya. Tempat yang beberapa hari terakhir terasa seperti lubang dalam susunan kelas kembali tenggelam dalam kegiatan biasa.
Saat istirahat, Selvara, Vio, dan Theo menemukan Rikuya sudah mengambil meja di kantin. Dua botol minuman berada di depannya, satu langsung didorong ke arah Theo begitu mereka duduk.
Theo menerima botol itu sambil memeriksa labelnya. “Akhirnya.”
Rikuya membuka kotak makan dengan wajah datar. “Utang dua ribu. Jangan bikin ekspresimu kayak aku baru melunasi rumah.”
Vio menahan tawa sambil duduk di seberangnya. “Dia nagih berapa hari?”
Rikuya langsung menunjuk Theo dengan sumpit yang belum digunakan. “Tiga. Setiap ketemu.”
Theo memutar tutup botol dengan santai. “Prinsip.”
Lyara datang membawa roti dan duduk di samping Selvara sambil menggeleng pada keduanya. “Kalian punya kemampuan luar biasa bikin nominal kecil terdengar personal.”
Rikuya membuka makanannya dan mendorong satu bungkus saus ke tengah meja. “Makanya aku bayar supaya berhenti.”
Vio mengambil saus itu lebih dulu. “Nggak akan berhenti. Sekarang ceritanya justru punya ending.”
Rikuya memandangnya sebentar, lalu memilih mulai makan. “Aku salah duduk.”
Lyara tertawa sambil membuka aplikasi jadwal klub di ponselnya. Sebelum halaman utama muncul, iklan layanan musik memenuhi layar dengan wajah Asyeera dan promosi lagu yang selama beberapa hari terakhir mereka dengar di sekolah. Lyara baru hendak menutupnya ketika Vio sudah melihat.
Vio menyandarkan dagu pada tangannya sambil menunjuk layar. “Dia lagi.”
Lyara menutup iklan dan meletakkan ponsel di samping rotinya. “Aku latihan lagunya tiap hari. Aplikasinya cuma melakukan pekerjaan.”
Theo membuka minumannya. “Untuk sekali ini, algoritmanya nggak menyeramkan. Kamu memang kasih semua alasan buat dia rekomendasiin Asyeera.”
Lyara menghela napas kecil sambil merobek bungkus roti. “Aku bahkan belum bilang apa-apa.”
Vio mengambil satu kentang dari piring Selvara sebelum tangannya ditepis. “Aku cuma mengamati perkembangan penggemar.”
Lyara menggigit rotinya dan memberi Vio tatapan datar. “Minggu depan kalau aku masih ngomong Asyeera, baru kamu boleh mulai.”
Theo tersenyum sambil mengangkat botol minum seolah menyimpan janji itu. “Dicatat.”
Lyara langsung menunjuknya dengan roti yang masih di tangan. “Jangan benar-benar dicatat.”
Rikuya yang sejak tadi makan akhirnya tertawa. “Kalian lebih ribut soal lagu daripada aku soal basket.”
Vio menoleh kepadanya dengan ekspresi tidak percaya. “Kamu kirim tiga pesan gara-gara aku bilang mungkin nggak datang pertandingan.”
Rikuya berhenti mengunyah, kemudian menutup kotak makan setengah agar bisa membela diri. “Itu memastikan.”
Theo tertawa di sampingnya. “Dalam dua menit.”
Rikuya menatap Theo yang baru saja menerima minuman darinya. “Aku tarik lagi utangnya.”
Percakapan mereka melebar ke pertandingan akhir pekan dan latihan musik sampai Selvara hampir lupa pada kejadian pagi tadi. Lyara baru mengetahui soal Lissette ketika Vio menceritakannya sambil makan, tetapi kali ini Vio tidak menyusun detail seperti laporan. Ia hanya menceritakan bagian yang membuatnya terganggu: Lissette dan Mirea sama-sama mengingat interaksi kecil, sedangkan orang di dalam ingatan itu tetap tidak memiliki wajah.
Lyara mengusap remah roti dari jarinya sambil memikirkan ucapan Vio. “Yang paling membantu justru Lissette tahu kapan harus berhenti. Kalau dia tadi memaksa ingat bentuk gantungan, lima menit kemudian kita mungkin sudah punya jawaban yang sebenarnya berasal dari foto.”
Rikuya mengangguk sambil mengambil kembali sumpitnya. “Berarti jangan tanya banyak orang.”
Vio menyandarkan punggung ke kursi dengan ekspresi puas. “Lihat? Dia belajar.”
Rikuya menunjuk Vio dengan sumpit. “Aku dari awal bilang jangan keliling sekolah ngejar orang cuma karena tas.”
Theo tertawa kecil. “Itu kasus berbeda.”
“Masalah kalian selalu kasus berbeda, tapi ujungnya sama. Jangan bikin hidup tambah susah sendiri.”
Selvara tersenyum sambil menutup kotak makan yang sudah kosong. Cara Rikuya menyederhanakan sesuatu kadang terdengar terlalu mudah, tetapi kali ini ia tidak salah. Mereka sudah memiliki cukup banyak fragmen untuk mengetahui bahwa meja tersebut pernah digunakan seseorang. Yang belum mereka punya adalah alasan untuk mengubah seluruh sekolah menjadi ruang interogasi.
Setelah istirahat, Selvara kembali ke kelas lebih dulu untuk mengambil buku sebelum pergi ke ruang OSIS. Mirea sedang berdiri dekat jendela bersama dua teman ketika melihatnya masuk, lalu membuka galeri ponsel tanpa banyak kata.
Mirea menghampiri meja Selvara dan menunjukkan satu foto lama. “Aku nemu ini waktu Januari. Aku nggak nyari lama, cuma kebetulan lewat pas mau kirim foto ke Lissette.”
Selvara menerima ponselnya. Dalam gambar itu, beberapa siswa sedang memasang dekorasi dekat jendela. Meja yang mereka bicarakan terlihat setengah, dan tas abu-abu tergantung di sisi kursinya.
Mirea menunjuk bagian tas tanpa berusaha memperbesar. “Aku nggak ingat punya siapa. Tapi sekarang aku yakin ini tas yang pernah bikin aku kesal karena nutup jalan.”
Selvara mengembalikan ponselnya. “Simpan fotonya. Jangan cari wajah dari foto lain dulu.”
Mirea memasukkan ponsel ke saku sambil menarik napas kecil. “Aku mulai ngerti kenapa kalian dari kemarin kelihatan capek. Rasanya kayak tahu ada sesuatu di kepala, tapi pas mau diambil malah kosong.”
Selvara mengambil buku dari mejanya dan memasukkannya ke tas. “Makanya kita berhenti kalau mulai terpaksa.”
Mirea memandang meja dekat jendela lagi, kali ini tanpa mencoba mengingat siapa pun. “Aku tetap nggak suka. Tapi setidaknya aku tahu aku nggak sendirian salah ingat.”
Selvara menahan langkah sebelum keluar kelas. “Belum tentu salah ingat.”
Mirea tersenyum tipis mendengar koreksi itu. “Nah, itu justru lebih bikin aku nggak tenang.”
Selvara meninggalkan kelas beberapa menit kemudian dan berjalan menuju ruang OSIS bersama suara kegiatan sekolah yang tetap berlangsung di setiap lorong. Anak klub olahraga berlari turun ke lapangan, dua siswa membawa poster untuk acara akhir pekan, dan dari ruang musik sementara terdengar potongan lagu yang beberapa kali salah di bagian yang sama.
Di ruang OSIS, Adrian sudah menyiapkan map revisi jadwal aula di meja yang biasa digunakan Selvara.
Ia baru masuk ketika Adrian mendorong map itu ke arahnya tanpa mengalihkan perhatian dari formulir lain. “Dua nomor kegiatan ketukar lagi. Sebelum kamu komentar, aku juga sudah marah.”
Selvara meletakkan tas di kursi dan membuka map. “Aku belum ngomong.”
Adrian mengambil stempel dari laci sambil tersenyum tipis. “Wajahmu sudah.”
Selvara menahan tawa karena kalimat itu terlalu mirip dengan ucapan Rikuya beberapa hari terakhir. “Aku mulai curiga semua orang di sekolah pakai alasan itu kalau malas menjelaskan.”
Adrian menempelkan stempel pada formulir di depannya. “Kalau efektif, kenapa diganti?”
Selvara mulai mencocokkan nomor sambil membiarkan percakapan mereka tenggelam dalam pekerjaan. Dua kesalahan memang mudah ditemukan, dan untuk beberapa menit tidak ada nama hilang, foto lama, atau meja kosong yang ikut masuk ke ruang itu.
Seorang anggota OSIS datang membawa setumpuk dokumen lama dari lemari penyimpanan. Ia meletakkannya di ujung meja Adrian sambil menunjukkan satu lembar yang bagian atasnya sudah pudar.
“Yang kelas Selvara ada satu nama nggak kebaca,” katanya sambil memisahkan formulir tersebut dari tumpukan. “Aku mau masukin ke arsip kegiatan, tapi kolom peminjamnya kosong.”
Adrian menerima lembar itu dan hanya memeriksa bagian tanggal. “Taruh dulu. Besok aku cocokkan sama daftar barang keluar.”
Anggota itu mengangguk dan kembali membawa map lain ke lemari.
Selvara tetap menyelesaikan nomor terakhir pada jadwal aula. Ia tidak meminta melihat formulir tersebut, dan Adrian tidak menawarkan.
Ketika Selvara menyerahkan map yang sudah dikoreksi, Adrian membalik dua halaman dan menemukan tanda yang ia buat. “Cepat juga.”
Selvara mengambil tas dari kursi. “Cuma dua nomor. Kalau minggu depan tiga, aku mulai tagih.”
Adrian menutup map sambil tertawa. “Tagih ke orang yang bikin salah, jangan ke aku.”
Selvara sudah sampai di pintu ketika suara kertas di belakangnya terdengar lagi. Adrian rupanya membuka formulir lama yang baru diterima, tetapi ia tidak memanggil Selvara ataupun mengatakan sesuatu. Selvara tetap berjalan keluar.
Untuk hari itu, membiarkan satu dokumen menunggu sampai besok terasa jauh lebih penting daripada mengetahui namanya sekarang. Adrian sudah menunggu di depan ruang OSIS ketika Selvara melewati koridor pagi berikutnya. Map tipis yang kemarin diletakkan di ujung meja kini berada di tangannya, terlipat sedikit pada salah satu sudut karena terlalu lama dijepit bersama dokumen lain.
Selvara memperlambat langkah. Adrian tidak langsung menyerahkan map itu. Ia membuka halaman tengah, lalu menunjukkan satu formulir yang sudah diberi penanda kecil di bagian atas.
“Aku cek yang kemarin,” ujar Adrian sambil menahan halaman agar tidak tertutup. “Nomornya ada. Nama peminjamnya memang kosong.”
Selvara membaca kolom yang ditunjuknya. Nomor inventaris, tanggal keluar, waktu pengembalian, serta paraf petugas masih terbaca. Hanya satu bagian yang seharusnya memuat nama siswa dibiarkan kosong.
“Barangnya apa?” tanya Selvara sambil mengikuti baris ke kolom sebelah.
Adrian mengetuk satu tulisan dengan ujung jarinya. “Papan presentasi, dua spidol, gunting. Barang kelas biasa.”
Selvara tidak menemukan sesuatu yang langsung menghubungkannya dengan buku, correction tape, atau meja dekat jendela. “Kelas kami?”
“Iya.” Adrian membalik halaman ke daftar utama. “Tapi formulir ini dibuat waktu banyak kelas pinjam barang bareng. Bisa saja namanya kelupaan.”
Selvara mengangguk kecil dan hendak mengembalikan map itu, tetapi Adrian belum menutupnya.
“Yang bikin aku cek dua kali justru tanda baliknya,” lanjut Adrian sambil menarik lembar sedikit lebih dekat. “Barang dikembalikan lengkap. Jadi orangnya datang lagi.”
Selvara melihat paraf di kolom terakhir. “Kamu yang terima?”
Adrian menggeleng sambil membaca inisial pendek di samping waktu. “Bukan. Kakak kelas yang jaga waktu itu sudah lulus dari kepengurusan semester lalu.”
Pilihan kata Adrian membuat Selvara kembali memeriksa tanggal. Formulir tersebut memang berasal dari awal semester, cukup lama untuk melewati pergantian beberapa penanggung jawab kegiatan.
“Kalau nama kosong tapi barang balik, mungkin orangnya memang dikenal petugas,” kata Selvara sambil menutup map perlahan. “Jadi dia nggak merasa perlu nulis.”
Adrian tampak menerima kemungkinan itu. Ia merapikan dua lembar yang menonjol dari sisi map. “Bisa. Aku juga lebih suka jawaban itu.”
Selvara menyerahkan map kembali. “Simpan saja di arsip. Belum ada yang perlu dicari.”
Adrian memasukkan map ke bawah lengannya dan tersenyum tipis. “Kamu sekarang lebih sabar.”
Selvara melanjutkan langkah menuju kelas. “Jangan dibiasakan menilai.”
Adrian tertawa kecil dari belakang. “Baik, Ketua.”
Selvara langsung menoleh, tetapi Adrian sudah masuk ke ruang OSIS sambil membawa map. Ia sempat ingin membalas, lalu memilih melanjutkan perjalanan sebelum terlambat masuk kelas.
Vio sudah duduk ketika Selvara tiba. Ia sedang menyalin dua baris terakhir dari buku Theo, sementara Theo berdiri di samping meja dengan ekspresi tidak senang melihat catatannya dipakai tanpa izin.
Vio berhenti menulis begitu Selvara mendekat. “Aku cuma ambil bagian kesimpulan.”
Theo menarik bukunya kembali dan menutupnya. “Itu namanya nyalin.”
Vio memeriksa hasil tulisannya lalu tersenyum puas. “Kalau aku ubah tiga kata, namanya referensi.”
Theo menahan buku di dada. “Aku akan mulai mengenakan biaya.”
Selvara meletakkan tas dan melihat lembar Vio. “Tiga katanya mana?”
Vio menutup tugasnya sebelum Selvara sempat membaca lebih jauh. “Belum dipilih.”
Theo langsung tertawa sambil kembali ke kursinya. “Setidaknya jujur.”
Percakapan mereka bergeser dengan sendirinya ketika guru masuk membawa lembar evaluasi. Selama hampir dua jam berikutnya, Selvara tidak memikirkan formulir OSIS sama sekali. Ia lebih sibuk menyelesaikan latihan, mengingatkan Vio satu jawaban yang tertukar, dan mencoba mengikuti penjelasan guru yang bergerak lebih cepat dari biasanya karena beberapa materi tertinggal minggu sebelumnya.
Ketika istirahat tiba, Vio baru membuka minuman ketika Selvara akhirnya menceritakan formulir yang diperiksa Adrian.
Vio memutar tutup botol sambil mendengarkan sampai selesai. “Berarti belum ada nama lagi.”
Selvara mengangguk sambil mengeluarkan bekal dari tas. “Tapi barangnya dikembalikan.”
Vio berhenti membuka botol dan menatap Selvara. “Jadi orangnya sempat datang dua kali.”
“Kalau memang orang yang sama.”
Vio menghela napas pendek, lalu berhasil membuka botol setelah dua kali mencoba. “Aku mulai benci kalimat itu.”
Selvara menahan senyum. “Kalimat mana?”
“Kalau memang orang yang sama.” Vio meletakkan botol di meja. “Setiap ada dua hal yang kelihatan nyambung, kita harus potong sendiri sebelum terlalu jauh.”
Theo yang baru datang membawa roti mendengar bagian akhir dan menarik kursi. “Bagus. Berarti remnya masih bekerja.”
Vio menatapnya datar. “Aku nggak minta penilaian mekanik.”
Theo membuka bungkus rotinya sambil tersenyum. “Tetap gratis.”
Selvara membiarkan percakapan itu selesai di sana. Formulir tanpa nama menambah satu jejak, tetapi mereka sudah sepakat tidak akan memperlakukan setiap kemiripan sebagai satu rangkaian utuh.
Rikuya tidak muncul saat istirahat pertama karena latihan tambahan, sementara Lyara baru datang menjelang bel. Ia membawa satu map musik dan wajah yang sudah menunjukkan kelelahan sebelum duduk.
Vio melihat map tebal itu lalu mendorong satu permen ke arah Lyara. “Kamu kelihatan butuh ini.”
Lyara menerima permen tersebut sambil membuka bungkusnya. “Aku butuh pembina berhenti ganti tempo dua hari sebelum latihan.”
Theo menahan tawa di sampingnya. “Masih lagu Asyeera?”
Lyara memasukkan permen ke mulut dan mengangguk. “Iya. Yang salah bukan lagunya. Aransemen kami yang belum selesai.”
Vio menyandarkan siku di meja sambil menatap map. “Minggu lalu kamu bilang nggak akan hafal.”
Lyara langsung menunjuk Vio dengan bungkus permen yang masih di tangan. “Aku hafal karena dipaksa.”
Selvara tertawa kecil. “Tetap hafal.”
Lyara menatapnya seolah dikhianati. “Kamu juga sekarang?”
Theo menutup bungkus rotinya dan menyelipkannya ke saku samping tas. “Aku cuma nunggu kapan kalian mulai beli albumnya.”
Lyara menggeleng sambil menutup map. “Kalian terlalu banyak waktu.”
Bel berbunyi tidak lama kemudian dan percakapan bubar tanpa membawa mereka kembali pada meja kosong. Selvara justru merasa lebih nyaman ketika bagian terbesar hari berjalan tanpa sesuatu yang perlu dicatat.
Menjelang siang, Lissette muncul lagi di depan kelas bersama Mirea. Kali ini ia tidak membawa barang temuan. Keduanya hanya datang karena pembagian materi bahasa akan dilakukan bersama beberapa siswa kelas 2-2.
Mirea masuk lebih dulu sambil membawa setumpuk lembar kerja. “Taruh sini dulu, nanti dibagi setelah guru datang.”
Lissette membantu meletakkan separuh tumpukan di meja depan. Ketika ia hendak kembali ke pintu, pandangannya sempat berhenti di meja dekat jendela.
Selvara menyadarinya, tetapi tidak memanggil.
Lissette sendiri yang akhirnya berjalan mendekat beberapa langkah. Ia tidak melihat meja itu lama-lama, hanya memperhatikan sisi bawah tempat tas biasanya digantung.
“Aku ingat satu hal,” ujar Lissette sambil meremas ujung lembar yang masih ia pegang. “Tapi kecil banget.”
Vio yang duduk paling dekat menggeser bukunya agar Lissette punya ruang di tepi meja. “Kalau kamu yakin itu ingatanmu, bilang aja.”
Lissette masih menatap meja kosong. “Orang yang minta aku geser waktu itu bilang terima kasih setelah ambil tas.”
Theo yang sedang menulis berhenti sebentar, lalu meletakkan pulpen. “Ada yang lain?”
Lissette menggeleng dan memegang lembar kerja lebih rapat. “Cuma itu. Cara ngomongnya sopan. Kayaknya dia seangkatan kalian atau mungkin lebih tua.”
Vio tidak langsung mengambil kesimpulan. Ia menatap Lissette dengan rasa penasaran yang lebih tenang. “Kamu bisa bedain dari cara ngomong?”
Lissette berpikir sebentar, lalu tersenyum kecil karena pertanyaan itu memang sulit. “Nggak pasti. Dia bilang, ‘Makasih, ya. Maaf bikin sempit.’ Rasanya bukan anak kelas satu.”
Selvara menyimpan kalimat itu di kepalanya tanpa mengulanginya. “Itu cukup.”
Lissette mengangguk dan hendak pergi, tetapi Mirea yang masih berada di depan kelas ikut mendengar bagian terakhir.
Mirea menaruh sisa lembar di meja guru lalu mendekat. “Kalimat itu familiar.”
Vio menatapnya. “Kamu pernah dengar?”
Mirea mengusap sisi meja dekat jendela dengan telapak tangannya seolah sedang mencoba mengingat posisi seseorang, bukan wajahnya. “Aku nggak tahu. Tapi dia memang suka minta maaf kalau barangnya bikin jalan sempit.”
Lissette menoleh kepada Mirea dengan ekspresi lega. “Berarti kamu ingat juga?”
Mirea langsung menggeleng kecil. “Jangan senang dulu. Aku cuma ingat kebiasaannya.”
Vio menahan senyum. “Tetap lebih banyak dari kemarin.”
Mirea memandang kursi kosong itu beberapa detik lagi, lalu menarik napas pendek. “Aku mulai ingat orangnya sering datang lebih pagi.”
Selvara tidak menyela. Mirea tampak sedang mengikuti ingatan yang muncul sendiri, sehingga ia membiarkannya.
“Bukan paling pagi,” lanjut Mirea sambil mengerutkan dahi. “Tapi sebelum kelas ramai. Dia suka duduk dekat jendela karena katanya bagian sana lebih adem.”
Vio segera menatap Selvara, lalu kembali pada Mirea. “Kamu pernah ngobrol soal itu?”
Mirea menyilangkan satu tangan di depan tubuh sambil mencoba mengingat tanpa memaksa. “Kayaknya waktu aku protes karena jendelanya dibuka terlalu lebar. Dia bilang cuma sebentar.”
Lissette tersenyum tipis. “Itu terdengar kayak orang yang sama.”
Mirea mengangkat bahu dan mengambil kembali beberapa lembar kerja yang belum dibagi. “Bisa. Aku belum mau kasih nama.”
Selvara menyukai cara Mirea sendiri mulai mengikuti batas yang mereka gunakan. “Jangan kasih kalau belum muncul.”
Mirea mengangguk dan kembali ke depan bersama Lissette. Beberapa menit kemudian guru datang, dan kelas berubah menjadi sesi gabungan yang cukup ramai untuk menghapus sisa pembicaraan mereka.
Setelah pelajaran selesai, Vio masih memikirkan satu bagian.
Ia menyimpan buku ke tas sambil berkata pelan kepada Selvara, “Kalau Mirea benar, orang itu bukan cuma numpang duduk sesekali.”
Selvara memasukkan pulpen ke kotak pensil. “Karena dia punya kebiasaan.”
Vio mengangguk, tetapi ekspresinya tetap kurang puas. “Datang pagi, buka jendela, taruh tas di sana. Itu bukan kebetulan satu hari.”
Theo menutup laptop kecilnya dan memasukkannya ke tas. “Masih bisa anak dari kelas lain yang sering datang.”
Vio memandang Theo. “Kamu sengaja pilih penjelasan yang paling membosankan?”
Theo tersenyum sambil merapikan tali tas. “Seseorang harus melakukannya.”
Selvara berdiri dan mengambil tas. “Dan kita belum punya sesuatu yang mematahkan itu.”
Vio akhirnya ikut bangkit. “Aku tahu. Aku cuma mulai merasa meja itu lebih punya rutinitas daripada sebagian teman sekelas kita.”
Theo tertawa kecil. “Itu baru terdengar seperti kamu.”
Mereka berjalan keluar bersama, tetapi Selvara berpisah di tangga karena harus kembali ke ruang OSIS. Adrian sedang berdiri dekat rak arsip ketika Selvara masuk, ditemani seorang anggota kelas satu yang membawa formulir peminjaman baru.