CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #27

Residual Signal

Chapter 2 - Episode 5

Selvara baru sadar dirinya sedang memutar cincin ketika roti di pemanggang berbunyi. Ia menghentikan ibu jarinya di sisi logam, lalu melepaskan tangan dari cincin itu seperti baru ketahuan melakukan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dilakukan. Permukaannya terasa dingin mengikuti udara pagi. Tidak ada getaran, panas, ataupun perubahan kecil lain yang bisa ia rasakan.

Ibunya yang sedang menuangkan teh melirik dari seberang meja. “Dari tadi cincinmu diputer terus. Longgar?”

Selvara mengambil roti dan meletakkannya di piring. “Enggak Kok, Bu. Cuma kebiasaan aja kayaknya.”

Selvara mengoleskan selai sambil menatap ibunya. “Ibu merhatiin banget.”

Ibunya duduk dan menarik cangkir lebih dekat. “Kamu muternya sudah dari sebelum rotinya matang. Susah nggak kelihatan.”

Selvara menunduk pada sarapannya. Ia memang sudah beberapa kali menyentuh cincin sejak bangun, hanya untuk memastikan suhu dan posisinya masih biasa. “Oke, aku berhenti.”

Ibunya tersenyum kecil sambil meniup teh. “Ibu nggak nyuruh berhenti. Cuma jangan sampai nanti kamu sendiri yang bikin jarimu terasa aneh karena dicek tiap semenit.”

Selvara menahan senyum. “Ibu pernah begitu?”

Ibunya mengambil satu potong roti dari piring sendiri. “Makanya Ibu bisa ngomong.”

Jawaban itu membuat Selvara tertawa kecil. Setelah sarapan, ia mengambil tas, memasang sepatu, lalu keluar rumah tanpa mengecek cincin lagi.

Perjalanan menuju sekolah tidak memberi alasan untuk mengingatnya. Bus penuh seperti biasanya pada dua halte terakhir, seorang anak kecil tertidur di bahu ibunya di kursi depan, dan dua siswa Asterveil di belakang Selvara sibuk memperdebatkan tugas yang ternyata harus dikumpulkan hari itu.

Ketika turun, Selvara melewati jalur utama sekolah, jauh dari lorong servis yang kemarin mereka gunakan. Cincinnya tetap dingin sampai ia masuk kelas.

Vio sudah duduk di tempatnya.

Sebuah correction tape merah muda berdiri tegak di atas mejanya seperti sengaja dipajang.

Selvara baru saja menaruh tas ketika Vio mendorong benda itu pelan ke tengah meja dengan wajah puas. “Eh, lihat dulu. Si pink ini berhasil melewati malam pertamanya dengan selamat.”

Selvara menatap correction tape itu, lalu Vio. “Kamu benar-benar bikin laporan pagi?”

Vio mengambil kembali benda itu dan memutarnya di antara jari. “Bukan laporan. Ini update penting. Kemarin reputasinya sudah keburu jelek gara-gara kalian.”

“Reputasi correction tape?”

Vio memasang ekspresi seolah pertanyaan itu sangat tidak masuk akal. “Ya masa barang baru langsung dicurigai cuma karena warnanya mencolok.”

Selvara menarik kursinya sambil tertawa kecil. “Yang bikin dia mencurigakan itu kamu sendiri.”

Theo datang tepat ketika Vio hendak membalas. Ia menaruh tas di kursinya, kemudian berhenti setelah melihat correction tape merah muda masih menjadi pusat pembicaraan.

Theo membuka resleting tas sambil melirik benda itu. “Jadi akhirnya dikasih nama?”

Vio langsung menarik correction tape ke dekat dada. “Tolong jangan mancing. Gara-gara kalian kemarin, sekarang aku malah kepikiran terus.”

Theo duduk dan mengeluarkan buku. “Berarti tinggal tunggu pengumuman resmi.”

“Pengumuman apaan?” Vio memasukkan correction tape ke kotak pensil lalu menutupnya cepat. “Udah, dia kembali jadi alat tulis biasa. Kalian jangan bikin suasananya aneh.”

Selvara membuka buku pelajaran. “Kamu baru saja bilang ‘dia’.”

Vio membeku.

Theo menutup mulut dengan satu tangan, tetapi senyumnya tetap terlihat.

Vio menatap Selvara, lalu Theo, dengan ekspresi shock kecil. “Eh, jangan dipelintir dong. Itu refleks.”

Selvara menahan tawa. “Aku nggak bilang apa-apa lagi.”

Vio mengambil pensil dari kotaknya dan mengarahkannya kepada Theo. “Pagi-pagi sudah cari masalah.”

Bel pertama berbunyi sebelum Theo menjawab, dan kelas kembali pada kesibukan masing-masing.

Dua jam berikutnya berjalan biasa. Selvara lebih banyak memikirkan tugas daripada cincin. Ia memakai sedikit Energy Mana saat guru meminta beberapa siswa mengaktifkan perangkat pembelajaran kecil di meja, dan responsnya normal. Tidak ada rasa hangat yang muncul.

Ia tidak sengaja mengeceknya lagi setelah itu.

Saat pergantian pelajaran, Vio masih menyelesaikan dua soal terakhir sementara Theo mengembalikan buku referensi ke rak belakang. Pintu kelas terbuka, dan Mariel D'Anvers masuk membawa map tipis bersama beberapa lembar materi.

Tidak ada kotak perangkat praktik di tangannya.

Mariel menaruh semua bahan di meja guru, lalu langsung memulai pembahasan baru. Sesi hari itu hanya teori mengenai distribusi dan stabilitas Energy Mana. Diagram sederhana memenuhi papan, sementara siswa diminta membandingkan nilai awal dan nilai hasil pada beberapa contoh kasus.

Selvara duduk bersama Vio dan Theo seperti biasa.

Vio baru sampai pada soal ketiga ketika ujung pulpennya berhenti di salah satu angka. Ia memiringkan bukunya ke arah Theo. “Coba lihat deh. Ini hasilku kok hampir dua kali punya kalian?”

Theo menarik lembar Vio sedikit lebih dekat. Matanya mengikuti perhitungan dari atas sampai bawah, lalu berhenti pada baris kedua. “Kamu masukin nilai awal dua kali.”

Vio langsung mengambil kembali kertasnya. “Hah? Mana?”

Theo menunjuk dengan ujung pensil. “Yang ini referensi. Kamu hitung lagi di bawah.”

Vio mengikuti jalurnya, lalu wajahnya berubah shock. “Ya ampun, pantes gede banget. Aku tadi sempat bangga.”

Selvara menggeser kalkulator ke arahnya sambil tersenyum. “Kamu sudah hampir jadi legenda selama tiga menit.”

Vio mencoret angka yang salah. “Jangan ketawa. Rasanya tadi keren banget lihat hasilnya.”

Theo bersandar ringan ke kursi. “Kalau output-mu benar segitu, kemarin alatnya mungkin sudah protes dari meja sebelah.”

Vio menatap Theo dengan ekspresi tersinggung yang dibuat-buat. “Bisa nggak sih sekali-sekali dukung mimpi orang?”

Theo tersenyum kecil. “Aku dukung. Makanya dikoreksi.”

“Wah, filosofis juga jawabannya sekarang.”

Selvara tertawa sambil kembali pada soalnya sendiri.

Mariel lewat di antara meja ketika Vio masih memperbaiki hasil. Ia melihat angka yang baru dicoret, lalu berhenti sebentar di samping mereka.

Mariel mengetuk bagian perhitungan dengan ujung pulpennya. “Ini tadi nilai awalnya masuk dua kali?”

Vio langsung menarik lembar sedikit lebih dekat dengan wajah malu. “Iya, Bu. Tadi aku terlalu semangat lihat angkanya gede.”

Mariel menahan senyum. “Bagus ketemunya sekarang. Kalau salah begini pas praktik, alatnya yang bingung duluan.”

Vio mengangguk sambil kembali menulis. “Untung masih di kertas. Kalau alatnya sampai ikut panik, saya juga ikut panik.”

Mariel melanjutkan berjalan. “Makanya latihan dulu sebelum bikin alat ikut drama.”

Theo menunduk agar tawanya tidak terlalu jelas.

Vio baru menunggu Mariel menjauh dua meja sebelum berbisik kepada Selvara, “Aku baru tahu Bu Mariel bisa nyeletuk begitu.”

Selvara masih menulis. “Kayaknya kamu saja yang baru kena.”

Theo menggeser bukunya mendekat. “Belum lama kenal guru bukan berarti gurunya nggak punya humor.”

Vio memandang Theo. “Kamu kalau jelasin hal simpel kenapa terdengar kayak kesimpulan penelitian?”

Theo berhenti sebentar, lalu menutup pulpennya. “Nah, yang itu aku nggak punya jawaban.”

Vio langsung tersenyum puas. “Akhirnya.”

Pelajaran berlanjut sampai bel istirahat. Mariel tidak membahas perangkat kemarin ataupun cincin Selvara selama kelas, sehingga Selvara mulai menganggap urusan itu mungkin memang belum cukup penting untuk dibicarakan.

Ia baru hendak menutup buku ketika suara Mariel terdengar dari depan.

“Selvara, boleh sebentar?”

Selvara mengangkat kepala. “Iya, Bu.”

Vio yang sudah memasang tas kecil di bahu langsung memperlambat gerakannya. Theo juga berhenti dekat pintu.

Mariel melihat keduanya, lalu menunjuk koridor dengan senyum tipis. “Kalian boleh istirahat dulu. Ini cuma soal alat praktik kemarin.”

Vio berdiri di samping kursinya dengan ekspresi setengah penasaran, setengah merasa ketahuan. “Oh, oke, Bu. Kami tunggu di luar aja.”

Theo membuka pintu lebih dulu. “Dekat tangga.”

Vio mengikuti Theo, tetapi sebelum keluar ia sempat menunjuk Selvara lalu menunjuk dirinya sendiri dengan dua jari, seperti sedang mengatakan dirinya tersedia kalau dibutuhkan.

Selvara hanya menatapnya.

Vio langsung menarik tangannya dan keluar dengan wajah polos.

Setelah sebagian besar kelas kosong, Mariel membuka map yang dibawanya sejak awal. Di dalamnya ada satu lembar hasil cetak dengan grafik sederhana.

Ia tidak menyerahkan kertas itu kepada Selvara, hanya memutarnya agar bisa dibaca dari sisi meja.

Mariel menunjuk satu tonjolan kecil pada grafik. “Sensor kemarin sempat baca kenaikan pendek waktu giliranmu.”

Selvara mendekat sedikit. Garis itu naik satu kali, kemudian segera kembali ke posisi normal. “Jadi memang ada perubahan?”

“Ada pembacaan yang berubah.” Mariel menarik pulpen dari mapnya. “Cuma itu yang bisa dibilang pasti sekarang.”

Selvara melihat cincin di jarinya, lalu kembali pada grafik. “Bisa dari cincinnya?”

Mariel memiringkan kepala sedikit sambil membaca data di bagian bawah. “Bisa saja. Tapi sensornya juga belum ibu coret dari daftar penyebab.”

Ia menunjuk catatan kecil pada lembar lain. “Kontak alat itu sensitif. Kalau tekanannya berubah sedikit, hasilnya kadang ikut naik.”

Selvara mengingat sensasi hangat yang muncul pada akhir pengukuran. “Kemarin cincinnya juga hangat pas angkanya goyang.”

Mariel berhenti menulis.

Tidak lama, hanya beberapa detik.

“Hangatnya sampai bikin sakit?”

Selvara menggeleng. “Enggak. Kayak suhu logamnya naik sebentar, terus hilang waktu output-ku diturunin.”

Mariel mencatat sesuatu di tepi grafik. “Sebelumnya pernah?”

Selvara teringat lorong servis dekat gedung lama. “Kemarin sore sempat terasa hangat juga. Waktu itu aku nggak pakai Energi Mana.”

Kali ini Mariel tidak langsung menulis.

Selvara memperhatikan wajah gurunya, tetapi perubahan ekspresi itu terlalu kecil untuk dibaca sebagai kepastian apa pun.

Mariel akhirnya menaruh pulpen di atas map. “Lokasinya di mana?”

“Dekat lorong servis gedung lama. Lagi ada perbaikan kabel.”

Mariel mengangguk pelan. “Bisa banyak hal. Suhu lingkungan, perangkat di sekitar, atau memang dari cincinmu sendiri.”

Jawaban itu tidak menutup satu kemungkinan pun, tetapi juga tidak mendorong Selvara menuju kesimpulan yang lebih jauh.

Selvara melipat kedua tangan di depan tubuh. “Terus aku harus ngapain?”

“Pakai seperti biasa.” Mariel mendorong grafik sedikit menjauh. “Kalau kejadian lagi, catat kira-kira jam berapa dan kamu lagi ngapain. Jangan sengaja dites sendiri cuma karena penasaran.”

Selvara menatapnya. “Takutnya malah rusak?”

Mariel tersenyum kecil. “Aku lebih takut datanya jadi nggak berguna kalau kamu sengaja bikin kondisinya berulang. Kita belum tahu yang mau dicari apa.”

Selvara mengangguk pelan. Penjelasan itu masuk akal.

Mariel memasukkan grafik kembali ke map. “Kalau nanti panasnya sampai bikin sakit, output berubah sendiri, atau kamu merasa Energy Mana-mu susah dikontrol, baru langsung bilang. Kalau cuma sekali dua kali seperti sekarang, kita lihat dulu.”

Selvara menyentuh sisi cincin dengan ibu jari. “Berarti belum ada yang harus dikhawatirin?”

Mariel menutup map dan memegangnya dengan satu tangan. “Belum ada alasan buat panik.”

Nada jawabannya tenang, tetapi Selvara masih teringat bagaimana Mariel melihat cincin itu kemarin.

Ia menunggu sampai Mariel hendak mengambil buku di meja sebelum bertanya lagi.

“Bu Mariel.”

Mariel menoleh. “Iya?”

Selvara mengangkat tangannya sedikit, memperlihatkan cincin tanpa melepasnya. “Ibu pernah lihat Magic Resolink yang reaksinya kayak begini?”

Mariel memandang cincin itu beberapa detik.

“Pernah lihat perangkat yang sinkronisasinya nggak pas,” jawabnya akhirnya. “Ada juga yang sensitif sama kondisi pengguna. Tapi cincinmu belum tentu sama kasusnya.”

Jawaban itu terdengar hati-hati.

Selvara menangkapnya, tetapi tidak punya alasan untuk memaksa lebih jauh.

Mariel memasukkan buku ke tas kerjanya. “Pelan-pelan dulu. Kalau ternyata cuma sensor rewel, kita malah sudah bikin satu kelas teori dari benda yang salah.”

Selvara tersenyum kecil. “Iya juga.”

“Sekarang istirahat sana. Temanmu kayaknya sudah hampir nempel ke pintu.”

Selvara menoleh.

Bayangan seseorang bergerak cepat dari kaca kecil di pintu kelas.

Selvara menatap Mariel lagi.

Mariel menahan senyum.

Selvara membuka pintu.

Vio berdiri kira-kira satu meter dari sana dengan kedua tangan memegang minuman, tetapi posturnya terlalu tegak untuk terlihat santai.

Selvara berhenti di ambang pintu. “Tadi kamu dekat pintu, ya?”

Vio langsung menunjukkan kedua minuman yang dipegangnya. “Aku habis beli ini. Kebetulan lewat.”

Theo duduk di bangku dekat tangga dan membuka tutup botolnya. “Dia sudah balik dari mesin minuman tiga menit lalu.”

Vio perlahan menoleh kepada Theo.

Theo minum seperti tidak merasa baru saja melakukan apa pun.

Vio menatapnya dengan ekspresi shock kecil. “Serius? Kamu tega banget jual aku secepat itu?”

Theo menurunkan botol. “Aku cuma bantu melengkapi konteks.”

“Siapa yang minta konteks?”

Selvara menutup pintu kelas sambil menahan tawa. “Jadi nguping?”

Vio buru-buru menyerahkan salah satu minuman kepadanya. “Aku nggak nguping. Aku cuma penasaran sedikit, terus suara kalian kadang kedengeran.”

Theo menyela dari bangku, “Dan kadang dia maju dua langkah.”

Vio langsung menunjuk Theo. “Kamu hari ini diam dulu bisa nggak?”

Theo tersenyum. “Bisa. Mulai sekarang.”

Vio memandangnya beberapa detik seperti tidak percaya janji itu akan bertahan.

Selvara membuka botol minuman yang diberikan Vio. “Mariel cuma bilang sensornya sempat baca perubahan.”

Rasa penasaran Vio langsung mengambil alih kekesalannya pada Theo. Ia berjalan mendekat. “Terus cincinnya gimana? Dia bilang ada masalah?”

“Belum tahu.” Selvara mulai berjalan menuju tangga. “Bisa sensor, bisa sinkronisasi, bisa dari cincinnya. Kalau kejadian lagi aku diminta catat.”

Vio ikut berjalan di sisinya. Ekspresinya kali ini lebih tenang. “Bagus deh. Yang penting jangan sengaja dicoba-coba lagi.”

Selvara meliriknya. “Kamu sama Mariel ngomongnya mirip.”

Vio langsung mengangkat dagu sedikit. “Nah, berarti hari ini aku masuk kategori bijak.”

Theo berjalan beberapa langkah di belakang mereka. “Baru satu kalimat.”

Vio berhenti di anak tangga dan menatapnya dengan wajah tidak percaya. “Eh, tadi katanya mau diam?”

Theo ikut berhenti. “Aku lupa.”

Wajah Vio berubah menjadi ekspresi kosong selama dua detik.

Selvara sudah tertawa sebelum Vio sempat membalas.

“Lihat, kan?” Vio menunjuk Theo sambil kembali turun. “Orang kayak gini yang bikin umur pendek.”

Theo menyimpan botol ke sisi tas. “Tapi aku tadi beliin minum.”

Vio menatap minuman di tangannya, lalu Theo.

Nada suaranya langsung turun setengah tingkat. “Oke, jasamu belum kuhapus seluruhnya.”

Theo tersenyum puas. “Cukup.”

Mereka sampai di kantin ketika antrean sudah mulai panjang. Lyara duduk di ujung meja sambil melihat jadwal klub musik di ponselnya.

Begitu Vio duduk di sebelahnya, ia meletakkan minuman di meja dengan ekspresi lelah berlebihan. “Lyara, aku butuh orang yang hari ini nggak membully aku.”

Lyara mengangkat wajah dari layar. “Aku baru ketemu kamu lima detik.”

“Nah, bagus. Berarti catatanmu masih bersih.”

Lyara tertawa kecil. “Aku harus jawab apa sekarang?”

Vio menunjuk kursi di sampingnya. “Cukup duduk dan jangan ikut Theo.”

Theo baru menarik kursi ketika namanya disebut. “Aku merasa difitnah dari jauh.”

Selvara membuka bekalnya. “Tadi bukan fitnah.”

Vio langsung menoleh kepadanya dengan ekspresi dikhianati. “Selvara, kamu juga?”

Lyara menahan tawa sambil mematikan layar ponsel. “Oke, aku dukung Vio dulu sampai makanannya datang.”

Wajah Vio langsung cerah. “Nah. Ini baru teman.”

Theo melihat jam di ponselnya. “Berapa lama?”

Lyara berpikir sebentar. “Lima menit.”

Ekspresi Vio kembali kosong.

Selvara tertawa sampai harus menutup kotak bekalnya sebentar.

“Kenapa semuanya pakai batas waktu?” Vio menyandarkan dagu pada telapak tangannya. “Aku bahkan belum sempat menikmati dukungannya.”

Lyara mendorong satu bungkus kecil camilan ke arah Vio. “Nih, bonus kompensasi.”

Vio langsung mengambilnya. “Oke, aku maafin.”

Theo menatap camilan itu. “Murah juga.”

Vio membuka bungkusnya sambil tersenyum manis kepada Theo. “Kalau kamu masih ngomong, harganya naik.”

Percakapan mereka berlanjut ke jadwal klub musik Lyara. Pembinanya menambah satu sesi latihan karena bagian akhir aransemen belum sesuai keinginan.

Lyara memperlihatkan jadwal pada layar ponselnya. “Jumat jadi tambah satu jam. Kalau molor lagi, aku bisa pulang hampir jam enam.”

Vio membaca jadwal itu sambil mengunyah camilan. “Waduh. Kalian mau tampil di depan satu negara apa gimana?”

Lyara menarik ponselnya kembali sambil tertawa. “Cuma penampilan internal. Pembinanya yang mulai panik.”

Theo membuka kotak makan. “Masih lagu Asyeera?”

Lyara membuka aplikasi musik sebentar. Halaman lagu yang mereka latih muncul dengan beberapa rekomendasi video di bawahnya. “Masih. Aku sekarang bisa nebak bagian backing vocal sebelum masuk.”

Vio menunjuk Lyara dengan bungkus camilan. “Nah, itu sudah gejala.”

Lyara menatapnya. “Gejala apa?”

“Gejala terlalu sering dengar Asyeera.”

Lyara meletakkan ponsel di meja. “Aku latihan karena wajib.”

Selvara tersenyum. “Tapi hafal.”

Lyara langsung menatap Selvara dengan ekspresi pasrah. “Kamu jangan ikut-ikutan. Aku masih ingat kemarin.”

Vio tertawa puas. “Akhirnya ada yang lain kena.”

Rikuya datang ketika mereka masih membahas latihan. Tas basket menggantung di satu bahu, dan ekspresi wajahnya sudah menunjukkan tujuan utamanya bukan percakapan.

Ia menarik kursi kosong lalu melihat makanan Theo. “Itu ayamnya dua?”

Theo refleks menarik kotaknya beberapa sentimeter lebih dekat. “Jangan lihat punyaku begitu.”

Rikuya meletakkan tas di bawah kursi. “Aku cuma memastikan.”

Vio langsung menunjuk wajah Rikuya. “Ekspresimu nggak cocok sama kata ‘cuma memastikan’.”

Rikuya menatap ayam Theo lagi, lalu mengambil dompet. “Yaudah. Aku beli sendiri.”

Theo akhirnya santai kembali. “Keputusan terbaik hari ini.”

Rikuya berdiri sambil memasukkan dompet ke saku. “Tapi kalau habis, punyamu tetap target cadangan.”

Theo langsung menutup kotaknya.

Vio tertawa sampai Lyara ikut tertawa melihat reaksinya.

Pembicaraan soal cincin tidak kembali selama makan siang.

Bahkan setelah Vio sesekali melirik tangan Selvara, ia tidak memaksa pertanyaan baru. Selvara menghargai itu lebih daripada yang ia ucapkan.

Hari sekolah berjalan normal sampai pelajaran terakhir. Cincin tetap dingin meskipun Selvara beberapa kali memakai Energy Mana dalam jumlah kecil untuk aktivitas kelas.

Ia membuka aplikasi catatan di ponselnya sekali dan menulis singkat: penggunaan ringan, tidak ada perubahan.

Hanya itu.

Tidak ada tabel, perbandingan panjang, ataupun usaha membuat pola dari dua kejadian.

Setelah bel pulang, Theo berangkat lebih dulu karena ada urusan singkat di ruang OSIS. Lyara menuju ruang musik, sementara Rikuya kembali ke lapangan.

Vio memasukkan correction tape merah mudanya ke tas sambil memperhatikan Selvara yang masih membereskan buku. “Kamu langsung pulang atau masih mau mampir ke OSIS?”

Selvara menutup tas. “Mau balikin satu jadwal ke Adrian. Habis itu pulang.”

Vio langsung menyipitkan mata. “Hmm. Kalimat ‘cuma balikin satu jadwal’ dari kamu mulai punya reputasi.”

Selvara berdiri dan memasang tas di bahu. “Aku nggak akan lama.”

Vio ikut berdiri. “Kemarin juga begitu.”

“Dan cuma lewat satu menit.”

Vio terdiam sebentar, lalu mengangkat telunjuk. “Oke, yang itu memang susah dibantah.”

Selvara tersenyum. “Makanya.”

Mereka berjalan bersama sampai persimpangan koridor. Vio mengambil jalur menuju gerbang, sedangkan Selvara berbelok ke arah ruang OSIS.

“Kalau satu jam lagi kamu belum pulang, aku kirim tim penyelamat,” panggil Vio dari beberapa langkah jauhnya.

Selvara berjalan mundur sebentar. “Timnya siapa?”

Vio menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi sangat percaya diri. “Aku.”

Selvara tertawa. “Itu bukan tim.”

Wajah Vio langsung berubah shock kecil. “Hei! Satu orang juga bisa berdedikasi!”

Selvara kembali berjalan normal sambil melambaikan tangan. “Pulang sana.”

Vio masih mengomel pelan ketika berbelok ke koridor lain.

Selvara belum sampai ruang OSIS ketika pintu laboratorium di sisi kanan terbuka.

Mariel keluar membawa kotak perangkat praktik kemarin. Bersamanya ada seorang siswi kelas 2-2 yang Selvara kenal sebatas wajah. Lencana klub sains tergantung di sisi tasnya, sementara satu obeng kecil masih berada di tangannya.

Aurora Aurelia.

Aurora sedang membalik salah satu perangkat dan menunjukkan bagian bawah sensor kepada Mariel. “Bu, bagian kontaknya agak longgar. Kalau tekanannya berubah, angkanya memang bisa lompat sebentar.”

Mariel menerima perangkat itu dan memeriksa titik yang ditunjuk. “Jadi kemungkinan dari alatnya masih masuk?”

“Masih banget.” Aurora menyimpan obeng ke kotak kecil. “Cuma log-nya pendek, jadi aku belum berani bilang itu penyebab utamanya.”

Selvara memperlambat langkah karena keduanya berdiri dekat jalur menuju ruang OSIS.

Lihat selengkapnya