Chapter 2 - Episode 6
Naira sudah menunggu di dekat meja pengembalian ketika Selvara masuk ke perpustakaan sebelum jam pertama. Di depannya terbuka satu buku catatan tipis, sementara dua lembar fotokopi lama ditahan pemberat kecil agar tidak menggulung kembali.
Begitu Selvara mendekat, Naira menggeser salah satu lembar ke sisi meja. “Kak Selvara, yang kemarin soal paket bahan Januari itu aku nemu satu catatan tambahan. Nggak besar sih, cuma daripada nanti aku lupa.”
Selvara menaruh tas di kursi dekat meja. “Kamu masih nyari?”
Naira langsung menggeleng sambil menutup separuh buku catatannya.
“Bukan sengaja. Aku lagi mindahin kartu lama ke kotak baru, terus ini nyelip di belakang pembatas.”
Selvara menarik lembar fotokopi lebih dekat. “Oke, kalau ketemunya begitu aku terima.”
Naira menahan senyum kecil. “Aku sudah hafal. Jangan berburu cuma gara-gara satu baris.”
“Bagus. Berarti aku nggak perlu pidato lagi.”
“Aku juga nggak kuat kalau tiap ketemu langsung dapat ceramah arsip.”
Nada Naira tetap lembut, tetapi kalimat terakhirnya membuat Selvara tersenyum.
Catatan yang ditemukan memang tidak panjang. Salah satu paket bahan kelas Januari tercatat dikembalikan melalui kelas, bukan lewat meja perpustakaan. Pada kolom kecil di sampingnya ada tulisan tangan lama: diterima bersama map kegiatan.
Nama pengembali kosong.
Selvara membaca sekali, lalu menggeser kertas kembali ke arah Naira. “Jadi ada barang yang balik dari kelas langsung.”
Naira mengetuk bagian bawah catatan dengan ujung pensil. “Kayaknya begitu. Bu Santi juga bilang dulu hal begini biasa kalau satu kelas pinjam bareng. Kadang ketua kelas yang balikin, kadang siapa aja yang kebetulan bawa.”
“Berarti nggak banyak berubah.”
“Justru aku senang begitu.” Naira memasukkan fotokopi ke map transparan. “Kalau tiap kertas lama langsung ngasih jawaban, perpustakaan bakal terlalu menyeramkan.”
Selvara tertawa kecil. “Kamu ngomong begitu sambil nyimpen catatan manual sendiri.”
Naira berhenti memasukkan map.
Wajahnya berubah seperti baru menyadari posisi kalimatnya sendiri.
“Itu beda.”
Selvara menarik kursi dan duduk sebentar. “Bedanya?”
Naira memeluk buku catatan ke dada dengan ekspresi kecil yang defensif. “Punyaku teratur.”
Selvara menahan senyum. “Nah, mulai menyeramkan.”
Naira akhirnya ikut tertawa dan menyimpan buku itu ke bawah meja.
Pembicaraan mereka selesai tanpa keputusan baru. Selvara tidak meminta daftar nama, Naira juga tidak menawarkan pencarian lebih jauh. Catatan itu hanya menambah satu hal kecil pada kejadian Januari: seseorang membawa sebagian bahan kembali dari kelas, dan tidak ada alasan untuk menganggap orang itu sama dengan pemilik tas abu-abu.
Saat Selvara mengambil tasnya, Naira menunjuk satu buku biru yang sudah diletakkan di sisi meja. “Oh iya, yang ini sudah boleh dipinjam lagi. Kemarin sempat ditahan karena label lamanya lepas.”
Selvara mengenali buku kumpulan kota yang pernah ia kembalikan beberapa hari lalu. “Yang ini lagi?”
“Kayaknya dia suka muter balik ke kelas Kak Selvara.”
Selvara mengambil buku itu dan membaca judulnya. “Jangan ikut Vio ngajak benda punya kepribadian.”
Naira menatapnya bingung.
Selvara teringat correction tape merah muda.
Ia segera memasukkan buku ke tas. “Panjang ceritanya.”
Naira justru terlihat semakin penasaran, tetapi bel peringatan dari koridor berbunyi sebelum ia sempat bertanya.
Selvara mengangkat tangan kecil sebagai salam. “Aku ke kelas dulu. Makasih sudah kasih tahu.”
Naira mengambil kembali tumpukan kartu lama. “Iya, Kak. Kalau aku nemu sesuatu karena kerjaan biasa, baru aku kabarin.”
Selvara keluar dari perpustakaan ketika arus siswa mulai memenuhi koridor.
Ia baru menuruni satu lantai ketika seseorang memanggil namanya dari belakang.
“Sel!”
Vio muncul dari belokan dengan satu roti masih menggantung di mulut dan tas yang belum tertutup rapat. Ia mempercepat langkah sampai sejajar, lalu baru menarik roti itu dari mulut.
“Kamu pagi-pagi dari perpustakaan? Jangan bilang sudah belajar sebelum bel.”
Selvara menatap roti Vio yang tinggal separuh. “Aku bisa tanya hal yang sama. Kamu sarapan sambil lari?”
Vio menutup resleting tasnya dengan satu tangan. “Aku telat bangun tujuh menit. Tujuh menit itu ternyata bisa menghancurkan satu pagi.”
“Dramatis.”
“Serius. Tadi aku hampir keluar rumah cuma pakai satu kaus kaki.”
Selvara tertawa kecil. “Hampir?”
Vio mendadak diam.
Ia melihat ke bawah.
Selvara ikut melihat.
Kaus kaki Vio memang sepasang.
Vio langsung mengangkat wajah dengan ekspresi lega. “Oke, aman. Aku sempat takut kamu barusan menemukan sesuatu.”
Selvara menahan tawa. “Kamu sendiri yang bikin aku cek.”
“Pagi ini otakku belum lengkap.”
Mereka melanjutkan jalan sambil Vio menghabiskan rotinya. Selvara sempat menceritakan temuan kecil Naira, tetapi hanya sebatas bahwa satu paket bahan Januari dulu dikembalikan melalui kelas.
Vio mengunyah lebih pelan ketika mendengarnya. “Jadi tetap nggak ada nama?”
“Enggak.”
“Bagus deh. Maksudku, bukan bagus karena namanya hilang.” Vio mengibaskan bungkus roti kecil di tangannya, lalu mengoreksi sendiri. “Maksudku bagus karena kita nggak tiba-tiba dapat jawaban dari kertas nyelip.”
Selvara meliriknya. “Aku paham.”
“Syukurlah. Kalimatku tadi hampir jatuh sendiri.”
Selvara tertawa lagi.
Theo sudah berada di kelas ketika mereka masuk. Ia sedang menyalin dua baris terakhir tugas dan baru mengangkat kepala saat Vio menjatuhkan bungkus roti ke tempat sampah dekat pintu.
Theo menutup pulpennya. “Kamu berhasil datang sebelum guru.”
Vio berhenti di samping mejanya dengan ekspresi bangga. “Catat baik-baik. Hari ini aku menang lawan waktu.”
Selvara menaruh tas di kursi. “Dengan selisih berapa?”
Vio melihat jam dinding.
Bel masuk berbunyi.
Ekspresi bangganya langsung runtuh.
Theo membuka bukunya lagi. “Sekitar tiga detik.”
Vio duduk sambil menarik buku dari tas. “Menang tetap menang.”
Pelajaran pertama berjalan tanpa sesuatu yang menarik perhatian selain guru yang mendadak memindahkan kuis ke akhir minggu. Vio terlihat seperti baru mendapat pengampunan resmi ketika mendengar pengumuman itu, sementara Theo justru membuka kalender ponsel untuk memastikan tidak bentrok dengan tugas lain.
Saat jam kedua berakhir, Selvara diminta mengantar satu bundel lembar latihan ke ruang guru di lantai bawah. Ia mengambil tumpukan itu dari meja guru di depan dan keluar sendirian karena Vio masih menyelesaikan catatan yang tertinggal. Koridor sisi selatan lebih sepi daripada biasanya. Sebagian kelas sedang praktik di ruangan lain, dan suara dari lapangan hanya terdengar samar melalui jendela tertutup.
Di dekat tangga servis, udara terasa lebih dingin.
Selvara awalnya tidak memedulikannya. Pendingin ruangan di sisi tersebut memang sering terlalu kuat, terutama dekat sambungan koridor lama.
Ia turun satu anak tangga, lalu berhenti karena bagian bawah lorong tampak seperti tertutup kabut tipis.
Warnanya pucat, hampir putih keabu-abuan, rendah di dekat lantai. Tidak tebal. Bentuknya menyerupai uap yang menyusup dari sisi dinding, kemudian menyebar pelan sampai batas pintu servis.
Selvara menyesuaikan pegangannya pada bundel kertas.
Pikirannya langsung mencari penjelasan paling sederhana.
Pembersih lantai. Uap dari pendingin. Pipa. Perawatan kabel.
Ia turun dua anak tangga lagi.
Kabut itu bergeser.
Bukan terbawa ke arahnya, tetapi seperti menepi dari jalur tangga.
Selvara berhenti lagi.
Suara dari lapangan menghilang sesaat.
Yang tersisa hanya bunyi lampu di atas kepala dan gesekan kecil kertas pada lengannya.
Selvara mengangkat wajah.
Koridornya tetap sama.
Pintu servis tertutup. Lampu menyala. Tidak ada siswa lain.
Lalu suara lapangan kembali begitu saja, lengkap dengan teriakan seseorang dari bawah dan bunyi sepatu yang berdecit di lantai gedung olahraga.
Kabut tipis di bawah sudah nyaris hilang.
Selvara menuruni anak tangga terakhir dan melewati titik tadi tanpa mempercepat langkah. Udara di sana memang lebih dingin, tetapi lantainya kering dan tidak berbau bahan pembersih.
Cincin di jarinya juga tetap dingin.
Ia sempat menoleh ke pintu servis, lalu langsung membatalkan keinginan untuk mendekat.
Lembar latihan masih harus sampai ke ruang guru sebelum jam berikutnya.
Selvara melanjutkan jalan.
Ketika kembali ke kelas, Vio sedang meminjam penggaris Theo dan Theo terlihat sudah menyesali keputusan memberikannya.
Vio memegang penggaris itu di depan buku sambil mengukur sebuah diagram. “Aku cuma pinjam lima menit. Kenapa mukamu kayak aku mau bawa kabur?”
Theo menahan sisi buku Vio agar tidak bergeser. “Karena correction tape-mu saja punya riwayat hilang padahal ada di saku.”
Vio langsung menatap Theo dengan wajah shock. “Hei. Kita sudah sepakat itu dikubur.”
“Kapan?”
“Dalam hatiku.”
Selvara menaruh sisa lembar yang dikembalikan guru ke meja depan dan duduk.
Vio langsung meliriknya. “Cepat juga. Ruang guru kosong?”
“Lumayan.”
Selvara membuka buku untuk jam berikutnya, lalu berhenti ketika Vio masih memegang penggaris Theo.
“Tadi di tangga servis ada kayak kabut tipis.”
Vio tidak langsung panik. Ia justru melihat ke arah jendela. “Kabut? Di dalam gedung?”
Theo mengambil kembali penggarisnya sebelum Vio sempat lupa mengembalikan. “Mungkin dari pendingin atau perawatan.”
“Itu juga yang kupikir.” Selvara membalik halaman bukunya. “Cuma sebentar. Pas aku turun sudah hampir hilang.”
Vio memasukkan pulpen ke kotaknya sambil memikirkan sebentar. “Yang dekat lorong servis kemarin?”
“Beda sisi.”
“Oh.”
Vio mengangguk kecil lalu mengambil correction tape merah mudanya, seolah urusan itu belum cukup besar untuk menggeser perhatian dari tugas.
Theo menaruh penggaris kembali ke tempatnya. “Ada bau? Asap mesin biasanya kelihatan mirip kalau kena lampu.”
“Enggak ada.”
Theo tidak langsung memberi teori lain. Ia hanya membuka catatan pelajaran berikutnya. “Kalau muncul lagi di tempat yang sama, baru mungkin gampang dicek sumbernya.”
Selvara menarik pulpennya. “Iya.”
Vio mendadak menunjuk correction tape merah mudanya ke arah mereka. “Tapi kalau nanti ternyata sekolah punya mesin kabut rahasia, aku mau tahu buat apa.”
Theo menatap benda di tangan Vio. “Kenapa harus pakai correction tape buat nunjuk?”
Vio menurunkannya pelan.
Wajahnya kosong sebentar.
“Karena tadi sudah keburu di tangan.”
Selvara tertawa kecil dan kelas kembali ramai ketika guru berikutnya masuk.
Kabut di tangga servis tidak dibahas lagi.
Saat istirahat, mereka tetap menemui Lyara dan Rikuya di kantin. Lyara membawa satu lembar partitur yang penuh tanda baru, sementara Rikuya baru selesai latihan ringan dan terlihat lebih tertarik pada makanan daripada apa pun yang ada di meja.
Lyara menjatuhkan map ke kursi kosong di sampingnya. “Bagian akhir diganti lagi.”
Vio baru membuka minuman dan langsung menatapnya dengan simpati berlebihan. “Aku ikut capek cuma dengarnya.”
Lyara menyandarkan dagu sebentar pada tangan. “Aku sampai hafal mana bagian yang bakal diubah sebelum pembina ngomong.”
Rikuya membuka kotak makan dan melihat satu lembar partitur yang mencuat dari map. “Kalau sudah tahu, tinggal jangan tulis dulu.”
Lyara menatapnya beberapa detik.
Vio juga.
Rikuya berhenti menyendok nasi. “Kenapa?”
Lyara akhirnya tertawa. “Solusimu ngeselin karena masuk akal.”
Rikuya kembali makan. “Ya bagus.”
Theo menarik kursi sambil tersenyum kecil. “Dia hidup dengan cara yang lebih sederhana dari kita.”
Vio langsung menunjuk Rikuya. “Aku iri sama kemampuan itu.”
Rikuya mengunyah dulu sebelum menjawab. “Kalian yang bikin ribet sendiri.”
Selvara duduk di sisi Vio sambil membuka bekalnya. Percakapan segera bergeser ke penampilan internal, jadwal klub, lalu ke sebuah video pendek Asyeera yang sedang ramai di aplikasi musik Lyara.
Tidak ada satu pun dari mereka yang kembali membicarakan tangga servis.
Selvara juga tidak membuka ponsel untuk mencatatnya.
Satu kejadian singkat belum berarti apa-apa.
Menjelang sore, ia kembali ke perpustakaan untuk mengambil buku biru yang tadi pagi belum sempat dimasukkan ke tas dengan benar. Naira sedang menempel label baru pada sebuah kartu katalog dan mengangkat kepala ketika Selvara datang.
“Balik lagi, Kak?”
Selvara mengambil buku dari meja samping. “Cuma ini. Tadi hampir ketinggalan.”
Naira langsung melihat sampul birunya. “Kasihan. Dari pagi ditinggal dua kali.”
Selvara berhenti.
Naira tampak menyadari kalimatnya sendiri, lalu wajahnya perlahan berubah malu. “Oke. Sekarang aku yang ngajak benda punya perasaan.”
Selvara tersenyum sambil memasukkan buku ke tas. “Sudah menular.”
Naira menutup wajahnya sebentar dengan kartu katalog. “Jangan cerita ke siapa-siapa.”
“Rahasia perpustakaan.”
Naira menurunkan kartu dengan ekspresi lega kecil. “Nah, itu baru aturan yang bagus.”
Selvara meninggalkan perpustakaan beberapa menit kemudian.
Saat melewati tangga servis yang sama, koridor sudah dipenuhi dua petugas kebersihan yang mendorong troli. Salah satu dari mereka sedang mengecek ventilasi kecil di dekat dinding.
Selvara berjalan melewati mereka tanpa berhenti.
Ada penjelasan biasa yang masuk akal.
Namun ketika ia turun satu lantai, Selvara sempat menyadari sesuatu yang tidak cocok dengan ingatannya tadi.
Ventilasi itu berada hampir satu meter di atas lantai.
Kabut yang ia lihat pagi tadi justru merayap rendah dari bawah pintu.
Selvara baru keluar dari gedung ketika Vio menyusul dari arah koridor belakang dengan tas yang belum sepenuhnya tertutup dan correction tape merah mudanya masih berada di tangan.
Vio mempercepat langkah sampai sejajar, lalu melihat benda yang dibawanya sendiri. “Eh, ini ikut keluar lagi.”
Selvara melirik correction tape tersebut. “Setidaknya sekarang kamu tahu dia di mana.”
“Kamu yang tadi bawa keluar.”
“Makanya aku cegah sebelum ceritanya berkembang.”
Selvara menahan senyum. Mereka berjalan menuju gerbang bersama beberapa siswa lain yang baru selesai kegiatan klub. Cuaca sore lebih mendung daripada pagi, tetapi belum turun hujan. Udara yang masuk dari halaman juga terasa lebih hangat daripada tangga servis tadi, membuat rasa dingin yang sempat menempel di ingatan Selvara semakin mudah dianggap sebagai masalah ventilasi gedung.
Vio baru beberapa langkah keluar gerbang ketika ia mengeluarkan ponsel. “Lyara bilang latihan selesai lebih cepat. Mau tunggu? Katanya lima menit lagi keluar.”
Selvara melihat jam. “Boleh. Bus kita juga belum dekat.”
Vio langsung membuka aplikasi pelacak bus dan menunjukkan layar. “Nah, masih tujuh menit.”
Lyara muncul beberapa menit kemudian dengan map partitur di bawah lengan. Rambutnya sudah agak berantakan di bagian belakang, dan langkahnya menunjukkan ia benar-benar ingin pulang.
Begitu sampai, ia menjatuhkan tubuh ke sisi bangku yang kosong. “Aku bebas.”
Vio langsung menyimpan ponselnya dan menatap Lyara dengan wajah ikut lega. “Akhirnya. Jadi bagian akhirnya nggak diganti lagi?”
Lyara membuka tas untuk memasukkan map. “Untuk hari ini. Besok aku nggak berani janji.”
Vio menyandarkan punggung ke bangku. “Kalau besok diganti lagi, jangan protes. Coba masuk kelas terus pura-pura nggak kenal lagunya.”
Lyara berhenti merapikan tas dan menatap Vio. “Aku sudah latihan lagu itu hampir tiap hari.”
Lyara tertawa kecil. “Aku yakin pembina bakal langsung tahu.”
Selvara menutup resleting tas Lyara setelah map berhasil masuk. “Terus kamu malah dapat latihan tambahan.”
Wajah Vio berubah serius selama dua detik. “Oke, rencana dibatalkan. Risiko terlalu tinggi.”
Lyara tertawa lagi dan mengambil botol minumnya. “Bagus. Jangan kasih aku ide pas lagi capek.”
Bus Selvara dan Vio datang lebih dulu. Lyara mengambil rute berbeda, jadi mereka berpisah di depan gerbang setelah percakapan singkat soal tugas besok.
Di dalam bus, Vio mendapat tempat duduk dekat jendela sementara Selvara duduk di sebelahnya. Jalan sore cukup padat. Kendaraan bergerak beberapa meter, berhenti, lalu bergerak lagi ketika lampu persimpangan berubah.
Vio sedang membalas pesan Theo ketika Selvara melihat pantulan jendela di samping mereka.
Deretan toko di seberang jalan tampak terbalik pada kaca. Lampu toko, kendaraan, dan orang-orang yang berjalan di trotoar bercampur dengan bayangan bagian dalam bus.
Selvara awalnya hanya memperhatikan karena satu lampu reklame berkedip.
Seorang pria berjaket abu-abu berjalan melewati halte di luar.
Pantulannya tertinggal.
Selvara berkedip.
Pria itu sudah dua langkah lebih jauh, sementara bentuk abu-abu di kaca masih berada dekat tiang halte.
Sesaat kemudian pantulan tersebut menyusul dan kembali sejajar.
Selvara tidak langsung bergerak.
Vio yang masih mengetik akhirnya menyimpan ponsel. “Kenapa?”
Selvara menunjuk kaca dengan dagunya. “Tadi pantulannya kayak telat.”
Vio melihat jendela. Bus sedang bergerak lagi dan semua pantulan tampak normal.
“Yang mana?”
“Orang di halte tadi.”
Vio mendekat sedikit ke kaca, lalu ekspresinya berubah bingung. “Mungkin kacanya dobel? Kalau sudutnya berubah suka kelihatan geser.”
Selvara memperhatikan pantulan dirinya sendiri ketika bus melewati deretan lampu berikutnya. Tidak ada keterlambatan.
“Bisa jadi.”
Vio duduk normal lagi. “Apalagi busnya goyang begini. Mataku saja kadang telat ngerti mana pantulan, mana orang asli.”
Selvara menoleh kepadanya. “Kalimat terakhir agak mengkhawatirkan.”
Vio langsung memasang wajah protes. “Maksudku kalau banyak bayangan numpuk, bukan aku kehilangan kemampuan lihat orang.”
Selvara tertawa kecil.
Mereka kembali membicarakan tugas sekolah sampai Vio turun beberapa halte kemudian. Pantulan jendela tidak menunjukkan hal aneh lagi, dan Selvara tidak mengejarnya dengan pandangan ketika bus melanjutkan perjalanan.
Di rumah, Aria sedang memindahkan beberapa wadah makanan ke lemari pendingin ketika Selvara masuk.
Tas Selvara baru diletakkan di kursi ketika ibunya menunjuk satu wadah di meja. “Kalau mau ngemil, yang itu dulu. Jangan ambil kue di atas kulkas.”
Selvara baru saja mengarahkan pandangan ke atas kulkas.
Ia berhenti.
Aria langsung menahan senyum. “Nah.”
Selvara mengambil wadah yang ditunjuk. “Aku bahkan belum ngomong.”
“Tatapanmu sudah naik duluan.”
Selvara membuka tutup wadah dan menemukan potongan buah dingin di dalam. “Kuenya buat siapa?”
“Besok mau dibawa.”
“Berarti hari ini belum boleh.”
Aria menutup pintu lemari pendingin. “Persis.”
Selvara mengambil satu potong buah dengan garpu kecil. “Kalau besok ada sisa?”
“Kita negosiasi besok.”
Selvara langsung teringat Vio dan mesin minuman kemarin. Senyumnya muncul begitu saja.
Aria memperhatikannya sambil mencuci tangan. “Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Tadi keinget Vio berantem sama mesin minuman.”
Selvara membawa wadah buah ke ruang tengah dan duduk sambil membuka pesan kelas. Sore berjalan biasa. Ada pengingat tugas, satu foto papan tulis yang kurang fokus, serta perdebatan kecil mengenai halaman mana yang harus dikerjakan.
Tidak ada pembicaraan tentang kabut ataupun pantulan.
Selvara juga tidak menulis catatan baru.
Dua kejadian kecil dalam satu hari memang menarik perhatian, tetapi keduanya memiliki penjelasan yang cukup biasa untuk dibiarkan dulu.
Malamnya, Theo mengirim pesan ke grup kecil mereka.
Theo: Besok ada waktu pas istirahat pertama? Adrian nemu satu daftar lama yang mungkin nyambung sama paket bahan Januari.
Vio membalas paling cepat.
Vio: "mungkin nyambung" itu level penting apa level kita cuma duduk baca kertas lagi
Theo membutuhkan hampir satu menit untuk menjawab.
Theo: Level duduk baca kertas.
Vio langsung mengirim stiker karakter kecil yang rebah di lantai.
Lyara baru membalas setelah latihan malamnya selesai.
Lyara: Aku bisa ikut sebentar kalau nggak lama.
Rikuya menyusul beberapa detik kemudian.
Rikuya: Istirahat pertama aku latihan.
Selvara membaca semuanya lalu mengetik.
Selvara: Jangan tunggu Rikuya. Kita cek sebentar aja.
Pesan pribadi dari Vio muncul setelahnya.
Vio: kabut tangga tadi nggak mau kamu bilang ke mereka?
Selvara berhenti mengunyah buah yang tersisa.
Ia membalas setelah beberapa detik.
Selvara: Belum perlu. Kalau muncul lagi baru.
Vio mengirim satu pesan lagi.
Vio: oke. asal jangan malah kamu jalan sendirian ke sana buat ngecek
Selvara tersenyum kecil.
Pagi berikutnya, istirahat pertama membawa Selvara, Vio, Theo, dan Lyara ke ruang OSIS. Adrian sudah menyiapkan satu map lama di sudut meja, tetapi suasana ruangan tetap seperti hari kerja sekolah biasa. Dua junior sedang menempel label pada kotak formulir, sementara anggota lain sibuk mencari stempel yang entah kenapa tidak berada di tempat biasanya.
Adrian menarik kursi kosong dengan kaki. “Duduk aja. Ini nggak sepanjang kelihatannya.”
Vio memandang map yang cukup tebal. “Kalimat itu nggak meyakinkan kalau barang buktinya segede itu.”
Adrian tertawa sambil membuka map. “Yang kita butuhin cuma satu lembar. Sisanya cuma ikut numpang bikin takut.”
Theo duduk di sisi meja dan langsung membantu menahan map agar tidak menutup sendiri. “Yang mana?”
Adrian membalik beberapa pembatas. “Daftar distribusi bahan kelas Januari. Bukan daftar peminjam, cuma catatan siapa yang nerima paket per kelas.”
Selvara menarik kursi di samping Theo, sementara Lyara duduk dekat ujung meja agar tidak menghalangi jalan.
Adrian menemukan lembar yang dicari dan memutarnya ke tengah. “Kelas kalian ada di sini.”
Kolomnya sederhana: kelas, jumlah paket, tanggal penerimaan, serta tanda tangan penerima dari perwakilan kelas.
Selvara membaca bagian kelasnya.
Jumlahnya cocok dengan yang pernah ditemukan Naira.
Tanda tangan penerima juga jelas milik salah satu pengurus kelas yang masih mereka kenal.
Vio mencondongkan tubuh sedikit. “Jadi ini malah normal banget.”
“Makanya aku bilang mungkin nyambung.” Adrian mengetuk tanggal dengan ujung pulpen. “Setidaknya kita tahu paketnya memang masuk lewat jalur biasa.”
Theo mengikuti tanggal distribusi sampai kolom berikutnya. “Terus dikembalikan dari kelas juga masih masuk akal.”
Lyara melihat bagian paling bawah lembar. “Berarti orang yang bawa balik paketnya bisa siapa aja.”
Selvara mengangguk kecil. “Dan belum tentu orang yang sama dengan pemilik tas.”
Vio menyandarkan punggung ke kursi. “Jujur aku agak lega tiap nemu kertas yang nggak bikin masalah baru.”
Adrian tersenyum. “Nah, baru kali ini ada orang senang sama administrasi biasa.”
Vio langsung menunjuk map itu. “Aku bukan senang administrasinya. Aku senang dia nggak ngajak kita keliling sekolah lagi.”
Theo menahan senyum. “Map-nya nggak pernah ngajak.”
Vio menoleh pelan. “Kamu paham maksudku.”
“Paham. Cuma kalimatnya lucu.”
Lyara menutup mulut agar tawanya tidak terlalu terdengar oleh junior di meja belakang.
Selvara membaca lembar itu sekali lagi sebelum menggesernya kembali kepada Adrian. “Simpan aja. Nggak ada yang perlu dicari dari sini.”
Adrian memasukkannya kembali ke pembatas yang sama. “Setuju. Aku juga nggak mau bikin daftar baru cuma buat nyari siapa yang pernah bawa map tujuh bulan lalu.”
Vio mengangkat kedua tangan kecil seolah memberi restu. “Terima kasih. Akhirnya ada keputusan administrasi yang membahagiakan.”
Salah satu junior yang sedang menempel label di belakang mereka tertawa kecil tanpa sengaja.
Vio langsung menoleh dan wajahnya berubah malu. “Kedengeran, ya?”
Junior itu buru-buru menunduk pada kotaknya. “Sedikit, Kak.”
Adrian menahan tawa. “Sudah, biarin. Ruang ini butuh hiburan.”
Vio menatap Selvara seperti meminta dukungan.
Selvara justru berdiri sambil merapikan kursi. “Aku nggak ikut campur.”
Wajah Vio langsung jatuh. “Teman macam apa.”
Lyara berdiri di sampingnya sambil tertawa. “Yang tadi kasih kamu kesempatan mundur.”
“Sudah terlambat.”
Mereka keluar dari ruang OSIS beberapa menit sebelum bel berikutnya. Theo tetap di dalam sebentar karena Adrian meminta bantuannya mengecek satu jadwal, sedangkan Lyara berbelok menuju kelas melalui koridor tengah.
Vio berjalan bersama Selvara sampai persimpangan.
“Jadi kasus kertas hari ini selesai cepat,” katanya sambil membuka bungkus permen kecil dari saku. “Aku suka versi begini.”
Selvara menerima satu permen yang disodorkan. “Karena nggak perlu mikir?”
Vio langsung menarik tangannya sedikit sebelum Selvara sempat mengambil. “Eh, kok jahat?”
Selvara menahan senyum. “Bercanda.”
Vio akhirnya memberikan permen itu. “Nah, gitu dong. Jangan serang orang yang lagi berbagi.”
Mereka berpisah ketika Vio harus mampir ke kelas sebelah untuk mengembalikan buku.
Selvara melanjutkan sendiri menuju kelas.
Di dekat tangga servis, dua petugas yang kemarin memeriksa ventilasi sudah tidak ada. Pintu servis tetap tertutup, sedangkan lantainya kering dan terang oleh lampu pagi.
Tidak ada kabut.
Selvara terus berjalan.
Saat melewati ujung tangga, suara langkah seseorang terdengar dari bawah.
Satu kali.
Lalu satu lagi.
Selvara otomatis memperlambat langkah karena iramanya terasa dekat.
Namun seorang siswa baru muncul dari lantai bawah beberapa detik kemudian, masih cukup jauh dari belokan.
Langkah berikutnya terdengar bersamaan dengan geraknya.
Selvara berhenti sebentar di sisi koridor.
Siswa itu melewatinya sambil membawa tumpukan buku dan tidak menunjukkan sesuatu yang aneh.
Mungkin pantulan suara dari tangga.
Gedung lama memang punya banyak sudut yang membuat suara sulit ditebak arahnya.
Selvara melanjutkan jalan menuju kelas sambil membuka bungkus permen pemberian Vio.
Ia tidak kembali ke tangga.
Namun untuk pertama kalinya, saat bunyi langkah itu terulang di belakangnya, Selvara tidak langsung yakin suara tersebut berasal dari siswa yang baru saja lewat.
Langkah di belakang Selvara terdengar sekali lagi sebelum ia mencapai pintu kelas.
Ia berhenti sebentar, bukan untuk kembali ke tangga, hanya menunggu apakah suara itu akan mendekat. Beberapa siswa lewat dari arah berlawanan sambil membawa buku, dua orang dari kelas sebelah berlari kecil karena bel hampir berbunyi, tetapi tidak ada yang datang dari belakang.
Selvara akhirnya masuk kelas.