Chapter 2 - Episode 7
Theo menaruh botol minumnya di meja setelah bel pertama selesai. Vio sudah lebih dulu duduk di samping Selvara, sementara Lyara baru datang dari kelasnya membawa satu buku yang ingin ia pinjamkan.
Mereka tidak berkumpul untuk membahas tangga servis. Pembicaraan awal justru soal tugas sejarah yang harus dikumpulkan Jumat dan bagaimana Vio baru sadar dua halaman catatannya tertukar.
Vio membalik kedua lembar itu berkali-kali. “Pantas dari tadi aku baca rasanya lompat. Ternyata halaman empat nyasar ke depan.”
Theo membantu menarik satu lembar dari bawah buku. “Yang ini halaman tiga.”
Vio berhenti.
Selvara melihat nomor kecil di sudut kertas, lalu menahan senyum.
Vio menutup kedua lembar dengan telapak tangan. “Oke. Jangan dibahas.”
Lyara ikut melihat dari sebelah. “Kamu sudah nulis nomor halaman sendiri.”
“Itu yang bikin lebih sakit.”
Selvara tertawa kecil, lalu membantu menyusun kembali catatan Vio sebelum guru berikutnya datang.
Baru setelah Lyara kembali ke kelas dan suasana sedikit lebih sepi, Theo menarik kursinya mendekat.
“Kalau yang kemarin muncul lagi, kita nggak perlu sengaja cari,” katanya sambil memasukkan lembar sejarah ke map. “Tapi kalau kebetulan lihat, ingat waktu sama tempatnya.”
Vio mengangguk. “Dan jangan masuk sendirian.”
Selvara menutup kotak pensilnya. “Aku tahu.”
Vio langsung menatapnya.
Selvara balas menatap.
“Kenapa?”
Vio mengangkat satu jari. “Aku cuma memastikan bagian itu masuk.”
Selvara menahan senyum. “Masuk.”
Theo menyandarkan punggung ke kursi. “Sudah. Jangan dibuat aturan sepuluh halaman.”
Vio menarik correction tape merah mudanya dari kotak pensil, sekarang dengan tali kecil yang masih terpasang. “Bagus. Aku juga nggak mau hidup kita berubah jadi jaga tangga.”
Pembicaraan berhenti di situ.
Guru berikutnya masuk membawa lembar latihan, dan selama dua jam sesudahnya hal paling mengganggu di kelas justru printer yang berkali-kali menarik dua kertas sekaligus.
Selvara ikut membantu membagikan hasil latihan. Lissette datang menjelang istirahat membawa daftar peserta kegiatan kelas 2-2 yang kemarin dititipkan lewat Selvara.
Ia berdiri di dekat pintu sampai Selvara selesai meletakkan sisa kertas di meja guru.
“Sel, yang daftar kemarin sudah sampai OSIS?”
“Sudah. Adrian langsung masukin ke baki kelas.”
Lissette terlihat lega. “Syukurlah. Wali kelas tadi nanya, aku baru ingat belum bilang terima kasih lagi.”
Selvara tersenyum kecil. “Nggak perlu dua kali.”
“Biar aman.”
Vio yang mendengar dari mejanya langsung menyela sambil memasukkan buku ke tas. “Kalau soal terima kasih dia rajin. Kalau disuruh ngomong di depan kelas baru menghilang.”
Lissette langsung menoleh dengan wajah malu. “Vio.”
Vio tertawa kecil. “Aku bercanda.”
Lissette memegang lembar yang dibawanya lebih dekat ke dada. “Kemarin saja aku sudah hampir pura-pura sakit waktu disuruh jelasin tugas.”
Selvara ikut tersenyum. “Tapi akhirnya maju.”
“Karena nggak ada yang mau gantiin.”
“Berarti tetap maju.”
Lissette tampak ingin membantah, tetapi akhirnya ikut tertawa.
Ia kembali ke kelas setelah itu, sementara Vio mengikuti Selvara menuju kantin.
Di tangga utama mereka bertemu Rikuya yang baru naik dari lantai bawah dengan seragam olahraga masih tersampir di satu tangan.
Vio langsung melihat kaus olahraga itu. “Kamu latihan lagi pagi-pagi?”
“Cuma pemanasan.”
Vio memandangnya beberapa detik. “Definisi ‘cuma’ kita beda jauh.”
Rikuya memasukkan kaus ke tas. “Makanya aku lapar.”
Selvara tertawa kecil dan mereka bertiga melanjutkan ke kantin.
Lyara sudah menunggu dekat meja biasa. Theo datang beberapa menit kemudian sambil membawa dua minuman, lalu pembicaraan mereka habis untuk jadwal latihan dan tugas yang belum selesai.
Tidak ada yang menyebut kabut sampai Rikuya sendiri mengingatnya ketika sedang membuka kotak makan.
“Kemarin tangga itu ada lagi?”
Vio mengangguk sambil mengambil sendok. “Ada. Theo juga lihat.”
Rikuya memandang Theo.
Theo hanya memberi jawaban singkat sambil membuka minumannya. “Sama seperti yang Vio lihat sehari sebelumnya.”
Lyara yang belum tahu kejadian terakhir berhenti merapikan map. “Kalian bertiga lihat bareng?”
Selvara mengangguk. “Dari luar pintu.”
Vio menambahkan sebelum pembicaraan melebar, “Tapi kita nggak masuk. Jadi sejauh ini ya cuma itu.”
Lyara menurunkan map ke kursi. “Bagus. Jangan masuk dulu.”
Vio langsung menunjuk Lyara dengan sendok. “Nah, tambah satu.”
Selvara tertawa kecil. “Sekarang semua orang punya tugas jagain aku?”
Rikuya mulai makan lagi. “Kalau kamu nurut, nggak perlu.”
Selvara menatapnya.
Rikuya tetap makan seperti kalimat tadi bukan sesuatu yang perlu diperpanjang.
Vio gagal menahan tawa.
Pembicaraan pun bergeser ke hal lain.
Menjelang siang, Mariel masuk untuk pelajaran Energi Mana. Kali ini tidak ada alat praktik. Ia membahas kestabilan aliran dan meminta siswa mengerjakan beberapa contoh kasus menggunakan data yang sudah disiapkan.
Selvara tidak mengalami apa pun saat menggunakan cincin untuk membantu membaca aliran kecil pada perangkat mejanya. Magic Resolink itu bekerja seperti biasa, dan Mariel pun tidak memperhatikannya lebih lama dari siswa lain.
Saat kelas selesai, Selvara sempat membantu membawa beberapa lembar tugas ke meja depan.
Mariel menerima tumpukannya lalu menaruh di sisi laptop. “Yang kemarin masih normal?”
Selvara langsung tahu yang dimaksud. “Masih, Bu. Nggak ada panas lagi.”
“Bagus. Pakai seperti biasa saja.”
“Iya, Bu.”
Mariel tidak bertanya lebih jauh dan Selvara juga tidak menambahkan soal tangga servis. Pembicaraan mereka selesai ketika siswa kelas berikutnya mulai masuk.
Sore harinya, Selvara diminta mengambil satu kotak spidol dari ruang penyimpanan dekat perpustakaan. Ia pergi sendiri karena pekerjaan itu cukup sederhana dan hanya membutuhkan beberapa menit.
Naira sedang berdiri dekat rak pengembalian ketika Selvara lewat.
“Kak Selvara, mau ke penyimpanan?”
Selvara mengangkat kertas izin kecil dari guru. “Ambil spidol.”
Naira menunjuk pintu di ujung koridor. “Yang dekat tangga kecil itu sudah dibuka. Tadi sempat dikunci karena ada petugas.”
“Terima kasih.”
Selvara baru melangkah beberapa meter ketika Naira memanggil lagi.
“Kak.”
Selvara menoleh.
Naira mengangkat satu spidol hitam dari balik meja. “Kalau cuma butuh satu, ini juga ada.”
Selvara tertawa kecil. “Sayangnya satu kotak.”
Naira melihat spidol di tangannya lalu memasukkannya kembali ke wadah. “Oke. Niat membantu gagal.”
“Niatnya tetap dihitung.”
Naira tersenyum dan kembali menyusun buku.
Selvara melanjutkan ke ruang penyimpanan.
Koridor kecil di belakang perpustakaan lebih sunyi daripada bagian sekolah lain. Satu jendela panjang berada di sisi kanan, sementara pintu penyimpanan terletak beberapa meter dari ujung tangga.
Selvara membuka pintu dengan kunci pinjaman guru dan menemukan kotak spidol di rak kedua.
Semuanya biasa.
Ia baru hendak keluar ketika suara dari koridor berubah.
Bukan menghilang sepenuhnya.
Suara siswa dari perpustakaan masih ada, tetapi terdengar jauh sekali, seperti datang dari ujung gedung lain.
Selvara berhenti di ambang pintu.
Lampu tetap menyala.
Jendela di seberang masih menunjukkan halaman sekolah.
Namun lapisan putih tipis mulai muncul di bagian bawah kaca.
Selvara tidak bergerak mendekat.
Kabut itu tidak datang dari lantai kali ini.
Ia tampak berada di sisi lain jendela.
Selvara memperhatikan selama beberapa detik.
Dua siswa berjalan melewati halaman di luar. Tubuh mereka terlihat jelas, tetapi ketika melewati bagian kaca yang tertutup putih, bayangan kaki mereka menghilang.
Suara dari perpustakaan kembali normal.
Kabut itu lenyap hampir bersamaan.
Selvara tetap berdiri di tempatnya.
Kotak spidol masih berada di tangannya.
Ia melihat kaca sekali lagi. Halaman sekolah tampak biasa, dua siswa tadi sudah berjalan lebih jauh, dan tidak ada sesuatu di luar yang cukup dekat untuk menghasilkan uap.
Selvara tidak membuka jendela.
Ia menutup pintu penyimpanan dan berjalan kembali ke perpustakaan.
Naira sedang duduk di belakang meja ketika Selvara lewat.
“Sudah dapat, Kak?”
Selvara mengangkat kotaknya. “Sudah.”
Naira tersenyum kecil. “Berhasil juga.”
Selvara sempat berhenti.
Ia hampir bertanya apakah Naira tadi merasa suara di koridor berubah, tetapi urung. Naira sedang menempel label buku dan terlihat sama sekali tidak terganggu.
Selvara memilih kalimat lain.
“Tadi ada orang lewat belakang sini?”
Naira berpikir sebentar sambil tetap memegang label. “Dua anak kelas satu lewat halaman. Kalau koridor sini, nggak ada.”
Selvara mengangguk. “Oke.”
Naira menatapnya sebentar. “Kenapa?”
“Cuma dengar suara kayak jauh tadi.”
“Oh.” Naira melihat ke arah pintu belakang. “Di situ memang agak aneh suaranya kalau pintu penyimpanan kebuka. Dindingnya kosong, jadi suka mantul.”
Penjelasan itu masuk akal untuk suara.
Selvara tersenyum kecil. “Mungkin itu.”
Ia kembali ke kelas dan menyerahkan kotak spidol kepada guru.
Tidak ada alasan untuk menghentikan pelajaran hanya karena beberapa detik di dekat jendela.
Baru setelah bel pulang, Selvara menemukan Vio dan Theo di depan loker.
Vio sedang berusaha memasukkan terlalu banyak buku ke tasnya, sementara Theo berdiri di samping sambil menunggu.
Selvara membuka lokernya sendiri. “Tadi muncul lagi.”
Tangan Vio langsung berhenti mendorong buku.
Theo mengalihkan perhatian dari ponselnya.
Selvara mengambil payung lipat yang tertinggal di loker, lalu melanjutkan sebelum mereka sempat bertanya macam-macam. “Bukan di tangga servis. Dekat perpustakaan.”
Vio menutup tasnya. “Kamu sendirian?”
“Pas lihatnya, iya.”
Vio menarik napas kecil, tetapi tidak memarahinya. “Kamu nggak dekati?”
“Enggak.”
Theo memasukkan ponsel ke saku. “Bentuknya sama?”
“Mirip, cuma kali ini kelihatan di balik jendela. Suara sekitar juga sempat jauh.”
Theo memikirkan itu beberapa detik. “Berarti tempatnya beda.”
Selvara mengangguk.
Vio terlihat tidak terlalu suka perkembangan tersebut. “Nah, ini mulai bikin aku nggak bisa nyalahin tangga lagi.”
Selvara menutup pintu loker. “Aku juga.”
Theo mengambil tasnya. “Kita nggak perlu muter sekolah buat cari yang lain. Kalau muncul lagi, lakukan hal yang sama.”
Vio langsung mengangguk. “Lihat dari jauh, jangan pegang yang aneh-aneh, terus pulang.”
Selvara menatapnya. “Bagian pulangnya wajib?”
“Untuk kamu, iya.”
Selvara akhirnya tertawa kecil.
Mereka berjalan menuju gerbang bersama.
Di tengah jalan, Vio tiba-tiba berhenti dan meraba sisi tasnya.
Selvara sudah tahu ekspresi itu.
“Jangan bilang correction tape.”
Vio membuka resleting kecil lalu langsung terlihat lega. “Ada.”
Theo menahan senyum.
Vio menutup tas lagi dan mempercepat langkah. “Aku cuma cek.”
Selvara berjalan di sampingnya. “Bagus. Setidaknya misteri yang satu itu selesai cepat.”
Vio menatapnya dengan ekspresi tidak terima, tetapi akhirnya ikut tertawa.
Kabut tidak muncul lagi sampai mereka berpisah di halte.
Untuk sementara, sekolah tetap menjadi sekolah.
Hanya saja Selvara mulai kehilangan satu penjelasan yang paling mudah.
Apa pun yang dilihatnya tidak lagi tinggal di satu tangga.
Bus Selvara datang lebih dulu. Vio masih menunggu rute lain, sementara Theo sudah berpisah di persimpangan karena harus mampir membeli beberapa alat tulis.
Vio berdiri dekat pintu bus sambil memegang tali tasnya. “Sampai rumah kabarin.”
Selvara naik satu anak tangga lalu menoleh. “Biasanya juga aku kabarin.”
“Iya, tetap aja.”
Selvara tersenyum kecil. “Iya.”
Pintu bus menutup dan Vio mundur dari tepi jalan.
Perjalanan pulang tidak membawa kejadian lain. Selvara sempat memperhatikan kaca ketika bus berhenti di dua persimpangan, tetapi pantulan bergerak seperti biasa. Tidak ada kabut di trotoar ataupun suara yang terasa terlambat.
Ia akhirnya membuka pesan kelas dan mengerjakan sebagian tugas dari ponsel sampai tiba di halte dekat rumah.
Aria sedang menyusun pakaian kering di ruang tengah ketika Selvara masuk.
“Bu, aku pulang.”
Aria melihat jam dinding. “Hari ini lebih cepat.”
Selvara meletakkan tas di kursi. “Nggak mampir ke mana-mana.”
“Bagus. Ganti baju dulu, habis itu bantu Ibu pilih kotak di lemari atas.”
Selvara yang baru hendak berjalan ke kamar langsung berhenti. “Bukannya akhir pekan?”
Aria tersenyum sambil melipat satu kaus. “Cuma pilih kotaknya. Bersih-bersihnya nanti.”
Selvara menatap lemari di ujung ruangan, lalu kembali pada ibunya. “Ini pembukaan sebelum kerja besar, ya?”
“Betul.”
Selvara tertawa kecil. “Jujur banget.”
“Biar kamu nggak bisa protes nanti.”
Setelah berganti pakaian, Selvara membantu menurunkan tiga kotak lama dari rak atas. Dua berisi buku dan barang sekolah lama, sedangkan kotak terakhir penuh kabel, charger lama, beberapa bingkai foto, dan benda kecil yang sudah lama tidak dipakai.
Aria membuka salah satu kantong plastik di dalamnya. “Ini masih dipakai?”
Selvara mengambil kabel pendek yang bahkan sudah tidak dikenalnya. “Kayaknya enggak.”
“Kalau ‘kayaknya’, taruh di sebelah sini dulu.”
Selvara memasukkannya ke tumpukan yang akan diperiksa lagi.
Mereka bekerja hampir setengah jam tanpa menemukan sesuatu yang penting. Beberapa benda membuat Selvara berhenti karena ingat pernah menggunakannya saat masih lebih kecil, tetapi kebanyakan hanya barang yang terlupakan.
Aria mengangkat satu gantungan kunci berbentuk bintang. “Ini punya kamu?”
Selvara langsung mengenalinya. “Iya. Dulu nempel di tas.”
“Masih mau disimpan?”
Selvara mengambilnya dan membersihkan debu dengan ibu jari. “Yang ini simpan.”
Malam itu Selvara tidak memikirkan sekolah sampai ponselnya berbunyi saat ia sedang mengerjakan tugas.
Pesan dari Vio masuk lebih dulu.
Vio: Sudah di rumah?
Selvara membalas singkat.
Selvara: Sudah.
Beberapa detik kemudian Theo mengirim pesan di grup kecil mereka.
Theo: Besok jangan cari kabutnya. Kalau ada yang lihat lagi, cukup ingat tempat dan waktunya.
Vio langsung membalas.
Vio: nah ini aku setuju
Selvara tersenyum kecil sebelum mengetik.
Selvara: Memangnya siapa yang mau cari?
Balasan Vio datang cepat.
Vio: kamu
Selvara menatap layar cukup lama.
Lyara masuk beberapa detik kemudian.
Lyara: aku juga kepikiran Selvara
Rikuya hanya menambahkan:
Rikuya: sama
Selvara meletakkan ponsel di meja dan memilih tidak membalas.
Beberapa menit kemudian Vio mengirim satu stiker wajah puas.
Selvara akhirnya tertawa sendiri.
Keesokan paginya, ia sampai di sekolah lebih awal. Vio belum datang, sementara Theo baru terlihat di lantai bawah ketika Selvara selesai menyimpan buku di kelas.
Ia memilih mampir ke perpustakaan untuk mengembalikan satu buku.
Naira sedang membuka tirai jendela dekat meja peminjaman ketika Selvara masuk.
“Pagi, Kak.”
“Pagi.”
Selvara meletakkan buku di meja. Naira mengambilnya lalu melihat sampul depan.
Seorang siswa kelas satu datang membawa dua buku sebelum pembicaraan mereka berlanjut. Naira langsung melayaninya, sementara Selvara pamit dan kembali ke kelas.
Theo sudah menunggu di dekat tangga utama.
“Kamu dari perpustakaan?” tanyanya sambil menyelipkan ponsel ke saku.
Selvara mengangguk. “Balikin buku.”
Mereka mulai naik bersama.
Theo baru sampai anak tangga ketiga ketika tali sepatunya terlepas.
“Tunggu sebentar.”
Selvara berhenti di bordes sementara Theo jongkok untuk mengikatnya kembali.
Koridor pagi masih sepi. Suara kelas dari lantai atas terdengar samar, bercampur dengan langkah seorang siswa yang baru saja melewati pintu bawah.
Siswa itu terus berjalan menuju lorong samping.
Theo selesai mengikat tali sepatu lalu berdiri.
Selvara mulai melangkah lagi.
Satu langkah.
Dua langkah.
Theo mengikuti di belakangnya.
Pada langkah ketiga, terdengar satu bunyi sepatu tambahan dari tangga bawah.
Selvara berhenti.
Theo ikut berhenti.
Bunyi lain menyusul.
Satu langkah.
Lalu diam.
Theo menoleh ke bawah tangga.
Siswa yang tadi lewat sudah jauh di lorong samping.
Selvara menunggu beberapa detik. “Kamu dengar?”
Theo masih melihat ke bawah. “Iya.”
Mereka tidak turun untuk mengecek.
Seorang guru muncul dari pintu lantai bawah beberapa saat kemudian dan mulai naik. Suara sepatunya jelas berbeda, lebih berat dan teratur.
Selvara memberi jalan.
“Pagi, Bu.”
Guru itu tersenyum sambil melewati mereka. “Pagi. Jangan lama-lama di tangga, sebentar lagi bel.”
“Iya, Bu.”
Setelah guru tersebut lewat, Theo melanjutkan naik.
Selvara ikut berjalan.
Kali ini tidak ada langkah tambahan.
Theo baru bicara setelah mereka sampai koridor lantai dua. “Aku tadi berhenti bareng kamu.”
“Aku tahu.”
“Jadi bukan langkahku.”
Selvara membuka pintu kelas. “Bisa pantulan suara dari bawah.”
Theo tidak membantah. “Bisa.”
Mereka masuk dan langsung kembali pada kegiatan masing-masing.
Vio datang beberapa menit kemudian dengan rambut bagian belakang masih sedikit berantakan. Ia menaruh tas di kursi lalu langsung mencari sesuatu di dalamnya.
Selvara sudah tahu kebiasaan itu. “Apa lagi yang hilang?”
Vio mengangkat wajah. “Pulpen.”
Theo menunjuk telinga Vio.
Pulpen hitam terselip di sana.
Vio diam beberapa detik, kemudian mengambilnya tanpa komentar.
Selvara menahan tawa.
Vio memasukkan pulpen ke kotak pensil lalu menatap mereka berdua. “Pagi-pagi jangan ganggu ketenangan orang.”
Theo duduk sambil membuka buku. “Kita belum ngomong apa-apa.”
Selvara akhirnya tertawa kecil.
Bel masuk berbunyi tak lama kemudian.
Selama pelajaran pertama, Selvara sempat melupakan suara langkah tadi. Guru membagi tugas pasangan, Vio sibuk memperbaiki satu jawaban yang salah, sedangkan Theo beberapa kali diminta membantu siswa di meja belakang.
Baru saat istirahat, Theo menyebutnya ketika mereka bertiga sedang berjalan menuju kantin.
“Tadi ada satu lagi.”
Vio yang sedang membuka bungkus permen langsung melambat. “Kabut?”
“Bukan. Langkah.”
Selvara mengambil satu permen yang disodorkan Vio. “Di tangga utama. Kami berhenti, suaranya masih lanjut sekali.”
Vio menatap keduanya bergantian. “Kalian berdua dengar?”
Theo mengangguk sambil terus berjalan. “Iya.”
Vio memasukkan bungkus permen ke saku. Kali ini ia tidak membuat lelucon. “Oke.”
Selvara melihatnya. “Cuma satu kali.”
“Aku tahu.” Vio berjalan lebih dekat di sisinya. “Tetap aja sekarang bukan kamu sendiri yang dengar.”
Percakapan berhenti karena kantin sudah terlihat ramai.
Lyara sedang menyimpan tempat untuk mereka, sedangkan Rikuya baru datang dari lapangan. Tidak ada yang langsung mengubah meja makan menjadi tempat pembahasan Mist.
Vio malah mengambil kursi kosong dan menaruh tasnya di lantai. “Aku lapar.”
Rikuya melihat antrean. “Cepat beli. Sebentar lagi tambah panjang.”
Vio langsung berdiri lagi. “Sel, ikut.”