CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #30

The Second Sound

Chapter 2 - Episode 8

Pengumuman dari speaker bus akhirnya berhenti setelah mengumumkan nama pemberhentian untuk kedua kalinya.

Kali ini Theo tidak memegang ponselnya.

Ia menunggu sambil memperhatikan layar informasi di atas pintu.

Bus tetap berjalan dan beberapa siswa di bagian depan masih membicarakan tugas, seorang anak kecil sibuk memainkan tali tas ibunya, dan kendaraan di luar bergerak padat menjelang sore.

Vio yang tadi bersandar di dekat jendela memperbaiki posisi duduknya. “Tadi memang dua kali, kan?”

Theo baru mengambil ponselnya. “Iya. Jaraknya sekitar dua puluh tiga detik.”

“Kamu sempat lihat jam?”

“Waktu pengumuman pertama.”

Vio memandang Theo sebentar. “Tentu saja.”

Selvara melihat layar informasi.

Nama pemberhentian berikutnya sudah muncul seperti biasa. “Mungkin sistemnya terlambat membaca posisi bus.”

“Semoga saja.” Vio kembali menyandarkan bahu ke kursi. “Aku sudah cukup dengan suara aneh dari sekolah.”

Theo menyimpan ponselnya. “Kalau cuma speaker bermasalah, besok juga sudah lupa.”

Vio menunjuknya singkat. “Nah, itu yang aku mau.”

Selvara mengambil ponselnya. Pesan terakhir dari Lyara masih membahas suara langkah yang ia dengar di sekitar ruang musik. Selvara mengetik pesan baru.

Kamu masih di sekolah? Kalau masih, jangan lewat koridor belakang sendirian.

Balasan Lyara datang tidak lama kemudian.

Aku sudah di depan sekolah. Raviel masih di perpustakaan. Aku tunggu dia.

Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.

Aku juga tidak lewat koridor belakang.

Selvara membalas agar Lyara tetap menunggu di tempat ramai.

Vio sempat membaca bagian akhir pesannya. “Kamu membuatnya terdengar lebih seram.”

“Aku cuma menyuruh dia menunggu.”

“Dengan tambahan jangan lewat koridor belakang.”

Theo menyandarkan kepala ke kursi. “Setelah yang Lyara dengar tadi, lebih baik begitu.”

Vio tidak melanjutkan. Ia hanya memeriksa pesan dari Lyara di grup mereka, lalu menyimpan ponselnya.

Bus masuk ke jalan utama. Cahaya sore masih terang di antara gedung, sementara layar informasi di atas pintu terus berganti sesuai rute. Tidak ada pengumuman yang terulang lagi.

Selvara mencoba memisahkan kejadian-kejadian yang mereka alami. Speaker bus bisa mengalami gangguan. Suara di tangga sekolah mungkin berasal dari lantai lain. Begitu juga suara yang didengar Lyara di dekat ruang musik.

Belum ada alasan untuk menganggap semuanya berasal dari hal yang sama.

Namun jarak dua puluh tiga detik tadi tetap ia ingat.

Bus mulai melambat mendekati pemberhentian Vio. Ia berdiri sambil memasukkan ponsel ke tas. Botol minumnya masih tertinggal di kursi.

Theo menyentuh botol itu. “Botolmu.”

Vio langsung mengambilnya. “Oh iya. Hampir ketinggalan.”

“Kamu sudah berdiri.”

Vio memasukkan botol ke sisi tas. “Makanya aku bilang hampir.”

Theo bergeser memberi jalan. “Baiklah.”

Vio melewatinya sambil menggeleng kecil. Sebelum turun, ia berhenti dekat pintu. “Kalau sudah sampai rumah, kabari.”

“Kamu juga,” kata Selvara. “Jangan pakai earphone dulu di jalan.”

Vio memasukkan satu tangan ke saku jaket. “Iya, Bu Selvara.”

Selvara memandangnya.

Vio langsung turun sambil menahan senyum.

Theo melihat pintu menutup. “Setidaknya dia masih bisa bercanda.”

“Kalau sudah diam, baru masalah.”

Theo tidak membantah. Ia pindah ke kursi kosong di seberang Selvara setelah beberapa penumpang turun.

Speaker bus kembali berbunyi.

“Pemberhentian berikutnya, Jalan Lyrent.”

Theo dan Selvara sama-sama menunggu.

Bus terus melaju sampai melewati sebuah persimpangan. Pengumuman itu tidak terdengar lagi.

Theo melihat jam di ponselnya sebentar. “Normal.”

Selvara menangkap gerakannya. “Tetap diperiksa.”

“Aku cuma memastikan.”

“Kamu tadi bilang besok sudah lupa.”

Theo menyimpan ponselnya. “Besok. Sekarang belum.”

Selvara tersenyum kecil lalu kembali melihat jalan.

Dua pemberhentian kemudian, mereka turun di dekat minimarket. Udara di luar terasa lebih hangat setelah cukup lama berada di dalam bus berpendingin. Beberapa siswa dari sekolah lain memenuhi trotoar, sebagian berhenti membeli minuman sebelum pulang.

Theo masuk sebentar ke minimarket. Selvara menunggu di dekat pintu sambil memeriksa pesan dari Vio yang mengatakan ia sudah hampir sampai rumah.

Theo keluar kurang dari semenit kemudian dengan tangan kosong.

“Kok tidak jadi?” tanya Selvara.

Theo menunjuk tasnya. “Uangku tinggal untuk bus besok.”

“Kamu tadi beli dua roti.”

“Aku lapar.”

Selvara berjalan lagi bersamanya. “Dua-duanya?”

“Yang satu untuk nanti.”

Selvara melihat tas Theo yang penuh buku. “Kalau belum gepeng.”

Theo langsung meraba sisi tasnya. “Jangan bilang begitu.”

“Bukannya kamu yang memasukkannya sendiri?”

“Itu sebelum aku ingat ada buku tebal di dalam.”

Selvara tidak menahan senyumnya kali ini.

Theo akhirnya membuka tas dan memeriksa roti itu sambil tetap berjalan. Bungkusnya masih tertutup, tetapi bentuknya sudah tidak sama seperti saat dibeli.

Theo menatapnya beberapa detik. “Ya sudah.”

“Masih bisa dimakan.”

“Kamu terdengar seperti Lyara.”

“Berarti benar.”

Mereka sampai di persimpangan tempat jalan pulang mereka berpisah. Theo memasukkan kembali roti ke bagian atas tas agar tidak semakin tertekan.

“Besok aku mau cek speaker sekolah,” katanya. “Kalau memang ada masalah, setidaknya satu kejadian bisa dicoret.”

“Raviel juga mau tanya bagian fasilitas.”

“Lebih bagus. Kita lihat dulu hasilnya.”

Selvara menyimpan ponselnya setelah membaca pesan baru dari Lyara. “Lyara masih ingat kira-kira kapan dia dengar langkah tadi.”

Theo mengangguk sambil merapikan tali tas. “Kirim saja ke grup. Jangan dibandingkan dulu sebelum kita punya sesuatu yang jelas.”

“Sampai besok.”

“Sampai besok.”

Theo berjalan ke arah halte kecil di ujung jalan, sementara Selvara mengambil jalan menuju rumah.

Sesampainya di kamar, Selvara mengganti pakaian lalu mengeluarkan buku pelajaran dari tas. Ada tugas yang harus dikumpulkan pagi berikutnya, dan dua soal terakhir belum selesai.

Ia baru menulis beberapa baris ketika ponselnya bergetar.

Vio sudah sampai rumah.

Tidak lama kemudian Lyara memberi kabar bahwa ia pulang bersama Raviel.

Theo kemudian mengirim foto rotinya ke grup. Salah satunya benar-benar gepeng di bagian tengah.

Vio membalas lebih dulu.

Makanya jangan ditaruh bareng buku.

Theo mengirim balasan.

Informasi yang sangat berguna setelah kejadian.

Lyara ikut masuk.

Masih bisa dimakan.

Theo mengirim foto kedua setelah bungkusnya dibuka.

Bentuknya sudah lebih buruk.

Vio membalas lagi.

Makan saja. Yang penting rasanya.

Selvara meletakkan ponselnya sambil tersenyum kecil lalu kembali mengerjakan tugas. Percakapan di grup berpindah sendiri ke tugas sekolah, latihan musik Lyara, dan correction tape Vio yang ternyata tertinggal di kelas.

Beberapa menit setelah obrolan mulai sepi, Raviel mengirim pesan.

Besok aku tanya bagian fasilitas soal speaker sekolah. Kalau sempat mengulang suara, mungkin ada catatan gangguan.

Theo langsung mengirim waktu yang tadi ia simpan.

Lyara menyusul dengan perkiraan waktu ketika ia mendengar langkah tambahan di dekat ruang musik.

Vio mencoba mengingat waktu saat mereka berada di tangga, tetapi akhirnya membalas bahwa ia tidak yakin. Theo sudah mencatatnya lebih dulu, jadi mereka tidak memperpanjang pembicaraan itu.

Selvara membaca ketiga waktu tersebut.

Untuk sekarang, semuanya masih berdiri sendiri.

Ia menaruh ponsel di samping buku dan kembali menulis.

Sekitar setengah jam kemudian, pemberitahuan dari aplikasi transportasi kota muncul di layar. Perjalanan bus sore tadi sudah masuk ke riwayat.

Selvara hampir menutupnya, tetapi ia teringat pengumuman yang terulang dan membuka detail perjalanan.

Daftar pemberhentian tampak biasa. Waktu keberangkatan dan kedatangan juga sesuai. Pemberhentian yang diumumkan dua kali hanya muncul sekali.

Selvara mengambil tangkapan layar dan mengirimkannya kepada Theo.

Balasan datang beberapa saat kemudian.

Riwayatnya cuma mencatat perjalanan bus. Bukan jumlah pengumuman.

Selvara membaca kembali layar aplikasi.

Berarti belum ada yang bisa dipakai.

Theo membalas.

Besok cek speaker sekolah dulu.

Selvara menutup percakapan dan melanjutkan tugas.

Dari ruang tengah terdengar suara televisi. Acara olahraga baru selesai dan berganti ke iklan layanan musik. Potongan lagu Asyeera terdengar sampai ke kamar sebelum ibunya mengganti saluran.

Selvara menyelesaikan satu halaman lalu mencari penghapus di dekat ujung meja. Saat tangannya melewati buku, jarinya menyentuh cincin di tangan kanan.

Permukaan cincin itu terasa dingin.

Selvara memegangnya beberapa detik. Suhunya perlahan kembali seperti biasa.

Jendela kamar masih terbuka sedikit dan udara sore sudah mulai dingin. Selvara tidak memikirkannya lebih jauh. Ia mengambil penghapus dan memperbaiki jawabannya.

Ponselnya masih terbuka pada halaman riwayat perjalanan.

Selvara baru akan menutup aplikasi ketika melihat durasi perjalanan di bagian bawah.

Angkanya berbeda dari perkiraan awal yang sempat muncul sebelum mereka naik bus.

Selisihnya dua puluh tiga detik.

Selvara membaca angka itu sekali lagi, lalu mengambil ponselnya.

Ia belum mengirim apa pun. Selvara masih memegang ponselnya ketika angka dua puluh tiga detik itu tetap muncul di layar.

Ia membuka percakapan dengan Theo, tetapi tidak langsung mengetik. Selisih waktu perjalanan bisa muncul karena banyak hal. Bus sempat berhenti lebih lama, aplikasi memperbarui perkiraan, atau data perjalanan baru selesai dihitung setelah mereka turun.

Mengirimnya sekarang hanya akan membuat Theo kembali membuka catatannya malam-malam.

Selvara akhirnya menutup percakapan dan meletakkan ponsel di meja.

“Selvara, makan dulu,” panggil ibunya dari luar kamar.

“Iya, Bu.”

Ia menutup buku tugas, lalu meninggalkan kamar.

Pagi berikutnya, Theo sudah berada di dekat jendela kelas ketika Selvara datang. Sebuah roti baru ada di atas mejanya, kali ini diletakkan jauh dari tumpukan buku.

Selvara menyimpan tas di kursinya. “Belajar dari pengalaman?”

Theo mengikuti arah pandang Selvara. “Aku tidak mau kehilangan roti kedua kalinya.”

“Yang kemarin tetap kamu makan.”

“Itu bukan berarti kejadiannya harus diulang.”

Selvara mengeluarkan buku pelajaran. “Ada yang mau aku tunjukkan nanti.”

Theo baru hendak menjawab ketika Vio datang dari pintu sambil membawa correction tape berwarna merah muda.

“Akhirnya ketemu.” Vio meletakkannya di meja dengan puas. “Masih di bawah kursiku.”

Theo mengambil rotinya sebelum Vio sempat menaruh tas di dekat meja. “Bagus.”

Vio memandang roti yang dipindahkan Theo. “Aku tidak akan ambil.”

“Bukan soal itu.”

Selvara membuka bukunya. “Dia sedang melindungi masa depannya.”

Vio langsung paham. “Oh, rotinya.”

Theo memasukkan roti ke laci meja. “Kalian bisa melupakan kejadian kemarin.”

Vio duduk di kursinya. “Tidak.”

Bel masuk memotong pembicaraan mereka.

Pelajaran pertama berjalan seperti biasa. Guru matematika mengembalikan tugas minggu lalu, lalu hampir separuh kelas mulai mengeluh setelah melihat hasilnya. Vio mendapat nilai yang cukup baik, tetapi tetap memeriksa dua soal yang salah seperti sedang mencari alasan untuk menyalahkan kertasnya.

Saat waktu istirahat tiba, Theo baru mengingat ucapan Selvara tadi pagi.

Ia membawa rotinya ke meja Selvara. “Tadi mau tunjukkan apa?”

Selvara membuka riwayat perjalanan di ponselnya dan menyerahkannya.

Lihat selengkapnya