CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #31

What We Remember

Chapter 2 - Episode 9

Vio meletakkan ponselnya di atas meja Theo sebelum bel pertama berbunyi. “Baca lagi.”

Theo masih membuka buku pelajaran, tetapi akhirnya mengambil ponsel itu.

Pesan yang dikirim Vio dua hari lalu masih ada di layar, tepat di bawah foto correction tape merah muda.

Ternyata dari tadi ada di tas.

“Aku masih ingat kamu mengambilnya dari bawah kursi,” kata Theo sambil mengembalikan ponselnya.

Vio memasukkan correction tape ke tempat pensil. “Aku juga. Bahkan tanganku kena debu waktu mengambilnya.”

Selvara duduk di kursi sebelah dan membuka tasnya. “Lyara ingat kamu bilang dari tas.”

“Itu yang membuatku bingung.” Vio membuka kembali foto yang pernah ia kirim. “Aku tidak ingat mengetik kalimat ini.”

Theo menutup bukunya. “Bisa saja kamu salah menulis.”

Vio menatapnya sebentar. “Kalau salah tulis, kenapa Lyara malah ingat yang tertulis?”

“Karena dia baca pesannya.”

Jawaban Theo membuat Vio berhenti sebentar.

Selvara mengambil buku pelajaran dari tas. “Itu masih mungkin.”

Vio menarik kursinya dan duduk. “Baik. Berarti aku menemukan correction tape di bawah kursi, lalu entah kenapa menulis kalau benda itu ada di tas. Lyara baca pesannya, lalu ingat versi itu.”

Theo mengambil kembali bukunya. “Masih lebih masuk akal daripada mulai dari hal lain.”

“Aku tidak bilang ada hantu yang mengubah chat.”

“Kamu juga jangan mulai dari hantu.”

“Aku tidak mulai.”

Selvara membuka halaman yang akan dipakai untuk pelajaran pertama. “Kalian sudah mulai sejak tadi.”

Vio berhenti membalas karena guru masuk ke kelas.

Pelajaran pertama berlangsung hampir satu jam. Correction tape Vio tetap berada di dalam tempat pensil, dan tidak ada yang menyentuhnya lagi. Ketika guru meminta mereka menukar lembar latihan dengan teman di sebelah, Vio malah meminjam correction tape milik Selvara karena terlalu malas membongkar isi kotaknya.

Selvara menyerahkan benda itu. “Punyamu ada.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa pinjam?”

“Sudah terlanjur minta.”

Selvara melihat tempat pensil Vio yang terbuka setengah. Correction tape merah muda itu bahkan terlihat dari luar.

Vio mengikuti arah pandangnya, lalu mengambil miliknya sendiri. “Baik.”

Selvara mengambil kembali correction tape-nya tanpa berkata apa-apa.

Theo yang duduk di depan mereka sempat menoleh, tetapi memilih melanjutkan memeriksa lembar tugasnya.

Saat istirahat, Lyara datang membawa minuman dari kantin. Ia baru meletakkan satu botol di meja ketika Vio menyerahkan ponselnya.

“Aku masih tidak ingat menulis ini.”

Lyara membaca pesan yang sama. “Aku justru ingat membacanya waktu itu.”

“Itu aku sudah tahu.”

Lyara duduk di kursi kosong. “Aku juga ingat kamu kirim fotonya, lalu bilang ternyata ada di tas.”

Theo membalik pensil di antara jarinya. “Masalahnya, kami bertiga ingat dia mengambilnya dari bawah kursi.”

Lyara menaruh botol minum di meja. “Mungkin aku cuma ingat dari chat.”

“Itu juga yang tadi kami pikirkan,” kata Selvara.

Vio menyimpan ponselnya. “Aku mulai tidak suka kalau ingatan sendiri harus diperdebatkan begini.”

Lyara membuka tutup minumannya. “Jangan langsung percaya ingatan juga. Kemarin aku yakin sudah membawa partitur lagu kedua. Ternyata masih di rumah.”

“Itu beda.”

“Memang beda, tapi maksudku kita bisa salah.”

Vio tidak membantah. Ia mengambil correction tape dari tempat pensil lalu meletakkannya di meja. “Kalau besok benda ini pindah dan aku ingat hal lain lagi, aku pulang.”

Theo melihat correction tape itu. “Kamu memang pulang setiap hari.”

Vio menatapnya.

Theo kembali ke bukunya. “Lanjutkan.”

Vio memasukkan correction tape itu lagi sambil menggeleng kecil. “Kadang aku heran kenapa masih berteman dengan kamu.”

“Kamu duduk dua meja dari sini.”

“Bukan jawaban.”

Selvara menutup bukunya sebelum percakapan itu berkembang ke mana-mana. “Untuk sekarang, jangan anggap chat-nya berubah. Kita belum punya bukti.”

Lyara mengangguk sambil minum. “Aku setuju.”

Vio masih terlihat kurang puas, tetapi ia tidak memaksa. “Baik. Aku yang salah tulis dulu.”

Theo menggeser satu lembar tugas ke dalam map. “Lebih tepatnya, itu kemungkinan paling sederhana.”

Vio menatap Theo lagi. “Kamu bisa berhenti memperbaiki kalimatku.”

“Bisa.”

Theo tidak melanjutkan.

Bel berikutnya berbunyi dan Lyara kembali ke kelasnya.

Siang berjalan normal. Guru sejarah memberikan tugas kelompok baru, kantin kehabisan salah satu menu yang biasa dibeli Vio, dan dua siswa di belakang kelas berdebat soal siapa yang harus membawa bahan presentasi besok. Tidak ada suara yang berulang dari speaker sekolah. Sistem audio yang diperbaiki bekerja seperti biasa.

Selvara mulai menganggap kejadian correction tape sebagai kesalahan kecil yang kebetulan menjadi lebih mengganggu karena mereka sedang terlalu memperhatikan hal-hal aneh.

Sampai saat pelajaran terakhir.

Guru meminta setiap siswa mengumpulkan lembar latihan yang dikerjakan sejak pagi. Selvara mengambil kertasnya dari dalam buku, sementara Vio mencari lembar miliknya di antara beberapa buku yang menumpuk di meja.

“Ada di map biru,” kata Theo tanpa menoleh dari tasnya.

Vio berhenti mencari. “Kamu tahu dari mana?”

“Tadi kamu masukkan ke sana.”

Vio membuka map biru.

Lembar tugasnya ada di dalam.

“Nah.” Theo memasukkan buku terakhir ke tas. “Ingatan manusia masih bekerja.”

Vio mengambil lembar tersebut. “Aku tidak bilang rusak.”

Selvara hendak berdiri ketika melihat tulisan kecil di pojok kertas Vio.

Ada satu catatan dengan tinta biru.

Correction tape ada di tempat pensil.

Vio ikut melihatnya. “Itu tulisanku.”

Theo mendekat setelah tasnya selesai ditutup. “Kamu menulis kapan?”

Vio memegang kertas itu lebih dekat. “Aku tidak ingat.”

Selvara melihat tulisan tersebut. Bentuk hurufnya sama dengan catatan Vio yang lain. Tinta birunya juga sama dengan pulpen yang dipakai Vio sepanjang hari.

Di bawah kalimat itu ada tulisan kedua.

Jangan pindahkan sampai pulang.

Vio langsung membuka tempat pensil.

Correction tape merah muda masih ada di dalam.

Theo mengambil pulpen biru dari meja Vio. “Mungkin kamu tulis waktu istirahat.”

“Aku bersama kalian waktu istirahat.”

“Kamu tetap sempat menulis.”

Vio memeriksa catatan itu lagi. “Mungkin.”

Kali ini suaranya lebih pelan.

Selvara mengambil lembar tugasnya sendiri lalu berdiri. “Kumpulkan dulu. Gurunya sudah menunggu.”

Vio memasukkan correction tape kembali ke tempat pensil dan membawa lembar tugasnya ke depan kelas.

Mereka tidak membahas catatan itu lagi sampai jam sekolah selesai.

Di koridor, Theo berjalan di samping Selvara sambil membawa tas di satu bahu. “Tulisan itu masih bisa dibuat Vio sendiri.”

“Aku tahu.”

“Kalau kita mulai mencurigai setiap hal yang lupa dilakukan, semua benda di kelas akan jadi masalah.”

Selvara menuruni tangga. “Aku juga tidak mau begitu.”

Theo mengikuti beberapa langkah di belakangnya. “Tapi?”

Selvara berhenti di lantai bawah karena Vio belum menyusul.

Ia baru keluar dari kelas beberapa detik kemudian sambil membawa tempat pensil di tangan.

“Aku tadi taruh correction tape di dalam,” katanya sambil membuka kotaknya.

Correction tape merah muda itu masih ada.

Vio mengeluarkannya, lalu menunjukkan bagian bawahnya kepada mereka.

Ada sebuah garis pendek dari tinta biru di dekat tepi plastik.

Theo mengambil benda itu dan memeriksanya. “Bisa kena pulpen.”

“Aku juga pikir begitu.”

Vio mengambilnya kembali lalu memasukkan correction tape ke saku depan tas. “Aku cuma mau tahu besok aku ingat menaruhnya di mana.”

Selvara tidak menghentikannya.

Mereka berjalan menuju pintu keluar sekolah bersama siswa lain yang mulai memenuhi koridor. Di belakang mereka, speaker sekolah mengumumkan jadwal kegiatan sore dengan suara yang jelas dan hanya sekali. Vio baru beberapa langkah melewati gerbang ketika tangannya kembali menyentuh saku depan tas.

Theo yang berjalan di sebelahnya langsung melihat gerakan itu. “Masih ada.”

“Aku tahu.” Vio tetap membuka ritsletingnya sebentar dan memastikan correction tape merah muda itu berada di dalam. “Aku cuma ingin tahu nanti aku masih ingat menaruhnya di sini atau tidak.”

Selvara berjalan di sisi satunya sambil memegang tali tas. “Kalau setiap lima menit kamu periksa, besok kamu malah ingat bagian saat memeriksanya.”

Vio menutup ritsleting. “Nah, sekarang aku jadi memikirkan itu juga.”

Theo menahan senyum. “Berhenti diperiksa.”

“Baik. Mulai sekarang aku tidak sentuh lagi.”

Vio memasukkan kedua tangannya ke saku jaket agar tidak tergoda membuka tas. Lima langkah kemudian, salah satu tangannya keluar lagi untuk merapikan rambut yang tertiup angin.

Theo melihatnya.

“Aku tidak pegang tas,” kata Vio sebelum Theo sempat bicara.

“Aku juga tidak bilang apa-apa.”

“Wajahmu bilang.”

Selvara melanjutkan langkah sambil menahan senyum. Percakapan itu cukup membuat Vio berhenti memikirkan correction tape untuk beberapa saat.

Mereka seharusnya langsung menuju halte, tetapi papan informasi di dekat jalan menunjukkan bus berikutnya masih cukup lama. Theo yang sejak tadi mengeluh lapar akhirnya membelok menuju Avenoirs Bakery di seberang jalan. Selvara dan Vio ikut karena menunggu di dalam lebih nyaman daripada berdiri di halte.

Aroma roti hangat langsung terasa begitu pintu terbuka. Beberapa siswa lain sudah memenuhi meja dekat jendela, sementara pegawai di balik etalase masih sibuk mengisi kembali baki yang mulai kosong.

Theo mengambil nampan dan langsung menuju rak roti.

Vio mengikutinya sambil memperhatikan pilihannya. “Jangan beli dua lalu ditaruh di bawah buku lagi.”

“Aku sudah belajar.”

Theo mengambil satu roti isi dan meletakkannya di nampan.

Vio menunggu.

Theo mengambil satu lagi.

“Kamu baru bilang sudah belajar.”

“Aku belajar cara menyimpannya.”

Vio akhirnya mengambil nampannya sendiri. “Ya sudah. Aku tidak ikut campur.”

Selvara memilih roti kecil dari rak sebelah lalu berjalan menuju kasir. Dari belakangnya, Theo masih membandingkan dua jenis roti seolah keputusan itu jauh lebih penting daripada waktu bus mereka.

Ketika akhirnya duduk, Vio memilih kursi dekat dinding dan menaruh tas di samping kakinya. Ia sempat melihat saku depan tas, tetapi kali ini tidak membukanya.

Selvara membuka bungkus rotinya. “Berhasil.”

Vio langsung tahu maksudnya. “Aku tidak cek.”

Theo yang baru duduk meletakkan dua rotinya di meja. “Sudah hampir sepuluh menit.”

“Kalian menghitung juga sekarang?”

“Tidak.” Theo membuka bungkus roti pertama. “Cuma terasa lama karena kamu terus lihat tas.”

Vio memindahkan tasnya ke bawah meja agar tidak terlihat. “Selesai.”

Pembicaraan berpindah dengan sendirinya ketika Rikuya masuk beberapa menit kemudian. Tas olahraganya masih tersampir di bahu, dan ia membawa jaket yang tadi dipakai latihan.

Ia berhenti di dekat meja mereka. “Bus kalian belum datang?”

Theo menunjuk papan jadwal yang terlihat dari jendela. “Masih lama.”

Rikuya melihat kursi kosong di sisi meja lalu langsung duduk. “Bagus. Aku malas makan sendiri.”

Vio melihatnya menarik satu roti dari tas olahraga. “Kamu bawa makanan dari latihan?”

“Beli tadi siang. Belum sempat makan.”

Theo berhenti membuka roti keduanya dan melihat benda yang bentuknya sudah agak tertekan itu.

Rikuya mengikuti pandangannya. “Kenapa?”

Vio menutup mulut agar tidak tertawa. Selvara memilih makan saja.

Theo mengambil roti keduanya dan menunjukkan bagian yang masih utuh. “Tidak ada.”

Rikuya kelihatan tidak mengerti, tetapi ia juga tidak tertarik mencari tahu. Ia membuka bungkus rotinya dan mulai makan.

Beberapa saat mereka hanya membicarakan latihan basket, tugas sejarah, dan rencana presentasi yang baru dibagikan. Rikuya mengeluh karena kelompoknya menaruh hampir semua pekerjaan mencari gambar kepadanya, sedangkan Vio masih belum memutuskan siapa yang harus membuat bagian pembuka presentasi kelompoknya.

Masalah correction tape baru kembali ketika tas Vio bergeser karena tersenggol kakinya sendiri.

Vio menahan tas sebelum jatuh. Tangannya berhenti di dekat saku depan.

Rikuya memperhatikan ekspresinya. “Ada barang pecah?”

“Correction tape.”

Rikuya menunggu penjelasan beberapa detik, lalu membuka kembali rotinya ketika tidak ada yang bicara.

Vio menarik tasnya ke posisi semula. “Ceritanya panjang.”

“Kalau soal correction tape sampai panjang, aku lebih baik tidak tahu.”

Theo tertawa kecil sambil merapikan bungkus makanannya. “Keputusan yang bagus.”

Vio akhirnya menceritakan bagian paling sederhana saja. Ia merasa menaruh correction tape di satu tempat, sementara pesan yang dikirimnya sendiri mengatakan tempat lain. Hari ini ia membuat tanda kecil pada benda itu supaya mudah dikenali.

Rikuya tidak banyak berubah ekspresi. Setelah mendengar sampai selesai, ia mengambil minumannya. “Foto saja sebelum tidur.”

Vio berhenti.

Rikuya membuka tutup botol. “Taruh di meja, foto. Besok kalau kamu lupa, lihat fotonya.”

Theo menyandarkan punggung ke kursi. “Sederhana.”

“Kalian dari tadi memikirkan apa?”

Vio menunjuk Theo. “Dia tadi sempat membahas ingatan manusia.”

“Aku tidak membahas sejauh itu.”

“Sudah hampir.”

Rikuya minum lalu memasukkan botol kembali ke tas. “Makanya jangan dibuat sulit.”

Selvara memperhatikan Vio yang mulai terlihat lebih tenang. Cara Rikuya memang sederhana, tetapi itu mungkin yang dibutuhkan Vio sekarang. Bukan mencari penjelasan, hanya memastikan ia tidak terus mempertanyakan hal kecil yang dilakukan sendiri.

“Nanti malam taruh saja di meja,” kata Selvara. “Setelah itu jangan dipikirkan lagi.”

Vio mengangguk. “Itu lebih enak.”

Theo menghabiskan roti keduanya. “Kalau besok ternyata masih sama, kita berhenti membahas correction tape.”

“Setuju.”

Vio baru saja selesai bicara ketika layar jadwal bus di luar berubah.

Selvara mengambil tas. “Bus kita tujuh menit lagi.”

Mereka membereskan meja. Rikuya masih menunggu rute yang berbeda, jadi ia tetap di Avenoirs ketika mereka keluar.

Sebelum pintu tertutup, Vio sempat menoleh kembali. “Terima kasih idenya.”

Rikuya mengangkat botol minum sebagai jawaban lalu kembali melihat ponselnya.

Perjalanan pulang tidak membawa kejadian lain. Speaker bus bekerja normal, waktu perjalanan sesuai perkiraan, dan Vio benar-benar tidak membuka saku depan tas sampai mereka berpisah.

Malamnya, ketika Selvara sedang membaca bahan presentasi sejarah, grup mereka menerima foto dari Vio.

Correction tape merah muda itu terletak di atas meja belajarnya. Garis tinta biru di bagian bawah masih terlihat ketika fotonya diperbesar.

Pesan Vio muncul di bawahnya.

Aku taruh di meja. Sudah.

Theo membalas beberapa menit kemudian.

Jangan dipindah lagi.

Vio mengirim jawaban.

Aku bahkan tidak akan sentuh.

Lyara yang baru membaca percakapan mengirim satu pesan singkat.

Besok jangan lupa dibawa.

Vio menjawab hampir seketika.

Justru besok aku sengaja tidak bawa.

Selvara membaca bagian itu dua kali.

Ia mengetik agar Vio membiarkannya tetap di meja sampai pulang sekolah besok. Tidak ada alasan membawa benda itu jika tujuannya hanya memastikan ingatannya tidak berubah.

Vio setuju.

Setelah itu grup kembali sepi.

Selvara menyimpan ponsel dan melanjutkan membaca sampai ibunya memanggil dari ruang tengah karena pakaian yang dijemur harus segera diangkat. Ketika ia kembali ke kamar hampir setengah jam kemudian, percakapan mereka sudah tertutup oleh beberapa pesan kelas tentang pembagian tugas.

Ia tidak membuka foto correction tape lagi.

Pagi berikutnya Vio datang lebih lambat dari biasanya. Rambutnya masih sedikit berantakan, dan ia langsung duduk sambil mengeluarkan buku pertama dari tas.

“Aku bangun kesiangan,” katanya ketika Selvara melihat jam.

Theo yang sudah ada di depan membuka bungkus sarapannya. “Kelihatan.”

Vio merapikan rambut dengan tangan. “Tidak perlu dikomentari.”

Lihat selengkapnya