Chapter 2 - Episode 10
Selvara meletakkan selembar kertas kecil di meja Theo sebelum pelajaran dimulai. Bekas tekanan tulisan yang semalam ia salin sudah terlihat lebih jelas setelah dicoba beberapa kali dengan pensil.
Theo baru membuka tas ketika kertas itu muncul di depannya. Ia langsung membaca bagian yang berhasil dikenali.
Theo menarik kursinya lalu membaca sekali lagi. “Kamu dapat ini dari bekas tulisan di kertas Vio?”
Selvara mengeluarkan buku dari tas. “Yang kelihatan baru bagian itu. Sisanya terlalu tipis.”
Theo mendekatkan kertas ke jendela. “Bisa saja tulisan dari lembar lain yang dulu pernah ditumpuk di atasnya.”
“Aku juga pikir begitu.”
Vio datang sambil membawa tempat pensil dan satu kotak susu. Begitu melihat mereka sudah berkumpul di satu meja, langkahnya langsung melambat. “Pagi-pagi kalian sudah mulai lagi?”
Theo menyerahkan kertas itu.
Vio membaca sebentar, kemudian wajahnya berubah. “Aduh... kenapa isinya malah begini?”
Selvara menarik kursinya agar Vio bisa lewat. “Belum tentu ada hubungannya dengan kita.”
“Iya, aku tahu.” Vio duduk lalu meletakkan susu di meja. “Tapi kalimatnya pas sekali. Itu yang bikin nggak enak.”
Theo masih memperhatikan bekas tulisan. “Kalau kertas ini memang sudah lama ada di map, bisa saja kita cuma kebetulan menemukan kalimat yang mirip.”
Vio membuka sedotan susunya. “Aku pilih yang itu dulu.”
Selvara mengambil kembali kertasnya. “Nanti kita tunjukkan ke Lyara.”
Vio baru menusukkan sedotan ketika Theo mengambil tempat pensilnya dan memindahkannya sedikit agar tidak terkena susu.
Vio langsung menariknya kembali. “Hei, jangan pindahkan barangku sembarangan.”
Theo berhenti. “Aku cuma menjauhkan dari susu.”
“Aku tahu. Tapi sekarang aku lagi sensitif sama barang pindah-pindah.”
Theo melepas tangannya. “Baik.”
Vio memeluk tempat pensilnya sebentar, lalu sadar Selvara sedang menahan senyum. Ia langsung meletakkannya lagi. “Jangan lihat begitu.”
“Aku tidak bilang apa-apa.”
“Itu malah bikin kesal.”
Bel pertama berbunyi sebelum mereka sempat melanjutkan. Selvara memasukkan kertas tadi ke dalam buku, sementara Vio buru-buru menghabiskan susu sebelum guru masuk.
Pagi itu tidak ada hal aneh. Dua jam pelajaran berjalan biasa, dan pengumuman dari speaker sekolah hanya terdengar sekali. Vio bahkan sudah mulai terlihat santai lagi ketika jam istirahat tiba.
Lyara datang bersama Raviel beberapa menit kemudian. Selvara menunjukkan kertas tadi tanpa menjelaskan panjang.
Lyara membaca bagian yang sudah disalin. “Dengar dua kali, catat urutannya.”
Raviel ikut melihat dari samping. “Kalian yakin bacanya begitu?”
“Bagian itu lumayan jelas,” jawab Selvara.
Vio membuka bungkus makanan dari kantin. “Jangan tanya kenapa kalimatnya cocok sama kejadian kita. Aku juga sudah kesal duluan.”
Lyara duduk di sebelahnya. “Kalau cuma bekas tekanan, kita juga belum tahu tulisan aslinya dari mana.”
“Nah.” Vio menunjuk Lyara dengan ujung sendok. “Aku suka jawaban itu.”
Theo menutup buku catatannya. “Kita simpan saja dulu. Kalau nanti ada suara yang terulang lagi, baru kita ikuti tulisannya.”
Vio menatap Theo. “Maksudmu benar-benar dicatat?”
“Daripada nanti kita ribut soal siapa yang ingat apa.”
Selvara mengerti maksudnya. “Jangan dibahas dulu saat kejadian. Masing-masing catat sendiri.”
Lyara membuka botol minumnya. “Itu malah lebih gampang.”
Vio mengunyah makanannya sambil berpikir. “Baik. Tapi kalau sampai seminggu nggak ada apa-apa, aku mau melupakan kertas itu.”
Theo menarik kotak makannya lebih dekat. “Silakan.”
Vio menyipitkan mata. “Jawabanmu cepat sekali.”
“Aku lapar.”
Percakapan mereka selesai begitu Raviel teringat ada buku yang harus dikembalikan sebelum perpustakaan ramai. Ia pergi lebih dulu, sementara Lyara tinggal sampai bel berbunyi.
Kesempatan untuk mencoba catatan itu datang lebih cepat dari yang mereka kira.
Jam terakhir baru selesai ketika speaker sekolah menyala.
“Perhatian kepada seluruh siswa yang mengikuti kegiatan klub sore ini, harap memastikan ruang kelas sudah dikunci sebelum meninggalkan gedung.”
Vio yang sedang memasukkan buku ke tas langsung berhenti.
Selvara juga mendengarnya.
Pengumuman selesai.
Beberapa siswa masih bercakap-cakap sambil keluar kelas. Kursi digeser, buku dimasukkan ke tas, dan seseorang di belakang menjatuhkan penggaris.
Lalu speaker berbunyi lagi.
“Perhatian kepada seluruh siswa yang mengikuti kegiatan klub sore ini, harap memastikan ruang kelas sudah dikunci sebelum meninggalkan gedung.”
Kalimat yang sama.
Vio perlahan menoleh ke arah Selvara. “Jangan ngomong dulu.”
Theo yang baru berdiri langsung duduk lagi. Ia mengambil kertas kecil dari bukunya.
Selvara membuka halaman kosong.
Vio buru-buru mencari pulpen, sampai tangannya salah mengambil pensil terlebih dahulu. “Aduh... mana pulpenku?”
Theo menunjuk benda yang terselip di samping bukunya. “Itu.”
Vio mengambilnya. “Jangan komentar.”
Mereka menulis masing-masing tanpa saling melihat.
Lyara belum ada di kelas, jadi Selvara mengirim pesan agar ia datang sebelum pulang. Pesannya hanya meminta Lyara mampir sebentar, tanpa menjelaskan apa yang baru terjadi.
Beberapa menit kemudian Lyara muncul di pintu sambil membawa tas musik. “Kenapa?”
Vio langsung mengangkat telunjuk. “Sebelum masuk, tadi kamu dengar pengumuman dua kali?”
Lyara berhenti di depan pintu. “Dengar.”
“Jangan bilang urutannya.” Vio menyerahkan secarik kertas dan pulpen. “Tulis dulu apa yang kamu ingat sebelum pengumuman pertama sampai setelah yang kedua.”
Lyara melihat mereka bertiga yang sudah memegang catatan masing-masing. “Kalian benar-benar jadi melakukan ini?”
Theo menggeser kursi kosong. “Sudah terlanjur.”
Lyara akhirnya duduk dan mulai menulis.
Selvara menyelesaikan catatannya lebih dulu.
Bel pulang berbunyi.
Pengumuman pertama.
Suara penggaris jatuh.
Pengumuman kedua.
Theo selesai beberapa detik kemudian.
Bel pulang berbunyi.
Suara penggaris jatuh.
Pengumuman pertama.
Pengumuman kedua.
Selvara membaca catatan Theo sekali lagi.
“Punyamu beda.”
Theo mengambil catatan Selvara. Wajahnya yang tadi santai langsung berubah. “Aku ingat penggaris jatuh sebelum pengumuman pertama.”
Vio meletakkan catatannya di tengah meja.
Bel pulang berbunyi.
Pengumuman pertama.
Pengumuman kedua.
Suara penggaris jatuh.
Vio melihat dua catatan lain, lalu menepok dahinya pelan. “Jangan bilang sekarang kita punya tiga versi.”
Lyara belum menyerahkan miliknya. Ia masih membaca tulisan sendiri dengan wajah bingung.
Selvara memperhatikannya. “Punyamu bagaimana?”
Lyara akhirnya meletakkan kertasnya.
Pengumuman pertama.
Bel pulang berbunyi.
Suara penggaris jatuh.
Pengumuman kedua.
Vio bersandar ke kursi. “Ya sudah. Empat orang, empat urutan.”
Theo mengambil semua kertas dan menyusunnya di meja. “Jangan langsung ambil kesimpulan. Bel, suara penggaris, sama pengumuman terjadi berdekatan. Kita bisa saja salah ingat urutannya.”
Vio mengusap wajahnya sebentar. “Aku tahu. Tapi biasanya orang beda satu bagian, bukan semuanya.”
Selvara melihat tulisan mereka satu per satu. Kalimat di kertas lama tadi terus teringat di kepalanya.
Dengar dua kali. Catat urutannya.
Mereka baru saja melakukannya.
Dan hasilnya tidak sama.
Lyara memegang tali tas musiknya sambil melihat speaker di atas pintu kelas. “Kalau mau tahu urutan sebenarnya, kita cari yang bisa dicek.”
Theo mengumpulkan kertas mereka. “Bel sekolah punya jadwal. Pengumuman mungkin ada catatannya. Penggarisnya...”
Vio menunjuk bagian belakang kelas. “Yang jatuh punya Mina.”
Mina ternyata masih berada di koridor bersama dua temannya. Vio langsung berdiri, tetapi Selvara menahan ujung tasnya sebelum ia pergi terlalu cepat.
“Jangan tanya urutannya seperti kita tadi.”
Vio kembali melihat Selvara, lalu paham. “Oh. Iya.”
Mereka menghampiri Mina di depan kelas. Vio tidak menjelaskan soal empat catatan yang berbeda. Ia hanya bertanya sambil menunjuk penggaris yang masih dipegang Mina.
“Tadi itu jatuh waktu pengumuman, kan?”
Mina memasukkan penggaris ke tas. “Iya. Pas speaker bunyi yang kedua.”
Theo dan Selvara saling melihat.
Itu sama dengan catatan Lyara.
Mina sudah hendak pergi ketika salah satu temannya menyela sambil mengerutkan dahi. “Bukannya jatuh sebelum speaker bunyi?”
Mina langsung menoleh. “Nggak. Aku ingat aku lagi ambil tas waktu pengumuman pertama.”
Temannya menggeleng. “Aku bantu ambilin penggarismu sebelum itu.”
Mina tertawa kecil karena mulai bingung sendiri. “Ya sudah, entahlah. Cuma penggaris juga.”
Mereka pergi sambil melanjutkan pembicaraan lain.
Vio tetap berdiri di depan kelas dengan kedua tangan memegang tali tas.
Kali ini ia tidak bercanda.
Theo memasukkan empat catatan tadi ke bukunya. “Besok kita cek jam bel sama pengumumannya.”
Selvara mengangguk pelan.
Mereka tidak lagi mencoba mengingat suara penggaris.
Masalahnya sekarang bukan siapa yang lupa.
Dua orang lain yang tidak tahu apa pun tentang catatan mereka juga mengingat urutan yang berbeda.
Theo menyelipkan empat catatan mereka ke dalam bukunya sebelum meninggalkan kelas. Vio sudah lebih dulu memasang tas, tetapi langkahnya masih pelan saat mereka keluar bersama.
“Aku masih mau percaya kita cuma salah ingat,” kata Vio sambil merapikan tali tasnya. “Soalnya kalau bukan itu, aku juga tidak tahu harus mikir apa.”
Theo menutup pintu kelas setelah siswa terakhir keluar. “Makanya besok kita cek yang memang ada catatannya. Jangan pakai ingatan lagi.”
Selvara berjalan di samping mereka menuju tangga. “Bel sekolah dulu. Setelah itu pengumumannya.”
Vio mengangguk, lalu membuang muka sedikit. “Nah, begitu lebih enak. Ada yang bisa dicek, bukan malah debat siapa yang paling yakin.”
Mereka baru sampai lantai dua ketika Mina memanggil dari belakang. Ia berlari kecil sambil membawa ponsel.
“Tunggu, tadi kalian bahas penggarisku, kan?”
Vio berhenti di dekat pagar tangga. “Iya. Kenapa?”
Mina membuka galeri ponselnya. “Kayaknya aku punya videonya.”
Theo yang tadi sudah mau turun langsung kembali satu langkah. “Video apa?”
“Temanku tadi rekam aku waktu beresin tas.” Mina mencari beberapa detik, lalu menemukan sebuah video pendek. “Ini. Aku baru ingat karena dia kirim ke aku.”
Vio mendekat ke layar. “Serius ada?”
Mina memutar videonya.
Gambar awal memperlihatkan Mina yang sedang membereskan buku sambil protes karena temannya terus merekam. Suara kelas terdengar ramai di belakang.
Bel pulang berbunyi.
Beberapa detik kemudian speaker sekolah mulai mengumumkan kegiatan klub.
Mina dalam video masih memasukkan buku ke tas.
Penggarisnya jatuh ke lantai di tengah pengumuman pertama.
Pengumuman selesai.
Lalu sekitar dua puluh detik kemudian, suara yang sama terdengar lagi.
Vio langsung menutup mulut dengan satu tangan. “Aduh...”
Theo mengambil bukunya dan membuka empat catatan tadi.
Selvara sudah ingat apa yang ia tulis.
Bel.
Pengumuman pertama.
Penggaris jatuh.
Pengumuman kedua.
Urutannya sama.
Theo menatap catatannya sendiri beberapa detik. “Punyaku salah.”
Vio ikut membuka catatannya. Setelah membaca dua baris pertama, ia mengerutkan wajah. “Punyaku malah taruh penggaris paling belakang.”
Lyara belum bersama mereka, tetapi catatannya masih ada di buku Theo. Urutannya berbeda lagi.
Mina melihat mereka dengan bingung. “Kalian sampai nulis semua begitu?”
Vio langsung menutup bukunya. “Jangan tanya. Ceritanya sudah kepanjangan.”
Mina tertawa kecil. “Ya sudah. Yang penting videonya ada.”
Selvara meminta video itu dikirim ke Vio. Mina langsung mengirimnya sebelum kembali menyusul temannya.
Begitu Mina pergi, Vio memutar video itu sekali lagi.
Kali ini tidak ada yang bicara.
Bel.
Pengumuman pertama.
Penggaris jatuh.
Pengumuman kedua.
Urutannya jelas.
Vio mematikan layar. “Aku ingat penggarisnya jatuh setelah semuanya selesai.”
Theo memasukkan catatannya kembali ke buku. “Aku ingat sebelum pengumuman pertama.”
Selvara masih memegang tali tas sambil melihat layar ponsel Vio yang sudah gelap. “Berarti setidaknya sekarang kita tahu urutan aslinya.”
Vio memasukkan ponselnya ke saku, tetapi wajahnya belum kembali santai. “Masalahnya aku yakin sama yang aku ingat.”
Theo menyandarkan satu tangan di pagar tangga. “Aku juga.”
Beberapa siswa lewat di belakang mereka sambil bercanda soal latihan klub. Vio menunggu sampai mereka turun lebih dulu sebelum melanjutkan.
“Kalau cuma satu orang salah ingat, aku masih tidak peduli.” Ia menatap Theo lalu Selvara. “Tapi kita berempat beda semua.”
Selvara tidak menjawab cepat. Video Mina memang menyelesaikan satu masalah, tetapi membuka masalah lain yang lebih sulit diabaikan.
Theo menarik napas lalu menepuk bukunya pelan. “Kita cari log speaker sekarang saja. Bagian fasilitas belum tutup.”
Vio langsung melihat jam. “Masih sempat?”
“Kalau jalan sekarang.”
Selvara ikut turun. “Sekalian selesai hari ini.”
Mereka menghubungi Lyara di perjalanan. Ia masih berada di ruang musik dan menyusul beberapa menit kemudian sebelum mereka masuk ke ruang fasilitas.
Petugas yang berjaga masih orang yang sama dengan beberapa hari lalu. Raviel ternyata sudah pernah menanyakan gangguan speaker sebelumnya, jadi penjelasan mereka tidak perlu panjang.
Theo menyampaikan bahwa pengumuman sore tadi terdengar dua kali dan mereka ingin memastikan apakah sistem memang mengirimnya dua kali.
Petugas itu membuka catatan di komputer. “Kalau cuma mau lihat pengumuman tadi, sebentar.”
Vio berdiri di belakang Theo sambil memegang tas di depan tubuhnya. Kali ini ia tidak memberi komentar apa pun.
Daftar kegiatan sistem muncul di layar.
Petugas menggulir beberapa baris lalu berhenti pada waktu menjelang pulang sekolah.
“Ini pengumumannya.”
Satu perintah siaran tercatat pada pukul 15.41.
Theo langsung melihat jam pada video Mina.
Video dimulai pukul 15.40.
Pengumuman pertama memang terdengar sekitar satu menit setelahnya.
Vio mendekat sedikit. “Tapi kami dengar dua kali.”
Petugas memperbesar catatan. “Perintahnya cuma satu.”
Selvara mengingat masalah pengendali speaker yang diperbaiki beberapa hari lalu. “Bisa terputar ulang sendiri?”
“Bisa saja kalau perangkatnya masih bermasalah.” Petugas itu membuka menu lain. “Tapi kemarin sudah diganti.”
Theo menahan buku di dadanya. “Kalau suara terulang, ada catatannya juga?”
“Belum tentu. Yang dicatat di sini perintah dari pusat. Kalau perangkat di lantai memutar ulang karena gangguan, sistem pusat tetap menganggapnya satu.”
Vio terlihat sedikit lega mendengarnya. “Berarti masih mungkin dari speaker.”
“Masih mungkin.” Petugas itu menutup halaman log. “Besok saya minta dicek lagi. Kalau kejadian lagi, catat jamnya saja.”
Theo mengangguk. “Terima kasih, Pak.”
Mereka keluar dari ruang fasilitas dengan satu penjelasan yang masih masuk akal.
Speaker mungkin memutar ulang suara tanpa menerima perintah kedua.
Masalahnya tinggal ingatan mereka.
Lyara berjalan di sebelah Vio sambil membaca empat catatan yang tadi diberikan Theo. “Punyaku bahkan belnya setelah pengumuman pertama.”
Vio menghela napas kecil. “Sudah jangan dibaca berkali-kali. Nanti aku malah hafal semua versi.”
Lyara langsung menutup kertasnya. “Iya juga.”
Theo berjalan sedikit di depan sambil membuka video dari Mina yang sudah diteruskan Vio. “Aku mau simpan ini.”
Vio melihatnya. “Silakan. Tapi jangan besok pagi datang bawa tabel.”
Theo menoleh dengan ekspresi datar. “Aku tidak pernah bilang mau bikin tabel.”
“Itu yang bikin aku curiga.”
Selvara tersenyum kecil melihat keduanya. Ketegangan yang tadi terasa berat mulai turun sedikit setelah mereka mendapat kemungkinan teknis dari bagian fasilitas.
Mereka berhenti di dekat ruang musik karena Lyara harus mengambil tas tambahan yang tertinggal. Vio ikut menunggu di luar, sementara Theo duduk di bangku koridor dan kembali memutar video Mina.
Suara bel terdengar dari ponselnya.
Pengumuman pertama.
Penggaris jatuh.
Pengumuman kedua.
Selvara yang berdiri di dekat jendela tiba-tiba merasakan cincin di jari tengah kanannya dingin.
Ia menurunkan tangan dan menyentuh bagian logamnya.
Theo menghentikan video. “Kenapa?”
Selvara menggeleng kecil. “Tidak apa-apa.”
Cincin itu perlahan kembali hangat.
Lyara keluar dari ruang musik sambil membawa tas tambahan. “Ayo. Aku sudah selesai.”
Mereka melanjutkan perjalanan menuju tangga.
Theo memasukkan ponselnya ke saku, tetapi Selvara masih memikirkan waktu cincin itu terasa dingin.
Bukan saat bel terdengar, ataupun saat penggaris jatuh.
Tepat ketika pengumuman kedua mulai diputar.
Selvara belum mengatakan apa pun kepada yang lain.
Untuk sekarang, ia hanya mengingat bagian itu.
Mereka baru sampai di bordes tangga ketika Selvara berhenti.
“Theo, putar videonya sekali lagi.”
Theo yang sudah berjalan dua anak tangga di depan ikut berhenti. “Yang tadi?”
Selvara mengangguk. “Mulai dari sebelum pengumuman kedua.”
Vio langsung berbalik. “Kenapa?”
Selvara menyentuh cincin di jari tengah kanannya. “Tadi cincinku terasa dingin.”
Lyara yang masih membawa tas musik mendekat sedikit. “Pas videonya diputar?”
“Pas suara kedua mulai.”
Theo tidak banyak bertanya lagi. Ia membuka video Mina dan menggeser waktunya sampai beberapa detik sebelum pengumuman pertama selesai.
Vio berdiri di sebelah Selvara sambil memperhatikan tangannya. “Kalau dingin lagi, bilang.”
Theo menekan tombol putar.
Suara kelas dari video terdengar kecil melalui speaker ponsel. Pengumuman pertama selesai, disusul suara penggaris jatuh dan beberapa siswa yang masih mengobrol.
Selvara menunggu.
Dua puluh detik berlalu.
Pengumuman kedua mulai terdengar.
Rasa dingin menjalar tipis dari cincin ke jarinya.
Selvara langsung mengangkat tangan. “Sekarang.”
Theo menghentikan video.
Vio menatap cincin itu, lalu wajah Selvara. “Beneran?”
Selvara melepas jarinya dari cincin. “Iya.”
Theo melihat layar ponselnya sejenak. “Putar lagi dari bagian yang sama.”
Vio langsung menahan pergelangan tangan Theo sebelum ia menyentuh layar. “Tunggu dulu. Jangan diputar terus kalau kita belum tahu kenapa cincin Selvara bereaksi.”
Theo menahan ponselnya. “Aku cuma mau memastikan.”
“Aku tahu, tapi jangan sampai jarinya malah kenapa-kenapa.”
Selvara menggerakkan jarinya beberapa kali. Tidak ada rasa sakit ataupun kebas. “Aku nggak apa-apa.”
Lyara menurunkan tas musiknya sebentar. “Cincinnya pernah begini waktu dengar suara lain?”
Selvara mencoba mengingat kejadian beberapa hari terakhir. “Waktu di kamar pernah dingin sebentar. Aku kira karena udara.”
Vio membuang muka sambil menepuk pelan dahinya. “Nah, sekarang aku jadi tidak suka angka dua puluh tiga lagi.”
Theo menyimpan videonya tanpa memutarnya kembali. “Kita jangan tes di tangga.”
“Syukurlah.” Vio kembali mengangkat tasnya. “Akhirnya kamu bilang sesuatu yang tidak perlu aku larang.”
Mereka melanjutkan turun.
Di depan gedung, Lyara baru teringat sesuatu dan berhenti dekat bangku panjang. “Suara kedua di video tadi agak beda.”
Theo yang sedang memasukkan ponsel ke saku kembali mengeluarkannya. “Bedanya di mana?”
Lyara memikirkan bagian yang baru didengarnya. “Aku juga belum yakin. Kayak ada suara rendah di bawah pengumumannya.”
Vio memandangnya. “Dengung?”
“Kurang lebih.” Lyara menggerakkan jarinya kecil, mencoba mencari kata yang pas. “Pendek banget. Kalau nggak pakai earphone mungkin susah dengarnya.”
Theo membuka video itu lagi, tetapi tidak langsung menekan putar. “Kamu punya earphone?”
Lyara menunjuk tas musiknya. “Ada.”
Vio langsung mengangkat tangan. “Kita pindah dulu. Jangan berdiri di depan sekolah sambil ngulang suara aneh.”
Selvara setuju. “Ke Avenoirs saja.”
Theo melihat jam. “Busku masih lama.”
“Berarti sekalian.”
Mereka berjalan keluar sekolah bersama. Kali ini tidak ada yang membahas urutan pengumuman sepanjang jalan. Vio malah sibuk mengeluh karena tali tasnya terus turun dari bahu, sementara Lyara mencoba memasukkan tas musik dan tas sekolah ke posisi yang tidak saling bertabrakan.
Avenoirs cukup ramai saat mereka tiba, tetapi meja di sudut belakang masih kosong. Mereka membeli minuman dan satu piring roti untuk dibagi, lalu duduk mengelilingi meja kecil dekat dinding.
Theo meletakkan ponselnya di tengah. “Sekali saja dulu.”
Vio memegang gelas minumnya dengan kedua tangan. “Nah, begitu.”
Lyara memasang satu sisi earphone lalu memberikan sisi lainnya kepada Theo. Selvara dan Vio tetap mendengar dari speaker luar dengan suara kecil.
Theo memutar bagian pertama.
Pengumuman pertama terdengar.
Lyara memejamkan mata sebentar agar lebih fokus, sedangkan Theo memperhatikan waktunya.
Video berlanjut sampai pengumuman kedua.
Selvara kembali merasakan cincin menjadi dingin.
Lyara membuka mata hampir bersamaan.
Theo langsung menghentikan video.
“Ada,” kata Lyara sambil melepas earphone. “Sebelum suara keduanya masuk.”
Theo menatap layar. “Aku juga dengar.”
Vio meletakkan gelasnya. “Aku nggak dengar apa-apa.”
“Karena pelan.” Lyara mengambil ponsel Theo dan menggeser video mundur sedikit. “Di sini. Tepat sebelum speaker mulai ngomong.”
Theo mengambil salah satu earphone dan memberikannya kepada Selvara. “Coba dengar, tapi kalau cincinmu mulai dingin, langsung berhenti.”
Selvara memasangnya.
Vio duduk lebih dekat. “Jangan sok kuat.”
“Aku cuma dengar.”
“Itu juga yang kamu bilang setiap mulai penasaran.”
Selvara tidak membalas. Ia menekan tombol putar.
Suara kelas terdengar lebih jelas melalui earphone. Ada kursi bergeser, suara tas ditutup, lalu percakapan Mina dengan temannya.
Pengumuman pertama selesai.
Penggaris jatuh.
Beberapa detik kosong.
Lalu, tepat sebelum pengumuman kedua terdengar, ada suara rendah yang sangat pendek.
Bukan dengung panjang.
Lebih seperti nada yang muncul kurang dari satu detik.
Cincin Selvara langsung terasa dingin.
Ia menghentikan video dan melepas earphone. “Aku dengar.”
Vio memperhatikan tangannya. “Cincinnya?”
“Bereaksi lagi.”
Theo mengambil ponselnya. “Berarti ada sesuatu di rekamannya.”
“Bisa saja dari mikrofon,” kata Lyara. “Atau suara lain di kelas yang kebetulan masuk.”
Theo mengangguk. “Kita cek bagian pertama. Kalau suara itu juga ada, berarti mungkin dari speaker atau rekaman.”
Vio menunjuk ponselnya. “Kali ini jangan Selvara yang dengar.”
Selvara tidak keberatan.
Theo dan Lyara memeriksa pengumuman pertama menggunakan earphone. Mereka memutarnya dua kali dari beberapa detik sebelum suara speaker mulai.
Lyara akhirnya menggeleng. “Aku nggak dengar nada yang sama.”
Theo mengambil buku catatan kecil dari tasnya, tetapi Vio langsung memandangnya.
Theo berhenti membuka halaman. “Apa?”
“Jangan bikin tabel.”
“Aku cuma mau tulis waktunya.”
“Oh.” Vio kembali mengambil minumnya. “Ya sudah.”
Theo mencatat detik saat nada pendek itu muncul. “Kurang dari satu detik sebelum pengumuman kedua.”
Selvara mengusap sisi cincin dengan ibu jarinya. Suhunya sudah kembali normal. “Video aslinya masih ada di Mina?”
“Ada.” Theo menutup catatan. “Jangan pakai video yang sudah dikirim berkali-kali. Bisa saja kompresinya bikin suara tambahan.”
Lyara mengangguk. “Nah, itu mungkin.”
Vio mengambil satu roti dari piring tengah. “Berarti besok pinjam video aslinya, cek suara, terus selesai. Jangan malam ini malah bongkar aplikasi audio.”
Theo yang sempat hendak membuka sesuatu di ponselnya berhenti.
Vio langsung menunjuk. “Aku tahu wajah itu.”
“Aku cuma mau lihat informasi file.”
“Besok.”
Theo menatap Selvara seolah meminta dukungan.
Selvara mengambil satu roti juga. “Besok.”
Theo akhirnya menyimpan ponselnya. “Baik.”
Vio terlihat puas. “Terima kasih. Sekarang kita bisa makan seperti manusia biasa.”
Lyara tertawa kecil lalu mengambil roti terakhir sebelum Theo sempat meraihnya.
Theo melihat piring yang sudah kosong. “Tadi katanya dibagi.”
Lyara menahan senyum sambil menarik rotinya lebih dekat. “Kamu tadi terlalu sibuk sama video.”
“Itu jatahku.”
“Kamu belum ambil.”
Vio langsung memegang rotinya sendiri. “Jangan lihat punyaku.”
Theo bersandar ke kursi. “Aku cuma lapar.”
Selvara mendorong setengah rotinya ke arah Theo. “Ambil ini.”
Theo menerimanya. “Terima kasih.”
Vio melihat mereka bergantian. “Nah, masalah selesai. Ternyata yang paling gampang hari ini cuma roti.”
Percakapan beralih ke tugas sekolah sampai waktu bus mereka hampir tiba. Lyara harus pulang lebih dulu, lalu Vio menyusul beberapa menit kemudian. Theo dan Selvara keluar terakhir setelah memastikan meja mereka bersih.
Sebelum berpisah di halte, Theo mengirim salinan video Mina kepada Selvara.
“Jangan diputar malam ini,” katanya sambil memasukkan ponsel ke saku.
Selvara menatapnya. “Kamu sekarang yang bilang?”
Theo memasang tasnya lebih tinggi di bahu. “Aku belajar dari Vio.”
“Cepat juga.”
“Dia ngomel terus dari tadi.”
Selvara menahan senyum. “Pantas masuk.”
Bus Theo datang lebih dulu. Setelah ia naik, Selvara pulang tanpa membuka video itu lagi.
Malamnya, ia menyelesaikan tugas sejarah dan membantu ibunya membereskan meja makan. Ponselnya baru kembali dipegang setelah semua selesai.
Ada pesan dari Theo di grup.
Mina masih punya video asli. Besok dia bawa ponselnya.
Lyara membalas bahwa ia akan membawa earphone yang lebih bagus dari ruang musik.
Vio mengirim pesan setelahnya.
Aku cuma bawa diri. Sudah cukup.
Theo membalas.
Sangat membantu.
Vio langsung mengirim satu stiker kesal.
Selvara menaruh ponselnya di meja sambil tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian, pesan pribadi dari Raviel masuk.
Aku baru cek catatan fasilitas kemarin. Ada yang agak aneh.
Selvara membuka pesannya.
Raviel mengirim foto layar komputer yang ia ambil sebelum bagian fasilitas tutup. Catatan itu menunjukkan satu perintah pengumuman pada pukul 15.41, sama seperti yang mereka lihat sebelumnya.
Namun di bawahnya ada satu baris lain yang tadi tidak muncul saat mereka memeriksa bersama petugas.
Tidak ada teks pengumuman di sana.
Hanya waktu.
15.41.23.
Selvara memperbesar foto.
Dua puluh tiga detik setelah perintah pertama.