Chapter 2 - Episode 11
Selvara sedang menyalin tugas dari papan ketika rasa dingin menusuk tiba-tiba muncul di jari tengah kanannya.
Ujung pulpennya langsung berhenti.
Dingin itu datang dari cincin, lalu merambat cepat ke ujung jari. Dalam beberapa detik, rasanya seperti jari yang terlalu lama memegang es. Selvara refleks menarik tangannya dari meja dan menggenggamnya dengan tangan kiri.
Vio yang duduk di sebelahnya langsung sadar. “Kenapa?”
Selvara belum menjawab. Ia menunggu sambil menahan rasa kebas yang mulai muncul.
Satu detik kemudian terdengar suara dari luar kelas.
Sebuah buku jatuh di koridor.
Lalu suara yang sama terdengar lagi.
Kali ini lebih pelan.
Selvara langsung melihat ke arah pintu.
Vio ikut menoleh, tetapi segera kembali memperhatikan tangan Selvara. “Cincinmu lagi?”
Selvara membuka genggamannya. Kulit di sekitar cincin terlihat lebih pucat dari biasanya. “Iya.”
Theo yang duduk di depan mereka mendengar percakapan kecil itu dan menoleh sebentar. Ia tidak ikut bicara karena guru masih menjelaskan di depan kelas.
Selvara menyentuh cincin dengan ujung jari kiri.
Dinginnya berbeda dengan logam biasa. Permukaannya terasa seperti baru dikeluarkan dari tempat yang sangat dingin.
Ia hampir melepasnya.
Namun beberapa detik kemudian rasa beku itu mulai berkurang.
Selvara kembali memegang pulpen.
Di sisi meja dekat tangannya ada bekas embun tipis sebesar ujung jari.
Selvara melihatnya sebentar.
Vio juga melihat.
Keduanya tidak mengatakan apa-apa.
Guru masih menulis di papan, dan kelas tetap berjalan seperti biasa.
Selvara mengusap bekas embun itu dengan ibu jari sampai hilang, lalu melanjutkan catatan.
Begitu bel istirahat berbunyi, Theo langsung memutar kursinya.
“Sekarang boleh cerita.”
Vio sudah lebih dulu mengambil tangan Selvara dan melihat jarinya dari dekat. “Ini tadi pucat banget.”
Selvara menarik tangannya pelan. “Sekarang sudah biasa.”
“Bukan itu.” Vio menunjuk cincin. “Tadi aku lihat mejanya sampai basah.”
Theo mendekatkan kursinya. “Embun?”
“Sedikit.”
Selvara membuka telapak tangannya. “Mungkin karena cincinnya dingin.”
Theo memperhatikan bagian logamnya, tetapi tidak menyentuh. “Dingin sampai bikin embun di meja?”
Vio langsung menatapnya. “Nah, jangan tanya aku. Aku juga lagi mikir itu.”
Selvara memutar cincin sedikit. Suhunya sudah kembali normal. “Yang jelas reaksinya datang sebelum suara kedua.”
Theo mengambil buku kecil dari tasnya.
Vio langsung menunjuk benda itu. “Jangan mulai bikin tabel.”
Theo berhenti sebentar. “Aku cuma mau catat jam.”
“Kalau cuma jam, silakan.”
Theo membuka satu halaman kosong. “Pukul sepuluh lewat tujuh. Suara buku jatuh dua kali.”
Selvara menambahkan, “Dinginnya mulai duluan.”
Theo mencatat satu baris lagi.
Vio melihat dari samping, lalu duduk kembali. “Kemarin cincinmu juga mulai dingin sebelum speaker bunyi kedua.”
“Iya.”
“Sekarang sebelum buku jatuh lagi.”
Selvara mengangguk kecil.
Vio menyandarkan dagunya sebentar di telapak tangan. “Berarti yang dia rasa bukan suara.”
Theo menutup pulpennya. “Belum tentu. Bisa saja ada sesuatu sebelum suara kedua yang kita tidak dengar.”
Vio menatapnya. “Kamu sengaja bikin kalimatnya tambah bikin pusing?”
“Tidak. Aku cuma tidak mau langsung bilang cincinnya bisa tahu masa depan.”
“Ya, jangan juga.”
Selvara mengambil botol minum dari tas. “Kita cari bukunya dulu.”
Theo langsung bangkit. “Itu lebih gampang.”
Mereka keluar kelas saat koridor mulai ramai oleh siswa yang pergi ke kantin. Tidak jauh dari pintu, seorang siswa kelas lain sedang mengumpulkan beberapa buku yang tadi jatuh dari tangannya.
Salah satunya masih tergeletak dekat dinding.
Vio memperlambat langkah. “Yang tadi punya dia.”
Theo tidak langsung menghampiri. Ia memperhatikan siswa itu memasukkan buku terakhir ke tas, lalu pergi bersama temannya.
Selvara melihat lantai tempat buku tadi jatuh.
Tidak ada apa-apa.
Vio ikut melihat sebentar. “Kita memang mau cari apa?”
Selvara berjalan lagi. “Entahlah.”
Theo menahan senyum tipis. “Bagus. Investigasi yang sangat terarah.”
Selvara meliriknya. “Kamu ikut.”
“Aku tidak bilang aku lebih baik.”
Vio berjalan di antara mereka sambil membawa botol minum. “Kalau sudah selesai saling menyalahkan, Ayo ke kantin soalnya aku lapar.”
Mereka akhirnya turun ke kantin.
Lyara sudah duduk di meja dekat jendela bersama Raviel. Ada satu kursi kosong yang langsung diambil Vio, sementara Theo menarik kursi dari meja sebelah.
Begitu makanan mereka datang, Vio baru menceritakan kejadian tadi.
Ia tidak membuka dengan teori. Ia langsung menunjuk tangan Selvara.
“Cincinnya tadi sampai bikin jarinya putih.”
Lyara yang sedang membuka bungkus sendok langsung berhenti. “Sampai segitu?”
Selvara mengambil sendoknya sendiri. “Cuma sebentar.”
“Sebentar tetap saja.” Vio memegang gelas minumnya lalu menirukan cara Selvara menggenggam tangan tadi. “Dia sampai begini.”
Selvara menatapnya. “Aku tidak sedramatis itu.”
“Kurang lebih.”
Theo meletakkan ponselnya di meja setelah melihat waktu. “Ada embun kecil juga di meja.”
Raviel yang sejak tadi mendengar akhirnya ikut bicara. “Kalian yakin bukan air dari botol?”
Vio langsung menggeleng. “Botol Selvara masih di tas waktu itu.”
Selvara mulai makan. “Aku juga sempat pegang bagian mejanya. Dingin.”
Lyara melihat cincin di tangan kanan Selvara. “Sekarang?”
“Sudah biasa lagi.”
Vio mengambil satu potong lauk dari piringnya. “Nah, masalahnya itu. Kalau cuma cincin logam dingin, aku juga tidak akan peduli. Tadi jarinya benar-benar seperti habis pegang es.”
Raviel menatap tangan Selvara beberapa detik, lalu kembali pada makanannya. “Jangan dipaksa dites lagi.”
Theo mengangguk. “Aku juga tidak berniat.”
Vio langsung melihat Theo. “Bagus. Ada perkembangan.”
Theo membuka kotak makannya. “Aku mulai tahu kapan kamu bakal protes.”
“Berarti kamu belajar.”
Pembicaraan berhenti sebentar karena mereka mulai makan.
Beberapa menit kemudian Lyara baru teringat sesuatu. Ia meletakkan sendok dan membuka ponselnya.
“Tadi pagi bagian fasilitas kirim pengumuman ke beberapa klub. Speaker lantai dua masih diperiksa.”
Theo langsung mengangkat kepala. “Masih bermasalah?”
“Bukan rusak lagi.” Lyara mencari pesannya. “Katanya sistemnya sudah normal, tapi mereka belum tahu kenapa muncul pemutaran kedua kemarin.”
Vio menelan makanannya sebelum bicara. “Jadi mereka juga belum nemu sumbernya?”
Lyara menunjukkan layar kepada mereka. “Di sini cuma bilang pemeriksaan lanjutan.”
Selvara membaca sekilas lalu mengembalikan ponselnya. “Berarti untuk sementara speaker belum bisa menjelaskan semuanya.”
Theo mengambil minumnya. “Tapi kejadian tadi bukan speaker.”
“Makanya.”
Vio menaruh sendok. “Nah, ini yang mulai bikin aku tidak suka. Kemarin masih bisa bilang masalah alat. Sekarang buku jatuh juga ikut dua kali.”
Raviel yang lebih tenang sejak tadi menyandarkan punggung ke kursi. “Suara kedua tadi kalian dengar jelas?”
Vio memikirkan sebentar. “Lebih pelan.”
Theo ikut mengingat. “Aku juga dengar. Tapi dari dalam kelas.”
Selvara menatap makanannya beberapa detik sebelum bicara. “Yang pertama nyata. Ada bukunya.”
Lyara langsung menangkap maksudnya. “Yang kedua?”
Selvara tidak menjawab cepat. “Aku tidak lihat ada buku jatuh lagi.”
Vio berhenti mengaduk minumannya.
Theo juga tidak langsung menanggapi.
Raviel memecah diam itu dengan mengambil botolnya. “Berarti jangan disebut suara buku kedua dulu. Kita cuma dengar suara yang mirip.”
Theo mengangguk. “Itu lebih tepat.”
Vio kembali mengambil sendok. “Nah, yang begini aku setuju. Jangan kasih nama sebelum tahu.”
Percakapan kemudian bergeser ke tugas sejarah dan latihan Lyara. Tidak ada yang memaksa kejadian tadi menjadi lebih besar dari yang sudah mereka lihat sendiri.
Setelah istirahat, mereka kembali ke kelas masing-masing.
Sisa pelajaran berjalan biasa sampai jam sekolah selesai.
Tidak ada lagi suara yang berulang.
Cincin Selvara juga tidak bereaksi.
Sore itu Selvara harus mengantar beberapa formulir ke ruang OSIS. Vio ikut karena ingin mengambil map yang ditinggalkan kemarin, sedangkan Theo pergi ke perpustakaan.
Adrian sedang menyusun beberapa dokumen ketika mereka masuk.
Selvara menaruh formulir di meja. “Kak, ini dari Bu Ressa.”
Adrian mengambil tumpukan itu. “Taruh sini saja. Terima kasih.”
Vio menuju rak di samping lemari dan mengambil map birunya. Ia membuka sebentar untuk memastikan catatan lama masih ada, lalu langsung menutupnya lagi.
Adrian sempat melihat. “Masih urusan kertas kemarin?”
Vio memasukkan map ke tas. “Masih, tapi aku sudah tidak mau terlalu dipikirin.”
“Bagus.” Adrian melanjutkan pekerjaannya. “Kalau semua kertas di sini dipikirin, aku sudah pindah sekolah.”
Vio langsung menoleh. “Kak Adrian saja sampai ngomong begitu.”
Adrian tersenyum kecil. “Aku bercanda. Jangan dijadikan alasan.”
Selvara membantu memindahkan satu tumpukan formulir ke sisi meja. Saat tangannya menyentuh bagian logam penjepit map, jari tengah kanannya kembali terasa dingin.
Ia langsung berhenti.
Kali ini dinginnya datang lebih cepat.
Cincin itu seperti menempelkan es langsung ke kulit.
Selvara refleks menarik tangannya dan mencoba melepas cincin.
“Selvara?” Adrian langsung menyadarinya.
Vio sudah mendekat. “Dingin lagi?”
Selvara menarik cincin sampai hampir melewati ruas jari, tetapi rasa beku tiba-tiba berhenti.
Ia membeku di tempat.
Bukan karena cincin.
Dari lorong di luar ruang OSIS terdengar suara pintu ditutup.
Sekali.
Selvara menunggu.
Vio juga diam.
Dua puluh tiga detik terasa jauh lebih lama ketika mereka benar-benar menghitungnya dalam kepala.
Suara pintu yang sama terdengar lagi.
Adrian langsung melihat ke arah koridor.
Vio menutup mulut dengan satu tangan. “Itu lagi.”
Selvara menurunkan tangannya.
Cincin masih setengah terlepas dari jarinya.
Adrian berjalan ke pintu dan membukanya. Koridor di luar kosong sampai ke ujung. Semua pintu ruang kelas di sisi itu sudah tertutup.
Ia keluar beberapa langkah, melihat ke kanan dan kiri, lalu kembali.
“Tidak ada orang.”
Vio berdiri lebih dekat ke Selvara. “Kak, tadi dengar dua kali juga?”
Adrian menutup pintu perlahan. “Dengar.”
Kali ini tidak ada yang perlu menjelaskan kepadanya kenapa mereka bertiga mendadak diam.
Selvara memasang kembali cincinnya dengan hati-hati.
Saat logam itu menyentuh kulit, suhunya sudah normal.
Namun di bagian jari yang tadi tertutup cincin, ada garis putih tipis melingkar di kulitnya.
Seperti bekas terkena dingin terlalu lama.
Vio melihatnya dan langsung menarik tangan Selvara lebih dekat. “Ini jangan dianggap biasa.”
Selvara sendiri tidak membantah.
Untuk pertama kalinya, reaksi cincin meninggalkan bekas yang masih terlihat setelah suara kedua berhenti.
Adrian masih memegang gagang pintu ketika Vio menarik Selvara menjauh dari meja.
“Duduk dulu.” Vio menggeser kursi dengan kakinya. “Jarimu masih putih.”
Selvara menurut dan duduk. Bekas pucat di sekitar jari tengah kanannya belum hilang. Saat disentuh, kulitnya terasa kebas seperti habis menempel terlalu lama pada es.
Adrian menutup pintu lalu kembali ke meja. “Cincinnya bisa dilepas?”
“Bisa.”
Selvara mencoba menariknya lagi. Kali ini cincin bergerak lebih mudah, tetapi saat melewati ruas jari, rasa dingin menusuk tiba-tiba muncul lagi.
“Aduh.”
Ia refleks melepasnya lebih cepat.
Cincin itu jatuh ke meja dengan bunyi kecil.
Vio langsung mengambil tisu dari kotak di samping komputer. “Jangan dipegang dulu.”
Adrian melihat cincin yang tergeletak di meja. “Tadi sedingin itu?”
Selvara mengusap jarinya. “Kayak pegang es terlalu lama.”
“Dan ini sudah beberapa kali,” tambah Vio. “Cuma sekarang paling parah.”
Adrian tidak langsung bertanya lagi. Ia mengambil gelas kosong di meja, lalu menaruh cincin itu di atas tatakan agar tidak tersenggol.
“Biarkan di situ dulu.”
Selvara mengangguk.
Jari yang tadi kebas mulai terasa kembali. Rasa dingin masih tersisa di bagian yang tertutup cincin, tapi tidak lagi menyakitkan.
Vio duduk di kursi sebelahnya sambil memperhatikan tangan Selvara. “Kalau tadi kamu paksa terus, bisa-bisa jarimu benar-benar beku.”
Selvara menatapnya. “Belum sampai begitu.”
“Belum itu bukan berarti harus dicoba.”
Adrian yang sedang mengambil ponselnya menahan senyum tipis. “Kali ini aku setuju sama Vio.”
Vio langsung menoleh. “Nah. Dengar, kan?”
Selvara membuang pandangan ke meja. “Iya.”
Adrian membuka aplikasi kamera sekolah. “Aku mau lihat lorong tadi.”
Vio langsung berdiri lagi. “Ada kamera di depan sini?”
“Di ujung koridor.”
Adrian memutar layar ponsel agar mereka bisa melihat. Ia mencari rekaman beberapa menit sebelumnya, lalu menggeser sampai waktu saat suara pintu pertama terdengar.
Koridor terlihat kosong.
Tidak ada siswa yang lewat.
Adrian memperlambat rekaman.
Suara tidak ikut tersimpan karena kamera koridor hanya merekam gambar, jadi mereka hanya melihat deretan pintu yang tertutup.
Vio mendekat sedikit ke layar. “Kalau ada orang masuk ruangan, harusnya kelihatan dari sini.”
“Harusnya.”
Adrian menggeser video maju.
Dua puluh tiga detik berlalu.
Salah satu pintu di ujung koridor bergerak.
Tidak terbuka penuh. Gagangnya turun sedikit, pintunya bergeser beberapa sentimeter, lalu kembali menutup.
Vio langsung menunjuk layar. “Itu.”
Adrian memutar ulang bagian tersebut.
Gerakannya sama.
Selvara berdiri dari kursi. “Ruangan apa itu?”
“Ruang rapat lama.”