Chapter 2 - Episode 12
Vio baru bicara setelah mereka sampai di tangga.
“Besok kita jangan lewat sana bertiga lagi.”
Lyara yang berjalan satu anak tangga di depan menoleh. “Kita memang cuma lewat.”
“Itu awalnya.” Vio merapatkan tali tas ke bahu sambil melirik Selvara. “Cincin Selvara dingin, kita berhenti di depan pintu, lalu biasanya ada yang mulai bilang mau cek sedikit.”
Selvara ikut turun tanpa mempercepat langkah. “Aku tadi tidak bilang mau buka.”
“Karena aku keburu bilang jangan.”
Selvara sempat menatapnya, tetapi memilih tidak membantah. Vio sudah mengenalnya terlalu lama, dan pembelaan seperti itu hanya akan membuat percakapan mereka semakin panjang.
Lyara tertawa kecil sebelum melanjutkan langkah. “Besok kita tanya orang yang punya akses saja. Kalau ruangan itu memang berhubungan dengan jalur listrik lama, bagian fasilitas pasti tahu.”
“Kalau ternyata isinya cuma sapu sama ember, aku malah senang.” Vio terlihat jauh lebih puas dengan kemungkinan itu. “Aku mendukung gudang sapu.”
Mereka keluar dari gedung sisi timur beberapa menit kemudian. Udara sore terasa hangat, sangat berbeda dengan dingin yang tadi menembus tas Selvara. Begitu jarak mereka cukup jauh dari bangunan, saku kecil tempat cincin disimpan kembali terasa biasa. Selvara sempat menekannya dari luar, memastikan rasa dingin itu memang sudah hilang.
Lyara menangkap gerakannya. “Sudah normal?”
“Sudah.”
Vio langsung menambahkan, “Tetap jangan dipakai.”
Selvara tersenyum tipis. “Iya.”
“Bagus. Aku mulai suka jawaban itu.”
Mereka berpisah di dekat gerbang setelah Lyara mengingatkan bahwa latihan musiknya besok sore akan selesai lebih awal. Vio masih sempat meminta Selvara mengirim pesan kalau cincin itu kembali membeku di rumah, kemudian buru-buru pergi saat busnya berhenti di halte. Selvara hanya mengangkat tangan sebagai jawaban sebelum berjalan menuju jalurnya sendiri.
Pagi berikutnya, sekolah sudah ramai bahkan sebelum pelajaran dimulai. Beberapa kelas sedang mempersiapkan kegiatan akhir pekan. Kotak-kotak karton menumpuk dekat ruang guru, dua anggota klub seni membawa papan besar melewati koridor, sementara seorang siswa hampir menjatuhkan gulungan kain tepat di depan Theo ketika ia baru sampai.
Theo berhasil menangkapnya dengan satu tangan sebelum kain itu menyentuh lantai.
Siswa yang membawanya langsung mengambil kembali gulungan tersebut. “Terima kasih.”
“Sama-sama.” Theo bergeser dari tengah jalan. “Tapi kalau yang berikutnya papan kayu, aku pura-pura tidak lihat.”
Vio yang baru datang bersama Selvara langsung tertawa. “Baru pagi sudah menyerah.”
“Aku tahu batas kemampuan.”
Selvara melewati mereka dan masuk ke kelas. Cincin masih tersimpan di dalam tas, dibungkus kain seperti kemarin. Sejak meninggalkan rumah, tidak ada rasa dingin ataupun perubahan lain yang muncul dari sana.
Theo menyusul masuk dan menaruh tas di samping mejanya. “Lyara sudah cerita soal ruang di sisi timur.”
Vio menarik kursinya. “Aku sudah bilang kita tanya orang dulu.”
“Aku juga tidak bilang mau mendobrak pintunya.”
Selvara membuka buku pelajaran sambil menoleh sekilas ke arah mereka. “Raviel nanti ke perpustakaan sebelum istirahat. Kita bisa tanya dia soal denah lama.”
Theo mengeluarkan pulpen. “Itu lebih masuk akal.”
Vio yang baru hendak membuka tempat pensil berhenti. “Sebentar. Kenapa Raviel punya denah?”
“Belum tentu punya,” jawab Selvara. “Makanya kita tanya.”
Vio memandang Theo seolah mencari dukungan.
Theo membuka kotak susunya. “Jangan lihat aku. Kali ini aku setuju sama Selvara.”
“Bagus.” Vio kembali membuka tempat pensil. “Berarti kalau nanti ujung-ujungnya kita masuk gudang tua, aku salahkan kalian berdua.”
Selvara mengangkat pandangan dari bukunya. “Belum ada yang bilang mau masuk.”
“Makanya aku bilang nanti.”
Theo memasukkan sedotan ke kotak susunya. “Kamu sudah menyiapkan protes sebelum masalahnya ada.”
“Biar efisien.”
Selvara menahan senyum kecil, kemudian kembali melihat buku ketika guru mulai masuk ke kelas.
Pelajaran pertama berjalan biasa. Pengumuman pagi dari speaker sekolah juga hanya berbunyi sekali. Selvara sempat memperhatikan waktu setelah suara itu berhenti, tetapi dua puluh tiga detik berlalu tanpa pengulangan apa pun.
Tasnya tetap berada di samping kursi.
Cincin di dalamnya tidak bereaksi.
Saat jam pertama selesai, perhatian Selvara sempat tertuju pada saku kecil di sisi dalam tas. Beberapa hari lalu ia mungkin akan langsung mengambil cincin itu hanya untuk memastikan suhunya benar-benar normal. Sekarang ia memilih membiarkannya.
Vio yang sedang membereskan buku melihat arah pandangannya. “Jangan.”
Selvara menoleh. “Aku belum melakukan apa-apa.”
“Aku tahu wajah orang yang mau ‘cuma memastikan’.”
Theo yang mendengar dari depan langsung ikut bicara. “Sepertinya kalimat itu mulai punya reputasi buruk di kelompok kita.”
Selvara menutup bukunya. “Kalian berdua berlebihan.”
Vio tersenyum puas. “Selama cincinnya tetap di tas, silakan bilang begitu.”
Menjelang istirahat, Adrian mengirim pesan bahwa bagian fasilitas sudah selesai memeriksa jalur listrik yang bermasalah kemarin. Kalau mereka masih ingin mengetahui hasilnya, mereka boleh datang saat jam istirahat.
Theo membaca pesan itu dari ponsel Selvara. “Mau sekarang?”
Vio sudah berdiri sambil mengambil botol minum. “Sekarang saja. Setelah itu aku mau makan.”
Selvara memasukkan ponsel ke saku. “Lyara?”
“Nanti ketemu di sana. Dia sudah bilang ke aku.”
Mereka berjalan menuju ruang fasilitas setelah bel istirahat berbunyi. Adrian dan Lyara sudah menunggu di depan bersama salah satu petugas yang kemarin memeriksa panel listrik. Di tangannya ada map tipis dan salinan diagram yang beberapa bagiannya sudah memudar.
Setelah mereka masuk, petugas itu langsung membuka map di atas meja. “Jalur yang kemarin sempat aktif memang jalur lama. Dulu dipakai sebelum renovasi lantai dua.”
Theo berdiri dekat meja, tetapi tidak langsung membuka catatan seperti biasanya. “Masih tersambung?”
“Sebagian kabelnya masih ada di dalam dinding. Dari panel utama seharusnya sudah diputus.”
Vio mengernyit. “Kalau sudah diputus, kenapa kemarin masih bisa masuk beban?”
Petugas itu mengangkat bahu kecil. “Itu yang belum ketemu.”
Adrian menunjuk salah satu garis pada diagram. “Tadi sudah dites lagi?”
“Sudah dua kali. Tidak muncul apa-apa.”
Vio tampak sedikit lebih lega. “Berarti mungkin kemarin memang gangguan sesaat.”
“Bisa saja.” Petugas tersebut melipat sebagian diagram agar lebih mudah dibaca. “Kami tetap kasih catatan. Nanti kalau ada perawatan besar, jalur lama itu sekalian dibongkar.”
Theo baru mengajukan pertanyaan berikutnya. “Dulu jalurnya menuju mana?”
Petugas membuka kembali bagian diagram yang tadi terlipat. Jarinya mengikuti satu garis pudar menuju sisi kanan gambar.
“Lantai dua sisi timur. Dulu ada ruang utilitas kecil di belakang gudang lama.”
Selvara langsung memperhatikan arah garis tersebut.
“Ruangnya masih ada?” tanyanya.
“Masih, tapi sekarang kosong. Sebagian aksesnya juga sudah ditutup setelah renovasi.” Petugas itu menutup map. “Tidak ada yang menarik di sana.”
Adrian langsung melihat mereka satu per satu. “Jadi jangan ada yang tiba-tiba punya ide masuk sendiri.”
Vio mengangkat kedua tangan. “Saya bahkan belum kepikiran.”
Theo menatapnya. “Belum?”
Vio langsung menoleh. “Jangan dibantu.”
Lyara menahan senyum sambil merapikan tali tasnya. “Kita juga belum punya alasan untuk masuk.”
Selvara mengangguk. “Hasil pemeriksaannya sudah cukup untuk sekarang.”
Mereka meninggalkan ruang fasilitas beberapa menit kemudian. Vio benar-benar membawa mereka langsung menuju kantin sebelum Theo ataupun Selvara sempat membahas diagram tadi lebih jauh.
“Aku sudah dari pagi mikirin ayam yang kemarin habis,” katanya sambil mempercepat langkah.
Theo berjalan di sampingnya. “Kamu datang ke sekolah dengan target yang sangat jelas.”
“Setidaknya targetku bisa dimakan.”
Selvara mengikuti mereka dari belakang bersama Lyara. Ia sempat menoleh ke arah koridor sisi timur sebelum mereka berbelok menuju tangga.
Cincin di dalam tas masih diam.
Namun sekarang mereka tahu bahwa jalur listrik lama memang menuju sisi yang sama dengan ruang penyimpanan yang kemarin membuat cincin itu bereaksi.
Untuk sementara, Selvara memilih menyimpan hubungan itu sebagai pertanyaan.
Raviel datang ke kantin beberapa menit setelah mereka duduk. Ia membawa satu map arsip tipis yang dipinjam dari perpustakaan sekolah dan langsung menaruhnya di tengah meja, tepat di samping ponsel Theo.
“Aku nemu daftar renovasi lantai dua.”
Theo menggeser ponselnya agar ada ruang. Selvara membuka map tersebut setelah Raviel mempersilakan. Isinya bukan denah lengkap, melainkan daftar ruang yang pernah mengalami perubahan fungsi. Sebagian besar hanya mencatat pergantian furnitur, pemindahan lemari, atau perubahan ruangan setelah renovasi.
Selvara menemukan bagian sisi timur di halaman kedua.
Ruang utilitas lama tercatat sebagai bagian yang dikosongkan ketika jaringan listrik lantai dua diperbarui. Jalurnya dipindahkan ke panel baru, sedangkan ruang di belakang gudang tidak lagi digunakan setelah pekerjaan selesai.
Vio membaca dari samping. “Berarti ruangan yang kemarin memang bekas utilitas.”
“Sejauh ini iya,” jawab Raviel. “Dan itu cocok sama penjelasan petugas fasilitas.”
Theo mengambil foto halaman tersebut. “Ada tanggal renovasinya?”
Selvara menggeser kertas sedikit agar bagian bawah terlihat. Renovasi utama tercatat selesai beberapa tahun setelah gedung sisi timur dibuka kembali untuk penggunaan penuh. Tidak ada nama proyek ataupun keterangan lain yang langsung berkaitan dengan kejadian mereka.
Lyara memperhatikan halaman yang sama sebelum berkata, “Kalau ruangnya memang sudah lama kosong, kita nggak perlu masuk hanya karena cincin bereaksi di sana.”
Vio langsung menyandarkan punggung ke kursi. “Nah, ini yang aku tunggu. Satu keputusan yang nggak berakhir dengan buka pintu tua.”
Theo tidak menanggapi leluconnya. Ia masih membaca bagian akhir dokumen dan berhenti pada satu catatan pendek di bawah daftar pekerjaan.
“Ada yang belum cocok.”
Selvara mengikuti arah jarinya.