CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #35

Frost

Chapter 2 - Episode 13

Selvara berhenti memakai cincin itu selama tiga hari berikutnya.

Ia tetap membawanya ke sekolah dalam kantong kain terpisah, tetapi tidak lagi memeriksa suhunya setiap beberapa jam.

Theo membuat satu catatan sederhana untuk waktu dan kondisi ketika reaksi muncul, sedangkan Vio memastikan catatan itu tidak berubah menjadi alasan untuk sengaja menguji cincin.

Setelah gangguan speaker tidak terulang dan bagian fasilitas menutup pemeriksaan E-2B, kegiatan mereka kembali pada sekolah, klub, serta pekerjaan masing-masing.

Pada hari ketiga, Selvara membantu Adrian memeriksa daftar kelas yang akan menggunakan aula pada akhir pekan. Vio duduk di meja seberang sambil mencocokkan formulir dengan jadwal ruangan, sementara dua anggota OSIS lain menyelesaikan bagian dekorasi di sisi ruangan. Pekerjaan itu seharusnya selesai sebelum sore, sehingga mereka membagi tumpukan berdasarkan kelas agar tidak ada formulir yang diperiksa dua kali.

Adrian menyerahkan satu lembar kepada Selvara. “Yang ini jadwalnya bentrok sama klub fotografi. Pindahkan ke sesi kedua saja.”

Selvara mencocokkannya dengan daftar aula, kemudian menandai perubahan waktunya. “Kalau sesi kedua, mereka masih punya satu jam sebelum kegiatan utama.”

“Cukup. Nanti aku konfirmasi ke ketua kelasnya.”

Vio menyelesaikan tumpukannya lebih dulu dan langsung menggeser beberapa formulir ke tengah. “Punyaku selesai. Yang ini tiga belum ada tanda tangan pembina.”

Adrian mengambilnya. “Taruh di sini. Besok aku balikin.”

Pekerjaan mereka selesai lebih cepat dari perkiraan. Selvara baru menutup map ketika ponselnya bergetar oleh pesan Theo yang mengatakan latihan basket Rikuya selesai lebih awal. Mereka berencana bertemu di Avenoirs sebelum pulang karena Lyara juga sudah selesai dari ruang musik.

Vio membaca pesan yang diperlihatkan Selvara. “Aku ikut.”

Adrian memasukkan formulir terakhir ke lemari. “Kalian pulang lewat Avenoirs?”

“Iya, Kak.”

“Kalau begitu jangan terlalu malam. Besok masih ada persiapan aula.”

Vio sudah memasang tas di bahu. “Kami cuma mampir sebentar.”

Mereka meninggalkan ruang OSIS ketika kegiatan di lantai dua mulai berkurang. Beberapa kelas masih terbuka karena persiapan akhir pekan, tetapi jalur menuju tangga sudah tidak seramai siang tadi. Selvara dan Vio turun melalui gedung utama tanpa melewati sisi timur.

Theo dan Rikuya sudah menunggu di depan Avenoirs ketika mereka sampai. Lyara datang beberapa menit kemudian, masih membawa tas musik karena tidak sempat menyimpannya di rumah. Mereka mengambil meja yang cukup besar di dekat sisi dalam toko, tempat yang tidak menghalangi pelanggan lain dan cukup jauh dari pintu.

Rikuya langsung melihat tumpukan kertas kecil yang dibawa Selvara. “Masih ada kerjaan dari OSIS?”

“Sudah selesai. Ini hanya salinan jadwal.”

Vio duduk di samping Lyara. “Dia tadi hampir dapat tambahan kerja karena ada jadwal bentrok.”

Selvara meletakkan kertas ke dalam tas. “Nggak hampir. Memang ada jadwal bentrok.”

“Itu maksudku.”

Theo mengambil kursi di seberang mereka. “Jadi akhir pekan tetap datang?”

Selvara mengangguk. “Sore.”

Rikuya menyandarkan tas basket ke kaki meja. “Aku pagi. Klub diminta bantu pindahin beberapa meja.”

Lyara yang baru membuka jadwal di ponselnya ikut menambahkan bahwa ruang musik digunakan sampai siang. Pembicaraan itu tidak berlangsung lama, tetapi cukup untuk memastikan mereka semua berada di sekolah pada hari yang sama meskipun punya tugas berbeda.

Vio menatap jadwal mereka sebentar. “Kalau selesai hampir barengan, pulang bareng saja.”

“Boleh,” jawab Lyara. “Aku paling terakhir sekitar jam tiga.”

Theo memasukkan jadwal itu ke pengingat ponselnya. “Aku juga masih di sekolah sampai sore.”

Selvara memperhatikan mereka sambil membuka tas untuk menyimpan salinan jadwal lebih dalam. Tiga hari terakhir terasa lebih tenang dibanding minggu sebelumnya. Tidak ada suara yang terulang, catatan waktu yang berubah, ataupun pintu yang bergerak tanpa penjelasan.

Tangannya menyentuh kantong kain tempat cincin disimpan.

Dingin.

Selvara berhenti.

Rasanya belum sampai menusuk seperti ketika berada di E-2B, tetapi perubahan suhu itu jelas terasa melalui kain. Ia menarik tangannya dan membiarkan tas tetap terbuka.

Vio langsung menyadari gerakannya. “Cincinnya?”

“Iya.”

Percakapan di meja berhenti dengan sendirinya.

Theo tidak mengambil catatan. “Baru sekarang?”

Selvara mengangguk. “Dari sekolah tadi nggak ada reaksi.”

Lyara melihat sekitar toko, kemudian kembali pada Selvara. “Sekarang dinginnya bagaimana?”

“Masih sedikit. Belum sampai kebas.”

Vio menggeser tas Selvara sedikit menjauh dari tepi meja. “Simpan saja. Jangan dikeluarin kalau belum perlu.”

Selvara menutup tas kembali. Mereka sudah sepakat tidak melakukan pengujian sendiri, sehingga tidak ada alasan membuka kantong hanya untuk memastikan sesuatu yang sudah bisa dirasakan.

Rikuya memandang jendela Avenoirs. “Ada sesuatu yang terjadi sebelum dinginnya muncul?”

“Nggak ada yang aku sadar.”

Theo tidak memaksa mencari hubungan. “Catat waktunya nanti. Kalau nggak ada kejadian lain, cukup itu dulu.”

Selvara menerima keputusan tersebut dan pembicaraan perlahan beralih kembali pada jadwal sekolah. Cincin tetap dingin selama beberapa menit, kemudian suhunya turun sendiri sebelum pesanan mereka selesai.

Selvara sempat mengira kejadian itu akan berakhir seperti reaksi di rumah.

Namun ketika mereka bersiap pulang, Lyara berhenti di dekat kaca panjang yang memisahkan area duduk dengan bagian depan toko.

“Selvara.”

Nada suaranya membuat Selvara mendekat.

Lyara menunjuk kaca, bukan keluar jendela. “Tadi kamu berdiri di belakangku, kan?”

Selvara melihat pantulan mereka.

Lyara berdiri paling dekat dengan kaca. Selvara berada sedikit di belakang bahu kirinya, sementara Vio dan Theo sedang membereskan barang di meja. Rikuya sudah berdiri dekat pintu.

“Sekarang iya.”

Lyara tetap menatap pantulan itu. “Tadi waktu aku berdiri, aku lihat kamu lewat di belakang.”

Selvara tidak langsung memahami maksudnya. “Aku dari tadi di meja.”

“Aku tahu.”

Lyara menunjuk bagian kaca di sebelah pantulan Selvara. “Makanya aku panggil.”

Vio yang sudah memasang tas ikut mendekat. “Kamu lihat apa?”

Lyara tidak menjawab dengan dugaan. “Pantulan orang. Rambutnya mirip Selvara. Lewat dari kanan ke kiri.”

Theo memperhatikan area di belakang mereka. Tidak ada jalur lain selain meja yang baru mereka tinggalkan dan dinding menuju bagian dalam Avenoirs.

“Orangnya bisa dari luar?” tanyanya.

Lyara menggeleng. “Pantulannya berada di sisi ini.”

Selvara berdiri di posisi yang tadi ditempati Lyara dan melihat kaca dari sudut yang sama. Pantulannya sekarang bergerak bersama setiap perubahan posisi tubuhnya. Tidak ada sesuatu yang tertinggal ataupun bergerak terlambat.

Vio berdiri sedikit lebih dekat. “Mungkin pelanggan yang lewat?”

“Bisa.” Lyara tidak berusaha mempertahankan penglihatannya sebagai sesuatu yang pasti. “Aku cuma sempat lihat sekali.”

Selvara hendak meninggalkan kaca ketika rasa dingin kembali muncul dari dalam tas.

Lebih kuat.

Ia langsung memegang sisi tas, sementara cincin yang terbungkus kain membuat dinginnya menembus sampai ke telapak tangan.

Theo melihat reaksinya. “Sekarang?”

Selvara mengangguk.

Mereka tetap berada di tempat tanpa mencoba apa pun.

Beberapa detik kemudian pantulan Selvara pada kaca bergerak.

Selvara sendiri tidak bergerak.

Pantulan itu menoleh ke arah kiri.

Gerakannya hanya berlangsung sesaat sebelum kembali mengikuti posisi Selvara seperti biasa.

Vio yang berdiri di sampingnya membeku.

Theo langsung berpindah sedikit agar bisa melihat kaca dari sudut yang sama. “Kalian lihat?”

“Kali ini aku lihat,” jawab Vio.

Lyara tidak melepaskan pandangan dari kaca. “Sama seperti tadi.”

Rikuya yang berada paling jauh mendekati mereka, tetapi pantulannya sudah kembali normal sebelum ia sampai.

Selvara menurunkan tangan dari tas.

Dingin cincin masih terasa.

Ia tidak mengatakan bahwa itu Mist, Echo, ataupun sesuatu yang lain. Mereka belum mempunyai bukti untuk menentukan apa yang baru saja terjadi.

Namun kali ini ada tiga orang yang melihat pantulan bergerak berbeda dari pemiliknya.

Dan gangguan itu muncul tepat ketika cincin kembali bereaksi.

Selvara mengambil ponsel dari tas. “Catat waktunya.”

Theo membuka catatan yang selama tiga hari hampir tidak terisi. “Jam berapa?”

Selvara melihat layar ponselnya, kemudian menyebut waktunya.

Vio tetap memperhatikan kaca selama beberapa detik sebelum akhirnya berbalik. “Kita pulang bareng.”

Tidak ada yang menolak.

Mereka meninggalkan Avenoirs bersama, sedangkan cincin Selvara perlahan kembali pada suhu biasa di sepanjang perjalanan menuju halte.

Keesokan sore, mereka kembali ke Avenoirs untuk memastikan satu hal yang belum bisa dijawab dari ingatan mereka sendiri. Meganne sedang merapikan catatan pesanan di belakang meja ketika Selvara mendekat dan menjelaskan bahwa kemarin mereka melihat sesuatu yang janggal pada kaca dekat tempat duduk. Selvara tidak menyebut Mist ataupun dugaan lain karena yang mereka butuhkan saat ini hanya rekaman kamera.

Meganne meletakkan pulpennya dan melihat ke arah kaca tersebut. “Kamera dekat kasir memang mengarah ke sana. Kalau kalian masih ingat waktunya, nanti kita cari.”

Theo sudah menyimpan catatan waktunya sejak kejadian kemarin. “Sekitar jam lima lewat dua belas, Bu. Kami cuma perlu lihat beberapa menit sebelum dan sesudahnya.”

“Boleh. Saya selesaikan catatan ini dulu, setelah itu kita cek.”

Mereka menunggu di meja yang sama seperti kemarin. Vio duduk di sebelah Selvara, sedangkan Lyara memilih kursi yang menghadap kaca supaya posisi mereka nanti mudah dibandingkan dengan rekaman. Rikuya belum datang karena latihan basketnya selesai sedikit lebih lambat.

Selvara meletakkan tas di samping kursi. Cincin itu masih tersimpan di dalam kantong kain dan sejak pagi belum menunjukkan perubahan suhu. Vio sempat memperhatikan tasnya, kemudian bertanya, “Dari tadi cincinnya masih biasa saja?”

“Iya. Belum terasa dingin lagi.”

“Bagus. Bagaimanapun, aku masih berharap kemarin kita cuma salah lihat.”

Selvara memahami maksudnya. “Aku juga lebih suka kalau ternyata ada penjelasan biasa.”

Theo yang sedang mencocokkan waktu di ponselnya ikut masuk ke percakapan. “Kalau rekamannya nggak menunjukkan apa-apa, kita juga belum bisa langsung bilang kalian salah lihat. Bisa saja sudut kameranya memang nggak menangkap hal yang sama.”

Vio memandang Theo. “Jadinya malah nambah kemungkinan, kan.”

Theo menyimpan ponselnya. “Daripada kita buru-buru milih satu jawaban.”

Lyara yang sejak tadi memperhatikan pantulannya sendiri di kaca akhirnya duduk lebih dekat ke meja. “Yang kemarin aku lihat cukup jelas, cuma sebentar. Kalau Vio nggak lihat juga setelahnya, mungkin aku sendiri masih bakal ragu.”

Selvara menangkap cara Lyara merapikan ujung lengan seragamnya beberapa kali. Ia tidak meminta Lyara mengulang cerita yang sama. Mereka sudah tahu bagian mana yang dilihat masing-masing dan tidak ada gunanya memutar percakapan itu lagi.

Beberapa saat kemudian, Meganne memanggil mereka ke bagian samping kasir. Monitor kamera dipasang agak tinggi dan hanya menampilkan sudut umum ruangan, tetapi kaca tempat mereka berdiri kemarin masih masuk ke dalam gambar bersama beberapa meja di sekitarnya.

Theo menyebutkan waktu yang sudah dicatat, lalu Meganne menggeser rekaman mendekati bagian tersebut.

“Yang ini kalian, kan?”

Vio langsung mengenali tasnya di kursi. “Iya, Bu. Lyara yang bawa tas musik.”

Meganne memperlambat rekaman.

Di layar, Lyara berdiri lebih dulu dan mendekati kaca. Selvara masih berada di meja, sementara Theo serta Vio sedang membereskan barang masing-masing.

Mereka menunggu bagian yang sama.

Lyara menunjuk layar ketika dirinya dalam rekaman tiba-tiba memanggil Selvara. “Di situ. Aku lihat pantulannya lewat sebelum Selvara berdiri.”

Meganne memutar mundur beberapa detik, kemudian menjalankannya kembali dengan kecepatan lebih rendah.

Kaca terlihat cukup jelas.

Pantulan Lyara ada di sana, begitu juga beberapa meja di belakangnya. Tidak terlihat sosok lain melintas pada bagian yang tadi disebutkan Lyara.

Vio mendekat sedikit ke monitor. “Berarti yang pertama memang nggak kelihatan di rekaman.”

Theo masih memperhatikan layar. “Lanjut dulu sampai bagian Selvara.”

Lihat selengkapnya