Chapter 2 - Episode 14
Pada Senin pagi, Selvara tidak menemukan perubahan apa pun pada cincin yang masih tersimpan di dalam tas. Ia menjalani dua pelajaran pertama seperti biasa, membantu Vio mengumpulkan lembar tugas sebelum istirahat, lalu menemui Theo di koridor ketika kelas mereka selesai lebih cepat beberapa menit.
Theo sudah memperbarui catatan kejadian dari aula. Kali ini ia tidak hanya menulis waktu dan lokasi, tetapi juga kondisi ruangan, siapa saja yang melihat pantulan, serta kapan dingin pada cincin mulai muncul.
Vio membaca catatan itu dari samping. “Kalau ada yang kejadian lagi, jangan sampai tabelnya malah lebih panjang daripada tugas sekolah kita.”
Theo menutup bukunya. “Kalau nggak ada kejadian lagi, aku juga senang berhenti nulis.”
“Nah, itu baru kedengarannya sehat.”
Selvara tersenyum kecil sambil menyandarkan tasnya ke kaki kursi. “Yang penting jangan ada yang sengaja nyoba.”
Vio langsung mengangkat tangannya. “Aku bahkan nggak tertarik.”
Theo tidak menyanggah. Mereka memang sudah sepakat untuk berhenti mencari kemunculan berikutnya. Catatan hanya akan diisi ketika sesuatu benar-benar terjadi.
Setelah istirahat, hari sekolah berjalan biasa. Pantulan di jendela kelas mengikuti orang yang berjalan di depannya, kaca lemari tidak menunjukkan apa pun selain isi ruangan, dan cincin Selvara tetap berada pada suhu normal.
Baru menjelang sore, ketika kegiatan sekolah mulai berkurang, Selvara melihat sesuatu yang berbeda.
Ia sedang berjalan bersama Lyara menuju ruang klub ketika udara di ujung koridor tampak sedikit keruh.
Selvara awalnya mengira debu dari jendela terbuka terkena cahaya matahari. Namun kabut tipis itu tidak bergerak mengikuti angin. Warnanya pucat, hampir transparan, dan perlahan menyebar dari sisi dinding dekat tangga.
Lyara ikut memperlambat langkah. “Kamu lihat yang di depan?”
“Iya.”
Mereka berhenti beberapa meter sebelum kabut itu.
Tidak ada bau asap, dan alarm sekolah juga tidak berbunyi. Beberapa siswa yang baru keluar dari kelas berjalan melewati bagian tersebut tanpa bereaksi seolah tidak melihat apa pun.
Lyara memperhatikan seorang siswa yang menembus kabut tipis itu begitu saja. “Mereka nggak sadar?”
Selvara belum sempat menjawab ketika dingin dari dalam tas mulai terasa.
Ia langsung memegang talinya.
Kali ini urutannya berbeda dari kejadian sebelumnya.
Kabut sudah terlihat lebih dulu.
Baru setelah itu cincin bereaksi.
Lyara menangkap perubahan pada wajah Selvara. “Cincinnya ikut dingin?”
“Baru sekarang.”
Kabut terus merambat perlahan sepanjang lantai dan dinding, tidak tebal seperti asap, tetapi cukup untuk membuat bagian koridor di belakangnya terlihat sedikit pudar. Cahaya sore yang masuk dari jendela juga berubah kusam ketika melewati lapisan tersebut.
Selvara tidak mendekat.
“Panggil Theo sama Vio,” katanya.
Lyara langsung mengambil ponsel. “Aku bilang kita di koridor klub.”
Selvara tetap memperhatikan area di depan. Semakin lama ia melihatnya, semakin jelas bahwa kabut tersebut tidak menyebar secara acak. Bagian paling tebal berkumpul di sekitar kaca panjang yang terpasang dekat belokan menuju tangga.
Dingin dari tas bertambah sedikit.
Beberapa menit kemudian Theo datang lebih dulu, disusul Vio dari arah kelas. Vio baru hendak bertanya ketika ia melihat kabut di ujung koridor dan langsung berhenti.
“Yang itu baru muncul?”
“Beberapa menit lalu,” jawab Lyara. “Kabutnya muncul duluan. Setelah itu cincin Selvara baru dingin.”
Theo tidak langsung mendekati area tersebut. Ia berdiri di samping Selvara dan memperhatikan bagaimana dua siswa lain melewati koridor tanpa menunjukkan reaksi.
“Kalau mereka nggak lihat, jangan kita tarik perhatian.”
Vio merendahkan suaranya. “Aku bisa lihat jelas. Itu kayak kabut, tapi cuma di bagian sana.”
Selvara mengangguk. “Paling tebal dekat kacanya.”
Theo melihat kaca panjang di ujung koridor. Permukaannya masih menangkap pantulan beberapa jendela, namun bagian yang tertutup kabut mulai terlihat buram.
Mereka tetap di tempat selama beberapa saat.
Kabut itu perlahan bertambah.
Bukan dengan ledakan ataupun perubahan mendadak. Lapisan tipis baru muncul dari dekat lantai, naik mengikuti dinding, kemudian berkumpul di depan kaca. Suara dari kelas terdekat juga mulai terdengar lebih jauh, seakan koridor tersebut menyerap sebagian bunyinya.
Vio berbicara lebih pelan tanpa sadar. “Kalian denger nggak? Suaranya jadi agak redup.”
Theo mendengarkan beberapa detik. “Iya. Tapi masih ada.”
Selvara merasakan dingin pada cincin meningkat bersamaan dengan kabut yang semakin padat. Belum sampai membuat tangannya kebas, tetapi cukup kuat untuk terasa dari luar tas.
Lalu sesuatu muncul di kaca.
Awalnya hanya bentuk gelap di antara pantulan jendela dan dinding.
Kabut bergerak melewati permukaannya, kemudian sosok itu mulai terlihat lebih utuh.
Tinggi badannya hampir sama dengan Selvara.
Rambutnya juga menyerupai miliknya.
Namun kali ini mereka tidak melihat pantulan tersebut muncul begitu saja.
Kabut berkumpul lebih dulu di sekitar kaca, meredupkan pantulan asli, lalu bentuk lain perlahan terbentuk dari bagian yang tertutup Mist.
Vio tidak mendekat. “Sekarang aku ngerti kenapa sebelumnya kita cuma sadar waktu sosoknya sudah ada.”
Lyara tetap berada di sebelah Selvara. “Mungkin kabutnya sudah muncul, tapi terlalu tipis buat kita perhatikan.”
Theo tidak langsung mengiyakan. “Bisa. Tapi yang sekarang lebih jelas karena kita memang lagi memperhatikan dari awal.”
Selvara memegang tasnya lebih erat ketika sosok itu mulai mengangkat kepala.
Pantulan Selvara yang sebenarnya masih terlihat samar di bagian lain kaca.
Sosok yang baru terbentuk berdiri terpisah darinya.
Mist terus bergerak di sekeliling kaca, membuat batas antara pantulan koridor dan sosok tersebut semakin sulit dibedakan.
Kemudian sosok itu melangkah satu kali.
Bukan mengikuti Selvara.
Ia bergerak sendiri di dalam pantulan.
Vio mundur satu langkah dan langsung meraih lengan Lyara agar tetap dekat. “Jangan maju.”
“Nggak ada yang mau maju,” jawab Lyara, tetapi suaranya terdengar lebih tegang dari biasanya.
Theo melihat bagian belakang mereka terlebih dahulu untuk memastikan jalur pulang tetap terbuka. “Kita pindah sedikit ke arah tangga utama. Jangan sampai kabutnya nutup jalan.”
Mereka mundur bersama.
Mist tidak mengejar.
Kabut tetap berkumpul di sekitar kaca, tetapi batas luarnya bergerak perlahan menuju tempat mereka sebelumnya berdiri.
Selvara mencatat perubahan itu dalam pikirannya.
“Kabutnya meluas.”
Theo mengangguk. “Makanya kita jangan tunggu sampai terlalu dekat.”
Mereka mundur beberapa meter lagi. Begitu jarak bertambah, rasa dingin pada cincin sedikit berkurang.
Sosok di dalam kaca masih terlihat.
Kepalanya berputar perlahan mengikuti arah mereka.
Selvara berhenti.
Sosok itu ikut berhenti.
Namun gerakannya terlambat sesaat.
Vio melihat hal yang sama. “Dia ngikutin kita sekarang.”
“Bukan persis,” kata Selvara. “Ada jedanya.”
Mist di sekitar kaca tiba-tiba menebal.
Suara dari sisi koridor hampir hilang seluruhnya selama beberapa detik.
Sosok tersebut mengangkat tangan kanannya.
Pada saat yang sama, cincin di dalam tas Selvara terasa sangat dingin hingga rasa sakit menusuk telapak tangannya melalui kain.
Selvara langsung melepaskan pegangan dari tas.
“Sekarang sampai sakit.”
Vio berpindah lebih dekat. “Jangan disentuh lagi.”
Selvara mengangguk.
Mereka tidak sempat berbuat lebih banyak.
Kabut yang menutupi kaca bergetar tipis, lalu menyusut ke satu titik seperti tersedot kembali ke dalam permukaannya. Sosok itu memudar bersamaan dengan Mist sampai kaca kembali memantulkan koridor seperti biasa.
Suara dari kelas di kejauhan terdengar normal lagi.
Dingin pada cincin juga mulai turun.
Selama beberapa detik, mereka hanya berdiri dan memastikan kejadian tersebut benar-benar selesai.
Vio yang pertama bicara. “Jadi sekarang kita tahu ada sesuatu sebelum pantulannya muncul.”
Theo melihat kaca yang sudah kembali normal. “Setidaknya kali ini ada tahap yang bisa kita lihat. Kabut muncul, lingkungan berubah, lalu sosoknya terbentuk.”
Lyara menambahkan, “Dan orang lain tetap jalan lewat seolah nggak ada apa-apa.”
Selvara masih melihat tempat kabut tadi berkumpul. “Berarti kita juga perlu catat siapa yang bisa melihat Mist-nya.”
Theo mengambil ponsel. “Aku tambahkan.”
Vio memandang Selvara sebelum ikut berjalan menuju tangga utama. “Tapi sekarang kita pulang dulu. Tanganmu tadi sampai sakit.”
Selvara tidak membantah. “Iya.”
Mereka meninggalkan koridor tanpa kembali mendekati kaca.
Pada kejadian berikutnya, mereka mungkin masih belum tahu apa sosok itu.
Namun kini kemunculannya tidak lagi terlihat seperti sesuatu yang muncul tanpa sebab.
Mist datang lebih dulu, mengubah ruang di sekitarnya, dan dari sanalah pantulan itu mulai terbentuk.
Selvara baru membuka kantong kain itu setelah sampai di rumah. Cincin sudah kembali pada suhu biasa, tetapi kulit telapak tangannya masih terasa ngilu di bagian yang tadi menempel pada tas. Ia menaruh cincin di atas piring kecil dan membiarkannya di sana selama makan malam.
Ibunya menyadari tangan kanan Selvara beberapa kali digerakkan perlahan saat mereka membereskan meja. “Tangannya sakit lagi?”
“Sedikit, Bu. Tadi cincinnya dingin sampai terasa dari dalam tas.”
Ibunya berhenti menyusun piring. “Padahal nggak dipakai?”
Selvara mengangguk. “Iya.”
“Kalau begitu jangan dibawa dulu besok.”
Selvara sempat ingin menjawab bahwa cincin tersebut mungkin berguna untuk mengetahui kapan kejadian lain muncul. Namun alasan itu terdengar kurang masuk akal setelah rasa dinginnya mulai menyakitkan meskipun cincin tidak menyentuh kulit.
Ibunya menunggu jawabannya sambil membawa beberapa piring ke dapur.
“Besok saya tinggal di rumah dulu, Bu.”
“Bagus. Kalau cuma mau tahu kapan benda itu dingin lagi, kesehatan tanganmu tetap lebih penting.”
Selvara tidak membantah. Malam itu ia menyimpan cincin di dalam kotak kecil di meja belajarnya, bukan di tas sekolah.
Keputusan itu membuat hari berikutnya menjadi percobaan yang tidak mereka rencanakan.
Selvara datang ke sekolah tanpa cincin untuk pertama kalinya sejak gangguan pantulan mulai muncul. Ia sudah memberitahu Vio dan Theo sejak pagi, sehingga tidak ada yang menanyakan tasnya setiap beberapa menit. Lyara baru mengetahui ketika mereka bertemu saat istirahat.
“Berarti hari ini kita nggak punya tanda dari cincinnya,” kata Lyara sambil menutup botol minumnya.
“Memang sengaja,” jawab Selvara. “Tanganku masih agak sakit kemarin. Ibu juga minta jangan dibawa dulu.”
Vio langsung mendukung keputusan itu. “Bagus. Lagian kita juga nggak boleh mulai bergantung sama benda yang bahkan belum kita ngerti.”
Theo yang sedang berdiri dekat jendela kelas ikut menyahut, “Kalau sesuatu muncul hari ini, justru kita bisa lihat apakah cincin memang cuma bereaksi atau dibutuhkan supaya fenomenanya terjadi.”
Vio memandangnya. “Kedengarannya tetap kayak eksperimen.”
Theo menyimpan ponselnya ke saku. “Bedanya, kita nggak melakukan apa-apa.”
“Nah, kalau begitu aku terima.”
Selvara menahan senyum. Percakapan itu selesai ketika bel masuk berbunyi, dan selama beberapa jam setelahnya sekolah tetap berjalan seperti biasa.
Menjelang pulang, mereka berkumpul sebentar di ruang klub karena Lyara masih harus mengambil map musik yang tertinggal. Selvara membantu memeriksa beberapa lembar daftar kegiatan, sedangkan Vio menunggu di kursi dekat pintu sambil membaca pesan dari Rikuya.
Theo datang beberapa menit kemudian dan langsung duduk di sisi meja yang kosong. “Rikuya bilang dia langsung pulang. Latihannya dibatalin.”
Vio mengangkat ponselnya. “Aku juga baru baca. Katanya lapangan dipakai buat perbaikan.”
Lyara memasukkan map ke dalam tas. “Berarti kita berempat saja.”
Selvara baru hendak menyimpan daftar kegiatan ketika cahaya di dekat pintu berubah.
Bukan mati.
Warnanya seakan tertutup lapisan tipis yang membuat ujung ruangan tampak kusam.
Vio yang paling dekat dengan pintu berhenti memainkan ponselnya. “Kalian lihat itu?”
Kabut pucat mulai merembes dari celah bawah pintu.
Selvara langsung berdiri.
Mist masuk perlahan, menyebar tipis di lantai sebelum naik ke sisi dinding. Berbeda dengan kejadian kemarin, mereka berada di dalam ruangan tertutup, sehingga tidak ada angin atau perubahan cuaca yang bisa langsung mereka jadikan alasan.
Theo menjauhkan kursinya dari jalur kabut. “Ke sisi jendela dulu. Jangan dekat pintu.”
Mereka bergerak ke bagian ruangan yang masih bersih. Lyara berdiri di samping Selvara, sementara Vio mengambil tas mereka yang berada dekat jalur Mist sebelum kabut mencapai kaki meja.
Selvara tidak merasakan dingin apa pun.
Tangannya kosong.
“Tanpa cincin pun muncul,” katanya.
Theo mengangguk. “Berarti cincin bukan pemicunya.”
Vio memeluk dua tas yang sempat diambilnya. “Setidaknya satu kemungkinan bisa dicoret.”
Mist terus memenuhi bagian depan ruangan. Cahaya dari lampu tetap menyala, tetapi permukaan meja dan lemari yang tertutup kabut terlihat kehilangan sebagian warnanya. Suara siswa di koridor juga mulai terdengar lebih jauh.
Lyara menurunkan suaranya. “Ini sama seperti kemarin. Suaranya ikut meredup.”
Selvara memperhatikan kaca lemari di dekat dinding kiri.
Kabut belum menyentuhnya.