CHAINS : Beyond The Mist of Shattered Illusion

Lyneetra
Chapter #37

Before It Reaches

Chapter 2 - Episode 15

Selvara mulai membawa cincin itu dengan

tidak lagi menyimpannya di kantong kecil yang menempel langsung pada sisi tas,

melainkan memasukkannya ke dalam kotak kain tipis bersama saputangan agar perubahan suhu tidak langsung mengenai tangan.

Vio sempat memeriksa cara barunya sebelum pelajaran dimulai, lalu menggeser kotak tersebut sedikit lebih dalam agar tidak mudah tersentuh ketika Selvara mengambil buku.

Keesokan harinya, Selvara baru sadar betapa sering ia memperhatikan jalur keluar ketika berjalan di sekolah. Setiap melewati persimpangan, matanya otomatis mencari tangga terdekat atau koridor yang masih ramai. Kebiasaan itu terasa mengganggu setelah ia menyadarinya, apalagi gedung yang selama ini begitu akrab sekarang mulai terbagi menjadi tempat-tempat yang mudah ditinggalkan dan tempat yang bisa berubah terlalu cepat kalau Mist muncul.

Saat istirahat, Vio menangkap Selvara yang sempat menoleh ke arah tangga sebelum duduk di kursi dekat jendela.

“Kamu sekarang selalu cek jalan keluar, ya?”

Selvara membuka botol minumnya. “Baru sadar juga.”

Vio duduk di sebelahnya sambil memindahkan satu buku agar meja tidak terlalu penuh. “Aku juga sih. Kemarin tangga utama malah jadi tempat pertama kabutnya muncul. Sedikit bikin kapok.”

“Sedikit?”

“Ya, lumayan.”

Selvara tertawa kecil. Jawaban itu terdengar jauh lebih jujur daripada usaha Vio mengecilkan masalah beberapa detik sebelumnya.

Theo datang membawa dua lembar tugas dan menjatuhkannya pelan di meja mereka. “Kalau kalian selesai membahas trauma sama tangga, ini punya kalian.”

Vio langsung mengambil salah satunya. “Aku nggak trauma. Cuma sekarang aku lebih menghargai tangga yang nggak berkabut.”

“Perkembangan yang bagus.”

Selvara menerima lembar miliknya dan mulai memeriksa soal. Percakapan bergeser begitu saja ke tugas karena memang tidak ada kejadian baru yang perlu mereka bongkar. Bahkan ketika Lyara datang beberapa menit kemudian dan duduk bersama mereka, tidak seorang pun kembali membahas Mist sampai bel masuk berbunyi.

Hari itu berakhir tanpa gangguan.

Begitu pula hari berikutnya.

Baru pada Kamis sore, saat Selvara sedang membantu Lyara membawa kotak berisi map musik ke ruang sementara, dingin dari dalam tas datang lagi.

Bukan rasa dingin yang perlahan merayap seperti sebelumnya.

Kali ini tajam.

Selvara langsung berhenti di tengah langkah.

Lyara yang berjalan setengah langkah di depan hampir terus berjalan sebelum menyadarinya. “Cincinnya?”

Selvara menekan sisi tas dengan telapak tangan, lalu segera menariknya lagi karena rasa dingin menembus kain lebih cepat dari perkiraan. “Iya. Kuat banget.”

Lyara menurunkan kotak yang dibawanya ke bangku dekat dinding. “Mist-nya belum kelihatan.”

Koridor masih terang. Suara dari lapangan terdengar sampai ke lantai dua, dan beberapa siswa baru saja lewat sambil bercakap seperti biasa. Tidak ada bagian ruangan yang tampak pucat atau tertutup kabut.

Selvara tidak menunggu lebih lama untuk mencari tahu.

“Ke ruang musik dulu. Di sana masih ada orang.”

Mereka baru berjalan beberapa meter ketika lampu di ujung koridor berubah kusam.

Mist muncul hampir bersamaan dari dua arah.

Kabut tipis merembes dari bawah pintu kelas kosong di sebelah kiri, sementara lapisan lain bergerak masuk dari ujung koridor dekat tangga. Keduanya belum tebal, tetapi jalur di antara mereka mulai terasa menyempit.

Lyara langsung melihat ke belakang. “Yang dari tangga juga ada.”

Selvara mengambil ponselnya sambil tetap berjalan. “Kita jangan balik.”

Ia hanya sempat mengirim lokasi ke grup sebelum Vio menelepon lebih dulu.

“Selvara, kamu di mana? Theo bilang cincinnya bereaksi.”

“Kami dekat ruang musik. Mist muncul dari dua arah.”

Suara Vio langsung kehilangan nada santainya. “Jangan tunggu di sana. Aku sama Theo dari lantai satu, kami naik lewat sisi barat.”

“Jangan naik kalau kabutnya sudah sampai tangga.”

“Ya, aku tahu. Kalian keluar dulu kalau bisa.”

Selvara menutup panggilan setelah mereka mencapai pintu ruang musik sementara. Masih ada tiga siswa di dalam bersama seorang anggota klub yang sedang membereskan alat. Lyara masuk lebih dulu dan segera meletakkan kotak, sementara Selvara berdiri dekat pintu untuk melihat koridor.

Mist terus datang.

Kali ini kabut tidak berkumpul di satu kaca ataupun berhenti di sekitar pintu. Ia bergerak sepanjang lantai seperti lapisan air pucat yang perlahan meninggi, membuat ujung sepatu siswa yang lewat di kejauhan tampak samar.

Anehnya, siswa-siswa itu tetap tidak bereaksi.

Seorang siswi bahkan berjalan melewati bagian kabut yang paling tipis sambil membaca sesuatu di ponselnya, lalu menghilang di belokan tanpa pernah menoleh.

Lyara kembali ke sisi Selvara. “Kalau orang lain tetap nggak lihat, kita nggak bisa tiba-tiba suruh semua orang lari.”

“Makanya kita keluar pelan-pelan.”

“Lewat mana?”

Selvara melihat pintu lain di belakang ruang musik yang terhubung ke ruang penyimpanan kecil dan koridor servis. Jalur itu jarang dipakai siswa, tetapi tembus ke tangga sisi barat.

“Belakang.”

Lyara memahami arah yang dimaksud. Ia kembali ke dalam dan berbicara kepada anggota klub seolah mereka hanya perlu memindahkan barang. “Kami bawa map yang ini lewat belakang saja, ya. Depan agak ramai.”

Tidak ada yang curiga. Mereka bahkan mendapat bantuan membawa satu kotak sampai pintu servis.

Begitu pintu belakang terbuka, Selvara langsung merasa udara yang lebih hangat mengenai wajahnya.

Koridor servis masih bersih.

Mereka membawa barang sampai ke sisi yang aman, lalu meninggalkannya di rak dekat ruang penyimpanan. Setelah itu keduanya berjalan lebih cepat menuju tangga barat.

Baru di sanalah mereka bertemu Theo dan Vio yang sudah menunggu satu lantai di bawah.

Vio langsung naik dua anak tangga begitu melihat mereka. “Kalian nggak apa-apa?”

“Masih,” jawab Selvara. “Mist-nya belum sampai belakang.”

Vio menatap tas Selvara. “Cincinnya?”

“Masih dingin.”

Theo tidak mengajak mereka kembali ke atas. Ia hanya melirik koridor di belakang Selvara dan Lyara sebelum berkata, “Turun saja dulu. Kalau jalur belakang masih bersih, biarkan begitu.”

Mereka berempat sampai di lantai dasar bersama beberapa siswa lain yang sedang pulang. Selvara baru merasakan dingin dari kotak cincin berkurang ketika pintu keluar gedung sudah terlihat.

Lalu Lyara berhenti.

“Sebentar.”

Selvara mengikuti arah pandangnya.

Kaca besar di dekat pintu lobi mulai tertutup embun dari sudut bawah.

Tidak ada Mist di lantai.

Belum.

Vio yang tadi hendak terus berjalan ikut berhenti. “Jangan bilang sekarang pindah ke sini.”

Kabut tipis muncul beberapa detik kemudian dari bawah deretan kursi tunggu.

Selvara langsung merasa perutnya mengencang.

Mereka sudah turun dua lantai, mengambil jalur berbeda, dan menghindari koridor tempat Mist pertama kali muncul.

Tetapi kabut itu tetap datang lagi.

“Keluar,” kata Selvara. Kali ini suaranya tidak tinggi, namun tidak memberi ruang untuk ragu. “Kita keluar sekarang.”

Theo membuka jalan menuju pintu utama, sementara Vio memastikan Lyara berada di belakangnya. Mereka melewati kaca sebelum embun menutup seluruh permukaan.

Selvara sempat melihat pantulan mereka sekali.

Empat orang bergerak menuju pintu.

Lalu ada satu bayangan lain di belakang.

Bentuknya tinggi dan terlalu kurus, berdiri diam di antara dua kursi kosong.

Selvara tidak berhenti.

Vio melihatnya juga, tetapi memilih terus berjalan. “Aku lihat. Nanti saja.”

Kalimat itu justru membuat Selvara sedikit lebih tenang. Tidak ada yang mencoba memastikan, tidak ada yang memaksa melihat lebih lama. Mereka sudah cukup sering melakukan itu.

Begitu pintu utama terbuka, udara sore terasa jauh lebih hangat. Suara kendaraan dari jalan depan sekolah datang begitu jelas sampai perbedaan dengan keheningan di dalam gedung terasa aneh.

Mereka menjauh sampai mencapai sisi pos keamanan.

Baru setelah itu Vio menoleh ke belakang.

Kaca lobi masih terlihat dari luar, tetapi pantulannya hanya menunjukkan cahaya dari halaman dan beberapa siswa yang berjalan keluar. Sosok tinggi itu sudah tidak ada.

Theo mengeluarkan ponselnya. “Aku kabari Kak Adrian kalau Mist sampai lobi.”

Lyara masih memperhatikan pintu utama. “Tadi kabutnya belum muncul waktu kita turun. Begitu kita sampai bawah, baru muncul lagi.”

Selvara menahan tas di sisi tubuhnya. Dingin cincin sekarang turun perlahan, tetapi bagian paling tajamnya baru hilang setelah mereka benar-benar berada di luar gedung.

Vio berdiri di sampingnya. “Aku tadi sempat mikir kita cuma salah pilih jalan.”

Selvara menatap pintu sekolah yang terbuka lebar. “Kayaknya bukan jalannya.”

Theo selesai mengirim pesan, lalu memasukkan ponselnya kembali. “Belum tentu juga ngikutin kita. Tapi sekarang kita tahu pindah lantai nggak selalu cukup.”

Vio menghela napas pendek. “Aku tahu kamu benar, tapi kalimat itu tetap nggak bikin tenang.”

Theo tersenyum tipis. “Memang bukan buat bikin tenang.”

Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri di sana sambil melihat siswa lain keluar seperti biasa. Tidak ada yang berlari, tidak ada yang membicarakan kabut, bahkan suasana sekolah tetap terdengar seperti sore biasa.

Justru itu yang membuat Selvara semakin tidak nyaman.

Mist sudah cukup tebal untuk mengubah suara, cahaya, suhu, dan pantulan bagi mereka. Namun sekolah tetap berjalan di sekelilingnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Adrian datang beberapa menit kemudian dari pintu samping. Ia berjalan cepat, tetapi tidak terlihat panik karena siswa lain masih berada di sekitar pos keamanan.

“Kalian lihat sampai lobi?”

Selvara mengangguk. “Iya, Kak. Awalnya di dekat ruang musik, lalu muncul lagi setelah kami turun.”

Adrian melihat ke arah gedung. “Saya lewat koridor utama tadi, tapi nggak lihat apa-apa.”

“Kami juga ketemu beberapa siswa yang lewat tepat di dekat Mist,” kata Lyara. “Mereka seperti biasa saja.”

Adrian mengusap tengkuknya sebentar, lalu menurunkan tangannya. “Yang penting kalian keluar dulu. Soal siapa yang bisa lihat, kita pikirkan nanti.”

Vio langsung menyambut keputusan itu. “Nah, bagian ini saya suka.”

Selvara menoleh kepadanya. “Karena nggak ada yang nyuruh kita masuk lagi?”

“Persis.”

Adrian hampir tersenyum, tetapi perhatiannya kembali pada Selvara. “Tanganmu bagaimana?”

Lihat selengkapnya